Disclaimer: I don't own anything except my dirty thought
___________________________________________________________________________________________________________________________________________
UNTITLED
Seharusnya dia tidak ada di sini, saat ini. Seharusnya dia sedang ada di rumahnya, sibuk mengurusi pemakaman ayahnya. Tapi dia ada di sini dengan wajah malaikatnya, dengan semua kecerewetannya. Bicara panjang lebar soal waktunya sudah mepet, harus ikut ujian dan urusan pemakaman yang diserahkan ke ibu tirinya.
Namun tak ada satu pun yang didengar oleh Kozai. Dia terpaku. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya dan ketika untuk ketiga kalinya dia bertanya "kenapa?", Takimoto tersentak. Seakan baru tersadar bahwa apapun yang telah dikatakannya tadi, tak satu pun yang menjelaskan keberadaannya di sini saat ini.
Dia terdiam, wajahnya menunduk, mengumpulkan kekuatannya. Kemudian dengan lirih dia berkata "Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku juga ingin selalu ada di sisimu".
Saat itu, putaran waktu seolah terhenti bagi Kozai. Suasana hiruk pikuk stasiun kereta di pagi hari seketika lenyap. Yang terdengar di telinganya hanyalah degup jantungnya. Dan yang terlihat di matanya hanya Takimoto dengan wajah memerah, gugup dan tegang. Udara di sekitar mereka dalam sekejap seakan dialiri listrik ribuan volt. Sentuhan sedikit sekalipun mungkin akan menimbulkan percikan yang mampu menghanguskan keduanya.
"Eh... ponsel mu bunyi tuh...", teguran itu mengembalikan keduanya ke dunia nyata. Di sini, di dalam kereta menuju Tokyo, duduk berhadap-hadapan, tanpa berkata-kata, bahkan saling menghindar untuk bertatapan.
"Aku akan menerima telpon dulu..", itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Kozai. Dia beranjak pergi, memberi waktu bagi keduanya untuk melepaskan ketegangan.
Dari ayahnya.
Maafkan aku ayah. Aku tidak akan bisa pergi ke Amerika atau kemana pun. Karena di sinilah tempatku berada. Di sisinya. Aku telah menemukan jawaban untuk apa aku dilahirkan. Untuk semua yang terjadi hari ini, untuk mendengar kata-katanya. Untuk melihat senyum dan tangisnya, juga tawanya. Untuk semua itulah aku dilahirkan.
Kozai menatap sosok Takimoto dari kejauhan. Sosok yang telah mengunci pandangannya dari hal lain. Dari dulu, dari saat Kozai melihatnya pertama kali, di antara rerimbunan bunga kamelia.
Kozai kembali ke tempat duduknya, kali ini dia mengambil tempat duduk di samping Takimoto. Tangannya mencari tangan Takimoto, menggegamnya erat. Mengirimkan berjuta kata yang tak terucapkan. Dia dapat merasakan tangan Takimoto menegang dalam gengamannya, sebelum akhirnya membalas genggamannya.
Kozai memejamkan matanya, dia hanya berharap putaran waktu berhenti sekali lagi.
