Declaimer : Masashi Kishimoto
Psychopath
Sai PoV.
Aku rasa malam ini ada yang berbeda, aku merasakan bulu kudukku berdiri. Entah karena dingin atau apa tapi yang jelas, setelah aku dengar tentang kematian Itachi, seniorku dulu. Apa lagi cara pembunuhannya yang tidak wajar membuatku makin merinding, coba bayangkan, dibunuh di depan pintu dengan belati tertancap di dada kiri, kemudian diseret sampai menuju ke kamar. Uhhh- memikirnya pun bisa membuatku merasa mual
Aku rasa akan ada hal buruk yang menimpaku kali ini, mungkin itu yang membuatku tak bisa tidur sekarang. aku sendiri bingung dengan perasaanku, rasanya sungguh tak tenang. Yang kulihat diberanda kamarku pun hanya awan awan hitam bergulung di langit, dan lapangan hijau luas yang terlihat mengerikan, suara srigala dan burung hantu kudengar, wajar sih ini kan sudah mau jam 11 madam, apalagi letak apartemenku yang menjauhi keramaian, membuat sepi suasana
'ttttttiiiiiiittttt ttttttttiiitttttttttt' hapeku berbunyi, menandakan ada pesan masuk baru disana. Kulihat layar hapeku, melihat untuk memastikan siapa yang mengirimi aku pesan jam segini, dan ternyata orang itu adalah Ino, pacarku.
"Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu, Sai" kira kira begitulah isi pesan itu. Setelah itu, kau tau lah, senyum tersungging di wajah pucatku. Malam ini adalah malam Minggu, dan seperti biasa, Ino selalu datang untuk menjadi objek lukisanku, kenapa malam? Tentu saja karena aku dan dia akan menghabiskan malam bersama. Ah ya aku lupa bilang kalau aku ini adalah seorang pelukis yang cukup terkenal. Lukisanku selalu bisa membuat orang lain berdecak kagum hanya dengan melihatnya, Thanks for God.
End Sai PoV.
'ting tong!' bunyi bel mengagetkan Sai yang tengah menikmati angin malam di beranda kamarnya, dengan cepat dia turun ke bawah untuk membukakan pintu 'Pasti Ino' pikirnya.
Sai membuka pintu, medapati seorang gadis berambut pink disana. Dan ia tahu siapa itu, dia Sakura. Haruno Sakura. teman se-SMA-nya dulu, sekaligus sahabat dari pacarnya, Ino.
"Sakura?" tanya Sai memastikan
"Hai Sai!" jawab Sakura, sambil tersenyum melambaikan tangannya
"Ada perlu apa?" tanya Sai
"emmm- boleh aku masuk dulu Sai?" tanya Sakura yang dibalas anggukan kecil dari Sai "Silahkan!" dan mereka pun masuk kedalam apartemen itu.
***
"Sebenarnya ada apa, Sakura?" tanya Sai to the point setelah mereka masuk kedalam
"Aku hanya ingin mengunjungi teman lama!" jawabnya santai, suasana menjadi hening setelahnya, membuat Sai merinding sendiri. Apalagi tadi sekilas dia melihat senyum mengerikan diwajah gadis di depannya itu 'Mungkin cuma ilusi' pikirnya
"Sai?" Sakura mulai berbicara, mengagetkan Sai yang masih melamun di depannya
"Ah, ya! ada apa?" tanya Sai
"Apa pendapatmu tentang….. kematian?" tanya Sakura datar dengan tatapan kosong. Sai heran untuk beberapa waktu, heran dengan pertanyaan mantan pacarnya itu. butuh waktu beberapa lama hingga Sai dapat mencerna perkataan Sakura 'Kematian' dan kata itu membuat dia benar benar merinding, perasaannya pun makin tak enak sekarang 'ada apa ini?' batin Sai
"Kematian bagiku? Emmmmmmmm- Mungkin kehilangan tangan! Kau tau kan? Aku pelukis, kalau aku tak mempunyai tangan, maka habis sudah hidupku" jawab sai setelah beberapa lama diam. Perlahan senyuman manis Sakura muncul "Begitukah?" tanyanya kemudian, Sai hanya mengangguk kecil menanggapinya.
"Kalau begitu, boleh aku lihat tanganmu?" tanya Sakura tiba tiba, masih dengan senyum manis yang menurut Sai sekarang sangatlah ganjil. Dengan ragu ragu Sai menyodorkan kedua tangannya kearah Sakura.
"Buat ap-" "Arrrrghhhhhhhhhhhttttttttttt" belum sempat Sai melanjutkan kalimatnya, kedua tangannya telah terlebih dulu dipatahkan Sakura, tanpa ampun bagai mematahkan benda mati menyisakan sakit yang tak tertahankan pada diri Sai mendendangkan bunyi 'Crttttakk' keras, menandakan patahnya tangan sang pelukis. Masih dengan senyumnya Sakura mulai mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah belati, belati yang telah menembus jantung Itachi Uchiha kemarin malam.
"Kau tau Sai? Ada tiga hal yang diperlukan untuk menjadi seorang pelukis" Sakura memulai perbincangannya dengan Sai "Satu! Tangan" 'Crtttttakk' Sakura menginjak pergelangan tangan Sai yang terkulai di lantai, mengakibatkan tangan itu benar benar hancur sekarang.
Dengan sebelah tangannya Sakura mengangkat wajah Sai, terlihat air mata turun dari mata itu. "Dua! Mata" 'Jleeebb' 'Arrrrrrrrrrggggggghhhhhh!' kini tertancap lah sebuah belati di mata sebelah kanan milik Sai, hal itu cukup untuk membuat Sai buta, mungkin untuk selamanya. Sai sudah tak bisa mengeluarkan suaranya sekarang, rasa sakit yang ia rasa mungkin sudah sampai pada batasnya. Air matanya tercampur dengan darah dari matanya sendiri sekarang. Kukira dia tak kan bisa membuka matanya lagi.
Masih dengan senyum manisnya, Sakura mencabut belati itu dari mata Sai dengan kasar, menggenggamnya erat. bersiap menancapkannya pada daerah lain dari tubuh sang pelukis.
"Dan yang ketiga! Otak" "Crrrrraashhhhhhh" dengan tertancapnya belati itu diatas kepala Sai, berakhirlah pula kehidupan sang pelukis itu. kali ini tanpa suara jeritan memilukan, mencipratkan darah merah segar di wajah Sakura.
"Karya terakhir sang pelukis muda, Sai! Lantai Merah Penuh Darah!" Sakura bergumam, dengan cepat mencondongkan tubuhnya kearah Sai, memberikan ciuman terakhir di bibir penuh darah milik Sai "Tunggu aku! Sayang!"
***
Ino PoV.
Aku memarkirkan mobilku di halaman rumah milik Sai, dengan langkah pelan aku masuk tanpa mengetuk pintu-itu memang kebiasaanku. Saat ku masuk, yang kulihat hanyalah darah, Sai! Dan… Sakura?
"Karya terakhir sang pelukis muda, Sai! Lantai Merah Penuh Darah!" kudengar Sakura menggumamkan itu, dan yang kulihat setelah itu adalah, Sakura yang mencium Sai dan bergumam "Tunggu aku! Sayang"
Perlahan, air mataku mulai mengalir. Tubuhku bergetar, ketakutan, ketakutanlah yang kurasa sekarang, "Sai.." kataku cukup keras meski dengan suara parau, membuat Sakura menoleh kearahku, memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan darah, darah pacarku yang terbujur kaku disana, darah Sai.
Sakura mulai mendekatiku, setelah terlebih dahulu mencabut sebuah belati yang menancap di atas kepala Sai, dia tersenyum. Senyum manis namun mengerikan bagiku sekarang, senyum yang berbeda dengan senyum seorang Haruno Sakura, Sahabatku dulu.
"Hai Ino? Mau menyusul pacarmu?" tanyanya 'Deg!' perasaan tak enak mulai merambat pada diriku setelah itu. "Sai…" kataku dengan suara tercekat "K-kau! Aapakan dia?" tudingku memberanikan diri, Sakura sama sekali tak menanggapinya, dia masih terus mendekatiku. Membuatku semakin takut dan gemetar.
"Membunuhnya!" kudengar ia menggumamkan itu, aku merasa…. sangat hancur. 'Sai .. Sai .. Sai ..' itulah yang ada dalam pikiranku sekarang. Tanpa basa basi lagi aku keluar dari rumah itu, berusaha lari dari Sakura dan Sai ..
End Ino PoV.
***
Ino terus menjauh dari tempat itu, berlari secepat yang ia bisa, hingga ia tersandung sebuah batu, membuatnya jatuh terbaring di tengah jalan yang sepi, air matanya terus mengalir, bibirnya tak henti henti menggumamkan nama Sai, bahkan ia tak sadar ada sebuah truk yang melaju kencang menuju kearahnya. Dan "Crrrrrrraasssshhhhhh" kepalanya hancur terlintas truk yang mungkin tak melihatnya disana, hanya kepalanya. semua isi kepalanya hancur berhamburan keluar. Menimbulkan kesan jijik kepada siapapun yang melihatnya. Bahkan kau bisa melihat otaknya sekarang, tak ada lagi wajah cantik milik seorang artis bernama Yamanaka Ino, yang ada hanyalah tubuh dengan kepala yang hancur milik Yamanaka Ino.
Sakura datang dari kejauhan masih dengan belati digenggamannya, melihat pemandangan di depannya membuat dia mengeluarkan air matanyanya, dia menangis dan belati dalam genggamannya pun terjatuh tergeletak di jalan.
"Ino…" katanya seakan tak percaya "Teganya kau!" lanjutnya. Sakura mulai menghapus air matanya, berdiri dan mengambil belatinya kembali "Aku tidak akan melupakanmu Ino! Kebaikanmu padaku selama ini! Dan juga kau, yang tak membiarkanku untuk menghabisi mu dengan tanganku sendiri!" 'Crrrrooottt' sepatu berhak tinggi Sakura menginjak wajah Ino yang sudah tak berbentuk, tanpa perasaan meninggalkan tubuh Ino begitu saja, masih dengan Senyum mengerikan miliknya "Temanku bertambah lagi!" gumamnya
***
Sakura PoV.
Dear Dairy
Hari ini aku mendapat teman lagi, seorang pelukis dan artis. Haha, disana pasti ramai sekarang, aku jadi ingin cepat cepat menyusul,
Kau tau, aku benci Ino sekarang! Kenapa sih mati duluan sebelum aku membunuhnya, kan sayang aku ga bisa denger jeritannya, jeritan kematian seorang artis sepertinya akan indah, tapi ya sudahlah. Bagaimana menurutmu? Siapa lagi yang harus menemaniku? Ah aku bingung.
Sudah ya, aku lelah sekarang. Hehe!
Dadah
End Sakura PoV.
*T*B*C*
Makin gaje critana, eia author buka rekuesan -?- yang akan jadi teman Sakura selanjutnya, plus cara kematiannya tentunya, tapi harus SADIS. Hah-
Review bales lewat PM aj, buat yang ga log in,, gomen!!!
