Declaimer : Masashi Kishimoto

Psychopath

XXX

Bila kau sedih, sayang

Ingat aku dalam pikiranmu

Bila kau takut, sayang

Dekap aku dalam mimpi malammu

Bila kau terluka, sayang

Tahan sakit dan sebut namaku

Dan bila kau percaya, sayang

Kau dan aku akan selalu bersama… selamanya …

Sekelebat memori masa lalu hinggap di pikiran Sakura yang tengah melamun. Sekarang ini, ia begitu merindukan kehidupannya yang seperti dulu, kehidupan yang seperti remaja normal pada umumnya. Tanpa pembunuhan, darah, dan penyakit menjijikan seperti ini. Kadang kala ia merasa bahwa tuhan tak adil pada dirinya 'Kenapa harus aku?' itulah yang ada di pikirannya setiap saat, bahkan sampai saat ini jawaban dari pertanyaan itu pun belum di temuinya.

Diambilnya belatinya dari dalam laci meja. Diperhatikannya setiap ujung dari belatinya, tak lama kemudian mata emeraldnya membulat dan tubuhnya bergetar hebat, ingatan ingatan akan orang orang yang telah dibunuhnya bermunculan di pikirannya setelah melihat belati itu "Aku … Pembunuh?" gumamnya dengan suara parau dan ekspresi ketidakpercayaan. 'Ayah, Ibu . . .' batinnya, membawanya ke ingatan masa lalunya.

Flashback (Sakura PoV.)

Aku diam di kamarku, mengurung diri. Obat obatan berserakan dilantai kamarku tak ku pedulikan. Sudah tiga hari ini aku tidak makan, Ibu yang menggedor gedor pintu pun aku biarkan. Wajahku semakin hari semakin pucat, lingkaran hitam di bawah mata mulai menebal. Tapi aku tak peduli, yang kulakukan sekarang hanyalah diam tanpa melakukan kegiatan apapun selain melamun.

Ini hari ke empat, dan aku belum makan sama sekali. Perutku serasa kosong, tenaga pun tak ku miliki saat ini. Aku sudah tak bisa menahan diri lagi, Frustasi akan penyakitku membuatku benar benar gila.

Aku bangkit dari tempatku yang semula, membuka laci dan mengaduk isinya berharap dapat mendapatkan sebuah benda tajam, dan belatilah yang aku temukan. Kuperhatikan belati itu, Sempat terfikir olehku untuk menggoreskan sisi tajam belati itu dengan pergelangan atau leher agar aku bisa cepat cepat mati.

"Jangan menyerah dan tersenyumlah!" perkataan seseorang terngiang di kepalaku sebelum itu, membuatku berfikir ulang untuk melakukan hal bodoh-mengakhiri hidup seperti itu.

Emosiku yang tadinya meluap luap mulai stabil. Dan sekarang aku benar benar merasa bodoh sempat berfikir hal yang paling bodoh huh?. 'Untuk apa aku mati jika mati itu menyakitiku dan orang lain?' setidaknya begitulah pemikiranku saat itu.

'Kriuuuk-' perutku berbunyi. Ya, tak bisa dipungkiri seberapa keras kepalanya aku kalau aku juga manusia. Dan manusia memerlukan makan agar mempunyai energi bukan?.

Kulangkahkan kakiku, walaupun terasa lemas tetap ku paksakan, Lebih baik mati karena penyakit daripada mati karena kelaparan. 'Cklekk' ku buka pintu kamarku dan bergegas menuju dapur rumahku untuk sekedar mengisi perutku yang hampir tiga atau empat hari ini kosong. Walaupun waktu memang sudah menunjukan pukul 11 malam. Tapi aku memang lapar saat ini dan ini tak bisa ditunda kan?

Kuturuni tangga. Badanku terasa semakin lemas, rasa rasanya sebentar lagi aku akan pingsan hah- seseorang tolong aku.

Aku mendengar suara ribut ribut dari arah dapur 'Suara ayah dan ibu!' batinku. Kutengokkan kepalaku untuk melihat keadaan di sana, sepertinya kedua orangtuaku sedang bertengkar. Namun sayang aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka ributkan. Karena merasa tak enak aku berniat akan pergi lagi menuju kamar. Namun sepertinya rasa penasaranku jauh lebih besar dari rasa takutku.

Kupaksakan kakiku melangkah lebih dekat untuk dapat sekedar mendengar pembicaraan mereka walupun rasanya sangat sulit.

"Ini semua salahmu yang tidak bisa menjaga anak, lihat! Dia sampai terjangkit penyakit menjijikan. Bikin malu keluarga!" 'Deg' perkataan ayah membuat hatiku mencelos 'Apa sebegitu memalukannya aku ini?' batinku. Tak terasa air mata mulai turun dari mata emeraldku tanpa aku sadari. Sekarang aku benar benar merasa … sendirian?

"Hhuh- ini juga salahmu-" 'Prang' 'Plak' terdengar bunyi benda pecah yang sepertinya gelas bersamaan dengan suara ditamparnya pipi Ibu yang kini memerah. "Dasar istri tak berguna!" emosi ayah semakin naik

"Lalu kau apa HAH?" sepertinya ibu pun mulai terbawa emosinya. Pertengkaran terus terjadi, sumpah serapah dan caci maki terus dikeluarkan oleh mereka, hah- entahlah. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sekarang. Kutundukkan kepalaku hingga poni poni yang lumayan panjang menutupi mataku. Pikiranku melayang layang

'Jika kau merasa sendirian, maka carilah teman!' Suara Uchiha terngiang lagi di pikiranku. Membuat aku tersenyum aneh aura tak enak memancar dari tubuhku. Yang aku inginkan saat itu hanya satu yaitu 'Mencari teman untuk menemaniku di akhirat'

Entah mendapat kekuatan dari mana. Aku mulai berjalan ke arah ayah dan ibuku yang masih bertengkar. Pisau dapur yang tergeletak di atas meja kuambil tanpa ragu.

Ayah dan ibu terlihat terkejut dengan kedatangan putrinya yang tiba tiba. Mereka terlihat gugup sekarang. Apalagi setelah melihat pisau yang ada di gengamanku saat ini. "M-mau apa k-" 'Jleb' sebelum kalimat ayah selesai pisau dapur yang tadi aku pegang sudah melayang dan menembus wajah ayahku hingga tembus kebelakang kepalanya "Ayah, aku sedang tak ingin mendengar coletehanmu sekarang" kataku dengan suara datar. 'Brukk' tubuh itu terkulai di lantai menemani pecahan pecahan kaca dari gelas yang dibanting ayah tadi. Bagaimana dengan Ibu? Kulihat dia shock, tubuhnya bergetar hebat tak mengeluarkan suara sedikitpun. Kasihan.

Aku berjongkok dan aku cabut pisau yang menancap di wajah ayah dengan kasar, membuat darah itu terceceran kemana mana. Kudekati tubuh ibuku "Maaf Ibu, tapi aku butuh teman" 'Sreeeettttt' dan pisau itu pun kuayunkan, mengoreskan luka memanjang di wajah cantik ibuku membuat tubuh itu terkulai di lantai dapur. Tapi sepertinya ibuku masih bernafas dan untuk membuatnya berhenti aku menggunakan pisau yang tadi untuk menembus bahu kirinya dan menariknya paksa hingga di dada kirinya. Dan sepertinya kali ini ibuku memang benar benar telah mati.

XXX

Malam makin larut, tapi bulan masih bersinar terang ditemani berjuta juta bintang di langit. Aku memulai menggali lubang di pekarangan belakang rumahku untuk tempat peristirahatan terakhir ayah dan ibuku. Setelah selesai, aku masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil mayat ayah dan ibuku dengan cara apa? Tentu saja menyeretnya, tak mungkinkan kalau tubuh mereka berjalan dan masuk ke dalam lubang itu secara sendirinya?.

Walaupun cukup sulit membawa jasad mereka, akhirnya aku berhasil juga. dengan segera kugulingkan tubuh mereka berdua agar masuk ke dalam lubang yang aku buat tadi. Mungkin ini adalah saat terakhirnya aku dapat melihat mereka. Tapi bukan sedih yang kurasa, yang kurasa sekarang adalah kesenangan. Haha. Kurasa aku memang sudah benar benar gila sekarang.

"Selamat berdua duaan" kataku dengan senyum nakal yang terkembang di wajahku. Dan setelah itu, aku tutup lubang bersama jasad kedua orangtuaku itu dengan tanah.

Kutenggokkan kepalaku menghadap langit madam lalu tersenyum

"Mulai besok aku akan mencari teman!" gumamku entah pada siapa.

End Flashback (End Sakura PoV.)

"Hahh-" Sakura menarik nafas panjang, di ambilnya foto keluarganya dan dia pun tersenyum

"Ternyata aku memang pembunuh ya?" gumamnya sedih tapi pasrah.

"Happy Anniversary!" gumamnya lagi sesaat sebelum membantingkan figura tadi di lantai hingga pecah, terdengar bunyi "Braaakkkk" keras "I love my parent and I love you…. Sasuke!" gumamnya.

"Haha- for the next .. heum .. Hinata Hyuuga?" sekarang ekspresinya berubah bahagia seperti seorang anak mendapatkan permen.

XXX

Di Kepolisian Konoha.

Seorang lelaki dengan rambut panjangnya tengah duduk di kursi kebanggaannya sebagai Kepala polisi, sendirian dalam kesunyian ruangan besarnya. Hingga seorang polisi wanita memasuki ruangan itu dengan tergesa gesa.

"Ada pembunuhan lagi?" tanya Neji-nama lelaki tadi dengan nada datar tanpa mengalihkan pandangannya ka arah gadis itu.

"I..iya! kali ini korban bernama Uzumaki Naruto, korban di bunuh dengan cara leher ditusuk dan isi perut dikeluarkan" katanya

"Begitu! segera selidiki dan laporkan padaku!" suara berat sang pemimpin terdengar sedikit bergetar membuat polisi wanita tadi keheranan. "Siap!" Tanpa diperdulikan rasa herannya, wanita itu pun segera pergi meninggalkan sang bos sendiri di dalam ruangannya.

Setelah wanita tadi pergi, barulah lelaki tadi membalikkan kursinya. Terlihat turunnya air mata dari mata lavendernya

"Hinata … Pasti sedih!" gumamnya sebelum menghapus air matanya itu.

TBC

Walah dalah! Makin gaje saja ini teh? Ahahaha-

For the Next Hinata Hyuuga, ada yang mau request cara kematiannya (dibantai)

Ah iya, author mau tanya menurut kalian siapa yang pantes nularin HIV-AIDS ke Sakura ya??? Pusing nih . . . (Author debleg) mau Kakashi? Ntar yang ada author malah dibantai lagi! menurut kalian siapa?

NB : maaf review tidak saya balas! Maklum bajetnya tekor! Review anda akan saya balas di chap depan! Terimakasih banyak!!!

Review?