Makasih buat yang udah pada review dan ngasih kritik & saran! Aku udah berusaha benerin kekurangan-kekurangan sebelumnya. Awal chapter ini based on animenya(1) dikarenakan aku suka banget dan nggak bisa ngegantiin dengan versi ku sendiri yang garing (jangan ditanya). Setelahnya bikinan ku sendiri kok. Hehe.
Enjoy!
-
Chapter 2: Nothing can be Explained
Sementara itu, keluarga Kurosaki sudah sampai di sebuah jalan tanjakkan. "Haaa… haaa… tanjakkannya jauh…." keluh Yuzu yang termuda sambil menyeka keringat di dahinya.
"Masa'? Biasa aja kok." ujar si tomboy Karin yang berjalan di samping Yuzu. "Kalo kamu ngeluh kayak gini, ntar Ayah geblek itu…" belum selesai omongan Karin, Isshin sang Ayah geblek (gomennasai Isshin-san) yang sedari tadi meniup peluit langsung rusuh.
"GANBARE YUZU! MAKERUNA YUZU! AYAH DI BELAKANGMUUU!!!" Isshin hand standing seakan menunjukkan bahwa tanjakkan itu hanya masalah kecil. Karin yang nggak mau berurusan sama sang Ayah langsung bergerak cepat menjauhinya. "Amaina!" dengan cepat Isshin 'berlari' dengan tangannya menuju Yuzu. "Hissatsu: Tou-san Slid… AAAARRRGH!!!"
Karin yang udah tau hissatsu ayahnya langsung nendang Isshin balik ke bawah tanjakkan yang lagi-lagi nabrak Bonnie-chan cs yang lewat entah dari mana asalnya bagai bola bowling menghajar pin-pin. "Ga akan ku biarkan terjadi lagi kayak tahun lalu! Ayo Yuzu lain kali jangan nunjukkin kelemahanmu di depannya."
Ichigo cuma bisa pasrah ngeliat nasib ayahnya, Jadi bokap kok dari tahun ke tahun makin parah…. "Kalo gitu boleh gue bunuh ga?" si Hollow tiba-tiba ngomong. Ha? Elo? Emang sanggup? tanya Ichigo pada kuda putihnya. Nggak inget ya oyaji mantan taichou? Hollow Ichigo tertawa dengan tawa gilanya, "Teme no oyaji wa moto taichou dakara kitto tsuyoi!(2) Udah lama gue nggak bertarung dengan lawan kuat!". Mendengar ocehan hollow-nya, Ichigo malah tertawa geli, Haha! Yakin loe? Hati-hati aja loe jangan sanpe ketemu langsung sama oyaji! Sang Hollow langsung diem Rajanya tiba-tiba jadi gila, walopun dia sendiri lebih gila lagi, "Maksud loe?". Sebelom loe ngayunin pedang ke oyaji, loe bakal mati duluan gara-gara malu ngelawan dia!!! Ichigo cekikikan ngebayangin gimana kalo hollow-nya beneran berhadapan sama ayahnya.
"Ichi-nii ngapain cekikikan sendiri? Nggak ketularan gilanya Tou-san kan?", Karin manggil Ichigo yang ga sadar cekikikan sendiri.
"Nggak lah! Siapa yang mau kayak ano kuso oyaji!"Ichigo langsung nyusul adik-adiknya. "Emang enak dikata gila!" ledek kudanya. Urusai!
"Ichi-nii tadi ke mana sih? Kok pagi-pagi udah ngilang?" tanya Yuzu. "Ichi-nii nggak sempet sarapan lho."
"Ah gomen, tadi tiba-tiba Grimm dateng. Kalo gue nggak nyamperin dia, bisa-bisa dia dateng ngacak-ngacak rumah. Ano Espada yaro!" jelas Ichigo yang jadi kesel lagi.
"Ichi-nii temen-temennya pada brutal, nggak nyangka rumah kita masih utuh." ledek Karin, Ichigo cuma merengut. "Ngomong-ngomong Grimm, sering banget dia dateng. Seminggu bisa sampe tiga kali, ngapain dah?" tanya Karin bersamaan mereka sampe di kompleks kuburan.
Ichigo masih pasang muka merengut, "Dia itu ya dari dulu sampe sekarang maniak banget berantem. Nggak tau deh kalo nggak diladenin apa yang bakal dia ancurin."
"Banyak orang lain kenapa harus Ichi-nii?"
"Au ah."
"Demo nee, Ichi-nii jadinya nggak semurung tahun lalu." ucap Yuzu tiba-tiba. "Karena ada temen-temen Ichi-nii, rumah kita jadi tambah rame. Ichi-nii juga lebih sering ketawa." tambah Yuzu dengan senyum polosnya.
Ichigo agak shock ternyata Yuzu sangat memperhatikan kakaknya (terang aja adik gitu). Ichigo berkali-kali menghadapi pertarungan yang tak hanya menyangkut nyawanya sendiri tapi juga orang lain bahkan dunia. Jauh dari keluarga sama sekali nggak kepikiran oleh sang Shinigami Daiko. Ya, perang telah memaksanya untuk dewasa lebih cepat. Walaupun masih SMA, Ichigo udah jadi cowok mandiri. Dia hampir lupa ada adik-adiknya yang justru masih membutuhkan perhatian darinya. "Sou da ne, Yuzu. Arigatou." Ichigo mengelus kepala adik terkecilnya. "Maaf ya aku sering pergi."
"Kinishinaide, kita bukan anak kecil yang mesti dijagain terus. Ichi-nii lakuin aja yang menurut Ichi-nii bener." kata Karin sambil merangkul Yuzu. "Apalagi kalo itu bikin Ichi-nii seneng." tambah Yuzu.
Ah iya, Karin dan Yuzu juga bukan anak kecil lagi. Heh, kakak macam apa gue ini. Gue janji, kapan pun mereka butuh pertolongan gue akan selalu ada.
Sesampainya di kuburan Kurosaki Masaki…
Ichigo, Karin, dan Yuzu menyapa almarhumah ibu mereka dan mendo'akan beliau. Becerita bahwa mereka sekeluarga baik-baik saja. Yuzu tidak lagi menangisi ibunya seperti terakhir kali. Isshin yang berhasil menyusul mereka bercerita panjang lebar soal anak-anaknya tercinta, Ichigo yang udah dewasa siap mencari pasangan, Karin yang tumbuh menjadi wanita kuat pemberani, Yuzu yang menjanjikan menjadi calon ibu rumah tangga idaman. Alhasil dihadiahi masing-masing satu bogem dari Ichigo dan Karin.
Sementara itu Rukia cs bersembunyi dibalik pepohonan di sana, memperhatikan kegiatan keluarga Kurosaki yang terlihat 'lively'. Rukia duduk di dahan pohon. Di bawahnya, Renji berdiri menyandarkan punggungnya pada pohon. Grimmjow dan Ulquiorra di dekat pohon di sebelah kiri pohon tempat kedua shinigami berada.
Tangan di dalam saku celananya, ekspresinya tampak bosan, Grimmjow yang baru tau soal ibunya Ichigo hanya diam memperhatikan si Berry, apalagi Ulquiorra. Nihilism. Hollow tak memiliki hati, mereka nggak merasakan kesedihan juga kebahagiaan. Walau Grimmjow 'senang' menemukan Ichigo sebagai rivalnya, tapi 'senang' itu tak sama dengan 'senang' atau 'bahagia' dari hati yang bikin background effect jadi berbunga-bunga atau kirakira. 'Senang'nya Grimmjow lebih sama dengan 'tertantang', mengingat dirinya maniak pertarungan, haus darah. Destruction.
"Tahun lalu nggak lama setelah Ichigo jadi shinigami, aku ngikutin Ichigo ke sini karena curiga kematian ibunya yang aneh. Dan ternyata Grand Fisher kembali muncul dihadapannya. Enam tahun Ichigo nyalahin dirinya atas kematian ibunya, akhirnya dia tau hollow menjijikkan itu yang merenggut nyawa ibunya. Hanya balas dendam yang terpancar di matanya." cerita Rukia mengingat peristiwa yang hampir merenggut nyawa Ichigo. Tubuh Ichigo yang bersimbah darah di depan matanya masih lekat dalam ingatan cewek berambut hitam pendek itu. Sesaat suasana hening menunggu Rukia kembali bicara, hanya angin sepoi yang mengisi keheningan itu.
"Aku ingin menolongnya, tapi Ichigo malah menolak. Saat itu aku ingat perkataan Ukitake-taichou bahwa pertarungan ada dua. Pertarungan untuk hidup dan pertarungan untuk harga diri. Ichigo bertarung untuk harga diri ibunya, harga dirinya sebagai anak, harga diri dirinya sendiri. Karena itu aku tak boleh membantunya." tampak senyum kecil tersirat di wajahnya yang sedih. "Aku hanya bisa bersyukur Ichigo selamat, walaupun Grand Fisher berhasil kabur."
"Oi Shinigami! Nggak pake dramatisir gitu kali. Kimowaru(3)!" protes Grimmjow. Rukia yang biasa cerewet ngomelin Ichigo tiba-tiba bisa jadi mellow begitu.
"Apa dah loe!" Rukia nggak jadi nangis. Biar nggak kayak sinet.
Ulquiorra angkat bicara, "Grand Fisher adalah arrancar, tentu nggak mungkin Kurosaki Ichigo yang baru jadi shinigami bisa menghabisinya. Kekeras kepalaannyalah yang menyelamatkannya." Bagi Ulquiorra harga diri sama dengan keras kepala. Tak heran Shinigami Daiko itu berkali-kali selamat dari kematian.
"Maa, nggak masalah lagi. Toh Grand Fisher udah diabisin sama Isshin-san. Sebenernya ngagetin juga begitu tau bokapnya Ichigo shinigami juga, taichou pula." kata Renji melipat tangannya di belakang kepalanya. Cowok rambut merah itu pertama kali tau Isshin waktu dia dateng ke rumah Ichigo berlagak jadi polisi ala western (gara-gara nonton film koboi noh) bawa-bawa senapan beneran pula, main nembak dan berhasil nyerempet rambut Isshin-san menghasilkan boteng alias botak tengah(4).
Isshin-san membuka kedok aslinya untuk menolong Ichigo menghadapi Aizen. Siapa yang menduga bokap senga kayak gitu ternyata shinigami mantan taichou? Semua shinigami dibuat kaget dengan kemunculan dirinya, terutama anaknya sendiri. Apalagi Yamamoto, Kyouraku, Ukitake, dan Unohana yang udah lama kenal(5). Dengan bertambahnya tenaga level taichou, Aizen yang tak tahu-menahu soal Isshin berhasil dikalahkan.
Dari perkataan Renji tadi, otomatis perhatian mereka langsung fokus ke Isshin yang masih aja ngelawak sambil nari-nari geje. Yuzu tertawa melihat kelakuan ayahnya. Karin melayangkan dengkulnya ke perut ayahnya, Isshin langsung tersungkur memegang perutnya. "Masaki my love! Anak gadis kita Karin tega sekali padaku, padahal aku sedang menarikan tarian tradisional keluarga Kurosaki yang legendaris!!!" Isshin meluk-meluk nisan istrinya bergelinangan air mata, persis seperti meluk poster gede Masaki di rumah. Ichigo hanya diam sweatdrop. Yang merhatiin dari jauh ikutan sweatdrop.
"Oh udah siang. Semuanya ayo kita makan di kuil." ajak Yuzu. Kuli di puncak bukit itu udah biasa jadi tempat istirahat buat para pelayat. Keluarga Kurosaki biasa makan siang di sana setelah melayat kuburan Masaki.
"Oh betul juga!" tangis Isshin tiba-tiba berhenti. Dia langsung bangkit, ngerogoh saku ngeluarin rokok dan lighter. Menghidupkan kemudian menghisapnya tak lupa dengan pose cool andalannya, "Masaki." cool mode: ON!
Sesaat ketiga anaknya terpana dengan perubahan drastis ayah mereka, sampai Yuzu ngomong, "Otou-san kakkoii!"
"Daro? Hehe. Masaki my love, Yuzu pun berpendapat sama denganmu." kata Isshin tetap sambil menghisap rokoknya.
"GAAAH!!! Nggak pake cool-cool-an deh! Ngerokoknya ntar dulu, sekarang waktunya makan siang!" Karin yang tersadar dari bengongnya langsung matiin rokok Isshin dan narik ayahnya ke atas bukit (Karin kuat banget XD).
"Hee?! Naze?! Padahal Masaki dan Yuzu bilang Tou-san keren kalo ngerokok!" rengek Isshin yang tentu dicuekin putri tomboy-nya.
"Ichi-nii ayo kita makan siang." ajak Yuzu.
Ichigo yang kebanyakan sweatdrop menjawab, "He? Aa. Gue masih mau di sini bentar. Nanti aja nyusul."
Yuzu terdiam memperhatikan kakaknya. Apa mungkin Ichi-nii masih sedih? pikir Yuzu. Tapi pikiran itu cepat-cepat dia singkirkan. Mungkin Ichi-nii cuma butuh waktu sendiri. "Okelah kalo begitu. Jangan lama-lama ya Ichi-nii." Yuzu pun pergi meninggalkan kakaknya sendiri.
Tsudzuku…
-
Judul ku ambil dari OST Bleach yang kebetulan lagi ku dengerin sambil nulis chapter ini. Nothing can be Explained, somehow sedih lagunya.
(1). Based on Bleach OVA: Memories in the Rain.
(2). Teme no oyaji wa moto taichou dakara kitto tsuyoi! = Bokap loe mantan taichou makanya udah pasti kuat!
(3). Kimowaru, singkatan dari kimochi warui = menjijikkan, disingkat jadi jijay ^u^
(4). Bleach OVA: The Sealed Sword Frenzy.
(5). Yamamoto-shotaichou, Kyouraku-taichou, Ukitake-taichou, dan Unohana-taichou paling lama megang jabatan taichou di Gotei 13. Dugaanku aja, harusnya mereka kenal Isshin-san. Semoga aja beneran Isshin-san sekalian Ryuuken-san bantuain ngadepin Aizen yandere itu!
(6). Soal rokok. Aslinya sih Isshin-san ga pernah ngerokok di depan orang pas hari kematian Masaki-san, kecuali Ichigo. Sekedar lucu-lucuan aja. Hehe.
Oke chapter 2 sampe sini dulu. Makasih udah baca. Review please.
