Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Night masih baru di fanfic, jadi kalo ada cerita laen yang nyerempet, maaf sebesa-besarnya. Di chapter ini, saya kepikiran untuk mendatangkan karakter seorang Temari. *alternative biar gak dikeroyok ShikaTema FC*

Don't like, don't read, don't blame…..

Save The Princess Chapter 2

Wajah Ino terlihat kesal. Ia benar-benar dibuat kesal oleh Shikamaru. Teman-teman Ino nampak heran melihat sikap Ino. Sebenarnya ketiga sahabatnya sudah tahu bahwa Ino termasuk gadis yang uring-uringan, tapi biasanya hal itu terjadi karena alasan yang tepat yang memang membuatnya jengkel. Tapi kali ini agak berbeda, meski harusnya ia senang karena bertemu temannya setelah sekian lama tidak berkumpul, Ino justru memasang wajah yang buruk. Membuat paras cantiknya tenggelam oleh kerutan-kerutan tak diundang. Hanya karena seorang Nara Shikamaru.

"Kau kenapa Ino-chan?" tanya Sakura sambil tersenyum. "bukannya pengawalmu keren?"

Ino mendengus kesal. Shikamaru memang menemaninya. Selalu menemaninya seolah Ino adalah anak tunggal seorang Presiden berumur lima tahun yang siap diculik kawanan penjahat kapan saja.

Shikamaru duduk di meja dekat meja Ino sambil memperhatikan gadis itu. Hari ini Shikamaru memakai kemeja putih dan celana hitam. Dandanan yang terlalu formal untuk seorang Yamanaka Ino.

"Dandanannya keren, Ino." sahut Tenten.

"Huh," balas Ino, "tahu begitu, aku curi salah satu jaket kakak dan menyuruh pengawal sialan itu memakainya."

"Jangan begitu Ino-chan," sahut Hinata. "dandanan begitu kan juga keren."

Ino langsung meraih pipi Hinata dan mencubitnya, "Kau bilang keren kan karena si Gaara yang sekarang dandanannya juga formal begitu."

"Ta…tapi kan Gaara-kun memang terlihat makin elegan, namanya juga orang kantoran." sanggah Hinata. Wajahnya sedikit memerah saat menyebut nama kekasihnya sejak masa SMA dulu. Heran juga seorang Hyuuga Hinata yang pemalu mendapatkan hati seorang yang cool dan dikenal sebagai seseorang yang ditakuti di sekolahnya. Yah, Gaara adalah putra seorang pengusaha kaya dan juga seorang Yakuza.

Sebagian besar temannya mengira Hinata akan mendapatkan saudara kembar Gaara yang sama popular dalam hal lain. Yah, seorang Sasori yang lembut dan sanggup membuat semua gadis terpesona. Tapi nyatanya dunia tak selalu sama dengan perkiraan orang-orang. Ternyata malah Gaara yang memenangkan perasaan Hinata. Gaara yang dingin, tapi sangat lembut didalamnya. Bagi seorang Hinata tentunya. Dan entah kenapa, semakin ke belakang, nyatanya Hinata mampu mengubah seorang Gaara yang 'bebas' dan 'keras', menjadi seseorang yang punya impian.

Ino dapat melihat ketiga temannya yang terus tersenyum. Bukan pada dirinya saja, tapi Ino sadar mereka juga memperhatikan Shikamaru.

Tenten tersenyum malu. Wajahnya yang oriental terlihat merona tipis, "Lagipula wajahnya lumayan. Tinggi pula." kata Tenten.

Ino mendesah lagi. Sakura tersenyum lalu memperhatikan Shikamaru yang sibuk mengaduk kopinya, "Tapi kok rasanya aku pernah lihat pengawalmu itu ya, Ino?"

"Hah?" tanya Ino heran.

"Sepertinya aku pernah melihatnya dimana gitu." kata Sakura.

"Tak mungkin, Sakura-chan, orang seperti Shikamaru itu pasti tak pernah keluar rumah, kau tahu, serumah dengannya membuatku seperti dipenjara." keluh Ino. Yah, beralasan memang, kalau mengingat Shikamaru yang pernah berkata padanya bahwa ia bisa mengesampingkan urusan pribadi untuk sebuah tanggung jawab.

Ketiga temannya hanya tertawa. Sejak tadi Ino hanya mengeluh soal Shikamaru. Kadang Ino sengaja mengeraskan suaranya agar Shikamaru dapat mendengar keluhannya. Cara yang kekanakan memang, tapi Ino merasa senang dengan cara yang seperti itu. Mengomentari orang lain secara tidak langsung. Setidaknya, bagi Ino itu lebih baik daripada sifatnya yang dulu. Bicara tanpa lihat kondisi.

Mendadak Shikamaru bangkit dari kursinya dan mendatangi Ino.

Ino mendongak. Dan gadis itu dapat melihat jelas pengawalnya menatapnya dengan tatapan 'malas' seperti biasanya. Yah, bagi Ino Shikamaru itu menyebalkan. Dan bagi Shikamaru, Ino itu merepotkan. Kini Shikamaru berdiri tepat di sampingnya. Ia dapat mendengar Shikamaru menarik napas panjang sekalipun itu terdengar pelan. "Kau mau a.."

Tiba-tiba Shikamaru meraih lengan Ino dan menarik gadis itu berdiri. Shikamaru melirik jam tangannya, "Sudah jam lima sore, kita harus pulang."

"Tu..tunggu," protes Ino, "kenapa pulang? Kau kan tidak bilang ada batasan waktunya."

"Tapi kita sudah meninggalkan rumah sejak pukul sembilan pagi, jadi saya harus membawa anda pulang," jawab Shikamaru tenang, "maaf Nona-nona, kami harus meninggalkan anda sekalian, terima kasih."

"Eh, tunggu." panggil Tenten.

'Bagus, Tenten-chan.' pikir Ino dalam hati. Keluar rumah sekali dalam seminggu bukanlah hal yang menyenangkan bagi Ino. Dan tentunya Ino sangat berharap ia dapat keluar dari rumahnya selama seharian penuh. Yah, setidaknya sampai jam sepuluh malam ketika jam tugas Shikamaru berakhir. Tapi nyatanya, Rapunzel memang harus tetap tinggal di istana. Menyedihkan.

"Anu, kalau kami ingin bertemu Ino bagaimana caranya, dia boleh kan menemui kami lagi?"

Shikamaru tersenyum. Senyum pertama yang dilihat Ino. "Saya rasa anda sekalian bisa datang ke rumah keluarga Yamanaka, di kebun belakangnya terdapat kebun buah dan ada beberapa ayunan, saya rasa tempat itu cocok dengan Nona-nona sekalian, tempatnya indah kok."

"Benarkah?" tanya Hinata. "kenapa Ino tak pernah bilang?"

"Ya, anda sekalian pasti senang, itupun kalau Nona tak keberatan berkunjung," jawab Shikamaru ramah, "kalau urusan Nona saya tak pernah bercerita, mungkin karena Nona Ino terlalu sering bermain di luar rumah." imbuh Shikamaru sambil melirik Ino. Kali ini rasanya ia ingin tertawa namun tertahan. Ia dapat melihat ekspresi wajah 'majikan'nya yang kesal.

Jelas Ino kesal. Ia mengibaskan tangan Shikamaru. Ia memandang mata Shikamaru lekat-lekat, seakan Ino ingin menelan pengawalnya itu utuh, "Aku membencimu!" katanya singkat.

Tenten bangkit dan meraih kepala Ino lalu berbisik di telinganya, "Ino, kalau yang seperti ini sih, kau terlihat seperti istri yang dijaga suami yang protektif." sindirnya. Wajah Ino memerah bercampur malu dan kesal. Ino lalu pergi meninggalkan café. Kalau terlalu lama di sana, tentu ejekan Tenten semakin menjadi.

Shikamaru membungkuk pada Sakura, Hinata, dan Tenten, "Kami permisi dulu, sampai jumpa." kata Shikamaru sopan.

Ketiga sahabat Ino itu hanya tersenyum sambil memandangi Ino yang berjalan menjauh dari café. Sakura tertawa melihat tingkah Ino tadi, "Hei, taruhan berapa, kalau mereka akan bersama sebulan ini, pasti Ino jatuh cinta pada pengawalnya."

"Be…benarkah bisa begitu Sakura-chan?" tanya Hinata.

"Yah, sepertinya bisa, Sakura-chan, Ino kan agak 'sulit', tapi kalau lawannya Shikamaru, pasti Ino kalah," sahut Tenten.

---

Seminggu kemudian, teman-teman Ino datang ke rumah dan bermain serta memetik beberapa buah dari kebun buah di belakang rumah. Seperti biasa, Shikamaru yang seperti bayangan Ino juga ada disana menjaga 'nona'-nya.

Sakura berjalan dari arah dapur membawa dua buah cangkir kopi. Ia menghampiri Shikamaru dan menyerahkan secangkir kopi padanya. Shikamaru menerimanya sambil tersenyum, "Terima kasih."

"Hei, kenapa ya, aku merasa kalau pernah bertemu denganmu," kata Sakura. Ternyata Sakura benar-benar terganggu dengan pikirannya seminggu ini. Entah daya ingatnya yang melemah karena terus bersama orang seperti Naruto, atau memang Sakura yang salah, tapi ia benar-benar ingin memastikannya langsung.

Shikamaru meminum kopinya sebentar lalu menoleh, "Tentu saja, aku ini sahabat tunanganmu, masa lupa?"

Sakura terlihat berpikir sebentar, "Ah iya!" seru Sakura. "Astaga, Naruto kan pernah mengajakmu ke restorannya dulu."

"Ya," Shikamaru tersenyum, "ternyata kau sama pelupanya dengan si Bodoh itu," kali ini Shikamaru tertawa.

"Hei, yang kau bilang 'bodoh' itu tunanganku lho." balas Sakura sedikit kesal. Kalau diingat, dibanding Shikamaru, Sakura lebih sering memanggilnya dengan sebutan 'bodoh'. Dan rasanya, Naruto tak pernah protes. Hanya saja, entah kenapa, ada banyak waktu dimana justru Sakuralah yang terlihat bodoh.

"Maaf..maaf…" kata Shikamaru, "habisnya Naruto memang seperti itu sih."

"Iya juga sih," kata Sakura. Jelas Sakura tidak memungkirinya. Tapi tanpa Sakura perlu membela Naruto, keduanya tahu bahwa ada kalanya cara berpikir Naruto sangat mengejutkan. Dan kadang, brilliant.

"Tapi dia hebat juga, bisa membuatmu menyukainya, padahal perjodohan itu kan hal yang mengerikan," kata Shikamaru. Kali ini ia tahu bahwa ia harus mengaku salut pada sahabatnya itu. Shikamaru bahkan tak pernah benar-benar mencoba pertunangan yang diajukan ayahnya. Padahal takkan ada yang tahu jika saja, sang tunangan nantinya justru type-nya. Yah, tapi dari berbagai contoh, hanya kisah seorang Naruto yang membuatnya terkesima. Mendapatkan wanita secantik Sakura, dan pengenalan yang bagus justru membuat kisah keduanya makin terlihat sempurna.

"Ya," jawab Sakura, "kau tahu, berat badanku menyusut tiga kilo selama seminggu gara-gara perjodohan itu, aku stress mengetahui siapa calon suamiku,"

"Tapi akhirnya kau menyukainya kan?" tanya Shikamaru.

Kali ini Sakura tertawa kecil, "Habis dia bodoh sih, aku jadi menyukainya,". Klise memang. Bodoh. Menyenangkan. Kadang pintar. Kadang menyebalkan. Kadang Sakura jengkel. Kadang juga bersyukur. Karena sejauh ini ia melewati masa hidupnya, rasanya Narutolah orang pertama yang membuatnya nyaman dan terus tertawa. Hei, tidak semua laki-laki mau melindungi kekasihnya kan.

Sementara itu Ino memperhatikan Shikamaru dan Sakura yang mengobrol akrab. Ia terlihat jengkel melihat Shikamaru tertawa, "Mereka itu ngobrol apa sih?" gumamnya pelan.

Tenten langsung melirik ke Hinata, "Wah, Hinata-chan, sepertinya perkataan Sakura bisa jadi kenyataan nih."

Hinata tersenyum setuju, "kau cemburu Ino-chan?". Masih jelas ingatan seorang Hyuuga Hinata ketika minggu lalu di café, Sakura berani bertaruh bahwa cepat atau lambat Ino akan menyukai pengawalnya itu. Hm. Cinta itu bisa dibuktikan dengan rasa cemburu kan?

Ino langsung menoleh. Memandangi kedua sahabatnya dengan death glare, "Kalian ini yang benar saja."

"habisnya, Ino-chan terlihat seperti cemburu sih," kata Hinata membela diri. Ino memang mudah jatuh cinta. Ino juga sering didekati pria semasa SMA. Tapi rasanya, Ino sangat jarang mendapat penolakan atau setidaknya menemukan seorang 'pria' yang terang-terangan menyatakan bahwa ia tidak tertarik.

"Aku bukan cemburu, aku cuma heran melihatnya tertawa seperti itu dengan Sakura, padahal di dekatku, ia selalu memasang muka horror," kali ini giliran Ino membela diri.

Tenten tertawa keras, "Kau berlebihan Ino, Shikamaru kan hanya sedikit 'irit' bicara."

"Haah," Ino menarik napas panjang. "terserah kalian deh."

"Tenang Ino-chan, Sakura-chan tak mungkin selingkuh dari Naruto-kun," hibur Hinata.

---

Ino membuka matanya. ia menoleh pada jam dinding. Jam setengah sebelas malam. Yah, jam kerja Shikamaru sudah berakhir. Ini adalah waktu yang seharusnya menyenangkan untuk Ino. Ino menghidupkan lampu kamarnya. Kepalanya pusing lagi.

Itu semua gara-gara saat makan malam tadi ayahnya bilang Sabtu depan, beberapa teman dan anak-anaknya akan datang untuk makan malam di rumahnya. Meskipun ayahnya bilang bisnis, jelas Ino tahu apa maksudnya. Agar ia bisa melihat para calon tunangannya. Argh. Ino kesal lagi. Ia mengacak-acak rambutnya.

Ino beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon. Ia memandang langit malam sebentar. Ino menoleh ke arah kanannya. Matanya terbelalak. Ia kaget melihat Shikamaru duduk di balkon. Kamar Shikamaru dan Ino memang dibuat bersebelahan.

"Dia itu tidur ya?" gumam Ino pelan. Shikamaru memang duduk di lantai balkon dengan mata tertutup. Tapi kenapa tidur di luar. Kalau dirasakan lagi, jelas malam ini angin bertiup cukup hangat. Tapi tentunya gadis seperti Ino akan berpikir, kenapa harus tidur di luar sementara ada tempat tidur yang jauh lebih hangat di dalam kamarnya.

Ino naik ke pinggiran balkonnya dan mendadak melompat ke balkon kamar Shikamaru.

Dukk.

Shikamaru langsung bangun dan kaget melihat Ino berdiri di depannya, "Kau…" Shikamaru melirik balkon kamar Ino. Jaraknya memang tak sampai dua meter. Tapi melompat seperti itu jelas berbahaya. Tak peduli Ino punya sabuk hitam karate atau tidak, tapi tetap saja Ino seorang perempuan. Jika ia ceroboh atau salah langkah dan terjatuh, tentu itu akan menjadi malapetaka untuk Shikamaru.

"Kenapa kau melirik seperti itu?" tanya Ino, "aku memang tak berani lompat ke bawah seperti yang kau lakukan, tapi aku ini pemegang sabuk hitam klub Karate, jangan meremehkanku."

Ino lalu duduk tak jauh dari Shikamaru. "Kenapa tidak tidur?" tanya Shikamaru.

"Kau sendiri? Kenapa tidur di tempat seperti ini?" tanya Ino balik.

"Hanya ingin cari angin, kau keberatan?" jawab Shikamaru.

Ino menoleh, "Kenapa kau memanggilku dengan 'kau', biasanya kan 'anda'?". Jelas sebenarnya Ino tak peduli dengan 'anda' – 'kau'. Ia hanya ingin tahu apa yang dilakukan pengawalnya dengan tidur di balkon kamar.

"Ini sudah di luar jam kerjaku," jawab Shikamaru singkat.

"Haah…" Ino menghela napas panjang lalu menatap langit. "kau tahu? Aku benar-benar jengkel padamu."

"Terima kasih, kuanggap itu pujian." kata Shikamaru tersenyum.

Ino menoleh heran, "Kau itu menyebalkan tahu!"

"Kalau itu aku juga tahu." balas Shikamaru.

"Hn," keluh Ino, "tapi aku paling jengkel pada ayahku, tadi ayah bilang teman-temannya akan datang minggu depan."

"Perjodohan?"

Ino menoleh, "Kok tahu?" tanya Ino. Shikamaru hanya tersenyum sambil memandang langit. "itu adalah hal yang paling kubenci melebihi benciku padamu."

"Yah, perjodohan memang menyebalkan," sahut Shikamaru.

"Tak usah bilang begitu untuk menghiburku, kau kan tak pernah dijodohkan." kata Ino.

"Siapa bilang?" jawab Shikamaru. Ino langsung menoleh, "aku juga pernah dijodohkan, tapi karena protes, orang tuaku menyerah."

Ino tersenyum, "Yah, maklum juga sih, kelihatan sekali kalau orang sepertimu susah mencari pasangan sendiri." sindir Ino.

"Jangan bilang seperti itu kalau kau sendiri juga sama." balas Shikamaru. Muka Ino langsung masam mendengarnya. Ino memegangi lengannya. Sepertinya Ino sedikit kedinginan. Piyamanya memang tak terlalu tebal.

Tiba-tiba Shikamaru menyodorkan gelas padanya. Ino menoleh heran, "Cokelat hangat, agar tak kedinginan." kata Shikamaru pelan.

Ino sedikit ragu menerimanya, tapi akhirnya diterima. Ino memandangi gelas itu. Shikamaru melirik ke arahnya. "Kenapa?" tanya Shikamaru.

Ino hanya menggeleng. 'ini kan bekas minumannya, kenapa diberikan padaku?' pikirnya dalam hati. Kalau minum segelas kan berarti ciuman tak langsung. Ino langsung teringat ejekan Tenten dan Hinata. Ia cepat-cepat menggeleng lagi. Akhirnya Ino meminumnya. Manis. Hangat.

"Hei." panggil Ino.

"Hn."

"Kau kelihatan akrab dengan Sakura-chan." kata Ino singkat. Baiklah. Aneh memang menanyakan hal yang bukan urusannya. Tapi setidaknya Ino ingin membuktikan bahwa sejauh ini, ia hanya sekedar penasaran, bukan kecemburuan seperti yang dituduhkan teman-temannya.

"Oh," respon Shikamaru singkat. Ino menoleh. "Sakura-chan itu…"

Tunggu. Kenapa Shikamaru menyebut nama Sakura bukan dengan 'Haruno', apalagi dengan embel-embel –chan. Ino sibuk sendiri dengan pikirannya.

"Dia tunangan Naruto, sahabatku."

"Hah?" Ino langsung menoleh. Kali ini Ino bingung harus puas atau tidak dengan jawaban barusan.

"Iya, tunangan sahabatku," jawab Shikamaru, "memangnya kenapa?"

Ino langsung menggeleng cepat. Ternyata hubungannya hanya itu. Hei, kalau Ino berpikir seperti itu, artinya ia cemburu kan. Kalau tidak, kenapa ia merasa sedikit lega. Ah, tidak. Hanya sedikit.

"Mereka itu pasangan hasil perjodohan lho." kata Shikamaru.

Ino mengangguk pelan, "Iya, aku juga sudah mendengarnya,"

Shikamaru tertawa kecil. Tawa pertamanya pada Ino, "Aku heran, beruntung sekali si Naruto mendapat tunangan secantik Sakura."

Wajah Ino langsung berubah. Ia terlihat kesal. Tunggu. Kenapa harus kesal? "Kalau begitu, kenapa menolak usul perjodohan orang tuamu, siapa tahu calon tunanganmu cantik." Sejujurnya Ino dapat merasakan suaranya sedikit bergetar. Pertanda buruk.

Shikamaru langsung menoleh, ia memandangi Ino sebentar. Ino langsung memalingkan mukanya. "Soalnya, aku ingin menemukan perempuan karena aku mencintainya," jawab Shikamaru polos. "aku ingin jadi ksatria yang menyelamatkan seorang puteri dan jatuh cinta padanya."

Ino langsung menoleh. Ia dapat melihat Shikamaru tersenyum sambil menatap langit. Wajahnya terlihat memerah, "Kau kekanakan!" kata Ino singkat. Ternyata ada juga orang yang 'sedikit' berpikiran sama sepertinya.

Ino memandangi langit. Cukup lama sampai akhirnya ia tertidur di balkon. Shikamaru menoleh dan melihat gadis itu tertidur. Ia masuk ke dalam kamar dan mengambil selimut lalu memasangkannya di tubuh Ino. Ia memandang wajah Ino sebentar. Mengusap rambutnya yang terkena angin.

Shikamaru lalu mengangkat gadis itu. Membawanya kembali ke kamarnya sendiri.

---

Tok. Tok.

Shikamaru membuka pintu kamarnya dengan malas. Matanya yang masih setenagh mengantuk langsung terbuka lebar begitu mengetahui Ino sedang berdiri di hadapannya. Tersenyum manis.

Tidak biasanya puteri tunggal Yamanaka ini bangun di pagi hari. Masih pukul enam pagi. Dan sejak ia mengenalnya, baru sekali ini Ino mengetuk pintu kamarnya. Kamar pengawal yang katanya sangat tidak ingin Ino temui.

"Ada apa, Nona?" tanya Shikamaru pelan.

Ino tersenyum simpul lagi. Membuatnya terlihat manis di mata Shikamaru, "Ayo, kita pergi." ajak Ino.

"Apa?" tanya Shikamaru tak percaya. Ia hampir-hampir tak pernah mendengar Ino mengajaknya pergi. Selama ini justru Ino selalu kesal setiap Shikamaru menawarkan dirinya untuk menemaninya.

"Aku ingin mengajakmu belanja."

Sebagai seorang lelaki –lepas dari tugasnya sebagai pengawal- kata 'belanja' bukanlah kata yang enak untuk didengar. Ia tak menyangka harus menemani nonanya untuk menghabiskan waktu berjam-jam hanya demi memilih barang-barang dan bersikap merepotkan selama belanja. Dan Shikamaru tak punya pilihan selain berkata 'iya' pada gadis pirang itu.

---

"Bagaimana yang ini?" tanya Ino. Ia ingin tahu pendapat Shikamaru saat ia mencoba gaun berwarna hitam berenda yang membuatnya terlihat lebih 'seksi'. Dan itu membuat mata Shikamaru sedikit 'risih'.

Shikamaru menggeleng pelan. Entah sudah berapa kali ia menggeleng setiap Ino keluar dari ruang ganti. "Ini kan untuk acara makan malam, Nona, saya sarankan jangan yang terlalu glamour, pakaian hitam yang nona pakai terlihat lebih cocok untuk berkabung."

Ino hanya tersenyum mendengar pendapat Shikamaru. Tak salah memang. Dan Shikamaru tahu betul pakaian itu tak cocok mengingat Ino tidak berminat dalam acara perjodohan. Bagi Shikamaru, pakaian itu lebih terlihat seperti gaun tidur untuk foreplay saking gemerlapnya.

Gawat. Hampir saja. Nosebleed. Pikiran jorok.

"Aku sudah mencoba lima gaun, ayolah, Shika, Bantu aku sedikit."

Shikamaru melangkahkan kakinya dan mengambil beberapa gaun dengan warna yang lembut. Warna peach seperti bibirnya. Warna biru seperti matanya. dan warna kuning seperti rambutnya.

Ino terlihat heran dengan pilihan Shikamaru meski akhirnya ia menerimanya. Dengan cepat Ino berlari ke ruang ganti.

"Hei, lama sekali, aku dan Sakura bahkan sudah selesai," panggil Naruto. "padahal Sakura juga membeli pakaian, tapi kenapa Ino lama sekali?"

Shikamaru hanya mendengus kesal. Tapi ia juga sedikit lega. Setidaknya kali ini mata pegawai-pegawai wanita tak lagi tertuju sepenuhnya di sosoknya.

"Ino mana?" tanya Sakura yang mendadak muncul.

Shikamaru hanya menunjuk bilik ganti. Ia menghela napas pelan hingga akhirnya kedua matanya tertuju pada dua sosok yang berjalan beriringan melewati toko pakaian. "Temari!" panggil Shikamaru lantang. Ia langsung menghampiri wanita itu.

Ino berjalan keluar dari bilik ganti dengan gaun berwarna biru. Naruto tersenyum dan memujinya cantik. Namun mata Ino justru mencari sosok Shikamaru. Ia ingin mendengar pendapat pengawalnya itu.

"Mana Shikamaru?" tanya Ino.

Sakura hanya menunjuk tempat Shikamaru berdiri dan mengobrol di dekat pintu keluar. Ino menoleh dan terlihat sedikit kesal.

"Siapa itu?" tanyanya lagi. Kali ini nada suara Ino terlihat agak kesal.

Sakura mengenal pria di samping temari. Wajah yang sama dengan tunangan Hinata. Tapi Sakura tak mengenal Temari, dan ia tahu betul bahwa yang dimaksud Ino 'siapa' adalah gadis itu.

"Oh itu…" sahut Naruto polos.

Sakura melirik pada Naruto dengan tatapan 'cepat-beritahu-Ino-kalau-kau-tak-ingin-ia-membunuh-kita-.

"Haha… bagaimana ya, wanita itu Temari, mantan kekasih Shikamaru, saat SMA." jawab Naruto sedikit takut-takut.

***

Yup, Chapter 2 selesai. Ada yang tahu siapa yang berjalan beriringan dengan Temari? Silakan tebak. Pasti ada yang tahu.

Kalau dipikir-pikir, dua pasangan itu seperti sedang double date ya?

Yasud-lah. Just give me your comment.

Review, Please…