Disclaimer : Teman sepermainan saya dulu, Masashi Kishimoto, *dilempar naskah-naskah bekas 'masa aku main dengan bocah Gaje sepertimu!'*

Mohon maaf karena update-nya lumayan lama, sampek seminggu lebih! Padahal biasanya sekitar 5harian, ini gara-gara virus sialan yang menyerang flashdisk night…huwa…. Be-te… adakah yang tahu gimana caranya ngebalikin file saya???

Untunglah Prince vs Princess udah ke-save di computer, tapi…. Chapter update-an punya Save The Princess n' terutama My Endless Memories ilang… file-nya berubah jadi kotak-kotak apalah namanya *ketahuan gaptek-nya*

Akhirnya saya ketik ulang dengan mengandalkan memori night yang rada payah ni… moga2 tetep gak melenceng… hahahaha….

Jadi mohon maafkan author dong-dong seperti saya ini… huwa… hiks… *nangis lebay*

Reviewers banyak yang pinter ya…, *Hurray*

Yang sedang jalan dengan Temari adalah SASORI, kembarannya GAARA, kan ada tuh, kalimat night yang bilang, Temari jalan dengan orang yang punya wajah sama dengan tunangan Hinata, ya pasti SASORI.

Save The Princess Chapter 2

"Oh itu…" sahut Naruto polos, "haha, bagaimana ya, wanita itu Temari, mantan kekasih Shikamaru, saat SMA."

Ino terlihat kaget meskipun ekspresinya tetap seperti biasanya. "Oh… ternyata orang seperti Shikamaru pernah punya pacar ya…"

Sakura melirik sebentar pada Ino lalu menyenggol Naruto. Ia tahu bahwa nada suara Ino sedikit berubah. Sedikit sengau. Sayangnya, pasti Naruto tidak mengerti urusan seperti ini.

"Ya… mm.. bukannya Sasori itu juga teman kalian? Dia dan adik kembarnya, Gaara satu SMA dengan kalian kan?" tanya Naruto sambil menunjuk Sasori yang berdiri di samping Temari.

Ino mengalihkan pandangannya yang sedari tadi terfokus pada punggung Shikamaru ke arah Sasori. Ino mencoba mengingat wajah Sasori, "Oh, iya, dia memang kakak kembar tunangan Hinata, aku hampir lupa, sepertinya model rambutnya sedikit berubah," jelas Ino, "jadi Sasori pacar Temari sekarang?"

Naruto tertawa keras, "Tentu saja bukan, Temari itu kakaknya Sasori dan Gaara."

"Oh, begitu…" sahut Ino malas. Ino berbalik ke ruang ganti dan tak sampai semenit kemudian ia sudah memakai pakaian casualnya. Tangannya hanya memegang gaun biru yang barusan dicobanya tanpa mencoba dua gaun yang lain.

Sementara itu Shikamaru tengah mengobrol dengan Temari dan Sasori.

"Ngomong-ngomong kau sedang apa di tempat belanja perempuan seperti ini?" tanya Temari heran.

Shikamaru hanya tersenyum miris, "Aku harus menemani seorang gadis."

"Pacarmu?" sahut Sasori.

Shikamaru menggeleng pelan, "Bukan, sekarang aku bekerja sebagai bodyguard, jadi aku harus menemaninya pergi."

"Oh," Temari menghela napas pelan lalu tersenyum nyengir, "pikirku kau sudah menemukan penggantiku."

Wajah Shikamaru sedikit memerah mendengarnya.

"Dipaksa ayahmu lagi?" tanya Temari lagi.

"Hahaha," Shikamaru tertawa getir, "kau masih ingat ayah ternyata."

"Hm… tapi setidaknya cuma pekerjaan, bukan perjodohan kan?" sahut Sasori sambil tersenyum.

Ketiganya tertawa, "Yah, orang tua jaman sekarang, masih terperangkap era lama, kalian sendiri? Dipaksa perjodohan juga?"

Temari menggeleng.

"Jangan samakan ayah kami dengan ayahmu, setidaknya Gaara sudah bertunangan tanpa ajang perjodohan." Ejek Sasori senang.

"Sudahlah, kau kan sedang tugas, sebaiknya kau segera kembali ke 'nona'mu, jangan sampai ia dalam bahaya." Imbuh Temari.

"Haaah…" jawab Shikamaru malas, "aku heran, kenapa semua perempuan itu merepotkan."

"Oh ya?" sindir Temari.

"Troublesome"

Ino melangkah keluar dari kamar ganti dan mendapati Shikamaru sudah berdiri di hadapannya bersama Naruto dan Sakura. Ino hanya memandangnya sebentar lalu melengos pergi ke kasir dengan gaun biru di tangannya.

"Anda sudah mencoba semuanya?" tanya Shikamaru.

"Nggak perlu," jawab Ino dingin, "Aku lelah, kita pulang saja."

Naruto melirik tunangannya. Sakura hanya menarik lengan Naruto agar memperlambat langkahnya dan berbisik, "Sepertinya Ino sedang badmood."

"Kenapa? Bukannya tadi baik-baik saja?"

"Bagaimana kalau kubilang cemburu?" jawab Sakura.

Naruto langsung menoleh pada Sakura dengan pandangan bingung, "Ma-maksudmu cemburu karena melihat Temari? Jadi menurutmu Ino menyukai Shikamaru, Sakura-chan?"

Sakura mengangguk pelan, "Tapi masih perkiraan."

Shikamaru menyetir mobil dengan pelan. Sesekali ia melirik Ino yang duduk di bangku belakang mobil melalui spion. Ino terus membuang muka ke luar selama perjalanan. Biasanya Ino tak mau mengalah dan memilih duduk di depan. Tapi kali ini Ino duduk di kursi belakang tanpa banyak bicara. Ya. Sejak di took tadi, Ino memang memilih diam.

Shikamaru sedikit banyak menyadari kelakuan aneh Ino. Tapi Shikamaru memilih diam dan tidak bertanya aneh-aneh. Ia tak mau kalau-kalau Ino justru makin badmood kalau ia ikut campur.

Ino memejamkan matanya. Otaknya lelah berpikir dan menentang keras untuk mengikuti irama jantungnya yang dari tadi berdetak lebih kencang. Ada yang aneh dengan dirinya. Sepertinya ia jengkel berat melihat Temari yang dewasa, cantik, dan sanggup membuat wajah Shikamaru memerah.

Ia juga tak ingin banyak bicara saat ini. Ia tak ingin beradu pendapat dengan Shikamaru dengan menanyakan urusan pribadi Shikamaru. Ino ketakutan sendiri dengan perasaannya. Ia benci perasaan seperti tadi. Perasaan cemburu.

Jelas sekali kalau Ino menahan ekspresi tidak nyamannya saat makan malam. Ayahnya memang berbicara soal bisnis ketika makan dengan teman-temannya, tapi Ino tahu jelas pasti ujung-ujungnya akan menyinggung tentang dirinya. Benar memang, putra-putra teman-teman ayahnya adalah pria terpelajar dan sopan juga pintar.

Tapi sayangnya Ino sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Ah, ia harus bertahan semalam ini semeja dengan orang-orang yang 'diluar' dirinya. Ia teringat Shikamaru. Hari ini pengawal pribadinya itu hanya mengikutinya sampai pukul lima sore. Sepertinya ia tadi sempat melihat Shikamaru keluar rumah. Mungkin refreshing.

Ino terlihat kesal dan pusing. Apa tidak ada seseorang yang akan menolongnya malam ini. Ino jelas-jelas tidak ingin masuk lebih dalam pada percakapan yang tak jelas ini.

"Ayah, aku mau ke kamar sebentar." ijin Ino.

Ayahnya itu langsung memandang putrinya dengan curiga, "Memangnya ada apa?"

"Tidak ayah," terang Ino, "sepertinya aku melupakan sesuatu di kamar."

"…" ayahnya tetap memandang putri semata wayangnya itu dengan pandangan aneh.

"Hanya sebentar," kata Ino lagi. Belum sempat ayahnya berkata 'iya', Ino langsung pergi meninggalkan meja makan. Ia berlari dengan cepat ke kamarnya, sementara Deidara tersenyum melihatnya dari ruang tengah.

'sesuai rencana,' gumam Deidara pelan. Ia tersenyum nyengir lalu membuka handphonenya, "Shikamaru? Kau masih di luar rumah kan? Bisakah kau pulang sekarang? Tolong tunggulah di teras rumah ya…. Oke…"

Sementara itu Ino mematikan lampu kamarnya dan berlari ke balkon. Ia duduk meringkuk di tepi balkon. Air matanya menetes karena sedih. Ia membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya, agar suara tangisannya tidak terdengar siapapun.

Shikamaru melangkahkan kakinya dengan malas menyusuri teras rumah keluarga Yamanaka yang luas. Sesekali ia menengok jam tangannya. Seingatnya tadi Deidara menyuruhnya untuk menunggu di teras. Shikamaru juga malas untuk masuk ke dalam rumah, karena ia tahu di dalam sedang ada perjamuan makan malam.

Shikamaru mendongak. Ia melihat lampu kamar Ino dimatikan. Samar-samar ia melihat seorang gadis duduk meringkuk di lantai balkon, "Ino?" gumamnya pelan. Shikamaru memperhatikan Ino, mencoba memastikan itu Ino atau bukan.

Shikamaru menghela napas panjang. Ia menunduk lalu mengambil beberapa kerikil di tangannya lalu melemparkannya ke arah balkon kamar Ino.

Tek. Tek.

Ino mengangkat wajahnya. Kepalanya mendadak terkena lemparan kerikil dari tangan Shikamaru. Shikamaru yang menyadarinya terlihat kaget, 'wah, bakal kena omel nih.'

Ino mencoba mencari asal lemparan. Ia dapat melihat dengan jelas Shikamaru ada di bawah. Berdiri di depan teras rumahnya. Ino segera berdiri dan menghapus air matanya. Tapi nyatanya air matanya malah mengalir deras.

"Kau kenapa?" tanya Shikamaru cemas. Meskipun samar, ia dapat melihat bahwa Ino menangis. Ino hanya menggeleng pelan. Ia melangkahkan kakinya ke pembatas balkon. Dan 'hup'.

Ino melompat ke arah Shikamaru berdiri.

Melompat dari balkon kamarnya.

Jelas Shikamaru kaget. Wajahnya pucat pasi. Ia cepat-cepat menangkap Ino yang lompat tanpa aba-aba terlebih dahulu. Keduanya kehilangan keseimbangan dan jatuh di tanah.

"Ka..kau tidak apa-apa, Ino?" tanya Shikamaru cemas.

Ino mengangkat wajahnya. Ia mencoba tersenyum dan menggeleng pelan.

"Wajahmu jelek sekali kalau menangis," ejek Shikamaru asal. Riasan make up Ino sedikit meluntur terkena air matanya. Bagian bawah roknya sedikit robek karena melompat barusan.

"Pergi." kata Ino terisak.

"Hah? Apa?" tanya Shikamaru tak mengerti.

Ino menghapus air matanya, "Bawa aku pergi!" perintah Ino.

Shikamaru terlihat bingung, "A..apa? ke..kenapa aku harus membawamu pergi?" Ino menangis lagi. Kali ini Shikamaru kebingungan sekaligus tak tega. Ia melihat lampu kamar Ino dinyalakan. Ah. Pasti ada seseorang yang mengecek kamarnya dan mencari Ino.

Shikamaru cepat-cepat bangkit dan menarik lengan Ino lalu mengajaknya berlari meninggalkan teras rumah. Keduanya langsung pergi keluar.

Hm…. Akhirnya Chapter 3 selesai. Aduh…. Chapter ini pendek sekali ya…… *digebuk rame-rame*

Night nggak terlalu mengekspose sosok Temari, karena 'fungsi' Temari Cuma buat mempertegas kalau si Ino mulai ada rasa dengan Bodyguardnya yang keren ini *Kya….. Shika-kun….!!!!!*

Oh iya, alasan berpisahnya Shikamaru dan Temari adalah karena Nara Shikaku yang ngeyel mau menantu dari putri-putri temannya, alias bagi Shikaku, Shikamaru wajib bin ain untuk nurut yang namanya perjodohan. Atau bahasa kerennya, Shikaku gak setuju dengan Temari.

Semoga readers tak bosan dengan cerita yang alurnya sedikit kecepetan ini… hehehe…. Dan night nggak bosan ngingetin untuk…… R e v i e w !!!!

So, Please, review…