Disclaimer : Tetap dan takkan berubah, Naruto pada dasarnya bukan punya saya, karena kalau Naruto punya saya, saya akan bikin Sasuke jadi dengan Hinata, dan Naruto dengan Sakura, Shikamaru dengan Ino, dan Itachi-Jiraiya akan saya hidupin lagi. Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei
Night senang sekali karena ternyata Save The Princess lumayan ada yang nunggu, huahahaha… karena awalnya saya rada takut ngebikinnya kalau ngingat Shika selalu dengan Temari. Gila! ShikaTema-Fans bejibun banyaknya kayak SasuSaku-FC!!
Tapi ternyata, diluar sana banyak sekali orang beriman *hiks* yang nggak nge-flame karya-karya saya yang kebanyakan NaruSaku-ShikaIno. Thank you… thank you.. thank you… I love you all…. *lambai-lambai tangan dari limousine* thank you full… *dilempar sandal para readers*
Thanks untuk para reviewers, to Nara_Uzwa, saya apdet-nya seminggu sekali kok, coz kan night juga apdet Prince vs Princess, My Endless Memories juga, jadi barengan, makanya lama…. Hahahaha Thanks…
Yasudhlah, pokoknya gitu, jangan sensi sama saya karena ke-abalan saya yang super gaje, cukup nilai night dari fic-fic bikinan night aja…. Terima kasih untuk para readers n' reviewers!!
Pairings : ShikaIno, slight NaruSaku, GaaHina
Don't like don't read don't blame….
Save The Princess Chapter 4
Sekitar sepuluh menit berlari, Shikamaru mengajak Ino masuk ke dalam pekarangan rumah seseorang. Rumahnya cukup besar meski tak sebesar rumahnya. Shikamaru mengajaknya duduk di taman rumah, "Rumahmu?" tanya Ino.
Shikamaru menggeleng lalu menyandarkan punggungnya di tempat duduk. Shikamaru menghela napas panjang sambil menatap langit malam. Ia melirik sebentar ke arah jam tangannya. Jam setengah sembilan malam.
"Sepertinya ini cara tercepat untuk memecatku ya?" kata Shikamaru pelan. Pandangannya tetap lurus ke arah langit. Ino terlihat tersentak. Ya. Memang kalau ayahnya tahu, pasti Shikamaru akan dipecat karena membawa Ino pergi di luar jam kerjanya.
"Nanti…kau tidak usah mengantarku pulang," kata Ino. Suaranya terdengar bergetar, "nanti aku akan bilang pada ayah bahwa aku pergi sendirian."
Shikamaru melirik ke arah Ino yang tertunduk. Shikamaru menghela napas lagi, "Tak usah repot-repot, lagipula aku bertanggung jawab karena melarikanmu dari rumah, lagipula aku tidak semiskin yang kau kira, tanpa bekerja jadi pengawalmu pun, aku tidak akan kesusahan."
Kali ini Ino menoleh. Ia mencoba menghapus air matanya sementara Shikamaru tersenyum sebentar lalu memalingkan mukanya lagi.
"Hei, Shikamaru!" panggil seseorang.
Shikamaru menoleh dan berdiri. Temannya itu segera menghampirinya, "Kau sudah pulang?"
"Kenapa kau ke rumahku lagi? Bukannya kau tadi bilang malam ini tidak jadi?"
Shikamaru hanya tertawa nyengir, "Aku membawa Ino,"
"Oh, memangnya ada acara apa? Kalian mau kencan?" kata Naruto sambil mengulurkan tangannya.
Shikamaru hanya menggeleng malas dan mengalihkan pandangannya dari Ino sementara gadis itu hanya menunduk dan berharap agar pemilik restoran ramen terbesar di pusat kota sekaligus tunangan sahabatnya itu tak menyadari bekas garis-garis air mata di pipinya.
Naruto melirik ke arah Shikamaru, "hei, Shikamaru, kau menculik anak orang ya?"
"Jangan cerewet, Naruto." jawab Shikamaru dingin. Ino tertawa mendengarnya.
"Oke, baiklah, kita ke belakang rumah," seru Naruto bersemangat, "tadi aku baru mengantar Sakura pulang, jadi ya sudah, kita bertiga saja." kata Naruto lalu bergegas ke belakang rumah.
"Shi..Shikamaru," panggil Ino.
"Tadinya aku ada rencana membakar jagung di belakang rumah Naruto," jawab Shikamaru, "karena kau minta kuajak pergi, ya kau menurut saja, lagipula aku tak mau membawamu ke pusat perbelanjaan atau tengah kota dengan gaun pesta seperti itu."
Ino hanya tersenyum. Ia terlihat senang kali ini. Shikamaru memang terkesan egois. Tapi rasanya itu tak merugikan Ino.
Mereka menghabiskan waktu hingga dua jam di rumah Naruto. Ketiganya hanya ngobrol tak jelas, membicarakan Naruto dan Sakura, membicarakan soal perjodohan –yang bagi Ino dan Shikamaru- yang menyebalkan, dan membicarakan impian masing-masing.
Saat perjalanan pulang ke rumah Ino, Ino memaksa Shikamaru agar mengajaknya ke taman hiburan di pinggir kota. Sebenarnya Shikamaru menolak, tapi Ino tetap ngotot tak mau cepat-cepat pulang. Khawatir kalau teman-teman ayahnya belum pulang. Padahal sudah pukul setengah sebelas malam.
Shikamaru memandangi Ino sebentar. Membuat muka gadis itu memerah dan salah tingkah. Ia melepas jaketnya dan memasangkannya di bahu Ino. Ino langsung menoleh. Ia terlihat heran, dan sedetik kemudian tersipu. Ino dapat merasakan detak jantungnya yang berubah cepat.
"Kenapa melihatku begitu?" tanya Shikamaru polos.
"Hah?" sahut Ino kaget, "ah, bu..bukannya begitu."
"Aku kan sudah bilang, aku malas membawamu karena gaunmu itu mencolok," jawab Shikamaru tenang, "lagipula pakaianmu itu terlalu tipis, kau bisa masuk angin."
"Ah…begitu ya," kata Ino gugup. "em.. kenapa tadi kau mengajakku ke rumah Naruto?"
"Karena kalau kuajak ke rumahku, akan ketahuan ibu, dan pasti ayah juga akan memarahiku," kata Shikamaru enteng. "kau mau main apa?"
"Hah?"
"Kau tidak bawa uang kan?" tanya Shikamaru lagi, "kali ini kutraktir, mainlah sepuasmu, lalu kita pulang."
Ino tersenyum lebar. Ia langsung menarik lengan Shikamaru ke salah satu tempat permainan lalu mencoba permainan lain. Ino terlihat senang sekali. Rasanya baru sekali ini ia merasa senang sekali. Biasanya Ino tak pernah keluar rumah selarut ini. Mungkin saat pulang nanti, ia akan kena marah dan juga menyusahkan Shikamaru.
Tapi sekali ini, ia ingin bebas. Meski hanya sebentar.
Ino terlihat kesusahan dalam permainan menembak kaleng. Hadiahnya memang hanya boneka. Tapi kali ini Ino menginginkannya.
"Bukannya di kamarmu banyak boneka?" tanya Shikamaru malas.
"Jangan cerewet," sahut Ino. Pandangan matanya tetap lurus ke arah kaleng-kaleng sasaran tembak.
Shikamaru menghela napas panjang. Troublesome. Ia menengok pelan ke arah jarum-jarum tipis yang berdetak pelan mengitari poros jam tangan silver miliknya.
Dengan cepat ia merebut senapan dari tangan Ino. Ino hanya melongo melihat senapannya direbut. "Ini sudah malam, ini permainan terakhir."
Dengan cepat Shikamaru menembak semua kaleng dengan tepat. Ino dan beberapa pengunjung lain hanya bisa melongo melihatnya, bahkan sang pemilik stan juga terlihat kagum. Akhirnya mereka berdua mendapatkan sebuah boneka besar berbentuk anjing kutub berwarna putih.
Shikamaru menerima boneka itu, memandangnya sebentar, lalu memberikannya pada Ino. Ino menatapnya dengan heran, "Eh? untukku?"
"Memangnya ada laki-laki yang mau pulang ke rumah sambil membawa boneka sebesar itu?" tanya Shikamaru. Wajah Ino memerah. Ia memeluk boneka itu dan terlihat senang sekali. "ayo pulang." ajak Shikamaru.
Ino diam di tempat. Ia terlihat tidak mau melangkahkan kakinya.
"Ada apa lagi?" tanya Shikamaru.
"Satu lagi," jawab Ino pelan. "kita naik itu."
Ino menunjuk sebuah kincir raksasa. Shikamaru menoleh dan terlihat lesu. Kelihatan sekali kalau ia kelelahan. Sebenarnya Shikamaru bisa saja menolak dan memaksanya pulang, tapi ia berpikir sebentar. Mungkin ini hari terakhirnya ia melihat wajah gadis manja itu. Dan sepertinya ia tak tega.
Shikamaru mengangguk lemas. Membuat gadis itu berteriak kegirangan. Ino dengan cepat menarik lengan Shikamaru. Ia terlihat sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang memperhatikan mereka.
Shikamaru terlihat menahan mual ketika 'sangkar' yang mereka berdua duduki berada dalam ketinggian yang tidak biasa. Ino yang penasaran terus memperhatikan wajah Shikamaru, "Kau takut ketinggian?" ejeknya senang.
"Jangan bodoh, kalau aku takut, bagaimana mungkin aku bisa lompat dari balkon kamarmu waktu itu," jawab Shikamaru, "aku cuma tak senang berada di tempat sempit yang terus bergoyang seperti benda ini."
Ino tertawa senang.
"Kenapa perempuan suka sekali hal yang merepotkan, selalu menyukai benda-benda seperti ini?" ejek Shikamaru.
Ino menatapnya dengan heran lalu tersenyum, "Hei, kan kalau dari tempat setinggi ini, kau bisa dengan puas melihat bintang," Ino mengalihkan pandangannya ke pemandangan sekitar yang menakjubkan. Penuh dengan kerlap-kerlip lampu di antara gelapnya malam yang hangat.
"Eh?"
"Setiap kuperhatikan, kau selalu melihat langit, bukankah ini tempat yang bagus untuk melihat bintang?" jawab Ino polos. Shikamaru terlihat kaget. Sama sekali tak menyangka hal sepele seperti itu adalah alasan lain Ino mengajaknya. Ino dengan cepat bergeser ke kanan, agar lebih leluasa melihat langit, sehingga membuat 'benda' yang mereka tumpangi sedikit berat sebelah.
Shikamaru langsung menarik lengan Ino agar posisi gadis itu kembali ke tengah. Shikamaru tersenyum pada Ino lalu mengusap kepalanya, "Hei, kau bisa membuat kita berdua celaka," kata Shikamaru. Wajah Ino langsung blushing dan tersenyum senang. "sering-seringlah tersenyum seperti itu, itu membuatmu terlihat manis."
Shikamaru dan Ino berdiri di depan pintu utama rumah. Berkali-kali Ino menghela napas panjang. Sepertinya ia tak siap berada dalam kondisi seperti ini. Yah, ia jelas sudah memperkirakan resiko melarikan diri di saat 'penting' bagi ayahnya.
Ingin rasanya ia memerintahkan kakinya pergi dari sana, menarik tangan Shikamaru, dan pergi kemanapun yang bisa membuatnya merasa benar-benar bahagia, bukan rasa tertekan, rasa takut, ataupun rasa kesepian yang selama ini menyelimuti ruang lingkup hatinya.
Ino melirik ke arah Shikamaru. Pria di sampingnya itu hanya diam seakan ia siap menerima kecaman kejam dari ayahnya, behkan sekalipun itu adalah kematian. Ia benar-benar tidak mengenal laki-laki ini.
Ino menundukkan kepalanya. Tangan kanannya yang lentik terhenti di kenop pintu. Gemetar. Ino menutup kedua matanya. perih. Dadanya sesak. Ia seakan ingin membahasi bumi tempat kakinya berpijak hanya karena rasa takut karena melakukan hal yang baginya baik meskipun tidak bagi ayahnya. Hanya satu kenyataan. Ia mengecewakan ayahnya. Ia tahu itu. Ia tahu pasti.
Deidara membuka pintu dari dalam. Membuat Ino dan Shikamaru tersentak kaget. Deidara terlihat kesal. Ini adalah ekspresi yang tak pernah ia perlihatkan pada Ino. Yah, sepertinya keadaan lebih buruk dari yang diperkirakan Ino, "Ayah sudah menunggu kalian."
Shikamaru menghela napasnya pelan, berusaha agar suara kegundahannya tak terdengar di jalur pendengaran Ino. Ia melangkah mendahului Ino masuk ke dalam rumah.
Ino mencoba memegangi bagian belakang kaos Shikamaru. Shikamaru menoleh pelan. Ia dapat merasakan kalau tangan Ino gemetar hebat. Shikamaru berbalik dan menggenggam tangannya, "Ini resikonya, kau gadis kuat, Ino." bisik Shikamaru pelan. Ia melepaskan genggaman tangannya dan melangkah maju duluan memasuki ruang keluarga.
Shikamaru dapat dengan jelas melihat Yamanaka Inoichi berdiri dengan tangan berkacak pinggang. Shikamaru menghela napas pelan.
Kedua mata Ino juga menangkap amarah ayahnya yang terpantul dari sinar mata ayahnya. Benarkah tidak ada kelembutan disana meski untuk alasan kebahagiaan Ino.
Kebahagiaan. Sesaat. Rasa kesepiannya hilang. Sebuah perasaan hangat sempat menyelimuti sela-sela ruang hatinya tadi. Apapun. Apapun itu. Ino harus bertahan. Kemarahan ayahnya adalah pantas. Bahkan terlalu pantas di atas semua perasaan bahagianya hari ini. Cukup sudah. Ino pasrah. Ino memang gadis egois. Tapi ayah sangat egois!
Ino melangkah pelan. Ia mendekat pada ayahnya, "A…ayah… maaf…" kata Ino pelan. Matanya sudah berkaca-kaca karena ketakutan. Tiba-tiba ayahnya mendekat dan menampar wajah putrinya itu dengan keras sampai Ino terguling jatuh.
Ibu Ino langsung mendekati suaminya dan mencoba menenangkannya. Sementara Shikamaru yang melihat hal itu dengan jelas langsung menghampiri Ino, "Tuan Yamanaka, tak seharusnya anda menyakiti putri anda seperti ini." protes Shikamaru.
"Kau..! berani-beraninya…" tangan Inoichi melayang lagi, bersiap memukul Shikamaru, tapi dengan cepat dihalangi Deidara.
"Sa..sayalah yang salah, saya yang membawa Ino pergi sejak tadi, anda boleh marah pada saya, tapi jangan sakiti Ino lebih dari ini," bela Shikamaru. Ino langsung menoleh pada Shikamaru yang masih berjongkok di sebelahnya. Air matanya dengan cepat menetes, "putri anda jelas-jelas menolak perjodohan yang anda lakukan, harusnya anda mendengarkan permintaannya, putri anda sudah dewasa, Tuan Yamanaka,"
Inoichi terlihat geram dan menahan marah, "Shikaku, lihat kelakuan putramu ini!" teriaknya lantang. Shikamaru menoleh ke arah sofa. Ia melihat ayahnya terduduk di sana, dengan kedua tangan yang memegangi kepalanya.
"A..ayah…" panggil Shikamaru pelan.
"Inoichi, tolong maafkan putraku," pinta ayah Shikamaru, "dia memang kekanakan, dan sangat mengecewakan."
Shikamaru terlihat tersentak. Ino pun dapat melihat kegundahan Shikamaru yang dalam. Shikamaru bangkit dan mendekat ke ayahnya. Tapi nyatanya Shikaku sama sekali tak menoleh dan mengabaikan putranya. Shikamaru berdiri di hadapan ayahnya, dan lama kelamaan lututnya gemetar. Shikamaru berlutut di hadapan ayahnya, "A..ayah, maaf…karena mengecewakanmu, kumohon ayah, maafkan aku, ini…adalah terakhir kalinya, aku mengecewakanmu." kata Shikamaru. Suaranya terdengar bergetar. Air matanya perlahan menetes. Shikamaru hanya bisa menunduk mengharapkan ayahnya untuk memaafkannya.
Ino langsung mendekat pada kaki ayahnya, "Ayah ! ini bukan salah Shikamaru, aku yang memaksanya untuk membawaku pergi, ayah mengerti kan? Maafkan Shikamaru, akulah yang salah." teriak Ino.
"Jangan bercanda, Ino-chan, jangan membelanya, sudah jelas ia membawamu pergi, itu adalah salahnya." kata Deidara dingin.
Shikamaru melirik pelan, "Benar kata kakakmu Ino, pada kenyataannya aku bisa menolak membawamu tadi, tapi akhirnya aku membawamu pergi, itu adalah salahku, aku terima itu." sahut Shikamaru.
Ino tak bisa lagi membela Shikamaru. Ayahnya berhati batu. Bahkan wajah ayahnya sama sekali tak melembut. Ino mulai terisak, "Hukum…. hukum aku saja ayah… asal Shikamaru kau maafkan ayah, aku takkan lagi menolak…perjodohan yang ayah siapkan untukku."
Shikamaru langsung menoleh, "Mana bisa begitu, Ino?" teriak Shikamaru tak percaya. Ia menoleh dan mendapati Ino bersimpuh di hadapan ayahnya. Demi dirinya.
"Shikamaru." panggil Shikaku pelan.
Shikamaru langsung menoleh, "A..ayah…"
"Kau… mencintai gadis itu?" tanya Shikaku tiba-tiba. Shikamaru langsung tersentak mendengar pertanyaan ayahnya, "kau membela Ino meskipun kau tahu resikonya ayah tak akan memaafkanmu, ayah tahu, ayahlah yang membuatmu jadi pengawal Yamanaka Ino, tapi kenapa kau melakukannya? Beri tahu ayah, Nak."
Hm…. Chapter 4 selesai, setelah poles sana poles sini….
Tinggal 1 chapter tertinggal, apa night udah cukup ngebikin akhir chapter ini berakhir dengan ketegangan????
mm.. watak pepez-nya Ino emang galak kan? Kan? Kan? Tuh waktu si Naru mau nemui tubuh asli Pein aja keliatan kalo orangnya lumayan keras…
night harap readers gak bosan atau sebel dengan deskripsi night yang kadang nggak jelas. Hahahaha…. Oh ya, Untuk para readers chapter lalu, night cuma bisa bilang Arigato… Shika memang membawa Ino ke rumah Naruto, kalau ada yang nebak rumah Shika, ya salah… kalau saya bikin begitu, mending rate-nya saya rubah rate M dah, hahahaha….
Oh ya, berhubung tinggal satu chapter, silakan tebak akhir kisahnya, karena saya sudah memberi sedikit clue yaitu tentang Deidara di chapter 3 yang bilang 'sesuai rencana'. Coba tebak apa rencananya si Dei-kun. Silakan berimajinasi.
Just give me your R E V I E W, please…
