Disclaimer : saya selalu bermimpi Masashi Kishimoto-sensei mau ngasih Naruto ke saya
Wah, nggak kerasa udah nyampek final chapter. Night heran, nih night yang gak bakat bikin teka-teki apa readers jaman sekarang pinter2 ya? Prediksinya oke semua, hahahahaha.
Thanks buat semua silent readers and ripiuwers, baik yang log in maupun kagak, semoga kebaikan anda semua dibalas Tuhan YME, berdoa mulai…….
Thanks to Angel-chan, Dilia Shiraishi, Cita-chan *Go ShikaIno*, Yuuaja *teliti amat ma clue-nya, night aj gak sadar*, Zheone Quin *Feelingnya bagus!*, Aka no Shika *ya Shikaku diundang Inoichi-udah rencana-, n' thanks aka jd orang ptama yg ripiu ni fic*, Jee M *Hepi kok*, na mika ze *sering2 ripiu ya*, Nara_Uzwa *Arek Sby sebelah ndi ki?*, Rinne *mau hadiah apa?*, Indah Hazel, Cherry_cute, Shikamaru FG, Midori Yoshikuni *wah, k-drama satu itu night gak sempet liat*, Poci Sun, Kakkoi chan, Rere Aozora, Unk-gu 'G-jiy *makasih..*, Tria-san, n' Indah Hazel *Ratih Desiana…*
Hore, pokoknya makasih yang buanyak n' jangan sensi sama saya karena ke-abalan saya yang super gaje, cukup nilai night dari fic-fic bikinan night aja…. Terima kasih untuk para readers n' reviewers!
Pairings : ShikaIno, slight NaruSaku, GaaHina
Don't like don't read don't blame….
Save The Princess Chapter 5
"Shikamaru." panggil Shikaku pelan.
Shikamaru langsung menoleh, "A..ayah…"
"Kau…mencintai gadis itu?" tanya Shikaku tiba-tiba. Shikamaru langsung tersentak mendengar pertanyaan ayahnya, "kau membela Ino meskipun kau tahu resikonya ayah tak akan memaafkanmu, ayah tahu, ayahlah yang membuatmu jadi pengawal Yamanaka Ino, tapi kenapa kau melakukannya? Beri tahu ayah, Nak."
Ino menoleh. Tak percaya dalam situasi seperti ini, ayah Shikamaru sempat menanyakan pertanyaan semacam itu. Tapi Shikamaru terus membelanya sejak awal. Ia tahu Shikamaru dapat saja menolak membelanya dan menyudutkannya, tapi Shikamaru justru melakukan hal yang sebaliknya. Pertanyaan itu justru makin membuatnya resah. Dan kalau yang menanyakan itu adalah ayahnya, apa Ino bisa menjawabnya? Karena sejak awal Ino juga melakukan hal yang sama. Kenyataannya Ino terus membela Shikamaru.
'apa kau mencintai bocah itu?' pikir Ino tiba-tiba. Kalau ayahnya menanyakan itu, apa jawabannya? Wajah Ino memerah. Ia mengingat lagi semua ingatannya bersama Shikamaru selama tiga minggu ini. Awalnya ia membenci Shikamaru. Dan ia yakin, melihat sikap Shikamaru, ia tahu pengawalnya itu juga tak menyukainya. Tapi pada akhirnya, kesimpulan apa yang bisa didapat sekarang?
Shikamaru melirik ke arah Ino yang memperhatikannya. Ia menghela napas panjang, "Iya, Ayah." jawab Shikamaru singkat. Membuat semua orang di ruangan itu menatap tak percaya. Terutama Ino.
Inoichi mendekat ke arah Shikamaru dan menarik kerah Shikamaru. Ino langsung cepat bangkit dan menahan pukulan ayahnya yang siap melayang, "Kumohon Ayah, maafkan dia karena mencintaiku, maafkan dia." pinta Ino.
Inoichi melepas cengkraman tangannya. "Asal janjimu untuk tak menolak perjodohan itu benar, Ino."
Ino mengangguk pasrah. "A..aku janji, ayah."
"Sudah ayah, lepaskan Shikamaru lalu biarkan bocah itu dan Tuan Nara pergi, toh Ino sudah janji." sahut Deidara. Terlihat sekali ia sedang tersenyum penuh kemenangan. Memang benar-benar sesuai rencananya.
"Ino, ayah heran, kenapa kau malah membelanya, padahal semua tahu kau membenci perjodohan kan?" tanya Inoichi curiga.
"Jangan-jangan kau pun mencintai bocah itu?" sambung Deidara. "hampir sebulan bersama seharian memang tak menutup kemungkinan terburuk kan?"
Ino langsung tersentak. Pertanyaan yang ditakutkannya akhirnya keluar juga. Ino terlihat bingung. Ino terus menunduk dan tak menjawab pertanyaan kakaknya.
"Sudah, Dei, yang penting Ino sudah setuju," sahut Inoichi. "aku memaafkan putramu, Shikaku, kalian boleh pergi."
Shukaku langsung menarik putranya berdiri dan bersiap meninggalkan tempat itu, "Ayo, Shikamaru," ajaknya, "mungkin ini terakhir kalinya kau bertemu gadis ini." katanya lagi sambil menarik putranya pergi.
Ino tersentak. Ya. Mungkin ini terakhir kalinya. Kalau memang harus kehilangan Shikamaru, ia tak ingin menyesal selamanya. Shikamaru mengatakan pada ayahnya bahwa Shikamaru mencintai dirinya. Kali ini gilirannya.
"Ma..maaf Shikamaru," kata Ino pelan. Shikamaru langsung menoleh. Ino menatapnya sambil menangis, "sepertinya aku m-mencintaimu, s-selamat tinggal…"
Habis sudah. Kalau Ino boleh mengatakan sesuatu pada ayahnya, ia hanya ingin memberitahu ayahnya, bahwa ia akan melakukan apa saja asal ayahnya memaafkan Shikamaru. Ya, akhirnya. Cinta. Sederhana. Menyakitkan. Malam terbaik sekaligus malam terburuk dalam hidupnya. Menemukan cintanya, sekaligus kehilangan cintanya. Ironi.
Ino pernah merasakan rasa nyaman yang teramat sangat, dan rasa ketakutan saat tahu ia akan merepotkan Shikamaru. Bodoh. Ino adalah gadis yang polos, kekanakan.
Shikamaru terlihat kaget. Dan kali ini segaris tipis berwarna merah muncul di wajahnya. Shikamaru tersenyum lega, "Terima kasih, Nona…. Maaf…" balas Shikamaru. Ia berbalik lagi, menyusul ayahnya yang berdiri tak jauh darinya.
Deidara dengan cepat berjalan mendahului Shikamaru dan menghalangi jalan menuju ruang tamu depan, "Sudah ayah, cukup saja."
Shikamaru dan Ino heran melihat Deidara menghalangi jalan. Deidara justru tersenyum nyengir, "Maaf Paman Shikaku, aku tak tahan akting lama-lama begini.". Ayah Shikamaru dan ayah Ino terdengar seperti menahan tawa. Tentu saja ini membuat dua 'korban drama' itu kebingungan.
"Kau janji menurut pada perjodohan yang ayah minta kan, Ino?" tanya Inoichi. Ino mendongak menatap wajah ayahnya. Wajah Inoichi sudah melembut. Ia menarik lengan putrinya itu dan menggiringnya.
"A..ayah…" panggil Ino.
Inoichi langsung mendorong anak gadisnya itu ke arah Shikamaru sehingga Ino terjerembab di pelukan Shikamaru. "Apa maksudnya ini, Ayah?" teriak Shikamaru pada ayahnya. Shikaku hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Inoichi langsung menjabat tangan Shikaku, "Baiklah, Shikaku, tinggal memilih tanggal pertunangannya."
"Hahaha," Shikaku tertawa lantang, "baik..baik, yang penting pihak utamanya sudah setuju."
"Ya… harus kuakui, ide putraku satu itu benar-benar brillian." puji Inoichi pada Deidara.
Ino langsung menoleh pada Deidara, "A..apa maksud semua ini, Kak?" teriak Ino kesal.
Deidara tersenyum puas lalu menghampiri adiknya. Kedua tangannya dengan cepat mengusap kepala adiknya dan Shikamaru, "Ini memang sudah direncanakan, dari awal, kalian sudah dijodohkan."
"APA?" teriak Ino dan Shikamaru bebarengan.
"Ya, sebagai orang tua, kami berdua tahu, kalian adalah anak muda yang susah diberi tahu." jelas Shikaku.
"Tak ada jalan lain selain membuat kalian saling mencintai terlebih dahulu." tambah Inoichi.
"Ja…jadi tugasku sebagai pengawal itu…"
"Ya, itu kamuflase." jawab Inoichi tegas.
"Se…semuanya sudah direncanakan?" tanya Ino heran.
"ya, semuanya.". jawab Shikaku senang.
"Mulai ide sebagai pengawal, acara makan malam hari ini, kau lompat dari balkon, Shikamaru datang, semuanya sudah kuatur," kata Deidara, "kau memang tak berani lompat, tapi kalau keadaan seperti tadi sih, aku rasa kau pasti akan melakukannya, Ino-chan."
Shikamaru berpikir sebentar, "Pantas saja tadi kau menelepon dan memintaku menunggu di teras."
"Ya..ya," imbuh Deidara sambil tertawa senang, "semuanya sudah kuatur."
"Dan hasilnya benar-benar melebihi yang kami bayangkan." sahut Shikaku.
"Memang resikonya besar kalau pada akhirnya kalian saling memojokkan dan tetap saling membenci," jelas Inoichi, "tapi kenyataannya berbalik, dan Ino, maaf tadi ayah memukulmu."
"Itu semua demi kau, hebat juga calon menantuku yang keras kepala akan membela putraku mati-matian." tambah Shikaku.
"Sejak kapan kalian merencanakan ini?" tanya Shikamaru penasaran.
"Ah, kami cuma capek memaksa kalian menerima sebuah 'perjodohan'." jelas Inoichi.
"Kalau masalah perjodohan ini, kami juga baru ingat, kalau sebenarnya waktu kau lahir dulu, kami pernah berjanji akan membuat keluarga besar, meskipun tertunda karena ternyata anak pertama Inoichi laki-laki, dan seiring waktu, kami hampir melupakan janji kami dulu." jelas Shikaku bersemangat.
"Jadi, kata-katamu tadi bisa dipegang kan, Ino?" tanya ayahnya lagi.
Ino menoleh pada Shikamaru. Sekali ini akhirnya ia melihat wajah Shikamaru yang memerah, "Aku menyerah ayah, aku tak akan menolak ditunangkan dengan orang yang kucintai." jawab Ino tegas. Ia menarik kerah Shikamaru dan mendekatkan wajahnya.
Shikamaru tersenyum senang. Ia meraih leher Ino dan menciumnya lembut.
"Wah, anak jaman sekarang," sahut Inoichi senang.
"Kalau melihat yang seperti ini, kurasa aku juga harus mencoba yang namanya perjodohan, Ayah." sahut Deidara.
"Jadi kapan tanggal pertunangannya, Inoichi?" tanya Shikaku.
Inoichi tertawa, "Kalau begini sih, langsung menikah saja," kata Inoichi. "kalian keberatan?"
Shikamaru dan Ino menoleh, "Rasanya tidak masalah…Ayah," jawab Shikamaru. Ino tersenyum dan membenamkan wajahnya dalam pelukan Shikamaru.
"Akhirnya, putraku bertambah satu," kata Inoichi senang.
Ino dan Shikamaru tertawa mendengarnya. Yah, drama yang menyakitkan memang. Tapi perjodohan ini adalah hasil yang setimpal. Memang tak selamanya apa yang dipaksakan orang tua selalu buruk. Kadang ada saatnya mereka melakukannya karena rasa sayang yang begitu besar pada putra-putrinya. Rasa sayang.
Ya.
Rasa cinta. Ino adalah seorang Puteri, yang harus dilindungi, dengan perasaan yang dimiliki Shikamaru. Ya, Shikamaru seorang.
FIN
.
o.O.o.O.o.O.o.O
.
Ada yang nggak puas dengan endingnya? pam para pam pam ~
*kabur sebelum dikeroyok readers*
Endingnya emang di ide awalnya dulu simple begini. Hehehe. Save the Princess ini emang ringan. Dan night paling nggak bakat bikin cerita yang chapternya bejibun. Nih lagi belajar. Hahahaha.
Semoga nanti night bisa bikin ShikaIno lagi. Kalau yang jadi figuran, ShikaIno muncul di My Endless Memories, dan yang terbaru *promosi^^*Mademoiselle Sakura, tapi pair utamanya Narusaku, jadi kalau anti Narusaku mending jangan nunggu. Dan Ino di fic itu bukan cewek baik-baik, seniornya Sakura sebagai perempuan *piiip~*, Hahahaha.
Waktu ngetik final chapter ini, night terus nge-replay OST Naruto AZU-For You, hua…. Ni lagu tentremin hati night banget. Hm…
Yasudhlah. Thanks buat semua teman-teman night, yang pernah PM Night, saya hepi sekali, buat computer kantor yang kadang night pinjem *sorry kalo tagihan bengkak*, and yang penting buat Masashi-sensei yang nyiptain Shikamaru and Ino.
Thank you all……
Please… just give me your last
R E V I E W
for this fic.
