A/N: Akhrny bz jg update stlh lama gak update.
Smpt kna WB bwt fic ini, tp aq brsh yg terbaik
Thx bwt yg dah review..
Disclamer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso
Title: When I Met Devil
Rated: T
Genre: Friendship, Romance
When I Met Devil
Setelah hari yang memalukan bagiku itu berlalu tibalah hari baru. Hari ini aku telah bangun lebih pagi dari biasa, tapi aku belum beranjak dari tempat tidur. Aku masih terpikir akan tindakan konyolku yang tiba-tiba berlari dari hadapannya kemarin.
"Bodohnya aku.." keluhku sambil sedikit memukul bantal. Aku merasa malu dan entah apa yang akan kukatakan padanya jika kami bertemu lagi. Tapi aku berharap hari ini tidak bertemu dengannya karena aku belum siap.
.
.
Aku beranjak dari tempat tidur untuk siap-siap menuju sekolah. Setelah semuanya beres aku keluar dari rumah dan mengunci pintu. Tapi betapa terkejutnya aku karena harapanku pada Tuhan hari ini tidak dikabulkan. Aku malah melihatnya, pemuda yang menyita perhatianku itu. Dia berdiri di depan pagar rumahku sambil sesekali melihat jam tangannya dengan motor yang berada di sampingnya.
"Ah… Akhirnya kamu keluar juga, Ciel." ujarnya dengan senyum manisnya lagi. Aku hanya menunduk, jujur saja aku masih sedikit takut untuk bertemu dengannya hari ini. "Kamu mau kan buka pagar ini?" tanyanya
"Ah… I.. iya.." ujarku sedikit terbata yang langsung membuka pagar rumahku dan akhirnya aku benar-benar melihatnya tanpa pagar yang membatasi pandanganku. Entah kenapa dari tadi dia hanya tersenyum saja melihatku. Dan aku baru sadari kalau dia ini ada di depan rumahku, padahal dia tidak tahu alamatku. "Hei, tahu darimana rumahku?" tanyaku padanya
.
.
Bukannya menjawab tapi dia hanya tersenyum, eh salah sedikit menyeringai padaku. Aku bertambah heran akan tindakannnya itu. Dia malah berjalan mendekati dan sudah sejajar denganku. Kalau begini terlihat jelas dia jauh lebih tinggi dariku. Lalu dia berdiri menyesuaikan tingginya denganku.
"Kamu tanya kenapa? Itu karena kamu lari kemarin." jawabnya yang membuatku masih bingung
"Kenapa lari?" tanyaku dan wajahku sedikit memerah. Bukan karena malu akan tindakannya tapi malu kalau mengingat tindakan konyolku.
"Karena kamu lari seperti itu aku mengikutimu. Untung gak sepenuhnya aku kehilangan dirimu dan kulihat kamu masuk ke dalam rumah ini. Jadi kusimpulkan ini rumahmu."
Aku hanya terdiam mendengar penjelasannya. Jadi selama aku berlari ternyata dia mengikutiku? Dasar bodoh, mau-maunya dia menyusulku.
"Ayo, Ciel." ujarnya sambil memberiku helm dan kulihat dia sudah menaiki motornya
"Ayo kemana?" tanyaku heran sambil melihat Sebastian dan helm itu bergantian
"Aku antar kamu ke sekolah. Ayo cepat, aku juga ada jam kuliah pagi."
Aku hanya terbengong saja mendengarnya. Mengantarku? Kenapa mau-maunya dia? Tapi karena tidak mungkin aku menolak perkataannya karena dia sudah disini, mau tidak mau aku membonceng di motornya dan segera motornya melaju pergi.
Tidak butuh waktu lama hingga sudah sampai kami di sekolah. Aku langsung turun dari motornya dan memberikan helm yang dia pinjam.
"Terima kasih." ujarku
"Sama-sama." ujarnya dengan senyumnya lagi. "Oh ya, nanti sepulang sekolah jangan kemana-mana." setelah mengucapkan hal itu sosoknya langsung tidak terlihat lagi. Aku hanya kembali terbengong akan tindakannya yang aneh itu.
"Hari ini aneh sekali." gumamku yang akhirnya berjalan menuju kelas
Seperti yang sudah-sudah begitulah kehidupan sekolah, belajar, belajar dan belajar. Aku melihat jam dinding dan sebentar lagi jam 3 sore, jam pulang sekolah. Dan beberapa menit kemudian terdengarlah bunyi bel pulang. Kami semua langsung bergegas pulang. Aku juga berjalan keluar kelas dan hari ini aku tambah terkejut karena kulihat sosoknya ada di depan gerbang.
"Hai Ciel. Baru bubar sekolah ya?" tanyanya padaku. Dan hanya kujawab dengan anggukan pelan. Tanpa basa-basi dia kembali memberiku helm seperti tadi pagi.
"Mau kemana?" tanyaku heran
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Dan seperti tadi juga, mau tidak mau aku mengikutinya. Selama perjalanan kami hanya terdiam. Aku tahu Sebastian sibuk mengendarai motonya dan aku yang sibuk dengan pikiranku sendiri. Entah karena aku merasa sedikit kedinginan atau apa, aku menyandarkan kepalaku pada punggungnya itu.
'Hangat.' batinku sambil memejamkan mataku
.
.
.
.
.
"Ayo bangun, Hime-sama." ujarnya. Kudengar sayup-sayup suaranya dan aku langsung membuka mataku.
"Apa maksudmu, "Hime-sama" itu?" tanyaku sedikit kesal sambil memukul pelan punggungnya
"Hahaha… Maaf. Maksudku Ciel. Kita sudah sampai."
Begitu Sebastian bilang sudah sampai aku langsung mengedarkan pandanganku ke sekeliling tempat dimana kami berada. Yang kulihat hanyalah taman bunga kecil yang indah. Taman ini penuh dengan bunga-bunga. Meski aku tidak terlalu menyukai bunga, jika melihat bunga indah sebanyak ini aku juga menyukainya.
"Wah.." ujarku senang begitu melihat seluruh bunga di taman ini
"Bagaimana? Kau suka?" tanyanya lembut
"Tentu." ujarku sambil menganggukkan kepalaku. "Ini indah sekali."
Sementara aku sedang senang-senangnya melihat bunga-bunga itu aku merasakan kalau tanganku digenggam. Aku menoleh dan kulihat Sebastian menggenggam tanganku.
"Ada apa?" tanyaku sedikit waspada
"Kalau kamu mau lihat aku bisa antarkan." jawabnya
"Tapi kenapa kita kesini?"
"Aku hanya ingin memperlihatkan ini padamu. Karena…"
Ucapannya tergantung, membuatku berpikir macam-macam. Entah kenapa dari hari ke hari tingkah Sebastian tampak aneh. Tapi aku tidak terlalu memusingkannya.
"Karena?" ulangku
"Karena… kita tidak tahu kapan bertemu lagi."
Mendengar ucapannya jantungku seolah bisa berhenti. Ucapannya itu seakan-akan ingin pergi ke tempat yang jauh dan tidak terjangkau. Kulihat raut wajahnya yang sendu itu. Ah, mengingatkanku saat menemuinya di dekat pohon sakura beberapa hari yang lalu.
"Kamu gak akan pergi jauh kan?" tanyaku cemas. Dia hanya menatapku dengan senyumnya itu. Tapi aku merasa sedikit cemas dan takut.
.
.
Tunggu..
Cemas karena apa?
Apakah karena ucapannya?
Tampaknya bukan..
Aku juga bingung cemas karena apa dan aku takut kalau kehilangannya.
.
.
Tunggu?
Kehilangan?
Iya, kehilangan sosok teman akrab kan?
Bukan sesuatu yang aneh.
"Ayo pulang." ujarnya sambil mengulurkan tangannya padaku
"Iya." akupun menerima uluran tangannya dan kami segera pulang
Keesokannya kulihat Sebastian sudah berada di depan rumahku. Apakah dia akan mengantarku seperti kemarin? Tapi aku sedikit berharap hal itu karena agar aku bisa bertemu dengannya lagi.
Kubuka pagar rumahku dan sosoknya memang masih ada dan nyata. Sebastian sudah menungguku dengan motornya. Aku langsung berjalan mendekatinya.
"Bangun pagi, Hime-sama?" tanyanya dengan nada sedikit menggoda
"Jangan panggil aku Hime-sama! Aku bukan cewek." ujarku sedikit kesal. Dasar Sebastian, dia memang tidak berubah. Baik dan mulai jail.
"Hehe… Baiklah Ciel." ujarnya dan sama seperti kemarin dia mengantarku ke sekolah
.
.
.
Beberapa menit kemudian kami telah sampai di sekolah. Aku langsung turun dari motonya itu. Setelah mengucapkan terima kasih aku langsung bergegas menuju kelas. Tapi lagi-lagi tanganku ditahan olehnya.
"Ada apa?" tanyaku
"Hanya sampai jumpa kok." jawabnya dan langsung berlalu dengan motornya. Aku sedikit heran dengan tingkahnya yang aneh belakangan ini. Sejak bertemu denganku dia seolah-olah dikejar waktu. Aku tidak bisa berpikir lebih jauh lagi tentangnya karena aku memang belum terlalu mengenalnya dan segera menuju ke kelas. Seperti biasa untuk memulai rutinitas yang membosankan bagiku.
"Ciel.." seseorang memanggilku. Aku segera menoleh ke arah orang itu dan kudapati sosok seorang gadis berambut pirang bergelombang tengah berdiri di hadapanku
"Lizzie.." gumamku melihat sosoknya, Elizabeth Middleford temanku yang selama ini selalu tidak pernah menyerah memberitahu perasaannya padaku. "Ada apa?"
"Akhir-akhir ini kamu selalu diantar jemput seseorang ya?" tanya Lizzie curiga
"Memangnya kenapa?" tanyaku padanya
Kulihat wajahnya berubah sedikit, bagaimana kalau aku menyebutnya kesal. Mata hijaunya menunjukkan hal itu. Aku berusaha untuk tidak terlalu menatap matanya, aku tidak ingin melihat dirinya kecewa karena aku lagi.
"Ciel tolong jawab.." pinta Elizabeth sedikit memelas
"Setahuku itu bukan urusanmu, Lizzie." ujarku sambil membereskan buku-buku. Maklumlah hanya tinggal kami berdua yang belum pulang sekolah. "Dan baik aku atau kamu punya hidup masing-masing."
Aku langsung meninggalkannya sendiri di kelas. Sesaat kulihat wajah kecewa itu lagi. Ya ampun, bisakah dia tidak mendekatiku agar dia tidak terluka seperti itu? Aku memang menghindari dirinya tapi semuanya harus dia hadapi. Aku tidak ingin dia kecewa padaku dan kita tidak bisa berteman, tapi itu bukan masalah besar untukku.
.
.
Aku berjalan menuju gerbang sekolah, dan kudapati sosok Sebastian telah menungguku seperti kemarin. Aku langsung bergegas menghampirinya. Sebelum aku menyapanya dia sudah menyapaku lebih dulu.
"Hai Ciel." sapa Sebastian
"Hai." ujarku pelan
"Ayo kamu mau langsung pulang kan?"
"Iya."
Lalu dia mengantarku hingga menuju rumah. Dan untuk hari ini memang dia langsung mengantarku menuju rumahku. Tidak pergi ke suatu tempat seperti kemarin. Kulihat ada sedikit perubahan di raut wajahnya, sama seperti waktu itu. Sendu. Memangnya ada hal buruk yang terjadi padanya?
Entah aku tidak ingin menanyakan hal itu padanya. Aku inin membiarkannya bercerita sendiri. Tapi tampaknya tidak mungkin. Karena setelah sampai di rumah dia langsung pulang.
"Ada apa sebenarnya?" gumamku bingung
Keesokannya ada yang aneh. Dia tidak datang untuk menjemputku seperti biasa.
Ayolah Ciel, dia baru sekitar 2-3 hari seperti itu tapi aku sudah mengharapkannya. Salah kan perasaanku seperti ini? Aku terus memikirkan hal itu bahkan di perjalan menuju sekolah.
Apalagi saat pelajaran. Aku tidak henti-hentinya memikirkannya. Ucapan guru yang mengajarpun bagai masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Semuanya berlalu begitu saja. Aku masih memikirkan tingkahnya yang aneh dari hari ke hari. Apakah ada sesuatu yang salah atau tidak.
Begitu juga jam pulang sekolah, dia tidak menjemputku seperti biasa. Semuanya terasa bagaikan seperti halusinasi. Mungkin aku memang tidak pernah bertemu dengan sosok yang bernama Sebastian Michaelis itu. Mungkin semuanya hanya mimpi saja dan aku belum terbangun dari mimpiku.
.
.
.
Mimpi?
Apakah semuanya mimpi ya?
Aku hanya tersenyum pahit kalau memikirkannya. Sosoknya, ucapannya, tindakannya, semuanya kalau hanya mimpi terlalu indah.
Bangunkanlah aku dari mimpi ini. Tapi aku sadari kalau ini bukan mimpi. Sosoknya memang nyata dan itu akan terus seperti itu.
Tapi entah kenapa aku selalu memikirkannya seperti itu. Wajahku langsung memanas, jantungku juga berdetak tidak karuan. Ya ampun aku terlalu jauh memikirkan dirinya.
Sama seperti kemarin, Sebastian tidak juga datang ke rumah untuk mengantarku. Sama seperti kemarin dia juga tidak menjemputku sepulang sekolah. Semuanya sama seperti kemarin.
"Apakah memang aku hanya bermimipi?" gumamku sambil berjalan pulang menuju rumah. Aku tidak pernah konsentrasi dalam menjalani hidupku setelah ada sosoknya. Seolah-olah hidupku yang tadi lurus telah berbelok dan makin berbelok hingga mungkin saja menuju jurang.
Aku melangkahkan kakiku menuju rumah dan langsung meringkuk di atas kasurku. Kubiarkan rambut kelabuku menutupi wajahku, aku hanya memegang kedua lututku erat dan membenamkan wajahku di antara kedua lututku.
Sakit…
Aku merasa seperti dirinya menjauh dariku. Tidak apa kalau yang lain seperti itu, tapi jika dirinya yang seperti itu rasa sakit dalam diriku bertambah parah. Aku merasa apakah diriku tidak pantas atau kami tidak mau saling membuka diri.
Aku merasakan kalau pipiku tiba-tiba basah, kusentuhkan jariku di pipiku. Ternyata aku menangis. Untuk orang seperti dia? Aku menangis untuk orang seperti dia? Aku langsung menghapus air mataku dan langsung tidur. Aku tidak ingin dirinya menganggu hidupku dulu untuk saat ini.
TBC
A/N: Akhrny selesai…
Gomen qalo aneh n kykny crtny keceptn.
Tp mank gy sprt tu ide yg ada.
Qalo berkenan review y?
Biar smgt update.
Hehe..^^
