A/N: Akhrny update..

Thx bwt nekochan n yovi-chan yg dah review chap 2.

Moga chap nie gak mengecewakan..^^


When I Met Devil


Setelah cukup puas menangis semalaman aku terbangun dari tidurku. Kuedarkan pandanganku ke seluruh kamarku, semuanya sama.

"Huft…" gumamku

Aku merasa sedikit malas untuk memulai hari ini. Tapi aku akan mencobanya. Aku berdoa agar aku tidak bertemu dengannya lagi. Aku masih merasa sedih karena dia menjauh dariku. Entah karena aku aku juga tidak tahu. Setelah selesai bersiap-siap aku segera berangkat menuju sekolah.

.

.

"Pagi…" ujar seseorang yang suaranya sudah sangat kukenal. Mataku membulat karena tidak percaya sosoknya ada dan terlihat di mataku. Dia, Sebastian. Sosoknya berada di depan rumahku seperti waktu itu. Aku hanya terdiam saja melihatnya tapi ada desiran aneh di hatiku. Aku merasa senang.

Senang?

Aku tidak tahu senang karena apa. Sekejap perasaan sedih dan kesalku padanya langsung mengilang entah kemana, seolah-olah menguap begitu saja. Sosoknya yang selalu muncul tiba-tiba dan tidak dalam waktu yang kuharapkan benar-benar membuatnya terlihat seperti seorang iblis.

'Apakah aku dapat julukan baru untuknya?' batinku sambil memandangnya

"Kenapa kamu memandangku begitu?" tanya Sebastian heran

"Tidak apa." jawabku seraya membuka pagar rumah dan berjalan menjauh darinya

"Kau tidak mau kuantar? Hari ini aku bebas."

"Hmm… Baiklah…"

.

.

.

Seperti biasa aku diantar olehnya menuju sekolah. Entah kenapa aku sangat menantikan saat-saat ini. Aku merindukan dirinya yang tidak bertemu denganku selama beberapa hari. Sekarang hatiku lega bertemu dengannya, melihat wajahnya.

"Pulang sekolah aku jemput ya?" ujar Sebastian

"Baiklah." aku hanya tersenyum pelan menanggapi ucapannya dan segera berlalu meninggalkannya untuk menuju ke kelas. 'Semoga hari ini cuacanya baik.' batinku sambil tersenyum


Waktu pulang sekolah tiba tapi ada sedikit perbedaan. Hari ini hujan turun dengan derasnya. Rintik-rintik hujan yang membasahi bumi terus terjadi tanpa henti. Pandangan mataku tidak terhenti melihat hujan yang masih turun saja. Aku melihat sekelilingku yang baru kusadari banyak teman-temanku yang menunggu di depan gedung sekolah karena masih hujan.

Kulirik jam tanganku dan aku gelisah karena hujan tidak ada niat untuk berhenti. Aku takut Sebastian tidak jadi menjemputku. Aku terus saja menunggu hingga kulihat samar-samar sosoknya yang sedang berlari menuju tempatku berpijak sekarang.

"CIEL!" seru Sebastian memanggil namaku. Aku hanya menatap lurus ke arahnya dan tersenyum. Rupanya dia datang dan menepati janjinya. Aku tidak peduli suaranya terdengar oleh teman-teman, tapi tampaknya teman-temanku tidak memusingkannya.

"Kau datang?" tanyaku setelah dia sampai di gedung sekolah. Baju dan rambutnya basah terkena air hujan

"Tentu." jawabnya mantap

"Tapi kan sekarang hujan. Kukira kau tidak akan datang."

"Aku tidak akan melanggar janji dan biarpun hujan aku akan kesini. Belum tentu saat aku kesini lagi hujan kan?"

Mendengar ucapannya aku hanya terdiam, aku memandangnya dari atas hingga bawah. Dia rela terkena hujan demi menjemputku. Apakah aku masih tidak percaya kalau dia…

'Tidak!' jerit batinku. Aku tahu aku tidak boleh banyak berharap darinya. Tapi melihat dirinya yang rela bersusah payah demi diriku aku merasa senang.

"Kau mau menunggu hujan reda?" tanyaku

"Iya. Dan tentu dengan kamu yang menemaniku." ujarnya sambil tersenyum

Aku memalingkan wajahku darinya, bisa kurasakan kalau wajahku ini memerah. Aku tahu itu, tapi aku berusaha menutupinya. Aku tidak ingin dia menertawaiku.

Kulihat langit tampaknya masih mendung. Aku hanya menghela nafas saja, aku ingin hujan cepat berhenti jadi aku bisa pulang. Kulirik wajah Sebastian yang basah karena terkena air hujan, aku hanya tersenyum pelan. Tanpa kusadari aku memberinya saputanganku.

"Rapikan wajahmu. Kamu terlihat kacau dengan wajah yang basah." ujarku

"Terima kasih." ujarnya dan langsung mengusap wajahnya yang basah dengan saputanganku

Suasana juga hening sesaat. Aku memejamkan mataku sesaat untuk menikmati tiap rintik hujan yang terdengar. Entah kenapa aku menyukai hujan kali ini, apa karena ada sosoknya di sampingku?

"Buka matamu Ciel. Hujan sudah berhenti." ujarnya membuyarkan lamunanku dan membuatku membuka mataku. Kulihat langit dan ternyata sudah tidak hujan walau masih agak mendung

"Sudah tidak hujan. Ayo kita pulang." ujarku tersenyum padanya dan diikuti olehnya. Kami berdua keluar dari gedung sekolah dan berjalan pulang menuju rumahku

.

.

.

"Kenapa kamu jalan kaki?" tanyaku

"Kan hujan tadi." jawabnya

Aku hanya memandang wajahnya dengan lembut, seolah-olah hatiku tenang hanya dengan menatap wajahnya saja. Aku ingin sekali bertanya kenapa dia tidak menemuiku tapi aku tidak ingin membuat situasi bertambah kaku. Aku hanya ingin dirinya dan diriku tetap akrab.

"Sudah sampai." ujarnya pelan

"Ah… Iya.. Sampai jumpa." ujarku sambil melambaikan tanganku padanya. Dia hanya tersenyum dan berjalan meninggalkanku

.

.

Aku langsung menuju kamarku, kuhempaskan tubuhku ke atas kasur. Dan entah kenapa untuk kesekian kalinya wajahku memerah karenanya. Aku membenamkan wajahku di atas bantal milikku.

"Senangnya hari ini…" ujarku sambil tersenyum

Aku tahu aku sangat menantikan waktu bertemu dengannya. Seakan aku ingin hari ini terhenti agar bisa lebih lama bersamanya tapi aku tahu hari akan cepat berganti dan di saat itulah aku menanti sosoknya lagi.


Tentu saja aku berusaha menyambut hari esok dengan lebih baik karena aku berharap bertemu dengannya. Aku mempersiapkan diriku sebaik mungkin. Aku ingin sekali bertemu dengannya dan ternyata tidak kutemukan sosoknya di depan pagar rumahku.

"Seperti ini lagi, huh?" ujarku sedikit kesal. Aku mengunci pagar rumah dan segera berjalan menuju sekolah

Selama di perjalanan pikiranku hanya tersita untuknya, aku selalu memikirkannya. Dan entah kenapa tiap kali memikirkannya jantungku ini selalu berdetak lebih cepat. Apakah aku memang benar-benar menyukainya?

'Benarkah hal itu terjadi padaku?' batinku pasrah

Aku hanya tersenyum pahit saja. Entah kenapa aku takut kalau Sebastian tidak menyambut perasaanku, biarlah hubungan kami dalam arti teman seperti ini selamanya. Aku rela asalkan bisa melihat wajahnya lagi.

Saat kualihkan wajahku untuk melihat pohon sakura yang berada tidak jauh dari sekolahku kulihat sosoknya disana. Mataku langsung membesar, aku langsung saja menghampirinya.

"Sebastian!" panggilku dan kulihat dia menoleh ke arahku. Wajahnya sama seperti hari itu, saat aku melihatnya disana dengan wajah sendu yang sama. "Hai.."

"Oh Ciel." ujarnya setengah terkejut. "Maaf aku tidak ke rumahmu."

"Tidak apa." ujarku

Entah apa yang Sebastian pikirkan jika melihat bunga sakura. Wajahnya selalu terlihat sendu dan itu menyita perhatianku. Tapi sayangnya karena sebentar lagi waktu pelajaran akan dimulai aku bergegas meninggalkannya dan segera berlari menuju sekolah. Tidak kuhiraukan Sebastian yang terbengong melihatku karena lari darinya.

"Kamu akan mengetahuinya nanti…"


"Ciel.." panggil Lizzie

"Apa?" tanyaku

"Kemarin aku melihat ada pemuda yang bersamamu."

"Lalu?"

Lizzie langsung terdiam. Entah kenapa dia suka sekali mencampuri urusanku. Apakah dia tidak tahu aku menjauhinya karena tidak ingin dia terluka.

"Ada kalanya kamu tidak akan bersama dengan orang yang kamu sayangi." ujar Lizzie tiba-tiba

"Apa maksudmu?" tanyaku padanya

"Aku bicara kenyataan…" dan Lizzie langsung meninggalkanku sendiri. Entah apa yang dia pikirkan aku tidak mengerti atas jalan pemikiran Lizzie yang rumit dan kata-katanya yang terlihat sangat memojokkanku itu. Aku hanya melamun memikirkan diri Sebastian yang agak aneh itu.

'Ada apa dengannya?' batinku

.

.

.

.

.

Waktu pulang sekolah memang waktu yang paling kunanti. Entah kenapa aku selalu berharap cepat waktu pulang karena aku ingin cepat bertemu dengan Sebastian. Aku langsung berlari keluar kelas, mendahului teman-teman lain. Tapi aku agak kecewa karena kali ini sosoknya tidak ada.

"Dia tidak ada lagi?" gumamku

Sama seperti waktu itu. Aku tidak melihat sosok Sebastian yang menungguku disini. Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa. Akupun berbalik dan segera berjalan menuju rumahku. Aku gelisah jika tidak melihat sosoknya, entah kenapa.

"Ciel…" hanya suara Lizzie yang tampaknya khawatir sedikit terdengar di telingaku tapi aku tidak menanggapinya


Aku hanya berjalan dengan lemas menuju rumahku. Setelah sampai di rumah ada sesuatu yang menarik perhatianku, sepucuk surat. Surat yang tergeletak di depan pagar rumahku, aku langsung mengambil surat itu dan mengamati sampulnya baik-baik.

"Surat dari siapa?" batinku

Aku membuka surat itu perlahan dan betapa terkejutnya aku, karena surat itu adalah surat Sebastian untukku. Aku langsung senang dan segera membaca isi surat itu.

.

.

Dear Ciel…

Maaf kalau aku mengecewakanmu dengan tidak menjemputmu hari ini.

Bukan karena apa-apa, tapi aku ingin menenangkan pikiranku dulu.

Sebenarnya kalau boleh jujur aku ingin kamu tidak melihatku dulu untuk sementara waktu.

Aku harap kamu mau mengerti.

From Sebastian

.

.

Satu kata yang bisa menggambarkan ekspresiku ketika selesai membaca surat ini adalah, bingung. Aku masih belum mengerti apa maksud Sebastian dari surat ini. Tapi kubawa surat itu dan kuletakkan di meja. Aku masih terpikirkan apa makna dari surat itu, surat yang seolah mengatakan perpisahan.

Apakah dia tidak ingin melihat diriku lagi?

Entahlah tapi aku berharap masih bisa melihatnya lagi.

Tuhan, berilah aku kesempatan untuk melihatnya lagi.


Dan persis seperti isi surat itu aku sudah tidak bertemu dengan Sebastian seminggu lebih. Tapi pikiranku seolah-olah terkena candu akan dirinya. Aku benar-benar rindu akan dirinya tapi dia tak kunjung datang.

"Apa yang terjadi padanya?" gumamku

Aku masih saja terus memikirkannya hingga tanpa sadar aku bertabrakan dengan seseorang.

"Aduh.." rintihku

"Kamu baik-baik saja?" tanya orang itu

"Iya." dan begitu kulihat orang itu adalah Sebastian, wajahku langsung ceria. Tanpa basa-basi lagi aku langsung memeluk tubuhnya itu. Aku tahu Sebastian terkejut karena tindakanku tapi aku tidak peduli

"Ciel…" ujar Sebastian

"Aku rindu padamu. Kamu kemana?" tanyaku yang tak hentinya memeluknya

Tidak ada jawaban dari mulut Sebastian, aku makin mempererat pelukanku padanya. Entah kenapa aku takut kehilangannya. Kurasakan tangannya mengelus rambutku lembut.

"Maaf." gumamnya

Aku tidak bicara dan hanya mempererat pelukanku lalu kulepas pelukanku dan kulihat wajahnya. Wajahnya yang sendu itu lagi. Memangnya apa ada hal buruk yang terjadi padanya? Tapi kuurungkan niatku untuk menanyakan hal itu dan kupikir lebih baik menenangkan dirinya.

"Apakah kamu bisa menjemputku?" tanyaku

"Aku usahakan." jawabnya dengan senyuman. Senyuman yang sangat kusukai. Aku membalas jawabannya dengan anggukan pelan dan senyumanku

"Akan kutunggu…" akupun langsung berlari dari dirinya karena aku tahu wajahku ini memerah tanpa aba-aba dariku. Aku malu dengan wajahku yang selalu seperti ini jika berhadapan dengan Sebastian.

"Benarkah kamu mau menungguku?"

TBC

A/N: Nyampe sini dulu…

Memang rencanany pgn kyk ksh hidupku, tp tentu aja diubah sdkt bnyk.

Akhir kata review y…^^