A/N: Akhrny update jg...

Stlh mengumpulkan tenaga biar gak mls.

Hehe...

Thx bwt yg dah review..

Title: When I Met Devil

Genre: mulai chap nie seterusny jd Angst, Romance


"Apakah kamu bisa menjemputku?" tanyaku

"Aku usahakan." jawabnya dengan senyuman. Senyuman yang sangat kusukai. Aku membalas jawabannya dengan anggukan pelan dan senyumanku

"Akan kutunggu…" akupun langsung berlari dari dirinya karena aku tahu wajahku ini memerah tanpa aba-aba dariku. Aku malu dengan wajahku yang selalu seperti ini jika berhadapan dengan Sebastian.

"Benarkah kamu mau menungguku?"


When I Met Devil


Hari ini aku bangun pagi seperti biasa, bersiap berangkat ke sekolah seperti biasa dan menantinya seperti biasa. Tapi mungkin kebiasaanku menantinya harus dikurangi.

Iya, karena dia sendiri ingin aku pergi dari hidupnya.

Aku masih memikirkan kata-katanya dalam surat itu. Yang masih belum kumengerti hingga sekarang. Aku masih saja terdiam memikirkan maksud Sebastian dari surat itu. Entah kenapa aku merasa sedikit takut.

.

.

.

.

"Ciel..." Lizzy memanggil namaku dan membuatku menoleh ke arahnya. Kulihat dia berlari kecil ke arahku dan aku menunggu hingga dia berada di sebelahku. "Pagi..."

"Pagi juga Lizzy." jawabku pelan. Kulihat Lizzy memandangku bingung, apakah terlihat kalau raut wajahku ini sedang sedih. Well, bisa dikatakan begitu.

"Ciel ada masalah apa?"

"Tidak ada."

"Bener?"

"Bener kok." aku memalingkan wajahku darinya, kenapa Lizzy suka sekali mencampuri urusanku. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. Aku tahu niatnya baik padaku.

"Baiklah," ujar Lizzy. "Ayo kita ke kelas." Lizzy langsung menarik tanganku dan membuatku mengekor padanya hingga ke kelas.

-x-

Waktu istirahat dimulai, di kelas hanya ada aku dan Lizzy saja. Kami berdua saling ngobrol banyak tentang berbagai macam hal. Aku senang karena bisa berteman lagi dengannya.

"Wah... Berduaan aja nih..." goda Soma yang tiba-tiba ada di kelas. "Apa kalian udah jadian ya?"

"Apa sih?" gerutuku atas ucapan Soma. Kulirik wajah Lizzy yang mulai memerah, aku tidak tahu karena apa.

"Haha... Baiklah.." ujar Soma dan keluar dari kelas.

Aku berpikir dia jail juga menggoda Lizzy seperti ini. "Lizzy." panggilku.

"I.. iya..." ujar Lizzy sedikit terbata.

"Jangan dengerin ucapannya." ujarku dan hanya mendapat anggukan pelan dari Lizzy.

-x-

Waktu pulang sekolah tiba. Entah kenapa aku merasa berat jika mengingatnya. Waktu pulang sekolah adalah waktu aku bisa bertemu Sebastian. Dan memang sosoknya tidak ada. Mungkin dia sudah melupakanku, mungkin dia tidak lagi menginginkanku dan lebih parahnya dia tidak menganggap aku ada.

"Haha... aku memang payah..." ujarku sambil tertawa hambar. Aku hanya meneruskan perjalananku hingga ke rumah, tidak menghiraukan suara orang-orang di sekitarku.

"Ciel..."

.

.

.

.

Hari ini aku- well mungkin kalian juga bosan tiap hari mendengar ucapanku tentang tiap hari yang kulakukan. Tapi memang itu nyatanya dan aku juga bosan pada hidupku yang mulai lurus-lurus saja.

Sebastian pergi dan entah kapan kembali. Sejak kehadiran Sebastian hidupku mulai sedikit berwarna. Dia yang membawa perubahan dalam hidupku, baik senang dan sedih.

"Sebastian..." gumamku memanggil namanya. Entah kenapa aku ingin menangis jika memikirkannya, air mataku serasa ingin keluar terus tanpa henti. "Bukan waktunya menangis." aku langsung saja pergi dan berangkat sekolah.

-x-

"Ciel.." panggil Lizzy begitu aku sampai di kelas. Pagi hari yang kulihat adalah raut wajah Lizzy yang seakan-akan tampak marah juga sedih. Aku tentu heran apa yang terjadi padanya.

"Ada apa Lizzy?" tanyaku pelan.

"Kamu tinggalkan saja pemuda itu."

"Eh? Sebastian?"

"Iya."

"Kamu tahu darimana tentang dia?"

"Jelas aku tahu karena..."

"Karena?"

Lizzy tidak meneruskan ucapannya, membuatku bertambah bingung. Apalagi Lizzy jelas-jelas bilang dia tahu tentang Sebastian. Berarti aku bisa menanyakan kondisi Sebastian yang sudah lewat hampir 2 minggu ini.

"Ayo, Lizzy. Kamu membuatku penasaran." ujarku yang sedikit bersemangat karena mungkin saja Lizzy akan memberitahu hal bagus.

"Karena Sebastian itu akan menikah." jawab Lizzy

.

.

.

.

Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Ucapan Lizzy membuatku heran, takut, marah dan juga sedih yang luar biasa. Kulihat wajah Lizzy yang tampaknya masih sedikit cemas itu.

"Ciel... Kamu gak apa-apa?" tanya Lizzy.

Ah...

Aku tidak kuat. Aku tidak bisa menahan hal perasaan di hatiku yang mengatakan ucapan Lizzy itu salah, aku merusaha menahan tubuhku agar tidak jatuh.

"Kamu bohong..." ujarku dengan suara sedikit bergetar. Kuarasakan kalau pandanganku sedikit mengabur, apakah aku akan menangis?

"Aku tidak bohong," ujar Lizzy pelan. "Itu benar."

Aku memandang mata hijau Lizzy dan aku tahu matanya itu tidak berbohong padaku. Mendengar kenyataan begitu hatiku langsung sakit, sangat sakit.

"Tahu dari..."

"Saudaraku akan menikah dengannya. Ini undangannya." Lizzy memberiku sebuah surat undangan pernikahan. Dan yang membuatku tambah kaget, semua ucapan Lizzy benar. Tertera nama Sebastian dan nama seorang wanita bernama Ranmao, pernikahan mereka juga tinggal 2 hari lagi. Itu yang membuatku bertambah sakit.

"Ah..." ujarku sambil jatuh tersungkur ke bawah. Sempat mengundang kekhawatiran teman-teman sekelas yang melihatku dan Lizzy. Tapi aku tidak peduli.

"Ciel..." ujar Lizzy pelan. "Kamu tidak apa-apa?"

Tapi aku tidak menhiraukan ucapan Lizzy, aku langsung berlari dari kelas dan meninggalkan Lizzy disana.

"CIELL!" panggilnya tapi aku tidak akan menoleh. Aku ingin lari, aku ingin menenangkan diri. Entah kemana kakiku akan membawaku tapi aku berharap aku bisa sendiri dengan pikiranku.

-x-

Aku berlari cukup jauh hingga aku sudah berada di halaman belakang sekolahku. Kulihat langit cerah tapi berlawanan dengan hatiku yang mendung. Seolah langit tidak merasakan kesedihanku ini.

"Kenapa?" tanyaku pelan. Kurasakan air mata mulai membasahi wajahku. Dari tadi aku berusaha agar tidak menangis di hadapan Lizzy. "Kenapa kamu mengkhianatiku?"

Hanya terus menerus pertanyaan itu yang terlontar dari mulutku. Bagiakan kaset rusak, aku terus mengulang kalimat itu sambil menangis. Mungkin wajahku sudah kacau karena menangis, kurasakan air mata turun dengan bebas tiap kali aku mengingat namanya.

"Apakah selama ini kita hanya berteman saja? Aku tahu... tidak boleh banyak berharap... tapi..."

Aku tidak henti-hentinya memikirkan hal itu. Seolah semuanya hanya mimpi buruk belaka dan aku ingin ada seseorang yang membangunkanku dan dia adalah Sebastian. Tapi bagaimana dia bisa membangunkanku kalau dia tidak ada sisiku dan justru jadi orang yang merusak hidupku.

"Apakah semua tindakan manismu... omong kosong..."

Aku ingat awal kami bertemu, berteman, dan aku mulai suka padanya. Sampai teringat terakhir kali bertemu dengannya. Bagaikan adegan film yang terulang kembali di benakku, semuanya sama.

Aku melihat undangan pernikahan itu yang kugenggeam dengan kencang, kuliaht nama Sebastian dan wanita itu dan tempatnya.

"Ini... di rumah Lizzy kan?" gumamku masih menangis. Kulihat baik-baik isi surat itu dan aku menemukan satu hal, sebagai tema pernikahan mereka diadakan acara melihat bunga sakura.

"Ah... Jadi ini..." gumamku lagi. Sekarang aku mengerti kenapa Sebastian selalu berwajah sendu jika melihat bunga sakura, mengingatkan dia akan pernikahannya yang semakin dekat.

Aku membuang undangan itu jauh-jauh dan hanya membenamkan wajahku diantara kedua lututku. Semuanya menyakitkan, kenapa aku harus mengalami hal ini. Pertama kalinya jatuh cinta malah merasakan hal sepahit ini.

Aku juga tidak berhenti menangis, aku tidak ada niat mengikuti pelajaran. Semua pikiranku tersita untuk mengingat Sebastian, pemuda yang aku sukai itu. Apakah semuanya akan berakhir? Perasaanku padanya memang bertepuk sebelah tangan.

.

.

.

.

"Ciel..." kudengar seseorang memanggil namaku, dan kulihat Lizzy ada di hadapanku.

"Lizzy..." ujarku sedikit serak. Tapi aku tidak ingin menatap wajahnya.

"Kamu kenapa tidak masuk ke kelas?"

"Biar saja."

"Apa kamu masih memikirkan Sebastian?"

Ucapan Lizzy benar-benar mengena dengan apa yang kulakukan saat ini, memikirkan Sebastian. Aku menatap wajah Lizzy datar dan kulihat wajahnya langsung sedih. Lizzy langsung memelukku.

"Ciel.. Maaf ya?" ujar Lizzy. "Aku tahu nin berat, tapi itu kenyataan.."

Aku tidak merespon ucapan Lizzy, seolah kata-kataku sudah habis karena tangisanku itu. Hanya air mata yang menjawab ucapan Lizzy itu.

"Aku tidak menyangka kau menyukainya..." ujar Lizzy lagi.

"Kamu tahu?" ujarku yang masih dengan suara yang serak.

"Aku tahu. Saat kamu bersama Sebastian, tatapan matamu, tingkah laku, wajah menunjukkan kalau kau suka padanya."

Aku kembali terdiam, ternyata Lizzy mengerti perasaanku. Tapi aku tidak ingin membuatnya khawatir lagi.

"Seandainya pandanganmu itu untukku." ujar Lizzy dengan senyum yang dipaksakan. Aku terdiam melihatnya, aku tahu aku telah melukainya untuk kesekian kalinya. Aku tahu Lizzy masih berharap padaku dan aku tidak memberi kesempatan padanya.

"Aku tahu aku tidak bisa banyak berharap," lanjut Lizzy lagi. "Asal bisa bersamamu aku senang, dan aku ingin melihat senyummu Ciel."

Keheningan menyelimuti kami berdua. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing yang entah apa.

Tersenyum?

Dalam keadaan seperti ini? Mungkin aku lupa bagaimana cara untuk tersenyum, karena hal yang membuatku tersenyum telah pergi dan nyatanya tidak akan kembali padaku. Sebastian pergi meninggalkanku... selamanya.

"Dia akan menikah..." ujarku pelan, hampir berbisik.

"Iya. 2 hari lagi." jawab Lizzy. "Kumohon Ciel, tegarlah."

Tegar?

Dalam kondisi begini?

Aku memilih pergi dari hidupku selamanya daripada mengalami hal ini. Aku hanya tersenyum tapi masih dengan tangis, ternyata perumpaanku tentang Sebastian kalau dia iblis itu benar. Dia datang memberiku kebahagiaan semu dan membuatku merasakan sakit yang nyata. Aku tidak bisa banyak berkata lagi, air mataku terus mengalir tanpa ada isyarat akan berhenti.

"Ciel.." panggil Lizzy dengan cemas. "Kamu-"

"Lizzy.." ujarku pelan.

"Iya?"

"Apakah sudah tidak ada harapan?"

Lizzy hanya terdiam mendengar pertanyaanku, dia menunduk dalam diam. Aku hanya melihat langit yang sudah sore ini, mataku juga masih terasa perih. Walau begitu hatiku lebih perih lagi, lukanya sudah terlalu berat. Dan aku tidak tahu apakah lukaku itu bisa sembuh atau tidak.

"Lizzy 2 hari lagi..." ujarku tiba-tiba.

"Eh?" tanya Lizzy heran. "Apa?"

"2 hari lagi. Bawa aku untuk bertemu dengannya.."

TBC

A/N: Gmn yovi-chan, nekochan dan minna-san?

Pa krng bgs? Angstny krng kerasa?

Aq brsh sebaik mgkn.

Review y?