A/N: Akhrny aq update stlh ul yg menyiksa.
Haha..XP
Aq harap minna-san mw baca...^^
Oh y sdkt info, stlh aq pkir fic nie gak bkal strusny jd Ciel's POV, ada bbrp scene yg memang bkal normal ato tntng orng lain selain Ciel. Tp lbh dominan Ciel's POV..^^
"Lizzy 2 hari lagi..." ujarku tiba-tiba.
"Eh?" tanya Lizzy heran. "Apa?"
"2 hari lagi. Bawa aku untuk bertemu dengannya.."
When I Met Devil
Hari ini sudah berlalu 2 hari dari waktu itu, ketika aku mengetahui kalau Sebastian akan menikah. Ya, menikah. Ikatan suci yang tidak bisa dipisahkan siapapun itu akan Sebastian jalani dan tentu bukan denganku. Tiap kali memikirkan hal itu entah kenapa hatiku sangat galau, perasaanku bagaikan kapal yang terombang-ambing di lautan yang ganas. Semuanya berjalan seperti mimpi buruk untukku.
"Benarkah ini nyata?" gumamku pelan sambil menatap cermin di kamarku. Yang terlihat adalah sosokku yang memakai jas hitam, dan semuanya tampak sama. Tapi kalau dilihat baik-baik, bahkan diriku tahu kalau sinar mata biruku itu redup.
"Semuanya terasa sangat cepat." gumamku lagi sambil membenamkan wajahku diantara kedua lututku. Aku merasa kalau ini terlalu cepat dan air mata kembali mengalir dengan bebas di pelupuk mataku. Aku tetap saja menangis dalam diam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku merasa sangat kosong.
"Aku harus pergi." gumamku pelan. Aku langsung menghapus air mataku itu, kemudian merapikan jasku dan segera keluar dari rumah. Aku akan berjalan menuju kesedihanku.
.
.
.
.
"Ciel..." panggil Lizzy sambil berlari kecil ke arahku. Ya, kulihat sosok Elizabeth yang memakai gaun merah muda yang indah dan topi yang dia kenakan. Tapi tetap wajahnya tidak terlihat bahagia, mungkin dia turut prihatin dengan diriku. "Waktunya tiba." ujarnya setelah berada di hadapanku dan aku hanya terdiam tidak menjawab ucapan Lizzy itu.
"Ayo..." Lizzy menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam mobil miliknya itu, tentu dengan supir yang mengendarainya.
Tidak lama kemudian kami telah sampai di rumah Elizabeth, rumah yang cukup luas dan dengan halaman belakang yang telah ramai. Tampak banyak orang sudah duduk disana dan seperti menantikan sesuatu, mungkin pasangan pengantin itu. Kulirik bunga sakura yang berada tidak jauh dari sana, aku hanya tersenyum pahit.
"Elizabeth, kau membawa temanmu?" tanya seseorang yang berada di belakang kami. Kami berdua langsung menoleh ke arahnya dan tampaklah sosok seorang pemuda berambut hitam yang terlihat memakai pakaian Chinesse itu.
"Lau nii-san..." ujar Elizabeth. "Iya, aku bawa teman."
"Hmm... Temanmu manis juga ya?" ujar Lau dan dia menggengam tanganku. "Halo nona manis, siapa namamu?" tanyanya dengan nada yang well kurang aku suka.
"Hei! Apa maksudmu itu? Aku ini cowok!" ujarku geram sambil membuang muka darinya. Tentu saja aku kesal, dianggap seperti cewek olehnya. Kalaupun aku mau jujur, kebanyakan orang-orang juga menganggapku demikian.
"Oh kamu cowok?" ujar Lau kaget dan langsung melepas tangannya dariku. "Kukira kamu cewek, habis kamu manis."
"Lau nii-san, jangan ganggu Ciel." ujar Lizzy kesal.
"Jadi nama temanmu Ciel ya?" ujar Lau memastikan. "Salam kenal Ciel. Dan maaf ya kalau Elizabeth merepotkanmu."
"Apa maksudnya?"
"Tentu saja. Kamu kan berisik sekali Lizzy, beda dengan Ranmao. Tentu Ciel juga terganggu."
"Jangan samakan aku dengan Ranmao nee-san, aku dan dia beda."
"Haha... Kalian memang beda ya?"
"Tentu."
"Tidak kusangka Ranmao akan menikah. Ah... mungkin aku juga harus menyusulnya." aku yang daritadi diam mendengarkan percakapan kedua saudara itu hanya tersenyum tipis. Kulihat Lau malah tersenyum ke arahku, dan aku hanya tersenyum tipis padanya.
"Lau nii-san awas kalau macam-macam pada Ciel." gertak Lizzy sambil melancarkan death glarenya pada Lau.
"Haha... Baiklah." Lau pun meninggalkan kami berdua dan duduk di kursi paling depan. Bisa kulihat di kursi paling depan adalah anggota keluarga Elizabeth.
"Huh... Dasar nii-san yang menyusahkan," gerutu Lizzy. "Ayo Ciel, kita duduk disana." ujar Lizzy sambil menarik tanganku.
"Tidak apa?" tanyaku memastikan.
"Tentu." jawab Lizzy dengan senyumnya itu.
.
.
.
.
Tidak lama setelah kami duduk di depan semua orang sudah mulai ramai bertepuk tangan, kulihat sang pengantin wanita yang berjalan menuju altar di depan kami. Wajahnya terlihat ceria meski agak datar dan gaun yang dia pakai terlihat indah ditambah dengan rambutnya yang dikepang, sangat cocok untuknya.
"Ranmao nee-san cantik sekali." gumam Lizzy. Aku hanya melirik Lizzy dari ekor mataku dan tersenyum hambar. Sebenarnya inilah yang kutakutkan, melihat sosoknya yang mungkin sudah melupakanku. Awalnya aku kira ini tidak terlalu berat, tapi nyatanya sama saja. Jantungku berdetak sangat kencang, apalagi dirinya belum juga tiba. Dan tentu lebih terasa berat karena terdengar tepuk tangan dari para undangan yang hadir dan bisa kupastikan Sebastian telah tiba.
"Sebastian." gumamku pelan sekali. Tidak kuhiraukan suara tepuk tangan yang riuh itu, tidak kubiarkan diriku bertatap mata dengannya. Tapi aku tahu sosoknya melewati diriku dan aku hanya terdiam. Aku berusaha sekuat tenaga menahan agar air mataku tidak mengalir.
-x-
Entah kenapa aku merindukan sosoknya itu, rambut hitamnya, mata merahnya dan semua tentangnya. Aku rindu akan hal itu, sangat rindu. Tapi aku tetap tidak bisa berkata apa-apa.
"Akhirnya pengantin pria sudah tiba," ujar Pastor yang berada di depan altar. "Baiklah kita mulai saja upacara pernikahannya."
Semua orang terdiam, mereka menantikan upacara pernikahan ini berjalan lancar tanpa ada halangan. Yang terdengar hanyalah sayup-sayup suara Pastor itu yang entah menjelaskan apa, aku malas untuk mendengarnya.
"Apakah kau, Sebastian Michaelis. Bersedia menerima Ranmao sebagai istrimu yang sah dalam suka dan duka?" tanya sang Pastor pada Sebastian.
Hening...
Tidak ada sepatah katapun yang meluncur dari mulut Sebastian, semua hadirin juga heran dan bingung. Aku yang melihat hal itu hanya merasakan ketakutan yang tidak pasti, jantungku berdetak sangat cepat atau bisa saja jantungku akan melompat keluar karena aku terlalu takut. Aku menelan ludah dan berusaha mendengar apa yang akan Sebastian ucapkan.
Walau aku akan tahu kalau ucapan Sebastian itu bisa mengubah statusnya tiap saat, aku hanya pasrah. Aku hanya terdiam dan ingin sekali berteriak memanggil namanya, tapi tentu aku tidak melakukan hal memalukan begitu.
"Aku..." Sebastian menggantungkan ucapannya, membuat semua orang penasaran akan kelanjutan kata-katanya. "Bersedia..."
Deg!
Ucapan Sebastian benar-benar menikam diriku dari belakang. Hanya dengan dua kata miliknya itu bisa membuat diriku lemah tak berdaya seperti ini. 'Aku bersedia' dan kata-kata itu juga bukan untukku. Aku bisa merasakan kalau mataku mulai panas dan pandanganku mengabur, apakah aku akan menangis disini? Saat ini juga?
Aku tidak sanggup melihat kelanjutan upacara pernikahan mereka yang sudah kutahu apa akhirnya. Aku bangkit dari kursiku dan segera berlari meninggalkan upacara pernikahan itu. Aku tidak peduli dilihat orang banyak, asalkan bisa pergi dari sini.
"CIEL!" teriak Lizzy yang langsung menyusulku.
.
.
.
.
Normal's POV
"Aku... bersedia..." ujar Sebastian ketika Pastor menanyainya. Para hadirin sempat bingung dan terkejut karena Ciel yang tiba-tiba berlari dan tentu teriakan nona muda Middleford itu.
Para hadirin sempat berbisik satu sama lain tapi entah apa yang mereka bicarakan. Pastor pun menenangkan keadaan yang mulai ramai itu.
"Tenanglah. Akan kita lanjutkan." kata sang Pastor bijak. Dan upacara pernikahan dilanjutkan.
'Ciel?' batin Sebastian bingung. Dia mendengar dengan jelas suara Lizzy yang meneriaki nama Ciel, tapi dia tidak ingin salah orang. Ayolah Sebastian, memangnya ada berapa Ciel di dunia ini yang dikenalnya? Dan itu hanya ada satu Ciel, Ciel Phantomhive.
"Apakah kau, Ranmao. Bersedia menerima Sebastian Michaelis sebagai suamimu yang sah dalam suka dan duka?" tanya sang Pastor pada Ranmao.
"Aku bersedia." ujar Ranmao.
"Sekarang kau boleh mencium pasanganmu."
Tepat saat ucapan Pastor selesai, Sebastian langsung melesat pergi. Meninggalkan Ranmao, Pastor dan para hadirin itu. Membuat mereka bertambah bingung dengan tingkah Sebastian.
"Baiklah. Karena sudah bersedia, saya nyatakan kau istri Sebastian Michaelis. Walau Sebastian pergi." ujar Pastor itu dan mendapat anggukan pelan dari Ranmao. Semua orang bertepuk tangan dan seolah melupakan kejadian yang tadi.
.
.
.
.
Sebastian berlari entah kemana, hanya ada satu hal yang ada di benaknya. Anak berambut biru kelabu, bermata biru yang menyita perhatiannya, Ciel. Sebastian mencari Ciel di seluruh penjuru mansion Lizzy yang luas itu. Nafasnya terengah-engah karena dia capek berlari. Sebastian pun terdiam sejenak dan mendengar sayup-sayup suara yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Apakah itu... Ciel?" gumam Sebastian yang berjalan perlahan menuju tempat yang berada di balik pohon. Setelah melewati pohon itu, yang ada hanyalah beberapa pohon dan sosok Ciel juga Lizzy. Sebastian terkejut bukan main melihat Ciel ada di hadapannya, dia langsung berjalan menghampiri Ciel.
"Ciel." panggil Sebastian pelan. Sedangkan yang dipanggil hanya diam, sosoknya yang membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya itu membuat Sebastian merasa bersalah. Lizzy yang berada di samping Ciel menatap Sebastian dengan tatapan kesal.
"Mau apa kemari?" tanya Lizzy dingin.
"Ini bukan urusanmu, Elizabeth Middleford." ujar Sebastian tak kalah dingin.
"Tentu jadi urusanku karena Ciel temanku."
Sebastian hanya terdiam mendengar ucapan Lizzy. Dia merasa kalau Lizzy sedikit mengganggu dan dia sedikit senang karena akhirnya Ciel memiliki teman.
"Sebaiknya kamu pergi Eli-" belum sempat Sebastian melanjutkan ucapannya, ucapannya terputus karena Ciel.
"Kamu yang pergi..." ujar Ciel dengan suara yang serak karena menangis. Tentu menangis dalam diam membuat diri sendiri bertambah sakit daripada kita mengungkapkan tangisan kita.
"Ciel? Kenapa?" tanya Sebastian yang hampir tidak percaya Ciel menyuruhnya pergi.
"Pergi..." ujar Ciel lagi yang kembali membenamkan wajahnya. Sebastian merasa sangat bersalah melihat Ciel sepeti ini, dia ingin Ciel yang seperti dulu. Tapi mungkin hal itu tidak terwujud. Ciel bangkit dari duduknya dan langsung berlari dari hadapan Lizzy dan Sebastian.
"CIELL!" jerit Lizzy dan Sebastian hampir bersamaan. Tentu mereka berdua khawatir dengan kondisi Ciel yang tampaknya sangat terguncang itu. Karena Ciel tidak terkejar, Lizzy menatap Sebastian dengan amarah.
"Untuk apa kamu disini?" tanya Lizzy dingin.
"Aku ingin bertemu dengannya." jawab Sebastian.
"Kamu sudah punya Ranmao nee-san, jangan dekati Ciel lagi!" setelah berkata begitu Lizzy meninggalkan Sebastian sendiri di dekat pohon itu.
"Aku menyakitinya..." gumam Sebastian.
.
.
.
.
Ciel's POV
Entah kemana langkah kakiku membawaku tapi hanya ada satu tujuanku, lari sejauh mungkin. Aku tidak sanggup bertatap muka dengan Sebastian, hatiku sudah terlalu sakit karena semua kenyataan yang terjadi terlalu cepat ini.
Semuanya terasa begitu menyakitkan untukku, aku tidak akan sanggup menghadapinya sendiri tapi aku tidak bisa mengandalkan orang lain, termasuk Lizzy. Walau aku tahu dia pasti akan memintaku untuk membiarkan dirinya membantuku.
"Kenapa?" gumamku dan bisa kurasakan air mataku mengalir dengan bebas dari pelupuk mataku. Semuanya terasa sangat berat dan hatiku terasa sangat sakit. Kenapa kenyataan itu selalu menyakitkan pada akhirnya?
"Sebastian..."
Aku malah merasakan air mataku mengalir makin deras tanpa ada niat untuk berhenti. Entah kenapa tiap perasaanku yang kurasakan ini seolah tidak ada artinya dan semuanya terasa makin membuat hatiku sakit.
-x-
Aku melangkahkan kakiku menuju rumahku, dengan langkah yang goyah aku membuka pintu dan langsung saja menutup pintu. Aku jatuh terduduk di depan pintu rumahku itu dan masih saja menangis, aku serasa tidak ada niat untuk menghentikan tangisanku ini. Ya, orang yang akan menghentikan tangisku adalah orang yang menyakitiku.
"Sebastian..." gumamku masih menangis.
Entah kenapa aku merasa hidupku seakan berhenti melihat Sebastian sudah menjadi milik orang lain. Orang beruntung yang memiliki senyum indah Sebastian dan orang itu bukan aku. Tampaknya aku sendiri belum sanggup menerima kenyataan yang menyakitkan seperti ini. Mungkin diriku akan terluka seperti ini karenanya.
"Kamu memang iblis..." gumamku lagi. Tampaknya air mataku ini memang tidak akan berhenti. Air mata yang menunjukkan betapa terlukanya hatiku karena Sebastian, menunjukkan betapa kejamnya kenyataan yang menimpaku, dan Sebastian yang menyakitiku perlahan-lahan. Semua air mataku tumpah ruah dan tidak aku tahu kapan lukaku yang sebenarnya akan sembuh.
TBC
A/N: Gmn mnrt minna?
Aq tunggu reviewny..^^
