A/N: Akhrny update agy minna..^^

Ywdh met baca aja..

N thx bwt tmn2 yg dah review..


When I Met Devil


Dimulailah lagi hari yang tidak ingin kujalani. Aku muak terus merasakan sakit seperti ini, aku benci jika harus menderita karenanya. Apakah semua kata-katanya memang palsu?

Kutatap cermin yang berada di depanku, memperlihatkan sosokku dari atas hingga bawah. Aku yang seperti biasa akan pergi sekolah ini, ya dengan sinar mata biruku yang redup. Entah kenapa sejak kejadian itu aku tidak memiliki keinginan lagi untuk hidup.

"Sekarang dan dulu memang berbeda..." gumamku sambil menatap cermin itu. Akupun langsung bergegas pergi dari rumah dan menuju tempat yang seperti biasa.

-x-

"Ciel..." aku mendengar seseorang memanggilku, suara yang cukup lama tidak kudengar. Aku menoleh ke belakang dan kulihat sosok wanita berambut merah, juga dengan bajunya yang berwarna merah.

"Madam..." bisikku pelan.

"Ah Ciel... Untung kamu belum jauh dari rumah. Aku mencarimu," Madam Red langsung memelukku erat. "Kita sudah lama tidak bertemu, bagaimana keadaanmu?"

"Aku..." aku memutar bola mataku, menghindari tatapan mata Madam Red. Aku berusaha memikirkan apa yang harus aku katakan. Baik? Tentu saja tidak, kondisiku tidak baik sekarang. "Aku... baik..." Ah... Lagi-lagi aku harus bohong demi orang lain.

"Benarkah?" Madam Red memperhatikanku tajam sekali, aku sampai sedikit terkejut karenanya.

"Iya."

"Baiklah kalau kamu bilang begitu," Madam Red akhirnya tidak menatap tajam ke arahku dan aku bisa sedikit lega. "Mau berangkat sekolah kan? Aku antar ya?"

"Tidak merepotkan?" tanyaku.

"Tidak kok. Ayo..." Madam Red menyuruhku masuk ke dalam mobil miliknya yang juga berwarna merah, dan dia segera mengantarku ke sekolah.

-x-

"Sampai jumpa Ciel," ujar Madam Red ramah. "Tapi aku tidak tahu apakah bisa menjemputmu nanti."

"Tidak apa. Aku biasa pulang sendiri. Madam masih ada urusan kan? Jarang-jarang kita bertemu." ujarku pelan.

"Iya. Tapi akan aku usahakan kita menghabiskan waktu bersama."

"Baiklah..." aku langsung berlalu dari hadapan Madam Red dan segera menuju ke kelas.

"Ciel... Matamu menunjukkan keredupan. Ada apa sebenarnya?"

.

.

.

.

Seperti biasa akan kulalui hari-hari yang membosankan ini selamanya. Belajar, belajar dan belajar hingga pulang sekolah. Aku benar-benar merasa tidak ada artinya kalau hidup lagi. Tapi selalu ada banyak orang yang membuatku berpikir dua kali mengenai hidup ini.

"Ciel..." dari suaranya saja aku sudah tahu, ini suara Lizzy.

"Kamu teriak-teriak saja,Lizzy?" tanyaku sambil membereskan tasku.

"Aku hanya ingin menyapamu."

"Pagi..." kali ini terdengar suara seseorang yang cukup familiar di telingaku. Dia langsung memelukku begitu saja.

"Alois, apa-apaan kamu?" teriak Lizzy sambil melancarkan death glarenya. Aku tahu kebiasaan Alois yang suka sekali memeluk orang ini tidak bisa hilang, apalagi memelukku.

"Kenapa Elizabeth? Kamu tidak suka aku memeluk Ciel begini?" tanya Alois dengan nada mengejek.

"Huh..."

"Alois, bisakah kamu melepaskan pelukanmu itu?" tanyaku sambil berusaha melepaskan diri darinya.

"Oh baiklah..." Alois langsung melepas pelukannya dan menatap Lizzy tajam. "Elizabeth, kalau kamu ganggu aku, awas saja."

"Kamu yang ganggu..." ujar Lizzy tidak mau kalah.

Dan terjadilah sedikit keributan karena Alois dan Lizzy bertengkar. Mereka berdua memang sering sekali adu mulut seperti sekarang. Hanya saja beberapa minggu terasa tenang karena Alois tidak masuk. Setidaknya begitu menurutku sampai aku bertemu dengan...

'Lupakan dia,Ciel...' batinku menjerit seakan mengingatkanku pada apa yang kupikirkan. Aku tahu aku tidak boleh berharap banyak darinya. Ah... mungkin aku harus melupakannya.


"Yey! Waktunya pulang..." seru Alois sambil membawa tasnya. Kulirik dia langsung meninggalkan kelas, dan aku langsung membereskan tasku. Kulirik Lizzy yang sudah ada tepat di hadapanku.

"Ada apa,Lizzy?" tanyaku pelan.

"Ano... Aku ingin kita jalan sama-sama. Setidaknya sampai gerbang." ujar Lizzy.

"Baiklah..." lalu kami berdua segera keluar dari kelas dan berjalan hingga depan gerbang sekolah. Lizzy langsung dijemput oleh supirnya dan dia berlalu dari hadapanku. Sekarang tinggal aku sendiri, akupun meneruskan langkahku hingga sampai di rumah.

.

.

.

.

Aku berjalan hingga melemati tempat yang jujur mulai kubenci untuk kulewati. Pohon sakura di dekat sekolah, disinilah aku pertama kali berjumpa dengannya, disinilah aku merasakan perasaanku padanya dan tempat ini pula yang mengingatkanku padanya.

"Sebastian..." gumamku pelan.

"Ciel..." kudengar ada suara yang memanggilku. Aku menoleh ke arah suara itu dan betapa terkejutnya aku, orb merah yang sudah lama tidak kulihat muncul di hadapanku.

"Sebas... tian..."

"Ciel... Kumohon dengarkan aku..." ujarnya dengan wajah yang memelas.

"Apa yang harus aku dengar?" aku hanya menatap datar ke arahnya. Sungguh hatiku sakit jika harus mengingat lagi kenangan akan dirinya.

"Pernikahan itu..."

"Cukup!"

Aku langsung berlari menjauhi Sebastian. Tapi tampaknya kakiku tidak terlalu cepat membawaku pergi, buktinya dia bisa menyusulku.

"Ciel..." ujarnya memanggil namaku sambil memegang tanganku.

Aku hanya memejamkan mata, takut untuk melihat orb merah miliknya itu. Semuanya terlalu menyakitkan. Semuanya... tentang dirinya.

"Ciel tatap mataku..." perintahnnya. Dengan perasaan sedikit takut aku membuka mataku perlahan, dan mata biruku bertemu dengan mata merahnya. Bisa kulihat ekspresi Sebastian yang berbeda dari biasanya. Matanya tiba-tiba terlihat cemas. Seiring dengan kami berdua yang saling bertatapan bunga sakura turun bagaikan hujan.

Bunga sakura yang terus turun dan membuat jalanan penuh dengannya, kulirik sekilas ada bunga sakura di atas kepala Sebastian. Memang bunga sakura ini turunnya sangat deras bagaikan hujan dan yang membuatku bertanya kenapa perbaduan warna merah dan pink terlihat indah?

"Tatapan matamu beda, Ciel..." ujarnya cemas.

"Eh?" ujarku pura-pura tidak tahu. Aku tahu yang akan dia bilang, sinar mataku sudah redup. Dan aku tidak ingin hal itu diungkit-ungkit lagi, apalagi olehnya. "Bukan urusanmu kan? Urus saja istrimu." aku langsung melepaskan tangan Sebastian yang menggenggamku dan langsung berlari kencang menjauhinya.

"CIEL!" jerit Sebastian.

Aku tidak peduli akan dirinya yang berusaha mengejarku, aku ingin segera sampai di rumah dan mengunci diri. Melepaskan diri darinya.


Akhirnya kulihat pintu rumahku yang berjarak tidak jauh dari posisiku sekarang. Aku langsung membuka pagar dan masuk ke rumah.

BLAM

Pintu depan kututup dengan kencang. Aku ingin sendiri, hatiku cukup sakit waktu itu dan kenapa sosoknya harus muncul di hadapanku. Aku benar-benar ingin menghilang darinya.

"Ciel... Buka pintunya..." pinta Sebastian sambil menggedor pintu rumahku. Aku tahu dia bisa masuk karena aku tidak mengunci pagar, tapi aku bersyukur sudah mengunci pintu depan ini.

"Ciel... Kumohon..." pintanya lagi dengan nada pelan. Tidak kuhiraukan semua ucapannya, bagaikan angin lalu di telingaku.

"Ciel..."

Aku tetap pada pendirianku, tidak membuka pintu untuknya dan tetap duduk tersungkur di dekat pintu rumah. Semua ucapan Sebastian terdengar jelas di telingaku, tapi tidak kuhiraukan.

"Ciel..." panggil Sebastian lagi.

"Pergi..."ujarku pelan, sangat pelan. Tapi aku yakin suaraku cukup terdengar di telinganya.

"Kenapa Ciel? Aku belum menjelaskan-"

"PERGI!"

Aku berteriak cukup kencang padanya, tanpa melihatnya aku tahu ekspresi apa yang tergambar di wajahnya. Pasti dia sangat kecewa, tapi kekecewaannya masih kurang jika dibandingkan dengan diriku. Hatiku sudah kacau balau karenanya, sudah cukup dia merusak semuanya.

Kudengar samar-samar suara langkah kaki yang menjauh dari pintu. Akhirnya dia pergi juga.

.

.

.

.


Sebastian's POV


Daripada aku membuatnya bertambah marah padaku aku menjauh dari rumahnya, pergi lagi darinya. Aku belum sempat menjelaskan yang sebenarnya pada Ciel. Aku tidak ingin melihat air mata membasahi wajahnya, tapi akulah yang menyebabkan dirinya menangis.

Aku tidak menyangka Ciel akan melihat pernikahanku itu, padahal aku yakin dia tidak mengetahuinya. Tapi kupikir lagi tentu dia tahu karena ada Elizabeth.

"Ciel..." gumamku pelan. Aku menatap langit sore yang begitu indah. Kapan terakhir kali aku menikmati momen bersama Ciel, sepertinya sudah lama sekali hal itu berlalu. Aku melangkahkan kakiku untuk benar-benar meninggalkan rumah Ciel, tapi langkahku tertahan.

"Kamu..." ujar seseorang. Aku menoleh ke arahnya dan kulihat rambut pirangnya.

"Elizabeth?" tanyaku.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya dengan nada tajam.

"Aku hanya ingin menemui Ciel." jawabku.

"Sadarlah.. Dirimu sudah melukai Ciel begitu dalam. Untuk apa kau menemuinya lagi?"

"Kau tidak mengerti."

"Aku tidak mengerti? Kau yang tidak mengerti! Pergilah dari hidup Ciel!"

"Kenapa kau menghalangiku?"

"Kau punya Ranmao nee-san, istrimu. Kenapa juga kau mengganggu Ciel?"

Aku memandang tajam gadis ini. Dia selalu membawa-bawa nama Ranmao. Aku sebal mendengarnya. Tapi memang itulah kenyataannya, sekarang aku adalah suami dari saudaranya. Aku tidak pernah sekalipun mencintai Ranmao, hanya Ciel yang selalu terbayang. Tapi entah apa yang kupikirkan aku merasa Ciel tidak akan mengetahuinya. Aku memang lebih kejam dari yang kuduga.

"Pergilah, Sebastian. Aku mohon..." desis Elizabeth tajam. Aku tetap memandang tajam ke arahnya dan langsung pergi meninggalkannya. Diantara saudara Ranmao, aku paling tidak menyukai Elizabeth yang terlalu ikut campur urusanku dengan Ciel. Aku langsung berlalu dari hadapannya dan tidak ingin mencari masalah dengannya.

.

.

.

.


Elizabeth's POV


Akhirnya pergi juga Sebastian. Aku sebal melihatnya yang sudah menyakiti Ciel dan sekarang berusaha kembali ke Ciel. Apa dia tidak berpikir dia telah memiliki Ranmao nee-san? Dia memang pemuda yang suka seenaknya sendiri.

Aku melihat ke arah rumah yang berada di hadapanku. Aku tahu ini rumah Ciel dari Soma, kulangkahkan kakiku menuju pintu depan rumahnya dan memencet bel rumahnya.

"Ciel..." panggilku pelan tapi tidak ada jawaban. Yang kudengar samar-samar suara tangisan. Ciel menangis? Untuk kesekian kalinya aku mendengar tangisan Ciel karena lelaki tidak tahu diri itu. Aku berusaha membuka pintu rumahnya tapi terkunci.

"Ciel... Ini Lizzy. Tolong buka pintunya?" ujarku.

"Kumohon Lizzy..." ujarnya dengan suara yang pelan. "Pergi..."

"Kenapa?" tanyaku berusaha menahan suaraku yang bergetar. "Aku khawatir padamu."

"Kumohon, biarkan aku sendiri dulu."

"Kamu bisa berbagi denganku, Ciel. Aku akan selalu disampingmu."

Tidak ada suara yang terdengar, hanya semilir angin yang kurasa. Aku merapikan rambutku dan tetap menunggu di depan pintu rumhanya, berharap Ciel akan membuka pintunya. Tapi tetap saja nihil. Aku tahu Ciel memang keras kepala, aku tahu Ciel tidak suka sisi lemahnya diketahui orang lain. Tapi aku tidak suka jika Ciel memedam semuanya sendiri.

"Ciel..." panggilku lagi.

"Lizzy..." ujarnya pelan sekali.

"Iya?" tanyaku.

"Kamu bertemu dengannya?"

Deg!

Bagaikan terkena serangan jantung mendengarnya, Ciel menanyakan hal yang paling tidak ingin aku jawab. Ciel, kenapa kau harus menanyakan hal itu.

"Ano..." ujarku dengan suara bergetar.

"Aku tahu," ujarnya. "Suaramu terdengar tadi dan... suaranya juga."

Aku hanya diam saja, membiarkan Ciel melanjutkan ucapannya jika dia mau. Aku akan berusaha selalu mendengar ucapan Ciel.

"Lizzy. Kumohon pergi sekarang." lanjutnya lagi dan yang membuatku sedih.

"Kenapa?" tanyaku hampir menangis. Aku tidak suka melihat Ciel seperti ini. Aku lebih suka melihat Ciel tersenyum, tertawa bahagia jika aku dan Alois beradu mulut, tatapan mata birunya yang cerah. Aku sedih melihat semangat hidup Ciel yang kian lama kian menghilang.

Seakan-akan hidupnya sudah tidak berarti untuk diteruskan. Aku berharap Ciel bisa kembali seperti dulu. Semua karena lelaki sial itu! Sebastian Michaelis, suami Ranmao nee-san.

Kukkira dia lelaki yang baik, ternyata bisa membuat Ciel menjadi seperti ini. Aku kasihan pada Ciel juga Ranmao nee-san. Mereka hanyalah korban dari kebimbangan hati Sebastian yang tidak tentu arahnya.

"Baiklah..." ujarku tiba-tiba. "Aku akan pergi, kuharap besok kamu baik-baik saja." aku segera melangkahkan kakiku menjauh dari pintu rumahnya.

Baru beberapa langkah aku menjauh dari pintu rumahnya kulihat sosok seorang wanita berambut merah dan berpakaian merah.

'Siapa dia?' batinku.

.

.

.

.


Madam Red's POV


Aku melangkah keluar dari mobil merahku tepat di depan rumah Ciel. Tapi yang mengejutkanku ada seorang gadis berambut pirang bergelombang yang ada di depan pagar.

"Apakah kamu teman Ciel?" tanyaku padanya. Aku melangkahkan kakiku hingga berada di hadapannya.

"I... Iya..." jawabnya sedikit terbata-bata.

"Ciel ada di dalam kan?"

"Ada. Tapi..."

"Tapi apa?"

Gadis itu terdiam, wajahnya langsung murung. Seperti wajah Ciel yang kulihat tadi pagi, sinar mata gadis itu tampak redup. Ada apa dengan mereka? Apakah ada masalah yang membuat mereka seperti ini? Anak-anak zaman sekarang masalahnya terlalu beragam.

"Biarkan aku yang mengurusnya," ujarku mantap dan mendapat tatapan heran dari gadis itu. "Kamu tenang saja."

"Baiklah..." gadis itu melangkah pergi meninggalkan rumah. Sekarang aku melangkahkan kakiku menuju pintu depannya. Kuketuk pintu berkali-kali tapi tak ada jawaban.

"Ciel..." panggilku. "Tolong buka."

"Pergi..." ujar Ciel pelan sekali. Bisa kudengar dari suaranya itu kalau dia sedang menangis. Suara yang terdengar sangat parau, seperti bukan Ciel saja.

"Ini Madam..."

Tidak ada jawaban dari Ciel, mungkin dia sedang melamun atau apa. Aku masih belum bisa menebak jalan pikirannya.

"Kumohon Madam. Tinggalkan aku sendiri." ujarnya dengan suara yang parau.

"Tapi Ciel..."

"Kumohon..."

Meski aku tidak melihat wajahnya tapi aku tahu wajahnya pasti kacau sekali. Wajah Ciel yang tenang itu penuh dengan air mata, sinar mata birunya yang kulihat tadi pagi redup kuyakin pasti bertambah redup. Aku merasa sedikit kecewa karena tidak pernah sekalipun aku mengetahui kondisi Ciel.

"Ciel," ujarku pelan. "Kamu bisa cerita padaku apa yang terjadi. Tapi kalau kamu tidak menginginkannya, aku tidak memaksa."

Suasana langsung hening, tampaknya Ciel berusaha meresapi kata-kataku. Aku hanya terdiam menanti kepastiannya yang tidak kutahu apa. Ciel, meski aku tantemu aku ingin kau bisa berbagi denganku.

Sudah beberapa menit berlalu tapi tetap tak ada jawaban dari bibir Ciel. Aku tetap bersabar menantinya bicara.

"Meski kau tidak mau melihatku sekarang," ujarku tiba-tiba. Aku menggantungkan ucapanku untuk menunggu reaksinya. "Aku selalu berdoa kau baik-baik saja dan biarkan masalahmu berlalu."

"Iya..." ujar Ciel dengan suara parau lagi. Aku merasa senang dia mau merespon sedikit ucapanku.

"Ciel, aku pergi dulu ya?" ujarku dan langsung meninggalkan Ciel. Aku mencoba memberikan Ciel waktu untuk dirinya sendiri. Kuyakin dia akan baik-baik saja.

.

.

.

.


Ciel's POV


Lagi-lagi aku membuat orang mencemaskan kondisiku, Lizzy sekarang Madam Red juga ikut khawatir. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir, aku tidak ingin mereka turut bersedih untukku. Tapi hanya inilah yang bisa kulakukan, menangis dan mengunci diri.

Aku tidak sanggup melihat pandangan kecemasan dari wajah Lizzy atau Madam Red. Aku tidak ingin mereka khawatir. Aku yakin bisa mengurusi masalahku sendiri.

"Benarkah?" gumamku sambil membenamkan wajah di kedua lututku. Aku masih terduduk di dekat pintu, tidak kuhiraukan tubuhku yang mungkin kedinginan karena lantai atau apapun. Aku hanya ingin sendiri, tidak beranjak dari tempatku ini.

Terlintas lagi semua kenangan akan Sebastian. Apalagi saat tadi, saat dia bilang tentang pernikahan itu. Hatiku sangat sakit mendengar, aku tidak sanggup mendengarnya dari bibir Sebastian. Kuharap aku tidak akan mendengarnya.

"Sebastian..."

TBC

A/N:

Minna gomen qalo crtny agak membingungkn.

Banyak sekali person of view disini, aku sengaja memakainya dari berbagai sisi.

Kuharap minna-san bisa mengerti^^

Mind to RnR?