A/N: Minna akhirny aq update, gomen qlo lama updateny cz aq gk dpt inspirasi dr kmrn2.
skrng sie aq usahakan, moga tdk mengecewakan..^^
Disclamer: Yana Toboso selalu memiliki kuroshitsuji...
Warning: AU, OOC, angst yang kurang terasa, ada OC di beberapa bagian
When I Met Devil
Aku selalu berpikir, apakah manusia bisa mendapatkan kebahagiaan sejati?
Kurasa hanya beberapa manusia saja yang bisa dan aku bukan salah satunya. Tidak terhitung berapa lama aku menangis. Tidak terhitung berapa hari aku menderita dan tidak terhitung pula sakit yang kutanggung sendiri.
Hidup memang berat dan aku bisa merasakannya terus menerus, tiada hari tanpa sakit seperti ini. Kenapa aku harus dan pernah bertemu dengannya.
Ah... terbesit di benakku untuk mengakhiri semuanya.
Aku tetap duduk di dekat pintu, mataku sudah terasa perih dari tadi. Pikiranku dan tubuhku seakan tidak satu tujuan, aku bisa merasakan kalau waktu berhenti sejenak untukku. Seolah-olah aku ini mati rasa.
'Is there any way that I can stay in your arms?' batinku menjerit. Semuanya terasa menyakitkan, kenangan akan Sebastian tetap tidak bisa pergi dari benakku. Inikah yang namanya cinta mati? Aku tidak tahu tapi perasaanku tidak bisa membohongi fakta kalau aku memang masih memikirkannya sampai sekarang. Kenyataan memang kejam.
Hari sudah menjelang pagi dan kubuka mataku yang terpejam. Ya ampun, aku tertidur di depan pintu. Semuanya masih sama dengan yang kemarin, tidak ada yang berubah. Langkah kakiku membawaku ke kamar mandi, kucuci muka dan kutatap cermin.
"Haha... Masih sama." ujarku sambil tertawa pahit. Aku langsung saja mandi dan tidak lama aku sudah selesai. Aku hanya terdiam sambil memakai seragam sekolahku. Pikiranku terasa hampa. Setelah beres semuanya kulangkahkan kaki dengan enggan keluar rumah.
-x-
Aku bersyukur jalanan masih sepi dan aku tidak perlu bertemu dengan teman-teman. Langkah kakiku ini membawaku menuju sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Taman bunga yang indah.
'Kalau tidak salah dia pernah membawaku kemari.' batinku lagi sambil berusaha mengingat taman ini. Tapi langsung kutepis pikiranku tentangnya. Cukup, aku tidak tahan.
Aku hanya duduk-duduk santai di sebuah bangku taman, dibelakang bangku itu ada bunga mawar putih. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Tidak kupedulikan waktu yang akan menujukkan jam sekolah, aku tidak ingin datang ke sekolah. Pikiranku belum sanggup untuk bertemu Elizabeth.
"Aku tidak ingin bertemu... mereka." gumamku pelan.
"Ciel Phantomhive." panggil seorang guru yang mengabsen murid di kelas.
"Dia tidak masuk." ujar Soma.
"Tumben sekali..." gumam guru itu sambil memanggil nama murid yang lain.
"Ciel tidak masuk?" tanya Alois yang duduknya di belakang Soma.
"Iya. Kamu liat kan tidak ada tanda-tanda kehadiran Ciel." jawab Soma santai.
"Iya sih..."
'Ciel...' batin Lizzy sembari melirik Alois dan Soma dan mengalihkan pandangannya pada jendela kelas.
Aku tetap berada di taman itu dengan pikiran yang kosong. Mataku melirik sebuah bunga mawar merah yang berada di sebrang tempatku duduk. Aku berdiri dan segera menuju bunga itu dan memetiknya.
Kuperhatikan bunga mawar itu baik-baik meski terkesan sedikit tidak niat. Aku hanya ingin memuaskan rasa penasaranku akan bunga mawar merah ini yang menarik perhatianku.
"Sebastian..." gumamku lagi.
Sebastian's POV
Hari ini aku sedikit disibukkan dengan berbagai macam tugas dari perusahaan Ranmao. Sejak menjadi suaminya aku menjadi direktur di perusahaannya. Tapi tetap saja bukan jabatan yang kuinginkan.
Aku memandang dengan malas tumpukan dokumen yang harus kuselesaikan itu. Ingin rasanya aku membakar semuanya agar aku tidak bisa mengerjakannya. Aku hanya menatap ke arah jendela, langit cukup cerah.
Aku hanya terdiam, ingatanku tentang awal dari semua ini bermula sedang bermain di dalam pikiranku.
"Kalau kau jadi direktur perusahaan kami pasti sukses." ujar ayah Ranmao saat aku mengunjungi mereka dengan ayahku.
"Tapi saya..." ujarku.
"Tidak ada tapi Sebastian Michaelis. Orangtuamu juga sudah menyetujui pernikahanmu dengan anakku dan tinggal 3 hari lagi menuju hari pernikahan kalian."
"Itu benar Sebastian," tambah ayahku. "Kau harus menikah dengan Ranmao."
"Semua itu terlalu cepat aku..."
"Sebastian!" bentak ayahku .Matanya sudah menunjukkan ketidak sukaan karena aku membantah ucapannya.
"Aku bisa memilih jalan hidupku sendiri!" ujarku lagi, kali ini dengan sedikit bentakan di dalamnya.
"Hidupmu adalah untuk anakku," ujar ayah Ranmao. "Ayahmu sudah memberikan jaminan padaku."
Aku merasa jantungku bisa berhenti tiap saat. Hidupku untuk seseorang yang tidak kucintai? Apakah para orangtua kami sudah kehilangan akalnya? Aku sudah mencintai seorang anak yang waktu itu kutemui, Ciel Phantomhive. Dialah cintaku, hidupku hanya untuknya. Tapi kedua orang ini mengambil jalan hidupku seenaknya.
"Kau tidak akan bisa menghindar Sebastian," tambah ayahku. "Kalau kau menikah dengan Ranmao hidup kita akan lebih baik dari sekarang. Jabatan tertinggi juga ada di tanganmu. Kau tidak akan kesusahan."
"Aku tidak merasa susah," ujarku. "Ayah saja yang merasa susah karena menghabiskan uang seenaknya."
"Kamu!"
"Sudahlah Tuan Michaelis," ujar ayah Ranmao pada ayahku. "Anakmu pasti akan menikah dengan anakku."
"Baiklah."
Secara tidak langsung ucapan mereka itu mengunci hidupku. Aku merasa seperti barang dagangan yang akan dijual dan sudah mendapatkan pembeli. Begitu sudah sampai di tangan pembeli aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Iya, selama 3 hari itu aku selalu diawasi dan tidak ada waktu untuk bertemu dengan Ciel. Setiap kali mencoba melarikan diri selalu berhasil tertangkap dan para pelayan itu selalu membiusku seenaknya. Semuanya tidak berguna. Aku benci mereka, sangat.
"Huh..." keluhku sambil memukul berkas dokumen yang ada di meja. Kertas-kertas itu berterbangan dan aku tidak peduli. Yang ada di dalam pikiranku adalah Ciel. Separah itukah kejadian ini hingga Ciel terseret-seret? Tanpa sadar aku telah melukai hatinya yang rapuh itu. 'Maafkan aku.' batinku.
Aku langsung keluar dari ruang kerja ini dan segera pergi ke tempat yang jauh dari sini. Aku ingin menenangkan pikiranku sejenak.
"Bunga bisa membuat pikiranku tenang." ujar ibuku padaku saat aku masih kecil.
"Benarkah bunga bisa membuat pikiran tenang?" gumamku bingung. Tapi akhirnya aku menuju mobilku dan membawanya menuju taman bunga yang kutahu. Taman bunga yang pernah aku dan Ciel kunjungi.
'Sudah berapa lama aku tidak kesana.' batinku.
Tidak butuh waktu lama akhirnya aku telah sampai di taman bunga itu. Suasananya masih sama, mengingatkan aku pada Ciel. Aku melangkahkan kaki mengelilingi taman ini dan orb merahku sedikit membesar. Apa aku tidak salah melihat sosok Ciel yang berada di dekat tumpukan bunga mawar merah?
Aku mengerjapkan mata berkali-kali dan kutahu itu memang sosoknya. Perasaanku sedikit senang sekaligus khawatir. Aku takut dia masih marah padaku. Tapi aku melihat bajunya, itu kan seragam sekolahnya. Apakah dia membolos?
Aku mendekatinya perlahan-lahan, tidak ingin terlalu mengejutkan setelah apa yang terjadi kemarin. Aku merasa jantungku berdetak sangat cepat, aku gugup sekali. Jarakku dengan Ciel juga tidak terlalu jauh, aku ingin sekali memeluknya tapi itu tidak mungkin.
"Kenapa ada murid sekolah yang bolos." ujarku yang sudah berada di samping Ciel.
"Bukan urusanmu." ujarnya cuek sambil melihat bunga mawawr yang ada di genggamannya. Akhirnya Ciel menoleh ke samping dan orb merahku bertemu dengan mata birunya itu.
"Sebas... tian..." gumamnya sangat terkejut.
"Ini aku Ciel." ujarku.
"Ke... kenapa?"
"Karena bertemu denganmu adalah takdir."
"Omong kosong."
Ciel segera berlari dari hadapanku, karena aku telah memperkirakan hal itu terjadi aku sudah mengunci tangannya. Dia hanya menatap tajam ke arahku, tatapan yang menusuk. Tapi aku tahu aku pantas dapat tatapan seerti itu darinya.
"Ciel dengarkan aku." ujarku.
"Apa yang harus aku dengar?" tanyanya.
Tanpa basa-basi aku segera memeluk Ciel dengan erat, sangat erat. Seolah aku tidak ingin kehilangan dia. Dia memberontak dalam pelukanku tapi aku tetap menahannya.
"Lepaskan aku!" jeritnya.
"Ciel..." gumamku pelan tepat di telinganya. Kulihat wajah Ciel sedikit memerah. Tapi aku tidak ingin merusak suasana ini, merasakan betapa lama aku tidak memeluknya seperti ini. "I miss you."
"It's a lie..." ujarnya tegas.
"Why don't you trust me?"
"Never!"
"How clever you are, my dear. You never mean a single word you say."
Akhirnya Ciel mendorongku dan aku memang juga berniat melepas pelukanku. Kulihat wajahnya itu entah marah, malu atau apa. Wajahnya tetap merah seperti tadi, membuatku penasaran apa yang sekarang dia pikirkan.
"Menjauhlah dariku!" ujar Ciel dingin.
"Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu Ciel." ujarku.
"Apa?"
"Maaf aku telah membuatmu seperti ini, tapi ini juga bukan inginku."
Ciel menatapku tajam. Tampaknya kali ini aku harus bersyukur karena tidak pernah dia memandangku seperti ini. Dia selalu lari menghindariku.
"Aku... ayahku seperti menjualku pada Ranmao." ujarku.
"Menjual?" tanya Ciel heran.
"Iya," ujarku pelan. "Kau pasti tidak suka kan jika menjadi diriku?"
"Kalau begitu kenapa kau tidak melawan?"
"Kau kira aku tidak melawan?" ujarku sedikit menggantungkan pembicaraan. Kulihat Ciel memandangku, tapi aku hanya tersenyum padanya. "Sudah lama kita tidak bertemu dan bicara seperti ini. Kuharap kau mengerti Ciel."
"Apa yang harus aku mengerti?"
"I will always love you. Forever. No matter what."
Ciel hanya menatapku dalam diam. Entah kenapa aku ingin menatap mata birunya itu lebih lama lagi dan lebih dekat. Aku mempersempit jarakku dan Ciel dan mengecup pelan bibirnya. Aku ingin meski hanya satu kali bisa merasakan manisnya bibir Ciel.
Tapi dia kembali mendorongku dengan kuat. Mata birunya masih menunjukkan rasa terkejutnya disana. Seolah-olah tindakanku itu tidak nyata di matanya. Tanpa basa-basi dia langsung berlari dari hadapanku.
"Ciel!" jeritku memanggil namanya tapi apa daya aku tidak ingin membuatnya bingung. Kuputuskan untuk kembali ke hidupku yang bagaikan mesin itu. Entah apa yang terjadi jika ayahku mengetahui aku pergi diam-diam. 'Ciel... Suatu saat nanti akan kubuat kau bahagia.' batinku yang kembali ke mobil dan menuju tempatku tadi.
Ciel's POV
Aku berlari dan terus berlari entah kemana. Entah apa yang dia pikirkan. Dia mencuri ciuman pertamaku. Aku bahkan tidak pernah membayangkannya. Aku berhenti berlari karena sudah capek. Aku berusaha mengatur nafasku yang terngah-engah. Kusentuh bibirku pelan dengan jariku. Ya ampun, ciumannya terasa sangat menyenangkan.
"Sebastian... kau..." gumamku.
Wajahku juga tiba-tiba memerah. Ada apa ini? Kenapa aku harus memikirkannya dan yang lebih aku herankan itu adalah ucapannya. Seolah dijual atau apa?
Apakah ada orangtua yang tega menjual anaknya?
Kukira Sebastian bercanda, tapi dari orb merah miliknya itu aku yakin dia tidak bercanda. Jadi selama ini dia ingin bertemu denganku hanya tidak sanggup.
"Bodoh..." gumamku sambil sedikit menitikkan air mata. "Kamu memang bodoh, Sebastian."
Aku melangkahkan kakiku menuju rumahku. Bahaya juga jika berkeliaran dengan seragam sekolahku. Tapi aku yakin teman-teman tidak memperhatikan kenapa aku tidak masuk, kecuali Lizzy.
Tapi aku tidak ingin melihat wajah Lizzy yang selalu mencemaskanku tiap saat. Aku tidak sanggup.
Elizabeth's POV
Hari ini terasa sepi karena Ciel tidak masuk. Untung bel pulang sekolah sudah bunyi dan aku segera menuju rumah Ciel. Iya, aku ingin mengetahui keadaannya. Apakah dia masih seperti kemarin atau sudah lebih baik atau lebih... buruk.
Akhirnya aku tiba di depan rumah Ciel. Kubuka pagar rumahnya dan kuketuk pintu rumahnya.
"Ciel..." panggilku dan tidak lama pintu depan sudah dibuka. Wajah Ciel tidak sehampa kemarin. Mungkin sekarang sudah lebih baik. Syukurlah.
"Lizzy. Maaf ya." ujarnya tiba-tiba.
"Eh? Tidak apa." jawabku.
"Apakah Sebastian baik-baik saja dengan istrinya?"
Aku sedikit terkejut. Tidak pernah terlintas di benakku dia akan menanyakan hal itu. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku hanya ingin tahu," ujarnya. "Sudah ya Lizzy, aku ingin sendiri dulu."
"Eh?"
Tapi apa daya Ciel telah menutup pintu dan akupun berjalan meninggalkan rumahnya. Aku menatap sebentar pintu depan rumahnya. Tampaknya Ciel sudah bisa menerima kenyataan atau dia merencanakan hal lain. Entahlah...
Ciel's POV
Aku merasa ingin lebih tahu lebih jauh tentang Sebastian dan istrinya. Jika benar ucapannya itu meski aku tidak yakin berarti masih ada harapan untukku.
"Ah... Kebahagiaanku masih jauh..." gumamku.
Semuanya memang terasa masih jauh. Tapi aku berharap aku akan mendapatakan kebahagiaanku meski hanya bagai setetes air.
Aku masih mengharapkannya.
TBC
A/N: Gomen qlo agak membingungkn.
Tp aq sudah berusaha semaksimal mgkn.
Please review..^^
