A/N: Minna akhirnya aku bisa update agy.
Gomen y qlo agak telat, br bbs dari mid sie..^^
bwt tmn2 yg dah review n yg bca thx bgt y.
oh y untk chap nie n seterusny genre jd Drama,Romance.
well happy reading...^^
When I Met Devil
Hari ini adalah hari yang well tetap saja seperti biasa, hari masuk sekolah. Tapi sekalipun aku tidak ada niat untuk masuk. Seolah langkah kakiku tidak ingin menginjak tempat yang namanya sekolah itu. Tapi niatku kali ini hanya ingin menanyakan tentang Sebastian pada Lizzy, hanya itu.
Alasan yang kurang berasalam memang, tapi itulah tujuan utamaku masuk sekolah hari ini. Keinginan untuk belajar bisa nanti.
.
.
.
"Kalau hubungan Sebastian dan Ranmao nee-san aku tidak tahu." jawab Lizzy saat aku menanyakan hal ingin kutanya.
"Kamu kan saudaranya, masa tidak tahu?" tanyaku.
"Sungguh Ciel, aku jarang ke rumah Ranmao nee-san," ujar Lizzy tegas. "Kau mau ke rumahnya?"
Rumahnya?
Berarti Sebastian juga ada disana? Aku bisa bertemu dengannya? Baiklah, aku ingin juga menanyakan banyak hal pada Sebastian. Semuanya masih samar di benakku.
"Iya, Lizzy. Ayo kita kesana."
Sekilas kulihat raut wajah Lizzy berubah, terlihat sedih. Entah karena apa? Mata hijaunya menujukkan hal itu dengan jelas.
"Kamu kenapa Lizzy?" tanyaku.
"Eh? Tidak apa-apa..." jawabnya.
Akhirnya waktu pulang sekolah tiba dan aku juga Lizzy akan pergi menuju rumah istri Sebastian, Ranmao. Seperti biasa sudah ada supir yang menjemput Lizzy. Aku dan Lizzy segera masuk ke mobil.
"Tolong antarkan ke rumah Ranmao nee-san ya?" ujar Lizzy pelan.
"Baik Nona." jawab sang supir yang langsung membawa kami berdua ke tempat tujuan.
.
.
.
Tidak butuh waktu lama kami telah sampai di sebuah mansion. Mansion yang sama luasnya seperti mansion Lizzy. Aku hanya berharap bisa secepatnya bertemu dengan Sebastian. Setelah sampai kami berdua turun dari mobil dan langsung masuk ke mansion itu.
Nuansa Chinesse dari rumah itu sangat terasa sekali. Mulai dari bentuk mansion hingga keseluruhan isinya, all about Chinesse. Mungkin semua itu ciri khas dari mansion ini.
"Wah, wah tumben kamu kemari." terdengar suara seorang pemuda, sosoknya yang memakai baju Chinesse dan berambut hitam itu dengan matanya yang sipit itu turun perlahan dari tangga yang berada di hadapan kami.
"Lau nii-san..." ujar Lizzy pelan. "Tidak apa kan aku datang berkunjung?"
"Tentu tidak apa-apa," jawab Lau senang. "Wah... Ciel juga datang."
"I... iya..." ujarku sedikit terbata.
"Hahaha... Santai saja, seperti baru pertama kali bertemu."
Aku hanya tersenyum tipis saja menanggapi ucapan Lau itu. Kulihat Lizzy melihat sekeliling ruangan ini. Aku hanya terdiam saja melihat Lizzy. Tampaknya Lau menyadari sikap Lizzy yang agak aneh itu.
"Cari apa Lizzy?" tanya Lau.
"Hmm... Dimana Ranmao nee-san?" tanya Lizzy.
"Oh ya, aku belum memanggil Ranmao. Biar kupanggil dia." ujar Lau yang langsung bergegas naik ke lantai 2, sedangkan kami berdua hanya menunggu kedatangan Lau.
Keheningan sempat menyelimuti kami berdua. Cukup lama juga Lau tidak muncul lagi dan kami juga terdiam, larut dengan pikiran masing-masing. Aku masih bingung kenapa aku bisa bertindak sejauh ini hanya demi menyelidiki kehidupan Sebastian. Aku tidak mengerti.
"Kau sudah pernah melihat Ranmao nee-san kan, Ciel?" tanya Lizzy tiba-tiba. Aku yang daritadi terdiam akhirnya tersadar dari lamunanku.
"Eh? Ah... Iya." ujarku.
"Kuharap kalau kau mau bertanya tentang Sebastian lebih baik bertanya ke Ranmao nee-san." ujar Lizzy lagi-lagi dengan wajah yang sedikit sendu. Aku hanya mengangguk pelan atas ucapannya.
Akhirnya tidak lama kemudian sosok Lau muncul juga, dengan seorang wanita berambut kepang yang berada di belakangnya. Dia juga sama seperti Lau, memakai baju Chinesse. Sudah lama aku tidak melihatnya, dialah Ranmao.
.
.
.
Lau dan Ranmao duduk di sebuah sofa. Anehnya Ranmao duduk di pangkuan Lau. Ini menarik perhatianku. Masa dia duduk seperti itu? Disini masih banyak sofa yang kosong. Hubungan kakak-adik yang sedikit kurang wajar menurutku.
"Ano..." ujarku.
"Iya. Ada apa?" tanya Lau.
"Kenapa Ranmao-san duduk di pangkuanmu?" tanyaku to the point. Lizzy yang mendengarnya tampak sedikit terkejut, sedangkan Lau hanya tersenyum saja.
"Kenapa? Karena dia adikku." jawab Lau santai, sedangkan Ranmao hanya diam saja.
"Tidak kusangka kau akan bertanya hal itu Ciel." bisik Lizzy padaku.
"Memangnya kenapa?" tanyaku yang berbisik juga padanya.
"Dari dulu aku juga penasaran sih. Hehe..."
"Kalian kenapa bisik-bisik?" tanya Lau.
"Tidak ada apa-apa." ujarku dan Lizzy bersamaan.
Sedangkan yang menjadi pusat pembicaraan yaitu Ranmao tetap diam, sesekali menatap Lau dan menatapku juga Lizzy bergantian.
"Sudah lama kamu tidak kesini Lizzy." ujar Ranmao pelan.
"Iya, nee-san. Sudah lama," ujar Lizzy. "Ano... Bagaimana dengan Sebastian?"
Ranmao hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Lizzy. Ditatapnya kembali Lau dan Lau kembali tersenyum.
"Yah... Biasa saja," ujar Lau santai. "Sebastian terlalu sibuk."
"Sibuk?" tanyaku heran.
"Iya. Sejak menikah Sebastian yang mengurusi perusahaan."
"Oh..."
"Jadi tetap saja Ranmao terus bersamaku. Benar Ranmao?"
Ranmao hanya mengangguk saja. Menurutku Ranmao itu jarang sekali bicara, entah apa yang dia pikirkan. Seolah-olah ucapan Lau itu sudah mewakili apa yang Ranmao akan ucapkan. Liat saja mereka juga dekat seperti itu, tampaknya hubungan Ranmao dengan Sebastian hanya status saja. Aku bersyukur kalau memang begitu.
"Bisa kami bertemu dengannya?" tanyaku.
Ketiga orang yang ada di ruangan itu hanya menatapku. Entah apa yang mereka pikirkan. Seolah ucapanku itu hal yang tabu. Ya ampun, aku jadi takut sendiri. Apalagi aku bicara seperti di depan istrinya. Apa yang aku pikirkan?
"Aku juga tidak tahu," jawab Lau santai. "Biasanya jam segini Sebastian sedang sibuk-sibuknya."
"Oh begitu..."
"Aku tahu," Lau bangkit dari duduknya, dengan Ranmao yang sudah bangun terlebih dahulu. "Lizzy, kamu ajak Ciel keliling saja. Mungkin nanti kalian bisa bertemu Sebastian."
"Saran bagus Lau nii-san," ujar Lizzy riang yang langsung berdiri dari duduknya. "Ayo Ciel."
"Baiklah..."
Normal's POV
Lizzy membawa Ciel berkeliling mansion milik Lau dan Ranmao ini. Disini juga tinggal kedua orangtua mereka, meski kedua orangtua Lau dan Ranmao sering ke luar negri untuk urusan pekerjaan. Dan Sebastian yang mengurus berkas-berkas perusahaan itu. Lizzy membawa Ciel ke beberapa ruangan yang dia tahu.
"Ini perpustakaan," ujar Lizzy sambil menunjuk sebuah ruangan dengan pintu berwarna merah. "Lalu ini ruang santai."
Ciel hanya mengikuti kemana Lizzy membawanya. Pikirannya tertuju pada Sebastian. Ah... Kenapa juga Ciel masih memikirkannya.
"Ciel..." panggil Lizzy.
"Iya. Ada apa?" tanya Ciel.
Seketika raut wajah Lizzy terlihat sedikit sendu. Ciel tahu ada hal buruk yang terjadi pada Lizzy, hanya saja Lizzy tidak ingin membicarakannya.
"Kamu... masih mencintainya?" tanya Lizzy.
"Iya..." jawab Ciel tegas.
"Begitu..." Lizzy langsung berlari meninggalkan Ciel sendiri.
"Lizzy!" panggil Ciel tapi Lizzy tidak menoleh ke arahnya. "Kenapa dia?"
Ciel masih kebingungan kenapa Lizzy menghindar darinya. Jika dipikir-pikir lagi tingkah Lizzy sama dengan tingkahnya ketika berhadapan dengan Sebastian. Ketakutan, kekesalan dan yang terbesar adalah kesedihan terpancar dari matanya.
'Aku... sama sepertinya.' batin Ciel.
Di saat terdiam seperti itu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat. Ciel langsung menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya dia ternyata sosok yang berada di belakangnya adalah Sebastian.
"Sebastian..." ujar Ciel pelan.
"Ciel? Kenapa kamu ada disini?" tanya Sebastian. "Bagaimana?"
"Aku meminta Lizzy menemaniku ke sini."
Sebastian terdiam, ditatapnya mata biru yang ada di depannya itu. Rasanya baru kemarin bertemu Sebastian sudah merindukan mata itu, tatapannya bahkan semua yang ada dalam diri Ciel.
"Kau bertemu..." ujar Sebastian sedikit menggantungkan kalimatnya.
"Aku bertemu dengannya... istrimu." ujar Ciel.
Sebastian hanya tersenyum tipis sekali, seolah-olah dia hanya berusaha memaklumi ucapan Ciel. Sebastian ingin Ciel tahu betapa dia tidak tahan berada disini. Tapi dia harus bertahan, demi Ciel juga.
"Apa kau merindukanku?" goda Sebastian. Wajah Ciel langsung saja memerah dan membuang muka dari arah Sebastian.
"Huh... Bukan urusanmu." elak Ciel.
"Benarkah?" tanya Sebastian yang berjalan semakin dekat dengan Ciel dan jarak mereka hanya terpaut 1 meter.
"Hmm... Aku hanya mau tahu... keadaanmu dengan istrimu."'
"Kau sudah tahu kan? Aku tidak pernah berhadapan langsung dengannya."
"Kenapa?"
"Pekerjaan."
Keduanya saling terdiam, membiarkan keheningan yang menemani mereka saat ini. Betapa Ciel maupun Sebastian merindukan saat-saat dimana mereka seperti dulu. Masih berhubungan baik.
Elizabeth's POV
Aku tahu Sebastian akan kesana dan kupikir lebih baik aku pergi. Aku tidak akan mengganggu mereka lagi. Tapi entah kenapa hatiku, terasa sakit.
"Ciel..." gumamku pelan. Ternyata aku berlari cukup jauh dari tempat dimana aku meninggalkan Ciel. Yang kulihat sekarang adalah kebun bunga mini, entah milik Lau nii-san atau Ranmao nee-san.
Aku melangkahkan kaki mendekat pada kebun bunga itu, dan hanya menatap bunga-bunga itu dalam diam. Entah kenapa aku merasa kalau Ciel akan segera jauh dari jangkauanku. Sepertinya Ciel akan meninggalkanku.
"Kalau kau bahagia dengannya, aku akan berusaha bahagia demi kamu." gumamku lagi sambil menatap langit sore.
Normal's POV
"Ciel..." panggil Sebastian.
"Iya?" tanya Ciel.
Sebastian berjalan mendekati Ciel dan membawa Ciel ke dalam pelukannya. Ciel hanya terdiam menerima perlakuan Sebastian itu. Membiarkan memeluknya hingga dia puas.
"I miss you, you know?"
"Benarkah?"
"Benar..."
Lagi-lagi keheningan menyelimuti mereka berdua. Entah kenapa mereka berdua lebih suka keheningan seperti ini. Tapi inilah yang membuat mereka nyaman.
"Kau masih mencintaiku?" tanya Ciel.
"Tentu Ciel. Aku masih mencintaimu." jawab Sebastian.
"Beri aku cinta, agar aku yakin."
"Akan kuberikan apapun yang kau mau."
"Aku..."
Sebastian mencium kening Ciel dengan lembut, ditatapnya mata birunya itu lekat-lekat. Seolah sedang terhisap ke dalamnya.
"Aku janji," ujar Sebastian. "Aku akan segera melepaskan diri darinya."
"Kutunggu sampai saatnya tiba. Kau tahu hidupku suram kalau kamu jauh dariku." ujar Ciel pelan.
"Hahaha... Kamu memang mencintaiku Ciel."
Wajah Ciel langsung memerah, bahkan dia memukul pelan dada bidang Sebastian itu. Sebastian hanya tertawa kecil karena tingkah Ciel.
Di saat mereka berdua sedang bersama tampak sosok Lau dan Ranmao yang berada di belakang tembok. Mereka memperhatikan Ciel dan Sebastian.
"Wah Ranmao... Sebastian ternyata mencintai Ciel." ujar Lau sambil berbisik. Tapi Ranmao tidak menanggapinya dengan serius, ditatapnya sosok Sebastian yang bahagia dengan Ciel disana.
'Aku memang tidak bisa membahagiakannya.' batin Ranmao.
TBC
A/N: Akhirnya bisa juga update. Gomen kalau kurang panjang atau ceritanya kecepatan atau apa.
hehe...^^
Ditunggu reviewnya..^^
