A/N: Makasih buat review dari teman-teman.
Aku tahu makin chap bertambah ceritanya makin kecepetan, aku nyadar kok.
Dan dengan keputusan author yang seenaknya ini, ini adalah chap terakhir.
Apakah makin cepet alurnya atau apa semuanya tergantung kalian.
Yang pasti aku pengen cerita cepet selesai, namanya juga dah gak ada lagi inti cerita di otak (bener-bener blank).
Met baca...
When I Met Devil
Normal's POV
Sosok Ranmao dan Lau yang mengintip Ciel juga Sebastian hanya memandang mereka. Saat Lau sedang asyik menguping pembicaraan lebih lanjut sosok Ranmao sudah tidak ada di belakangnya.
"Lho? Ranmao?" gumam Lau bingung menyadari sosok Ranmao yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya. "Apa dia pergi?"
.
.
.
Sedangkan Ciel dan Sebastian masih melepas rindu diantara mereka, mulai dari ngobrol biasa dan masih banyak lagi. Tapi tentu tidak lama karena masih banyak yang harus mereka lakukan.
"Ciel, hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih kau mau datang." ujar Sebastian.
"Sama-sama. Lain kali aku kemari." ujar Ciel sambil tersenyum.
"Tidak ada lain kali kan? Aku akan secepatnya pergi dari sini."
"Oh ya... Hehe..."
Saat mereka berdua asyik ngobrol muncullah sosok Lizzy yang berada tidak jauh dari mereka.
"Ciel..." panggil Lizzy dan mereka berdua menoleh.
"Ah... Lizzy. Kau darimana?" tanya Ciel.
Lizzy tidak menjawab pertanyaan Ciel, hanya tersenyum tipis. Ciel sedikit bingung melihat temannya yang biasanya berwajah ceria jadi sedikit sedih seperti itu. Tapi Ciel tidak ada niat menanyakan hal itu.
"Ayo kita pulang Ciel." ujar Lizzy.
"Iya." ujar Ciel dan dia melambaikan tangan ke arah Sebastian, dibalas juga olehnya. Lalu mereka berdua segera pergi meninggalkan Sebastian juga mansion itu dan menuju mobil Lizzy.
'Sampai nanti Ciel.' gumam Sebastian sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
Elizabeth's POV
Aku kembali melihat wajah bahagia Ciel. Aku sangat menantikannya tapi aku juga merasa takut, takut kehilangan orang yang kusayangi. Bersamaku dia tidak pernah tersenyum tulus, hanya senyuman tipis dan sikap berusaha tegarnya saja sudah membuatku senang. Apakah aku dan Sebastian berbeda? Ya, kami jauh berbeda.
"Kau melamunkan apa Lizzy?" suara Ciel terdengar sedikit khawatir. Aku langsung memalingkan wajahku dari melihat jalanan dan melihat wajah Ciel. Wajahnya terlihat cemas, ya ampun tampaknya sekarang berbalik jadi dia yang mencemaskan aku.
"Tidak ada." ujarku singkat.
"Tidak seperti kamu saja," ujar Ciel. "Kamu kan selalu bersemangat dan selalu mendukungku."
"Kadang orang juga akan jatuh dalam kesedihan, Ciel."
Suasana langsung hening, Ciel hanya menatapku tajam tapi tidak kuhiraukan dirinya. Kubiarkan mata birunya itu memandang heran diriku sampai puas. Aku tidak peduli. Entah kenapa aku merasa sakit jika Ciel dekat dengan Sebastian. Aku masih belum bisa menerimanya.
"Tapi mereka bisa bangkit kan?" ujar Ciel tiba-tiba. "Aku yakin."
Dan kami berdua tetap saja terdiam hingga aku selesai mengantar Ciel ke rumahnya. Aku berharap hari esok cepat tiba.
Sebastian's POV
Hari ini cukup menyenangkan bagiku, bertemu Ciel seperti ini adalah momen yang langka. Aku terlalu disibukkan dengan pekerjaan disini. Aku tahu aku telah berjanji pada Ciel akan secepatnya pergi dari sini?
Masalahnya adalah bagaimana?
Cepat atau lambat orangtuaku akan tahu aku meninggalkan Ranmao. Ah, Ranmao juga. Terlalu banyak halangan bagiku untuk lepas dari sini. Kulihat tumpukan dokumen yang serasa tidak ada habisnya itu dengan malas. Ah... ingin rasanya aku membakar semua dokumen itu.
'Tok, tok'
Pintu ruangan kerjaku diketuk seseorang, tapi tidak kuhiarukan. Dan muncullah sosok yang terlintas di pikiranku, Ranmao. Dia datang dengan wajah datarnya yang seperti biasa, tanpa bicara apa-apa dia langsung menaruh sebuah amplop putih di atas mejaku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Kau akan tahu," jawabnya pelan. "Kamu cukup tanda tangan saja dan beres." Ranmao berjalan meninggalkanku sendiri, tapi aku menghentikannya.
"Memangnya apa ini? Kenapa kau selalu bertindak seenaknya?"
Ranmao terhenti mendengar ucapanku dan berbalik arah melihatku, dia tetap saja berwajah datar. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia pikirkan, terlalu misterius.
"Kau akan suka apa yang kulakukan." ujarnya datar.
Aku terdiam sejenak, kulihat wajahnya yang masih datar itu. Aku hanya bisa menghela nafas saja dan mengalihkan pandanganku darinya.
"Hah... Terserah kamu sajalah..." ujarku.
Ranmao langsung berjalan dan meninggalkanku sendiri di ruang kerja. Kulirik amplop putih yang diberikannya, aku langsung mengambil amplop itu dan melihatnya baik-baik.
"Memang isinya apa?" gumamku.
Kubuka ujung amplop itu dan mengambil isinya, secarik kertas. Well, bukan secarik kertas biasa karena begitu mataku melihat isi kertas itu aku terkejut bukan main.
"Surat cerai?" tanyaku heran.
Isi amplop itu adalah surat cerai yang sudah ditanda tangani olehnya dan seseorang yang menjadi saksi. Aku melihat hanya namaku yang belum ditanda tangani, kubaca surat itu perlahan.
"Jadi ini maksudnya..." gumamku sambil melihat surat itu.
Aku mengambil pulpen yang berada di meja dan langsung menanda tangani surat itu. Setelah selesai aku merasa puas, setidaknya. Tiba-tiba ada yang masuk ke ruang kerjaku.
"Lau?" ujarku.
"Hai Sebastian, Ranmao sudah menyerahkan surat itu?" tanya Lau langsung. Aku memberikan surat itu padanya.
"Sudah kutanda tangani. Beres kan?"
Lau hanya menerima surat itu dan memandang wajahku sama datarnya dengan Ranmao. Aku kadang heran dengan mereka berdua.
"Kau bisa pergi kan kalau begini?" tanya Lau. "Mungkin kau tidak tahu yang akan terluka siapa."
"Ma... maksudmu?" tanyaku.
"Tentu saja Ranmao. Tapi sepertinya dia tidak memusingkannya, adikku hebat." Lau berjalan meninggalkanku sendiri di ruang kerja. Aku hanya termenung sebentar. Meski aku tidak mengerti sama sekali tentang Ranmao, tapi cewek mana yang tidak akan sakit jika pemuda yang disayanginya mencintai pria lain.
Aku keluar dari ruanganku dan segera menuju kamarku. Di kamar aku melihat sosok Ranmao yang sedang beres-beres. Tapi aku sedikit terkejut dia membereskan baju-bajuku.
"Kenapa kamu bereskan bajuku?" tanyaku.
"Kamu mau pergi kan." ujar Ranmao cuek.
"Tidak harus sekarang kan?"
"Lebih baik sekarang. Kamu juga masih bisa bekerja disini kok, akan kuyakinkan kedua orangtuaku."
Aku hanya memandang gadis ini, gadis yang mau berkorban demi aku. Dia, untuk sesaat aku merasa tidak menyesal juga pernah bersama dengannya.
"Terima kasih." ujarku tiba-tiba.
"Sama-sama." ujar Ranmao yang berjalan pergi meninggalkanku di kamar sendiri. Kulirik koper yang berisi bajuku dan segera pergi dari rumah itu. Aku ingin menginap di hotel dekat-dekat sini saja, agar bisa kesini untuk kerja lain kali.
"Selamat tinggal, Sebastian..."
Ciel's POV
Hari ini sudah pagi dan untuk hari ini tampaknya aku lebih bersemangat dari biasanya. Aku langsung bergegas menuju sekolah. Sudah lama aku merindukan saat-saat seperti ini, saat dimana aku bisa menikmati sekolah dengan tenang.
"Pagi..." seruku ketika sudah berada di depan pintu kelas.
"CIEL!" jerit seseorang yang langsung memelukku dari belakang. Aku terlonjak kaget dan melihat ke belakang.
"Alois, kau membuatku kaget."
"Hahaha... Sudah lama aku tidak seperti ini." ujar Alois sambil tersenyum, entah senyum atau seringai. Tapi yang pasti aku melepas pelukannya itu dariku.
"Permisi..." terdengar suara Elizabeth di belakang kami dan kami berdua langsung menoleh ke arahnya. Ternyata memang Lizzy. Kulihat dia hari ini tampak berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Li... Lizzy..." ujarku sedikit terbata. "Silakan."
"Hari ini kamu suram banget ya, Elizabeth." ujar Alois sedikit menyindir. Tapi aneh tidak seperti biasanya Lizzy tidak melawan kata-kata Alois, biasanya akan ada pertengkaran diantara mereka tapi hari ini tidak.
"Tidak ada hubungannya denganmu kan, Alois." ujar Lizzy datar.
Aku dan Alois terbengong-bengong melihat tingkah Lizzy yang sangat berbeda itu. Tapi tampaknya Alois cuek-cuek saja dan segera masuk ke kelas, aku juga langsung masuk.
'Lizzy hari ini aneh.' gumamku.
Normal's POV
Jam pulang sekolah juga terasa sangat cepat. Dan semua murid bergegas pulang, begitu pula Ciel dan yang lainnya. Saat Ciel sedang beres-beres buku, sosok Lizzy hanya memandangnya sekilas. Tampak menyedihkan.
'Kamu memang tidak akan menyadari perasaanku Ciel.' batin Lizzy.
"Ciel, kamu mau pulang bareng tidak?" tanya Alois tiba-tiba yang sudah berada di samping Ciel.
"Arah rumahmu dan rumahku kan beda. Tidak deh." jawab Ciel.
"Hahaha... Baiklah..."
Ciel segera pergi dari kelas tapi berhenti tepat di hadapan Lizzy. Ditatapnya wajah Lizzy itu. Lizzy tampak sedikit menghindari tatapan Ciel, tapi Ciel segera menyentuh dagu Lizzy dan memintana bertatapan dengannya.
"Tatap aku Lizzy, kamu kenapa?" tanya Ciel.
"Tidak ada hubungannya kan?" ujar Lizzy.
"Tapi..."
"Aku..." Lizzy terdiam sejenak dan langsung tersenyum, tampak ceria seperti biasa. "Aku tidak apa-apa Ciel, sampai jumpa."
Lizzy segera mendorong Ciel keluar kelas dan Ciel meninggalkan Lizzy juga Alois di dalam kelas. Lizzy yang tampak ceria kembali murung lagi, wajahnya sangat sedih.
"Kamu pura-pura kan?" tanya Alois tiba-tiba.
"Eh?" Lizzy bingung dengan ucapan Alois.
"Aku tanya kamu pura-pura agar Ciel tidak khawatir ya?"
"Iya..."
Suasana terasa hening sejenak, tidak ada yang berbicara diantara mereka. Tampaknya semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kalau kamu tidak sanggup pura-pura, jangan berubah ceria tiba-tiba dong. Aneh tahu." ujar Alois cuek.
"Haha... Aku tahu aku tidak bisa membohonginya." ujar Lizzy pelan, suaranya terdengar sedikit tertahan. Alois melihat ke arah Lizzy dan Lizzy sedang menangis.
"Hei, kenapa kamu nangis?" tanya Alois.
"Habisnya... Ciel, dia memilih orang lain. Aku..." ujar Lizzy sambil terisak-isak.
"Kalau kamu memang mencintainya ya relakan saja."
"Eh?"
"Katanya kalau cinta sejati itu kita akan bahagia ketika orang yang kita sayangi bahagia, meski dia bahagia bukan dengan kita."
"Hahaha... Sejak kapan kamu jadi bijak begini?" tanya Lizzy sambil berusaha menghapus air matanya. Alois tidak menjawab dan langsung mendekati Lizzy, diberikannya sapu tangan miliknya.
"Setidaknya hapus air matamu itu." ujar Alois sambil memberikan sapu tangan pada Lizzy.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
.
.
.
Ciel yang sudah berada di dekat pohon itu segera berjalan pulang menuju rumahnya, tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang berada di dekat pohon sakura itu.
"Sebastian..." gumam Ciel.
"Hai Ciel." ujar Sebastian ramah.
"Kenapa kamu?"
"Aku sudah lepas darinya."
"Eh?"
"Akhirnya aku lepas darinya."
"Benarkah?"
"Tentu."
Sebastian langsung memeluk Ciel, membawanya ke dalam pelukan hangatnya itu. Ciel juga tidak melawan tindakan Sebastian itu. Padahal baru kemarin mereka berpelukan hangat seperti ini, tapi terasa seperti berapa tahun tidak berpelukan.
Masing-masing dari mereka tidak ingin melepaskan pelukan itu. Seolah-olah hanya ada mereka di tempat itu, menciptakan dunia mereka sendiri.
"Sampai kapan kau mau memelukku?" tanya Sebastian.
"Sampai puas." jawab Ciel dan Sebastian hanya memperat pelukan mereka, tapi tidak lama dilepas pelukan itu.
"Hari ini cukup ya, Ciel." ujar Sebastian.
"Eh?" tanya Ciel heran. "Kau mau kemana?"
"Meski sudah pisah tetap saja aku kerja disana. Ranmao yang memintanya."
"Oh begitu..."
Suasana tiba-tiba hening sejenak. Hanya semilir angin yang terasa diantara mereka berdua, sungguh menenangkan. Sebastian kembali mendekati Ciel dan memberikan ciuman kilatnya itu, cukup membuat Ciel terkejut. Wajah Ciel terlihat malu-malu begitu, membuat Sebastian senang melihatnya.
"Hahaha... Sampai nanti Ciel." pamit Sebastian yang langsung menuju mobilnya dan segera masuk. Tapi belum sempat ditutup pintunya Ciel mendekat ke arah Sebastian dan mencium bibirnya, tampaknya Ciel belum puas jika dicium kilat seperti itu.
Sebastian cukup terkejut dengan tindakan Ciel itu, tapi dia merasa senang. Senang, karena Ciel yang memiliki inisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu. Dibalasnya ciuman Ciel juga dan Sebastian langsung memeluk Ciel dan membawanya masuk ke mobil.
Tampaknya di mobil mereka lebih leluasa berciuman. Sebastian mencium Ciel dengan lembut, merasakan nikmatnya di tiap senti bibir Ciel. Terus dan terus seperti itu hingga sekitar 15 menit mereka berciuman dan Ciel melepaskan ciuman itu. Berusaha menghirup oksigen yang terambil, Sebastian hanya tersenyum saja.
"Sudah puas sekarang?" tanya Sebastian.
"Huh... Iya, iya." jawab Ciel cepat sambil memalingkan wajahnya dari Sebastian. Wajahnya masih saja memerah dan Sebastian hanya menyeringai senang.
Dan tidak Ciel duga Sebastian kembali membawa Ciel ke dalam pelukannya dan mencium bibir Ciel, tidak terlalu lama tapi cukup membuat Ciel kembali merasa deg-degan.
"Sampai nanti Ciel." ujar Sebastian dan Ciel segera keluar dari mobil itu.
"Sampai nanti." ujar Ciel.
Sebastian langsung menutup pintu mobilnya itu dan melajukan mobilnya hingga sosoknya tidak terlihat lagi oleh Ciel. Ciel hanya memandang mobil itu sambil tersenyum.
'Ternyata ketika bertemu iblis hidupku dipermainkan. Tapi aku suka permainan yang seperti ini.' batin Ciel.
The End
A/N: Ah... Lagi-lagi fic ini hadir dengan alur yang cepat.
Kenapa? Karena aku mau fic ini cepat selesai.
Fic ini kayak proyek gagal ya? Alur cerita terlalu cepat.
Tapi doakan saja semoga untuk fic berikutnya aku bisa bikin yang lebih bagus lagi.
Terima kasih buat dukungan dan review teman-teman selama ini.
