The Next Hunt
Yosh! Lanjut ke chapter 2! Apa, ya? Author lagi gak punya kata-kata pembuka.
Disclaimer: Author gak pernah ngeklaim Sasuke sebagai miliknya. Author kan anak baik… semua karakter ini miliknya Kishimoto-sensei. Tapi fic-nya tetep punya Author lah ya.
Sekian saja sambutan dari Author. Ya udah, bubar semua!!!
Readers : ?????
Author : Ah, maksud saya, silahkan dibaca. Hayo, baca..baca!! Saya mau nglanjutin ndonlod RH Plus dari yutub. Gyahahahaha……!!!!
Readers : *mundur ketakutan*
Chapter 2
Sementara itu, tim Tercekek-cekek sudah kembali ke markas. Setelah menyerahkan hasil rekaman dan maksa minta gaji, mereka bertiga langsung melesat ke kantin terdekat.
"Mie ayam ma es teh!!!" tereak Madara.
"Kenapa loe pesen menu standarnya Author?" komentar Deida. "Pelayan!! Siomay ma es jeruk!!"
"Itu mah menunya Author juga." Protes Madara.
"Ah, banyak bacot kalian." Sambar si kameramen. "Waiter!! Bakso keju plus es cendol tape item!"
Si pelayan langsung menyahut dari pantry-nya yang berjarak 50 meter dari TKP. "Di sini kagak jualan yang kayak begituan!!"
Si kameramen yang udah ngidam bakso keju langsung nginyem.
"Ya udah. Mie bakso ma aisu kohii aja." Putusnya.
"Itu mah menunya Author juga!!" tereak Madara dan Deida kompak.
Dan pertengkaran gaje yang gak penting pun dimulai.
Karena mereka bertiga adu bacot dengan suara stereo, tak heran kalo pengunjung laen pada ngelirik mereka dengan tatapan ilfil.
Akhirnya, lima belas menit kemudian, pelayan pun tampak berjalan dengan membawa piring bertumpuk-tumpuk di tangannya. Madara mulai ngerasa ada yang salah.
Sang pelayan pun akhirnya sampai di meja mereka. Dengan nafas ngos-ngosan, ia segera meletakkan piring-piring di atas meja.
Ketiga anggota Tim Tercekek-cekek itu saling lirik begitu ngeliat makanan di hadapan mereka. Rendang, gulai, dendeng balado, dan berbagai makanan laen yang jelas-jelas bukan menunya Author, mengingat makanan-makanan itu pedes semua.
"He?" mereka bertiga ngelirik si pelayan dengan ekspresi ini-kan-bukan-pesanan-kami.
"Pesanan anda bertiga tidak tersedia." Si pelayan menanggapi dengan suara yang mirip operator provider pulsa. "Mie bakso dan sebangsanya tu otoritas kafe sebelah."
"Hah? Terus di sini jualan apa?" tanya kameramen.
Si pelayan langsung nunjuk ke papan nama restoran yang bertuliskan MENTARI PAGI.
"What the heck with Mentari Pagi?" tanya Madara.
"Jangan-jangan…jangan-jangan ini…." Deida dan kameramen berpandangan. Tumben mereka kompak.
"Rumah makan Padang milik temannya Author?" desis kameramen.
"Yak!! Tepat sekali!!" si pelayan mengacungkan jempolnya. "Dan saya gak peduli kalian mau makan apa. Pokoke kalian udah masuk ke sini, jadi kalian otomatis harus makan semua makanan ini. Dan tentu saja kalian harus membayar. Gyahaha….!!!!"
Setelah itu, ia melesat pergi lagi, meninggalkan Tim Tercekek-cekek yang cengok dengan muka putih pucet.
Dengan muka gak rela, mereka bertiga pun makan.
"Enak sih enak, tapi ini ngabisin jatah uang makan selama seminggu." Ratap Deida.
"Pedes…" kameramen tampak menderita. Rupanya kemampuannya menahan rasa pedas masih di bawah levelnya Author.
"Gue belum pernah makan masakan Padang." Cuma Madara aja yang semangat. "Ini…makanan apa ini? Benar-benar langka…" Madara nunjuk satu piring.
Dengan segera Deida ma Kameramen ngejitak kepala Madara.
"ITU MAH DAUN SINGKONG REBUS DOANG!!" tereak mereka.
"Gue kan gak tau daun singkong tu apaan!" Madara bales ngejitak kedua rekannya. "Loe kagak tau kalo gue ini besarnya di mana?"
"Loe kan satu TK sama gue!" bentak Deida.
"Jangan boong loe! Emangnya loe pernah TK?"
"Halah. Dulu yang loe mintain makan siang tu kalo bukan gue siapa lagi?"
"Banyak dong. Budi, Danu, Michael, Hyun-ae, Pedrosa, Hatori, Paijo…"
"Hah? Ketahuan banget kalo loe tu gak modal!"
"WOI!! Ajak gue bertengkar juga dong!!" kameramen menggebrak meja, campuran antara esmosi ma kepedesan. "Mentang-mentang cuma gue yang manusia biasa dan bukan ninja, kalian malah mesra-mesraan berdua kayak gitu!!"
"Hah?" Madara dan Deida cengok.
"Kita tadi kan ngomongin daun singkong! Ngapain sampe Paijo segala??"
Pengunjung laen pun tambah ilfil sama mereka.
Tengah mereka asyik makan sembari saling teriak, ngejitak, nyambit, njegal, tackling, upper-cut, jab, serve, tendangan sudut, lemparan ke dalam, dan lain-lain, muncullah sesosok manusia (or something) yang mereka kenal.
"Oh, Pak Produser." Sapa Madara.
"Silahkan pesen pak." Deida malah sibuk dengan paru goreng di tangannya.
"Tu mejanya ada yang kosong, pak." Kameramen nunjuk meja yang berjarak 15,736 meter dari mereka.
Dasar anak buah kurang ajar. Bosnya datang, bukannya suruh duduk kek, ditawarin makan kek… Ngeliatin aja pada males. Batin sang produser.
Jelas aja mereka males. Soalnya setiap memandang wajah sang produser, mereka teringat dengan honor 3 taon yang belum juga dibayar-bayar.
"Saya ke sini bukan untuk minta ditraktir or minta makan." Ucap pak Produser.
"Oh, begitu. Kalo gitu silahkan duduk, pak." Balas Madara.
Sang produser pun duduk dengan muka gak enak.
"Jadi langsung aja. Saya sudah liat hasil rekaman kalian. Dan sepertinya kali ini ratingnya akan tinggi."
"Hontou ka?" ketiganya melongo.
"Masa ada orang yang suka sama acara ancur kayak gitu?" Madara gak percaya.
"Tapi ada satu masalah. Yaitu… HEH!! KALO BOS LAGI NGOMONG DENGERIN DULU NAPA!!" bentak sang produser emosi. Ternyata ketiga anak buahnya kembali sibuk dengan makan masing-masing.
"Abisnya, ini 'kan makanan yang cukup menguras duit dan air mata, Pak. Jadi harus dihayati." Deida ngeles.
"Ya udah." Sang produser menghela nafas, sok bijak. "Jadi begini, di bagian akhir rekaman tu sepertinya ada yang aneh. Kalian dikejar ma si target atau gimana..gitu."
"Ya, Pak. Emang ada orang aneh yang ngejar-ngejar kita." Jawab Kameramen sembari menenggak es moccalatte-nya.
Tunggu, ini kan restoran Padang?? Ah udahlah.
"Dan dia mau minta bantuan kita buat nyariin seseorang." Tambah Deida.
"TERUS KENAPA DITOLAK?!!!" bentak sang produser. Madara dan kedua rekannya langsung keselek saking kagetnya.
Sang produser berdiri. "Naluri saya sebagai produser mengatakan bahwa dia akan menaikkan rating kita."
"Kenapa?" tanya ketiganya seraya tetep meneruskan makan.
"Mainly because of his appearance." Jawab sang produser sok Inggris. "Basically because of his appearance."
"Appereance only." Gumam si kameramen.
"Kenapa rasanya kayak dialog di dorama apaaa gitu, ya?" bisik Deida. *hayo, ada yang tau?*
"Pokoke," sang produser menyambar. "Kalian harus menerima permintaan orang tersebut. Dia keren, pasti banyak penonton cewek yang suka. Apalagi para fujoshi. Ini bisa mendongkrak kepopuleran Tercekek-cekek. Demi rating kita. Demi duit saya..eh duit kita!!"
"Tapi—"
"Gak ada tapi-tapi. Keputusan produser bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat. Dan tidak diadakan surat-menyurat!" potong produser.
"Tapi—"
"Yuk dadah babay..!!!" sang produser langsung melesat pergi.
"Blah! Dasar mata duitan! Gak tau apa kalo kita sengsara." Gerutu Madara.
"Kalo bagi dia, duit mah segalanya." Komentar sang kameramen.
"Mana dendeng balado gue diambil lagi!" sungut Deida bete. "Ngambil kok ya yang paling mahal."
Ternyata saat melesat pergi tadi, sang produser juga menyambar dendeng balado di atas meja.
"Makanan gratis..!!" dari kejauhan, sang produser berseru girang.
Yah, Kakuzu memang tetaplah Kakuzu.
***
Keesokan harinya, ketiga rekan senasib sependeritaan itu pun menghadap sang produser alias Kakuzu. Mereka mau menyatakan resign dari dunia percekekan *halah*. Maksudnya, mereka mau mundur dari acara Tercekek-cekek.
"Kenapa kalian gak mau?" Kakuzu tetep sibuk ngitung duitnya.
Deida maju duluan. "Jadi ceritanya begini, pak. Kami kudu pulang kampung."
"Kenapa?" sekarang, Kakuzu mecah celengan dan ngitung recehan di dalamnya.
"Ano… Mommy saya di kampung tu protes. Dia gak suka anaknya ganti-ganti nama setelah jadi artis."
Kakuzu mendongak. Deida udah siap-siap ngadepin bosnya. Tapi ternyata Kakuzu cuma mau nyalain lampu biar bisa ngitung recehan lebih teliti.
"Ya gampanglah. Terserah kamu mau pake nama lengkap Deidara Hadiningrat Mangkubumi Prawiroutomo ato pake nama Dei-chan. Sak-sakmu." Tanggap Kakuzu sembari ngitung jumlah kartu ATM-nya.
Deida langsung ber-what the ria.
Madara nggeser Deida, alias Deidara, alias Dei-chan. "Pak, saya juga harus pulang kampung."
"Emangnya ada apa?" Kakuzu meneruskan menghitung angka-angka di buku utangnya. Maklumlah, pekerjaan sampingannya emang jadi rentenir dan tukang kredit panci.
"Saya…saya mau nyari akta kelahiran saya. Saya pengen tau siap sebenarnya bapak saya. Apakah Madara ataukah Sasori…Ato jangan-jangan si Abadi itu.."
"Gak penting banget sih." Kakuzu nutup buku utangnya, lalu ganti ngitung koin-koin hasil ngamennya tadi siang.
Ini Produser apa Mister Crab, seh? Batin ketiga anak buahnya.
Tiba-tiba Kakuzu mendongak dan menatap kameramen. "Lah, terus kamu? Ada masalah apa?"
"Saya mau pulang kampung, karena kedua presenter saya juga pulang kampung." Kameramen mengeluarkan alasannya yang paling gak jelas.
"Halah, itu seh gampang. Ntar tinggal nyari presenter laen."
Madara dan Deida saling berpandangan. "Berarti, kita boleh pulang kampung?"
"No problemo." Kakuzu ngitung kupon-kupon diskon. "Emangnya presenter cuma kalian doang?"
"YEAH!! FREEDOM!!! YES WE CAN!!!" Madara dan Deida tereak-tereak gak jelas. Tinggal si kameramen yang jiper.
"Sa..saya gimana?"
"Loe tetep di sini!" Kakuzu neliti brosur-brosur promo supermarket yang baru dibuka.
"Makanya cari alasan tu yang jenius dikit!" dengan kejam Deida ngehina si kameramen.
"Ayo kita pergi!" ajak Madara tanpa perasaan.
"Ayo!!! Gyahaha!!!"
Sang kameramen pun hanya bisa meratapi nasibnya.
***
Keesokan harinya, Kakuzu pun segera melancarkan niatnya.
Ia segera mendatangi calon presenter yang sesuai dengan kriterianya. Adapun kriteria yang ditentukan olehnya itu adalah sebagaimana tercantum di bawah ini *halah*:
Mau bekerja keras
Mau dibayar murah
Makan dan uang saku bawa sendiri
Target pertamanya adalah temen deketnya sendiri, Hidan. Agar menghemat waktu dan tenaga Author, maka adegannya dipercepat saja.
"Jadi bla-bla-bla…" Kakuzu mengakhiri ceritanya.
"Maap, gue gak bisa." Tolak Hidan dengan singkat, padat, dan bikin kecewa.
"Kenapa?"
"Soalnya, menurut hasil konsultasi gue dari REG spasi JASHIN, katanya gue gak cocok jadi artis."
Sebenernya emang iya, batin Kakuzu. Tapi gue kepaksa.
"Terus loe cocoknya kerja apaan?"
"Katanya gue cocoknya kerja di air."
"Hah? Itu kan lahan kerjanya Kisame?!" Kakuzu shock.
"Mana gue peduli. Dan hasilnya, gue sekarang emang udah sukses. Gyahaha!!" Hidan ketawa-ketawa sendiri.
Kakuzu bengong, "Lah, terus apa kerjaan loe? Di sini kan gak ada laut. Ato loe jadi pengusaha kolam renang?"
"Heh! Udahlah, jangan banyak tanya. Ini juga gue mo berangkat kerja. Loe pulang aja, ya? Jangan makan siang di rumah gue."
Blah, kok dia bisa tau kalo gue mau numpang makan siang di sini? Batin Kakuzu.
"Iya, iya. Tapi sebenarnya kerja loe tuh apaan seh?" Kakuzu penasaran.
"Kalo gitu ayo ikut gue." Hidan bergegas keluar.
Saat Kakuzu menyusul keluar, Hidan sudah bersiaga mendorong gerobak.
"Loe mau ngapain?" tanya Kakuzu bingung.
"Kerja."
"Katanya kerja di air??"
"Ya ini gue jualan es condol. Kan ada airnya juga."
……………………………………………
…………………………………………..
Kakuzu serasa diterpa badai salju nan dahsyat. "Hah?"
"Ah, loe pasti mau minta gratisan, kan? Gue pergi aja kalo gitu!" Hidan langsung melaju mendorong gerobaknya dengan profesional. Kakuzu cuma bisa melongo.
"Untung gue bukan pengikut Jashin." Kakuzu langsung sujud syukur.
***
Target ke dua Kakuzu adalah Tobi. Kakuzu berharap anak baik ini bisa menurut, en ngasih dia makan siang gratis. Akhirnya setelah tersesat ke tujuh desa dan nanya-nanya orang, ia pun sampai di kediaman Tobi.
Seorang cowok membukakan pintu.
"Tobi?"
"Yes, I am. Anda siapa, ya?"
"Gue Kakuzu. Masak loe gak inget."
"Err…,"
"Wah, gue pangling klo liat loe tanpa topeng begini."
Tobi nggaruk-garuk kepala. "Yah, kan gak lagi tugas. Ntar kalo ada panggilan tugas, topengnya baru dipake."
"Jadi bla-bla-bla," lagi-lagi Kakuzu ngejelasin sembari nahan laper.
"Ah, gue gak bisa." Samber Tobi langsung. Kakuzu langsung patah hati. Soalnya, ini berarti ia gak bisa makan gratis di rumah Tobi.
"Kenapa???"
"Karena gue sibuk membela dunia."
………………………..krik-krik……………………………………………………
Kakuzu butuh lima menit untuk mencerna omongan Tobi. Kenapa anak-anak Akatsuki jadi sedeng semua kayak gini?
Sementara nungguin Kakuzu yang mikir, Tobi rupanya sudah mengambil topengnya dan mengenakannya. Ngeliat topengnya Tobi, Kakuzu langsung shock.
"Mana topeng lollipop kamu, Nak?"
"I'm not into lollipop. It doesn't go with me."
"Ah? Ngomong opo to?"
"Gotta go now. Someone's in danger. Bye!" Tobi langsung nutup pintu, ninggalin Kakuzu yang kelaparan di depan pintu.
Kakuzu ngeliatin Tobi yang langsung manjat dinding rumah tetangganya.
Hah? Manjat dinding?
"Ja…jadi….jati diri Tobi itu adalah……." Kakuzu siap-siap pingsan, "SPIDERMAN???"
*Author ditodong golok ma Toby *
"TUNGGU SEBENTAR. JANGAN PINGSAN DULU." Terdengar sebuah suara yang sangat dikenal oleh Kakuzu.
"Zetsu?!"
Zetsu muncul dari rumpun Petunia di depan rumah Tobi. "Gue udah ngikutin loe sejak tadi. Gue tau loe butuh bantuan."
"Sori. Kalo loe niat mo ngelamar jadi presenter, gue terpaksa nolak."
"Apa?!! Kenapa??" tereak Zetsu lebay. "Gue kan paket two in one. Dua jiwa dalam satu tubuh. Loe dapet dua presenter, tapi cukup bayar honor satu orang."
"Bener juga." Kakuzu nyaris terbujuk. Untung ia segera sadar dengan satu fakta. "Tapi kan loe gak camera-face sama sekali. Ntar penonton gak bisa ngebedain mana background mana presenternya."
JDERRR!!!
Zetsu tersinggung, saudara-saudara! Tanpa pamit dan tanpa pesangon, ia pun langsung lenyap di antara pohon kamboja.
"Kenapa ada pohon kamboja di rumah Spiderman?" Kakuzu terheran-heran.
Teganya kau, Kakuzu. Bukannya mikirin perasaan teman, malah mikirin pohon kamboja.
***
Di tengah rasa laparnya, Kakuzu berpikir serius.
"Siapa lagi, ya? Kisame…yang ada kliennya malah lari ketakutan. Itachi…dia kan yang ntar jadi Target Utama. Btw, temen-temen gue siapa aja sih?"
Setelah berpikir selama dua jam (karena lapar, loadingnya jadi lama), Kakuzu baru teringat kalo masih ada nama yang belum sekalipun disebut dalam fic Author ini.
"Oh, ya! Pein dan Konan!! Mereka pas banget! Gue harus nelpon mereka."
Maka, Kakuzu pun segera nelpon mereka.
Err….ternyata gak ding.
Kakuzu segera nyari orang lewat. Ia berniat untuk minjem hape buat nelpon Pein dan Konan. Modus operandinya tentu saja dengan muka kakek-kakek memelas yang tersesat gak bisa pulang.
"Hai, anak muda yang mirip Koji Seto." Sapa Kakuzu pada seorang korban yang lewat.
Karena ngerasa muda—meskipun gak ngerasa mirip ma Koji-kun—, si calon korban itupun langsung menoleh. "Ya, Mbah?"
"Mbah ini tersesat. Kalo boleh, mbah pinjem hapenya, biar bisa nelpon anak mbah."
"Ya udah, Mbah. Silahkan telpon anaknya." Kata sang korban iba seraya menyerahkan hapenya.
Kakuzu pun segera mencetin nomor HP-nya Pein. Untunglah, berkat kematreannya dan ketekunannya ngitungin duit, otaknya jadi jenius kalo soal nginget angka-angka.
"Moshi-moshi…" terdengar suara Pein.
"Woi! Ini gue, Kakuzu. Gue mau—"
"Gue gak bisa minjemin duit. Yuk, bye-bye!!!" Pein langsung mutus sambungan telponnya.
"Heh, tunggu! Heh!! Pein??? Halo? Halo???"
Ah, coba nelpon Konan, batin Kakuzu.
"Moshi-moshi…"
"Konan?? Ini Kakuzu."
"Mau pinjem duit??"
"Heh? Iya…eh, kagak!! Ini gak ada hubungannya ma minjem duit. Loe dengerin gue dulu."
"Ya?"
"Jadi bla-bla-bla.. Loe bisa kan?"
"Gak."
"WHAT???"
"Soalnya gue ma Pein udah punya kerjaan. Kita berdua jadi presenter acara Masihkah Kau Berutang Padaku. Gajinya lebih tinggi. Kyahahaha….!!!"
Tuuut…tuut…tuut….
Kakuzu cengok. Lagi-lagi gagal…
"Ternyata yang paling irit dan efisien adalah Madara dan Deida. Tapi mereka kan dah gue suruh pulang kampung."
Dengan muka lesu, ia pun melanjutkan perjalanannya seorang diri.
Err… gak juga ding. Di belakangnya, seorang anak muda mengejarnya; si anak muda yang emang muda tapi gak mirip Seto Koji *gak penting*.
"MBAAAH!! BALIKIN HAPE SAYAAAA!!!"
***
Tsutzuku!!
Ah, maap…harus pidato apa ini? *ngos-ngosan abis diuber-uber Spiderman*
Jadi kesimpulannya, proses syuting Tercekek-cekek belum dimulai sampe detik ini. Semua ini gara-gara Kakuzu!
Kakuzu : Apa salah gue hah? Kan eloe yang bikin skenarionya!
Auhtor : Hah? Jadi ini semua adalah salahku?? *ditabok Spiderman*
Sou…. Mengenai chapter depan…
Siapakah yang akan menjadi presenter? Apakah Sasuke akan berhasil menemukan Itachi? Ntar, ya, biar Author mikir dulu. Gyahaha!!! *ketawa gaje*
Deida : Siapakah nama gue chapter depan?
Madara : Siapakah bapak gue sebenarnya?
Kameramen : Apakah yang mau gue tanyakan???
Author : Heh!! Semua entitas gaje harap menyingkir!!
…………………*Fight: Tercekek-cekek Team VS Author*………………………
Ah, maaf atas gangguan di atas. Karena di sini Author adalah penguasa, maka pertarungan sengit ini pun dimenangkan oleh Author. Heheheh…
Review, kritik, duit, dan segala macam hadiah akan diterima dengan senang hati.
Kakuzu : Ternyata kita ini mirip ya.
Author : …. *baru nyadar kalo dirinya mata duitan dan suka gratisan seperti Kakuzu*
