Chapter ini, Author dedikasikan untuk seseorang yang pernah baca fic pertama Author dan ngelakuin 'sesuatu' yang gak Author duga.

Semoga semua pembaca bisa menikmati fic ini *bowing*

Madara: Kenapa Author gaje kita jadi serius kayak gini?

Author :*death glare*

Madara: ah….err….ya udahlah. Mari kita baca aja ficnya…*jiper*

Oh, ya, disclaimernya masih sama, gak berubah. Orang yang namanya selalu disebut dalam setiap fic di fandom Naruto. My sensei, Kishimoto Masashi.

Ah, maap. Jadi serius gini. Ini masih tetep fic humor kok. Read and have fun XDD!!


Chapter 3

Seperti yang telah diungkapken di chapter 2, Kakuzu mumet mikirin siapa yang bisa jadi presenter tim Tercekek-cekek.

Setelah bertapa di ruang tunggu sebuah bank dan melototin tumpukan duit yang fresh dan tebel, akhire Kakuzu bisa menarik suatu kesimpulan.

Ia mengambil hapenya. Dengan berat hati karena gak mau kehilangan pulsa, ia pun terpaksa menelepon si kameramen.

"Moshi-moshi…" terdengar suara si kameramen.

"Kameramen…begini—"

"Pak Produser mau pinjem blekberi saya?" potong si kameramen

"Boleh jug—eh, BUKAN ITU!" Kakuzu nyaris keceplosan. "Begini, setelah dipikir-pikir, ternyata yang paling cocok buat jadi presenternya masih tetep Madara Abadi Sasori dan Deidara."

"Yeah!!" si kameramen berseru girang. "Akhirnya tu dua orang tetep gak bisa terbebas dari penderitaan!!!"

"Ano…karena mereka udah saya suruh pulang kampung, jadi kamu kudu jemput mereka."

"Ng… tapi saya kan gak tau di mana kampungnya mereka."

"Mereka satu kampung kok."

"Iya, tapi kampungnya di mana?"

"Tanya aja deh, sama Authornya."

"Hah? Tapi—"

Kakuzu udah nutup teleponnya. Dia gak mau buang pulsa lebih banyak. Benar-benar hemat. Err…maksudnya, benar-benar pelit.

***

Di rumahnya yang megah dan penuh blekberi, kameramen hanya bisa bengong.

"MANA GUE TAU DI MANA KAMPUNGNYA DEIDARA MA MADARA!!" tereaknya frustasi.

Karena gak rela ngebiarin dua presenternya seneng-seneng di kampung sementara ia harus tetep jadi kerja di Tercekek-cekek, si kameramen pun berusaha nyari lokasi tempat tinggal Deidara en Madara. Ia langsung neliti peta, atlas, serta kliping koran di perpustakaan pribadinya yang terletak di lantai tiga. Tapi gak ada yang labelnya 'kampungnya Deidara' ato 'kampungnya Madara'. Ya jelaslah kagak ada!

"Bahkan di globe pun gak ada!! Jadi mereka tinggal di planet mana???"

Si kameramen pun akhirnya cuma bisa nyalah-nyalahin globe dan peta yang menurutnya gak lengkap. Ketahuan deh kalo si kameramen cuma lulusan playgroup. Tapi untunglah di playgroupnya yang level internasional itu, ia sempat mengambil jurusan Sastra Kamera. Jadi, saat lulus ia sudah menjadi angkatan yang siap kerja.

"Ah, calm down." Si kameramen menghela nafas. "Gue tidur dulu ajalah. Biasanya 'kan si Author sering ngasih wangsit di dalam mimpi."

Si kameramen pun langsung menggelar koran-korannya di lantai buat dipake alas tidur. Tapi baru sedetik ia berbaring, terdengar suara pelayan dari lantai satu yang manggil-manggil dia.

"Tuan Mudaaaa!!! Ada yang nyariin!!!" tereak si pelayan pake toa.

"Shojo apa shonen??" bales si kameramen, pake toa dari kertas koran.

"Shojo!!!"

"Shojo?? Males gue!!!" *what the heck?!*

"…."

"Woi!!! Gue tau di mana kampungnya Madara ma Deidara!!!!" kali ini yang tereak bukanlah si pelayan, melainkan seseorang yang sangat ditunggu-tunggu oleh si kameramen.

Si kameramen mikir sejenak sebelum akhirnya terlonjak kaget. "ASH!!!"

Ia segera melesat ke lift rumahnya untuk turun ke lantai satu. Di ruang tamu, duduklah si Ash yang tengah maen igo sama si pelayan.

"Ash!!" tereak kameramen ceria.

Ash yang lagi mikirin gimana caranya ngeluasin area teritori igonya langsung menoleh. Ia pun ngeliat seorang shonen blasteran Asia-bule yang berlari gaje ke arahnya (keterangan: jarak lift dan sofa ruang tamu adalah sekitar 25 m XD). Ash sontak histeris.

"SHIROTA YUU!!!"

Si pelayan ma kameramen cengok bersamaan.

"Yuu, besok gue anter loe." Kata Ash tanpa mempedulikan muka cengok mereka.

"Siapa itu Yuu?" tanya si pelayan.

"Pokoke besok kita berangkat jam 8. Oke, Yuu?!"

"Yuu siapa??" kameramen ganti bertanya.

"Sekarang loe boleh pergi. Gue mau ngelanjutin maen igo dulu."

Si kameramen langsung ngebejeg-bejeg Ash.

"HEH! Emangnya ini rumah siapa? Ngapain loe nyuruh-nyuruh gue?!"

***

Keesokan harinya, sesuai skenario, mereka pun meuju sebuah kampung nun jauh di sana, yang menurut Author adalah kampung halamannya Deidara dan Madara.

Sesampainya di pintu gerbang desanya Madara dan Deidara, Ash dan Kameramen terpaksa turun dari mobil. Soale, jalan masuk ke desanya itu cuma jalan setapak yang sekelilingnya ditumbuhi kaktus yang penuh ular berbisa.

"Buset…" si kameramen langsung pucet.

Ash cepet-cepet buka buku mantra, nyari mantra-mantra karya JK Rowling yang kira-kira cocok untuk situasi ini.

"Ketemu?" tanya kameramen, ngeliatin Ash yang nampak serius dengan bukunya.

Ash menggeleng. "Gue gak bisa baca huruf Rune kuno."

Kameramen pun langsung ngejitak Ash.

"Ya udahlah, kita jalan aja. Gue gak takut ma ular berbisa." Ash bersikap sok nekat. "Asal loe tau, gue ne udah dua kali disengat kalajengking, ditambah tiga ato empat kali disengat tawon."

"Eloe tinggalnya di mana, sih? Di hutan?" Kameramen sweatdrops. "Lagian, masa kalajengking disamain levelnya sama ular berbisa?"

"Yang penting kan gue udah kebal kalo disengat tawon ma kalajengking."

"Terserah loe, deh."

Akhirnya, dengan penuh keberanian, Ash berlari. Si kameramen pun terpaksa ngikut.

"Eh. Ash…"

"Apaan?"

"Itu…"

"Ular? Gak apa-apa. Paling cuma ngigit, nyemburin bisa, or membelit tubuh. Gak mempan buat gue."

"Bukan ular."

"Then what?"

"Ulet bulu…"

"Hah?" Ash pucet seketika. "MANA??!!"

"Di depan loe. Cuma satu sih—"

"KYAAAAAA!!!" Ash langsung narik tangan si kameramen en melesat dengan kecepatan cahaya.

Hasilnya, dalam tempo 0,34 detik, ia sudah sampai di pemukiman warga.

"Haduh, capek gue…" Ash langsung tepar. "Kalo anaconda, boa, piton, en familinya seh gua gak takut. Tapi kalo ulet bulu….hiiih…"

Cuma gara-gara ulet bulu satu? Pikir si kameramen bingung.

"Ya udah. Ayo buruan cari rumahnya Madara dan Deidara, biar kita bisa cepet-cepet dapet makan siang gratisan." Ucap si kameramen.

Ash setuju. Mereka pun berjalan lagi, nyari orang yang bisa ditanyai.

"Itu ada warung. Tanya ke sana aja." Ajak Ash.

Si kameramen mendahului Ash masuk ke warung makan itu. Begitu ia masuk, pandangan semua orang langsung tertuju padanya.

"Apa karena gue ini selebritis?" kameramen berbisik.

"He? Loe kan posisinya di belakang kamera? Mana mungkin mereka kenal muka loe."

"Bener juga. Tapi, kayaknya mereka bener-bener bengong ngeliatin gue."

"Emang iya, sih. Kok gue jadi merinding, ya?"

"Apa mungkin karena fisik gue yang kawaii, putih, dan tinggi ini?"

Ash sweatsdrop.

Orang-orang yang nongkrong di warung itu, yang tua dan yang muda, shonen-shojo, penjual dan pembeli, bengong semua. Sampe Ash ngerasa kalo ia sedang ada di House of Wax dengan patung-patung lilinnya yang horror banget itu.

"Shitsurei shimasen…" kameramen angkat bicara. "Ada yang tahu di mana rumah De—"

"SHIROTA YUUUUU!!!!!"

"HE?!" si kameramen cengok ngeliat semua orang histeris dan lari gerudukan ke arahnya.

Refleks ia narik Ash untuk melarikan diri dari tempat gaje itu.

Keributan nista pun terjadi. Mereka berdua terpaksa lari keliling kampung untuk menghindari kejaran warga.

"SHIROTA YUUUU!!!"

"Shirota tu siapa seh? Dari tadi shirota-shirota mulu." Gerutu si kameramen.

"Yuu, itu…"

"Yuu siapa?"

"Itu Deidara, Yuu!"

"Siapa Yuu?"

"Halah! Yang penting, ITU DEIDARA!!"

Di sebuah rumah yang berjarak 50 meter dari mereka, Deidara tampak berdiri di depan pintu.

"CEPET MASUK SINI!!!" teriaknya.

Tanpa perlu diteriakin dua kali, Ash dan kameramen pun melesat ke dalam rumah Deidara. Begitu mereka masuk dan nyungsep di ruang tamu, Deidara langsung nutup pintu.

Di luar rumah, warga berdemo dengan begitu dahsyat.

"SHIROTA!!!! YUUU!!!"

"DIEEEMMM!!!" terdengar bentakan Deidara. "KALO KALIAN GAK PULANG SEKARANG, GUE BOM DESA INI!!"

Seluruh warga diam seketika. Meskipun mereka ngefans sama Shirota Yuu, tapi mereka masih rasional dan lebih menyayangi nyawa masing-masing. Dengan kecewa, mereka pun ninggalin rumah Deidara.

Deidara segera masuk ke rumahnya, dan mendapati kedua tamunya udah nongkrong di depan tipi sambil makan sate ayam.

"GYAH!! Makanan gue!!!" jeritnya.

"He? Si Madara yang nyuguhin kok." Tanggap si kameramen santai.

"NAN??!! MADARA?!" Deidara tambah murka. Ia segera melesat ke dapur di mana Madara lagi bikin ginger bread *what the??*.

Ash dan kameramen memilih gak ikut campur dalam pertarungan rumah tangga yang penuh kekerasan dan harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak itu.

Sementara Deidara dan Madara mengobarkan peperangan di dapur, kedua tamu gak tau diri itu malah nerusin makan sate mereka.

***

Malam itu, mereka pun menginap di rumah Deidara.

"Kenapa loe juga ikut nginep?" tanya Deidara ke Madara. "Rumah loe kan deket."

"Hah? Err…ya gak apa-apa dong. Kan gue mau reunian ma kedua kru kita ini. Hehe…" Madara cengengesan.

"Blah! Ya udah. Ntar loe ma kameramen tidur di ruang tamu. Ash boleh ke kamar gue."

Madara en kameramen langsung ngeliatin Ash.

"Kenapa dia malah di kamar loe?" tanya mereka kompak.

"Ya kan kita sama-sama shoj—"


Madara, kameramen, dan Ash bengong bareng-bareng.

Gue keceplosan!! Deidara langsung pucet. "Err…jadi, kalian berdua datang ke sini tu mau ngapain?" ia langsung ngalihin topik.

"Jadi, bla-bla-bla." Kameramen langsung babbling, njelasin maksud kedatangannya.

"Gue gak minat." Jawab Deidara setelah ndengerin si kameramen ngoceh selama lima belas menit.

"Kakuzu janji kalo honornya bakal langsung dibayar." Kameramen gak menyerah, "Selain itu…"

"Apa?"

"Apa kamu sendiri gak ingin nyari Itachi?" si kameramen mulai memprovokasi.

Deidara mikir sejenak. "Un…"

"Emangnya kenapa Dei-chan mesti nyari Itachi?" mendadak, Madara ikut nimbrung.

Si kameramen tersenyum iblis. "Kalo loe penasaran, loe kudu ikut nyari dong. Jadi loe bisa tau apa yang terjadi di antara Deidara dan Itachi."

Ash gak ikut campur. Kayaknya si kameramen sendiri aja udah bisa memanipulasi Deidara dan Madara.

"Un, gue ikut deh…" ucap Deidara. Madara langsung noleh ke arahnya.

"Kalo gitu gue juga ikut." Samber Madara cepat.

"Heheheh…gitu dong." Si kameramen ketawa puas.

"WHAT IS THIS??!!" Ash tiba-tiba tereak.

Ketiga rekannya langsung noleh ke arah Ash yang lagi nge-net pake blekberinya si kameramen.

"Apaan?" si kameramen langsung nyamber tuh blekberi.

"Fanfic…fanfic…" kata Ash gak jelas.

"Hah?"

"Loe tau kan, kalo gue tu jadi Author di ?"

Deidara ngangguk.

"Loe tau kan, kalo gue tu nulis pengalaman gaje kita selama proses pengejaran Sasuke yang buat reality show Tercekek-cekek itu?"

Madara ngangguk.

"Fanficnya gue judulin The Real Reality Show. Tau kan?"

"Perasaan dari tadi loe promo fanfic mulu." Si kameramen mulai angot. "Intinya apaan?"

"Ini…" Ash nunjuk-nunjuk layar blekberi. "Ada yang jiplak fanfic gue!!!"

"Eh? Fanfic loe yang gaje itu?" Madara gak percaya.

"Yang banyak typonya itu?" Deidara ikut-ikutan gak percaya.

"Ada yang minat ngejiplak fic kayak gituan?" si kameramen lebih gak percaya lagi.

"KENAPA KALIAN MALAH NGEHINA FIC GUE HAH??!!!" author siap-siap nglempar blekberi si kameramen. Tapi, emang iya sih kalo fanfic gue itu ancur…., batin Ash.

"Gomen…gomen…" Madara siap-siap buat nangkep blekberi itu. Tapi sayangnya akal sehat Ash membuatnya gak jadi ngelempar blekberi tersebut.

"Kenapa gak jadi dilempar?" Madara kecewa.

"Kalo blekberi ini jatuh ke lantai terus remuk, masih bisa gue benerin pake mantra Reparo. Tapi kalo sampe ketangkep sama loe, gue panggil pake mantra Accio juga kagak bakal bisa balik."

"Cuma perasaan gue ato loe emang nyindir gue?"

"Semuanya benar." Sahut Deidara dan Kameramen kompak.

"Shimatta!" sela Ash sebelum Mafdara sempat melontarkn protes, saran dan kritiknya. "Liat ini, gue bukain profile Authornya, yah. Namanya Zhuge Kenedict." Ucapnya lagi. Ketiga kru Tercekek-cekek ikut-ikutan nontonin layar blekberi si kameramen.

Mendadak Madara tampak shock. Ia nunjuk-nunjuk baris terbawah dari profile Zhuge. "Itu…itu…"

"Yang mana?" tanya Deidara.

"Prinsipnya itu…prinsip hidupnya itu…"

"Kenapa?" Deidara tambah emosi. Ia segera membaca prisip hidup si Zhuge yang berbunyi 'kalo bisa pinjem ngapain beli, dan kalo bisa nyolong ngapain pinjem'

"Heh? Bener-bener prinsip hidup yang gak baik." Komentarnya.

"Bukan itu!" Madara masih shock. "Masak loe kagak inget? Itu kan prinsip hidup gue!"

Ketiga temannya natap Madara bingung.

"Ash, itu kan prinsip hidup gue yang tertuang dalam UUD 45—eh, maksud gue, tertuang dalam fic loe chapter 5, paragraf ke sekian, baris ke sekian!"

Ash nginget-inget sejenak.

"Iya…" Ash ragu-ragu. Yang nulis ficnya siapa, yang lupa siapa.

"Ya gak apa-apa dong, kalo prinsip hidupnya sama." Samber si kameramen.

Ash speechless.

Sementara itu, Deidara masih sibuk menelusuri ficnya si Zhuge.

"Eh, dia juga pake a.k.a Ash, lho." Deidara nunjuk barisan kalimat yang berbunyi "Gue Zhuge. Tapi bisa dipanggil Ash."

Ash esmosi. Ia inget kalo di ficnya, ia nulis kalimat serupa yang berbunyi 'Gue Hazel. Tapi bisa dipanggil Ash.'

"Itu kan nama gue." Ash gak rela. "Ash itu kan panggilan dari Hazel! Zhuge ma Ash kan beda banget!"

"Emangnya nama Ash cuma loe yang punya?" si kameramen nyamber lagi.

"Sebenarnya loe ini ada di pihak siapa seh?" Ash, Deidara, dan Madara rame-rame ngejitak si kameramen.

***

Keesokan harinya, mereka pun masuk ke mobil diiringi oleh warga desa yang emang udah lama gak ngeliat mobil.

"Wah. Senangnya jadi artis." Deidara ketawa-ketiwi gaje.

"Begitulah. Namanya juga orang terkenal." Madara ikut-ikutan nyombong.

Warga yang berkerumun tereak-tereak gak jelas.

"SHIROTA YUUUU!!!!" jerit warga desa.

Kru Tercekek-cekek saling pandang. Gak ada seorang pun yang ngerasa namanya adalah Shirota Yuu.

"Turunkan harga elpiji!!!" tiba-tiba ada yang teriakannya ngaco.

"GUE DIGIGIT ULAAR!!" satu orang lagi berteriak kesakitan. Orang-orang buru-buru nmenolongnya.

"IDEEEEMMM!!!!" ada satu orang lagi yan gteriak karena juga digigit ular. Tapi orang-orang bukannya menolong, malah cuma cengok ndengerin teriakannya yang gak kreatif itu.

"AARGHH!! KAKTUS INI MEMBUNUHKU!!!" yang tereak ini kayaknya adalah tipe manusia lebay.

"SHIROTAAA!!!" ah, akhirnya…

"INI ADA APA TO?!!" yang ini malah cuma ikut-ikutan tanpa tau ada kejadian apa di TKP tersebut.

"GOOOL!!!" Halah. Makin sesat aja!

Sebelum teriakan warga menjadi semakin barbar dan berbuah kerusuhan, mobil kru Tercekek-cekek pun langsung dikebut oleh Ash.

Tiba di kota, tentu saja jalan macet langsung menyambut mereka.

"Gue bilang ma Pak Produser kalo kita mau nyampe lima menit lagi nih." Ucap Kameramen.

"Ya udah. Biar aja dia nunggu. Biar dia tau betapa betenya nunggu itu." tanggap Deidara kejam.

"Bener! Biar dia ngerasain perasaan kita yang nunggu gaji gak dibayar-bayar!!" Madara terprovokasi.

Lima menit kemudian, mobil mereka baru bisa jalan sejauh lima sentimeter.

Dengan kata laen, mereka masih tetap eksis di TKP semula.

Sembari nunggu, Ash ngebuka netbooknya dan mulai online ke internet. Dia ngecek lagi profile-nya si Zhuge.

"Ngapain lagi?" Kameramen ikut-ikutan ngelongok layar netbook Ash.

"Tadi malam gue udah kirim review teguran gitu. Gue pengen liat perkembangannya." Jawab Ash.

Deidara dan Madara ikut-ikutan nimbrung. Tanpa konfirmasi ulang, mereka langsung aja desak-desakan ke jok depan.

"Blah! Kenapa kalian ikut kemari???" Kameramen senewen. Bayangin aja, kursi di jok depan didudukin sama empat manusia dewasa sekaligus.

"Udahlah. Jadi gimana?" Madara cuek.

Ash ngeliatin daftar fic si Zhuge, lalu mengangguk-angguk hepi. "Fic-nya udah dihapus. Fic yang dia jiplak dari temennya temen gue juga udah dihapus."

Deidara yang ikut duduk di jok supir—sampe Ash kudu mepet ke pintu mobil—ngeliatin daftar fic yang laen.

"Un…" ia mengerutkan kening.

"Ada apa?" Madara langsung duduk di kursinya si kameramen.

"Fic yang judulnya Lemon ini…kayaknya gue pernah baca…terus Kejombloan si X ini…kayaknya juga pernah…" Deidara berusaha mengingat-ingat. "Terus, Kisah Nobita di Tiga Kerajaan, Kegajean si X di Sekolah Barunya yang Freak…Si X Lebay…"

"Kenapa? Loe pernah baca semuanya?"

Deidara narik-narik rambut panjangnya. "Yah, kalo gak salah, seh. Kayaknya cuma diganti karakternya doang. Ash, nurut loe gimana?"

Ash yang udah nyaris asma cuma bisa geleng-geleng. "Mungkin. Gue kagak bisa mikir ini. Gue sendiri kayaknya juga pernah baca, sih."

"Baca satu dong." Pinta Madara. "Ituh, yang paling atas. Yang judule Long Hair? Why Not? itu."

Ash gak bisa ngapa-ngapain. Netbooknya udah berpindah tangan ke Deidara. Mau nyabot, dia jiper, takut tangannya dijilat or digigit sama mulut di tangannya Deidara.

"Kalo yang ini sih kayaknya gak njiplak fic kamu, Ash." Komentar Deidara. "Kecuali…."

"Apa?"

"Yah…cuma ada sepotong-sepotong yang kayaknya copy-paste…tapi gak banyak seh."

"Aduh, gue gak tau mesti ngapain lagi." Keluh Ash.

"Dan dia pake nama Ash lagi." Madara ikut-ikutan baca. "Tapi loe gak boleh protes. Loe kan gak bisa ngelarang siapapun pake nama Ash."

Ash terpaksa nahan rasa emosinya. Sabar…sabar…

"Yowis. Sekarang kalian mundur!" bentak kameramen yang dari tadi diem tanpa kata. "Madara! Gue kesemutan tau! Loe gak sadar sejak tadi siapa yang loe dudukin hah?!"

Setelah terlebih dahulu ngejitak kepala kameramen, Madara segera mundur ke jok belakang. Deidara pun ikut beranjak dari jok supir.

Dan sembari mundur, dengan bakanya ia nginjek pedal gas.

BBRRRRRRRRRRRMMMMMM JDHEEEEEEEEEEEEERRRRRRR!!!!!!!!!

Dengan lancar dan selamat, mobil Tercekek-cekek pun meluncur ke depan, menyingkirkan segala penghalang (baca: motor, mobil, bus, palang kereta, truk tronton, dan seterusnya). Menuju ke jalan cahaya ke arah matahari terbenam. Tampaknya Kakuzu tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengan para anak buahnya.

"DEIDARA BAKAAAAAAAAAAAA!!!!!"

***

Tsuzuku lagi

Un, Author bingung harus ngomong apa.

Author sebenarnya tidak ingin menyinggung siapapun. Tapi Author sudah memberi Zhuge teguran, dan ternyata itu belum cukup. Zhuge, Author rasa kamu tahu kenapa Author melakukan hal ini.

Mengenai fic-fic yang Author sebutkan di atas, sepertinya berasal dari fandom Naruto sendiri. Atau mungkin Katekyo Hitman Reborn, atau Tenipuri? Kalau mau, atau kalau kalian ngerasa judul-judul yang Author sebutkan di atas mirip dengan fanfic kalian, silahkan cek saja ficnya Zhuge.

Buat Zhuge…

Author gak mengerti dengan apa yang diharapkan oleh Zhuge. Review? Pujian? Title sebagai 'Author'? Well, kalopun ada review yang banyak, bukankah yang berhak menerimanya adalah penulis aslinya?

Dan mengenai prinsip Zhuge yang sama dengan prinsip hidup Madara…kenapa gak pilih prinsip hidup yang baik aja? Madara kok ditiru *diinjek Madara*

Author berani mengungkap nama Zhuge di sini bukan karena dendam or mau sok pahlawan. To be honest, Author sakit hati pas tau kalo fic Author dijiplak mentah-mentah. Tapi ternyata bukan hanya itu. Zhuge, mengerti kan? Apa sih beratnya menuliskan disclaimer versi kamu sendiri? Joke kamu sendiri?

Author melakukan ini karena Author menghargai para Author lain yang karyanya juga kamu jiplak. Kenapa kamu gak nulis sendiri? Supaya kamu tau gimana rasanya mikirin suatu plot, atau ngerasain suka-dukanya nulis di antara kesibukan tugas-tugas 'dunia nyata'.

Soal kamu yang meng-alias-kan diri sebagai Ash, yah, whatever. Author gak bisa mengklaim nama. I just wanna say, if Ash aka Hazel is totally different from Zhuge aka Ash. Kami bukan orang yang sama, dan gak ada hubungannya sama sekali.

Huff, jadi curhat begini.

Zhuge, ii kouhai ni natte ne!

Buat readers yang laen…maap kalo humornya jadi kurang maksimal.

Chapter depan Author akan kembali fokus ke cerita. Sasuke bakal muncul! Dan pencarian Itachi akan dimulai!

Read and review please…^^