The Next Hunt
Gomen apdetnya telat banget. Author baru saja melalui minggu-minggu penuh prahara, dilema, dan derita *halah, sinetron banget!*. That's why, begitu punya kesempatan istirahat, Author langsung ngetik lagi.
Oh, ya. Hontou hontou arigato buat semua Readers dan Reviewers. Your reviews support me a lot ^^!
Tanpa berpanjang-lebar lagi, marilah kita songsong fanfic ini!*tunjuk tangan ke arah matahari terbenam*
Kishimoto: Heh! Loe lupa disclaimernya!
Author : Oh, iya…biarlah. Dunia udah bosen ngeliat nama sensei. *dibantai*
Chapter 4
Dalam waktu singkat, Tim Tercekek-cekek telah berkumpul kembali. Mereka pun segera mengirim surat pada Sasuke yang menyatakan bahwa permintaannya diterima.
Lima minggu kemudian, surat yang dikirim pake burung tanah liatnya Deidara itu pun nyampe ke rumah Naruto, yang juga merupakan tempat Sasuke numpang hidup gratisan.
Pada saat itu, kedua cowok itu lagi fitness di belakang rumah.
Halah, bo'ong banget. Mereka cuma lagi nimba air.
"Kenapa di rumah loe kagak nyambung ke PDAM seh?" gerutu Sasuke.
"Gue kan gak pernah bayar pajak." Jawab Naruto."Duit dari mana?"
Sasuke terdiam. Bener juga. Kalo di anime en manga, mereka emang bisa hidup dan beli ramen sekalipun tanpa orang tua dan tanpa pekerjaan. Selama ada Kishimoto, soal-soal sepele kayak gitu sih gak perlu dipikir.
Tapi di fanfic gaje ini, logika sangat diperhatikan *logika apanya?*. Kalo kagak kerja ya kagak punya duit. Kalo kagak punya duit ya kagak bisa ke salon. Kalo kagak ke salon, berarti kagak bisa pake make up en bikin haircut yang macem-macem.
Becoz of that, tak heran kalo penampilan Naruto en Sasuke sudah tak bisa dikenali lagi oleh khalayak ramai.
"Mending gue balik ke tempat Orochimaru." Pikir Sasuke. Paling gak, di rumah Orochimaru, ia bisa nebeng make eyeshadownya Orochimaru, untuk menjaga penampilannya tetap emo.
Naruto melirik ke atas dan melihat seekor burung tanah liat berukuran 2x3 meter sedang menukik ke arahnya. Sekalipun terheran-heran ngeliat entitas gaje tersebut, tapi Naruto cukup pintar untuk tahu kalo misalnya burung raksasa itu menimpa kepalanya, maka ia mungkin bisa dikirim ke dunia sono.
"Sasuke! Minggir!"
Sayangnya Sasuke masih ngelamun ke mana-mana.
"Sasuke!" Naruto sudah nyingkir sejauh sepuluh meter. Sementara si burung raksasa sudah siap-siap mendarat.
"Sasu—"
BRRRUUUAAAGGGG!!!
Naruto terpana, lalu histeris.
"SUMURKU SATU-SATUNYAAAA!!!! DI MANA LAGI AKU HARUS NIMBA??!!"
Dengan dramatis, ia pun berlari ke arah sang burung yang telah berjasa menghancurkan sumber mata airnya yang berharga itu.
"Enyahlah kau, burung gak jelas!!" teriaknya seraya mengerahkan kekuatan kyubinya. Sekali tendang, burung itu pun langsung terbang ke angkasa dan tak diketahui kabarnya lagi.
Begitu si burung gaje lenyap, Naruto ngeliat Sasuke yang terkapar di tanah, dengan selembar kertas terbaring..eh, tergeletak di atas tubuhnya.
"Sasuke!Kenapa loe tidur di sini??"
"Gue ketimpa makhluk gaje barusan, tau!" sahut Sasuke.
"Sasuke! Sumur gue hancur!"
Sasuke gak peduli. Ia sibuk membaca kertas peninggalan sang burung tanah liat.
"Tulisannya jelek banget ini." Ia mengerutkan kening. Ia melanjutkan membaca dalam hati. "Yth. Uchiha Sasuke. Langsung saja, permintaan anda untuk mencari Itachi diterima. Datanglah ke kantor tercekek-cekek, paling lambat 20 menit setelah menerima pesan ini.
Ps. Pihak Tercekek-cekek tidak menyediakan konsumsi, jadi kebutuhan makan klien harus ditanggung oleh sang klien sendiri."
Awalnya mata Sasuke berbinar-binar, tapi kemudian ia sadar akan sesuatu.
"NAN??? 20 MENIT?!" tereaknya heboh. "How come??! Gue belum nata rambut, belum pake make up, belum sarapan, belum nyiram tanaman…"
"HWEE!! SUMURKUUUU!!"
"Diem!!" bentak Sasuke. "Orang lagi bingung kok malah berisik aja."
"Loe yang diem!" bales Naruto. "Loe kagak liat sumur gue ancur?"
"Itachi jauh lebih penting daripada sumur!"
Naruto kagak terima. "Dari dulu Itachi ilang, hidup kita gak terganggu apa-apa. Tapi kalo kagak ada sumur, gimana kita bisa mandi, minum, bla-bla-bla (nyebutin 1000 kegunaan air)."
………………………………………
*15 menit kemudian….*
Sasuke kembali tersadar dan histeris.
"Lima menit lagiiiii, AAAAAARRRGGHH!!!!"
Kenapa jadi kerasa kayak lagu dangdut tempo doeloe yang dinyanyiin pake gaya metal, ya?
"….madamin api, ngelarutin cat air, nyuci…" Naruto masih eksis nyebutin kegunaan-kegunaan air.
"Ah! Terserahlah! Kagak perlu make up apa-apa." putus Sasuke tanpa menghiraukan Naruto, "Gimana-gimana gue tetep cool, kok."
Halah, narsisnya ternyata gak ilang-ilang.
Sasuke pun segera berpamitan, "Naruto, gue gak punya waktu lagi. Gue hengkang sekarang!"
"…ngusir semut, bikin es batu, ngebangunin orang…"
WUUUSSHH!! Sasuke pun mengerahkan kemampuan ninjanya untuk melesat secepat Eyeshield21 *ooh, berarti Eyeshield21 lebih cepet daripada Sasuke?? o.O*
"….nyuci mobil, ngisi kolam renang, ngisi akuarium…ehh…"
……………………………………………….siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing……………………………………………………….
Naruto beku di tempat. "Sa-Sasuke?"
Yang ada di hadapan Naruto hanyalah sesosok (??) sumur yang sudah hancur lebur. Sedangkan makhluk keren yang berjudul Sasuke sudah raib.
Untunglah, di saat Naruto kebingungan, Author memberinya ilham *halah*.
"Wah, kertas apa itu?" Narito segera memungut lembaran kertas dari Tim Tercekek-cekek. Ia pun dengan serius segera menelusuri tulisan di kertas itu.
"Sumpeh, tulisannya ancur banget…" gumam Naruto.
5 detik.
10 detik.
1 jam.
"Opo to iki?!" Naruto mulai setres. Ia lupa dengan tragedi sumur tercintanya. Yang kini menyita perhatiannya hanyalah tulisan ancur nan gaje itu.
"Oi, lagi ngapain?" tiba-tiba terdengar suara seorang cameo, Shikamaru.*dibantai Shi-kun*
"Ah. Kebetulan loe ada di sini. Bisa tolong bacain ini? Loe kan tulisannya juga jelek, jadi pasti bisa nebak tulisan yang sama jeleknya."
Loe minta tolong ato mo ngehina, seh? Batin Shikamaru. Kayak tulisan loe bagus aja.
"Ayolah, Shikamaru. Loe kan anak jenius!"
Sebenarnya Shikamaru tidak terpengaruh sama sekali sama segala macam pujian, rayuan, makian, dan lain-lainnya. Author sendiri bingung gimana caranya supaya Shikamaru bersedia mbantuin Naruto *ditimpukin tabung gas*.
Untunglah, saat itu, Shikamaru sedang berbaik hati. Maka, akhirnya ia pun akhirnya penasaran dan mau membantu Naruto. Mukanya yang males dan kagak niat idup itu perlahan-lahan tampak kian burem, alisnya berkerut, matanya menyipit.
8 menit kemudian, wajahnya kembali tampak santai. Naruto udah mau bersorak gembira saat Shikamaru tiba-tiba ngomong dengan gaya males tanpa rasa bersalah;
"Aduh, Naruto. Gue puyeng. Yang gue tahu, ini ada kata Sasuke. Itu aja."
"Berusahalah, Shikamaru!" bujuk Naruto.
"Ah, gue males…"
"Shika—"
Shikamaru malah langsung ngeloyor pergi. Naruto akhirnya membiarkan dia pergi. Soalnya, kalo Shikamaru udah ngomong 'gue males', berarti udah gak bisa diganggu gugat.
"Hei, Naruto!" terdengar suara bersemangat dari cameo 2, Lee. *Author kagak diapa-apain karena Lee terlalu baka untuk mengerti arti 'cameo'*. "Kenapa Shikamaru keliatan kayak orang mabuk gitu?"
"Gue minta dia bacain ini, tapi dia gak bisa."
"Mana, sih? Sini, sini.." Lee ngerebut tuh kertas dari tangan Naruto. Alis tebalnya berkerut.
…………….
57 menit kemudian.
"Udahlah…" bisik Naruto, "Nyerah aja… Kalo gak bisa ya udah…"
"TIDAK!!" tolak Lee dengan mata berapi-api. "Aku tidak akan menyerah! Aku akan berjuang dengan semangat Gai-sensei!!!"
"Jangan pake semangat, pake otak aja…" sahut Naruto. Aih, dalem banget kata-katanya. Untunglah, Lee terlalu baka untuk mengerti makna pragmatis dari kata-kata Naruto.
Maka, Lee pun terus berjuang!
Dua hari kemudian, Lee masih berjuang. Tirulah perilakunya, para pembaca!!
*Readers: No waaaaaaaaayy!!!*
Sementara itu, Sasuke udah sampe di kantor Tercekek-cekek.
"Ternyata, kalo gue niat, perjalanan sejauh ini bisa juga ditempuh dalam tempo 5 menit." Gumam Sasuke bangga.
Tanpa salam dan sopan-santun, ia langsung berlari ke gedung Tercekek-cekek. Tidak perlu waktu lama untuk menemukan para dedengkot Tercekek-cekek. Ia hanya tinggal memfokuskan konsentrasi, terus nyari aura yang paling gaje di seantero gedung.
"Selamat datang, Uchiha Sasuke!" sambut Kakuzu begitu Sasuke memasuki ruangan yang paling terasa aura kegajeannya.
"Saya Kakuzu, produser acara ini." Kakuzu memperkenalkan diri.
"Saya Madara Abadi Sasori, present—"
"Ngapain loe ikut-ikutan?! Dia udah kenal sama kita!" Deidara ngejitak kepala Madara.
"Abisnya nama lengkap gue belum disebut sejak chapter awal." Protes Madara.
Sasuke sweatdrops. "Udah selesai kenalannya? Ini terus gimana?"
Kakuzu berdehem gak penting. "Pencarian akan langsung dimulai sekarang. Jadi, sebelum jam makan siang tiba, kalian bertiga harus sudah enyah dari gedung ini. Kalo tidak…" Kakuzu berhenti.
"Kalau tidak??" ketiga makhuk di depannya penasaran.
"Kalau tidak…sayalah yang akan enyah dari gedung ini! Jadi tetep tidak akan ada gunanya kalian terus di sini. Gyahaha!!!"
Ketiga ninja di depannya cengok, sampe Kakuzu salah tingkah sendiri.
"What's wrong with him?" Sasuke mundur selangkah.
"Sudahlah, ayo kita keluar!" ajak Madara.
Sou, ketiga ninja itu pun melangkah keluar dengan penuh ketidakjelasan status. Di luar, mobil Tercekek-cekek sudah menunggu, lengkap dengan Ash di jok supir dan kameramen di jok belakang.
"Btw, kita mulai nyari dari mana?" tanya Madara.
"Err…." Sasuke mikir. "Wait a second. Gue punya pertanyaan yang lebih penting."
"Nan?" kedua host Tercekek-cekek itu menatap Sasuke.
"Itu…bukannya seharusnya klien diwawancarai gitu, disuruh cerita permasalahnnya, kayak introduction gitu?"
"Ah, kalo syutingnya di sini sih kurang menarik. Kita harus cari setting yang lebih elegan dan bergengsi." Kata Deidara.
"Tempat yang elegan dan bergengsi itu di mana?" tanya Madara.
Tempat yang elegan dan bergengsi itu….
"TOKO BONEKA??!!" semua tereak pake toa yang udah disediakana oleh pemilik toko.
"Apanya yang elegan dan bergengsi?! Gue pikir mau di café bergengsi di mana gitu!" Sasuke protes.
"Loe jangan malu-maluin! Cari kek tempat yang mencerminkan kepribadian kita sebagai lelaki sejati. Misale puncak gunung, pantai, atau sawah!" Madara ikut mendebat. Btw, kenapa sawah??
"Kenapa harus toko boneka?! Kenapa gak toko blekberi aja??" kameramen nge-flame.
"Idem!!!" Ash nge-review pendapat ke tiga makhluk gaje itu.
"Emangnya kenapa?! Bukannya bagus? Sasuke, loe bisa sekalian tebar pesona ke shojo-shojo yang datang ke sini."
"Oh, ya…" Sasuke mengangguk-angguk, sementara Madara sweatdrops.
Deidara melanjutkan, "Madara , loe bisa munculin sisi Sasori loe di sini. Kalo Sasuke berulah, loe bisa cekek dia pake boneka sapi ato buaya."
Sasuke gentian sweatdrops, sementara Madara langsung mengangguk antusias.
"Kameramen dan Ash…"
"Iya?" si kameramen dan Ash nunggu kata-kata Deidara dengan penuh harap.
"KALO KALIAN KEBANYAKAN PROTES, GUE SURUH MADARA NGENDALIIN BONEKA PIRANHA BUAT MAKAN LOE BERDUA!!!"
Si kameramen dan Ash cengok.
"Oke, berarti semuanya sudah setuju, ya?" Deidara memutuskan seenaknya. "Jangan banyak komentar. Ayo, syuting..syuting!"
Tanpa bisa membantah, mereka pun akhirnya bersiap-siap untuk melakukan syuting. Ah, kecuali Ash tentunya.
"Pemirsa… bertemu lagi dengan saya, Deidara, dan rekan saya—"
"Madara Abadi Sasori, di acara…Tercekek-cekek! Klien kita kali ini adalah seorang pemuda pengangguran yang ingin mencari kakaknya."
"Check it out!"
Sekarang giliran Sasuke nampang di kamera.
"Hai, nama saya Uchiha Sasuke. Saya di sini untuk mencari kakak saya, Itachi yang sekarang ini entah berada di mana. Saya—"
"Yak, itulah klien kita—" potong Deidara.
Sasuke kaget. "Apa? Bagian gue bicara cuma segitu? Gue belum selesai!"
"Bisakah Itachi ditemukan?" seru Madara cuek.
"So let's get the hunt begin!" sambung Deidara.
Sasuke gak terima. "Heh? Ini udah selesai intronya? Gue belum promosi apa-apa!"
Sementara itu, di kediaman Naruto…
Sakura yang kebetulan lewat melihat entitas aneh di samping sumur Naruto yang kini hancur lebur itu.
"Pagi, Sakura!" teriak Naruto dari jendela kamarnya.
"Oh, Naruto? Ano...itu apaan?" Sakura menunjuk sang entitas aneh. "Kok ada patung ijo dengan mata menyala-nyala sambil pegang kertas gitu?"
"Hah?" Naruto terkejut. "Lee?? Loe masih di situ?!"
Sakura cengok. "Lee? Rock Lee??"
Naruto segera berlari keluar. Bersama-sama dengan Sakura, ia mengamati something weird berwarna ijo itu.
"Hah? Jadi beneran ini Lee?" seru Naruto gak percaya.
"Bukannya ini patung?" tanya Sakura.
"Gue pikir dia udah pulang sejak kemaren. Ternyata…"
Tiba-tiba nyala di mata makhluk ijo itu tambah membara. "AKU TIDAK AKAN MENYERAH!!! AKU AKAN TERUS BERJUANG!!"
"LEE?!" Sakura shock. "Ngapain dia di sini?"
"Cuma gue suruh bacain kertas itu doang."
Sakura langsung menyambar kertas yang tengah dipelototin oleh Lee. Karena saat itu Lee sedang tersilaukan oleh semangat juangnya sendiri, ia tidak sadar kalo Sakura sudah nyabot kertas dari tangannya.
Sakura mengamati tulisan itu.
"Err…ini…"
"Gue tau tulisannya jelek banget. Daripada ntar loe yang sakit kepala gara-gara mikirin ini, mendingan gak usah dibacalah." Kata Naruto.
Sakura bergeming. "Ini kan…Yth. Uchiha Sasuke. Langsung saja, permintaan anda untuk mencari Itachi diterima. Datanglah ke kantor tercekek-cekek, paling lambat 20 menit setelah menerima pesan ini.
Ps. Pihak Tercekek-cekek tidak menyediakan konsumsi, jadi kebutuhan makan klien harus ditanggung oleh sang klien sendiri." Dengan lancar Sakura melafalkan bacaannya.
Naruto bengong. "Apa?? Sakura bisa langsung baca?!"
"Yo iyolah. Cuma ginian doang."
"Hebat!! Shikamaru aja nyerah gak bisa baca. Cuma Sakura aja yang bisa! Sakura emang jenius!!"
"Hah? Cuma aku? Emangnya Sasuke gak bisa baca?"
"GYAH!! SASUKE!!" Naruto baru keinget. "Berarti Sasuke pergi setelah baca surat ini?!"
"Emangnya ini apaan, sih?"
"SASUKEEEE!!! Padahal gue mau ikut jalan-jalan gratis, mau ikut berpetualang di tengah kota…"
Sakura mengerutkan kening. "Udah mulai gak beres suasananya. Mendingan gue pergi aja."
"Sakura, gue harus pergi ke kantor Tercekek-cekek sekarang!! Udah telat dua hari..tapi mendingan telat daripada gak pergi sama sekali!"
Sakura sweatdrops. "Telat dua hari? Itu seh bukan telat lagi namanya…"
"Jaa neee!!!" Naruto langsung melesat pergi.
Sakura yang masih cengok langsung tersadar. "Gue bener-bener kudu cabut sekarang. Ya udah, Lee. Gue pergi duluan."
"AKU AKAN BERTAHAN!!! AKU AKAN BERJUANG!!" Lee masih terjebak dalam kemilau semangatnya.
Semangat, Lee!!! *dibantai Gai-sensei coz nyiksa murid orang*
"Jadi, where's our first destination?" tanya Deidara, dengan kamera yang diarahkan ke wajahnya.
"Apa petunjuk yang Sasuke punya?" tanya Madara pada Sasuke. Yang ditanya kagak nyadar, berhubung dia lagi bernarsis-narsis ria di depan kamera.
"WOI!!" dengan kompak dan serempak, kedua presenter Tercekek-cekek nampol makhluk narsis tersebut.
"Oh, ya…" Sasuke baru sadar. "Apa?"
"Ini kita mau ke mana? Loe punya petunjuk apa?!" tanya Madara tanpa mengindahkan sopan santun sebagai presenter di acara tipi nasional.
"Kalo kagak salah, anii gue itu dulu pernah menjabat sebagai ketua grup gaje bernama Akatsuki… Gimana kalo kita ke rumah salah satu mantan anggotanya?"
Deidara en Madara berpandangan.
"Biar lebih cepet, gue kasih info aja." Kata Deidara. "Gue udah gak pernah reunion ke Akatsuki… oh, ya, Akatksuki itu bukan grup gaje. Kami punya kegiatan yang jelas. Misalnya arisan sebulan sekali, backpackeran setiap dua minggu sekali, dan lain-lain."
Sasuke cengok.
"Gue juga gak pernah kontak lagi sama mereka. Tapi pak produser kita, Kakuzu, kayaknya masih bisa nemu anggota Akatsuki yang laen…" kata Madara.
"Kalo gitu…" Sasuke berpikir. "Kita….kudu ke rumah Pak Kakuzu!!"
"Yaelah… apa gak ada ide yang lebih mendingan gitu?" gerutu Madara
"Gue juga kagak mau ke rumah pak produser. Terakhir kali kita ke sana, kita disuguhi cake, spaghetti, pizza, de el el, de es te, de es be…, eh, endingnya kita disuruh mbayar sendiri!" Deidara ikut nolak.
Ash ngangkat tangannya. "Interupsi! Saya punya usul!"
"Apa?"
"Kagak usah ke rumahnya. Langsung aja telpon dia!"
Sasuke melongo. Deidara bengong. Madara terpana. Lalu ketiganya kompak tereak.
"ASH!! THAT'S BRILLIANT!!"
Halah, cuma gitu doang…emang kalian aja yang gak kreatif, batin Ash
Supaya Auhtor gak terlalu pegel mata dan jari, mari kita percepat saja adegannya.*diseplak*
Deidara pun segera menghubungi Kakuzu untuk meminta nomor telepon anggota lainnya. Dan dengan teganya, Kakuzu ngasih syarat, kalo satu nomor telepon harus dihargai 3000 yen.
"Produser macam apa seh, ini!" gerutu Madara.
"Informasi itu mahal, tau!" teriak Kakuzu dari seberang telepon.
"Biarin aja!" kata Sasuke. "Biar semua pemirsa Tercekek-cekek tau kalo produser acara ini sangat pelit, komersil, dan tidak berperikemanusiaan. Biar ratingnya turun, biar semua orang demo ke rumahnya dan mbakar gedung Tercekek-cekek."
"HEH!! Siapa yang ngomong itu?!" teriak Kakuzu lagi.
"Gue!" sahut Sasuke pede. "Klien paling bishie yang akan mengangkat rating Tercekek-cekek. Loe tau gue punya banyak fangirls di luar sono! Kalo loe gak bantu gue, gue bisa kerahin semua massa…eh, semua fangirl buat ngancurin rumah eloe!"
Waduh, kredit rumah gue kan belum lunas. Batin Kakuzu dari seberang sono.
"Ya udahlah. Karena gue ini manusia yang adil dan bijaksana, gue kasih deh, nomor telepon mereka gratis."
"Sekalian bayar honor kami yang masih nunggak!" tuntut Madara.
"Halah! Cari kesempatan!" sungut Kakuzu.
Singkat cerita *kenapa disingkat mulu??* Kakuzu pun mendiktekan semua nomor telepon teman-teman lama mereka.
"Ah, berkat Sasuke, kita gak jadi dipalak Pak Produser." Ucap Deidara lega.
"Tumben loe jenius." Puji Madara ke Sasuke.
"Kapan sih, gue gak jenius?" tanggap Sasuke narsis.
Kedua presenter Tercekek-cekek pun dengan spontan, kompak, dan terarah langsung ngelempar sepatu masing-masing ke muka Sasuke.
Sesaat kemudian, semua personil Tercekek-cekek mengerahkan hapenya masing-masing untuk menghubungi semua nomor yang diberikan oleh Kakuzu. Sayangnya, dari semua mantan anggota, gak ada satu pun yang tahu keberadaan Itachi. Alhasil, mereka pun kembali ke titik nol, alias gak ada petunjuk sama sekali.
Tsutzuku!!
Niatnya seh chapter ini belum selesai sampai di sini doang, tapi kesibukan Author datang silih berganti. Biasalah, orang penting…*dilempar ke jurang*
Jadi, daripada kelamaan, ya yang ini dipost dulu. Rasanya ada yang kurang gitu, tapi yah… terima ajalah. Onegai...*nodong readers pake sakabato*
Chapter depan Tim Tercekek-cekek yang gaje ini akan berusaha menemukan Itachi dengan petunjuk yang minim!
Riviuw, ne?!
………………………….
Detik itu, Madara baru nyadar kalo mobil yang biasa mereka gunakan untuk beroperasi ternyata tidak hadir di tempat.
"Biar gue telpon si kameramen kita." Tiba-tiba Deidara ngomong. Tanpa menunggu reaksi gak guna dari dua manusia di dekatnya, ia pun langsung menelepon sang kameramen.
Singkat cerita, Deidara pun menutup kembali teleponnya.
Sou, sang kameramen saat ini sedang njemput Ash ke rumahnya.
