The Next Hunt
Yaaay! Author kembali setelah hiatus tanpa pamit!
Author sih pengennya nulis di saat waktu luang, di kebun dengan angin semilir dan makanan yang banyak dan minuman yang segar….
Tapi akhirnya mesti nyolong-nyolong waktu di antara berbagai kesibukan…
Ah, kagak usah sok penting. Let's just get it started, right here right now. Go!
Eh, lupa...sebelum disomasi oleh sensei tercinta, lebih baik Author ngaku lebih dulu kalo Naruto adalah property-nya Masahi Kishimoto XDDD
Chapter 5
Sampe mana dulu ceritanya? *tengok chapter 4*
Oh, ya…
"Jadi gimana? Kita gak punya petunjuk sama sekali." Kata Sasuke.
"Hmm…" Madara keliatan mikir.
"Gimana?"
"Lebih baik kita mikir sambil makan." Usul kameramen gak penting. Sebagai hadiahnya, ia pun disambit sepatu oleh Madara.
"Itachi itu biasanya nongkrongnya di mana?" tanya Madara.
"Lha yo meneketehe," sahut Sasuke, "wong dia sudah minggat lama banget."
Perbincangan jadi buntu lagi. Gak ada ide, gak ada usul, gak ada yang nemu jalan keluar.
Akhirnya Madara pun bersuara. "Kalo gitu…terpaksa kita lakukan satu hal…"
"APAAN?" teman-temannya bertanya serempak.
Bukannya menjawab, Madara malah langsung meraih hapenya dan ngirim sms.
"Oke. Gue udah bikin appointment ma temennya pakdhenya bapaknya sepupunya temannya ibunya tetangganya temen gue."
"SIAPA?"
"Liat aja ntar."
Karena terpaksa, tim Tercekek-cekek pun melakukan hal nista yang tidak boleh ditiru oleh para pembaca di rumah (yang di warnet juga gak boleh niru XDD)
Mereka nyari wangsit…..ke dukun.
"Gue pulang aja kalo ke dukun!" Ash berdemo. "Kita boleh nanya ke mana aja, asal jangan ke dukun."
Deidara juga shock pas tau kalo temennya pakdhenya bapaknya sepupunya temannya ibunya tetangganya temennya Madara itu adalah seorang dukun.
"Hoh, kagak bisa. Kita udah buat janji." Kata Madara. Kayaknya bagi dia, janji ketemu dukun gak ada anehnya dibandingin ma janji ketemu dokter.
"Gue tetep gak setuju." Tolak Ash.
"Heh, malu bertanya sesat di jalan, tau!" Madara bersikeras.
"Tanya ke dukun tambah tersesat." Ash tetep mendebat.
"Emangnya siapa seh loe? Berani-beraninya debat ama gue!"
"Loe kagak tau kalo gue pernah ikut lomba debat internasional melawan para utusan dari manca negara?"
"Ha? Emangnya loe pernah?"
"Kagak. Makanya gue tanya. Sekedar ngasih tau aja karo orang yang ikut itu bukan gue."
"….?"
Deidara menengahi pertengkaran mereka. "Yowislah, kita juga udah di sini. Tanya aja sekalian."
Mendadak terdengar gelegar guntur, auman serigala, suara tembakan, hembusan angin topan, deburan ombak…*apaan banget deh*
Dan munculah sesosok bishie dari dalam rumah. Tatapan matanya setajam iblis, dari belakangnya terpancar cahaya menyilaukan.
Tim Tercekek-cekek langsung menatap sang bishie tanpa berkedip. Si bishie tampak tenang, tersenyum dingin, lantas berteriak.
"SIAPA TADI YANG BERISIK? GAK TAU APA GUE LAGI NONTON FILM PEMBUNUHAN YANG SANGAT MENGHARUKAN?"
"?"
"KAGAK DENGER PERTANYAAN GUE? TADI SIAPA YANG BERISIK?"
Tim Tercekek-cekek langsung nunjuk Ash.
"Pengkhianat! Madara tadi kan juga berisik!" Ash protes.
"Maaf, Mbah…" sela Madara, cuek. "Perkenalkan, saya ini adalah temennya tetangganya—"
"Gue masih cute begini dipanggil mbah!" si bishie tadi langsung ngelempar sepatu basketnya tanpa ampun. Si sepatu dengan lesatan cepat, kuat, dan berkekuatan 100 horsepower itu mengarah tepat ke Madara. Untunglah, berkat kemampuan yang telah dirancang oleh Author…eh, Kishimoto-sensei, Madara dengan mudah dapat menghindari sepatu itu.
"SAAIIIII!" terdengar suara teriakan toa dari dalam rumah. "LOE BUANG-BUANG SEPATU LAGI, GUE BUANG LOE SEKALIAN! ITU SEPATU 70 DOLLAR TAU!"
"ABISNYA SEPATUNYA MANTEP BANGET BUAT NIMPUK ORANG, MBAAH!" bales sang bishie yang bernama Sai itu, gak kalah toa.
Buset, di sini orang-orangnya suara toa semua ya? Batin Deidara.
"MAKANYA HARGANYA MAHAL! UDAH, CEPET AMBIL LAGI SEPATU LOE!"
Sai bersungut-sungut, tapi nurut. Dengan tatapan yang masih iblis, dia langsung teriak ke arah Tim Tercekek-cekek.
"WOIII! BALIKIN SEPATU GUE!"
Madara yang tadi menjadi sasaran lemparan sepatu Sai pun gak terima.
"Enak aja! Situ sendiri yang nglempar sepatu ini ke sini! Sepatu ini mau gue loakin aja!"
"KALO CUMA SEBELAH KIRI DOANG MANA LAKU!"
"Ya udah! Lempar aja sebelah kanannya! Lagian kalo cuma kanan doang, apa mau tetep loe pake?"
"GUE GAK BEGO, YA! MENDING KITA SAMA-SAMA RUGI DARIPADA LOE UNTUNG EN GUE RUGI!"
Wah, pintar juga. Gagal rencana gue, batin Madara.
"Sudahlah, Madara. Kita balikin saja." Saran Deidara.
"Kenapa loe malah mbelain dia?"
"Tindakan loe ini adalah sebuah kejahatan. Haram."
Tim Tercekek-cekek cengok.
"Deidara, loe demam?" tanya kameramen. Deidara mendelik.
"GUE BERUSAHA BAIK MALAH LOE BILANGIN DEMAM!"
Oh, kagak demam ternyata…, batin rekan-rekannya ngeliat Deidara yang udah balik ke sifat asalnya.
"HEI, GUYS! MAU BALIKIN SEPATU GUE GAK? KLO EMANG GAK, GUE BALIK AJA KE RUMAH! INI PEMBUNUHANNYA PASTI UDAH MULAI MENGHARUKAN!"
"Ah! Banyak bacot loe! Lagian mana ada pembunuhan yang mengharukan! Nih sepatu loe!" Deidara yang esmosi langsung melempar sepatu kiri itu ke arah Sai.
Sai berniat nangkep sepatu basket itu layaknya seorang kiper profesional. Tapi menyaksikan betapa kuatnya lemparan Deidara, Sai refleks malah menghindari sepatu itu.
Ouch, menurut skenario Author, si mbah yang tadi di dalam rumah kini tengah berdiri di ambang pintu. Dan adegan berikutnya adalah…tiga, dua, satu..action!
DHUOOOOGGG!
*Readers: "GOOOOLLL!"*
Tim Tercekek-cekek pucet seketika. Sepatu Sai itu dengan suksesnya mendarat di kepala si mbah bersuara toa.
Sai menoleh ke belakang untuk melihat akibat dari perbuatannya.
"Ergh…mbah Danzou?"
Si mbah yang dipanggil Sai sebagai Danzou itu mengeluarkan aura sesuram iblis. "SIAPA YANG UDAH NGELEMPAR INI SEPATU?"
Tim Tercekek-cekek nunjuk Ash.
"What the heck? Gue kan gak ngapa-ngapain!" Ash senewen.
"Abisnya kan loe ini orang paling gak guna di sini. Dikorbanin juga gak bakal ngaruh." Bisik kameramen.
Untung gue di sini sebagai klien, batin Sasuke bersyukur.
"HEH, YOU! COME HERE!" seru Danzou.
Dengan males, Ash mendekat.
Danzou menepuk bahu Ash. "Kamu…karena kamu telah ngelempar sepatu seharga 70 dollar ini…maka kamu akan…"
"SELAMAT TINGGAL, ASH!" teriak anak-anak Tercekek-cekek. Dasar nista!
"..MENDAPATKAN BONUS satu kali konsultasi gratis!"
"HAHHH?" Anak-anak Tercekek-cekek cengok.
UAPAHH? Kenapa bukan dikasih warisan ato tabungan aja? Apaan konsultsi ke dukun. Haram, ya! Batin Ash.
"Ayo, Nak. Kesempatan gak datang dua kali. Daripada kamu harus ketik REG spasi DUKUN seharga 20 yen per SMS?"
"20 yen?"
"Makanya, mumpung gratis ini. Ayo!"
"Kagak, Mbah…saya gak butuh bantuan mbah. Wong kita di sini cuma lagi kebingungn nyari orang yang namanya Itachi Uchiha doang…"
"Ha? Itachi Uchiha? Oke! Permintaan diterima!"
"Hah? Permintaan diterima?"
"YEAAAH!" anak-anak Tercekek-cekek bersorak. Akhirnya mereka bisa dapat wangsit juga.
"ARGH! Tidak! Mbah, saya gak bermaksud tanya ke mbah! Tidak!" Ash heboh sendiri. "Jangan dijawab , mbah! Saya gak boleh percaya ucapan seorang dukun!"
"Siapa juga yang mau jawab?"
"Ha? Tapi tadi mbah bilang—"
"Karena saya gak ngelayanin ramal gratis, maka silahkan kamu konsultasi sama asisten saya itu."
Ash noleh ke Sai. Ouwh, konsultasi ke bishie itu?
"DEAL!" serunya cepat.
Katanya gak mau nanya dukun! Gerutu Danzou dalam hati.
"Ehh, sebentar." Sai berlari ke dalam rumah, dan dalam tempo dua detik dia sudah keluar dengan membawa selembar kertas dan sebatang drawing pen 3.0 *hiyah, detil banget*
"Loe mau ngapain? Nggambar?" tanya Ash.
"Iya. Tadi loe mau nyariin siapa?"
"Itachi Uchiha."
"Oke…" Sai memejamkan matanya. Begitu dia membuka mata, ia langsung menggoreskan drawing pennya ke kertas.
"Kakkoi na…" puji Ash.
"Yak! Selesai!" seru Sai. "Nih, ini peta tempat Itachi berada."
Anak-anak Tercekek-cekek yng tadi nunggu doang di kejauhan langsung berlari ke arah Ash. Dengan penuh harap mereka menyambar kertas gambar dari Sai.
Dan kening mereka langsung berkerut.
Sai tersenyum sok polos. "How is it, minna?"
"Gambar apa ini?" protes Madara. "Cuma lingkaran besar, dikasih dua tanda shuriken. Yang satu ditulisi 'WE'RE HERE', yang satu ditulisi 'Itachi".
"Itu peta buta, Mas. Namanya juga barang gratisan. Kalo mau nambah petunjuk, tambah bayaran juga." Jawab Sai tanpa rasa bersalah.
"Ngasih gratisan kok gak niat gitu, sih?"
"Udahlah! Gue mau lanjutin nonton film neh. Kayaknya masih ada tiga orang yang belum kebunuh."
"Terus ini…"
"STOP! No comment!"
"Tapi—"
Tanpa peduli, Sai dan mbah Danzou malah langsung masuk ke rumah buat nonton film pembunuhan yang mengharukan itu. Pintu rumah langsung ditutup, dan kayaknya gak ada harapan mereka bakal keluar lagi.
Sementara itu, anak-anak Tercekek-cekek…
"Haduh, peta apa ini?" Madara kebingungan. "Ash, loe ngerti peta ini?"
"Argh, gue buta berbagai macam peta."
"Kameramen?"
"Sori, bagian gue mah cuma pegang kamera buat ngrekam kalian." Kameramen ngeles.
"Deidara?"
"Diliat dari mana pun, peta itu emang gak bisa diidentifikasi." Deidara sok ilmiah. Intinya sih dia juga kagak ngartos.
"Sasuke?"
Sasuke mengambil kertas dari tangan Madara dan dengan serius mempelajarinya.
"Well, informasinya emang minim banget sih. Tapi paling gak, kalo melihat dari gambar ini, kita harus jalan terus ke arah barat. However…karena gue gak tau ini skalanya berapa, jadi gue juga gak bisa memprediksi berapa jauh jaraknya."
"Tumben loe jenius."
"Kapan gue gak jenius?"
"Ah, nyesel gue muji loe!"
"Shimatta!" Deidara melerai. "Lebih baik kita langsung ngebut ke tujuan!"
Madara sebenarnya masih angot en pengen nimpukin Sasuke, tapi karena kata-kata Deidara kayaknya emang bener, dia pun memilih langsung lari ke mobil.
Rekan-rekannya langsujng mengikuti. Dan tim Tercekek-cekek pun segera melaju meninggalkan kediaman para dukun gaje yang sedang terharu menyaksikan film pembunuhan itu.
Mobil melaju ke barat. Yah, itu juga feelingnya Ash doang seh.
"Kok jalannya makin sepi gini sih.." gumamnya. "Kayaknya kita udah jauh banget dari kota."
"Udah sore pula. Ah, kalo sampe jam tujuh malam gak ketemu juga, kita istirahat." Kata Madara.
Malamnya, dengan bangga Author mengumumkan bahwa mobil tim Tercekek-cekek mogok mendadak. Kayaknya—ato pastinya—mobil itu sekarat kehabisan bahan bakar.
Di tengah jalan yang sepi, yang jauh dari peradaban manusia.
Dan konyolnya lagi, kamera yang buat syuting juga kehjabisan baterei. Alhasil, syuting gak bisa dilanjutin.
"Gue jadi agak bingung, ini acara Tercekek-cekek ato Jelajah, sih? Kenapa kita jadi mendaki gunung lewati lembah begini?" kata Sasuke.
"Bukan. Ini adalah acara Bolang; Bocah Ilang." Jawab Ash bete.
Madara menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan lagi dugem, melainkan mikir. Mobil mogok, kamera mati, tersesat di nowhere, tanpa ada manusia yang bisa diandalkan.
"Kenapa temen-temen gue di sini kagak ada yang guna, ya?" Gumamnya merana. Halah, kayak dia sendiri guna aja.
"Ya udah, karena udah malam, dan kameranya ko'it, kita gak bisa ngapa-ngapain lagi." Kata Deidara. "Sebaiknya kita break pencarian dan tidur dulu."
"Hoh? Kagak jadi syuting?" Sasuke kagak terima.
Seluruh tim Tercekek-cekek langsung melototin Sasuke. Udah jelas kameranya mati, masih minta syuting juga. Dasar tukang nampang!
Terpaksa, mereka nginep di tepi jalan itu juga.
"Haduh, udah dingin, tanahnya keras. Gimana gue bisa tidur…" keluh Sasuke saaat merebahkan badannya ke atas tanah.
Sedetik kemudian, tuh makhluk narsis udah tepar tak sadarkan diri.
"…." Semua anggota Tercekek-cekek cengok seketika.
Maklumlah, selama minggat dari Konoha, Sasuke sudah biasa melanglang buana dan tidur di emperan toko, warung, lapangan bola, sampe atap rumah *wuih*. Prinsip Sasuke kan, biar tidur beralas tanah dan beratapkan langit, yang penting tetep keren. Halah.
"Ya udah, gue juga mau tidur." Pamit Deidara. Dengan liciknya, dia bikin tempat tidur dari tanah liat andalannya. Dan sebelum teman-temannya ribut minta dibuatin juga, ia buru-buru hengkang ke alam mimpi.
"Gue juga." Ash ddengan nistanya tiduran di tanah. "Anggep aja ini lagi di Hogwart…pake langit-langit sihir, pake angin sihir…"
Yang paling menderita ya si kameramen. Tau sendiri, dia itu anak orang kaya yang hobinya tidur di atas koran. Tapi karena sudah gak ada pilihan lan, terpaksalah ia mengikuti jejak Sasuke dan laen-laen.
Ini mereka yang baka ato gimana, ya? Padahal kan bisa aja tidur di mobil. Asal mesinnya mati (ya emang kagak bisa hidup lagi sih) dan jendelanya dibuka, kan gak bakal keracunan gas karbon monoksida.
Tapi ya udahlah, toh mereka udah terima tidur di luar. Hehehe…
Paginya, tim beranggotakan orang-orang gaje itu pun meneruskan perjalanan ke barat.
Atau timur…
Selatan?
Err, jangan-jangan ke utara?
Kagak taulah, namanya juga orang tersesat. Hehe…
"Terus ini gimana syutingnya kalo begini?" tanya kameramen. "Gue gunanya apa? Apa guna gue kalo tanpa kamera?"
"Gimana dengan aniki gue?" Sasuke ikut ribut.
"Gimana sarapan kita?" Madara nimbrung gak penting.
"Gue kudu cepet pulang! Masih banyak tugas-tugas mulia nunggu gue di dunia luar sanaa!" seru Ash sok penting.
Sepertinya Tim Tercekek-cekek sekarang memang lebih menjadi tim Bolang, alias Bocah ilang…*ditendang*. Mobil mereka yang sekarat terpaksa ditinggal. Abis udah gak bisa diapa-apain juga. Lagian, itu kan mobil dinas. Biar ajalah. Yang rugi kan Kakuzu…XDD
"Misi utama kita sekarang adalah kembali ke kota, mencari peradaban manusia, supaya kita mendapatkan segala macam teknologi dan kembali bekerja." Kata Deidara sok bijak. Kata-katanya ini pun segera di-LIKE oleh rekan-rekannya yang lagi gak punya ide.
Di tengah-tengah kebingungan semacam itu, tiba-tiba terlihatlah suatu tanaman yang benar-benar gaje. Bentuknya kayak pohon pisang, tapi daunnya kok tebal bergerigi gitu…
"Pohon pisang?" Deidara keheranan.
"Heh, pohon pisang kok daunnya tebel gini, berduri lagi." Bantah Madara.
"DASAR BAKA! MASA GUE DIBILANG POHON PISANG!" bentak si tanaman gaje itu.
Tim Tercekek-cekek langsung shock begitu tau kalo pohon pisan di depan mereka bisa ngomong.
"Kamu siapa? Siluman pohon pisang?" Madara mundur tiga langkah.
"Yaelah! Daun tebal berduri gini, mananya yang mirip daun pisang?" jawab si tanaman gaje.
"Daun pisang berduri?"
Si tanaman gaje sweatdrops. Sia-sia aja usahanya buat tampil misterius di hadapan manusia-manusia tak berpendidikan ini.
"Hhh…." Ia mendesah dengan gaya anjing kehilangan tuannya (?). "Terpaksa aku mengaku."
"Oooh…" tim tercekek-cekek terpesona oleh pesona si tanaman gaje. Halah!
"Aku adalah…aku…aku ini…"
"LOE AMNESIA KAN? LOE GAK INGET SIAPA DIRI LOE!" samber kameramen.
"Bukan itu! Udah nyamber, pede, keras, salah lagi!" bentak si tanaman gaje.
"Terima kasih!"
"Kenapa loe malah bangga?"
"Sabar mas…" Deidara menenangkan. "Ya udah, jadi situ siapa?"
"Hhh…" lagi-lagi si tanaman gaje mendesah dengan gaya tuannya si anjing yang nyuruh anjingnya guling-gulingan tapi si anjing malah nonton tipi.
Oke, Author emang lebay.
"Jadi, aku ini..aku adalah.."
"ALOE VERA!" teriak Ash sambil ngangkat tangan. "You must be an Aloe vera!"
"Tepat sekali!" si tanaman gaje menyahut. "Aku adalah Aloe ve—"
…..si tanaman gaje beku….
"..ra?" Sasuke membantu.
"KALIAN BAKA SEMUA!" tiba-tiba si tanaman gaje mengayunkan daunnya yang emang mirip aloe vera dengan ukuran daun pisang itu ke arah tim Tercekek-cekek.
Sebagai shinobi sejati, Sasuke, Deidara dan Madara langsung melompat ke belakang. Lantas, bagaimana dengan nasib Ash dan kameramen yang hanyalah manusia biasa itu?
Nantikan chapter selanjutnya!
*Author dibejeg-bejeg pembaca*
Ergh, okelah….nasib mereka bisa langsung diketahui hari ini…*pembaca bersorak*
Mereka sih niatnya mo lompat juga, tapi apa daya, kekuatan kaki gak nyampe…terpaksalah mereka lari-lari gaje.
"Kenapa itu tanaman aneh malah ngejar-ngejar kita?" gerutu kameramen sambil terus berlari-lari.
"Jangan tanya ma gue dong! Tanya sama orangnya…eh, tanamannya sendiri."
"Oke." Kameramen berhenti dan berbalik, "Mas tanaman, kenapa nggak ngejar teman-teman kami yang ada di pohon itu aja?"
Sasuke, Madara, dan Deidara yang nangkring di pohon mangga langsung mendelik. Dasar temen makan temen! Batin mereka. Padahal mereka sendirilah yang gak setia kawan, udah tau Ash dan kameramen cuma manusia biasa, malah ditinggal sembunyi kayak begono.
"Oh," si tanaman gaje berhenti. "Soalnya mereka lompat-lompat kelewat cepet. Gue kan males lari. Mending ngejar kalian aja...hemat energi!"
Ash lari duluan meninggalkan si kameramen baka dan tanaman gaje itu.
"Oooh…" kameramen mengangguk-angguk.
"Ada pertanyaan lain?" tanya si tanaman gaje.
"Eehh.. kagak."
"Kalo begitu sekarang gue bisa ngejar loe lagi?"
"Silahkan…"
Maka sesuai skenario tak bertanggung jawab dari Author, mereka berdua pun kejar-kejaran lagi.
"Tunggu, jangan lari!" teriak si tanaman gaje.
"Aaaasshh! Pengkhianat loe! Sebagai sesama manusia, loe malah ninggalin gue!" teriak si kameramen.
"Loe yang kagak jelas!" teriak Ash dari kejauhan. "Pake ngobrol dulu sama musuh!"
Untunglah kameramen adalah juara lari tingkat playgroup, jadi dengan segera, ia mampu menyusul Ash.
"Ash! Di fanfic The Real Reality Show, loe bisa make sihir-sihir dari JK. Rowling Corporation kan?"
"Hah? Emang iya?"
"Iya! Coba baca lagi fic pertama…"
"Oke…, eh, you fool! Mana sempat!"
"Heh, wis, percayalah padaku. Dulu loe bisa nyihir. Sekarang, keluarin mantra apa aja yang bisa ngusir tanaman gaje di belakang."
"Aduh! Gue udah lupa ma mantra-mantra. Belakangan ini gue sibuk banget ampe gak sempat baca FFN, Mangafox, ato nonton yutub.."
"Itu derita loe! Lagian apa hubungannya?"
"Argh…kalo sambil lari-lari gini gue gak bisa mikir.."
"Ya udah, pake aja mantra yang gak usah dipikir!"
Karena ribet en otaknya rada konslet, Ash tambah gak inget apa-apa.
"Gue ingetnya cuma Accio doang…" gumamnya.
"Yowis, pake aja!"
"Itu mantra biar barangnya ketarik ke arah kita. Kalo gue teriak ACCIO ALOE VERAAAA, ntar dia malah ke sini dong…"
"Bego! Itu udah loe teriakin!"
"NOOOO!
"Eh? Tapi kok gak terjadi apa-apa?"
Ash menoleh…dan benar saja, tanaman gaje itu masih eksis dengan jarak yang sama.
"Iya..? Kenapa ini?"
"KARENA GUE INI BUKAN ALOE VERAA!" teriak tanaman gaje di belakang.
"TERUS LOE NI SIAPAAA?" Ash bales teriak.
"GUE ZETSU!"
"ZETSU?"
Kameramen ngelirik Ash. "Buat apa loe kenalan? Awas, jangan loe sebut Accio Zetsu ya!"
"Kagak! Tenang aja. Gue gak sebegitu begonya sampe mau teriak ACCIO ZETSU!"
"NO WAAYY!" kameramen kalap campur murka.
Karena Ash mengucapkan mantra dengan tepat, jelas, dan akurat, melebihi keakuratan Hermione atopun kang Sirius, khasiat sihirnya pun langsung terasa. Si tanaman gaje yang ngaku namanya Zetsu itu langsung terbang ke dekat mereka.
"APA?" Ash shock. Untunglah, sebagai Author sejati, dia selalu punya ide. "ACCIO SASUKE!"
"KENAPA GUEEE?" tereak Sasuke gak terima. Sayangnya takdir lebih berkuasa, Sasuke pun langusng melesat ke depan Ash dan kameramen.
"Noh! Shinobi lawan Shinobi!" dengan nistanya Ash nyerahin Zetsu ke Sasuke.
Meskipun males, tapi sesuai tuntutan profesi, Sasuke pun bertarung dengan Zetsu. Pertarungan itu berlangsung dengan sangat sengit, hingga jika disiarkan di tivi akan bisa menjadi trending topic di Twitter *halah* dan muncul di infotainment, berita kriminal, jalan-jalan, acara kuliner, dan acara musik. Well, emang gak ada hubungannya, tapi gak apa-apalah, namanya juga fanfic.
Yak, begitulah pertarungannya.
Readers: Pertarungan apaan?
Author: Karena pertarungannya dikhawatirkan akan mengganggu kebersihan jiwa anak-anak muda dan meningkatkkan kriminalitas di jalan raya, maka Author memutuskan untuk men-skip saja adegannya. Gyahahaha!
Madara dan Deidara menonton pertarungan itu sambil makan mangga di pohon yang juga merupakan pohon mangga *ya iyalaah!*.
"Eh, tadi dia bilang namanya siapa?" tanya Deidara.
"Ergh…Zetsu.."
"Kayaknya pernah kenal ya?"
"Iya…"
…
Madara dan Deidara saling berpandangan.
"ZETSU?"
"IYAAA?" dengan bakanya, Zetsu menjawab.
Sasuke pun mendapat kesempatan untuk melakukan serangan. Tapi si Zetsu dengan cepat kembali berkonsentrasi. Dengan jutsu tanpa nama, Zetsu menghunjamkan Sasuke ke dalam tanah, lalu—
SENSOR.
*Author dilemparin hape. YAY!*
"Ah! Sumpeh! Kenapa gue lupa semua mantra?" Ash ruwet. "WOII! MAdara, Deidara! Bantuin siniiii!"
"HAH? Ah, iya deh!"
"TUNGGU!" tereak Zetsu. Dan seperti layaknya sinetron, anak-anak gaje itu langsung berhenti.
"Paling gak, biar gue jelasin dulu kenapa gue ada di sini."
"Biukannya tadi loe duluan yang nguber kita?" kameramen nyolot, tapi begitu si tanaman gaje melotot *perasaannya si kameramen doang*, cowok itu langsung lari ke belakangnya Ash.
"Helooo?" Ash sweatdrops.
"Ya udah. Cepet jelasin, mumpung kami mau ngabisin mangga ini dulu!" sh menglihkan perhatiannya ke Zetsu.
"Oke.." si tanaman gaje berdehem. "Jadi begini, aku..aku kesini karena Itachi…"
"NAN?"
Deidara dan Madara langsung loncat dari pohon mangga dan berlari ke arah Zetsu.
"Itachi? Loe tau tentang dia?" Madara antusias.
"HAHAHA…! Begitulah!"
"Di mana dia?" desak Deidara.
Zetsu terdiam, teringat olehnya bagaimana pahitnya disia-siakan oleh Kakuzu di chapter sebelumnya. *lebay*
"Sebenarnya gue gak mau bilang ke kalian. Tapi ya udahlah. I will!"
"Oke! Jadi, Itachi di mana?" Madara makin antusias.
"Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Hhh…" lagi-lagi Zetsu mendesah kayak tuannya si anjing yang mau beli anjing baru yang lebih pinter tapi duitnya udah dimakan sama anjing lamanya yang gaje. "Kalian harus ngajak gue jadi presenternya."
"?"
"…"
"Err, biar kita diskusi dulu." Kata Madara. "Oke. Sudah diputusin, loe gak bisa jadi presenter."
"HEH! Diskusi aja belum, loe udah mutusin."
"Soalnya gue udah tau kesimpulannya. Helo, my pren…ada yang setuju kalo dia ini jadi presenter?"
"KAGAAAK!" jawab Tim Tercekek-cekek serempak.
"Nah, iya kan?"
"Yaelah. Kalo gitu, jangan harap kalian bisa nemuin Itachi."
"Loe tunjukin dulu di mana Itachi. Kalo orangnya udah ada, ntar kita syuting." Kata Deidara.
"Oke!" Zetsu langsung ngeluarin hape, lalu sibuk menekan keypad. "Moshi-moshi. Itachi? Ke sini dong. Cepetan, gak pake lama. Hah? Gue di mana? Dicek aja pake GPS. Iya."
Anak-anak Tercekek-cekek cengok.
Akhirnya mereka pun menunggu. Untunglah tak lama kemudian, sosok yang mereka tunggu-tunggu tampak melompat dari satu pohon ke pohon lain. Sosok itu kian mendekati mereka.
"ITACHI!" teriak tim Tercekek-cekek dengan kompak tanpa pembagian suara.
"Haiiii…." Itachi melambai-lambaikan tangannya. Tim tercekek-cekek ilfil seketika ngeliat tingkahnya yang rada alay itu.
Beneran itu klan Uchiha? Batin kameramen.
"Madara Abadi Sasori, Dei-chan! My frieeeendds…!" seru Itachi.
"Buset, dia manggil nama lengkap gue…" Madara cengok.
"Kenapa gue dipanggil Dei-chan?" Deidara ikut-ikutan cengok. Alaaah, bilang aja loe seneng!*ditabok*
"Ah, kalian berdua udah jadi artis ya? Gue ikutan syuting doong!"
Ternyata emang benar klan Uchiha. Kagak ada bedanya ma adiknya, sama-sama hobi nampang, batin kameramen.
"Err.. iya, ini sebenarnya kami lagi syuting…"
"Ha? Mana kliennya? Terus, siapa target pencariannya?"
"ELOE!" tim Tercekek-cekek nunjuk Itachi.
"Hah? Ada yang nyariin gue? Siapa?"
"Itu…"
"Rentenir? Petugas pajak? Orang pegadaian? Sales asuransi?"
All: sweatdrop.
"Bukan kok…" jawab Deidara.
"Terus siapa?"
Tim Tercekek-cekek baru ingat kalo sejak tadi Sasuke masih tertanam di dalam tanah. Untunglah Sasuke sangat kuat. Jadi ia bisa menggali sendiri ke atas tanah.
"DIA!" tim Tercekek-cekek nunjuk makhluk gaje yang merangkak-rangkak kelelahan setelah mengalami pergumulan sengit dengan tanaman gaje...err, Zetsu.
Itachi mengerutkan kening.
"Siapa..ya..? Rada imut..cakep…mirip gue…"
Ternyata mo muji diri sendiri…,batin kameramen.
"Woi.. dia siapa seh?" Itachi kedip-kedip. Maklumlah..namanya juga orang miopi.
"Aniki…!" seru Sasuke. Tadinya seh dia mau nunggu Itachi manggil namanya, tapi kayaknya bakal kelamaan dan menyita waktu pembaca.
"Sasuke?"
"Ani—"
"Pantes meskipun burem gini mukanya tetep keliatan imut, cute, dan keren…soalnya muka Sasuke kan mirip muka gue…"
Buset deh ni orang. Niat muji orang apa muji diri sendiri, seh?
Begitu melihat sang otouto, Itachi bukannya senang, malah mundur lima langkah.
"Jadi eloe yang nyariin gue?"
Tim Tercekek-cekek sujud syukur. Gak nyangka, pencarian kali ini berjalan dengan begitu mulusnya *mulus pale lu?*.
"Iya…gue—"
Itachi mundur lagi. "Madara Abadi Sasori, Dei-chan, dan lain-lain..! Gue cabut!"
WUUUUUUSHHH….hempasan angin beku menyapu wajah cengok Tim tercekek-cekek.
"Dia..pergi?" desis Ash.
"Kita disebut 'dan lain-lain'?" sambung kameramen.
"KAGAK PENTING!" kedua presenter Tercekek-cekek langsung njitak sang kameramen.
"Tunggu!" Ash menyelamatkan kameramen dari jitakan maut teman-temannya. "Kenapa Sasuke malah gak bereaksi?"
Tim Tercekek-cekek spontan noleh ke arah Sasuke yang emang kagak teriak sama-sekali.
Dan dengan nistanya, manusia narsis itu lagi ngebersihin wajah pake face-cleanser all in one, sodara-sodara!
All: What the?
"Ah, udah..muka gue udah bersih lagi..eh?" Sasuke baru nyadar kalo mata teman-temannya menatapnya dengan kasih-sayang sarkastis…alias tatapan pembunuh dengan bonus mutilasi gratis. "Err..ada apaan?"
"ADA APAAN-ADA APAAN! ITU ANIKI LOE NGIBRIT LAGI TAUU!" Madara esmosi berat.
"NAN?" Sasuke shock. "ASH!"
"HAH? Iya?" Ash shock.
"Muka gue udah bersih belum?"
Sasuke pun langsung dikeroyok ma Madara, Deidara, en Kameramen.
"WOI! Stop gobal warming…eh, stop bullying!" Ash berusaha ngelindungin Sasuke *cieh* "Kalo mukanya ampe rusak, yang ada dia minta ganti rugi buat operasi plastik..minimal minta dibeliin make-up mahal.."
Untunglah alasan Ash yang rada ngawur itu diterima dengan bijak oleh teman-temannya. Sasuke pun terbebas dari bencana.
"Kita harus ngejar kakak gue!" teriak Sasuke.
"Ya udah, kejar sono!" bentak Madara bete.
Sasuke langsung melesat. "Itachi-niiisaaaan…! Wait for me!"
"BEGO! LARINYA BUKAN KE SONO!" anak-anak tercekek-cekek teriak kompak pake toa.
Sasuke berhenti, berbalik dan berlari lagi. Yang laen cuek. Ntar juga anaknya balik lagi.
"Ini gue jadi syuting kaaaaan?" Zetsu tambah bikin ruwet suasana.
"KAGAK! Kecuali kalo loe mau beliin kamera baru!" tolak Madara
"Tapi kaaan—"
DHUOG! BRAKK! JDUGGG!
Deidara dan Madara dengan nista ngeroyok Zetsu. Kalo lagi marah, kemampuan shinobi mereka emang bisa bikin orang keder.
"Loe gak bisa Accio si Itachi itu?" tanya kameramen.
"Kagak bisa. Udah kejauhan…" Ash mendesah seperti tuan si anjing yang akhirnya bisa beli anjing baru, tapi anjing barunya sama gajenya dengan anjing yang lama.
Huff…tampaknya pencarian kali ini gak jadi berjalan dengan mulus…*dibuang ke jurang*
Tsutzuku…
Ah… Author terlalu lama meninggalkan dunia perfanfican… chapter ini rasanya kok rada garing yah? Hikz…
Sankyuu buat para reviewer dan reader yang setia mengikuti fanfic gaje ini. Ehh, mo ngomong apa lagi, ya..? Ya udahlah…pokoke review, neee! *bow*
Silahkan dikritik kalo emang jayus, dan silahkan dipuji kalo emang bagus…hehe…
Jaa nee! Chapter depan Author akan berusaha nambah kadar humornya! Yosh!
