The Next Hunt

Ya ampuunn! Author lupa nulis fic..!*digebukin warga FFn*

Baiklah kalo begitu, tanpa bertele-tele lagi, Author akan menulis! Fighting!

Chapter 6

Author: Kishimoto-sensei…! Sekali lagi saya pinjem anak-anaknya, ya!

Sensei: Hosh! Gimana mau tamat Naruto gue kalo loe nyulik anak-anak gue mulu?

Author: Ehh, kan saya baru minjem beberapa kali.. itu author-author laen juga pada pinjem…

Sensei: Tapi balikin lho ya!

Author: Argh! Sudahlah, ini para pembaca udah nunggu! Bye-bye, sensei! Jaa neee!

Chapter 6

*perasaan tadi udah diketik ya? Ah, sudahlah, mungkin hanya perasaanku…*

Oh, ya, pas nulis ini, Author lagi ndengerin Serenade-nya Versailles lho… *kagak ada yang nanya*

Tim Tercekek-cekek kembali melanjutkan perjalanan. Setelah mobil dan kamera di-Reparo alias dibacain mantra tukang reparasi, mobil dan kamera pun bisa berjalan baik kembali.

"Kenapa kagak dari kemarin loe baca mantra ini?" bentak Madara.

"Namanya juga orang lupa. Orang lupa kan amnesia.." Ash membela diri.

"Sudahlah, Madara.." Deidra menenangkan, "Ash…"

"Ya?"

"LOE TERIMA LEDAKAN BOM NUKLIR DARI GUEEE! DASAR SUPIR GAJE! PAKE AMNESIA SEGALAA!"

Ash dan tim Tercekek-cekek cengok, kecuali Sasuke yang sibuk nata rambutnya.

"Deidaraaa! Jangan!" jerit Madara

"Dameeee!" teriak sang kameramen

"Jagung bakaaarr…!"

Ash ancur diinjek-injek Madara dan sang kameramen.

"Deidara…loe kan marahnya sama Ash doang. Jangan pake bom nuklir dong…ntar kita gimana?"

"Iya, ntar mobil dan kameranya malah ancur beneran."

"Bom nuklir bisa meningkatkan global warming! Kita harus go green dan menjaga kelestarian lingkungan.."

Kameramen dan Madara serempak mendelik ke arah Ash. Nih anak udah tau Deidara lagi ngamuk, malah ngelantur soal global warming segala.

"Halah! Peduli amat soal global warming! Lha wong bom nuklir rakitan gue ini bom ramah lingkungan kok!" Deidara langsung mengeluarkan bom nuklirnya.

Emang ada bom ramah lingkungan? Tim Tercekek-cekek sweatsdrop.

Akhirnya, setelah mendapat serangn bom nuklir ramah lingkungan dari Deidara, perjalanan dilanjutkan secara normal. Untunglah bom itu ramah lingkungan, jadi asalkan anak-anak itu berlindung dengan meluk or manjat pohon, mereka gak bakal terkena bom.

Benar-benar bom yang aneh…

Begitu sampai di kota, mereka segera menyerbu restoran.

Mereka pun memasuki restoran itu. Orang-orang langsung memandangi mereka.

"Wah.. ada artis lagi syuting.." bisik seorang bapak-bapak.

"Iya..itu siapa yang rambutnya jabrik? Keren ya?" tanggap anaknya.

Sasuke yang merasa jabrik dan keren langsung mundur mendadak ke belakang Madara. Tersanjung campur ngeri, ngeliat tuh anak adalah seorang cowok bermuka preman, bertato, dan penuh tindikan. Sebenarnya itu juga gak masalah sih…dia gak pernah berburuk sangka pada sosok bertato dan bertindik *halah*. Cuma kalo cowoknya nglirik-nglirik plus senyum-senyum gaje, dia kan freak out juga.

"Itu…keren…minta tanda tangan yuk…" sekelompok cewek ABG saling bisik pake toa (halah, bisik-bisik kok pake toa. Bilang aja pengen eksis).

Deidara, Madara, dan sasuke saling pandang.

Sekelompok ABG yang kira-kira berjumlah dua puluh orang itu tiba-tiba lari ke arah tim Tercekek-cekek.

"SHIROTA YUUU!"

Tim Tercekek-cekek saling pandang, soalnya kagak ada satu pun yang ngerasa bernama Shirota Yuu.

"Siapa itu Shirota?" tanya sang kamereman sementara kerumunan fans sudah berada di radius 5 meter 37 cm. "Artis zaman dulu ya?'

"Bukan gue!" Sasuke langsung menggelengkan kepala. Yaelah, kagak ada yang nuduh elo juga kali…

Ngeliat rekan-rekannya yang kagak guna, Ash segera berlari ke meja kasir, lalu merebut mikrofon dari tangan sang kasir.

Pembaca: sejak kapan kasir punya mikrofon?

Author : sejak Author punya ide. Udahlah, baca ya baca aja! Jangan protes!

Pembaca: *nimpukin Author pake sepatu basket*

"SODARA-SODARA!" teriak Ash.

Tapi karena gak ada satu pun dari ABG itu yang ngerasa sebagai sodaranya Ash, maka mereka pun tetap maju mengepung tim Tercekek-cekek.

Si kameramen ngerasa de javu. Kayaknya dulu pas di desanya Deidara dan Madara, dia juga dikerubutin kayak gini.

"Shirotaa!" jerit mereka histeris.

"Siapa Shirotaaa?" lhah?

"Ini ada obral pakaian, ya?" yang ini lebih parah, ikut ngumpul tapi gak tau ada apaan.

"Woii! Yang belum bayar bon, bayar duluu!" ruupanya ada pula pelayan yang masuk ke kerumunan.

"Keshiteee! Rewrite shiteee!" kenapa pula ada yang nyanyi lagunya Asian Kungfu Generation?

"ASH…..! Do something!" teriak kameramen. "Madara! Deidara! Uchiha!"

Sayangnya ketiga shinobi pengkhianat itu sudah mengerahkan kecepatan shinobi mereka untuk lari menuju meja makan.

"Hegh! Pengkhianaaat!"

Ketiga temannya hanya menatapnya dari kejauhan.

"Ntar abis makan, ya!" jawab Madara.

Ash yang gak tega ngeliat kameramen menjadi sasaran ABG gaje itu langsung teriak lagi.

"Anak-anak muda! Orang ini bukan Shirota Yuu! Dia emang mirip! Tapi dia bukan!"

"Kagak apa-apa! Yang penting kalo dipoto, hasilnya bisa mirip!" balas salah seorang cewek.

Kameramen keliatan pucet. Makanya gue gak mau jadi artis. Wong cuma di balik layar aja fans-nya udah kayak gini, batinnya.

"ASH CARD! Help meee!"

Ash mikir sebentar. Tapi dia gak dapat ide apapun. Akhirnnya ia terpaksa hanya memberi semangat.

"Hadapilah, Kameramen! Hanya sedikit tanda tangan dan poto bareng! Berjuanglah! Aku mendukungmuu!"

"AARHGHH! Temen-temen gue bikin frustasi semuaaa!" tereak si kameramen setres.

Setelah sesi jumpa fans dadakan yang menguras tenaga itu, Kameramen akhirnya bisa duduk dengan selamat di meja makan.

"Elo baik-baik aja kan?" Madara sok perhatian.

Kameramen mendelik. "Kagak usah sok baik!"

"Sudahlah, teman-teman…" Deidara berusaha melerai. "Ayolah, mulai detik ini, kita usahakan untuk gak bertengkar. Kita harus bekerja sama buat nyari Itachi, lalu kita mundur dari pekerjaan ini dan kembali ke rumah kita masing-masing!"

"Err, setuju!" tanggap Ash.

"Terserah deh! Yang penting gue ketemu brother gue." Tukas Sasuke.

Kameramen sebenarnya masih kagak terima dengan perlakuan teman-temannya yang gak setia kawan itu, tapi atas paksaan Author, ia pun akhirnya menerima ajakan gencatan senjata dari Deidara.

"Oke.." ucapnya. "Kita segera selesaikan tugas ini, agar Author juga bisa segera nulis fic yang laen!"

Teman-temannya cengok mendengar kata-kata sang kameramen.

"Baiklah! Jadi setelah ini kita gak akan bertengkar?" Madara menegaskan.

"Tergantung." Jawab kameramen.

"Tergantung apanya?" tanya Deidara.

"Tergantung apakah kalian masih suka ninggalin gue kalo lagi ada bahaya ato gak."

Deidara en Madara saling berpandangan.

"Ya, okelah, kalo kami gak lupa."

Sumpah, kameramen pengen ngelempar piring ke pasangan presenter nista itu. Tpi sayangnya, para pelayan melihat gelagatnya itu dan langsung nunjukin lirikan maut dan ekspresi itu-piring-harganya-lebih-mahal-dari-harga-diri-loe-jadi-awas-kalo-sampe-loe-pecahin.

Selesai makan, mereka pun berniat buat melanjutkan syuting. Tapi masalahnya, mereka benar-benar gak punya petunjuk lagi. Alhasil, mereka pun bengong sebentar *kira-kira 2 jam* di mobil.

Di saat yang penuh kekalutan dan kebengongan itu, tiba-tiba dari kejauhan muncullah seorang tukang cendol mendorong gerobaknya. Madara dan Deidara menatap keluar jendela, lalu saling berpandangan satu-sama lain.

Kok kayaknya kenal, ya? Batin mereka berdua.

"Hei," Sasuke ikut memandang keluar. "Kalian ngeliatin apa sih?"

"Ituh, si tukang cendol." Jawab Madara.

"Oh, kalian pengen minum es cendol?" btw, kenapa di Jepang ada es cendol, ya?

"Heh, bukan es cendolnya. Ituh, tukang cendolnya!" sambar Deidara.

"Oh, kalian pengen tukang cendolnya?"

Sasuke pun segera dibejeg-bejeg oleh kedua presenter Tercekek-cekek.

"Ash, loe panggil tuh tukang cendol kemari!" perintah Madara.

"Jah, kenapa gue?" protes Ash. "Gue gak bisa teriak. Loe tau suara gue gak bisa keras."

"Jangan banyak protes. Panggil aja!"

Bukannya teriak, Ash malah langsung tancap gas ke arah si tukang cendol. Rekan-rekannya yang kagak siap pun langsung nyungsep dengan indahnya di lantai mobil. Tanpa mempedulikan nasib rekan-rekannya dan nasib rambutnya Sasuke, Ash banting setir dan terus melaju.

Si tukang cendol langsung ngerasa gak enak.

Itu mobil kenapa kayaknya mo nabrak gue ya? Jashin, apa salah gue? Batin si tukang cendol. Ia siap-siap loncat ke pohon. Tapi kalo ia loncat, giamna nasib gerobak cendol tercintanya?

Akhirnya ia pun cuma menatap si mobil dengan mata melotot dan mulut menganga, layaknya tokoh protagonis sinetron yang diusir dari rumah, terus lari ke jalan depan rumah pas hujan turun, dan selalu ada truk ngebut tiba-tiba lewat.

Bersambung, dong, bersambung… si tukang cendol berharap. Loe kira sinetron, apa?

CKKKIITTTTTTTTTTTT…

Ash mengerem mobilnya tepat waktu. Si tukang cendol dan gerobaknya selamat. Ash selamat. Sisanya…errr….ya gitu deh..

Ash langsung keluar dan mendekati si tukang cendol.

"Hei tukang cendol!" seru Ash.

"Hah, gue?" Si tukang cendol mesih cengok. "Kenapa?"

"Gak apa-apa. Gue cuma disuruh manggil elo. Itu doang."

Si tukang cendol pengen nyambit Ash pake gerobaknya. Tapi sayang gerobaknya sih…

Sementara itu, Madara, Deidara, Sasuke, dan Kameramen buru-buru keluar dan langsung tepar di tanah.

Ash noleh ke anak-anak gaje itu. "How are you doin', guys?"

Madara mendelik. "Loe minta dibantai, ya? Kalo mau tancap gas ya bilang dulu kek!"

"Iya…gue kan belum pake sabuk pengaman. Udah gitu masih pegang kamera pula!" Kameramen yang biasanya satu kubu dengan Ash pun kini ikut protes.

"Loe tunggu bom edisi terbaru gue, Ash..." desis Deidara.

Sasuke sebenarnya juga pengen protes. Tapi ada sesuatu yang lebih urgen. Ia segera lari ke depan spion dan memastikan penampilannya tetap oke untuk syuting setelah nyusruk di mobil tadi.

Si tukang cendol sweatdrops.

Deidara dan Madara berdiri seraya nggerundel gak jelas.

"Eh," si tukang cendol menatap kedua presenter tim Tercekek-cekek itu. "Kalian…"

Madara yang awalnya gak yakin kini jadi yakin. "Jadi bener ini loe?"

"Dare ka?" Ash kebingungan.

Si tukang cendol mengacungkan jari ke arah dua presenter itu. "Deidara! Madara Abadi Sasori!"

Deidara dan Madara tersenyum lebar. "HIDAAAAAAAAAAN!"

…..

*alam batin masing-masing orang*

Deidara : Hedeh, barusan gue lebay.

Madara : Apaan gue barusan? Kenapa gue pake teriak?

Tukang cendol : Buset, heboh amat!

Ash : And who the heck is Hidan?

Kameramen : No way, blekberi gue ilaaang!

Sasuke : Kayaknya perlu beli eyeliner baru nih…

Pembaca : Woi! Cepetan kembali kea lam nyata!

..

"Kenapa loe jualan cendol?"

"Oh… ini kan usaha buat cari duit.." Hidan pun segera menceritakan asal-muasal legenda berubhnya ia menjadi seorang tukang cendol.

Tim Tercekek-cekek cengok ngedenger cerita itu.

"Kalian sendiri lagi ngapain?" Hidan bertanya setelah selesai bercerita.

"Hoaaahm..eh, apa?" Madara yang sudah hampir mimpi tergeragap.

"Kami lagi syuting. Ini, bantuin Sasuke Uchiha buat nemuin Itachi." Deidara menjelaskan.

Hidan mengangguk-angguk. "Ooh.."

"Tau gak biasanya Itachi nongkrong di mana? Bisa bantuin gak?"

"Bisa."

Tim Tercekek-cekek terbelalak. Jantung mereka berdetak kencang. Darah mereka terpompa deras. Adrenalin mengalira tak terkontrol. Mereka pun sesak nafas. Mereka jatuh terbanting ke tanah. Dan—

Ah, kagak ding… mereka terkejut doang, kagak selebay itu.

"APA? HONTOU? BENERAN? SUMPEH LOE?" mereka tereak sahut-sahutan. Hidan pun mengalami tuli temporer.

"Iya gue tau. Hontou. Beneran. Sumpeh deeeh.." jawabnya gak niat.

Tim Tercekek-cekek langsung histeris, bersyukur akhirnya terbebas dari tugas laknat nyari Itachi.

"Tapi ada syaratnya…"

Histeria Tim Tercekek-cekek terhenti. Deidara dan Madara langsung mendelik.

"Apaan? Minta bayaran?" Madara siap-siap nyekek Hidan.

"Kalo soal duit ntar loe minta aja ama Pak Kakuzu, produser kita." Sambung Deidra.

Tapi, yang amat sangat mengejutkan, Hidan menggeleng. "Gak. Bukan duit."

"Hah? Jadi loe minta apa?" Madara shock. Masa yang namanya Hidan bisa nolak duit? Itu sih sama mustahilnya kayak Author nolak kalo ditraktir es krim.

"Begini, setelah rehat dari Akatsuki, gue dapet wangsit dari Sang Jashin, bahwa duit yang tidak halal itu gak akan membawa berkah…"

"….?"

"Jadi mulai sekarang, gue gak mau malakin orang."

Wah, Author tersindir. Author juga kudu tobat!

"Sou, loe maunya apa?" tanya Deidara bingung.

"Gampang!" Hidan menepuk gerobak es cendolnya. "Loe borong dagangan gue sampe abis!"

Madara cengok.

Deidara sweatdrops.

Kameramen megang kamera.

Ash sama Sasuke main monopoli (?).

"Yaelah..akhirnya duit juga…" protes Madara.

"Udahlah! Borong mau gak?" balas Hidan

"Kita lagi gak bawa duit banyak…" Deidara ngeles.

"Itu yang dibawa cewek di sono itu?"

Ash ngelirik Hidan dan nyadar kalo Hidan lagi nunjuk plus melotot ke arahnya. "Ha?"

"Duit yang loe pegang! Bawa sini, buat bayar cendol!" teriak Hidan.

"Eh?" Ash menatap tangannya. Ini kan duit monopoli?

"Udah sono.." Sasuke nendang kaki Ash. "Kayaknya dia rada bego. Dikasih duit monopoli juga gak bakalan protes."

"Ah, gue kan baru dapat pembayaran sewa perusahan air minum…"

"Apa banget deh loe! Ini aja gue relain duit hasil sewa empat hotel. Utang loe juga gue hapus deh."

Kameramen prihatin. Ini yang bego siapa sih? Duit mainan aja debatnya sampe kayak gitu.

Deidara yang ngeliat perdebatan gak mutu itu jadi gak sabar. Dengan cepat, dia ngerebut semua duit dari tangan Ash dan nyerahin duit itu ke Hidan.

Entah karena Hidan sudah dibutakan oleh duit ato dia emang bego dari sononya, dia nerima-nerima aja tuh duit monopoli. Yang penting ada tanda-tangan direktur bank negaranya. Padahal kan itu palsu juga.

Hidan nunjuk gerobaknya, "Cendolnya…"

"Ah udah, gak usah. Kita gak bisa bawa juga ini. Yang penting sekarang, cepet kasih tau di mana Itachi." Sambar Madara.

"Sini hape loe…biar gue tulisin alamatnya."

Sementara itu, target yang tengah dicari, alias Itachi Uchiha, akhirnya berhenti lari (jadi sejak kemaren dia lari terus o.O?).

"Kok rasanya capek, ya?" gumamnya.

"Ya eyalaah capek… situ lari mulu sih. Naek mobil dong… Miskin banget sih!" sambar sebuah suara.

Itachi celingukan dan mendapati seorang anak berdiri dengan muka songong di pinggir jalan.

"Ih, siapa eloe? Kenapa nyamber-nyamber omongan gue?"

Si anak kecil nyengir. "Cuma figuran kok, Om." Jawabnya cuek, lantas tanpa mempedulikan muka Itachi yang bengong, ia langsung pergi.

Apaan seh? Ah udahlah, lebih baik gue istirahat. Batin Itachi.

Itachi pun segera nyari pohon gede buat berteduh, lalu ia segera melepas jubahnya buat dijadiin tikar, dan kemudian membuka kotak bentonya.

Di saat itu, tiba-tiba muncul seseorang bertampang memelas. Itachi mendongak dan menatap sosok tinggi besar itu.

"Loe…" Itachi mengerjpkamn mata, "…figuran juga, ya?"

Si sosok tinggi besar pun langsung ngebejeg-bejeg Itachi.

"Aargh! Tidaak! Stop, it Kisameeeee! Itaiiiiii..! Sakiiiiittt!"

Kisame—si sosok tinggi besar itu—langsung berhenti. Bukan karena kasian ma Itachi, tapi karena orang-orang yang lewat jalan pada berhenti dan bengong ngeliatin mereka dengan ekspresi ih-sumpeh-ada-hiu-serem-lagi-nistain-bishie-uke-di-pinggir-jalan.

"APA LIAT-LIAT?" bentaknya. Orang-orang keder semua. Dan sesuai jatah mereka sebagai figuran, mereka langsung berlarian ke segala arah.

Itachi langsung nyelametin kotak bentonya supaya gak keinjek oleh Kisame.

"Apa banget sih loe, dating-dateng langsung ngebejeg-bejeg gue kayak gini.." protesnya.

"Loe yang gak jelas, ngilang aja dari kemaren." bales Kisame.

"Gue kan janjian mo ketemu Zetsu. Kenapa sih nyariin gue aja?"

"Itu bento yang loe bawa to jatah makan siang gue, tau! Semenjak gue bertobat dari dunia hitam, gue kan gak bisa malakin orang lagi."

"Halah…"

"Jadi, gimana pertemuan loe kemarin ma Zetsu?"

"Hegh, ternyata dia njebak gue. Dia menggiring gue ke hadapan adik gue."

"Adik loe? Sasuke?"

"Iya, dia nyariin gue. Jadi terpaksa gue lari. Btw, kok loe bisa nemuin gue?"

Kisame menggeleng-gelengkan kepalanya dan menunjukkan tatapan serius. "Kemanapun bento-ku pergi, aku pasti bisa melacaknya!"

Itachi cengok.

"Ya udah. Sekarang, sini bento gue!" kata Kisame galak.

"He...gimana gue dong, gue juga laper. Bagi dua, ya?"

"Gak!"

"Gue laper!"

"Gue lebih laper!"

"Kisame!"

"Gak!"

"KISAMMEEEEEEEEEEEEEEE!"

Kisame langsung ngejitak Itachi, soalnya lagi-lagi orang-orang berhenti dan ngeliatin mereka dengan tatapan si-hiu-gaje-tuh-laknat-banget.

"GUE GAK NGAPA-NGAPAIN DIA! PUAS?" bentaknya ke arah orang-orang itu.

"Haduh, ini nbento jaman kemarin, masih bisa dimakan gak, ya?" gumam Itachi rgu-ragu. "Tapi gue gak punya piliohan. Sudahlah. Gue gak bakal mati cuma gara-gara bakteri."

Un, benar-benar orang yang tidak layak dicontoh. Pembaca jangan nyobain ini di rumah, ya! *dicekek Itachi*

Dasar orang laper, Itachi dan Kisame pun gak peduli lagi itu bento sisa kemarin.

Semoga ini gak bikin alergi ato ngrusak muka gue, batin Itachi. Apa banget si Itachi ini..

Ternyata makanan basi malah lebih enak, batin Kisame.

Gyah! Jangan ada yang mraktekin perbuatan Kisame ini, ya. Kalo terjadi sesuatu dengan kalian di rumah, ntar Author yang dituntut.

Kembali ke tim Tercekek-cekek.

Hari ke….? Entahlah. Bahkan para presenter pun lupa.

Mereka kini tengah berada di mobil untuk menuju alamat yang tertulis di hape Madara.

"Ini gue yang de javu ato gue emang kenal jalan ini ya?" ucap Deidara.

"Iya, perasaan…gue juga baru dari sini." Tukas Madara.

"Kita udah nyampe!" teriak Ash.

Tim Tercekek-cekek menatap keluar. Tampak sebuah rumah berada di sisi kiri mobil.

"Kayaknya gue kenal…." Gumam Sasuke.

"Udahlah, turun aja cepet." Kata kameramen.

Dengan hati yang masih bertanya-tanya, anak-anak gaje itu turun dan melangkah menuju rumah tersebut.

"Tadaimaaaa!" tereak Ash.

Madara dan Deidara mendelik. Udah ngomong salah, keras, pedenya gak ketulungan…

Tapi teriakan Ash yang salah itu sepertinya langsung mendapat respon dari si tuan rumah. Terdengar suara langkah kaki, lalu pintu dibuka, dan seraut wajah lelaki muncul.

"Hinata?"

….

Terjadi kebisuan sementara.

"Oh, bukan Hinata?" si tuan rumah akhirnya memecah kebisuan di menit ke empat puluh.

"Eh.." Ash beraksi paling awal. "Bukan…"

Sasuke yang sedari tadi ngerasa ada yang gak beres, kini cuma bisa mengeluarkan suara datar, "Hyuga…Neji?"

Madara dan Deidara saling berpandangan. Kenapa rumahnya orang dari klan Hyuga?

Deidara yang pernah jadi presenter acara gosip langsung mikir yang iya-iya. Jangan-jangan… Itachi dan Neji—

"WOI! LANGSUNG NGOBROL NAPE? GUE VARISES NIH PEGANG KAMERA DI SINI!" tiba-tiba si kameramen tereak ala vokalis band metal.

"Oh..silahkan masuk.." kata Neji sopan.

"Un… kami nyari Itachi." Kata Deidara ragu-ragu.

"Ha? Kanapa nyarinya ke sini?" Neji tampak kebingungan.

"Haduh, kagak tau juga nih..si tukang cendol itu ngasih alamat ke sini." Madara garuk-garuk kepala.

"Tukang cendol?" Neji mengingat-ingat. "Tukang cendol aneh yang sering nyebut nama Jashin itu?"

"Hah? Loe tau?" kejar Deidara penuh harap.

"Ya abisnya di sini cuma dia dia doang yang jualan es cendol." Jawab Neji.

Sasuke langsung bersemangat. "Jadi, apa loe tau soal Itachi?"

"Err…" Neji tampak mikir lagi.

Muka tim tercekek-cekek tampak tegang. Mereka menantikan kata-kata dari Neji.

Detik demi detik berlalu.

Menit demi menit berlalu.

Jam demi jam..err, Neji...kau masih hidup kan?

"WOI! Gue beneran varises ini!" bentak kameramen di kejauhan. "Lama banget sih mikirnya!"

"Ah iya!" Neji menjentikkan jarinya.

"Apa?" Tim Tercekek-cekek heboh.

"Gue—"

"Loe?"

"—MASIH PUNYA UTANG SEPULUH YEN SAMA SI TUKANG CENDOL ITU!"

Gubrak! Tim Tercekek-cekek ambruk semuanya.

"Itachi…aniki giue gimana?" Sasuke berusaha bangkit.

"Hah? Gak tau tuh…"

"Lha terus maksud si tukang cendol itu apaan? Kok kita disuruh kemari?"

"Ya gak tau." Neji menggeleng. "Tapi mungkin…"

"Mungkin..?" Tim Tercekek-cekek menatap Neji penasaran

Neji tersenyum. "Jadi begitu…"

"APANYAA?"

"Hmmm…begitu…" Neji malah tersenyum-senyum gaje.

Tim Tercekek-cekek saling berpandangan. Ada apaan sih?

Tsutzuku!

Gyaaah! Kelar juga chapter ini! Itachi-nya masih dikit, ya? Hehe, maap deh… Review masih ditunggu, ne! Author ingin tau komentar kalian soal fic ini.

Jadi apakah yang akan terjadi? Apa yang terjadi ntar Neji dan Itachi?

Tunggu episode…eh, chapter berikutnya!

Oh, ya. Selamat Lebaran bagi yang merayakan, ya! Author akan berusaha lebih gaje lagi di chapter depan. Terima kasih atas perhatiannya..

Ah, gak penting. Jaa ne, minna! XDDDD