The Next Hunt

Minna! Author dateng lagi! Gomen lama, ya..! Author kan lagi sibuk..hehehe..

Well, disclaimernya masih ke Masashi Kishimoto sensei dong!

Sensei, kapan kau akhiri serial Naruto? *dilempar panci ma sensei yang lagi setres mikirin Naruto chapter berikutnya*

Kali ini Author gak akan banyak berkata-kata. Langsung aja kita ke cerita. Sooou, mari kita sambut bersama-sama…! Jreng-jreng…

Chapter 7

Tim Tercekek-cekek masih menunggu jawaban dari Neji. Mereka berharap anak klan Hyuga itu akan mengatakan kalo Itachi ada di dalam rumahnya.

Maksudnya, kalo emang begitu kan mereka mendapat dua keuntungan. Pertama, pencarian laknat ini akan berakhir. Dan ke dua, kan mereka bisa dapet kesempatan untuk dikasih hidangan ato minuman gitu. Hehe…

"Itachi ya…gue gak tau.." kata Neji ringan

Angin beku langsung menghembus wajah Tim Tercekek-cekek.

"Hah?" mereka cengok.

"Iya, gue gak tau." Neji meyakinkan.

"Te..terus..apa maksudnya itu tukang cendol ngasih tau alamat ini?" Deidara ngerasa lemes.

Neji menggeleng. "Gak tau juga ya. Tapi, kalo kalian mau, gue bisa bantu juga sih kayaknya."

"Gimana caranya?" tanya Deidara.

"GUE TAU!" samber Ash. Dirinya memang sudah mendapat ilham dari sang Author.

Semua rekannya langsung menoleh ke Ash. "APA?"

"Hehe, iya..itu, matanya Neji.. pake aja kemampuan Byakugan-nya dia."

Teman-temannya saling pandang. "Oooh…"

"Ternyata si tukang cendol itu pinter juga." Madara memuji, meskipun setengah-setengah gak rela.

Mereka langsung noleh kembali ke Neji.

"Err…" Neji memutar bola matanya. "Gue lagi sibuk. Cari aja orang lain. Hinata misalnya."

Deidara menghela nafas, "Neji….plis plis plis… Jangan bikin kita muter-muter nyari orang lain lagi. Tinggal ikut kami bentar, trus loe bisa pulang deh. "

"Iya," tukas Madara, "Ntar kita mintain jatah honor dari bos kita lah."

"Errr…" Neji masih keliatan mikir. Duit memang bukan hal yang penting baginya *sombong*.

"Neji.." kali ini Kameramen yang angkat bicara, "kalo mau bantu, ntar bisa masuk tipi lho.."

Sayangnya Neji bukan orang yang doyan nampang seperti Sasuke. Jadi rayuan sang Kameramen sama sekali gak mempan.

"Neji.." Sasuke mendekati temannya itu. "Sebagai sesama orang jenius dan keren, serta memiliki banyak penggemar, kau mau kan bekerja sama denganku?"

Yang ada Neji malah bengong mendengar kata-kata Sasuke.

"Errr, ya okelah.." Neji menghela nafas. "Karena sepertinya kalian sangat putus asa, gue mau bantuin."

Tim Tercekek-cekek saling berpandangan, dan sedetik kemudian mereka langsung berteriak histeris. Neji cengok melihat makhluk-makhluk di depannya tiba-tiba melompat-lompat sambil berteriak-teriak gaje. Mereka baru berhenti setelah para tetangga Neji keluar dan melempari Tim Tercekek-cekek dengan sandal, sepatu, dan Blackberry (?).

Sementara itu, nun jauh di sana, Naruto telah sampai di kantor Tercekek-cekek. Kantor sepi, yang terlihat hanyalah seorang satpam yang merangkap menjadi tukang kebun dan OB (tau sendirilah, Kakuzu kan maunya ngirit, jadi gak mau ngrekrut pegawai terlalu banyak).

Naruto langsung masuk ke kantor. Si satpam cuek saja ngeliat makhluk tak dikenal memasuki area kantor. Maklum saja, gajinya kan rendah. Jadi dia ngerasa sia-sia saja kalo harus repot-repot berurusan dengan tamu.

Setelah berlarian ke sana kemari, akhirnya Naruto menemukan Kakuzu yang lagi ngitung duit recehan di kantornya.

"Pagi…" sapa Naruto.

"….."

Kok gue gak ditanggapi? Batin Naruto. Dia mencoba menyapa lagi.

"Siang…"

"…"

Buset deh ah! Gak ada sopan-santunnya nih orang! Naruto semakin dongkol. Padahal dia sendiri tadi kan juga masuk kantor orang tanpa izin? Masih protes soal sopan-santun segala.

"Helo, Pak! SELAMAT MALAAAM!"

"HAH?" Kakuzu tergeragap.

"Pak, saya—"

"SUDAH MALAM? GUE HARUS PULANG!" Kakuzu mendadak berdiri, lalu dengan gerakan yang lebih cepat dari jurus bayangan ala para ninja, ia mengumpulkan seluruh uang yang bertebaran di meja.

Naruto cengok.

"Tapi—"

"Tidak ada tapi! Minggir kau anak muda! Sekarang sudah malam." Sambar Kakuzu.

"Malam apanya? Liat tuh ke jendela, mataharinya masih ada!"

Kakuzu segera menengok ke arah jendela, dan langsung menyadari kebegoannya. Tapi ia segera sadar pula, bahwa yang sudah bikin dia heboh kayak gitu adalah si rambut kuning jabrik di hadapannya. Ia pun membentak Naruto.

"TERUS KENAPA TADI KAMU BILANG SELAMAT MALAM?"

"Saya udah nyapa selamat pagi, tapi anda gak njawab. Ya udah, saya bilang aja selamat malam."

Kakuzu sweatdrops.

"Ya udah. Terus kamu ke sini mau ngapain? Jangan minta sumbangan, jangan minta makan gratis, apalagi minta uang saku!"

Loe kira semua orang matre kayak loe? Batin Naruto.

"Gak kok. Saya cuma mau nanya, tim Tercekek—cekek yang nyari Itachi itu, sekarang kabarnya gimana?"

Kakuzu cengok. Lalu mikir sebentar. Kemudian dengan muka terkejut, ia menepuk dahinya. "Ya ampun! Gue lupa! Anak-anak masih ada yang tugas ya? Mereka gak pulang-pulang, sampe lupa kalo gue masih punya anak buah!"

"Hah?"

"Gyahaha… untung kau datang kemari, anak muda!"

Naruto makin bingung dengan ekspresi Kakuzu yang sepertinya gak merasa bersalah sedikit pun itu.

"Kesimpulannya, sekarang mereka di mana?" tanya Naruto.

"Ehm…itu dia masalahnya, anak muda.. Kalo mereka belum nelpon, saya juga gak bakal tahu di mana mereka berada."

"Kalo gitu kenapa anda gak nelpon mereka?"

"Hush..enak saja. Nelpon itu mahal tau!"

Plis deh…biaya pulsa ternyata lebih penting daripada anak buah sendiri.

"Emangnya operatornya apaan sih?" tanya Naruto.

"Saya pake x=a-b"

"Oh..kalo itu mahal, Pak. Pake YYY aja."

"Itu tarif nelponnya berapa?"

"Pokoknya setengahnya x=a-b deh. Perdananya bisa dapet bonus internet gratis 100 Mb lho…"

"Sebenarnya sih mau ganti yang E=mc2, tapi kayaknya mahal…"

"Makanya, YYY aja. Atau kalo mau yang dapet gratisan SMS sampe 3 bulan, pake aja—"

"Pake apa?"

"…"

"….?"

Wajah Naruto dan Kakuzu beku sesaat. Angin dingin yang entah datang dari mana, menyapu sosok mereka yang mematung.

"WOII! KENAPA KITA MALAH NGOMONGIN OPERATOR TELEPON?" Naruto gak terima.

"Lah, kan situ yang mulai…" balas Kakuzu

….krik krik…..

"Kita tadi ngomongin apaan ya?" Naruto menggaruk-garuk kepalanya.

"Err..operator?"

"Sebelumnya?"

"Tarif telepon mahal?"

"Sebelumnya lagi?"

"Selamat malam?"

"Yang setelah itu?"

"Kamu sendiri kenapa malah gak ingat."

"Kalo lapar saya emang agak pelupa"

"Kalo udah makan, kamu jadi pinter?"

"Err… gak juga sih."

…..krik-krik…

(Pembaca: Kapan selesainya woiii?)

Baiklah, atas kebaikan hati Author, Naruto pun ingat apa tujuan dia sebenarnya mendatangi kantor Kakuzu.

"Oh, ya..itu..saya pengen nyari Sasuke…"

"OH YEAH?" mendengar kata 'pengen nyari', jiwa bisnis Kakuzu langsung berkobar. "KAMI TIM TERCEKEK-CEKEK MEMANG TERCIPTA UNTUK MEMBANTU ANDA MENEMUKAN ORANG HILANG! SEGERA DAFTARKAN—"

"KAGAK!" Naruto langsung nggebrak meja. "Saya cuma mau nanya, sekarang posisi tim Tercekek-cekek dan Sasuke Uchiha ada di mana?"

"Saya gak—"

"Kalo gak tau ya udah. Kasih saya nomor telepon mereka! Biar saya sendiri yang nelpon!"

"Oh gitu? Bilang kek dari tadi!"

Sembari bersungut-sungut karena merasa waktu ngitung duitnya telah terbuang, Kakuzu pun memberikan nomor telepon semua anak buahnya.

"Madara… xxxx" *nomor telepon disamarkan supaya para pembaca gak neror dia malem-malem*

Naruto mengetiknya. Tapi pas dia ngeklik 'Save', mendadak muncul tulisan, "Anoo..nomor ini udah tersedia, atuh. Mau disimpan ulang?' (hapenya Naruto emang rada-rada gaje gitu—Author).

"Lhah?" Naruto merasa ada yang salah.

"Kalo Deidara…xxxxxxx…."

Naruto merasa melupakan sesuatu. Tapi toh ia tetap mengetik nomor Deidara. Kali ini, yang muncul adalah.."Yaelah..yang ini juga udah ada. Mau disimpen ulang juga?"

Kayaknya ada yang salah…

"Kameramen juga gak? Nomor dia xxxxxxxx.."

Untuk ke tiga kalinya Naruto mengetik. Dan sekarang muncul tulisan; "Aduh..ini juga udah ada. Gimana sih?"

Sementara Naruto sedang mengingat-ingat 'sesuatu yang salah' itu, Kakuzu bertanya.

"Dulu kamu pernah ikut acara ini juga kan? Saat itu emangnya kamu gak dikasih nomer hape sama anak-anak buah saya?"

ITU DIA!

Naruto menoleh dengan muka gak karuan." Iya..udah punya.."

"Terus kenapa gak ditelpon sendiri sejak awal?"

Naruto serasa pengen nyemplung ke jurang. Tanpa semangat, ia menjawab,

"…..itu dia yang saya lupa."

Kakuzu cengok. Author ketawa. Pembaca jatuh dari kursinya.

Dengan berurai air mata, Naruto pun beranjak meninggalkan kantor Kakuzu, mencari warung makan sekaligus menelepon para kru Tercekek-cekek.

"Apaan sih? Kok gak ada yang bisa dihubungi?" Naruto frustasi. Sejak satu jam yang lalu dia berusaha menelepon kru Tercekek-cekek, tapi hasilnya nihil. Kayaknya hape mereka mati semua.

"Gimana ini? Masa iya gue kudu balik ke kantor gaje tadi? Udah malu gue..lagian, ke sana juga gak bakal ada gunanya." Ratap Naruto.

Setelah berpikir sampai tertidur (mikirnya dua menit, tidurnya satu jam lima puluh delapan menit), akhirnya Naruto memutuskan untuk melakukan usaha terakhirnmya.

Ia pun mulai berjalan menyusuri kota, dan memutusan untuk bertanya pada orang-orang. Tapi pasti capek banget kalo kudu nanya satu-satu ya, pikirnya.

Naruto terus berjalan.

Terus berjalan.

Berjalan terus…

"WOI, AUTHOR! GUE CAPEK TAU! KASIH SKENARIO LAIN KEK!" tereak Naruto.

Akhirnya, Author pun berbaik hati memberikan ilhamnya lagi.

Lampu 3,5 watt di otak Naruto pun menyala.

"Aha! Gue kan punya Kagebunshin no Jutsu! Gyahahaha! Ternyata gue jenius..! Gyahahaha! SASUKEEEE! SEKARANG GUE UDAH JADI ANAK JENIUS!"

Orang-orang yang ada di sekitar Naruto langsung noleh dan cengok melihat kelakuan gaje Naruto.

Perbedaan orang jenius sama orang bego emang sangat tipis, pikir mereka.

Sementara itu

"Ash…" Neji menatap Ash. "Kita tukaran tempat duduk. Gue aja yang nyetir, biar lebih cepet."

"Oke!" sahut Ash cepat. Berarti bisa

Mereka pun bertukar tempat duduk.

Neji menajamkan byakugannya, dan sebentar kemudian ia tersenyum.

"Ketemu!" desisnya."Kalian siap semua?"

Tim Tercekek-cekek di jok belakang saling berpandangan. Deidara, Madara, dan Sasuke mempersiapkan kemampuan shinobi mereka, berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi. Kameramen meletakkan kameranya. Meskipun merekam kejadian adalah tugasnya, tapi kali ini ia merasa kalau gajinya tidak cukup besar untuk membayar nyawanya.

Ash mengencangkan sabuk pengamannya. "Jangan khawatir, Neji. Sebagai sopir yang berpengalaman, kebut-kebutan bukan masalah besar bagi gue."

Neji kembali berkonsentrasi. Dari pespektif byakugannya, ia mampu menangkap sosok Itachi dan Kisame.

Ia pun melaju lurus ke arah mereka.

Tim Tercekek-cekek menahan nafas. Ah, tidak..

"NEJIIIIII…..!" semuanya berteriak histeris.

Sodara-sodara, rupanya Neji melaju tanpa memperhatikan lalu-lintas 'nyata' di hadapannya. Yang dilihatnya hanyalah pandangan jarak jauh ke arah Itachi. Padahal di depannya…

CKIIIITT..BRUUMMM BRUAAG!

"KYAAAAA!"

"WHAT THE HEEECKK?"

"HELP MEEE!"

Semua mobil, truk dan kendaraan lain langsung panik menghindari Neji, anak-anak yang menyebrang pun berlarian. Keributan lalu-lintas pun tak terhindarkan.

"Semoga gak ada korban jiwa.." batin Ash. Amin…

"Semoga gak dikejar polisi.." batin Madara. Do'a yang bagus, Madara.

"Semoga gak nabrak mobil pengangkut elpiji.." batin Deidara. Sempat-sempatnya dia mikirin elpiji di saat seperti ini. tapi emang bahaya banget sih kalo sampe nabrak mobil pengangkut elpiji.

"Semoga gak ada kecelakaan.." batin Kameramen. Err..Kameramen, kayaknya sejak tadi udah terjadi minimal 137 tabrakan, deh..

"Semoga rambut gue gak rusak.." batin Sasuke. Yak! Silahkan lempari makhluk yang satu ini dengan sepatu, para pembaca!

Neji terus melaju dengan kecepatan maksimal tanpa mempedulikan kenyataan hidup di hadapannya., seperti layaknya ninja Hattori, ia terus mendaki gunung lewati lembah..

"Ash! Ambil alih setirnyaaaaaa!" teriak Kameramen.

"Gimana caranyaaaa?" balas Ash.

Untunglah tak lama kemudian, mereka menjauhi jalan raya, melaju di area yang jauh lebih sepi dan menuju padang rumput.

Tapi..well… semakin dekat, terlihatlah sebuah sungai yang lebar. Artinya, untuk sampai di padang rumput di seberang, mereka harus melompati sungai itu.

"Sungai! Neji!"

Neji baru menyadari kalau ia berada di ujung tanduk.

"Teman-teman," ucap Neji, "buktikan kalau kalian adalah ninja yang hebat. Lompat dari mobil dan mendaratlah ke padang rumput di seberang!"

"WHAT?"

Tanpa peringatan ke dua, Neji mendobrak pintu mobil di sebelahnya, lalu meloncat keluar. Madara, Deidara, dan Sasuke secara refleks langsung menggunakan jutsu terhebat masing-masing untuk menyelamatkan diri.

Ash dan Kameramen…

"TIDAAAAK!"

Naluri supir Ash bekerja. Ia langsung berdeser ke jok supir dan mengendalikan kemudi.

"ARE YOU READY MY FRIEEEEND?" teriaknya.

"TIDAAAAK!" kameramen menjawab—tepatnya berteriak histeris.

Dengan ketrampilan campuran dari pilot jet tempur campur pembalap formula 1, Ash menekan gas sekuat-kuatnya. Mobil mereka pun melaju terbang melewati sungai dan mendarat ke seberang dengan hempasan yang kuat.

Oke..emang berlebihan. Gak usah protes!

Semua anggota Tercekek-cekek pun tiba dengan selamat.

"Kali ini gue aja yang nyetir!" teriak Ash setres. "Neji dan yang lain lari aja. Kalian kan ninja!"

"Betul! Kami yang manusia biasa ini pake mobil. Kalian lari di depan!" dukung Kameramen. "Madara! Deidara! Kalian benar-benar gak setia kawan! Bukannya nolongin, malah lari sendiri-sendiri!"

"Eh…" Deidara dan Madara kali ini merasa bersalah. Jadi mereka rela-rela saja lari.

Akhirnya perjalanan dilanjutkan. Kali ini, Neji memimpin di depan, Madara, Sasuke, dan Deidara menyusul di belakangnya. Sedangkan Kameramen dan Ash mengendarai mobil di belakang mereka.

"Hmm, menurut insting gue, kita lagi diikutin." Kata Kisame.

"Gue tau. Penggemar gue kan emang banyak. Jadi banyak yang suka nguntit gitulah."

Kisame ngelirik Itachi dengan tatapan pembunuh. "Gue serius."

Mereka berdua menghentikan langkah, lantas menoleh ke belakang. Mereka melihat Naruto yang tengah berdiri.

"Dia…" Itachi mendesis.

Kisame bersiap untuk melakukan pertempuran.

"Ya, Itachi. Dia.."

"Kisameeee…itu siapa? Kagak keliatan…"

Kisame langsung nyambit Itachi. "Gue pikir loe udah ngeliat. Itu, si Jinchuriki. Uzumaki Naruto, anak dari desa Konoha, tokoh utama karangan Masashi Kishimoto."

Itachi tersentak. Ia menoleh ke arah Kisame. Matanya melebar. "Kisame?:"

"Hmm?"

"SEJAK KAPAN LOE JADI PINTER NGINGET DATA DIRI ORANG?"

Kisame langsung nyekek Itachi. Nih anak gak ada serius-seriusnya sama sekali! Batinnya jengkel. Daripada setres ngurus temannya yang gaje tapi narsis itu, ia pun mengalihkan pandangan ke arah Naruto.

Naruto tertawa lebar. "Kenapa? Kaget ya ngeliat gue? Gyahaha!"

"Dari mana loe bisa tau kalo kira di sini?" tanya Kisame.

"Gyahaha! Sebagaoi orang jenius, hal itu mudah saja!"

Kisame, Itachi, dan para pembaca langsung sweatsdrop.

"Jadi," lanjut Naruto. "Gue tinggal pake jurus bayangan, lalu nanya ke orang-orang. Tau gak loe, apa yang gue tanyain?"

Kisame dan Itachi menggeleng bersamaan. "Gak minat."

"Halah..jangan sirik! Padahal penasaran kaan?" tukas Naruto cuek. "Jadi gue nanya; 'Apa kalian liat sekelompok orang gaje yang terdiri dari dua presenter Tercekek-cekek, satu supir cewek, dan satu kameramen?'"

"Perasaan tadi kita udah bialng kalo kita gak minat kan?" bisik Itachi. Kisame mengedikkan bahu.

"Dan gak ada yang tau!" lanjut Naruto.

"So what?" Itachi menyipitkan mata.

"Heh! Cerita gue belum selesai! Nah, abis itu gue ganti pertanyaan. Jadi gue nanya, 'Apakah kalian melihat seorang pemuda narsis dan seekor..eh, seorang manusia setengah hiu bermuka gaje?'"

"WHAT? Loe bilang gue bermuka gaje?" Kisame murka. Tapi emang bener aneh sih, Kisame..

"Emangnya gue narsis ya? Kalo cakep sih emang iya.." ucap Itachi. Nah, narsis lagi kan…

"Dan ternyata semua orang pernah liat kalian! Dengan mengandalkan jawaban dari orang-orang, gue pun bisa menelusuri jejak kalian. Dan sekarang— HEI! WOI!" Naruto shock saat menyadari kalau Itaci dan Kisame sudah berbalik badan dan melanjutkan perjalanan.

"Tunggu!" teriak Naruto

Kisame dan Itachi tetep cuek dan melanjutkan perjalanan.

"Gue dicuekin…" ratap Naruto. Ia pun segera berlari mengejar kedua buruannya.

Tim Terceke-cekek masih terus melanjutkan perjalanan mereka. Berkat bantuan Neji, mereka pun bisa mengejar Itachi dan Kisame dengan cepat.

"Naruto?" Sasuke terkejut melihat sosok Naruto di tempat itu.

"Itachi?" seru Madara.

"Sasuke?" Itachi tersentak.

"Kisame?" Deidara kaget.

"Deidara?" Kisame ikut kaget.

"Kameramen.." panggil Ash.

"Ash…" balas Kameramen.

"KENAPA KALIAN IKUT-IKUTAN?" bentak Madara.

"Kenapa kalian datang ke sini?" tanya Itachi.

"Sudah gue bilang. Gue pengen ngajak loe pulang." Sahut Sasuke.

"Kenapa?"

Sasuke menghela nafas. "Itu..karena aku membutuhkanmu…"

Madara berbisik ke Deidara, "Kenapa jadi serius kayak sinetron gini?"

"Udahlah..yang penting kerjaan kita kelar." Balas Deidara.

Itachi memiringkan kepalanya dengan pandangan bertanya-tanya. "Kenapa?"

Wah, drama sudah mulai berlangsung, batin Kisame. Ia pun buru-buru minggir dan duduk di bawah pohon. Tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya, ia pun membuka kotak bentonya.

Itachi melirik ke arah Kisame dengan mata tajam. "Kisame…" desisnya. "JANGAN HABISIN MAKAN SIANG GUEEE!"

DHUAAG! Sasuke melemparkan sebatang pohon ke arah Itachi. "Gue lagi ngomong serius sama loe! Kenapa loe malah mikirin makan siang?"

"Berani-beraninya kau melempar Aniki-mu yang tengah kelaparan ini dengan pohon!"

"Makanya dengerin gue!"

Halah, to the point aja lah.. batin Kameramen.

"Oke..oke…" Itachi menyerah. "Tadi kita sampe di mana? KISSAMEEE! JANGAN DIHABISIIIINN!"

Kisame cengok. "Heh, udah, ntar gue sisain. Loe ngobrol aja dulu ma adek loe."

"HEH KALIAN ANAK-ANAK KLAN UCHIHA!" tiba-tiba terdengar suara teriakan dari toa berkekuatan 70 Gb *fanfic ini gak ada bener-benernya sama sekali -_-'*.

Semua orang yang berada di situ langsung menoleh ke arah suara. Ternyata tersnagkanya adalah si kameramen.

"Itachi dan Sasuke! Kalo kalian mau muka kalian nampang di tipi, sekarang juga cepatlah atur jarak satu sama lain supaya bisa langsung tertangkap oleh jangkauan kamera!"

Sasuke dan Itachi langsung lari mendekat satu sama lain. Dasar pada pengen tampil semua.

"Jadi kenapa loe pengen banget gue pulang?" tanya Itachi lagi.

Sasuke menghela nafas panjang. "Udah gue bilang, gue butuh loe.."

"Ya gue tau.. loe pasti bu—"

"…BUAT BAYAR REKENING LISTRIK, BELI MAKANAN SEHARI-HARI, UANG PERBAIKAN RUMAH, BELI TIPI BARU, DAN BERSIH-BERSIH RUMAH!"

….…..

"….."

"…..?"

"Pe..pemirsa.." Deidara tersadar ke dunia nyata dan ingat kalau dia bertugas sebagai presenter. "Mengejutkan sekali. Tadinya kita mengira akan terjadi drama yang menyentuh di sini. Namun, apa yang terjadi? Ternyata, klien kita ingin mengajak Itachi pulang hanya untuk masalah rumah tangganya!"

"Dan sepertinya," tukas Madara, "Sekarang ini akan terjadi pertempuran yang sangat sengit, karena Uchiha Itachi sepertinya sangat tersinggung, dan Uchiha Sassuke tentu saja tidak akan menyerah."

Nih para presenter malah manas-manasin suasana, batin Kisame.

Itachi masih bergeming. "Apa?"

"Iya! Loe mikir dong! Ninggalin gue pas masih di akademi! Loe pikir hidup gak pake duit? Kalo gue lagi disuruh tugas oleh Hokage, ntar siapa yang jaga rumah?"

"Kagak usah dijagain juga gak apa-apa. Emangnya ada barang berharga di rumah kita?"

"Jangan banyak bacot! Kita bertarung saja!"

"Halah, emang siapa juga yang dari tadi ngomong mulu hah? Ya udah, bertarung ya bertarung!"

"Oke!"

"Oke!"

"Are you ready to rock?"

DHUAGG! Deidara langsung nglempar Sasuke pake sebongkah tanah liat.

"ROCK APANYA? BURUAN BERTARUNG!"

Ash dan kameramen saling berpandangan. Suasana tegang bin gaje kembali terasa. Sekarang mereka menepi. Yang ada di tengah-tengah arena hanyalah kedua anak keturunan Uchiha tersebut.

Pertempuran yang belum pernah terjadi dalam sejarah manga Masashi Kishimoto akan segera terjadi.

"Eh, ngomong-ngomong.. sejak tadi kok gue dicuekin ya?" gumam Naruto. Sayangnya tetep gak ada yang peduli dengannya.

Tsutzuku!

Ahh, chapter ini selesai juga. Pengejaran Tim Tercekek-cekek udah nyaris ke titik ending neh. Semoga chapter berikutnya bisa diapdet dengan lebih cepat.

Duh, Author mo ngomong apa lagi ya? Err, sankyuu buat semua reader dan reviewer yang udah mengikuti perjalanan fic gaje ini *halah*. Kayaknya para karakter Naruto jadi malu-maluin semua ya di fic ini. gak apa-apa deh. Kishimoto-sensei juga gak bakal tau. Hehe…

Jangan lupa direview yaa! I love review!

Owari de, jaa neee~~!