Disclaimer: APH masih punya Hidekaz Himaruya. Hidekaz mati juga APH gak akan diwariskan ke saya. Tch. Kalo lagu "Kosong" itu punya Dewa 19.

Pairing: Male!MalaysiaXMale!Indonesia

Rate: T

Warning: Slight shounen-ai. OOC. Gagal. Ancur. Judul gak nyambung. Gak penting. Gak suka? Salah sendiri baca-baca. -plak!-

N - No

Seragam 'itu' masih terpajang di lemari kaca di sisi ruang rapat ASEAN. Indonesia memandanginya dengan horror. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh 'adik' kesayangannya. Benaknya melayang. Betapa ia ingin meremukkan wajah angkuh yang saat ini berada di sampingnya -menertawakannya.

"Jadi? Tunggu apa lagi, Endon?," sang 'adik' biadab memasang senyum puas ke arah kakaknya yang hanya bisa menghela nafas lemas.

Indonesia tidak dapat menerima kenyataan bahwa 'adik'-nya telah mengkhianatinya. Ia tidak bisa -dan tidak mau menerima kekalahannya. Tidak sepantasnya ia kalah. Dan ia memang tidak kalah. Kecurangan bukanlah kemenangan yang layak, begitu pikirnya. Kenyataannya, 'kemenangan yang layak' itu tidak berlaku di mata wasit.

"Heh, ngelamun lagi! Cepetan pake!," dengan angkuhnya Malaysia melempar kostum 'itu' ke arahnya. Indonesia hanya diam. Ia geram akan kelakuan 'adik'-nya. Adat melayu mengajarkan sopan santun kepada orang lebih tua katanya. Tch. Omong kosong.

"Endon, budek, ya? Budak budek! Hahahaha!," tawa itu. Oh, sungguh memekakkan telinga. Andaikan kekerasan itu tidak melanggar hukum, mulut itu pasti sudah ia jahit rapat-rapat.

"Ck. Udah lah, Ndon. Terima aja. Sekarang lu jadi budak gua. Sehari doang, kok.,"

Hanya sehari, ya? Hmmm, HELL NO!

"Tidak mau."

"Ha? Loh? Katanya bukan pengecut? Petok petok! You chicken!," Malaysia mengejek-ejek kemunduran sang 'kakak'. Ia menirukan kelakuan ayam yang pengecut. Sungguh, ia sangat cocok menjadi ayam sungguhan. Andai ilmu santet itu tidak dosa, Indonesia pasti sudah memelihara ayam melayu tampan sekarang.

"Dasar, budak penakut! Mana prinsip 'janji adalah janji' lo? Cuma satu hari doang padahal. Dasar payah. Gak guna.," ia menambahkan.

Indonesia menundukkan kepalanya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan tetesan air asin mengalir dari matanya. Setelah sekian lama ia mengemban tanggung jawab untuk membimbing Malaysia, beginikah balasannya? Bukannya pamrih, tetapi apakah ajaran sopan santun yang sudah berulang kali ia contohkan ke Malaysia tidak dapat diserap oleh otak 'adik'-nya? Dengan mudahnya Malaysia mengopi budaya 'kakak'-nya. Semestinya mudah juga baginya mengopi ajaran baik 'kakak'-nya kan?

"Udah lah. Dari awal emang lu budak. Seumur hidup tetep aja jadi budak.,"

"Cukup, Malaysia.," Indonesia menggeram pelan. Suaranya bergetar menahan tangis.

Malaysia terdiam sebentar melihat 'kakak'-nya mulai hancur. Wajahnya tersenyum puas, tetapi dadanya terasa panas dan perih. Dia mungkin kejam, tetapi dia masih punya hati. Wow. Mengejutkan.

"Enak sekali, ya, bicaramu tadi. Satu hari menjadi budakmu? Tch. Menyedihkan. Aku memang kakak yang gagal.," Indonesia tersenyum pahit. Ia mendongakkan kepalanya memandang langit-langit koridor. Bahasanya yang biasanya urakan berubah menjadi baku namun tenang.

Malaysia semakin merenung. Dadanya menjadi sesak.

"Iya. Aku memang mantan budak yang penakut. Aku takut saat melihat Nether membunuh rekan seperjuanganku saat upacara bendera. Aku takut saat tahu Japan meracuni salah satu dokter temanku sampai mati. Aku takut saat melawan mereka berdua. Aku takut akan posisiku sebagai budak yang melawan. Aku takut mati.," air mata turun di pipi sang pejuang garuda. Ia mengambil nafas untuk menenangkan dirinya.

"Aku memang penakut, Malaysia. Pengecut sejati. Aku takut akan cambukan, penyiksaan, tembakan senapan, gas nitrat, dan darah yang mengalir di atas seragam tentara coklat-hijauku. Aku takut semuanya.," suaranya semakin lemah, seperti tercekik. Ia menangis dan terus menangis. Ia tidak kuat lagi menahan butiran-butiran kelenjar yang telah lama ia tahan.

Sedangkan Malaysia hanya dapat diam dan menonton 'kakak'-nya menghancurkan dirinya sendiri. Siapa yang tidak berguna sekarang, hei, Malon?

"Dan yang paling aku takutkan, hanya kau, Malaysia.," Indonesia menatap mata 'adik'-nya lekat.

"Aku takut saat kau pergi memisahkan dirimu dariku. Aku takut melihatmu hidup sendiri tanpa bimbinganku. Aku takut akan kemandirianmu, Malaysia. Aku takut sekali.,"

Malaysia tersentak. Dadanya semakin sakit. Jantungnya tidak beraturan. Rasa bersalah menggerogoti ubun-ubunnya.

"Aku takut saat England datang. Aku takut ia akan melakukan hal yang Nether lakukan padaku, dan syukurlah ternyata ia datang untuk membantumu. Aku juga takut saat kau merdeka. Aku takut kau akan lupa diri dan menyakiti sekitarmu.," Indonesia menenangkan nadanya. Ia dapat mengendalikan emosinya kembali.

"Dan aku takut saat kau masih bersamaku. Aku takut akan tanggung jawabku terhadapmu. Aku takut aku tidak dapat membimbingmu dengan baik.," mata sang pemuda melati menggambarkan kesedihan yang mendalam. Rasa sedih yang telah lama ia pendam bersama kenangan pahit yang tidak terhitung.

"Dan aku takut akan hari ini. Hari dimana kau membuka ketakutanku kembali, Malaysia.,"

Ekspresi Malaysia tak dapat terbaca. Ia bingung. Semuanya sudah terjadi dan tidak mungkin ia mengulang waktu. Andaikan bisa, ia akan mengulang final AFF dan membiarkan dirinya kalah. Tidak rasional memang, tapi hal rasional apa yang bisa dilakukan sekarang?

~.~

Sesungguhnya, yang paling aku takutkan hanya satu.

Aku takut mencintaimu, Malaysia.

Aku takut, jika aku mencintaimu, kau akan menjadikannya alasan untuk menginjakku.

Tidak, Malaysia. Tidak bisa.

.

.

O - Obvious

Keributan di koridor tadi mengundang perhatian anggota rapat yang lain. Entah sudah berapa lama mereka menonton argumentasi Malaysia dengan Indonesia. Setelah selesai, semuanya terdiam. Melihat keadaan Indonesia sekarang, tidak mungkin mereka berani. Jika salah bicara satu kata saja, mungkin Indonesia akan kembali menangis meraung-raung.

"Apa liat-liat? Bubar!," Indonesia sudah kembali ke sifat aslinya. Semuanya menghela nafas lega. Begitu pula dengan Malaysia. Masih sambil memegangi kostum 'itu' -yang berakhir sia-sia- ia pergi meninggalkan koridor bersama para 'penonton'.

"Malon!," seseorang memanggilnya.

"Apa, Sing?," ternyata Singapura.

"Kau apakan si Indon?,"

Malaysia terdiam. Dia apakan Indonesia? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya.

"Dia marah banget, ya, sama gua?," oh, Malaysia. Tidak ada pertanyaan lebih bodoh lagi, ya?

"Menurutmu?,"

.

.

P - Phantom

Tengah malam duduk di lantai balkon. Wajah menghadap langit, menghitung bintang, dan gagal. Mengutuk diri sendiri dalam bahasa melayu. Bingung.

Berdiri dan berjalan ke sisi balkon. Memandangi keadaan sekitar layaknya mata-mata internasional yang dibayar mahal hanya untuk menguntit urusan orang. Menghela nafas panjang dan kembali ke dunia semula. Menghitung bintang sambil mengutuk dalam bahasa melayu. Dasar imbisil.

"Tch. Sial.,"

Gerutuan frustasi keluar. Ekspresi masam terpampang jelas. Ia keluarkan headset dan handphone-nya. Wow, Belekberi. Orang kaya.

"Klik.," ia menekan tombol play.

Kamu seperti hantu

Terus menghantuiku

Ke mana pun tubuhku pergi

Kau terus membayangi aku

Lagu pertama di playlist dimulai. Lagu berbahasa Indonesia, dari Indonesia, oleh band papan atas Indonesia. Ia membuat video clip imajinasinya, dengan dia dan seorang pemuda berkulit sawo matang yang agak mirip dengannya sebagai model. Si bodoh ini. Sudah mengkopi budayanya, sekarang mau mengacak-acak musiknya dengan video homo?

Salahku biarkan kamu

Bermain dengan hatiku

Aku tak bisa memusnahkan

Kau dari pikiranku ini

Wuih. Dalam.

Di dalam keramaian aku masih merasa sepi

Sendiri memikirkan kamu

Kau genggam hatiku

Dan kau tuliskan namamu

Kau tulis namamu

Lagu pemicu depresi. Herannya, ia sama sekali tidak tertarik menyentuh tombol stop. Ia terus mendengarkan lagu itu sambil sesekali menyenandungkannya. Mengusir segala macam makhluk malam yang biasanya bergentayangan mencari mangsa. Hebat. Selain pencuri, dia juga dukun ternyata.

Tubuhku ada di sini

Tetapi tidak jiwaku

Kosong yang hanya kurasakan

Kau telah tinggal di hatiku

Ia beranjak dari balkon dan kembali ke dalam kamarnya. Masih sambil mendengarkan lagu itu. Dadanya sesak, tetapi tidak membuatnya berhenti bernyanyi. Untuk mengusir nyamuk mungkin. Kalau iya, usahanya berhasil.

Di dalam keramaian aku masih merasa sepi

Sendiri memikirkan kamu

Kau genggam hatiku

Dan kau tuliskan namamu

Kau tulis namamu

"Si Indon sengaja, ya, bikin ini lagu buat gua. Tch.," ia menggerutu seiring dengan nada penutup lagu sambil memaki-maki lagu tadi.

Tiba-tiba…

"UWAAAA! SETAAAAN!," seseorang menepuk punggungnya.

"Enak aja. Heh, bukan gua yang bikin itu lagu, tapi rakyat gua. Dan itu bukan buat lu, sableng!," ternyata si model video clip imajiner nomor dua.

"I- Indon…," ia terengah-engah kaget.

"Apa?,"

"Setan lu.,"

Dan mereka berdua menjalani malam yang indah berdua di kamar bernuansa melayu. Memukuli satu sama lain sambil bermain laser dengan Bang Gayusuck.

.

.

Q - Queen

Kita harus hormat kepada yang lebih tua, menurut dia. Apalagi kalau orang itu telah merawat dan menjaga kita. Kita sudah sepatutnya membalas budi baiknya. Dan menurutnya, dia lebih tua dan telah menjagaku sejak kecil.

Hormat padanya? Bah!

Lebih baik aku menghormati bokong anak kera daripada menghormatinya. Memangnya siapa dia? Raja?

Sifatnya yang sok alim dan bangsawan di depan negara lain. Padahal, kepada adiknya sendiri bahasa paling urakan sekalipun dapat ia keluarkan dengan santai dan tanpa dosa.

Pandangannya yang mantap dan selalu terarah ke depan, seakan ia sedang memikirkan revolusi untuk maju. Padahal, di depan rumahnya itu memang ada 'Warung Tegal' -yang kuragukan pemiliknya asli dari Tegal- kesayangannya.

Keberaniannya melawan ketidakadilan yang begitu diagungkan, sama sekali tak dapat dipercaya oleh masyarakat awam. Hah! Rasakan! Sok anggun dan sok suci, tetapi rakyatnya sendiri tak ada yang dapat dipercaya. Petingginya yang berwajah agung dan 'kaya', sudah jelas mengkhianatinya. Si bodoh ini. Masih saja mengandalkan mereka. "Tunggu saatnya tiba" katamu? Oh, Tuhan… Sebelum 'saatnya' tiba, kau sudah mati dibunuh rakyatmu.

Kelakuanmu itu… Tidak bisa lebih sok lagi, ya?

Kau kira dengan bersikap bak raja yang bijaksana, kau telah berhasil menjadi 'raja yang bijaksana'? Cih. Pandang dulu dirimu itu. Tidak bisa lebih naïf lagi, ya? Mau saja kau dibodohi dan diinjak-injak oleh 'bos' dan 'kaki-tangan'mu sendiri. Tapi, saat aku-atau negara lain mencoba menginjakmu, sifat sok 'raja'mu malah keluar. Bodohnya kau ini. Tapi, selain bodoh, keberanianmu boleh juga. Hanya otakmu saja yang perlu kau asah setajam keberanian naifmu itu.

Kau itu tidak cocok jadi raja, Ndon. Tidak cocok sama sekali.

Tapi, bukan berarti aku menghinamu sebagai budak, ya. Walaupun, pasti akan menyenangkan mempunyai dirimu melayaniku setiap hari. Ah, tapi, sudahlah…

Sifat berani, naïf, agung, namun bodohmu itu seperti perempuan. Kau itu bukan raja, Indonesia.

Raja tidak ada yang naïf. Raja tidak ada yang polos mengacu ke bodoh. Raja tidak ada yang cengeng.

Dan seorang raja tidak akan sudi menangis di dekapan kekasihnya seperti sekarang.

Kau itu ratuku, Indonesia. Dan kuharap akan selalu begitu.

.

.

R - Run

Tugasmu menumpuk, tuh. Sudah setinggi puncak Pegunungan Jayawijaya. Eh, tapi puncaknya kan sudah mulai meleleh, ya? Ah, pokoknya sudah menumpuk banyak sekali.

Lari, Indonesia. Lari!

Bosmu pusing. Dia sedang mengomelimu, lagi. Ia menceracau tentang dana pemasukkan, dana pegeluaran. Keuntungan, kerugian. Uang, uang, uang. Bla, bla, bla. Sudah, deh, pak. Semua sudah mengerti. Ini sudah kedua, eh bukan, tiga, eh, tujuh, eh, pokoknya sudah sering bapak mendongeng hal yang sama! Intinya, bapak tidak mau rugi, kan? Bapak mau uang, kan? Kalau mau uang, ya sudah sana, KERJA YANG BENER! Bisanya ngomel doang.

Lari, Indonesia. Lari!

Akhirnya, bosmu selesai juga. Tapi, sudah jam berapa sekarang? Huwaaa, kau terlambat rapat ASEAN! Dasar, bos bleguk!

Lari, Indonesia. Lari!

"Brak!," pintu yang malang. Ruangan rapat sudah sangat sepi. Tinggal tiga 'adik'mu yang masih di sana. Itu pun mereka sudah beranjak dari kursi masing-masing. Oh, betapa malunya.

Lari, Indonesia. Lari!

"Lu terlambat lagi, Ndon. Ck. Untung tadi gua nyatet hasil rapat. Enak banget lu, ya? Tiap telat tinggal nyontek.," 'adik' yang baik. Ingin kupeluk rasanya.

Lari, Indonesia. Lari!

Eh, tapi, masa peluk dia? Tidak jadi. Jangan lari ke sana, Indonesia! Bahaya!

"Ngapain bengong? Ayo, pulang.," tawaran bagus.

Tunggu. Jangan lari dulu, Indonesia. Diam sebentar di situ. Genggam tangannya.

"WAAA HUJAN!,"

Genggam tangannya. Lari, Indonesia! Lari bersamanya di bawah hujan. Menuju rumah kalian.

.

.

S - Smile

"Hei, Laos, kata kamu senyum si Indon itu gimana, sih?," pertanyaan pertama di Minggu pagi. Absurd sekali kau, Malaysia.

"Hm? Senyumnya Kak Nesia, ya? Sejuk tapi sesak.," jawab si kecil Laos.

"Gimana, tuh, maksudnya?," ups. Laos manis, bahasamu terlalu tinggi untuk otak 'kakak' melayumu ini. Pengetahuan diksinya itu terbatas, sayang.

"Gimana apanya, kak?," tuh, kau jadi bingung, kan? Makanya, adik manis. Lain kali, tak usah kau gubris 'kakak'mu itu. Dia hanya melanjutkan setengah dari igauan subuhnya, kok.

"Ya, yang kamu bilang tadi. 'Sejuk tapi sesak', tuh, gimana maksudnya?," oh la la. Otak anak ini memang super tidak sensitif.

"Ummm, gimana, ya? Pokonya, kalau Kak Nesia senyum, rasanya sejuk. Seakan semuanya baik-baik aja dan akan selalu begitu.," anak kecil tidak pernah bohong, lho, Malaysia.

"Terus bagian sesaknya?," oh, iya. Bagian itu. Aku juga penasaran, Laos.

"Coba kakak perhatiin Kak Nesia. Dia selalu senyum untuk kita, walaupun kita enggak senyum untuk dia. Rasanya sesak kalau inget waktu aku nakal, terus Kak Nesia marah. Tapi, setelah marah pasti dia senyum lagi dan sayang lagi sama aku.," imut sekali penjelasanmu, adik manis.

"Kak Malay masa enggak sadar, sih? Kan Kak Nesia paling sering senyum ke kakak. Padahal, kalian habis berantem.," eh? La- Laos, kamu bicara apa? Mana sudi aku tersenyum padanya?

"Senyum ke aku? Hahaha! Senyum apa? Senyum balas dendam? Senyum mesum?," kurang ajar. Untuk apa aku tersenyum mesum padamu? Berpikir yang tidak mesum tentangmu saja aku sudah cukup jijik.

"Senyum tulus kok, kak.,"

Eh?

~.~

"Kau sedang apa menempel ke pintu begitu, Indonesia? Menguping?,"

"Eh, Indon, sejak kapan lu di situ?,"

Sialan kau, Singapura.

.

.

T - Tulip

"Allahu akbar, Allahu akbar!,"

Wah, sudah adzan subuh. Brunei sudah bangun, belum, ya? Kalau si Indon pasti belum. Kalau Brunei sudah bangun mungkin dia yang akan membangunkannya. Tapi, jadi tidak enak juga. Aku kan lebih tua dari dia. Mestinya itu tugasku, ya. Ya sudah, aku saja yang membangunkan si kerbau mabuk itu. Hhhh…

"Cklek!,"

Brunei belum ke sini. Tumben. Apa mungkin dia wudhu dulu, ya? Ugh. Kamarnya berantakan sekali. Seperti bongkahan besi berkarat yang dulunya titanic. Hebat. Perasaan kerjaannya tidak banyak, bisa-bisanya kamar ini terlihat seperti habis jadi lokasi kerja rodi. Ah, kerja rodi. Jadi ingat Netherlands. Tch.

"Pluk!,"

Suara apa itu? Asalnya dari dekat jendela. Aduh, jangan-jangan salah satu sahabat gaibnya si Indon. Duh, ehm, permisi, mas, mbak, pak, apalah. Eh? Apaan, nih? Bunga? Kok nguncup begini? Ini kan...

Tulip.

Tch. Sial. Netherlands sialan. Main serobot saja.

~.~

"Kak, ngapain di kamar Kak Indo? Udah sholat subuh belum?,"

"Eh, Brunei. Ah, iya, ya. Tadi mau apa, ya, gua kesini? Aduh, belom. Kakak sholat dulu, ya, Brun! Tolong bangunin si kebo yang abis dibius ini. Suruh sholat biar tobat.,"

Tadi aku mau apa, ya, ke kamar anak ini? Oh, iya! Kan semestinya aku yang membangunkan bocah idiot ini. Ah, ya sudahlah. Ada Brunei ini. Eh, mumpung ada Brunei…

"Brun, tolong sekalian bilang si Indon tulipnya buat kakak, ya.,"

"Tulip?,"

.

.

U - Underwear

Hari ini merah putih lagi. Sama seperti kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Selalu merah putih. Tidak ada yang lain apa?

Bosan aku melihatnya, Ndon. Aku muak melihat warna lambang musuhku setiap hari.

Kalau boleh request, bisa tolong diganti dengan yang warna hitam transparan dan bercorak? Pasti lebih keren daripada merah putih yang membosankan. Aku berani jamin, deh!

Merah berarti berani, putih artinya suci.

…..

Vulgar sekali kau, Ndon.

~.~

"Ehm, lon, muka gua di atas sini.,"

.

.

V - Vandalism

"Demonstrasi mahasiswa anarkis kembali terjadi di depan kantor walikota XXX, daerah XXI."

Berita itu lagi. Ini benar koran edisi terbaru, kan? Kok isinya sama dengan koran kemarin? Ah, biarlah. Toh hal semacam ini bukan berita baru lagi, apalagi jika aku membacanya di koran Indonesia.

"Ndon, mahasiswa lu urakan amat, sih.,"

"Enak aja! Itu bukan urakan! Mereka cuma mau menagih hak yang semestinya jadi punya mereka!,"

Marah, ya? Dasar over sensitif.

"Lu sebagai personifikasi negara bukannya bantu ngembaliin hak mereka supaya gak terjadi keributan, malah enak-enakan di rumah.,"

"Ugh. Ta- Tapi, kan itu di luar kuasa gua! I- Itu udah diambil alih sama bos gua!,"

Tepat sasaran.

"Jadi, lu ngebiarin mereka bersikap urakan?,"

"Bu- Bukan begitu! Mereka bukan urakan!,"

Ya, bukan urakan -awalnya.

"Iya, iya, ngerti. Bukan urakan, kok. Cuma vandalisme kan?,"

"F*ck you, lon."

.

.

W - Wish

"Kak Nesia! Meteor!,"

"Eh, mana, Laos?,"

"Itu!,"

"Make a wish, Laos!,"

"Kata Kak Singapur, itu kan cuma takhayul.,"

"Dia kan gak asik. Jangan didengerin."

"Hmm, iya, deh!,"

~.~

Tuhan, maaf kalau aku memohon kepada meteor buatanmu. Aku tidak musyrik, kok. Aku hanya menemukan media lain untuk meminta kepadamu.

Tiga permintaan saja, kok, Tuhan. Enggak muluk-muluk.

Satu, aku mohon selesaikanlah segala permasalahan seluruh rakyatku.

Amin.

Dua, aku mohon berikan aku petunjukMu dalam menjaga seluruh rakyatku dan adik-adikku.

Amin.

Tiga…

Yang ini agak panjang, Tuhan.

Kumohon, biarkan aku kembali ke masa lalu. Kembali ke saat aku tidak takut menggenggam tangannya. Ke saat aku tidak takut mencium keningnya dan memeluknya.

Saat-saat aku dan dia kembali ke rumah kecil kita bersama sekali lagi.

"Amin.,"

~.~

"Kak Nesia tadi minta apa?,"

"Rahasia…,"

.

.

X - X?

Apa ini? Peta? Denah? Huruf X?

Peta harta karun?

Ya ampun, anak ini dapat darimana? Jangan bilang dia menyembunyikan harta yang nilainya tak dapat ditulis di kertas saking banyak nol-nya.

Untung aku menemukan peta ini. Dasar bodoh. Menaruh apa-apa sembarangan. Masa peta ditaruh di keranjang pakaian dalam?

[Memangnya kau punya urusan apa dengan keranjang pakaian dalam si Indon, lon?]

Ah, jadi penasaran. Apa, sih, yang dia sembunyikan?

~.~

Ini dia. Titik X. Semoga aku tidak salah membaca peta.

"Sruk. Sruk.,"

Ya ampun, harta macam apa ini? Dikuburnya tidak dalam sama sekali. Kotaknya kecil pula. Apa, sih, isinya?

Aduh, dikunci. Ah, ya, obeng.

"Cklek!,"

Berhasil! Sekarang, tinggal buka.

Eh, apa ini? Foto? Haha mungkin foto memalukannya, ya? Semoga iya. Dengan begini, aku bisa mengerjainya sampai puas.

Tunggu. Foto ini, kan…

~.~

Tahun 1932

Aku (Kiri), Malaya (Kanan).

Di halaman belakang rumah kita.

.

.

Y - You

"Hei, Ndon, ada orang yang lu benci banget, gak?,"

"Ada.,"

"Gua?,"

"Iya.,"

"Berarti lu suka sama Nether, ya?,"

"Bukan Nethere.,"

"Terus siapa?,"

"You, moron.,"

.

.

Z - Zero

Kalau kau bertanya, perbandingan dirimu dengan orang hebat, kau itu nol.

Nol. Kosong. Tidak bernilai dan tidak ternilai. Dapat bertambah, tak dapat berkurang.

Nol. Sendiri, tetapi tidak sendiri seperti satu. Hampa namun dapat terisi.

Nol. Tidak dapat diubah. Tidak akan terbagi. Tetap.

Karena kau itu nol. Tidak dapat dibandingkan dengan apapun.

(END. YAAAY~)

A/N: Maaf jelek. Eh, eh, yang baca ini bacanya sambil dengerin Hatsune Miku - Last Night, Good Night. Gak tau kenapa pas aja. (Padahal gak nyambung). Review~~~