BELIEVE IN ME
By
Hikaru Fujiwara
Disclaimer:
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Summary:
Pertemuan untuk kenangan masa lalu, dan permintaan maaf, juga untuk sebuah permohonan. "Hn, aku hanya memberi Yuuki sedikit perhatian yang mungkin akan kau anggap tak ada apa-apanya bagi seorang ayah."-"Kau bukan ayahnya!"
Warning:
Dikit OOC khusus buat Sasuke, soalnya dia agak banyak ngomong dichapter ini.
*dihajar para Sasuke OC FG*
Chapter 02
Wanita dengan dress putih selutut sengaja berdiri diambang pintu, menyaksikan seorang anak perempuan yang tengah masuk dalam dunianya sendiri bersama boneka-boneka kesayangannya. Sesekali sang ibu tersenyum kala melihat buah hatinya berbicara berbagai lakon yang berbeda pada masing-masing boneka.
Tapi tunggu! Ada suatu benda asing yang menarik perhatian Sakura diantara deretan para boneka itu. Hadirnya sebuah boneka beruang berwarna biru. Ia memandang heran benda tersebut dengan sebelas alis terangkat.
"Sepertinya Yuuki mempunyai teman baru, " ujarnya sambil duduk disamping anak perempuan bernama Yuuki.
"Apakah yang Ibu maksud boneka beruang biru ini?" Yuuki mengangkat boneka itu dan mempersilahkan ibunya untuk mengambil boneka tersebut. "Dia lucu sekali kan, Bu?"
"Ya, " Sakura membelai bulu-bulu kecil disekitar wajah boneka beruang. "Ngomong-ngomong...darimana Yuuki mendapatkan boneka ini?"
"Aku dibelikan oleh seorang paman yang baik hati dan berpakaian rapi, Bu..."
"Hm? Seorang paman?" lagi-lagi Sakura harus mengangkat sebelas alisnya.
"Ummm, aku lupa namanya, Bu. Yang pasti dia sangat tampan dan baik, aku juga sempat ditraktir ice cream rasa strawberry oleh paman itu tadi."
Sakura hanya ber'oh' sebagai respon. Sebagian dibalik otaknya kini tengah sibuk mencari wajah yang sekiranya cocok mendapat gelar 'pria tampan yang baik hati dan berpakaian rapi' itu. Uummmm, apakah mungkin pria yang Yuuki maksud adalah salah satu orang disekitarnya? Contohnya seperti...Sai? Kekasih Ino ini tak pernah absen memberi senyum hangat kepada Yuuki jika bertemu dengannya, tapi Sakura rasa Sai tak pernah memberikan anak itu perhatian lebih –selain senyum tadi-, apalagi membelikan boneka beruang, huh~. Ng, atau jangan-jangan...Shikamaru? Neji? Gaara? Ah, entahlah.
"Kapan kau bertemu dengan orang itu, Yuuki?" Sakura berusaha mencari tahu dengan hanya mengandalkan Yuuki sebagai narasumber utamanya.
"Ketika pulang Sekolah, " jawab Yuuki seraya memainkan bonekanya kembali.
Sakura mulai merasa tidak enak. Jangan-jangan...orang itu adalah penculik anak-anak yang kini tengah merajarela dimana-mana itu? Yah, sekarang kasus penculikan anak memang ramai menjadi pembicaraan panas di kota Tokyo, khususnya para ibu-ibu yang sangat khawatir akan anak-anak mereka yang masih ingusan. Tak terkecuali dengan rasa kekhawatiran wanita berambut yang satu ini...
"Apakah waktu itu...paman Naruto sudah datang menjemputmu?" tanya Sakura lagi. Berusaha untuk mencari pelaku lain yang menurutnya lebih 'aman' daripada penculik tadi. Meskipun ia begitu sadar kalau Naruto bukanlah tipe 'pria tampan yang baik hati dan berpakaian rapi'. Yah, setidaknya Naruto mungkin lebih terlihat sedemikian rupa menurut Yuuki.
"Paman Naruto? Dia tidak pernah datang menjemputku, Bu." jawabnya lagi tanpa menatap Sakura disampingnya, "paman baik hati yang mengantarkanku pulang."
Dengar sendiri kan, Sakura? Sejak kapan Yuuki mengatakan pria yang ia maksud adalah Uzumaki Naruto?
Sakura merasa ingin sekali memukul wajah dengan tiga pasang kumis rubah itu. Mengingat Naruto pernah mengatakan akan menjemput Yuuki hari ini. Tapi...ah! Sudahlah, kalian pasti sudah bisa menebak pemikiran Sakura sekarang .
"Ibu, lihat! Mereka sangat cocok, bukan?" Yuuki menempatkan si boneka beruang biru disamping sebuah boneka beruang berwarna pink, boneka yang diberikan oleh Sakura sebagai hadiah ulang tahunnya setahun yang lalu.
"Ehm, " Sakura menatap sepasang boneka biru-pink itu.
Deg!
'Mungkinkah...?'
~OoO~
Sakura sama sekali tidak bisa tidur sepanjang malam. Matanya tetap terbuka walaupun kini ia tengah berbaring dengan sehelai selimut tebal membungkus tubuhnya. Ia bahkan sudah berjuang keras menghitung domba yang melompat-lompat didalam otaknnya demi satu kata...'tidur'...namun hasilnya sia-sia. Wanita itu masih tidak mengantuk hingga jam sudah menunjukan pukul 01.25 dini hari. Dan ini membuatnya sedikit sakit kepala.
"Oh, ayolah! Aku harus bekerja besok pagi! Dan bagaimana aku bisa bangun tepat waktu kalau keadaannya terus seperti ini, hah?" Sakura mengomel pada dirinya sendiri. Ia tampak membenamkan seluruh kepalanya kedalam selimut yang berwarna senada dengan rambutnya.
Seluruh bagian otak wanita pemilik sepasang emerald ini hanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak luput mengenai wujud orang itu. Benar, tentang si pria misterius. Pria yang begitu baik dimata Yuuki. Pria yang juga berhasil membuatnya tidak bisa tidur seperti sekarang ini. Hatinya mulai merasa tidak nyaman. Takut…takut akan sesuatu yang sama sekali tak pernah ia harapkan telah terjadi.
Sakura akhirnya memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah menuju dapur, mengambil sebuah gelas dan menuangkan air putih disana. Ia duduk dikursi makan, menopang dagunya dengan satu tangan dan mulai meneguk air didalam gelas tadi.
"Tenangkan dirimu, Sakura...!" gumamnya pelan yang lagi-lagi ditujukan pada dirinya sendiri.
~OoO~
Keesokannya...
Sakura melangkah laju menuju satu tempat yang ia yakini sebagai latar terjadinya pertemuan Yuuki dengan pria yang ia maksud kemarin. Yeah, tempat itu tak lain dan tak bukan adalah TK dimana Yuuki bersekolah.
Entah kenapa, semakin dekat langkah kakinya dengan tempat itu, semakin besar pula rasa khawatir yang terus bersarang dihatinya kini. Tak heran disepanjang jalan ia terus memohon...'Oh, Tuhan...semoga saja perkiraanku selama ini salah..!'
Seperti biasa, Sakura selalu datang tepat waktu. Namun untuk kali ini, ada seseorang yang datang jauh lebih awal daripada dirinya. Seorang pria dengan rambut emo berdiri didepan ruangan kelas Yuuki, sampai seorang anak yang bermata sama dengannya datang menghampiri pria itu.
Sepasang emerald milik Sakura melebar sempurna ketika berhasil mengetahui siapa sebenarnya pria misterius yang diceritakan Yuuki tadi malam..
'Tuhan...mengapa kau tidak mengabulkan permohonanku?'
"Sasuke...?" gumamnya pelan, ia menatap tak percaya dengan mulut sedikit terbuka.
Tak sadar, Sakura telah mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang seharusnya tidak boleh sampai terjadi, menurutnya. Apalagi kini ia harus menyaksikan Yuuki dan Sasuke yang terlihat sangat akrab.
"Yuuki..!" panggilnya, dan berjalan mendekat.
Yuuki menoleh, "Ibu..." anak itu bermaksud memperkenalkan seseorang yang kini tengah bersamanya, namun dengan sigap Sakura menarik pergelangan tangan kecil Yuuki.
Sasuke dan Sakura saling bertatapan satu sama lain. Wanita itu memberinya tatapan benci, sedangkan Sasuke tetap pada ekspresi-nya seperti biasa.
"Kita pulang!" perintah Sakura yang masih menarik lengan Yuuki.
"Ta...tapi, Bu...paman Sasu..-"
"Yuuki! Ibu sudah pernah bilang padamu, jangan pernah bicara dengan orang asing!"
Gadis kecil itu menengok ke belakang, menatap sosok pria yang kini berdiri sambil melambaikan tangannya, "tapi...tapi, paman Sasuke sangat baik padaku, Ibu."
Sakura mendengus kesal, "jangan coba memberinya sebuah komentar positif, Yuuki! Kau baru saja mengenalnya!"
Yuuki benar-benar tidak mengerti apa yang memicu reaksi ibunya. Ia heran dengan perubahan sosok lembut wanita berambut merah jambu itu.
Sakura memang bukanlah seorang wanita tanpa perasaan emosi didalam dirinya, ia akan mengeluarkan amarahnya jika ia marah, dan akan berhenti tak lama sesudahnya. Namun, ini sama sekali berbeda dengan kondisi 'marah' Sakura seperti biasa. Inilah yang membuat Yuuki bertanya-tanya dalam hati...'ada apa dengan ibu? Kenapa ia menjadi begitu marah?'
Anak tersebut kembali menengok kebelakang sekali lagi, dan kali ini ia tidak menangkap seorang pria bernama Uchiha Sasuke disana. Ya, dia sudah pergi.
~OoO~
At Yamanaka's Flowers House...
"Kau baik-baik saja, Sakura? Wajahmu pucat," Ino menaikkan sebelas alis ketika mendapati sahabatnya itu terlihat tak biasa. "Kau sakit?"
Sakura menggeleng dan tersenyum hambar.
"Ada masalah?" tanya Ino lagi.
"Ya, dan kurasa...ini masalah yang cukup berat, Ino..."
Gadis pirang menarik sebuah kursi dan duduk berhadapan dengan Sakura. "Ingin bercerita?"
Wanita pinky itu terdiam sejenak, sedikit meluangkan waktu untuknya menghela nafas sebelum bicara, "tadi siang aku... bertemu...Sasuke."
"Hah?" Ino melebarkan matanya, "kau benar-benar bertemu dengannya?"
Sakura mengangguk lemas. "Kau tahu, Ino? Ada yang lebih mengejutkan lagi."
"Apa?"
Ia kembali menarik nafas dan menghembuskannya pelan, "hhh, aku melihatnya tengah bersama Yuuki waktu itu."
Ino terbelalak, "kau tidak sedang bercanda kan, Sakura?"
"Aku serius. Sungguh."
"Jadi...apa saja yang kau katakan padanya?"
"Aku tidak mengatakan apapun, " Sakura menunduk, "tapi aku hanya mencoba untuk menjauhkan Yuuki darinya."
Suasana menjadi hening. Namun tak lama suara khas Ino kembali menggema, "ya, aku mengerti betul apa yang kau pikirkan, Sakura. Tapi...apa kau tidak merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Sasuke?"
"Maksudmu...sebab kenapa ia menemui Yuuki?"
"Yeah. Mungkin Sasuke merindukan putrinya. Kurasa." Celoteh Ino sambil menyunggingkan senyum gurauan.
Sakura hanya memutar bola matanya, "huh, ketahuilah! Itu hal terkonyol yang pernah kudengar."
"Hahaha, dan bagaimana kalau itu memang yang tengah dirasakan Sasuke,hm?"
"Oh, ayolah...aku sedang tak ingin bercanda, Ino!"
"Yaayaayaaa, sepertinya aku salah bicara lagi. Ok, aku minta maaf..-"
Triingggg!
Suara denting kecil berbunyi, menandakan adanya pelanggan membuka pintu "Yamanaka's Flowers house". Dan seketika dua sahabat itu menyudahi perbincangannya.
"Selamat datang, " Ino menghampiri orang itu, pria dengan jas berwarna gelap dan kacamata bundar diwajahnya.
Laki-laki tersebut tersenyum ramah, "sebelumnya...maaf, Nona. Saya tidak bermaksud membeli salah satu bunga disini."
Ino memasang wajah bingung.
"Apakah Haruno Sakura bekerja ditempat ini?" tanya laki-laki itu.
"Ng? Aku?" Sakura menunjuk dirinya sendiri ketika si pria berkacamata menyebut namanya.
Ia tersenyum ramah untuk yang kesekian kali, "jadi...anda yang bernama Haruno Sakura?" pria itu melanjutkan kembali kalimatnya setelah melihat Sakura mengangguk, "ada sesuatu yang ingin saya serahkan kepada Anda atas permintaan dari Sasuke-sama." lanjutnya.
"APA? Si-siapa katamu tadi?"
~OoO~
Hari ini adalah hari yang penuh kejutan bagi Sakura. Benar, kejutan yang selalu tak lepas dengan nama seseorang yang teramat ia benci, Uchiha Sasuke. Belum habis rasa kesalnya saat melihat Sasuke bersama Yuuki tadi siang, dan kini ia harus menerima satu kenyataan lagi yang menyuruhnya bertemu dengan Uchiha bungsu itu. Pria berkacamata yang menemuinya barusan menyerahkan sepucuk surat berisi permintaan Sasuke yang ingin bicara banyak dengannya. Awalnya Sakura berusaha tidak peduli, namun Ino yang terus memaksa hingga akhirnya ia menyerah dan mengiyakan permintaan itu. Hal inilah yang membuat Sakura tak habis-habisnya menggerutu dalam hati disepanjang perjalanan menuju tempat yang telah dijanjikan.
Tak lama, Sakura menghentikan langkah kakinya tepat disebuah gedung Sekolah yang terlihat sangat familiar baginya. Hari yang sudah terbilang agak sore membuat suasana disana sepi, hanya terlihat beberapa anak tengah bermain sepak bola di halamannya. Wanita berpakaian mini dress merah muda dengan cardigan berwarna merah itu berjalan lambat menyusuri sejumlah ruangan Sekolah, menaiki tangga, dan sampailah ia di balkon gedung 'Konoha High School', tempat tujuan Sakura yang sesungguhnya.
Sesuatu yang pertama dilihat Sakura adalah sesosok pria dengan kedua tangan dimasukkan disaku celana yang tengah menatap lurus pemandangan dari atas balkon itu.
Pria itu tersadar akan kehadirannya, "Sakura..."
Sakura diam ditempatnya berdiri, dan begitu juga dengan Sasuke. Mereka saling memberi tatapan yang berbeda.
"Apa saja yang kau bicarakan dengan Yuuki?" tanpa basa-basi Sakura langsung memberi sebuah pertanyaan yang telah ia siapkan.
"Hanya menanyakan keadaanmu saja." jawab Sasuke.
Sakura menghembuskan napasnya dengan keras, "kuharap kau tidak melakukan apapun padanya."
"Hn, aku hanya memberi Yuuki sedikit perhatian yang mungkin akan kau anggap tak ada apa-apanya bagi seorang ayah, " Sasuke memberi penjelasan.
"Kau bukan ayahnya!" ucap Sakura tegas.
Sasuke menoleh sebentar kearah panorama kota yang terbentang luas disebelahnya berdiri, "ya, kau benar, Sakura. Sangat benar..."
Pria itu sekilas teringat akan kejadian lima tahun silam. Begitu membekas dihatinya peristiwa dimana ia meninggalkan Sakura sendiri disini. Sakura yang menangis memohon sebuah pertanggung jawaban darinya. Sasuke juga benar-benar tidak bisa melupakan berbagai kalimat yang terkesan tajam dan menusuk yang telah ia lontarkan kepada wanita itu.
Sasuke kembali menatap lawan bicaranya, "kau tahu alasan apa yang membuatku harus bertemu denganmu?"
Sakura tidak merespon. Ia mungkin bermaksud ingin bersikap acuh tak acuh dengan semua yang dikatakan Sasuke padanya.
"Peristiwa lima tahun yang lalu...ingat?"
"Aku tidak ingin membahasnya." jawab Sakura ketus.
"..."
Sakura berusaha mengalihkan pandangan matanya kelain arah, "tak ada seorang pun yang ingin mengingat kejadian yang paling menyakitkan didalam hidupnya."
"Hn, kau memang pantas mengatakan kalimat itu."
Ada banyak perubahan yang Sasuke temukan dalam diri Sakura.
Pertama, hilangnya sebuah senyum penuh cinta dari bibir mungil itu.
"Baiklah, aku minta maaf".
Pandangan Sakura masih tidak beralih, "tidak apa, Sasuke. Mungkin hanya disaat ini saja aku mencoba mengingat kejadian itu...dan akan kembali membuangnya jauh ketika aku pulang nanti."
Kedua, nama Sasuke yang terasa hampa tanpa embel-embel 'kun' diakhir nama tersebut.
"Sakura...maafkan aku, " Sasuke menatapnya serius, "keegoisanku yang telah membuatmu begitu menderita..."
Wanita itu kembali menatap laki-laki dihadapannya.
Ketiga, caranya memandang sosok pria tampan berambut emo itu. Pandangan yang dulu Sasuke yakini sangat tak sama ketika Sakura memandang orang lain. Namun kini...pandangan Sakura sangat tidak bersahabat.
"Kehormatan sebagai seorang Uchiha yang telah membuatku gelap mata..."
Sakura diam, ia hampir tak percaya dengan sejumlah pengakuan yang keluar dari mulut sang Uchiha sendiri.
"Dan harus kuakui...mencampakkanmu selama ini membuatku tidak tenang."
Sekali lagi Sakura tidak berminat membuka mulutnya, meskipun ia ingin sekali menanyakan hal macam apa yang membuat Uchiha Sasuke menjadi seperti ini?
"Aku sangat menyesali segala perbuatanku...sungguh, " sesal Sasuke, "dan aku tersadar akan perasaanku yang masih mencintaimu. Sangat teramat mencintaimu, Sakura!" ia sedikit menaikan nada bicaranya.
Sakura tersentak, ia tercengang seketika.
Sasuke mulai mengatur nafasnya kembali, "aku akan memperbaiki segalanya jika kau bersedia memberi sebuah kesempatan kedua untukku..."
Seulas senyum terlukis diwajah cantik Sakura. Hm, apakah itu pertanda baik? Atau malah...
"Sasuke..." ia menarik nafas pelan, "maafkan aku..."
Pria itu sudah dapat menduga jawaban dari wanita yang terus tersenyum didepannya. Sakura tidak mungkin akan menerima Sasuke. Walaupun ia bersembah sujud sambil menangis darah sekalipun untuk penyesalan dan permohonannya.
"Sakura, aku...-"
"Aku sudah cukup bahagia hidup bersama Yuuki, " Sakura menambahkan.
"..."
"Yuuki...gadis berusia lima tahun yang teramat kucintai, " wanita tersebut tersenyum lagi, "bisa dikatakan...ia adalah alasan mengapa aku masih dapat hidup hingga sekarang."
"..."
"Satu-satunya benda berharga yang kumiliki didunia ini hanyalah anak itu."
"..."
"Dan aku tidak akan tinggal diam jika ada tangan kotor menyentuhnya, " Sakura memincingkan matanya.
Sasuke benar-benar merasa dipukul sangat keras dengan kalimat tadi. Namun kali ini ia harus mengendalikan emosinya dan mengalah demi Sakura. Coba bayangkan sendiri bagaimana jadinya kalau yang mengatakan kalimat sindir barusan adalah orang lain? Huh...
Sakura melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya, "maaf, aku tidak punya waktu banyak lagi." ia berbalik.
Sasuke barusaja ingin membuka mulutnya, "Sakura..-"
"Satu hal lagi yang perlu kau dengarkan."
"Hn?"
"Hhhh, sekarang dan selamanya...jangan pernah menemui anakku lagi, Uchiha!" Sakura berjalan menjauh, meninggalkan sosok Sasuke yang masih tak tahu harus berbuat apa.
Sasuke menggerakkan kakinya satu langkah, "katakan..."
Merasa ada sesuatu yang digumamkan Sasuke, wanita berambut soft pink itu menghentikan langkahnya.
"Katakan...apapun yang bisa membuatmu kembali mencintaiku..." lanjut Sasuke.
"Kau tidak perlu melakukan hal sampai sejauh itu, Uchiha..!" Sakura menoleh sebentar kearah laki-laki dibelakangnya, "aku tidak bisa mencintaimu lagi."
"..."
"Kau takkan bisa melakukannya." Ia memalingkan wajahnya.
"Akan kubuktikan. Aku akan berusaha!"
Sakura tidak menampik. Ia melanjutkan langkahnya hingga punggung kecilnya menghilang dari penglihatan Sasuke.
Sekilas terlihat seperti peristiwa lima tahun silam, hanya saja kini semua terjadi sebailknya dengan peristiwa kala itu.
"Kumohon, untuk kali ini saja...
Percayalah padaku...
Sakura."
-tbc-
Heloow~ maaf yah udah update lama. Soalnya Hika lagi sibuk nyiapain next cosu buat J-fest dibulan Januari nanti. Alhamdullillah semua berjalan lancar dan Hika tinggal nunggu hari dimana Hika bisa make tuh cosu. Hahaha~
Tak lupa, Hika ngucapin banyak-banyak terima kasih buat yang udah memberi review dichapter sebelumnya^^
Jangan lupa review lagi yah!
(_'_)
Ehmmmm, gimana nih fic-nya? Yah, kalo Hika sih ngerasa jelek banget –sumpeh! Gue jujur!- hmmm, semoga para reader berpikiran yang sama ama yang Hika bilang tadi (-.-")
Bersediakah memberi review-nya? Yang sukarela dan se-ikhlasnya aja *sumbangan kaleee-plaaakk!-*
Ok deh, Hika tunggu nyuu~
~Hikaru Fujiwara desu!~
