BELIEVE IN ME

By

Hikaru Fujiwara

Disclaimer:

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

Summary:

Pria itu harus menerima sebuah kenyataan pahit tak lama setelah ia mulai merasakan sepasang sayap mengepak di punggungnya. –"Semua, perkenalkan. Namanya Akasuna no Sasori…

Dia calon suamiku."

RnR?

Chapter 03

Pagi ini...

Sekilas tak ada perbedaan apapun dari pagi-pagi sebelumnya. Secangkir kopi panas dan sebuah koran 'Konoha News' yang biasa ia nikmati telah tersedia diatas meja kerjanya. Semuanya lengkap. Tapi mengapa pria itu nampak seperti kehilangan sesuatu? Ia memang tak terlihat jelas tengah merasa hampa, karena mungkin semua orang pun pasti tahu...pria itu bukan seperti kebanyakan manusia lainnya yang selalu menampakkan berbagai macam ekspresi sesuai kondisi hati mereka. Ia berbeda, namun bukan berarti ia tak waras.

Ia menghadap jendela yang berukuran lumayan besar di ruangan itu, membelakangi kursi dan meja kerja. Kelihatannya sedang menikmati pemandangan kota Tokyo yang sudah ramai—walaupun hari masih pagi—dengan berbagai hiruk pikuk masyarakatnya yang hendak menjalankan tugas—bekerja memenuhi kebutuhan keluarga—dan sebagian lainnya pasti menuju ke Sekolah. Pandangannya memang terarah di situ, tapi sepertinya perhatian pria dengan jas resmi berwarna hitam itu tidak tercurah disana. Ia melamun.

Kini ia memejamkan matanya rapat-rapat. Berharap suatu hal yang ia inginkan akan muncul dipikirannya. Dan tiba-tiba saja seorang anak kecil yang tengah menyedot susu arbei kemasan kotak kecil hadir diotaknya. Anak itu tersenyum begitu menatapnya dan berseru riang 'hay, Paman Sasuke...'. Wajah polos yang sangat teramat ia rindukan. Kira-kira apa yang sedang dilakukannya sekarang? Sekolah? Belajar sambil bermain bersama teman-temannya? Dan kini Uchiha Sasuke mulai menebak-nebak di dalam hati tentang aktifitas yang sekiranya tengah dilakukaan anak perempuan itu.

Sasuke tak berminat membuka matanya. Ia ingin terus seperti ini, bisa melihat sosok mungil itu kembali meskipun hanya di dalam pikirannya saja. Tak apa. Setidaknya sekarang rasa rindunya bisa sedikit terobati. Sampai akhirnya suara pintu ruangan terbuka pelan dan membuat Sasuke kembali kealam sebenarnya. Dan pada saat itu juga wujud anak perempuan tadi buyar. Seketika ia membuka mata.

"Sasuke-sama, seseorang ingin bertemu dengan Anda." Ucap Kabuto ramah seperti biasa.

Sasuke tetap menghadap jendela, ia tidak berpaling sedikit pun, "hn." Jawabnya ringan.

Kabuto mengerti dengan jawaban pendek itu. Kemudian ia keluar dari ruangan kerja atasannya setelah mengucapkan 'permisi' terlebih dahulu. Tak lama, pintu kembali terbuka. Namun kali ini bukan lagi menampilkan sosok Kabuto, melainkan seorang wanita bertubuh ramping dengan jaket berwarna merah hati. Ia berjalan mendekati satu-satunya meja kerja di ruangan itu, atau tepatnya mendekati pria yang kini tengah berdiri membelakanginya.

"Sasuke..." panggilnya pelan.

Tiba-tiba Sasuke merasa suara lembut itu sudah tak asing di telinganya. Ia bahkan telah menebak siapa pemilik suara tadi. Otomatis ia segera berbalik untuk memastikannya. Tepat! Dugaannya benar. Pemilik suara itu adalah...

"Sakura..?"

~OoO~

"Sakura..?" Sasuke mengerjapkan matanya berulang kali, ia nyaris tidak percaya dengan kenyataan yang membawa sosok itu di hadapannya sekarang. Tuhan...apakah ini benar-benar Sakura? pikirnya.

Wanita bernama lengkap Haruno Sakura itu berdeham kecil. Lalu, "ternyata tidak sesulit yang kubayangkan untuk menemukan tempat ini." Jeda sebentar, kemudian ia melanjutkan, "mungkin hampir semua orang di Tokyo—atau bahkan seluruh dunia—mengetahui keberadaan Uchiha Corporation yang teramat besar dan terkenal."

Sasuke hanya memasang wajah tidak mengerti. Bukan karena tidak paham dengan perkataan Sakura barusan, tetapi kedatangan dadakan wanita itu dengan maksud yang sama sekali belum diketahuinya.

"Apa yang kira-kira kau pikirkan tentang kedatanganku ini?" tanya Sakura.

Sasuke tidak langsung menjawab. Ia sibuk menggali otaknya sedalam mungkin untuk mencari kata-kata yang pantas, "memarahiku lagi?" jawabnya asal-asalan namun berkemungkinan juga akan benar. Yah, siapa tahu Sakura ingin melanjutkan kalimat panjang-lebar yang tidak sempat ditujukan pada Sasuke sekitar seminggu yang lalu itu. Dan ia sudah mempersiapkan diri jika itu memang akan terjadi disini. Di kantornya.

Sakura menggeleng, "tidak! Bukan itu." Ia baru akan melanjutkan ketika melihat lawan bicaranya menaikkan sebelas alis, "ini tentang Yuuki."

Sasuke merasa adanya pertanda buruk saat Sakura menyebut nama anak perempuan itu dengan wajah muram. Oh, tidak! Jangan katakan sesuatu yang tidak diinginkan telah menimpa Yuuki!

"Ia jatuh sakit." Kali ini suara Sakura terdengar lebih rendah dan berat. "Dan maksud kedatanganku ke sini... Aku ingin menarik kata-kataku seminggu yang lalu." Ia menunduk, "kau boleh menemuinya... Sekarang ia sangat membutuhkanmu."

Kini perasaan Sasuke campur aduk antara bahagia karena mendapat peluang bertemu dengan Yuuki lagi, dan perasaan sedih ketika mendengar ternyata anak itu tengah jatuh sakit.

"Aku tidak akan melarangmu bertemu dengannya lagi. Aku berjanji."

~OoO~

Sasuke duduk disebuah kursi kayu. Mata onyx-nya tak beralih memandangi sosok kecil yang terbaring lemah tak berdaya di depannya. Sosok itu tertidur. Tenang dan damai. Raut wajah ceria yang dirindukannya kini terganti dengan wajah sayu. Pucat.

"Kupikir kau akan pergi bekerja, " ujarnya begitu melihat Sakura masuk ke dalam kamar Yuuki.

Sakura melangkah mendekati tempat tidur Yuuki, "tadinya memang begitu. Tapi... Aku tidak ingin meninggalkan Yuuki dalam keadaannya yang seperti sekarang."

Sasuke mendengus pelan, "aku akan menjaganya. Kau tenang saja."

"Kau yakin?"

"Hn."

"Sungguh?"

"Hn."

"Lalu...bagaimana dengan pekerjaanmu sendiri?"

"Tidak masalah. Saat ini yang terpenting bukan itu."

Sakura diam sesaat. Ia mulai berpikir kedatangan Sasuke di sini mungkin agak sedikit membantu, "hmm, baiklah. Tapi mungkin aku akan pulang lebih awal dari biasanya. Dan aku akan menyempatkan diri untuk membeli obat."

"..."

"Tolong jaga Yuuki... Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sesuatu yang buruk terjadi padanya." Perintah Sakura berwajah serius di ambang pintu.

"Hn."

Sakura benar-benar sudah pergi. Kini hanya dirinya dan Yuuki di sana. Perhatiannya Sasuke kembali pada sosok Yuuki yang masih terlelap. Memperhatikan sejenak wajah pucat anak itu dengan seksama, dan pada saat itu juga seulas senyum mengembang di wajah tampannya. Ia tersadar akan paras wajah Yuuki yang nyaris sama dengannya. Ya, memang tidak bisa dipungkiri lagi. Yuuki benar-benar anak kandungnya.

Mata onyx itu beredar menyusuri ruangan yang tak begitu luas dan dipenuhi dengan mainan dan peralatan sekolah. Tatapannya terhenti ketika ada sesuatu yang seolah menarik perhatiannya. Ia berjalan mendekat kearah foto-foto yang terpajang rapi di dinding kamar. Begitu melihatnya dari jarak dekat, Sasuke langsung tersadar... Ini semua adalah foto-foto Yuuki. Mulai dari ujung sebelah kanan terdapat foto anak itu ketika ia masih bayi, disana Yuuki terlihat dalam posisi tengkurap tanpa pakaian—kecuali popok—, wajah mungilnya begitu sangat menggemaskan. Foto kedua, bisa dipastikan disana Yuuki tengah berumur tiga tahun karena foto itu menampilkan dirinya yang sedang meniup lilin berbentuk angka 3 di atas sebuah kue ulang tahun. Lanjut pada foto ketiga, sebuah foto close-up Yuuki bersama seorang wanita yang Sasuke yakini adalah Haruno Sakura. Ia mendapati dua orang itu tengah tersenyum lebar seraya mengangkat dua jari berbentuk 'V' disana. Melihat semua foto-foto itu, Sasuke tak menyadari bibirnya kembali membentuk senyum.

"Nnngg..."

Satu suara kecil memecahkan keheningan. Begitu mendengarnya, Sasuke seketika memutar tubuhnya dan berjalan mendekati sumber suara.

"Yuuki..."

Sepertinya anak itu belum sepenuhnya sadar, bisa dilihat dari kelopak matanya yang masih tertutup namun berusaha menggumamkan sesuatu.

Sasuke semakin mendekatkan jaraknya pada Yuuki dan membelai helaian rambut hitam kebiru-biruannya, "Yuuki…ini aku.."

Yuuki berusaha membuka matanya yang terasa berat dan menggerakkan kepalanya kearah suara tadi, "Pa...Paman Sasu...ke?" ucapnya dengan nada bicara yang terdengar sangat lemah. "Kaukah itu?" Ia ragu karena penglihatannya masih agak kabur.

Pria itu mengangguk dan sedikit tersenyum, "hn, kau benar."

"Apakah... Apakah Paman kesini untuk menjengukku?" tanya Yuuki. Kali ini matanya kembali berfungsi normal meskipun agak sayu.

"Tentu saja." Sasuke mengambil segelas air putih yang ditaruh di meja. Lalu membantu Yuuki bangkit untuk meminum air tersebut.

"Aku senang Paman datang menjengukku, " ujarnya senang. "Ngomong-ngomong... Bagaimana Paman bisa menemukan rumahku?"

"Oh, itu... Hn, sepertinya paman harus berterima kasih kepada ibumu."

Yuuki mengganti wajahnya dengan ekspresi heran, "maksud Paman... Ibu..."

Sekali lagi pria dengan kemeja biru itu tersenyum. Entah apa sebabnya jika tengah bersama Yuuki ia selalu merasakan kebahagian tersendiri. Anak perempuan itu seakan mempunyai mantra khusus yang mengharuskannya menarik kedua ujung bibirnya untuk tersenyum. Yuuki selalu membuatnya bahagia. Dan Sasuke sangat sadar akan perasaannya yang sudah tidak bisa ia elak lagi. Bahwa ia sangat membutuhkan anak itu. Ia sangat menyayangi Yuuki.

"Yeah! Ibuku memang ibu yang paling baik sedunia. " Yuuki mengangkat kedua tangannya keatas, berseru ceria seolah rasa sakit disekujur tubuhnya terlupakan begitu saja.

"Yuuki, jangan terlalu banyak bergerak..! Kau masih sakit."

~OoO~

Entah sudah berapa lama Sasuke berada di rumah itu. Semuanya seakan berlalu begitu cepat sehingga ia tidak menyadari langit di luar sana mulai gelap. Ia pasti tidak menghitung waktu.

Sampai akhirnya pintu kamar terbuka dan menampakkan wujud Sakura di sana. Wanita itu membawa sebuah kantong kertas kecil ditangan kanannya. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan nada pelan begitu mengetahui Yuuki tengah tertidur.

Sasuke menjawab tanpa menoleh, "sepertinya ia sudah mulai sehat."

"Oh, syukurlah." Gumamnya lega. Kemudian mata emerald-nya menangkap sosok Sasuke yang mengambil jaket birunya di sandaran kursi, "kau akan pulang sekarang?"

"Ya." Ia berbalik setelah jaket itu terpasang sempurna di tubuhnya, "aku ingin mengantar Yuuki ke Sekolahnya jika besok ia benar-benar sehat." Tambahnya.

Sakura tidak mempunyai alasan untuk memberontak atas perkataan Sasuke. Mengingat ia telah mengatakan sebuah perjanjian bahwa sang Uchiha boleh menemui Yuuki kapan saja semaunya. "Ehm, baiklah."

Setelah mendengar kalimat persetujuan dari Sakura, Sasuke memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Namun seketika ia memberhentikan langkah kakinya kala Sakura menggumamkan sesuatu untuknya.

"Terima kasih." Ucap Sakura tersenyum ringan.

Sasuke memutar tubuhnya kembali, "hn, anggap saja ini adalah secuil balasanku sebagai permintaan maaf."

~OoO~

Keesokannya...

"... Kemudian Yuriko menarik rambutku. Aaarrrhhhh...! Dan kubalas dengan menarik kuncir ekor kuda yang diikat di belakang kepalanya. Setelah itu... Tiba-tiba saja Kureina-sensei datang dan langsung melerai kami. Yah, begitulah ceritanya, Paman." Anak perempuan yang duduk manis di sebelahnya ini sanggup bercerita panjang. Panjang sekali. Sasuke sadar anak itu mulai membuka mulutnya setelah menutup pintu mobil hingga sekarang.

Sementara Sasuke hanya menanggapi dengan senyam-senyum disela kegiatan menyetir mobilnya, "berjanjilah kau tidak akan mengulangi perbuatanmu itu lagi, Yuuki. " Ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk memegang kepala anak yang bernama Yuuki tersebut. "Kau tahu sendiri itu bukan perilaku yang baik." Kali ini suaranya terdengar seperti sedang menasihati.

Yuuki memajukan bibir dan mengembungkan pipinya, "ya... Aku tahu. Tapi Yuriko yang selalu memulai lebih dulu. Aku kan tidak suka dibilang anak yang terlahir tanpa ayah..."

Sasuke menoleh sedikit kearah Yuuki, "jangan hiraukan dia. Nanti ketika ayahmu sudah kembali, kau boleh membuktikan padanya." Astaga. Kenapa dirinya yang sangat mencintai ketenangan menjadi orang yang banyak bicara seperti ini?

"Ehm. Tentu saja! Pasti akan kulakukan."

Pria berpakaian kemeja putih yang ditutupi sebuah jas hitam itu menghentikan mobilnya tepat di sebuah TK yang kini sudah ramai dengan anak-anak yang sibuk bermain di taman kecil halamannya. "Hn, kita sudah sampai."

Yuuki melepas sabuk pengamannya sambil berkata, "terima kasih, Paman Sasuke."

Sasuke buru-buru merogoh sebuah kantong kertas belanja yang diletakkannya di kursi belakang mobil, "tunggu. Aku punya sesuatu untukmu."

"Ng?"

Ia mengeluarkan tangannya yang telah memegang dua kotak kecil susu rasa arbei kesukaan Yuuki, "ini."

"Wah, susu arbei kesukaanku, " teriaknya riang, "terima kasih."

Sasuke kembali menyunggingkan senyum dan seketika melihat ke luar jendela. Ada seorang anak laki-laki berambut pirang—sebaya dengan Yuuki—bersembunyi di balik pohon. Ia cukup merasa heran karena sesekali anak itu melirik kearahnya. "Yuuki, kau mengenal anak itu?"

"Yang mana, Paman?... Oh, itu... Namanya Uzumaki Kei. Dia adalah teman yang sangat akrab denganku." Jawab Yuuki setelah menyedot susu arbei-nya.

Ketika mendengar nama anak itu. Sasuke sudah bisa memastikan ia adalah anak dari sahabatnya, Uzumaki Naruto. Pantas saja, ia merasa sudah tak asing ketika melihat anak bermata lavender tersebut.

"Apakah Paman ingin kuperkenalkan dengannya? Dia anak yang menyenangkan dan tidak nakal."

"Hn, boleh saja."

Yuuki keluar dari mobil sambil menuntun tangan Sasuke. "Hey! Kei-kun, sedang apa kau di sana? Cepat kemari..!" Ia berteriak, melambai-lambaikan tangannya.

Anak yang bernama Uzumaki Kei keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari menuju Yuuki dan Sasuke, "ada apa, Yuuki-chan?" Tanyanya begitu sampai.

"Oh, begini...aku ingin memperkenalkanmu dengan temanku ini."

"Namaku Uzumaki Kei. Salam kenal."

"Hn, Uchiha Sasuke."

"Mmm? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi... Dimana yah?" Kei bertampang seperti sedang berpikir.

"Dimana apa? Aku yakin kau pasti belum pernah bertemu dengan paman Sasuke, " sahut Yuuki.

"Ah! Aku ingat! Ayah pernah bercerita tentang seorang sahabatnya yang sangat dingin, dan... Yah, aku masih ingat nama orang itu. Paman Uchiha Sasuke. Hahahaha."

"Tepat. Aku memang sahabat ayahmu. Uzumaki Naruto." Kata Sasuke.

"Yak. Itu nama ayahku."

"Hn." Kemudian ia melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, "sebaiknya kalian lekas masuk."

"Ehm, baiklah. Mungkin sebentar lagi Kureina-sensei akan masuk." Ujar Yuuki, matanya menangkap beberapa anak yang berbaris di depan kelas, "sampai jumpa, Paman."

"Hn." Sasuke masih berdiri di situ, menatap punggung kecil Yuuki yang terlihat semakin menjauh dari penglihatannya.

~OoO~

"Yuuki-chan, aku sempat kaget setelah mengetahui paman Sasuke itu ternyata adalah temanmu." Aku Kei di sela perjalannya menuju kelas mereka.

"Yeah, dia teman yang baik sekali. Mmm, memangnya kenapa, Kei-kun?"

"Tadinya kukira dia adalah ayahmu, " jawab Kei polos. "Karena menurutku kalian sangat mirip."

Yuuki menoleh kearah anak di sampingnya itu, "wah, benarkah? Tapi kenapa selama ini aku tidak menyadarinya yah?"

Kei mengangkat bahu, lalu membelok arah pembicaraan, "ngomong-ngomong... Kau sudah sehat, Yuuki-chan?"

"Bisa kau lihat sendiri. Apa aku masih terlihat pucat?" Jawab Yuuki sambil menunjuk wajahnya sendiri.

Anak itu menggeleng, "tidak."

"Hah, sakit sungguh tidak enak.."

"Oh, ya? Apakah rasa tidak enaknya... Melebihi kue buatan bibi Temari?" Celetuk Kei karena ia memang tidak pernah menderita sakit demam ataupun semacamnya. Sambil mengingat peristiwa dimana ia dan Yuuki harus memakan kue buatan Temari yang gosong ketika mampir di rumah wanita itu

"Ya, kue buatan bibi Temari dan sakit demam... Hmm, keduanya sama-sama tidak enak!"

~OoO~

Suara denting halus mengalun di 'Yamanaka's Flowers House', seperti biasa, itu pertanda adanya pelanggan yang masuk. Namun kali ini Ino kembali salah mengira orang tadi adalah calon pembeli salah satu tangkai bunga di tokonya. Orang itu lagi-lagi hanya mencari seseorang—seperti kemarin, ketika Kabuto datang—hanya saja sekarang orang yang datang adalah orang yang berbeda. Benar, orang itu adalah Uchiha Sasuke. Ia telah membuat rencana untuk mengajak Yuuki makan siang bersamanya dan ia berjanji akan menjemput anak itu di 'Yamanaka's Flowers House', tempat ibunya bekerja.

"Sas...Sasuke? Kau benar-benar Sasuke?" Ino menatap tak percaya pada sosok yang berdiri di hadapannya itu. Sudah lama ia tidak melihat Sasuke, ia ingat terakhir kali bertemu dengan pria itu ketika mereka merayakan malam 'Perpisahan murid-murid kelas tiga Konoha High School'. Dan itu sudah lama sekali. Jadi wajar saja kalau ia cukup tercengang dengan kedatangan Sasuke yang terkesan tiba-tiba seperti ini.

"Hn. Aku mencari Yuuki," kata Sasuke to the point. Ia memang tidak berniat untuk berbasa-basi, mengingat ia tak suka berbicara dengan gadis cerewet bak Ino.

Lagi-lagi Ino tercengang mendengar kalimat terakhir Sasuke. Karena setahunya Sakura sudah melarang Sasuke menemui Yuuki. Nah, lalu kenapa pria ini datang dan langsung menanyakan keberadaan anak perempuan berumur lima tahun itu padanya?

"Aku mencari Yuuki, " ulang Sasuke karena ia merasa belum mendapat petunjuk dari Ino, "dimana dia?"

"Oh...hmmm, a-anu...anu...dia..." Jawab Ino tergagap-gagap. Ia bingung harus berkata apa.

Tiba-tiba denting terdengar lagi. Kali ini ada dua orang masuk bersamaan. Bisa dipastikan mereka adalah pasangan ibu dan anaknya. "Paman Sasuke? Kau sudah datang rupanya." Ujar si anak begitu matanya menangkap wujud Sasuke di sana.

Sasuke berbalik ke sumber suara, "hn".

Ino berjalan kecil mendekati Sakura, ibu anak itu. "Kau bilang sudah...-" Bisiknya begitu jaraknya dan Sakura lumayan dekat.

"Ssstt! Akan kujelaskan nanti, " potong Sakura dengan nada bicara yang sama.

Mendadak Sakura merasakan adanya sebuah getaran kecil di dalam saku bajunya. Ia cepat-cepat mengeluarkan ponsel yang kini melantunkan lagu 'Apple and Cinnamon' itu, "halo?... Ng? Kau-...apa?... Jadi kau sudah di depan toko ini?... Tapi... Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?... Oh, baiklah... Ya... Masuk saja..! Kurasa temanku tidak akan keberatan... hmm. Oke." Ia memutuskan sambungan.

"Siapa?" Tanya Ino ingin tahu. "Kudengar orang itu sudah menunggu di depan."

"Aku berjanji akan memperkenalkannya denganmu begitu ia sudah masuk. " Suara denting terdengar lagi untuk yang ketiga kalinya. Sakura segera memutar kepalanya kearah pintu, "nah, itu dia."

Tampak seorang pria muda berambut merah berdiri di sana. Berwajah tampan. Sangat tampan. Dari segi penampilan, sepertinya ia adalah seorang pekerja kantoran. Ia tersenyum lebar ketika langkahnya terhenti tepat diantara empat orang yang kini memasang berbagai ekspresi. Salah satu diantara mereka memakai wajah cerah. Dua orang lainnya lebih memilih tampang penasaran akan sosok pria muda itu. Dan satu orang lagi memasang raut muka masam. Apa? Muka masam? Siapa?

"Semuanya. Perkenalkan, namanya Akasuna no Sasori. " Sakura menjeda sebentar kalimatnya untuk melirik pria yang kini berdiri di sampingnya, "dia calon suamiku." Lanjutnya enteng.

~OoO~

"... Dia calon suamiku."

Sasuke tercengang. Jantungnya serasa berhenti berdebar. Ia tidak percaya pada pendengarannya sendiri. Dirinya bahkan tidak sadar telah menahan napas ketika Sakura memperkenalkan pria yang diketahui bernama Sasori tadi. Astaga! Apa yang telah dikatakan wanita berambut soft pink itu barusan?

Kini ia melihat Sasori membungkukkan badan sebagai tanda perkenalan. "Senang bisa bertemu kalian." Ia mulai menjabat tangan Ino.

"Ino. Yamanaka Ino, " gadis berambut pirang ini menerima hangat uluran tangan Sasori.

Kemudian tangan itu kembali mengulur. Namun kali ini tertuju pada Sasuke. Dan mau tak mau ia harus menerima jabatan tangan itu, "Uchiha Sasuke."

Sasuke bisa melihat Sasori tengah menyunggingkan senyum padanya. Sungguh pria yang ramah. "Salam kenal, Sasuke." Kemudian matanya menangkap sosok mungil Yuuki yang berdiri tepat di sebelah Sasuke, "hey, cantik... Apa kabar? Lama tidak berjumpa." Sapanya seraya berjongkok menyesuaikan tinggi badan Yuuki.

"Aku baik-baik saja, " jawab Yuuki bernada ketus, mencoba mengalihkan pandangan ke lain arah agar tidak bertemu tatapan Sasori.

Tunggu! Tunggu sebentar! Sasuke mengerutkan kening. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dari Yuuki. Anak itu... Sepertinya tidak menyukai Sasori. Ia sudah sedikit menebak ketika raut wajah anak itu berubah masam saat Sasori datang—bahkan ketika Sakura menerima telepon dari Sasori—juga gerak-gerik dan gaya bicara Yuuki yang terdengar berbeda dari biasanya.

Pria muda yang masih berjongkok itu mengeluarkan sesuatu di balik jasnya, "aku mempunyai sebuah hadiah untukmu. Kau pasti menyukainya... Nah, ini."

Yuuki menoleh pada tangan Sasori yang kini telah memegang dua batang permen lollipop rasa kopi, "ibu pernah bilang... Permen dapat membuat gigi berlubang. Maka dari itu aku tidak menyukainya. " Ia diam sejenak sementara pria berambut merah itu melirik Sakura yang tersenyum sebagai isyarat 'mohon dimaklumi, usianya baru lima tahun'. "Dan aku tidak pernah bilang kalau aku suka rasa kopi."

Sasori memukul pelipisnya sendiri menggunakan telapak tangan, "ya, ampun. Paman baru ingat kau lebih menyukai susu arbei, bukan? Baiklah, permen lollipop ini sebentar lagi akan diganti dengan sekotak susu arbei setelah kita makan siang nanti. Bagaimana?"

"Paman Sasori tidak usah repot-repot membelikanku susu arbei. Karena aku masih memilikinya, " elak Yuuki sambil memamerkan satu buah kotak susu arbei yang diberikan Sasuke pagi tadi, "lagipula... Aku sudah mempunyai janji makan siang bersama paman Sasuke. " Ia melingkarkan tangan dilengan Sasuke. "Bukankah begitu, Paman?"

Sasuke hanya mengangguk. Didalam hatinya ia juga merasa senang karena Yuuki lebih memilihnya daripada Sasori.

~OoO~

"Kau tidak menyukai Sasori? Kenapa?" Tanya Sasuke sebelum ia memasukkan sedikit udon ke mulutnya. Sekarang ia dan Yuuki berada di sebuah restoran sederhana yang hanya menyediakan berbagai macam makanan khas Jepang. Dan ia sudah bisa mengiyakan perasaan heran yang menimpanya di 'Yamanaka's Flowers House' beberapa saat yang lalu. Ya, ia memang sudah menduga sebelumnya, namun ia masih ragu dan akhirnya menanyakan hal macam apa yang membuat sikap anak itu berubah ketika bertemu Sasori. Ternyata feeling-nya tak salah. Yuuki mengaku bahwa dirinya memang tidak menyukai sosok calon ayahnya tersebut. Dan tentu saja ini membuat Sasuke bisa sedikit bernapas lega.

"Karena aku tahu paman Sasori bukan ayah kandungku, " jawab Yuuki setelah meneguk jus strawberry-nya, "kurasa ia juga hanya mencintai ibu saja."

Sasuke menaikkan sebelah alis, "hn... Kenapa kau sampai berpikir seperti itu, Yuuki?"

"Paman Sasori tidak pernah memberiku perhatian lebih. Ia sama sekali tidak pernah mengantar dan menjemputku dari Sekolah. " Yuuki menjelaskan, "ia tidak pernah memberi apa yang kusuka. " anak itu meghembus napas panjang sebelum ia melanjutkan kalimatnya, "Paman sendiri tadi lihat, bukan? Ia bahkan hampir meracuniku dengan permen rasa kopi."

Pria yang duduk di hadapannya itu memperhatikan dengan seksama setiap inci dari penjelasan Yuuki.

"Semuanya berbeda dengan perhatian khusus yang diberikan paman Sasori untuk ibu... " Yuuki menatap lurus kearah meja dengan tatapan kosong. Kata-katanya terdengar menerawang seperti tengah bicara pada dirinya sendiri, "hmm, Paman pasti mengerti maksudku."

Hati Sasuke merasa prihatin. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika pria bernama Sasori itu sudah resmi menyandang gelar sebagai ayah Yuuki nantinya. Sekarang saja ia sudah tidak bisa bersikap adil, apalagi jika ia benar-benar...

"Pokoknya aku tidak mau melihat paman Sasori menikah bersama ibu... Aku tidak mau kelak ia menjadi ayahku... Aku tidak akan memberi sebutan 'ayah' kepada orang yang bukan ayah kandungku! Aku... Aku..." Yuuki tidak bisa menahan air matanya lagi. Tangis kecilnya pecah.

Secepat mungkin Sasuke mengarahkan ibu jarinya ke wajah Yuuki, menyapu air bening yang keluar dari onyx mungil yang sama dengan onyx miliknya. "Jangan menangis. Bukankah kau sudah sangat yakin... Cepat atau lambat, ayahmu pasti akan kembali. Percayalah pada dirimu sendiri, Yuuki."

Yuuki memberi tatapan penuh harapan pada Sasuke, "Paman... Apa Paman tahu... Kapan waktu dimana aku bisa bertemu ayah? Aku sangat ingin melihatnya... Aku merindukannya. Sungguh..."

'Kau sudah melihatnya, Yuuki... Ayahmu kini ada bersamamu. Duduk berhadapan denganmu. Tengah mendengarkan semua isi hatimu... '

~OoO~

Hari sudah mulai gelap, dan pria itu masih bekerja dengan hanya mengandalkan satu buah lampu meja. Matanya tertuju penuh pada layar monitor sebuah laptop di depannya yang menampilkan berbagai gambar bangunan mewah dan tulisan-tulisan di bawahnya. Ia memang menatap monitor itu, namun lagi-lagi pikirannya melayang-layang entah kemana. Pria itu hanya memberi tatapan hampa pada monitor laptopnya.

Uchiha Sasuke terus terbayang perkataan Sakura tadi siang. Kalimat-kalimat wanita itu seolah-olah selalu mengiang di telinganya.

'"Semuanya... Perkenalkan, namanya Akasuna no Sasori..."'

Oh, Tuhan. Bantulah ia melupakannya. Ia mungkin saja akan menjadi gila jika terus seperti ini.

"'... Dia calon suamiku."

Sasuke teringat akan Yuuki yang nyatanya tidak menyukai sosok Sasori. Ya, anak itu adalah satu-satunya yang bisa ia harapkan. Walaupun ia sendiri sadar, harapan itu kemungkinan hanya akan terjadi sekitar tiga puluh persen saja. Itu juga membuatnya tidak ingin selalu bergantung pada Yuuki. Dan kini Otaknya mulai berpikir anak itu akan memaksa Sakura mengahkhiri hubungan dengan Sasori dan dengan begitu celah untuknya kembali terbuka. Tidak! Ia tidak boleh berpikir seperti itu. Ia tidak boleh mempunyai pemikiran yang terlalu egois. Seharusnya ia turut berbahagia melihat Sakura mencintai orang yang dicintainya. Sasuke cepat-cepat menggelengkan kepalanya, berharap bisa menjernihkan pikirannya kembali.

Tiba-tiba lagu 'My Heaven' dari 'BigBang' terdengar nyaring bersamaan dengan getaran kecil di meja kerja. Ternyata ada sebuah panggilan dari ponselnya yang diletakkan di sebelah laptop. Sasuke mengambil benda mungil berwarna hitam itu, menatap sebuah nama yang menari-nari di layarnya, kemudian menekan satu tombol, dan baru akan berbicara setelah mendekatkan posel di telinganya, "hn? Ada apa, Itachi?"

"Hey, Sasu-chan. Kau sedang apa?" Terdengar suara serak seorang pria di ujung sana. Orang itu adalah Uchiha Itachi, kakak kandung Sasuke. Ia beserta anggota keluarga Uchiha lainnya menetap di Osaka. Dan Sasuke tetap tinggal di Tokyo karena ditugaskan oleh Uchiha Fugaku—ayahnya—untuk mengurus Uchiha Corporation.

"Menerima telepon darimu, " jawab Sasuke ketus.

Ia bisa mendengar Itachi tengah tertawa, lalu berkata, "maksudku... Kau sedang melakukan apa selain menerima telepon dariku? Kau tahu, ibu yang menyuruhku menelponmu. Dia sangat cemas karena kau tidak menelpon kami akhir-akhir ini."

Sasuke mendengus sebelum ia bicara, "sibuk dengan proyek baru."

"Oh, benarkah? Kau memang anak yang bisa diandalkan. Aku bangga memilik adik sepertimu, " suara Itachi tidak terdengar lagi namun hubungan teleponnya masih tersambung. Sepertinya pria itu sedang bicara dengan orang di dekatnya. Sasuke bisa mendengar suara yang tidak terlalu jelas milik seorang wanita setengah baya di sana. "Hmm, Sasu-chan? Kau masih disana?" Tanyanya begitu fokus bicara pada Sasuke lagi.

"Hn."

"Bagus. Ibu ingin bicara padamu. " Itachi memberikan ganggang telepon kepada wanita yang bicara padanya tadi.

"Sasuke?" Kini suara Uchiha Mikoto terdengar lebih jelas. "Kau baik-baik saja?"

"Hn."

"Ibu dengar kau sibuk mengurus proyek baru?"

"Ya, begitulah."

Beberapa menit kemudian, Sasuke menutup ponsel dan dimasukkan ke saku kemejanya. Menutup laptop dan segera mengambil jas hitam di sandaran kursi. Ia akan menuju suatu tempat. Tempat yang mungkin bisa sedikit membantu melupakan beban di benaknya. Meskipun hanya sementara waktu.

-tbc-

Next chapter::

"… Lantas, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Mengambil Sakura dariku? Heh, jangan bercanda!"

"Cukup! Hentikan!"

"Kenapa sekali saja kau tidak pernah mencoba untuk mempercayaiku, Sakura? Kenapa kau selalu meragukanku?"

"Apa yang harus kulakukan, Ino? Aku... Sangat merasa bersalah padanya."

"Ibu, aku yakin aku tidak salah mendengarnya. Tolong katakan padaku sekali lagi, Bu!... Bahwa paman Sasuke benar-benar... Ayah kandungku."

Hello!

Hika balik lagi dengan chapter baru.

Maaf atas lama update-nya yah...! Soalnya Hika akhir-akhir ini sibuk banget karena bentar lagi mau magang.

(-.-")

Gimana? Apakah masih kurang panjang?

Haha~ Hika baca ada reviewer yang pengen chapter'nya dipanjangin.

Tuh, udah Hika kabulin *plak!*

Trus, ada juga yang minta bocoran di chapter depan, kan?

Tuh, udah Hika kabulin juga *jitaked*

Hehe~

Oh, lihat! Ada pihak ketiga tuh!

*ditonjok Sasori*

Hika sengaja nambahin Sasori sebagai pacarnya Sakura karena rasanya kurang abdol juga kalo gak liat Sasu-chan cemburu. Wkwkwk *dichidori—tepar—*

Bersediakah untuk memberi review?

Hoho~

~Hikaru Fujiwara desu~