BELIEVE IN ME
By
Hikaru Fujiwara
Disclaimer:
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Summary:
Ia tidak pernah berniat untuk memberitahunya,
biarkanlah anak itu tersadar sendiri akan seseorang yang ia cari selama ini selalu berada di dekatnya.
-"Jika aku boleh meminta... Aku ingin Paman memelukku.."
"Karena aku... Juga ingin merasakan hangatnya dipeluk oleh ayahku sendiri."
Chapter 04
Sasuke memilih duduk di sebuah kursi tepat di samping jendela kaca besar. Sesekali ia menatap sepiring spaghetti yang belum disentuhnya dari tadi. Benar, sekarang ini ia berada di sebuah restoran bernuansa Eropa yang berdiri tak jauh dari Uchiha Corporation. Dan ia tidak sendiri di sana, ada Naruto yang menemaninya. Sasuke memang tengah membutuhkan seseorang untuknya bercerita. Bercerita tentang wanita berambut soft pink dan kekasihnya.
"Kau bilang dia adalah pacar Sakura?" Kata Naruto setengah berteriak, lalu sadar dengan beberapa pasang mata yang kini menatapnya, dan ia mulai mengurangi volume nada bicaranya, "tapi... sejak kapan... maksudku... ia bahkan sama sekali tidak pernah memperkenalkan orang itu padaku, Teme." Lanjutnya.
Sasuke mengeluarkan napas berat, "hn, begitulah. Jangan berpikir hanya kau saja yang terkejut setelah mengetahuinya."
"Ya, ampun. Aku penasaran sekali dengan tampang pria bernama Sasori itu, " Naruto menjeda kalimatnya sebentar sementara ia meneguk orange juice pesanannya, "aku ingin tahu kenapa Sakura memilihnya."
"Pria itu berpenampilan rapi dan... hn, lumayan tampan."
Mendengar perkataan sahabatnya barusan, Naruto seketika mengangkat wajahnya yang tertunduk kearah makanan di hadapannya, "ah, sepertinya Sasori benar-benar sudah tercatat sebagai rivalmu." Kemudian memasang senyum lebar khas dirinya.
Sasuke tidak menjawab.
"Teme, aku tidak tahu bagaimana jika akulah yang ada di posisimu sekarang ini. Hmm, aku pasti sangat frustasi dan tidak segan-segan melompat dari puncak gedung Uchiha Corporation yang sangat teramat tinggi itu. Huh..." Celoteh Naruto mencoba mencairkan suasana di meja makan bernomor tiga puluh empat itu.
"Bersyukurlah kau tidak menjadi diriku, Dobe. "
"Kau benar. Hahaha." Sahut Naruto sambil tertawa, kemudian ia menatap semangkuk spaghetti yang tergeletak di depan Sasuke, "kau tidak memakan spaghetti-mu?"
Sasuke mendorong mangkuk berisi spaghetti itu pada Naruto, "jika kau mau, ambil saja."
Naruto melongo sebentar. Lalu berkata, "bolehkah? Hehe, padahal aku tidak pernah memintanya." Ia mengambil mangkuk itu, "terima kasih, Teme. Aku tahu kau orang yang sangat baik. Sakura benar-benar harus menyesal karena sudah menolakmu."
"Diam kau!"
Sementara Naruto yang tengah sibuk menghabiskan makanannya, Sasuke mencoba mencari kesibukan lain dengan mengamati sekitarnya yang dipenuhi dengan meja berisi pasangan-pasangan tengah menikmati makan malam di sana. Andai saja salah satu dari banyaknya pasangan itu adalah dirinya dan Sakura, orang-orang di restoran itu pasti menganggap mereka berdua adalah pasangan paling serasi... Ah- tidak mungkin!
Ia mulai merasa bosan. Ia ingin cepat-cepat meninggalkan restoran ini. Ia tidak ingin rasa iri menggerogoti hatinya lebih dalam lagi ketika melihat pasangan-pasangan itu.
"Hn, adakah orang di dunia ini yang makan lebih lamban darimu?" Tanya Sasuke dengan nada kesal namun tetap pada volume teratur.
"Kauhmt tithmdak lihaaatt apkuh semngmdaa menhcopba memakkahn bakgiammu... " Jawab Naruto tak jelas karena mulutnya penuh spaghetti.
Sasuke mendengus. Apa boleh buat? Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menunggu, matanya kembali menyapu habis seisi ruangan restoran. Hah, apakah tidak ada pekerjaan yang jauh lebih menguntungkan dari ini? Entahlah. Mungkin karena faktor dari hatinya yang tidak dalam keadaan baik sehingga ia tidak terlalu bernapsu untuk melakukan hal banyak. Ingatlah! Ia bahkan tidak menyentuh spaghetti-nya tadi.
Tiba-tiba mata onyx-nya tertuju pada seseorang –eh, bukan! Tapi dua orang yang duduk di kursi dengan meja bernomor dua puluh enam di sudut sana. Sasuke bisa memastikan mereka adalah sepasang kekasih, karena dua orang itu begitu menonjol dalam memperlihatkan betapa mersanya mereka. Ia menyipitkan mata, merasa seperti tidak asing dengan si pria yang duduk berhadapan dengan wanita pirang berponi, kekasihnya itu. Ya, Sasuke yakin ia pernah bertemu pria berambut merah tersebut. Dan ia masih ingat betul nama orang itu…
'Sasori?'
Apakah orang itu benar-benar Sasori? Akasuna No Sasori yang ia kenal sebagai calon suami Sakura? Sasuke tidak bisa mengelak penglihatannya sendiri. Pria yang kini ia lihat sedang menyapu sisa-sisa makanan di daerah dekat bibir wanita pirang itu adalah Sasori. Demi Tuhan! Apa yang sedang ia lakukan?
Sasuke tidak pernah menduga Sasori akan menoleh kearahnya. Ia bisa melihat mata pria muda itu melebar sempurna ketika tatapan mereka bertemu.
~OoO~
"Aku senang kau membawaku ke tempat ini, Sasori." Komentar wanita pirang berponi rapi itu ketika ia dan pria di sampingnya mulai memasuki sebuah restoran mewah khas Eropa. Penampilan wanita itu terkesan sexy dengan rok mini light orange kira-kira lima senti di atas lutut.
"Kau selalu berkata seperti itu setiap kali kita kesini, " pria yang diketahui bernama Sasori mempersilahkan gadisnya untuk duduk di kursi yang ia tarik barusan.
Wanita pirang tadi duduk dengan anggun, "aku yakin, kau pasti tidak pernah mengajak wanita soft pink ke restoran ini."
"Hanya satu kali." Jawab Sasori ringan setelah ia duduk di kursinya, "ia lebih menyukai sushi daripada masakan Eropa."
"Hmm, selera yang payah."
Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Sasori menyebutkan pesanannya dan pelayan itu pun berlalu.
"Ngg, Sasori..."
"Ya?"
"Kapan kita menikah? Aku tidak sabar ingin berbulan madu di Paris."
"Mungkin tidak lama lagi, Shion."
"Tapi kapan? Aku harus menunggu lagi?"
Sasori tidak langsung menjawab karena pada saat itu pelayan datang mengantarkan pesanan. Setelah pelayan itu pergi, ia kembali menatap Shion yang seolah menantikan jawaban darinya. "Ya, kau harus menunggu."
"Menunggu? Lagi?" Shion tersenyum hambar, "Sasori, aku tidak sanggup menghitung jumlah berapa kali kau mengatakan hal itu. Dan kau tidak tahu itu membuatku bosan setengah mati."
"Tunggulah sampai rumah milik Haruno Sakura berada di tanganku. Dan kita akan bersenang-senang setelahnya."
Shion menghentikan acara memotong daging steak-nya, ia mengangkat wajah kearah Sasori."Bagaimana jika kau gagal mendapatkannya?"
"Aku pasti berhasil mendapatkannya." Kata Sasori enteng, seakan perkataannya tadi bisa dicapai dengan mudahnya.
Wanita pirang itu kembali fokus pada steak di hadapannya setelah bergumam 'oh'.
Mata kecoklatan milik Sasori mendapati adanya saus tertempel di sebelah bibir Shion. Sejenak ia tertawa ringan, "makanmu masih seperti anak kecil, " ujarnya, lalu bergegas mengambil selembar tisu kemudian menyapu pelan sisa saus tadi, "nah, sekarang kau bisa melanjutkan pesta makan steak-mu, Shion-chan." Sasori bisa melihat wajah kekasihnya merona.
Tiba-tiba Sasori merasa ada sesuatu yang aneh di restoran ini. Ia merasa seperti sedang menjadi sebuah objek penglihatan seseorang. Ya, pria berambut gelap yang duduk di kursi bernomor meja tiga puluh empat di sana memang tengah meliriknya. Dan mendadak ia mulai merasa tidak enak, seketika ia berpikir... Apa jangan-jangan orang itu adalah utusan dari Sakura yang ditugaskan untuk memata-matainya? Ah, mustahil. Ia tahu Sakura tidak mungkin menyewa seorang mata-mata, wanita pinky itu sangat perhitungan dalam masalah keuangan. Tapi, mengapa ia juga merasa seperti pernah melihat pria itu? Sasori tidak bisa memastikan orang itu karena sekarang ia hanya melihatnya dari ekor matanya, ia tidak berani memfokuskan matanya secara langsung kearah orang tadi.
"Sasori, kau kenapa?" Shion yang sedari tadi mengamati tingkah aneh Sasori mulai bicara ketika ia mendapati wajah pria berambut merah itu mulai berkeringat.
Sasori terkesiap kaget. "Tidak apa. Hmm, sepertinya aku harus ke Toilet." Ia berdiri, dan dengan cepat menghilang dari hadapan Shion.
"Aneh..." Wanita pirang itu melahap potongan kecil steak-nya lagi.
~OoO~
Sasuke melihat Sasori bangkit dari kursinya. Mata onyx itu mengikuti arah tujuan langkah kakinya. Hm, tidak salah lagi. Sasori menuju ke toilet.
"Kau akan pulang sekarang dan membiarkanku membayar semua ini?" Naruto angkat bicara setelah mata biru miliknya menangkap sosok Sasuke berdiri.
"Hn, aku hanya ke Toilet." Jawabnya sambil berlalu.
Sasuke masuk ke dalam daerah Toilet pria. Tidak perlu membuang banyak waktu, dengan cepat ia berhasil menemukan wujud Sasori yang tengah berdiri menghadap wastafel.
"Kau... Sasori, bukan?"
Saat itu juga Sasori terbelalak. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Sasuke di sebelahnya. Astaga, sejak kapan Sasuke berdiri di sini?
"Hn, siapa gadis itu?" Tanya Sasuke datar. "Kau tidak sedang berkencan dengannya, kan?"
Sasori sadar sekarang keringatnya makin deras membasahi pelipisnya. Ia tidak tahu harus bicara apa dan melakukan apa.
Sasuke memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Aku tidak berniat masuk ke dalam masalah pribadimu. " Ia memberi jeda untuknya bernapas. Lalu, "aku hanya ingin membela perasaan Sakura."
"Memangnya kau siapa? Kau tidak perlu ikut campur dalam masalahku, Uchiha Sasuke!" Jawab Sasori berteriak, membuat orang-orang di sekitar mengalihkan pandangan kearahnya.
Sasuke menyorot mata onyx tajamnya pada Sasori, "aku tidak peduli apapun masalahmu. Sakura harus tahu kenyataan ini."
"Uchiha, diam kau!" Sasori menyodongkan jari telunjuknya tepat di wajah Sasuke, "kau harus menutup mulutmu atau kau akan menyesal!"
"Kau kedengaran seperti sedang mengancamku?"
Sasori membuang muka sebentar, "lantas, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Mengambil Sakura dariku?" Sejenak Sasori tersenyum masam, "heh, yang benar saja?"
Uchiha bungsu tidak menjawab.
"Jangan terlalu berharap banyak, Uchiha! Sakura akan mudah percaya semua perkataanku! Ingat itu!"
~OoO~
At Yamanaka's Flowers House...
"Demi Tuhan, Sakura. Sekarang pun aku masih belum percaya... Akhirnya kau, mendapatkan orang yang pantas untuk menjadi calon suamimu." Ujar Ino dengan wajah sumringah. Turut bahagia atas sahabat baiknya yang beberapa saat lalu memperkenalkan kekasihnya.
"Tadinya aku ingin membuat ini sebuah kejutan. Tapi tak kusangka ia sangat keras kepala datang kesini." Jawab Sakura seraya merangkai beberapa tangkai bunga lily putih di dalam vas kaca.
"Ya, dan kau benar-benar berhasil membuatku terkejut setengah mati." Ino terkekeh pelan, "oh, bukankah setahuku... Selama ini kau selalu bilang bahwa kau akan tetap memilih jalanmu sendiri? Maksudku... Kau pernah bilang tidak ingin berpikir tentang 'pria'?"
Sakura tertawa pelan, "Ino, bukankah barusaja aku mengatakan 'ini sebuah kejutan'?" Ia menekan di bagian kata 'kejutan'.
"Hmm, jadi pada saat itu kau berbohong?" Nada suara Ino terdengar bak polisi yang sedang mengintimidasi seorang tahanannya. Kemudian ia lihat Sakura mengangguk sambil tersenyum geli, "kau jahat sekali, Sakura."
"Tidak juga." Sakura memasukkan tangkai bunga lily terakhirnya, "nah, beres. " Ia tersenyum puas dengan hasil karyanya sendiri.
"Pulanglah, kurasa Yuuki pasti sudah merengek ingin minta dijemput."
Setelah mengambil jaket serta tas kecilnya dan berpamitan, dengan langkah cepat Sakura berjalan keluar dari toko bunga terbesar di Tokyo itu mengingat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dan ia harus segera menjemput Yuuki. Ia tidak mau Hinata kerepotan gara-gara rengekan anak itu. Begitu Sakura menyusuri jalan kecil yang sepi dan hanya diterangi oleh remang-remang lampu jalanan, tiba-tiba ia merasa ada langkah kaki yang mengikutinya. Ia berhenti sebentar untuk memastikan suara itu benar-benar ada. Sakura sangat yakin ia benar-benar mendengar suara tadi, ia bahkan nekat memberanikan diri memutar tubuhnya ke belakang. Dan hasilnya? Hanya seekor anak kucing kotor yang mengeong. Sakura menghembuskan napas lega. Syukurlah, ternyata tidak seperti yang ada di benaknya. Namun, ketika Sakura kembali berbalik dan bersiap untuk mengambil langkah pertama, ia dikejutkan dengan sebuah tangan yang memegang pundaknya. Rasanya ia tidak ingin menahan diri untuk tidak berteriak histeris sekarang. Ia harus mengurungkan niat karena orang itu kini menutup mulutnya menggunakan tangan yang terasa dingin. Barusaja Sakura ingin berontak, orang misterius itu bergumam...
"Ssttt. Sakura, ini aku."
Suara itu...
"Sasuke?" kata Sakura bernada tercekik dan mata terbelalak, "apa yang sedang kau lakukan? Lepaskan aku!"
Orang misterius yang ternyata adalah Sasuke itu melonggarkan tangannya, "maaf. Aku tidak bermaksud untuk menculikmu atau sebagainya."
Sakura meletakkan telapak tangannya di dada, merasakan detak jantungnya yang makin cepat terpompa, "astaga, Sasuke. Kau hampir membuat jantungku copot."
"Maafkan aku."
"Baiklah, katakan apa maksud sesungguhnya dari ini?" Sakura mulai bicara lagi setelah ia rasa jantungnya normal kembali.
Sasuke menarik napas dalam-dalam sebelum ia bicara, "Sakura, aku perlu bicara padamu. Sekarang."
"Ng? Tapi kenapa harus di tempat seperti ini?"
"Aku tidak punya waktu banyak... Dan kupikir aku harus memberitahumu tentang hal 'ini' setelah aku mengetahuinya sendiri sebelum semuanya terlambat."
Wanita berambut soft pink itu menatapnya heran. "Apa maksudmu?"
"Dengar. Ini tentang Sasori."
Sasori? Kenapa tiba-tiba Sasuke menyebut-nyebut nama itu? Sakura lebih memilih diam karena rasa heran yang baru menimpanya berkembang cepat di otaknya.
"Dia..-"
"Sakura?" suara berat khas Sasori sontak terdengar dari arah belakang Sasuke. Sosok pria berambut merah itu muncul di sana, "kau di sini rupanya? Aku barusaja ke toko bunga Ino, dan dia bilang kau sudah pulang. Maka dari itu aku bermaksud untuk menyusulmu."
Sasuke terkesiap dengan kedatangan Sasori yang terkesan tiba-tiba. Ia sempat berpikir pria itu sudah merencanakan ini lebih awal. Dasar brengsek!
"Aku memang akan pulang, tapi aku harus menjemput Yuuki terlebih dahulu di rumah Naruto."
"Itu bagus. Biarkan aku yang mengantarmu." Tawar Sasori dengan senyumnya yang sangat menjijikan bagi Sasuke. Pria ini sungguh pintar bersandiwara, pikirnya.
"Tunggu! Aku ingin bicara!" Sasuke menggenggam tangan Sakura erat. Mencegahnya berlalu bersama Sasori.
Sakura menoleh cepat pada Sasuke, lalu beralih ke Sasori. Meminta izin agar di berikan sedikit waktu untuk mendengarkan kalimat Sasuke yang ia akui masih membuatnya penasaran. Terlebih tadi ia sempat mendengar nama 'Sasori' terlontar dari mulut Sasuke. Sakura akan mulai membuka mulutnya begitu melihat kekasihnya menaikkan kedua bahunya sendiri."Baiklah, katakan saja."
Untuk yang kedua kalinya Sasuke menarik napas dalam-dalam, "putuslah dengannya!"
~OoO~
"Putuslah dengannya!" Sasuke menatap Sasori tajam seperti predator yang akan membunuh mangsanya. Sementara Sasori hanya menyeringai licik.
Sakura mengerutkan kening, "apa katamu?" kemudian ia melirik Sasori yang tengah memasang wajah polos seolah-olah juga tidak mengerti maksud perkataan Sasuke. Sakura memutar kepalanya kembali kearah onyx di hadapannya, "kau tidak punya alasan untuk berkata seperti itu, Sasuke!"
"Dia... Dan wanita pirang itu... Restoran khas Eropa... Aku melihatnya..."
Ya, ampun. Kenapa? Kenapa ia tidak bisa berkata dengan jelas? Kenapa ia mendadak bicara konyol?
Sasuke mendapati dirinya tengah berkeringat saking gugupnya. Ia tidak sanggup berkata selebihnya jika ia tidak mengambil oksigen bervolume tinggi lagi. Dua-tiga-empat detik kemudian ia mulai membuka mulutnya kembali, "Sakura, orang ini telah menghianatimu!"
Wanita itu lagi-lagi menoleh pada Sasori, memberi tatapan meminta sebuah penjelasan.
"Kau tahu betul aku bukan tipe laki-laki seperti itu," Sasori bersandiwara –lagi– dengan berpose ala seseorang yang tengah terkena fitnah.
Mata Sasuke melebar. Sial, pria itu benar-benar telah membuatnya naik darah sekarang. Rasanya ia ingin sekali menghantam wajah licik itu dengan tangannya sendiri. "Bohong! Dia bohong!"
"Sasuke, ini tidak lucu!"
"Aku tidak sedang bercanda!"
"Kau iri padanya! Aku tahu itu!" kata Sakura berteriak seraya menunjuk Sasori.
Ya, Sasuke akui. Ia memang iri, atau lebih tepatnya... Ia cemburu. Tapi ia juga sama sekali tidak berdusta.
"Sakura... "
"Sudahlah, Uchiha... Kurasa kau hanya menginginkan sebuah masalah besar akibat omong kosongmu ini!"
Tolonglah, siapapun... Tolong bantu Sasuke menahan amarahnya yang mulai bergejolak. Ia tidak mampu menahannya lagi. Ia tidak bisa menghentikan tangannya sendiri untuk tidak memberi pukulan kepada pria berambut merah itu, pemicu emosinya. Dan ia harus melakukannya di hadapan Sakura.
Bruukkl!
Satu hantaman keras mendarat sukses di pipi kanan Sasori. Tubuhnya tersungkur jatuh ke tanah, ia sempat merintih kesakitan. Sasori mendapati sudut bibirnya mengeluarkan darah akibat pukulan Sasuke. Merasa tidak terima perlakuan Sasuke padanya, Sasori bangkit dan dengan cepat melayangkan kepalan tangannya ke wajah pria itu.
Sementara Sakura hanya bisa berdiri kaku menyaksikan perkelahian Sasuke dan Sasori. Sambil menutup mulutnya yang setengah terbuka menggunakan tangannya, ia berusaha memutar otak untuk mencari sesuatu yang bisa ia lakukan. Entahlah, apapun itu. Yang ia mau hanya menghentikan perkelahian ini sebelum semuanya akan menjadi lebih buruk lagi. 'Ayolah, Sakura... Berpikirlah...'
"Cukup! Hentikan!" serunya. Ia tidak bisa melakukan hal banyak selain berteriak. Ia sadar akan kakinya yang bergemetar hebat saking gugupnya. "Tolong hentikan!"
Dua orang yang sudah babak belur itu sontak menghentikan kegiatan saling serang. Sekarang Sakura bisa melihat wajah keduanya penuh luka dan cairan berwarna merah ketika masing-masing kepala mereka berputar ke arahnya. Ia melirik Sasori yang terluka parah dengan bagian mata sebelah kiri agak bengkak. Lalu beralih melirik Sasuke yang tengah menyapu sedikit darah keluar dari hidungnya. Sakura berjalan mendekat. Menarik tangan Sasori agar pria itu beralih ke belakangnya. Kemudian kembali fokus menatap Sasuke.
Plaakk!
Sakura menampar pipi Sasuke yang sudah lecet akibat serangan Sasori tadi, "sudah cukup kau menyakitinya?" ketika itu juga, ia sadar air matanya mengalir menuruni pipi.
Sasuke tidak menjawab. Mulutnya tiba-tiba membisu karena harus menahan rasa sakit di wajahnya. Kini ia terlihat sedang menyentuh bagian itu dengan telapak tangannya.
"Lihat... apa... yang sudah... kau lakukan!" suara Sakura tersendat-sendat karena tangisnya. "Jangan berharap aku akan memaafkanmu lagi, Sasuke!"
Sasuke sudah bisa menebak Sakura akan mengatakan hal ini sebelum ia menghajar Sasori. Inilah resiko yang harus ia hadapi. Dan mungkin saja setelah ini juga ia akan menemui kenyataan lain yang harus memisahkannya lagi dengan Yuuki. Hm, ironis sekali. Padahal ia hanya ingin menghindarkan Sakura dari makhluk berbahaya bak Sasori.
"Kenapa sekali saja kau tidak pernah mencoba untuk mempercayaiku, Sakura? Kenapa kau selalu meragukanku?" akhirnya ia memutuskan untuk bicara. Ia menatap mata Sakura yang masih berkaca-kaca. "Dan kenapa kau selalu berpihak pada seorang pendusta sepertinya?"
"Tutup mulutmu!" timpal Sasori setelah lumayan lama diam menikmati hawa pertengkaran di sekitarnya. "Kau..-"
"Sudahlah, Sasori." Cegah Sakura sambil menghapus air matanya, "aku ingin secepatnya menjemput Yuuki." Ia berbalik, lalu berjalan pelan.
Sasori berbalik mengikuti Sakura. Namun sebelumnya ia sempat bergumam sesuatu yang sangat jelas terdengar di telinga Sasuke, "aku menang darimu, Uchiha."
~OoO~
Sasuke duduk bersila di atas kasur ukuran 'king size' di kamarnya dengan ditemani semangkuk es dan sehelai handuk. Ia bermaksud untuk mengompres luka lebam di wajahnya. Sebelum masuk ke kamar, ia sempat mendengar Kabuto bersedia menawarkan diri untuk membantu tuannya itu. Namun Sasuke mengacuhkannya. Hanya luka lebam, tidak masalah. Ia bisa mengatasinya sendiri.
"Aw...!" suara erangan Sasuke memenuhi ruangan itu. Bisa dilihat ia tengah berjuang menahan rasa sakit di wajahnya. Juga rasa sakit yang bersarang di hatinya. Ia masih terbayang-bayang kejadian beberapa jam lalu. Dimana ia terus membela perkataannya sendiri. Dimana ia harus berkelahi dengan Sasori. Dan yang paling menyakitkan dari itu semua adalah... kenyataan yang mengatakan Sakura tidak berpihak padanya.
'Sekarang Sakura pasti sedang mengompres wajah Sasori' ucapnya dalam hati. Kemungkinan hal itu terjadi memang sangat tinggi. Mengingat Sasori adalah kekasihnya, terlebih lagi luka yang tergores di wajah pria tersebut bisa dikatakan lebih parah dari Sasuke. Karena begitu menghajar Sasori, hati dan pikirannya hanya diselimuti oleh rasa benci. Itu membuatnya gelap mata dan menghantam Sasori tanpa ampun.
Sasuke merasa keyakinan dirinya untuk menggapai hati Sakura mulai mengabur. Tidak tahu apakah dirinya masih sanggup melewati rintangan yang makin berat dari waktu ke waktu seperti ini? Tidak tahu... Ia ragu. Dengan cepat ia mengerjap mata, mencoba sadar dari lamunan sebelum pikirannya melayang lebih jauh lagi. Sasuke mendongak untuk melirik jam dinding. Oh, sudah jam setengah dua dini hari rupanya. Ia meletakkan mangkuk berisi es serta handuk di atas meja samping tempat tidurnya. Kini saatnya untuk melupakan masalah itu sejenak dengan... Tidur. Dan kembali mengingatnya esok hari.
~OoO~
Sore itu... Sakura baru keluar dari 'Yamanaka's Flowers House'. Ia sudah berniat pulang dua jam lebih awal karena ingin menyempatkan diri ke toko, membeli buku dongeng terbaru untuk putri semata wayangnya. Sakura ingat, anaknya itu sangat gemar mendengarkan ia bercerita sebelum tidur.
Ia berhenti dibagian rak kumpulan buku dongeng. Setelah kurang lebih lima belas menit sibuk mencari buku yang bagus baginya, akhirnya ia memutuskan mengambil dua buah buku tebal, buku pertama dengan cover depan bergambar seorang gadis yang sepertinya sedang mengejar seekor kelinci berpakaian 'formal'. Dibawahnya terdapat tulisan berukuran besar dan miring 'Alice in Wonderland', judul buku tersebut. Buku kedua, bercover seorang wanita tengah melamun di jendela dengan satu tangan yang menopang wajahnya, terlihat rambut pirangnya yang terjuntai sampai kebawah menara. Buku itu berjudul 'Rapunzel'.
Sakura tersenyum sambil memandangi kedua buku itu bergantian. Yuuki pasti senang, pikirnya. Ia baru akan melangkahkan kakinya menuju kasir, tapi tidak jadi. Sakura memfokuskan indera pendengarannya pada satu suara yang ia yakini sudah sangat familiar di telinganya. Ia bersembunyi di balik rak kumpulan buku dongeng.
"Jangan marah, sayang... Ketahuilah, wajahmu mirip Orochimaru-sama jika cemberut begitu."
Suara itu makin terdengar nyaring dan dekat. Kenapa Sakura merasa takut seiring langkah kakinya yang mendekat ke sumber suara itu? Mungkinkah...
"Pokoknya aku marah padamu, Sasori!"
Apa? Gadis itu bilang apa tadi?
"Baiklah, baiklah. Akan kubelikan ini untukmu."
"Hah, bukankah uangmu sudah terkuras habis karena terus membeli susu untuk anak itu?"
"Yuuki maksudmu?"
Sakura tercengang tidak percaya. Astaga, sepertinya setelah ini ia harus memeriksa telinganya yang mulai kehilangan fungsi.
"Dengar, Shion. Aku melakukannya agar anak nakal itu mau menerimaku sebagai ayahnya. Hanya ini satu-satunya alasan mengapa aku begitu rajin membelikannya susu arbei."
"Kau lebih mencintai perempuan pinky dan anaknya daripada aku, kekasihmu sendiri Sasori!"
Tidak. Sakura tidak perlu membuang habis uangnya demi memeriksa telinga. Ia tahu ini bukan kesalahan. Sama sekali bukan!
Ia menggigit bibir, berjuang menahan tangis.
"Aku hanya mencintaimu, Shion. Demi Tuhan! Hanya kau yang kucintai."
Kali ini Sakura menekan telapak tangannya ke dada.
Terasa berat...
Dan sakit sekali...
Kakinya mendadak lemas seolah akan roboh. Kepalanya pusing. Pandangannya berkabut. Tangannya yang memegang dua buah buku tebal tiba-tiba melemah. Sampai akhirnya benda itu terjatuh dan menciptakan suatu bunyi yang menarik orang sekitar melihat kearahnya. Termasuk dua sejoli itu...
Mata milik Sasori terbelalak sempurna ketika mendapati wujud Sakura yang berdiri beku di sana. Ia tidak pernah menduga akan bertemu dengannya di tempat ini. Terlebih... Ketika ia tengah bersama Shion.
"Sakura?"
Sakura terus menggigit bibirnya. Ia tidak mungkin menangis di sini.
Sasori terlihat bimbang dalam kondisi 'tidak baik' seperti sekarang. Mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak jadi. Wajahnya begitu kontras sedang menahan rasa...-
"Kau tidak mempunyai alasan untuk berbohong, Sasori!" tangis Sakura tumpah.
"Sakura... Ini tidak seperti..-"
"Jangan berkata lagi. Aku tidak ingin mendengarnya!" Sakura berjongkok, memungut dua buku yang terjatuh dari tangannya tadi.
"Biar kubantu."
Sakura menepis kasar tangan Sasori yang lebih dahulu menggapai buku, "tidak! Jangan!"
Shion membantu Sasori kembali berdiri.
"Aku benar-benar menyesal telah mempercayaimu!" ucapnya. Lalu berbalik meninggalkan dua sosok itu.
Ia menatap punggung Sakura yang mengecil seiring jauh jaraknya, "sial! Sasori mengumpat sejadi-jadinya.
Mimpi besarnya lenyap seketika...
~OoO~
Sakura memutuskan untuk naik bis. Duduk di bangku dekat jendela. Mengamati lampu-lampu jalanan yang mulai menyala, mengingat hari sudah menjelang malam. Lampu-lampu itu terlihat kabur, terlihat tak jelas di pandangannya. Mungkin karena pengaruh air matanya yang tidak berhenti semenjak ia berada di toko buku beberapa menit lalu. Ia terus menangis. Tidak peduli dengan pandangan-pandangan seisi bis itu. Sakura berusaha acuh tak acuh.
Wanita bermata emerald itu terlalu bingung untuk berbuat sesuatu yang dapat menghiburnya. Ia bahkan tidak tahu bis ini akan membawanya kemana.
Sakura mengambil ponsel mungilnya. Saat itu juga ia tersadar, ia butuh seseorang untuk berbagi cerita. Ia tidak ingin pulang sekarang. Ia tidak ingin Yuuki melihatnya dalam keadaan ini.
Baiklah, telpon. Telpon siapapun...
Setelah menekan beberapa tombol, Sakura menempelkan benda mungil berwarna merah itu ke telinga. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur pernapasannya yang sempat tersendat agar suaranya tidak terdengar aneh di telpon.
"Hallo?" terdengar suara Ino di ujung sana.
Sakura diam. Namun tak lama ia kembali terisak.
"Sakura, kau kenapa? Apa yang terjadi?" kali ini suara Ino terdengar gegabah dan cemas.
"I-Ino... Aku... Aku..."
"Baiklah, kau tunggu di rumahmu dan aku akan segera kesana."
"Ti-tidak." Sakura menarik napasnya kembali sebelum membuka mulutnya, "aku yang akan ke rumahmu... Ya. Tentu... Sampai nanti." Ia memutuskan sambungan telpon. Semoga dengan bercerita pada Ino membuatnya lebih baik dari suasana hatinya yang kacau.
Kalau boleh jujur, sebenarnya bukan karena Sakura mendapati Sasori yang tertangkap basah bersama Shion, tapi karena ia merasa tidak nyaman pada Sasuke. Sakura mencoba mengingat kembali peristiwa dimana pria itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri...
'Putuslah dengannya!'
'Sakura, orang ini telah menghianatimu!'
'Kenapa sekali saja kau tidak pernah mencoba untuk mempercayaiku, Sakura? Kenapa kau selalu meragukanku?'
Secara tidak sadar, Sakura kembali meneteskan air mata, menutup mulut menggunakan tangannya yang terbungkus sarung tangan woll. Ia merasa dirinya begitu buruk. Sangat buruk. Pikirannya berubah kacau balau tak beraturan. Yang bisa ia lakukan kini hanyalah menangis tanpa suara.
~OoO~
"Kau menyesal pada tingkahmu sendiri?" tanya Ino hati-hati. Sekarang ia dan Sakura duduk di ruang depan kediaman Yamanaka.
Sakura mengangguk lemah dengan mata yang masih sedikit berair.
Ino menghela napas panjang, "jadi menurutmu... ini semua adalah salahmu?"
Sakura menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang lagi-lagi basah karena tangis. "Ehm." Ia mengangguk untuk kedua kali.
"Aku tahu Yuuki sangat menetang hubungan kau dan Sasori... dan aku tahu pula ia sudah terlalu sering memintamu untuk tidak memilih pria itu." Ino memajukan posisi duduknya, "dan.. hm- kurasa Sasuke begitu mencintaimu. Hingga ia sampai berbuat banyak untukmu, Sakura." Ia memandang Sakura lekat, "tapi kau... telah mengabaikannya. Kau mengacuhkan mereka."
Sakura tidak berani mengangkat wajahnya, "aku tahu..."
Ino mendekat, mengusap punggung Sakura, "kupikir sudah saatnya kau mencoba untuk mempercayainya."
Perlahan Sakura mendongak seraya menghapus sisa-sisa air mata di wajah sayunya, ia menatap Ino, "apa yang harus kulakukan, Ino? Aku... sangat merasa bersalah padanya." Ucapnya pelan.
Gadis pirang itu tersenyum ringan, "meminta maaf. Yah, kau harus melakukannya."
~OoO~
Sakura ingin bertanya satu hal lagi pada Ino. Tapi nyatanya ia sudah beranjak pulang dari kediaman Yamanaka dan terlupa akan itu. Sebenarnya ia ingin sekali membahasnya. Dan menurutnya sekarang adalah waktu yang tepat, tidak peduli dengan jam dinding yang telah menunjukan hampir pukul duabelas malam. Terlebih, Yuuki juga sudah tertidur pulas di kamarnya.
Ia menekan beberapa tombol ponselnya setelah sempat ragu, kemudian meletakkan benda itu di daun telinganya. Tak perlu menunggu lama, ia mendengar suara Ino di seberang sana, "Ino..."
Sakura tidak menyadari hadirnya sosok Yuuki yang berjalan tak jauh dari belakangnya. Anak itu bermaksud ingin menagih susu hangat yang rutin diminumnya sebelum tidur. Dan jangan harap ia bisa tertidur lelap jika tidak meminumnya.
"Ibu... mana susu..-"
"Tidak, Ino! Aku tidak mungkin mengatakannya pada Yuuki..."
Suara Sakura terdengar agak keras dan terlebih lagi ia menyebut nama Yuuki di akhir ucapannya. Membuat Yuuki segera menghentikan kata-katanya dan berdiri diam di belakang tubuh Sakura, menantikan kalimat selanjutnya yang terlontar dari mulut ibunya.
"Iya, aku tahu... maksudku... ini bukan waktu yang tepat untuknya mengetahui Sasuke adalah ayahnya, Ino."
Yuuki tersentak kaget dan segera bergumam, "ibu..."
Sakura tak kalah kaget setelah mengetahui Yuuki berada tak jauh darinya, "Yu-Yuuki? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Ia berjongkok dan buru-buru memutuskan sambungan teleponnya.
Habislah sudah...
Yuuki terlanjur mengetahuinya...
"Ibu, aku yakin aku tidak salah mendengarnya. Tolong katakan padaku sekali lagi, Bu!" Nada bicaranya terdengar lemah. Namun wajahnya tergambar rasa penasaran yang menjadi-jadi.
Sakura mendapati dirinya menahan napas.
'Jangan katakan itu...'
"... Bahwa paman Sasuke benar-benar... "
'Aku tidak ingin mendengarnya...'
"... Ayah kandungku."
Yuuki menatap miris wanita di hadapannya. Ia sendiri masih belum percaya telah mengatakan itu.
Sakura memeluk Yuuki secara refleks, "kau mendengarnya?"
Anak itu tenggelam dipelukan ibunya. Bibir kecilnya sengaja tak menjawab pertanyaan Sakura, karena ia rasa wanita itu pun sudah pasti mengetahui jawabannya. "Kenapa Ibu tidak pernah memberitahuku?" tanyanya setengah tangis.
~OoO~
Keesokkannya...
Sasuke sesekali memandangi wujud mungil di sampingnya dengan tatapan heran. Ini aneh. Yuuki terlihat berbeda dari biasanya. Lebih pendiam, dan selalu melamun. Terakhir kali ketika Sasuke bertemu dengan anak itu, ia merasa semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang berubah dari Yuuki. Anak itu tetap mengoceh, tertawa dan bercanda bersamanya. Keadaan itu sangat bertolak belakang dengan kondisi sekarang. Yuuki bahkan tidak menyedot susu arbei pemberiannya sedikit pun, kotak susu itu masih berada dalam genggaman kecilnya. Sasuke dapat melihat mata Yuuki yang memandangi rerumputan di sekitar sepatunya. Ia juga menyadari tatapan itu hanyalah tatapan kosong. Yuuki melamun lagi.
Ini keadaan yang tidak baik. Sepertinya ia harus membuka mulutnya sekarang juga dan menemukan titik poin penyebab sikap aneh Yuuki.
"Yuuki, kau baik-baik saja?" Sasuke merapatkan jarak duduknya.
Yuuki menggeleng, lalu mendongak kearah Sasuke, "aku baik-baik saja, Paman." Kemudian ia kembali menunduk.
Ya, Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi? Sasuke terus memaksa dirinya untuk mencari akal agar Yuuki kecil kembali ceria menjadi dirinya semula. "Aku akan mentraktir ice cream, tapi sebelumnya kau harus cerita apa masalahmu dulu. Bagaimana?" trik yang bagus, biasanya anak kecil mudah diperdaya oleh ide itu.
Tapi bagaimana dengan anak kecil yang satu ini..?
Yuuki menoleh lambat, "bolehkah aku meminta hal lain selain ice cream?"
Sasuke sempat merasa bingung. Tapi tak apa, asalkan Yuuki mau berbagi cerita padanya, "boleh saja."
Anak itu memindahkan kotak susu arbei yang masih utuh di bagian kursi yang masih kosong di sebelahnya, "jika aku boleh meminta... Aku ingin Paman memelukku."
"..."
"Karena aku... Juga ingin merasakan hangatnya dipeluk oleh ayahku sendiri." Lanjutnya setelah ragu sesaat.
Kalimat terakhir yang sungguh tidak terduga. Sasuke terlalu kaget sampai-sampai ia mendapati dirinya sediri berhenti bernapas. Apa yang harus dirasakannya kini? Bahagia karena akhirnya Yuuki mengetahui status dirinya? Atau tetap merasa heran? Entahlah, Sasuke merasa semuanya telah bercampur aduk dalam pikirannya.
"Kalau Paman tidak mau, tida..-"
Tiba-tiba Sasuke menarik tubuh Yuuki ke dalam pelukannya. Dan sontak membuat Yuuki terkejut, kemudian turut membalas dekapan erat Sasuke.
"Ijinkan aku untuk memanggilmu 'Ayah'..."
-tbc-
-Next chapter-
"Aku heran... kenapa ayah dan ibuku belum menikah?"
"Berhentilah bersikap keras kepala, Sasuke! Dari sini kau terlihat seperti orang tolol!"
"Aku tidak pernah merasa tolol jika kau yang memintaku."
"Kau harus membuktikannya kalau kau memang mencintainya!"
"Tenanglah, Teme. Aku dan lainnya akan membantumu."
"So, will you marry me?"
"Ehm, I will..."
Mohon maaf atas keterlambatan update'nya yah, minna-san^^"
Soalnya Hika bener-bener sibuk banget ._.
Bayangin aja, Hika pulang magang ampe pukul 10 malem, bookkk 0.0"
Maka dari itu, waktu buat ol jadi terbatas dan gak bisa lama-lama diem dimuka lappi ._."
Jadi, Hika minta maaf banget yah karena gak bisa menuhin permintaan para reader buat update kilat.
^^"
Dan mohon maaf juga Hika belum bisa bales review'nya.
Mungkin setelah last chapter baru deh Hika nyempetin diri buat bales review^^
Jangan lupa beri review lagi yah...
Hika tunggu!
-FujiHikaSasuSaku-
