HARI YANG SAMA

Harry Potter kepunyaan JK Rowling

Rate T, family/friendship. Severitus dalam bentuk yang berbeda.

-o0o-

Bagian kedua

Waktu berlalu. Satu tahun terakhir Harry di Hogwarts dijalaninya sebaik-baiknya. Langkah berikutnya, pendidikan Auror. Bersama Ron, ia menjalani pendidikan yang berat ini. Selesai pendidikan, Harry berencana menikahi Ginny, sementara Ron nampaknya sudah semakin mantap mendekati Hermione.

Hari ini saja Hermione ada di The Burrow, sedang ngobrol dengan Ginny.

"Ron mana?" tanya Harry, mengambil tempat duduk dekat Ginny.

"Bersama George, sedang ke Diagon Alley—" sahut Ginny. Di waktu luangnya, Ron sering membantu George menjalankan toko leluconnya, dan nampaknya George juga terbantu.

Hermione melanjutkan obrolannya bersama Ginny, sepertinya serius sekali.

"Ini—tentang apa sih? Sepertinya pembicaraan tentang Muggle, kalau aku dengar DNA-DNA-an sih—" Harry tertarik, menyandarkan bahunya di bahu Ginny.

Hermione tertawa kecil. "Kukira kau tak akan tertarik. Tapi iya, ini tentang Muggle. Kau tahu, Mr Weasley selalu saja antusias kalau aku berbicara tentang segala hal tentang Muggle. Kemajuan mereka akhir-akhir ini memang menarik untuk disimak—"

"Ah, itu," Harry setuju, "—banyak memang barang ciptaan Muggle yang seolah-olah mengandung sihir di dalamnya, padahal teknologi mereka saja sudah cukup maju sekarang. Lalu, ada apa dengan DNA, apa hubungannya dengan sihir?"

"Begini," Hermione mencoba menerangkan dari awal lagi, "kita kaum penyihir tidak boleh terlalu menutup diri pada kemajuan para Muggle ini. Sudah seharusnya kita juga mengambil keuntungan, atau mengikuti kemudahan yang mereka buat.

Aku sedang menelusuri tentang DNA, makanya aku belajar lagi ilmu biologi Muggle, dan jika penelusuran ini benar, kita bisa membuat sesuatu dari DNA yang sudah ada. Misalnya, DNA ada di rambut. Dari sehelai rambut, kita bisa menguraikan DNA-nya, lalu mencoba membuat sesuatu yang baru, seperti—" Hermione nampak ragu meneruskan.

"Seperti teknologi kloning?" Harry meneruskan. "Bukankah dalam dunia Muggle, kloning sudah dilarang untuk manusia? Yang dibolehkan hanya pada hewan?"

"Aku baru tahu kalau kau juga mengikuti perkembangan Muggle—"

Harry tertawa. "Terpaksa. Sebagai Auror, kita terpaksa harus tahu perkembangan kaum Penyihir maupun Muggle."

Mereka tertawa berderai-derai ketika kepala Ron muncul dari bingkai pintu, "Ada 'pa ya, ramai-ramai begini?"

Otomatis Harry berdiri, "Ron! Tentang kasus Waterloo itu—" katanya berjalan mendekati, dan keduanya kemudian asyik berdiskusi, keluar ruangan.

-o0o-

Hermione sudah mulai membereskan tumpukan file kasus-kasusnya di meja ketika sebuah pesawat kertas mendarat dengan manis di mejanya. Menduga-duga siapa pengirimnya, ia membukanya.

Hermione,

Mau makan siang bareng? Tetep di kantin sih, tapi ada sesuatu yang ingin kubicarakan.

Harry

Hermione nyengir. Janjian makan di kantin kantor, keren amat! Tapi, lagian, kalau janjian makan di luar, justru menimbulkan gosip tak sedap nantinya, pikirnya sambil terus nyengir. Jadinya file-file ditumpuk rapi, meraih dompetnya, dan berjalan ke kantin.

Harry sudah menanti di sana. Niat bener, mejanya untuk dua kursi, letaknya di pojok, terlihat sih dari mana-mana sehingga tak akan menimbulkan gosip tak sedap, tapi percakapan tak akan mudah terdengar dari manapun.

Memanggil seorang peri rumah—mungkin lebih tepatnya peri kantor—Harry memesan makan siangnya yang biasa. Hermione juga, nampaknya.

"Ron ke mana?" tanya Hermione. Biasanya Harry-Ron sepasang, ke mana-mana barengan.

"Sedang menangani Kutukan Catur—" Harry nyengir, "—ada seorang penyihir pecatur yang marah pada tetangganya dan melontarkan kutukan semacam Petrificus. Kutukan itu hanya bisa dilepas kalau ada orang yang bisa menebak langkah apa yang harus diambil supaya skak mat—"

Hermione tertawa. "Kukira memang hanya Ron yang bisa menangani—"

Peri rumah datang membawakan makan siang mereka. Mereka makan dengan santun, awalnya.

"Sebenarnya ada apa sih, Harry?" tanya Hermione memecah keheningan.

Harry tak menjawab. Ia meletakkan garpunya, minum dulu sejenak.

"Aku—aku tak tahu bagaimana harus memulai—" Harry mengelap sudut mulutnya yang sama sekali tidak kotor, "—waktu itu kau sedang menerangkan soal DNA—" Harry terdiam sejenak.

"Dan—"

Harry menghela napas, "—apakah kalian sudah bisa membuat sesuatu dengan bantuan DNA?"

"Maksudmu, alih-alih Muggle bisa membuat kloning, sekarang penyihir yang kau curigai bisa membuat kloning dengan Ramuan dan Mantra?"

"Yah—semacam itulah—"

Hermione menggeleng. "Tidak sehebat itulah. Paling-paling kita membuat benda-benda kecil yang mengandung DNA yang sama dengan benda asal. Misalnya, dengan sehelai rambut, kita bisa membuat sekeping kulit. Baru sampai situ. Walau sihir nampak memudahkan pekerjaan kita, tetap saja kan, sihir harus dipelajari? Apalagi untuk hal-hal yang samasekali baru?"

"Apalagi untuk hal-hal yang sama sekali baru," Harry mengangguk. Lalu mulai menghabiskan makannya. Mereka terdiam selama mengosongkan piring.

Hermione menghabiskan minumnya dan sepertinya sudah akan beranjak dari kursinya, ketika Harry tiba-tiba bertanya, pelan, tapi tergesa seakan takut terdengar orang lain.

"Kalau—membuat sel-sel kecil?" bisiknya.

Hermione mengerutkan kening, "Tergantung selnya. Kalau sel kulit, tulang, atau yang seperti itu, mudah. Kalau seperti kelenjar, atau sejenisnya, agak rumit. Tapi kemungkinannya bisa—"

Harry menelan ludah, "—kalau sel sperma dan sel telur?"

Hermione memandang Harry lekat-lekat. "Sel sperma dan sel telur siapa yang ingin kau buat, Harry? Dan mengapa?"

Harry memandang sekitar. Orang-orang sudah mulai selesai makan dan meninggalkan kantin. Tak ada yang memperhatikan pembicaraan mereka berdua.

"Severus Snape. Dan Lily Evans—" sahutnya pelan.

"K-kau berpikir—" Hermione menyandarkan diri. Menyisirkan kedua tangannya pada rambut coklatnya, "—kau akan membuat 'anak' mereka?"

"Yah," Harry tertawa hambar, "entah apa yang sedang kupikirkan, tapi itu yang muncul. Aku punya barang-barang yang dulu kepunyaan Severus, aku punya barang-barang kepunyaan Mum, dan aku yakin di antaranya ada yang mengandung DNA. Entah sehelai rambut atau apapun. Dan tiba-tiba—tiba-tiba, begitu saja, terpikirkan olehku—"

Harry kini yang menyisirkan kedua tangannya pada rambut acak-acakannya, "—terpikirkan olehku, untuk membuatkan 'anak' untuk mereka. Keturunan mereka—"

"Kau gila, Harry!"

"Aku memang gila, Hermione. Sudah lebih dari setahun, dan kita belum bisa membuat pigura di kantor Kepala Sekolah mengeluarkan lukisan beliau. Pengakuan bahwa beliau adalah Kepala Sekolah sudah ada, Kastil sudah mengakuinya, tinggal unsur terakhir ini—"

Harry menyapukan kedua tangannya ke wajah, "Aku sudah tak tahu lagi, Hermione, jalan apa lagi yang harus kutempuh?"

Beberapa menit berlalu dengan hening.

"Jadi, kalau kita tak bisa memunculkan sosok beliau di pigura, kau sekarang ingin sosok keturunannya, yang hidup bergerak dan berbicara?"

"Ya." Harry melihat raut wajah Hermione yang seolah mengatakan 'itu-hal-yang-sungguh-tak-mungkin-Harry', dan ia sudah bersiap untuk berdiri, "—sudahlah, Hermione. Kalau memang tak bisa, sudahlah. Hanya jangan bicarakan ini dengan orang lain, ya?"

Harry berdiri. Hermione masih tetap duduk, seperti berpikir.

"Hermione?"

"Kurasa, bisa saja—"

Harry terduduk dengan mulut menganga, "—bi-bisa?"

"Aku akan merisetnya lagi. Sel sperma dan sel telur itu bukan sel yang mudah untuk dibuat, tapi bukan mustahil—"

"Kau benar-benar bisa?"

Hermione mengangguk. "Walau ini akan lama, karena ini bukan pekerjaan utamaku, tapi pasti akan kulakukan. Tapi—jangan bilang siapa-siapa dulu ya?"

Harry mengangguk. "Oke! Oke! Hermione, kalau aku Ron, kau pasti akan langsung kulamar!"

Hermione terkekeh. "Bilang saja pada Ron, dia sepertinya dari kemarin sudah mau ngomong, tapi masih ragu-ragu—"

Keduanya tertawa.

"Ngomong-ngomong, kapan kau akan melamar Ginny?"

Wajah Harry langsung memerah, "Secepatnya. Aku harus berbicara dulu pada Mr. dan Mrs. Weasley, dan juga pada George dan Ron. Walau mungkin tak mengapa, aku kan melangkahi keduanya dalam menikah—"

"Kau terlalu santun dan penuh basa-basi, Harry!" Hermione menepuk-nepuk bahu sobatnya ini, "—jadi tanggal berapa?"

Keduanya tertawa lagi.

-o0o-

Harry menikah dengan Ginny, dan belum ada kabar baik dari Hermione. Dalam beberapa kesempatan, Hermione mengisyaratkan, belum selesai.

Waktu terus berlalu. Ginny hamil, dan sekarang Harry sedang menantikan kelahiran anaknya yang pertama, di Grimmauld.

PLOP PLOP

Dua sosok itu muncul dari ketiadaan.

"Hermione! Ron! Kalian datang juga!" Harry menyambut dengan gugup, "—bidan sudah ada, sedang menolong Ginny, tapi aku—aku—"

"Kau gugup, sudahlah kau duduk di sini dengan Ron, aku akan ke kamar—" Hermione berlari ke kamar tempat Ginny sedang berjuang.

"Tenang saja, Harry, aku tahu Ginny kuat. Aku tahu bidannya kompeten. Dan kalau ada apa-apa, aku tahu Hermione akan tahu jalan keluarnya—"

"Tapi kau kan belum pernah mengalami hal yang seperti ini! Awas nanti kalau kau juga seperti ini—" rambut Harry sepertinya jauh lebih kusut dari hari biasanya.

Ron menahan tawa. "Sudah, sini duduk!" sahutnya, menarik tangan Harry dengan paksa, tapi tak bisa karena dari kamar terdengar suara tangis yang keras—

"DIA LAHIR! DIA LAHIR!" Harry berlari ke kamar, tak mempedulikan Ron 1)

Ron membeku sejenak, tetapi kemudian menggumam, "—memangnya dia sudah tahu kalau anaknya laki-laki?"

Tapi memang ternyata laki-laki. Sehat dan normal. Harry menamainya James Sirius Potter. Bergurau Ron menambahkan bahwa anaknya yang kedua nanti namanya Remus Peter.

"Tak akan sudi aku menamai anakku Peter, Ron!" sahut Ginny disambut anggukan Harry. Tapi keduanya nampak sangat berseri-seri.

Seusai Inisiasi Menyusui Dini, bayi itu langsung tertidur nyenyak. Nampaknya ibunya juga sudah kelelahan. Tak lama juga terlelap.

Bidan keluar dari kamar, disusul ketiganya, keluar kamar tak bersuara. Setelah bidan itu pamit, Ron juga pamit karena alarm Aurornya berbunyi.

"Mereka tahu kalau kau baru saja punya anak, Harry, makanya mereka tak memanggilmu," canda Ron sambil menggeplak punggung Harry, "selamat lagi, mate! Aku akan kabarkan pada semuanya!" Ia menghilang.

"Jadi," Hermione menepuk bahu Harry, "selamat sekali lagi, ayah baru!"

Harry menghembuskan napas keras-keras dan menjatuhkan diri di sofa, "Huwah! Padahal aku sama sekali tidak membantu proses kelahirannya, tapi rasanya lelah begini—"

Hermione terkekeh. "Itu stress, Harry! Sudah, duduk saja, aku ambilkan teh—"

Hermione baru menikah beberapa bulan dengan Ron, tapi nampaknya ia sudah mulai ketularan piawai membuat teh. Ia menghilang ke dapur, dan keluar lagi beberapa menit kemudian dengan sebuah baki berisi poci teh, cangkir-cangkir, susu dan gula.

Harry meraih sebuah cangkir, menuangkan teh, menuangkan susu, dan mencapit sebongkah gula. Tak dikocek baik, ia sudah menyeruput tehnya pelan-pelan.

Hermione lebih rapi lagi membuat tehnya, dan ia sedang mengoceknya hati-hati, ketika ia mengucapkannya pada Harry, "Sudah jadi, Harry."

Harry tersedak.

"A-apa?" Harry mengebas-ngebas air yang tumpah ke celana panjangnya.

Hermione mengayunkan tongkatnya, dan celana panjang Harry langsung kering.

"Eksperimenku sudah selesai. Dengan baik. Jadi, aku bisa membuat sel telur dan sperma kini. Tapi kau harus punya benda-benda yang mengandung DNA Snape dan ibumu, kalau kau memang ingin membuatnya—"

"Benar? Benar? Hermione, kau benar-benar malaikat!" seru Harry tertahan.

"Psst, Ginny sedang tidur! Kau ingin membangunkannya?"

"Ooops! Sori, sori," Harry menoleh ke kamar, memastikan Ginny masih tidur. Dan mulai berbicara dengan suara sedikit pelan. "Kau yakin?"

"Yakin sekali. Sebetulnya sudah beberapa minggu lalu, tapi aku harus meyakinkannya dengan mencobanya pada tikus dan kelinci. Mereka hamil dengan baik—" Hermione berbicara seperti sedang membicarakan cara membuat kue.

"—sekarang, kalau sperma dan sel telur sudah bisa dibuat dari benda yang mengandung DNA seseorang, maka pertanyaannya adalah, siapa ibu yang akan mengandungnya?"

Eh?"

"Ibu yang akan mengandungnya," Hermione mengulang, "Kau pikir, setelah sperma dan sel telur bersatu, lalu kita tinggal mengayun tongkat dan anak kecil akan tercipta?"

Harry menggaruk-garuk kepala tak gatal.

"Yang terpikirkan olehku adalah, Ginny. Tapi ia kan baru melahirkan. Jadi, proyek ini bisa kita lakukan paling-paling setahun lagi—"

Harry masih terpekur. "Kupikir iya. Kalau Ginny, jumlah orang yang harus kita beritahu, tak akan bertambah banyak. Lagipula dia istriku, tentu saja ia harus tahu. Lalu—"

"Lalu rambutnya merah, sedang rambutmu hitam," Hermione menambahkan, "jika anak yang lahir nanti rambutnya mengikuti Snape, orang akan mengira rambut hitam berasal dari kau, sedang jika anak yang lahir nanti rambutnya merah seperti Lily, orang akan mengira anak itu mengikuti Ginny. Seperti apapun anak itu kelak lahir, orang tak akan mengira hal yang bukan-bukan. Itu kalau memang ingin merahasiakannya—"

Harry mengangguk pelan. "Aku akan memberitahu Ginny. Pelan-pelan. Kalau dia sudah siap, kau akan kuberitahu—"

Hermione tersenyum. Ia berdiri dan menepuk bahu Harry. "OK. Aku harus kembali ke kantor, tapi kurasa Arthur dan Molly sudah dalam perjalanan ke mari, begitu juga seluruh keluarga Weasley!"

Harry nyengir. "Trims, Hermione."

"Sama-sama!" ia ber-DisApparate detik kemudian.

TBC

1) kalau dalam bahasa Inggris, ini kan harus ditulis 'he' atau 'she' XD