HARI YANG SAMA

Harry Potter kepunyaan JK Rowling

Rate T, family/friendship. Severitus dalam bentuk yang berbeda.

-o0o-

Bagian Ketiga

"Jadi, setelah sperma dan sel telur dipertemukan dalam cawan biakan, dibiarkan agar membelah diri, baru salah satu atau beberapa di antaranya dimasukkan ke dalam rahimku?" Ginny mencerna semua penjelasan yang diberikan Hermione.

"Ya. Jadi, ada 3 proses di sini, pertama proses sihir, yaitu membuat sel telur dan sperma dari benda yang sudah diketahui mengandung DNA Severus Snape dan Lily Evans. Berikutnya, proses medis Muggle, istilahnya membuat bayi tabung. Walau embrio dibuat dalam cawan bukan tabung—" Hermione tersenyum, "—nah setelah embrio jadi, dimasukkan ke dalam rahimmu, selanjutnya adalah proses alamiah. Jadi, setelah operasi ringan untuk memasukkan janin ke dalam rahimmu, kau tak perlu melakukan apa-apa. Lakukan saja apa yang biasa kau lakukan saat kau hamil: makan lebih bergizi, hati-hati bekerja, jangan mengangkat yang berat-berat, dan sebagainya—

Ginny mengangguk.

"Yang paling penting di sini," Hermione menekankan dengan hati-hati, "—kau tahu sperma dan sel telur siapa yang akan kau kandung. Kau tahu, anak siapa yang akan kau kandung dan kau lahirkan—"

Menghela napas Ginny memilih kata-katanya, "—kalau bisa dikatakan, singkatnya, aku akan mengandung—saudara tiri Harry—"

Hermione mengangguk.

"Perhitungan silsilahnya memang demikian. Jadi, sebenarnya agar rata, seharusnya yang menjadi ibu pengganti adalah Molly, tetapi kau tahu sendiri, berapa umurnya sekarang—"

"Walau aku tahu, kalau ia mengetahui, ia pasti mau menjadi ibu pengganti—" Ginny menyela.

Hermione mengangguk.

"Jadi, kapan aku bisa mulai mengandung?"

"Secepat kau bisa. Tentunya kita akan mengevaluasi dulu keadaan tubuhmu."

"Oke!"

-o0o-

Dalam beberapa minggu kemudian, Harry-Ginny ditemani Hermione bolak-balik mengunjungi sebuah klinik Muggle untuk pemeriksaan menyeluruh. Menurut Hermione, prosedur bayi tabung Muggle sudah lebih baik, dan praktis, jadi daripada Hermione harus meneliti dan bereksperimen lagi tentang prosedur bayi tabung secara sihir, mending ikut program Muggle saja.

Kecuali, dari mana sel telur dan sperma berasal. Hermione akan melakukan campur tangan secara sihir untuk hal ini. Dengan sedikit Obliviate, tenaga medis yang melakukan program ini akan mengira mereka sudah melakukan pengambilan sperma dan sel telur dari Harry dan Ginny, pasangan suami-istri.

Singkat cerita, penanaman embrio sudah dilakukan.

Beberapa minggu kemudian, berita sudah menyebar pada keluarga dan kerabat, bahwa Ginny sudah hamil lagi.

"Aih, cepatnya! Tapi, kau dan bayi James terlihat sehat kok, dan aku percaya, untuk bayi kedua ini, kau kuat!"

"Terima kasih! Doakan anak keduaku lahir sehat ya!"

"Ginny! Kau sudah isi lagi? Kau tak mau tersusul Hermione ya?"

Ginny dan lawan bicaranya terkekeh, mengingat Hermione sekarang sudah lima bulan hamil. Mereka sudah semakin akrab saja, apalagi keduanya sama-sama hamil, saling bertukar informasi.

Suatu ketika, keduanya pulang berbelanja, menuju Grimmauld. James sedang lelap tidur ditunggui Kreacher. Dan Harry ternyata sudah pulang.

"Harry, kau sudah pulang? Apakah Ron juga sudah pulang?" Hermione menyapa.

Harry menggeleng, "Tadi katanya ia akan mampir dulu ke Diagon Alley, ke George, ada barang tambahan yang harus ia urus—"

"Wow! George semakin maju saja ya, semakin sibuk!" sela Ginny sehabis menyimpan belanjaannya ke belakang.

"Er... Hermione, Ginny, aku—ada sesuatu yang ingin kubicarakan—"

Hermione dan Ginny saling berpandangan.

"Ada apa?" sahut keduanya berbarengan.

Harry terdiam sejenak, sebelum pelan ia melanjutkan.

"Aku takut dengan keadaan janin—"

"Bukankah aku selalu memeriksakan perkembangannya dengan teratur? Bukankah kemarin baru saja pemeriksaan minggu ke-16, dan menurut bidannya baik-baik saja?" Ginny protes.

Harry menggeleng, "Bukan keadaan kesehatan. Aku percaya bahwa keadaan kesehatan fisiknya akan baik-baik saja. Tapi—"

Harry menghela napas. "Kau tahu, dari memori yang aku lihat di Pensieve, tentang—tentang keadaan emosi kedua orangtua Profesor Snape—kuamati, aku percaya, buruk. Aku khawatir—hal ini menurun pada anaknya—

Hermione menghela napas. "Kau takut bahwa anakmu—maksudku, anak mereka—akan punya sifat-sifat buruk yang merupakan keturunan?"

Harry mengangguk. Duduknya mendekat pada Ginny, dan tangannya menggenggam tangan Ginny. Erat, dirasakan oleh Ginny. Seakan ketakutan, jika dilepaskan, Ginny akan pergi.

"Beberapa hari ini aku memikirkannya terus. Aku merasa—aku sangat gegabah, begitu saja ingin memiliki anak, ingin keturunan dari Severus dan Mum. Aku sama sekali tidak memikirkan akan seperti apa anak itu, akan seperti apa sifat-sifatnya—"

Hermione duduk tegak-tegak. "Sebenarnya, aku tidak begitu percaya akan adanya sifat turunan. Aku lebih percaya pada pengaruh lingkungan. Mengapa kebanyakan anak punya sifat yang sama dengan salah satu atau kedua orangtuanya, karena biasanya anak tinggal bersama orangtua. Jelas, ia akan terbiasa dengan sifat-sifat kedua orangtuanya.

Jadi, bukan karena ayahnya pemarah maka anaknya juga pemarah. Tapi karena si anak terbiasa melihat ayahnya bereaksi marah pada suatu hal, maka ia juga akan bereaksi marah seperti ayahnya—"

Harry menyisir rambutnya dengan jari-jari kedua tangannya. "Lalu, bagaimana dengan aku? Aku tumbuh di keluarga Dursley, kau tahu sendiri seperti apa mereka. Seharusnya—seharusnya aku tumbuh menjadi pemarah, mudah berkelahi—"

"Aku tahu," sahut Hermione, "itu juga menjadi pemikiranku selama ini. Tetapi, kemarin aku mendapat semacam teori bagus. Rasanya ini menjadi pembenaran atas sifat-sifatmu, Harry!"

"Pembenaran bagaimana?" Ginny penasaran.

"Aku bahkan pernah membaca—ini aku tak tahu persis atau tidak, pokoknya seperti ini: Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi; Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah—" Harry menyanggah.

"Aku bisa menyambungnya—" Hermione mulai mengutip.

"Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah

Tapi

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
," 1)

"Hermione!" Harry terpana.

"Kau bahkan hapal kalimat demi kalimat?" Ginny lebih terpesona lagi.

Hermione nyengir. "Kalau kau sudah mulai mengutip, pastikan aku belum pernah membacanya. Kalau tidak, maka aku akan mengutip lebih fasih lagi—"

Dan mereka tertawa berderai-derai.

"OK, begini. Kita kembali ke teori tadi. Seorang bayi tumbuh dengan apa yang ada di sekitarnya. Ia menyerap apa yang ada di sekitarnya. Kalau ia dibesarkan dengan kasih sayang, maka ia tumbuh penuh kasih. Kalau ia tumbuh dengan lingkungan penuh kemarahan, maka ia juga akan tumbuh dengan kemarahan—"

"Tapi—"

"Ya, aku tahu, kau pasti akan protes berdasarkan kehidupanmu di Privet Drive. Kemarin aku mendapat teori yang lebih bagus lagi, yang juga mendukung kenapa kau bisa tumbuh seperti sekarang ini, dengan lingkungan seperti itu—"

Hermione menarik napas panjang. Mengeluarkan tongkatnya.

"Kalian tetap duduk di situ, ya!" sahutnya. Harry dan Ginny menurut dengan penasaran. Hermione berdiri, dan mengambil tempat di sisi keduanya. Ia menjentikkan tongkatnya, dan keluarlah sesuatu, semacam kain hitam gelap, berbingkai, menutupi pandangan Harry dan Ginny ke depan.

"Kalian tidak bisa melihat ada apa di baliknya, bukan?"

Harry dan Ginny menggeleng bersamaan.

"Sekarang, katakan seperti apa perasaan kalian kalau kalian mendengar suara-suara dari balik layar ini. Jangan bergerak, jangan berdiri, jangan melakukan apapun, hanya katakan saja padaku, apa perasaanmu—"

Hermione menjentikkan tongkatnya.

Dan dari balik layar hitam itu terdengar suara-suara anak-anak kecil, sepertinya sedang bermain dengan gembira. Kadang salah seorang menjerit kegirangan, lalu tertawa-tawa.

Tak terasa, Ginny ikut tersenyum mendengar suara-suara tadi. Ia juga ikut kaget saat salah seorang dari suara tadi menjerit kaget, tapi kemudian tersenyum lagi saat suara anak itu justru tertawa kegirangan.

"Well?" Hermione tersenyum-senyum melihat reaksi Ginny. Raut wajah Harry tadi nampak tegang, kini menjadi rileks dan santai.

"Rasanya aku ikut gembira mendengar suara-suara mereka, sepertinya ingin ikut bermain bersama—" sahut Ginny.

"Oke," Hermione menjentikkan tongkatnya lagi, dan seketika suara-suara tadi menghilang, digantikan oleh suara-suara mengerikan.

Sepertinya ada seorang laki-laki dewasa dan seorang perempuan dewasa kalau mendengar suaranya. Keduanya sedang bertengkar dengan seru. Selain suaranya memang keras, kata-kata kotor diteriakkan, dan karang-kadang sepertinya ada benda yang dihancurkan. Ada kaca pecah, ada benda keras dilemparkan, dan masih banyak lagi.

Wajah Ginny berubah sama sekali. Raut wajah Harry kembali tegang sama seperti saat awal.

Dan ternyata suara-suara bertengkar yang menakutkan tadi, masih belum selesai. Kini ada seorang anak kecil di antara mereka, menangis ketakutan. Bukannya pertengkaran tadi berhenti, kedua orang dewasa tadi malah balik memarahi si anak kecil. Tangisnya semakin menjadi-jadi—

"Sudah, Hermione! Sudah! Kasihan benar—"

Hermione menjentikkan tongkatnya. Semua suara menghilang. Ia mengayunkan tongkatnya lagi, dan layar hitam pun menghilang.

"Coba kalian bayangkan, kalian adalah janin di dalam perut," sahut Hermione bersungguh-sungguh. "Menurut penelitian Muggle, indra pendengaran janin dibuat lebih dahulu daripada indra penglihatan. Jadi, janin dalam perut sudah mendengar apa yang terjadi di luar perut ibunya—"

Mereka terdiam.

Harry kemudian mengangguk pelan, "Aku mengerti sekarang. Kenapa aku bisa hidup dalam lingkungan seperti di Privet Drive, tapi tak terpengaruh kehidupan mereka? Karena Mum dan Dad menciptakan lingkungan penuh kasih sayang untukku saat aku masih di dalam perut Mum. Aku lahir di lingkungan penuh kasih sayang. Itu jadi dasar untukku dalam kehidupan selanjutnya, walau aku hidup bersama Bibi Petunia dengan kehidupan yang semacam itu—"

Hermione tersenyum.

"Sementara itu, dengan melihat seperti apa keadaan rumah tangga orangtuanya dalam Pensieve, aku berasumsi, Severus sudah mengalami lingkungan yang tak mengenakkan, sejak ia masih berupa janin, sejak ia masih belum tahu apa-apa. Begitu lahir, suasananya tak berubah. Itu yang membentuknya seperti yang kita kenal—" 2)

"Harry, kalau pemikiranmu seperti itu dulu saat kita masih sekolah, mungkin nilai-nilaimu O semua—"

Harry nyengir. "Terpaksa sih. Kalau mau jadi ayah, terpaksa harus lebih pintar sedikit—"

Mereka tertawa berderai-derai.

"Aku percaya, kita semua bisa menciptakan lingkungan terbaik untuk generasi yang akan datang—" pandangan Hermione menerawang. "Bagi Muggle, malahan masa janin masih dalam perut ini, janin sudah dijejali macam-macam, diperdengarkan musik Mozart, dibacakan dongeng, ada yang membacakan ayat-ayat dari kitab suci mereka—"

"Mereka berusaha menciptakan lingkungan sedari anak masih janin?" Ginny setengah percaya.

"Tapi, itulah yang terjadi. Trend Muggle masa kini, orangtua berlomba-lomba 'menciptakan' lingkungan terbaik untuk anak sedari masih di perut—"

Harry menyahut pelan, "Kukira tak ada salahnya kita tiru." Ia bedeham, "Aku percaya kau membaca hal-hal semacam ini, karena kau mempersiapkannya untuk bayimu ya, Hermione?"

Hermione tersenyum, "Jelas dong. Aku bahkan ikut seminar ibu hamil di kalangan Muggle—"

"Hermione?"

Tertawa kecil, "Mum kan dokter gigi, ia punya banyak teman dokter lain, dan ia punya akses untuk mengetahui ada seminar apa saja di bidang kesehatan. Ia bahkan sudah mendaftarkanku untuk ikut senam hamil—"

"Senam hamil?" Ginny terlihat tertarik.

"Iya, katanya sejak kehamilanku berusia 7 bulan, aku harus ikut senam hamil, supaya lancar nanti melahirkan—"

"Aku tak tahu hal seperti itu. Boleh aku ikut melihat-lihat nanti kalau kau senam?"

"Tentu! Jangan khawatir, pesertanya ibu-ibu hamil semua—"

Dan obrolan pun kembali ke obrolan antara ibu hamil dengan ibu hamil. Harry hanya bisa mengikuti sebagian. Tapi ia tahu, apapun yang sedang Ginny dan Hermione bicarakan, adalah upaya untuk melahirkan generasi berikut yang sehat.

Tidak seharusnya ia khawatir.

-o0o-

Tangis keras memecah dinginnya hari di dasarian pertama bulan Januari.

"Laki-laki, Mr Potter!" sahut bidan yang membantu persalinan. "Laki-laki yang kedua, Sir!"

Harry tersenyum.

Mendekatkan kepala ke kepala kecil itu. Dan berbisik di telinganya.

"Kau kuberi nama, Albus Severus Potter—"

TBC

1) Terjemahan bebas dari 'puisi' Dorothy Law Nolte Ph.D (1972)

w w w [.] empowermentresources [.] com [/] info2 [/] childrenlearn-long_version [.] html

2) Merupakan sebagian pelatihan dalam ESQ Parenting