HARI YANG SAMA
Harry Potter kepunyaan JK Rowling
Rate T, family/friendship. Severitus dalam bentuk yang berbeda.
-o0o-
Bagian Keempat
Pagi yang tidak begitu cerah di awal Januari itu. Salju turun lambat-lambat dan sedikit-sedikit, tidak membuat bumi memutih. Cuaca dingin seperti biasanya awal Januari. Walau angin tidak begitu menusuk.
Tapi cuaca dingin tidak membantu mendinginkan tubuh seorang bocah. Berlari di halaman kastil Hogwarts yang masih sepi, dihujani satu-satu butiran salju, tidak membuatnya kedinginan. Malah sebaliknya. Keringat menetes, napas terengah-engah. Pandangannya liar memantau ke sana ke mari, acak. Seperti ada yang harus dihindari.
Malangnya, karena ia sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri, ia sudah berlari terlalu dekat pada Dedalu Perkasa. Kepalanya menyenggol sebuah dahan yang menjurai terlalu ke bawah. Ditanggapi sebagai serangan mengganggu oleh Sang Pohon, dahan tadi mengirim serangan balik—
CTAAAR!
Tak siap, anak itu terhuyung, tapi tak sampai jatuh, karena sebuah dahan lagi mengirim serangan susulan dari belakang—
CTAAR!
Sempoyongan, kali ini ia tersandung tonjolan akar dan terjatuh terguling-guling. Wajahnya menampilkan berbagai ekspresi, kaget karena tak menyangka akan mendapat serangan—dari sebuah pohon pula—kaget karena serangannya cepat bertubi-tubi, meringis sakit karena memar di berbagai tempat—
Berguling-guling, tubuhnya tiba-tiba terhenti karena sebuah tonjolan akar yang lain lagi.
KREEK
Sesuatu yang patah.
Bocah itu susah payah berusaha bangkit, paling tidak duduk. Pemeriksaan kilat sepintas, nampaknya bagian tubuhnya tak ada yang patah. Mungkin ada memar-memar di mana-mana. Berarti bunyi tadi bukan dari tubuhnya? Berarti dari—apakah ada bagian tubuhnya yang patah?
Tidak.
Bukan dari tubuhnya.
Anehnya—bersamaan dengan bunyi seperti sesuatu patah tadi—amukan Dedalu Perkasa berhenti seketika. Seperti ada yang memencet tombol 'STOP'.
Ataukah ... bunyi tadi itu bunyi sesuatu, terpencet, dan menghentikan amukan Dedalu Perkasa?
Bocah tadi berdiri dan mengibas-ngibas bajunya. Melihat sekeliling. Bersiaga, jangan-jangan Dedalu Perkasa tidak terdiam dalam waktu yang lama, hanya mengamati, dan suatu saat akan mengejutkannya lagi?
Tiba-tiba mata bocah itu terpaku pada sesuatu. Ada—ada sesuatu seperti mulut terowongan di dekat pokok batang Dedalu Perkasa?
Rasa penasaran yang besar mengalahkan rasa takutnya. Bocah itu perlahan memasuki terowongan.
Gelap. Remang. Temaram.
Kadang malah bagian atasnya tidak rata, lebih pendek, jadi kepalanya terantuk. Masih terengah-engah sisa tadi—kini ditambah dengan rasa tegang—ia menelusuri terowongan. Setelah beberapa kali terantuk dan tersandung, ia baru ingat, kenapa tidak ia keluarkan saja tongkatnya dan ucapkan 'Lumos'?
Tapi belum sempat ia keluarkan tongkat, ceruk terowongan yang sedang ia tempuh mendadak membesar—dan lebih terang.
Perlahan ia masuk.
Remang-remang—tapi lebih terang dari terowongan tadi. Lembab. Sarang laba-laba di mana-mana. Sepertinya tempat ini sudah lama tak dilewati orang. Kalau begitu—kemungkinan para pengejarnya juga tak kan tahu tempat ini. Jadi ia aman di sini.
Mendekati sesuatu yang tampaknya seperti rongsokan tempat tidur, ditepuk-tepuknya agar debunya terbang, dan ia duduk. Memeriksa kakinya yang tadi seperti terkilir. Dan menggerutu pelan-pelan.
"Awas kau James! Awas kau, dan teman-temanmu anak-anak Gryffindor itu! Kalian beraninya cuma segerombolan, tak berani satu lawan satu! Pheh! Empat Gryffindor harusnya lawan empat Slytherin, baru imbang! Kalau—"
"SIAPA YANG MAIN KEROYOK? ANAK GRYFFINDOR MANA YANG MAIN KEROYOK? MANA YANG NAMANYA JAMES?"
Bocah itu terlompat saking kagetnya. "S-si-siapa—" matanya liar celingukan. Mencari asal suara. Untuk sekian detik, rasa takutnya menang lawan rasa penasaran. Akan tetapi seiring berjalannya jarum detik, logika menguasai.
Ini masih kompleks Sekolah Sihir Hogwarts, kalau tak ada apa-apa disekelilingmu, dan kau mendengar sesuatu, pasti ada benda sihir di dekatmu—atau mungkin ada orang bersembunyi di balik Jubah Gaib—tapi ia mengabaikan hal terakhir itu.
Jadi, ia sekali lagi melayangkan pandangan, memindai sekitar—
—ada sesuatu seperti pigura. Teronggok di sebuah meja. Nampaknya sudah patah sudutnya. Entah itu dulunya lukisan, atau cermin. Mungkin cermin, dan meja itu meja rias. Tapi cermin itu sudah sangat buram.
Pada pigura itu ada sebuah sosok bergerak-gerak. Tak jelas. Memang buram.
Tapi dibanding benda-benda lain yang diam tak bergerak, kaku, dingin membeku, pigura itulah yang layak dijadikan tersangka—
—dan benar saja—
"JAWAB! PENGECUT YANG BERNAMA JAMES ITU ANAK GRYFFINDOR DAN MENGEROYOKMU?"
"Eh—"
Suara sosok dalam pigura itu melunak melihat bocah di hadapannya mengkerut.
"—Jadi, siapa yang mengeroyokmu?"
"Eh, mereka hanya main-main saja kok—"
"Tapi, kau sampai ketakutan begini?"
Bocah itu menelan ludah. "Bu-bukan begitu. Ha-hari ini saya berulang tahun, d-dan ka-kakak saya ber-bersama teman-temannya menyirami saya dengan tepung, telur, dan macam-macam lagi—"
"Tapi, tadi kau bilang James—"
"Kakak saya, James. Dia anak Gryffindor—"
"Dan kau anak Slytherin?"
Perlahan bocah itu mengangguk.
"Kau bilang kau berulang-tahun? Tanggal berapa sekarang?"
"9 Januari—"
Sosok itu tercenung. "Tahun?"
Bocah itu terpana sejenak, tapi kemudian dia menyadari bahwa sosok dalam pigura itu mungkin sudah terperangkap lama dan tak tahu penanggalan. "2020," sahutnya pelan.
Sosok itu kembali tercenung. Tak mengatakan apa-apa, bahkan bergeming sedikitpun. Si bocah mengira sosok itu kembali membeku, tapi ternyata tidak.
Pelan sosok itu mengucap lirih. "Hari yang sama," sahutnya. Pelan, berbisik. Sosok dalam pigura itu mengangkat wajahnya dan bertanya lagi "Siapa namamu, nak?"
"Albus—"
Kedua alis kepunyaan sosok itu bertaut.
"—Severus Potter—"
Ada beberapa detik sosok dalam pigura itu membeku, sebelum akhirnya mendesis. "Albus Severus Potter? Kau anak Potter? Potter memberi nama anaknya dengan namaku? Aku tak percaya!" matanya tak lepas menatap bocah itu, "—dan kau bukan Gryffindor? Kau Slytherin?"
Anak itu mengangguk, "Yes, Sir."
Tapi matanya tiba-tiba membesar. Seolah ia mendengar sesuatu. "Nama Anda? Saya tahu siapa Anda!" bisiknya. "Nama Anda—Dad menggunakan nama Anda untuk menamai saya! Dan ini tentulah Shrieking Shack!" lirih tapi jelas-jelas penuh kemenangan. "Jadi Anda Severus Snape?" tanyanya antusias.
Beberapa detik lagi sebelum sosok dalam pigura itu mengangguk pelan. "Ya. Aku Severus Snape." Setelah itu ia menambahkan lagi dengan suara yang lebih pelan, "Benar-benar sama. Hari yang sama. Bagaimana bisa?"
Sebelum sempat Al mengatakan sesuatu, Severus sudah mendahului bertanya, "Dan bagaimana reaksi ayahmu saat kau di-Sort masuk Slytherin? Murka?"
Anak itu menggeleng, "Tidak, Sir. Justru, sebelum berangkat, saya yang khawatir. Kakak saya—James, terus mengganggu saya bahwa saya akan masuk Slytherin. Saya bertanya pada Dad, bagaimana kalau saya sampai masuk Slytherin—"
"Dan jawabannya?"
"Dad bilang, bahwa nama saya terdiri dari dua nama Kepala Sekolah Hogwarts, dan salah satunya—Severus Snape—berasal dari Sytherin. Dan beliau adalah orang yang paling berani yang pernah Dad kenal—"
Kembali sosok Severus membeku dalam pigura compang-camping itu.
"Sir—" Al mencoba menyapa.
Tapi Severus seperti tak mendengar, dan justru menggumamkan, "Tak pernah kuduga. Tak pernah kuduga—" dan ia menatap Al lagi, lekat-lekat, "—dan saudaramu? Gryffindor?"
"Yes, Sir. James kelas empat, dan Lily kelas satu, keduanya di Gryffindor—"
"Dan kau sendiri—kelas tiga?"
Al mengangguk, "Yes, Sir."
Kembali sosok itu terdiam. Beberapa saat. Sebelum akhirnya ia menyahut pelan, "Katakan pada ayahmu, aku ingin menemuinya."
Dan sosok itu menghilang.
-o0o-
Kantin Kementrian memang benar-benar penuh jika saat makan siang, entah bagaimana Harry bisa menemukan Hermione sedang bercakap-cakap sambil menyuapkan makan siangnya bersama rekan-rekan sejawat.
"Aku pinjam Mrs Weasley sejenak!" sahutnya, menarik Hermione dari hadapan rekan-rekannya, membawanya ke tempat yang agak lebih sunyi.
"Harry—"
"Muffliato!" jentiknya, lalu tanpa sepatah katapun ia mengeluarkan segulung perkamen dari saku jubahnya. "Dari Al," sahutnya pendek.
Tak bertanya lagi, Hermione membuka gulungan itu dan membacanya cepat.
"Temui saja, secepatnya," sahut Hermione menggulung perkamen itu dan menyerahkannya kembali pada Harry.
"Memang itu yang kupikirkan. Jadi barusan aku menghadap atasan minta cuti, sekarang aku akan langsung Apparate ke Hogsmeade. Kupikir—ini akan makan waktu beberapa lama—"
Mengangguk, Hermione mafhum akan maksud Harry. Menepuk bahu, dan berkata, "Sukses ya, Harry!"
Harry mengangguk. Menjentikkan kedua jarinya lagi mengakhiri Muffliato-nya, ia memasukkan gulungan perkamen itu kembali ke jubahnya. "Aku pergi ya!" dan ia menghilang bagai ditelan udara.
-o0o-
Dalam jabatannya sebagai Auror, Harry beberapa kali harus ke Hogwarts untuk beberapa kasus. Tapi kali ini lain. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat pribadi.
Pertama kali ia memutuskan untuk menemui Profesor McGonagall dulu. Sama seperti pada Hermione, ia memberitahu Profesor McGonagall tentang surat Al.
"Ia benar-benar muncul?" mata Profesor McGonagall berbinar. Berbalik, ia menatap dua pigura di belakangnya, satu lukisan Dumbledore yang sedang tertidur, dan satu lagi pigura kosong hitam kelam.
Harry mengangguk. "Dan ia muncul justru di hadapan Al, kemarin sewaktu James dan teman-temannya sedang mengejar-ngejarnya akan memberi selamat ulang tahun—dengan cara mereka tentunya—"
Profesor McGonagall tersenyum. "Anak-anak itu, mereka selalu punya cara untuk menyebarkan kasih sayang—"
Harry terkekeh. "Karenanya, saya bisa minta izin untuk ke Shrieking Shack?"
Profesor McGonagall mengangguk. "Tentu saja. Silakan, sesuka hatimu! Mudah-mudahan saja—" pandangannya mengarah lagi pada pigura tak berisi.
Harry mengangguk juga. "Saya permisi kalau begitu—"
Profesor McGonagall mengantarnya hingga ke pintu.
-o0o-
Harry menata langkahnya satu demi satu. Entah berapa lama ia tak ke sini? Lingkungan di sini nyaris tak berubah. Dedalu Perkasa masih mengayun liar begitu didekati.
Menjentikkan kedua ujung jari tanpa berkata sepatahpun, ayunan Dedalu Perkasa berhenti. Dengan sekali lompatan, Harry masuk ke dalam terowongan. Berjalan hati-hati, terkadang merunduk. Dan sampailah ia pada ruangan itu.
Jantungnya berdetak tak karuan.
Akankah beliau mau menemuinya? Tetapi, bukankah menurut surat Al, beliau justru menyuruhnya kemari?
Perlahan ia masuk ke dalam ruangan.
Masih seperti dulu, hanya debu bertambah tebal. Ruangan sepi, senyap. Lembab.
Benarkah beliau akan menemuinya?
Matanya menangkap pigura bobrok di sudut meja. Kosong.
Harry berdeham. "Saya sudah di sini, Sir."
Tak ada reaksi. Untuk beberapa detik. Ketika Harry bimbang memutskan untuk menunggu atau keluar lagi, pigura itu berubah warna.
Memang ada sosok di sana, tapi buram.
"Sir," sahut Harry hati-hati.
"Potter."
"Al mengatakan—"
"Ya, benar. Aku menyuruhnya agar memanggilmu—"
"Saya sudah di sini, Sir—"
Terdiam beberapa lama. Harry memutuskan untuk menanti.
"Apa alasanmu menamainya dengan namaku?"
"Anda keberatan, Sir?"
Severus mendengus. "Aku tak tahu ada orangtua yang cukup bodoh memberi nama anaknya dengan namaku—"
Harry menarik napas dalam-dalam. "Sir, jika Anda berkenan—maukah Anda mendengar sebuah kisah? Jika Anda mau mendengar—"
Sepertinya ada raut heran dalam wajah Severus, tapi ia tak berkata apa-apa. Harry menyimpulkan, itu tanda agar ia meneruskan perkataannya.
"Pada mulanya—ini ide yang gila memang. Kebetulan saya mendengar bahwa Hermione sedang mengadakan penelitian tentang DNA. Di lain pihak, saya mendapat kotak warisan dari Anda. Berdasarkan permintaan saya, Hermione menemukan DNA Anda dan DNA Mum dalam barang-barang dalam kotak itu—"
Dan mengalirlah kalimat-demi-kalimat.
"—dan pada 9 Januari 2006, lahirlah dia, Albus Severus—" Harry berhenti, "—saya menamainya Potter, tapi jika Anda berkeberatan—"
Shrieking Shack tak pernah begini senyap.
.
.
.
.
"—jadi ia anakku?"
"—ya—"
Sunyi belum pernah menyiksa Harry seperti ini. Apalagi kemudian citra buram itu menghilang.
Dengan was-was Harry menunggu, setengah jam, satu jam. Tak ada perubahan. Pigura itu tetap kosong.
Lemas Harry menyusuri terowongan, kembali ke atas tanah. Mengembalikan Dedalu Perkasa ke dalam posisi semula, mengayun kian kemari.
Ia tidak kembali ke kantor Kepala Sekolah. Terus keluar dari kompleks Hogwarts. Tetapi sesuatu menariknya untuk tetap berada di lingkungan ini, sehingga ia memutuskan untuk menginap di Hogsmeade.
Ia mengirimkan pesan singkat dengan Patronus pada Profesor McGonagall, bahwa ia ada di Hogsmeade, tanpa mengatakan apa-apa tentang pertemuannya dengan Profesor Snape tadi. Dengan burung hantu kantor pos, ia juga memberitahu Al bahwa ia ada di Hogsmeade.
Malam itu ia nyaris tak bisa tidur.
-o0o-
Hari masih pagi, Harry bahkan baru saja terbangun dengan kepala pusing tak tentu, ketika seekor burung hantu sekolah tiba di jendela kamarnya. Dari Profesor McGonagall.
Harry,
Pigura itu sudah berisi. Tapi ia hanya mau berbicara pada lukisan Dumbledore, dan dirimu. Datanglah segera.
Minerva McGonagall
Berganti pakaian secepat ia bisa, tanpa sarapan, Harry berlari secepatnya ke Kastil. Merutuk para leluhur yang menghalangi pemakaian Apparate di lingkungan Kastil, Harry sampai juga dengan terengah-engah di kantor Kepala Sekolah.
Profesor McGonagall sudah menunggu.
"Ia hanya mau berbicara denganmu. Masuklah. Semua Kepala Sekolah setuju untuk meninggalkanmu berdua—"
Mengatur napas, Harry masuk dan menutup pintu.
Dari semua pigura Kepala Sekolah, hanya piguranya yang berisi. Semua kosong.
Severus Snape sedang duduk sambil membaca sebuah buku.
"Sir," Harry menyapa.
Severus mengangkat muka.
"Jadi, ini caramu agar aku mau tampil dalam parade Kepala Sekolah?"
"Bu-bukan Sir, tidak demikian—" Harry tak tahu bagaimana menyangkalnya. Tapi sepertinya sosok dalam pigura itu menantinya berbicara.
Harry menarik napas panjang. "Baiklah. Pada awalnya, memang niat saya demikian. Saya—saya ingin sekali bertemu dengan Anda. Walau hanya dengan citra dalam lukisan—" Harry tak berani menatap wajah Severus.
"Saya—saya ingin minta maaf. Walau saya tidak tahu, apakah saya akan dimaafkan atau tidak—"
Pelan-pelan Harry mengangkat wajahnya, dan terlihat Severus serius mendengarkan, tanpa mengatakan sepatah katapun.
"—dan saya ingin berterimakasih—karena Anda-lah, dengan memori di Pensieve, dengan surat-surat dalam kotak, saya jadi mengenal Mum. Semua—Sirius, Remus, semua yang mengenal pasangan Mum-Dad hanya menceritakan tentang Dad, tanpa bercerita tentang Mum. Anda-lah satu-satunya yang memberikan gambaran pada saya, seperti apa Mum—" suara Harry tercekat.
"Dan saat Hermione menyinggung tentang penelitian DNA-nya, saya lalu berpikir—saya berpikir, bagaimana jika Anda—jika Anda dan Mum bisa benar-benar—bersatu—" suara Harry semakin lirih.
"Saya memang egois, saya lancang—" suaranya menjadi tegar kini, "—seharusnya saya menanyakan dulu pada Anda, tetapi saya bahkan tidak tahu ke mana saya bisa bertanya—"
Hening.
Lukisan Severus kemudian menutup buku yang sedang dipegangnya, meletakannya di meja pendek di samping.
"Ada berapa orang yang tahu tentang hal ini?"
Pendek dan tegas.
"Hanya saya, Hermione, dan Ginny selaku ibu yang mengandungnya—"
"Albus—Dia sendiri juga, tidak tahu?"
Harry menggeleng.
Terdiam lagi. Perlahan Harry menatapnya, tak sengaja terpandang kedua mata hitam itu.
Tampilan yang aneh. Tak ada tatapan kejam kali ini.
Teduh, seperti pada umumnya ayah-ayah ketika sedang menceritakan kisah tentang anak mereka.
"Aku akan minta pada Minerva agar meletakkan lukisanku di asrama Slytherin, di Common Room. Agar aku bisa mengawasinya." Suaranya pelan, tak seperti biasanya. "Dan kalau bisa, carilah fotoku di kotak kayu itu, berikan pada dia—pada Al—agar aku bisa bercakap-cakap dengannya—"
Harry menahan napas. Beliau—tidak marah?
"Kukira, kita harus menceritakan kebenaran padanya. Nanti, di suatu hari. Aku tak tahu, apakah aku atau kau yang akan menceritakan padanya. Kita lihat saja nanti."
Kalau saja dulu Guru Ramuannya seperti ini, Harry yakin ia akan sangat menyukai pelajaran Ramuan.
"Dan ceritakan padaku, mengapa ia harus lahir pada hari yang sama?"
Harry bingung. "Ha-hari yang sama, Sir? Sama dengan apa?"
Seebentuk senyum tipis membayang, "9 Januari. Sama dengan kelahiranku—"
Butuh waktu beberapa detik agar Harry bisa mencerna kalimat Severus. "Ha—hari kelahiran Anda, Sir? Sa-saya tidak tahu—" dan tiba-tiba saja ia sadar. "Selamat ulang tahun Sir, walau sudah terlambat—"
Severus menyeringai, "Biasanya juga tak ada yang tahu. Kecuali Albus dan Minerva. Kini kau."
Harry turut menyeringai. "Tapi sudah terlambat, Sir—"
Severus menggeleng. "Kelahiran dan kematian sudah tak berarti lagi bagiku, Harry. Ucapkan saja pada anakmu—maksudku adikmu—"
"Y-Yes, Sir—"
Harry memang kadang-kadang suka menjadi lelet, butuh beberapa detik tambahan untuknya menyadari bahwa mantan guru Ramuannya ini memanggilnya dengan nama kecil—
"—dan kalau aku sudah memanggilmu dengan Harry, bagaimana kalau kau juga memanggilku dengan Severus?"
Menggaruk kepala tak gatal, Harry tertawa. "Oke, S-Severus. La-lalu, apakah Anda—maksudku apakah kau, mau berjanji padaku satu hal?"
Severus mengerutkan kening. "Berjanji tentang apa?"
Wajah Harry bersungguh-sungguh. "Berjanjilah, walau kau bisa bercakap-cakap dengan Al melalui foto, tapi jangan mengajarinya kapan harus memasukkan apa ke dalam kuali pada pelajaran Ramuan?"
Harry bersedia menukarkan apa saja yang dipunyainya, dengan wajah mantan guru Ramuan yang sedang terkekeh ini.
FIN
