Disclaimer : Masashi Kishimoto
A Girl in Solitude
Chapter Three
OSR said "Many thanks for all of readers who read my work kuppoo w,, because of you, I can continue this story until… I don't know how this story end kupopoo?"
"Aku menyalakan semua lilin di malam hari, hanya untuk merasakan kehadiranmu, matahariku, sosok yang selalu menghilang di saat petang tiba".
Hyuuga's Residence in the Evening
Matahari yang kemerahan, seolah – olah meredup ketika gumpalan awan Cumulus menyerbu ke arah barat.
Di antara kelelahan yang amat sangat, Sakura, Hinata dan Akamaru melangkah sayu ditengah jalan lurus yang mendaki.
"Hampir sampai… sedikit lagi…" kata Hinata, sambil membasuh keringat didahinya dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan putih polyester berenda organdi,
Bando pitanya mengayun – ayun seiring dengan langkah kakinya yang melemah.
Rok maid lolitanya warna putih polos yang bersanding dengan warna hitam pekat, kini penuh dengan debu, tanah dan cipratan darah,
Cipratan darah milik Kiba…
Sakura mengikuti Hinata dibelakangnya, sambil menuntun Akamaru.
"kyuuung~" keluh Akamaru yang kelelahan.
"Bersabarlah… Akamaru…" kata Sakura lirih, dia juga begitu kelelahan, tampak dari wajahnya yang memucat.
Gaun sakura yang Baby Pink juga berlumuran dengan darah,
Pita saten baby pink yang dibalut disekeliling gaunnya, terberai tak beraturan.
Ujung gaunnya terseret seret di tanah.
Di antara keheningan dan perjalanan yang lumayan memakan waktu 6 jam dengan berjalan kaki, akhirnya membuahkan hasil
"Su… sudah sampai ! mari tuan…" Kata Hinata yang mendadak tubuhnya yang layu kembali bersemangat.
Mata Sakura yang tertunduk, berubah menjadi terkagum – kagum,
Bibirnya yang mungil sedikit terperangah.
"Hinata? Aku tidak tau kalau ternyata… kamu memiliki rumah sebesar ini!" kata Sakura takjub,
"Ini bukan rumahku tuan… ini rumah kakakku…" Kata hinata dengan lembut, sambil membuka pintu gerbang yang terbuat dari kayu jati yang amat tebal, dengan dihiasi lempengan emas di gagang pintu itu
"Kriiit… ~" pintu gerbang itu berderit.
"Kamu memiliki seorang kakak?" kata sakura terkejut, yang masih tetap terpaku di depan pintu gerbang.
"Kakakku seorang laki – laki, dia sedikit dingin pada semua orang, namun… sebenarnya dia sangatlah lembut" kata hinata sambil melemparkan senyuman manisnya pada sakura,
"Dia pasti kakak yang baik… sama seperti kakak – kakakku…" kata Sakura lemah, dia teringat pada mereka yang tengah berjuang memperebutkan kerajaan,
Mereka berdua mendadak terdiam, tampak kesedihan membalut ekspresi wajah mereka.
Sambil tertunduk lesu, Hinata berjalan pelan menyusuri halaman rumah yang begitu luas menuju sebuah bangunan yang paling besar
Sakura menyentuh ukiran di setiap dinding sambil berjalan disisi Hinata, diikuti Akamaru dibelakangnya.
Langkah kaki Hinata ia percepat saat hembusan angin tampak tak ramah
Sayup – sayup terdengar suara burung biru di antara pepohonan rindang
Diikuti Langit senja yang memilukan
"Langitnya sedikit kelabu tuan… sepertinya akan ada badai… mari masuk…" kata Hinata singkat,
"Iya… aku mengikutimu, Hinata" kata Sakura sembari memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil karena hembusan angin yang begitu dingin
Bibir Sakura sedikit bergemetar, saat melihat pandangan sinis dari seseorang di dalam rumah.
Paras wajah yang tampan serasi dengan rambut panjangnya yang terurai, serta tatapannya yang kosong dan dingin
Tampak di dahinya sebuah symbol yang misterius,
Tangannya menggenggam kuas, ujung kuas itu berlumuran dengan tinta hitam yang kental, sepertinya dia sedang menulis sesuatu? Apakah itu puisi?
"Selamat datang tuan putri Namikaze Haruno Sakura, Kami sudah menyiapkan ruangan khusus untuk anda" kata – kata lelaki itu membuyarkan keheningan
"Mari tuan… biar saya antarkan…" kata Hinata lembut
"Ba…ik… terima kasih…" kata Sakura pelan, Sesaat Sakura menatap ke arah lelaki itu,
Nampaknya lelaki itu kakak Hinata, bentuk mata mereka tampak mirip.
Lelaki itu tak menggubris kata – kata sakura, dia hanya melanjutkan menulis,
Dahinya mengerut, dan ekspresi seriusnya muncul
Sakura hanya tersenyum melihatnya
"Tuan…?" kata Hinata, sambil memperhatikan Sakura yang terbengong – bengong melihat ekspresi lelaki itu.
"Eh uh…? Kenapa?" kata Sakura salah tingkah,
"Dia… Neji, kakakku…" Kata Hinata sambil menatap wajah Sakura, dengan sedikit bingung dia hampir saja melihat rona merah di pipi Sakura,
Namun, Sakura dengan terburu – buru masuk kedalam kamarnya.
"Eh… Terima kasih Hinata, biarkan aku beristirahat, selamat malam" kata Sakura singkat, sambil menutup pintu kamarnya.
"Baik… tuan…" kata Hinata yang masih mengolah maksud dari ekspresi wajah Sakura, dan kemudian melangkah pergi kebingungan.
Blue Roses Labyrinht
Tempat ini begitu sejuk…
Dan tampaknya, telapak tangan Sasuke sedikit berkeringat,
Sedikitnya ia merasa ingin menggandeng tangan Naru yang lembut itu…
Dia tak mengerti kenapa dia bisa merasakan hal yang demikian…
Matanya tak berhenti memperhatikan rambut keemasannya Naru yang terurai indah dibalut sinar malam,
Tapi…
"Apa kau lihat - lihat!" suara Naru yang cempreng menggelegar nyaring,
Mendadak penglihatan Sasuke yang indah itu buyar, dan ujung bibir Sasuke mendadak berkedut - kedut,
"Hih" kata Sasuke datar,
Hatake hanya mengela nafas melihat mereka yang kekanak – kanakan.
"Inikah tempat minum the yang kau ceritakan itu
"Baiklah…" kata Hatake menengahi,
Suasana hening, disana hanya ada mereka bertiga, Hatake, Sasuke dan Naru.
Mereka terduduk di meja bundar dan kursi yang mengelilinginya,
Di sekeliling mereka hanya ada diding labirin yang terbuat dari bunga mawar berwarna biru laut
Bunga impian…
"Hatake… apakah yang sebenarnya terjadi padaku?" kata Naru memulai pembicaraan
"Ceritanya panjang tuan… biar kuceritakan singkat saja, karena ini sudah malam, bila tuan ingin bertanya lebih lanjut lagi, biar kita lanjutkan besok pagi"
"Haah… baiklah…" Kata Naru kecewa
*flash back*
Sakura berpegangan erat pada Akamaru, dan berusaha keluar dari istana,
Begitu sulit memikirkan bagaimana ia selamat saja sudah bersyukur…
Dia hanya memeluk punggung Akamaru dengan eratnya
Mereka kearah dapur istana, Hinata bersembunyi dibalik pintu dan Akamaru mengendusnya,
Dia mencium aroma darah…
"Ungg…" Akamaru seolah mengenali aroma tubuh itu, darah milik Kiba.
"Dimana Naru!" kata Sakura yang terkejut melihat rok Hinata yang terpercik darah,
"Tuan… dari balik jendela… orang itu membawa tuan Naru…" kata Hinata bergetar sambil tak kuasa menahan tangis.
"Orochimaru!" kata Sakura setengah membentak
"Saya tidak tahu tuan… maafkan saya…" kata Hinata tertunduk dan terduduk lunglai
"Ah… Hinata, tak apa… tapi… apakah orang itu memakai obi berwarna lavender?" kata Sakura menurunkan intonasinya,
"Tidak… sepertinya bukan…" kata Hinata pelan,
"Uh… lebih baik kita segera pergi dari sini ! cepat naik kepunggung Akamaru" kata Sakura terburu – buru,
"Tuan, sebaiknya kita lewat lorong bawah tanah, disana jalan teraman untuk keluar dari sini" kata Hinata sembari duduk dibelakang Sakura.
Dan mereka akhirnya melarikan diri,
Diperjalanan…
"Hinata… Apa yang sebenarnya terjadi…" kata Sakura sembari menuntun Akamaru yg kelelahan
Hinata berjalan di depan Sakura, dan menghela nafas pelan
"Ceritanya panjang tuan…" kata Hinata sembari menengok kearah Sakura
"Kita punya banyak waktu untuk ini, Kamu bisa ceritakan yang aku ingin tau, Hinata…" kata Sakura dengan wajah khawatir,
Hinata berjalan disebelah Sakura dengan beriringan,
Dan Hinata pun mulai bercerita…
Dia seorang Lord knight berambut hitam pekat yang melindungiku dan tuan Naru dari komplotan Orochimaru,
Ketika itu tuan Naru melihat ada yang janggal dari arah jendela, namun aku tak melihat ada yang aneh dari sana,
Dan benar juga…
Seketika Lord knight berbaju zirah silver itu memecahkan kaca jendela di balcon dan High wizard yang mengikutinya memantrai kami dengan sihir tidur
Aku berhasil menghindarinya, tapi tidak dengan tuan Naru,
Seseorang yang lebih dewasa berambut keperakkan mengucapkan mantra pelindung untukku,
Aku reflek bersembunyi dibalik pintu dan aku teringat dengan tuan putri Naru
Namun ketika aku mengintip disela – sela pintu,
Aku tak melihat seorang pun disana, yang kulihat hanya beberapa komplotan Orochi yang tertidur di karpet merah itu
Mereka berdua telah pergi menghilang entah kemana bersama tuan Naru yang tertidur…
Hingga tuan Kiba datang dengan bersimbah darah memelukku dan menyuruhku untuk kabur dari sini,
tapi aku tak bisa…
Melihat tuan Kiba berlumuran darah saja, membuat tubuhku lemas,
Sesaat aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, dan ketika ku buka mataku…
Tuan Kiba menghilang…
Hingga Tuan Sakura datang bersama Akamaru,
Dan kita berhasil melarikan diri dari istana itu
TO BE CONTINUE…
