Even We are a Twins © minamicchi

Vocaloid © YAMAHA Corp.

Rated T

Warning: AU, OOC, Timeline tidak jelas, dan masih banyak ketidak-jelasan dalam fic ini.

Kagamine Rin


Namaku Kagamine Rin. Kalian bisa memanggilku Rin. Aku anak pertama di keluargaku, dan aku memiliki saudara kembar. Laki-laki, namanya Len. Dia adik yang pintar dan sedikit pendiam, ketika di rumah. Aah, aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran adikku itu. Aku tidak bisa mengerti dirinya, terlebih sekarang ini ia jarang ada di rumah. Di sekolah pun kami jarang bermain. Tidak seperti dulu, di mana ada aku, disitu ada dia juga. Ah ya, kami berumur 17 tahun. Sekarang kami kelas dua SMA. Masa-masa yang menyenangkan, ku akui. Tapi tanpa Len, semua terasa aneh.

Aku kangen.

Aku sangat merindukan saudara kembarku…

Cklek.

"Ah," aku memutar badan dengan cepat. Len masuk tanpa salam. Lihat, tanpa salam! Apa-apaan itu!

"Selamat datang." Ucapku datar sambil berpura-pura menonton TV. Len menghentikan langkahnya menuju tangga dan menatapku, tapi tidak berbicara apa-apa. Ampun, deh…

"Oh, ternyata yang masuk itu kucing garong, ya… pantas tidak bisa bicara 'Aku pulang' atau 'Halo, Rin', atau sebagainya." Aku melongok-longokan kepalaku, berpura-pura melihat ke arah pintu masuk rumah. Len yang sedari tadi terbengong-bengong langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku.

Aku menatapnya sebal, tapi sekaligus merasa kangen dengan suara tawanya yang lepas itu.

Astaga… sudah berapa lama aku tidak mendengar suara tawa itu. Suara tawa kesukaanku.

"Kau tidak mendengarnya, Rin?"

He? Apa?

"Aku tadi sudah mengucapkan salam di luar sana… masa kau tidak dengar?" Len tidak jadi naik ke kamarnya. Ia berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas.

"Kau bohong! Aku tidak dengar apa-apa!" aku sedikit kesal ia mentertawakanku. Aku yakin aku tidak mendengar suara apapun tadi!

Setelah meneguk air dinginnya, ia berjalan ke arahku sambil tersenyum iseng. "Makanya, kecilkan volume TVmu. Lagian, acara apa ini? Take You Out? Hah, bisa-bisanya kau menonton acara aneh seperti ini, Rin."

Matanya.

Matanya meremehkanku! Dasar adik sialan!

"Volume TVnya biasa-biasa aja, kok! Lagian aku cuma kebetulan, menonton… ng… maksudku, bukan berarti aku suka acara ini! Kebetulan saja…"

"Iya, iya, aku tahu. Aku mengerti," Len tersenyum penuh pengertian. Senyum yang sering di tujukan padaku dulu. Senyum seorang adik. Senyum yang aku rindukan.

"Len…"

"Rin berusaha ngeles, kan?" Len bodoh itu melanjutkan kata-katanya. Sial…

"Len jelek!"

"Aku tidak jelek. Buktinya, aku punya fans club di sekolah. Tiap pagi juga banyak surat cinta di lokerku."

Aku bengong menghadapi Len yang super duper kegeeran. Wajahnya itu menyebalkan sekali! Memang benar, sih, Len sangat populer di sekolah. Banyak anak perempuan yang menyukainya, tapi Len tidak pernah pacaran, baik ketika di SMP maupun di SMA.

Tanpa sadar, aku menggembungkan kedua pipiku. Salah satu kebiasaanku kalau sedang marah atau ngambek. Sepertinya Len sadar kalau ia sudah melakukan kesalahan, yaitu dengan mengisengiku.

Tangannya mengelus-elus kepalaku dengan lembut. "Maaf, Rin, aku hanya bercanda." Di ikuti senyum khasnya. Aku hanya bisa menatapnya, mencoba merekam senyumnya itu. Aku punya firasat, aku akan jarang melihat senyumnya yang seperti itu.

"Aku capek sekali, jadi mungkin suaraku tidak kedengaran olehmu. Aku naik dulu, ya. Selamat malam." Setelah mengatakan itu, Len naik ke lantai dua, sedangkan aku masih tertegun di sofa.

Mata Len tadi, benar-benar menyiratkan kalau ia benar-benar lelah. Tapi bukankah, kalau kita lelah secara fisik, kelelahan tersebut tidak akan terpantul di kedua mata? Kecuali kalau lelah hati, secara fisik tidak terlihat, tapi terefleksi jelas di mata. Tapi Len memang terlihat capek dari fisik, dan juga sorot mata.

"Jangan-jangan, Len benar-benar ada masalah? Mungkinkah masalah klub? Kapan sebaiknya aku menanyakannya? Sekarang ia pasti tidak ingin di ganggu." Aku hanya bisa menunduk menatap remote di tangan. Aku merasa tidak berguna jadi seorang kakak.


"Mau ke mana, Rin?" Len muncul dari pintu dapur dengan kostum baru bangun tidur; rambut acak-acakan, mata masih sayu, celana panjang kedodoran, dan bertelanjang dada.

Aku sedikit terpaku melihatnya. Tidak kusangka, Len terlihat seperti 'laki-laki'.

Dia…

"…Rin?"

Aku tersentak. "Y-ya? Ada apa, Len?"

Huaaaaa wajahku panas…! Mikir apa sih aku ini! Tentu saja Len terlihat seperti laki-laki. Len kan sudah tujuh belas tahun! Lagipula… mau mengatakan apa tadi aku? 'Dia menggoda'? Ya Tuhan, aku sudah gila! Mana mungkin aku punya pikiran seperti itu terhadap adikku sendiri!

"Rin,"

Tiba-tiba, Len sudah ada di hadapanku dan sudah mengepungku dengan kedua tangannya yang berada di sisi kanan-kiriku. Aku speechless.

"…"

Len? Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.

"Ada apa, Len?"

Dengan sangat perlahan, Len mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangan kanannya membelai wajahku dan menyingkirkan poni di dahiku. Lututku terasa lemas.

"L-Len… kau, mau… a-ap…"

Semakin dekat, hingga nafasnya bisa kurasakan di sekitar mataku. Wajah Len menunduk dan…

Tuk.

Are?

Kurasakan dahi Len mengenai dahiku dan bertahan lama di sana. Kembali, aku merasa speechless.

"Hm… agak panas? Kau terkena demam? Hei, ini mendekati musim panas, tidak lucu kalau sampai terkena flu musim panas, kan?" Len menjauhkan dahinya dari dahiku dan meninggalkan aku yang masih terdiam. Setelah beberapa detik, barulah aku bereaksi.

"A-Apa-apaan sih, tiba-tiba begitu! Kau mengejutkanku, Kagamine Len!" aku yakin sekarang wajahku semakin memerah, campuran antara merah malu dan merah marah. Len benar-benar kelewatan tingkahnya!

"Habis… tadi aku, kan, bertanya padamu, 'mau kemana?', tapi kau diam saja. Malah bengong. Setelah ku panggil-panggil, masih saja tidak menjawab. Malah bertanya, 'ada apa, Len?'. Dasar." Len menyudahi acara ngedumelnya pagi-pagi ini. Hei, harusnya aku yang ngedumel karna di isengi seperti ini!

Tapi, ucapan Len benar juga. Daritadi aku memang sedang tidak fokus. "Maaf, Len, aku tidak dengar tadi. Kau bertanya apa?"

Setelah menghabiskan jus jeruknya, Len menarik kursi makan, berniat membuat roti panggang.

"Aku Tanya, kau mau kemana hari ini? Pagi-pagi begini sudah rapi." Len mengulangi pertanyaannya tadi. Aku langsung merubah raut wajahku dan menarik kursi di hadapannya.

"Ne, apa kau tahu?"

Len langsung menggeleng. Aku tersenyum kecut.

"Shion-sensei mengajakku ke taman ria hari ini!"

"Apa?"

Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum senang. Aku tidak bohong. Aku benar-benar senang hari ini. Dua hari yang lalu, Shion-sensei mengajakku ke taman ria. Shion-sensei adalah guru baru di sekolahku dan Len. Ia mengajar kimia untuk kelas 2. Aku beruntung sekali, karena banyak gadis di sekolahku yang menyukainya, tapi sepertinya, ia memberikan respon balik hanya untukku. Lucky~

Dan… bukannya kegeeran atau apa, tapi sepertinya hubungan kami makin membaik. Aku harap, bisa jadi lebih daripada sekedar guru dan murid. Kemarin malam, Shion-sensei menyuruhku untuk mulai memanggilnya dengan nama depannya saja, Kaito, kalau di sms. Huaaa aku senang sekali! Dia juga suka memanggilku 'Rin-chan' kalau di sms. Tuhan, mungkinkah aku sudah jatuh cinta pada Shion-sensei?

"Tidak salah, Rin? Dia itu guru, lho… mau semuda apapun dia, tetap saja bertitle guru! Masa kau mau jalan sama guru, sih?"

Aku melirik skeptis ke arah Len. Apa-apaan nada bicara sinis seperti itu?

"Tidak ada hubungannya, tahu. Mau guru atau apapun, Shion-sensei tetaplah Shion-sensei. Dia tetap akan menjadi laki-laki dewasa yang lembut dan menyenangkan." Tanpa sadar, emosiku terpancing. Tanpa sadar, aku membalas nada sinis Len. Dan aku tidak memikirkan konsekuensinya, karna ku pikir, tidak akan ada kejadian buruk terjadi setelah ini.

"'Laki-laki dewasa, ya…" Len mengulang kata-kataku. Aku menatapnya, menantangnya.

"Siapa tahu ia hanya mempermainkan anak kecil sepertimu? Mungkin saja ia hanya menganggapmu sebagai… err, semacam mainan di waktu luang. Kau tidak berpikir ke arah situ ya, Rin?"

Kembali, mata Len yang meremehkanku membakar dada ini. Kenapa Len berbicara seperti itu? Apa Len benci Shion-sensei?

"Len kan, tidak pernah berbicara dengan Shion-sensei. Tahu apa tentangnya?" sudah, cukup. Aku tidak mau beradu mulut dengan Len. Aku mendorong kursi yang aku duduki dengan kakiku, lalau meninggalkan Len yang diam sambil memainkan gelas jusnya. Sebelum meninggalkan dapur, aku membalikkan badan dan berkata pada Len.

"Mungkin Shion-sensei hanya menganggapku sebagai mainannya. Mungkin di mata Shion-sensei, aku memang hanya anak kecil," Len terlihat memutar kepalanya dan menatapku. Sorot matanya aneh, aku tidak bisa menebak apa yang ia pikirkan sekarang. Lalu aku melanjutkan kalimatku lagi.

"Tapi aku menyukainya. Len, kurasa aku telah jatuh cinta pada Shion-sensei. Jadi, jika Shion-sensei memang hanya mempermainkanku, aku tidak keberatan. Sama sekali, karena aku mencintainya."

Len tampak terhenyak mendengar perkataanku. Dia masih tidak mengatakan apa-apa. Sudahlah, aku masih tidak bisa menebak pikirannya.

TBC


Huah, nah lho! Kenapa cuma Lin aja yang jadi fokus! Kayaknya chapter 2 ini nggak asik banget, deh… cuma 2 scene aja kok sampe 1.300 lebih wordcount nya. Padahal tadi niatnya saya mau tampilin juga adegan KaiRin, tapi takut kepanjangan. Sepertinya fict ini memang hanya terfoks pada perasaan Kagamines' aja ya.

Hm, okelah, Review boleh, dong? :*