Even We are a Twins
A fanfiction by minamicchi
Vocaloid©YAMAHA Corp.
Rated T+
Romance/Hurt/Comfort/Drama
Warning: AU, OOC, dan masih banyak ketidak-jelasan lain dalam fic ini. Based on "Spice" fanmade PV.
AN: chapter ini sedikit lebih panjang ;) semoga kalian menikmati nya. Maaf kalau semakin jelek dan merasa bosan. Terima kasih sebesar-besarnya kepada readers yang sudah mereview, membaca, bahkan mem-fave fic ini. Review dan semangat kalian benar-benar menghidupkan(?) saya kembali! Dan baru saya sadari, banyak sekali typo bertebaran di chapter 2. *siap-siap harakiri* ah, entar ajadeh mati nya, kalo dapet flame #lebay nah, Happy reading minna—:*
Kagamine Len
"Len, kan, tidak pernah berbicara dengan Shion-sensei. Tahu apa tentangnya?"
Aku terjaga. Itu spontanitas. Mataku langsung menyesuaikan kegelapan ruangan saat itu. Setelah terbiasa, aku memutuskan untuk menyandar pada penyangga kasur. Aku termenung mengingat ucapan Rin beberapa hari yang lalu. Ya, sejak minggu pagi itu, kami belum bicara lagi. Sepertinya, Rin masih sebal padaku karena aku menjelek-jelekkan orang yang di sukainya.
Orang yang di sukainya…
"Tapi aku menyukainya. Len, kurasa aku telah jatuh cinta pada Shion-sensei."
Yang di cintainya.
Bukan aku.
Bukan aku yang selalu mencintainya, jauh lebih lama di banding ia mengenal laki-laki biru itu. Aku jauh mencintai Rin melebihi apapun dan siapapun.
"… karena aku mencintainya."
Cih! Sudah cukup! Kepalaku sakit!
"Len…?" suara serak seorang perempuan mengembalikan aku ke dunia nyata. Gadis cantik berambut hijau itu meyentuh lenganku sambil ikut duduk di sampingku. Matanya masih sayu karena baru bangun tidur.
"Ah, maaf, Miku. Aku membangunkanmu, ya?" aku tersenyum bersalah dan mengusap puncak kepala nya. Ia terlihat menggeleng sedikit.
"Len mimpi buruk?"
"Hm… begitulah. Mimpi yang sangat buruk." Ah, pandanganku meredup. Teringat lagi kata-kata Rin waktu itu. Itu benar-benar menjadi mimpi buruk bagiku. Sial.
"Len, ayo tidur lagi. Ini masih jam tiga pagi, masih lama untuk bersiap pergi ke sekolah." Gadis itu, Hatsune Miku, melingkarkan kedua tangannya di dada telanjangku. Aku merengkuh bahu kurusnya dan merebahkan tubuhnya di sampingku.
"Tidurlah, aku akan kembali tidur sebentar lagi." Ujarku dengan suara rendah di telinga kirinya. Dia hanya menggumam sebentar, dan tak lama jatuh tertidur. Aku menatapnya lama. Gadis ini adalah salah satu teman kencanku, tapi bukan pacarku. Mengerti? Hanya teman untuk bersenang-senang, seperti Haku. Malam ini kami 'bermain' di rumahnya yang lagi-lagi kosong. Miku hanya hidup berdua dengan kakak laki-lakinya, Gakupo. Sedangkan Gakupo sendiri jarang pulang karena sibuk kuliah sekaligus membantu cabang perusahaan keluarga mereka.
Aku tidak akan bisa tidur lagi. Seperti malam-malam sebelumnya.
"Ohayou, Len!" sapa beberapa gadis di koridor sekolah. Aku menoleh ke arah gadis-gadis itu, sepertinya kakak kelas. Aku tersenyum ramah namun memikat.
"Ohayou, senpai." Balasku singkat, lalu melanjutkan perjalanan menuju kelas. Di sana sudah ada Haku dan yang lain. Mereka asik sendiri. Aku tidak peduli. Jujur, aku merasa sangat ngantuk mengingat tadi bangun jam tiga subuh dan tidak melanjutkan tidur lagi. Tak lama, kurasakan ponselku bergetar lama, menandakan ada telepon masuk dari seseorang.
Hatsune Miku calling
"Moshi-moshi, Miku-chan?"
"Ah, moshi-moshi. Len, kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada cemas. Aku mengerutkan kening sebentar.
"Aku tidak apa. Memang ada apa, Miku?"
"Ah… tidak… Len, kan, tidak tidur lagi sejak subuh tadi, kupikir mungkin Len jadi tidak badan karenanya," jelas gadis itu. Volume suaranya di kecilakn, mengingat kata-katanya yang mengundang kecurigaan bagi orang sekitarnya. Aku melirik malas ke arah segerombolan cewek-cewek di kelasku. Pandanganku berhenti pada sosok Haku. Gadis itu cantik, seperti biasanya. Tiba-tiba saja Haku menoleh dan mata kami saling bertemu. Aku tersenyum nakal, dan di balas oleh Haku dengan senyum sinis, namun tampak sexy di mataku.
"Moshi-moshi, Len?" suara indah Miku membuatku kembali fokus pada ponselku.
"Ah, gomen, aku ada urusan dengan ketua kelas ku. Aku tidak apa, kok, Miku-chan… jangan khawatirkan aku. Memang aku sedikit mengantuk sekarang, tapi bukan masalah besar." Aku menyandarkan punggungku pada senderan kursi dan menaikkan kaki kananku dan meletakkannya di atas lutut kiri ku.
"Um… begitu? Baiklah, aku mengerti. Jaga kondisi badanmu ya, Len. Kau agak kurusan dan sering terlihat capek. Kalau ada masalah, kau bisa membaginya denganku, ya?" ujar gadis itu dengan nada sedikit memelas, membuatku memutar bola mataku dengan malas. Aku benci kalau sudah begini. Perempuan itu sudah berlagak seperti pacarku sekarang. Cih. Kalau sudah begini, biasanya aku hanya perlu meninggalkannya. Aku tidak butuh kekasih, selain…
Saudara kembarku sendiri?
Hah, aku benar-benar sudah gila.
"Len…" desahan perempuan di depanku mengisi kesunyian sebuah kelas yang sudah tidak terpakai di sekolahku. Aku mengelus pipi mulusnya dengan lembut dan mengecupnya pelan.
"Aku pulang, ya?" ujarku sambil menatap matanya. Wajahnya terlihat lelah. Siapa suruh mengerang begitu keras sampai-sampai harus kubungkam mulutnya dengan mulutku. Resikonya ya pasti cepat kehabisan nafas, lah.
Gadis berambut hijau tua itu mengangguk pelan sambil mengancingkan kemejanya. Akupun melakukan hal yang sama, merapikan penampilanku yang berantakan. Sudah bisa di tebak apa yang habis kami lakukakn, kan? Tidak perlu kujelaskan—
"Terima kasih untuk hari ini ya, Len," ujar gadis manis itu sambil mengecup singkat bibirku. Aku tersenyum membalasnya. Tidak, harusnya akulah yang berterima kasih. Kau membantuku melupakan nafsu bejatku untuk Rin.
Tapi tetap saja. Sialnya, setiap memandang atau mendengar respon para wanita ketika aku melakukan 'itu' pada mereka, sosok Rin lah yang terbayang di otakku.
Adik macam apa aku ini?
Seandainya aku bisa mengubah kata 'Adik' itu menjadi 'Laki-laki'. Tapi aku memang adiknya. Saudara kembarnya. Belahan dirinya secara fisik, bukan hatinya.
Aku hanyalah seorang 'Adik'.
Langit sore itu terlihat terang saat aku keluar dari bangunan sekolah. Sekolah sudah sepi. Aku melangkahkan kaki dengan galau menuju rumah. Aku bahkan sudah hampir tiba di rumah ketika tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar singkat.
1 New Message Received
From: Meiko-nee
Temani aku nanti malam. Bisa, kan?
Aku menghela nafas, sedikit agak mendengus. Wanita itu pasti sedang ada masalah, dan aku bisa menebak kalau sekarang ia sedang mabuk berat. Tapi, sayang, aku sedang malas meladeni…
Kaki ini berhenti melangkah. Tidak. Mungkin hampir semua kerja syaraf di tubuhku ini berhenti bergerak. Waktu dan duniaku berhenti seketika.
Aku melihat laki-laki biru itu baru saja melepaskan bibirnya dari milik Rin. Mereka saling pandang dengan wajah… tersipu? Yang jelas, itu membuat perasaanku makin tidak enak.
Aku ingin muntah.
Aku ingin memuntahkan segala emosiku.
Marah. Cemburu. Terluka. Jijik.
'krek'
Ah, tanpa sadar aku menggenggam ponselku terlalu kencang hingga mengeluarkan bunyi aneh seperti barusan. Spontan, mereka langsung memutar badan dan melihatku dengan wajah terkejut.
"L-Len!"
Aku terdiam. Kenapa, Rin? Tidak suka aku datang, ya?
Aku melangkahkan kaki ku menuju rumah. Ke dua tanganku yang ku masukkan ke dalam saku celana terkepal kuat. Sangat kuat.
"Len…" Rin terdengar seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi aku hiraukan. Sungguh aku tidak ingin dengar apa pun sekarang. Ya ku inginkan sekarang adalah menonjok sesuatu sesampainya aku di kamar nanti. Tapi, entah apa yang membuatku mengurungkan niatku untuk langsung masuk kamar. Malah melakukan sesuatu yang bodoh.
"Maaf aku mengganggu kalian, tapi…" aku menghentikan langkahku tepat di hadapan laki-laki biru itu, bersebelahan dengan Rin. Entah kenapa, bibir ini menunjukkan ke-sinisan yang luar biasa ketika berhadapan dengannya.
"Setidaknya bisakah kalian melakukannya di tempat lain? Aku hanya tidak ingin ada rumor tidak enak beredar di lingkungan sekitar Rin. Anda tahu anda adalah seorang guru, bukan? Tidak mungkin ada seorang guru yang nekat mencium muridnya di depan rumahnya sendiri. Jadi, sebaiknya…"
Plak!
Aku terhenyak. Perlahan, pipiku terasa panas. Ku lihat beberapa air mata Rin jatuh ke tanah. Aku menatapnya dengan dingin dan tajam.
"Apa?"
Rin terbelak. Mungkin, tidak percaya aku bisa mengatakannya sedingin itu. Aku sendiri tidak percaya.
Aku seperti hampir kehilangan kontrol atas diriku sendiri.
Karena Rin tidak lekas menjawab, aku beralih menatap laki-laki yang sejak tadi diam itu. "Apa kata-kata ku ada yang salah, Shion-sensei?" ku tekankan kata 'Shion-sensei' tadi dengan tandas, tajam, dan penuh sindiran tersirat. Shion Kaito hanya menatapku agak lama, lalu akhirnya bersuara.
"Tidak, Kagamine-kun. Kau benar, tidak seharusnya aku melakukannya di depan rumah Rin seperti ini. Tapi…"
"Sudah cukup!" teriakan Rin yang bergetar karena tangisannya menghentikan ucapan Shion Kaito. Kami berdua menatapnya yang perlahan menggerakkan tangannya ke dada ku.
"Hentikan, Len. Ku mohon…" ujarnya sambil terisak pelan. Perlahan aku tersadar. Kenapa Rin menangis sampai seperti itu? Apa aku yang membuatnya menangis? Astaga, apa yang sudah aku lakukan?
"Ri-Rin…" aku coba menghapus air matanya dengan gugup. Namun tangannya mendorong dadaku dengan pelan. Kepalanya menggeleng sesaat.
Sikap Rin tadi… aku anggap sebagai penolakkan pertamanya.
Tenggorokkan ku tercekat. Aku mundur. Perlahan berbalik menuju pintu rumah.
Rasa marah tadi menguap, hilang entah ke mana. Sekarang tergantikan oleh rasa sesak. Sangat sesak. Penyesalan sekaligus terluka. Sesak.
Kepalan tanganku tidak berubah, malah makin menguat.
'DHUAGH!'
Tembok itu retak. Beberapa butiran semen meluncur ke lantai kamarku.
Seandainya aku bisa menonjok dada ini sekuat aku menonjok tembok sial ini. Aku tidak bisa menonjok dadaku sendiri. Pukulan yang di hasilkan kepalan tangan ini lemah sekali ketika bertemu dengan dadaku.
Belum pernah aku merasa sekalut ini.
Tanpa pikir panjang, aku melompat dari jendela kamarku yang terletak di lantai dua. Tangan kiriku mengetik SMS dengan cepat.
To: Meiko-nee
Aku akan segera datang.
Aku tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang. Aku hanya ingin bernafas barang sebentar saja. Sekedar membantuku menghilangkan sesak seperti orang yang berpenyakitan Asma ini.
Hari sudah sangat malam, dan aku nekat pulang. Meskipun tadi Meiko-nee memohon-mohon agar aku menginap saja malam itu dengannya, tapi aku menolaknya. Meskipun aku tahu kalau kembali ke rumah, mungkin aku tidak bisa menahan diri lagi.
"Tadaima…" aku tahu, sebaiknya aku tidak perlu memberi salam. Siapa tahu orang tuaku belum tidur dan memergoki aku baru pulang dengan bau sake dan parfum wanita di seluruh tubuhku. Belum lagi kalau mereka melihat bercak merah 'oleh-oleh' dari Meiko-nee.
Tapi, anehnya… seluruh lampu di rumahku sudah mati. Sepertinya semua orang sudah tidur. Baguslah. Aku juga ingin langsung tidur.
"Len?"
Deg.
Sosok Rin muncul dari balik sofa di ruang keluarga. Sepertinya ia tertidur tadi. Rambutnya berantakan dan wajahnya terlihat lelah.
Hei, apa aku yang membuatnya seperti itu?
Apakah aku yang membuatmu sedih seperti itu?
"Len, aku sengaja menunggumu pulang." Ujarnya sambil bangkit dari sofa. Aku mengalihkan pandanganku.
Aku pun lelah, Rin. Sangat lelah…
"Kau habis dari mana? Kenapa pulang larut seperti ini? Kapan kau meninggalkan rumah? Dan kenapa aku tidak sadar?"
Jujur, kepalaku makin pusing mendengar rentetan pertanyaan dari Rin yang di suarakan dengan cempreng seperti biasanya. Tapi nada suaranya serius. Tetap saja aku malas meladeni nya. Aku tahu dia ingin membicarakan kejadian tadi sore.
"Aku mau tidur." Ujarku singkat. Aku sungguh ingin beristirahat!
Greb!
Tangan mungil Rin menahanku.
"Entah itu hanya alasanmu atau kau berbicara yang sesungguhnya, aku tidak peduli. Kita bicara sekarang, Kagamine Len!"
TBC
Heuheu… saya mencoba membuat chapter yang lebih panjang. Semoga kali ini berkenan. Ng… mengenai intensitas ketegangan mendadak itu… saya tidak menjamin bisa membuatnya lagi di chapter berikutnya. (pede banget… orang biasa aja, gada tegang-tegangnya sama sekali…)
Hai, sore jya, o r e v i e w kudasai—:)
