Even We are a Twins

A fanfiction by Kagurazaka Suzuran

Chapter 4

Disclaimer: Vocaloid is copyrighted by YAMAHA Corp.

Rate: T

Genre: Romance/Hurt/Comfort/Drama

Warning: AU, OOC, possibly misstype, twincest, dan masih banyak ketidak-jelasan lain dalam fic ini. Based on "Spice" fanmade PV.


"Kita bicara…" ujar Rin lebih lunak. Len terlihat menghela nafas berat sebentar lalu berjalan pelan ke arah sofa yang tadi di tiduri Rin. Dari belakang, Rin mengikutinya setelah mengunci kembali pintu rumah.

Keduanya duduk terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan, bahkan Rin sendiri pun bungkam. Terlalu banyak yang ingin ditanyakannya sehingga ia tidak tahu harus mulai dari mana. Sudah berkali-kali ia mendengar adik kembarnya itu menguap, tapi Rin tetap saja sibuk memainkan jari di atas pahanya.

Aku benar-benar bingung mau berkata apa. Sudahlah, mungkin sekarang memang bukan waktu yang tepat, ujarnya dalam hati. Baru saja ia ingin meminta maaf dan mengakhiri kecanggungan ini kepada Len, Len keburu mendahuluinya.

"Mau bicara apa sih, Rin? Sudah kubilang aku ngantuk, tapi kau tidak memulai satu pun pembicaraan." Ujar Len pelan sambil menguap. Nada bicaranya sudah kembali normal, seperti Len yang biasa Rin hadapi. Tidak tersirat dingin menusuk pada nada bicaranya. Mendengar itu, timbul kepercayaan dalam diri Rin untuk mencoba memulai pembicaraan.

"Anou ne, Len… tentang tadi sore…" Rin menggantungkan kalimatnya, gugup. Ia dapat merasakan intensitas di antara mereka kembali menegang. Jemari tangannya sudah terasa dingin sejak tadi, dan sekarang terasa semakin dingin. Matanya melirik Len sekilas. Dia melihat saudara kembarnya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu dan kata-kata itu terlontar begitu saja, refleks.

"Aku minta maaf!"

"Eh?" Rin terbengong-bengong. Matanya membulat menatap Len, begitu juga dengan Len, hanya saja ekspresinya tetap datar.

"Phuh… huahahahaha—!" suara tawa Rin membahana ke seluruh rumah. Len hanya mendengus pelan sambil menyunggingkan sebuah senyum simpul—agak geli juga dengan ikatan batin di antara mereka. Geli sekaligus nyeri menampar, karena semakin memperjelas jarak di antara mereka.

"Sudah berapa lama, ya, kita tidak mengucapkan sebuah kata secara bersamaan? Hahahaha—" Rin masih melanjutkan tawanya. Tidak ia sangka, ia dan Len akan mengucapkan hal yang sama berbarengan, dan itu sangat melegakan hatinya, mengingat ia masih memiliki kontak batin dengan kembarannya. Sungguh fakta yang sangat berlawanan dengan si lawan bicara di depannya.

"Entahlah, aku tidak ingat." Nada suara Len tidak berubah, tetap murung. Ekspresi wajahnya juga tidak berubah, datar dan terlihat lelah, membuat Rin gatal untuk menanyainya.

"Len, ada yang salah denganmu." Pernyataan itu terlontar begitu saja dari mulut mungilnya.

"Hm? Maksudmu?"

Rin menarik nafas sejenak lalu membuangnya. Terlihat seperti orang yang sedang menyiapkan diri. "Aku sendiri tidak bisa menjabarkannya dengan jelas dan tepat, tapi…" Rin terlihat sedang mencari kata-kata yang tepat. Bola matanya dimainkan dengan jenaka, membuat laki-laki yang ada di hadapannya itu merasa gemas hingga ingin memeluknya. Kembali, Len menahan diri.

"…Len seperti sedang menahan diri sendiri."

Kata-kata Rin cukup membuat Len terbelak. Tidak mengherankan, memang, bila Rin bisa menebak sejauh itu. Di dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama, bukan? Dan untuk sesaat, Len dibuat bingung dengan pernyataan tadi.

Bagaimana? Apakah aku harus tetap melarikan diri? Apakah aku akan terus menyembunyikan ini? Apakah sekarang waktu yang tepat? Terlebih adanya kejadian tadi…

"Len…" jari mungil Rin menyentuh pundak saudaranya. Len sedikit terlonjak. "Kau kenapa? Kau baik-baik saja?"

Aku tidak pernah baik-baik saja, Rin.

"…Aku tidak apa-apa."

"Sampai kapan kau mau terus berbohong, sih! Kau mengerti, kan, kalau kau tidak akan pernah bisa bohong padaku!" Rin terlihat gemas dengan kelakuan adik kembarnya itu. Mendengar itu, Len menatap Rin dan tersenyum aneh.

"Hee… jadi maksud Rin, Rin tahu kalau selama ini aku berbohong?" keluar lagi. Sosok Len yang dingin juga sinis. Rin sedikit kaget menghadapi Len yang tiba-tiba berubah seperti ini. Namun, sudah tidak ada kata mundur lagi baginya, kan? Ia yang memulai pembicaraan, ia lah yang harus mengakhiri pembicaraan ini juga.

"Iya, aku tahu, meskipun aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan. Tapi, kau terlihat seperti hampir meledak, apa lagi sore ini."

Satu lagi kalimat yang tak ayal mampu membuat kembar laki-laki Kagamine ini tertohok. Sayang bagi Len, hal itu tidak luput dari Rin. Ia langsung yakin kalau Len memang benar dalam masalah serius. Dan itu membuatnya semakin penasaran apa yang membuat Len seperti itu.

"Kau sudah tidak bisa lari lagi, Kagamine Len. Katakan padaku, apa yang kau sembunyikan." Ucapan tandas gadis itu justru membuat Len merasa sedikit geli. Ia terkikik kecil dan Rin mengerutkan alis melihatnya.

Apa kata-kataku ada yang lucu? Batin Rin bingung.

Seandainya kau tahu kebenarannya, mungkin itu memang lucu, Rin.


Kagamine Len

Rin memaksaku untuk berkata jujur. Bagaimana? Apakah ini saat yang tepat? Apa aku memang harus bicara jujur terhadap perasaanku padanya? Tapi, aku memang sudah tidak tahan lagi.

Untuk sesaat, aku membiarkannya menunggu sapatah dua kata keluar dari mulutku yang bungkam sejak aku terkikik karena ucapan terakhir Rin. Itu terdengar cukup menggelikan di telingaku, sungguh. Kalau ia tahu apa yang kusembunyikan—dan apa yang akan kukatakan padanya nanti, pasti ia langsung berharap tidak akan mau mengetahuinya seumur hidup. Aku yang merasakannya saja merasa gusar selama ini.

Ternyata, cukup lama waktu yang terbuang percuma. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri—memberitahunya yang sebenarnya atau terus menerus melarikan diri dari semua ini. Ia pun terlihat mulai gelisah dan kesal. Dasar kakak yang tidak sabaran.

"Meski kuakui aku hampir mencapai batas kesabaranku untuk menunggu penjelasan darimu yang aku yakin paling cuma seiprit itu, aku akan terus menunggumu. Aku tidak bisa membiarkanmu terus-terusan 'bungkam' tentang apa yang kau sembunyikan selama ini," Ucap Rin dengan nada tandas, memecah kesunyian di antara kami. Aku memalingkan muka dari posisi menundukku sebelumnya, dan sedikit menatap Rin yang duduk dengan tangan terlipat di depan dada di sebelahku.

"Tentang segalanya yang menjadi beban pikiran—"

GREP!

BRUGH!

Dengan sekali sentakan, aku menarik kedua lengan kakak kembarku dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa yang kami duduki bersama—disusul aku yang membungkukkan tubuhku untuk memperkecil jarak diantara kami.

"Bagaimana kalau aku katakan bahwa aku menyukai Rin?" Bisa kulihat dengan jelas dibalik kekalutan yang menerpaku—biru matanya yang berucap kaget, tidak menyangka, sekaligus kesakitan karena aku menekan kuat pergelangan tangannya. Aku memajukan diri, mendekatkan wajah kami.

"Bagaimana kalau aku katakan bahwa yang selama ini mengusik pikiran dan jiwaku adalah Rin?"

Sebutir keringat dingin menetes dari pelipisnya. Udara disekitar kami memang menjadi sedikit lebih panas—padahal terdengar jelas nada suaraku yang sedingin batu. Tidak hanya suara, aku yakin tatapan mataku ini tidak layak diperlihatkan kepada orang yang memiliki darah yang sama denganku, atau setidaknya, pandangan menusuk seperti ini pun tidak layak ditujukan kepada seorang wanita. Dan Rin terlihat semakin takut setelah aku mengucapkan kalimat itu. Aku yakin ia dalam keadaan syok mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari mulutku.

Tapi, aku sudah tidak bisa menghentikan diriku sendiri.

Aku ingin memilikinya seutuhnya.

Ingin memeluknya seutuhnya.

Ingin mencumbunya, ingin bersatu dengannya seutuhnya.

Tidak ingin melepaskannya lagi. Tidak ingin.

Tidak ingin diingatkan tentang hubungan darah yang kami miliki. Tidak lebih dari itu. Kami hanyalah sepasang kembar. Kembar.

Tidak mungkin bersatu…

"Bagaimana kalau aku katakan aku telah menyukai—tidak, aku mencintai Rin selama hampir setengah dari waktu hidupku saat ini… DAN AKU TIDAK BISA MELENYAPKAN SOSOKMU BARANG SECUILPUN DARI PIKIRANKU! AKU TIDAK BISA MENGHENTIKAN PERASAANKU SENDIRI SELAMA BERTAHUN-TAHUN INI! AKU TIDAK BISA BERHENTI MENCINTAIMU, SAUDARA KEMBARKU SENDIRI!" aku sedikit membanting kedua tulang rapuh yang kucengkram ketika berteriak barusan. Ya, berteriak. Aku menumpahkan seluruh emosiku dihadapan Rin dengan waktu dan tempat yang mungkin salah.

Aku frustasi! Aku merasa kalau aku hampir gila! Aku hampir mencapai batasku untuk menahannya! Aku tidak bisa membendung segalanya sekarang. Rin yang memaksaku untuk mengeluarkan semuanya. Masih banyak yang menggelegak di dalam dada ini—tertahan di pangkal tenggorokan dan hanya tinggal menunggu satu dorongan lagi untuk kembali memuntahkan lava hatiku yang telah menumpuk selama ini. Tapi, bendungan bening yang berkumpul di matanya menghentikan luapan emosiku untuk sementara. Aku tertegun melihat air mata pada bola mata sapphire Rin yang mulai merebak dan tidak menunggu waktu lama untuk langsung merembes membasahi pipinya. Isak tangis pelan segera terdengar dari ruangan itu. Meski begitu, matanya tidak lepas dariku. Pandangannya begitu terluka.

Kenapa? Kenapa justru ia yang merasakan sakit? Kenapa Rin terlihat begitu sedih?

Seketika, segala luapan emosi yang beberapa menit lalu masih menggebu-gebu berteriak minta dikeluarkan… hilang tak berbekas. Digantikan dengan kekosongan yang menyelimuti segenap ruang hatiku sampai membuat nafasku sesak. Aku memutuskan untuk menghentikan ini semua. Rin masih terisak, air mata masih mengalir dari matanya meski tidak sederas tadi.

Aku menghela nafas dengan tersendat-sendat sambil perlahan melepaskan cengkraman tanganku pada kedua pergelangan tangannya. Ah, bahkan terasa cukup sulit ketika melakukannya karena kulitku terlalu menempel pada pergelangan tangan itu sampai terlihat bekas kemerahan di sekitar urat nadinya. Tangan kurus itu masih terkulai lemas dan tidak merubah posisinya, sementara aku sudah berusaha bangun dari atas tubuhnya, berencana untuk langsung menaiki tangga menuju kamarku.

Aku sadar telah membuat kehebohan besar tengah malam begini. Harusnya orang tua kami segera keluar dari kamar mereka dan segera memastikan keadaan, tapi nyatanya sedari tadi tak ada satu orang pun yang menghentikan tindakan bodohku, membuatku bertanya-tanya tentang keberadaan orang tuaku sekarang.

"Maaf…"

Langkahku terhenti. Tubuhku kaku seketika. Pikiran dan keadaan hatiku benar-benar belum stabil dan sebuah kata yang diucapkan Rin dengan lemah itu semakin menghantam jantungku.

Kenapa kau meminta maaf?

Bisa kulihat setitik air mata yang baru saja mengalir dari ujung matanya yang tertutup lengan kanannya, mengalir melewati pipinya dan menghilang dibalik helaian rambut pirang yang sama denganku. Air mata mulai mengalir lagi dari indah biru matanya. Suaranya bergetar dan terdengar sangat parau saat kembali menggumamkan kata itu.

"Maaf…"

Aku makin merasa gila! Aku tidak bisa terus-menerus mendengar suara parau Rin apalagi sampai melihat lagi air matanya. Aku bisa semakin gila, hingga aku memutuskan untuk benar-benar menulikan telingaku dan bergegas naik ke atas, mengunci diri dalam kamar.

Aku sadar aku melarikan diri lagi, bahkan kini meninggalkan Rin sendirian di ruang tamu dalam keadaan yang tak kalah kacaunya denganku.

Tapi aku benar-benar tidak sanggup berada di sana. Atmosfer di sana seakan menghujat perasaanku terhadapnya, menyalahkanku atas segalanya. Suara tangisnya. Suara paraunya ketika berucap. Semua semakin memberatiku.

Aku semakin bingung dengan perasaanku.

Apakah ini semua benar-benar kesalahan? Aku kah yang salah? Siapa yang patut disalahkan?

Mengapa aku tidak diizinkan mencintai saudara kembarku sendiri?

Jika memang tidak boleh, mengapa aku terus-terusan terikat oleh perasaan ini?

Kenapa aku harus mencintainya?


Kagamine Rin

Apa yang terjadi?

Kenapa…

Kenapa… jadi begini?

Hening. Sangat sunyi di sini. Hanya detak jam dinding yang menghias keadaanku sekarang. Aku masih terbaring di sofa marun keluarga kami, tidak memiliki keinginan maupun kekuatan untuk sekedar bangkit dari posisi tidurku. Air mata yang tadi merembes melewati kulit wajahku mulai mengering dan meninggalkan rasa lengket, membuat aku mengusap wajahku sesaat. Hidungku masih sedikit tersumbat hingga menyebabkan aku kesulitan saat bernafas. Mungkin juga karena rongga dadaku penuh sesak dengan berbagai macam perasaan yang memenuhinya.

Kubuka kelopak mataku dan lampu kristal yang menggantung anggun di atasku seakan menyapa—bukan, mungkin tepatnya… menegurku.

Menegur aku yang selama ini naif.

"Bagaimana kalau aku katakan bahwa aku menyukai Rin?"

Menegur aku yang selama ini menulikan kata hatiku.

"… AKU TIDAK BISA MENGHENTIKAN PERASAANKU SENDIRI SELAMA BERTAHUN-TAHUN INI! AKU TIDAK BISA BERHENTI MENCINTAIMU, SAUDARA KEMBARKU SENDIRI!"

Bisa kurasakan genangan air mulai berkumpul lagi di mataku. Aku menggigit bibir untuk sekedar menahannya agar tidak kembali tumpah. Hal itu hanya akan memperlihatkan kalau aku lemah. Tapi tidak bisa. Air mataku menetes lagi. Segalanya seperti sedang menegurku. Udara di sekitarku terasa berat, ditambah dengan kesunyian yang menemaniku sejak Len pergi. Semua seperti sedang menghukumku!

Karena aku selalu membutakan hatiku atas harapan dan membelakkan mata lebar-lebar pada garis takdir di depanku. Karena menyerah pada takdir tanpa memikirkan perasaan Len.

Isakku mengisi ruangan itu lagi, menemani alunan detak jam yang tak lelah berbunyi. Isak yang lama-lama berubah menjadi raungan pelan.

"Len…"

Kedua telapak tanganku kugunakan untuk menutup wajahku yang kini kembali basah oleh air mata.

"…Len…" bahuku berguncang seiring mulutku berusaha mengucapkan namanya. Memanggilnya. Memanggil dia yang selama ini kukasihi. Dia yang selalu menjadi mimpiku. Dia yang selalu kusimpan dan kukunci rapat di sudut terdalam hatiku.

Dia yang aku cinta. Yang selalu aku inginkan selama ini.

Dengan segenap kekuatan, kulantunkan namanya pelan. "…Len…"

Aku mencintainya… Selalu mencintainya...

Adik kembarku…

Len…

To Be Continue


AN 1: kesan author yang kelamaan hiatus: jika anda memperhatikan benar, cara penulisan saya di bagian awal, pertengahan, dan akhir itu berbeda. Ya, akibat mengupdate cerita ini dengan mencicil, seperti inilah hasilnya. Makin abstrak. Udah gitu PoV nya dicampur aduk. Heu *oTL*

AN 2: saya minta maaf baru muncul sekarang! Saya hiatus kelamaan desu… -_- bagi yang masih mau baca, saya sangat berterima kasih, lho. Chapter 5 akan jadi last chapter dan akan dipublish tak lama setelah saya dapat feedback yang cukup untuk chapter ini.

Jya, R E V I E W wo kudasai! :*