Even We are a Twins

A fanfiction by Kagurazaka Suzuran

Last Chapter

Vocaloid YAMAHA Corp.

"Magnet" by Kagamine Len feat. Kagamine Rin

Rate: M

Genre: Romance/Hurt/Comfort/Drama

Warnings: AU, OOC, possibly misstype, twincest, lime, sudut pandang berganti-ganti. Lyric inserted. Based on "Spice" fanmade PV.


Gadis itu tersadar dari tidur pulasnya. Kelopak matanya terasa berat ketika dibuka, dan seketika nyeri menyerang pelipisnya. Ia segera mendudukkan dirinya, berusaha mengembalikan kesadarannya utuh. Nyeri di kepalanya berlanjut, membuat gadis itu memimijat kedua pelipisnya untuk sekedar menghilangkan rasa sakit.

Ia menerawang melihat ruang tamu kosong di hadapannya. Keadaan tidak berubah banyak sejak semalam. Beberapa lampu rumah belum dimatikan meski waktu sudah merangkak menuju pukul delapan pagi. Gorden tebal berwarna cream pucat—menyerupai putih, sebenarnya—masih menutup sinar matahari masuk ke ruang keluarga yang cukup luas itu. Rin memaksakan diri berdiri untuk membenahi semua itu. Setelah lampu-lampu dimatikan dan gorden disibak, ia melangkah menuju kamar mandi utama. Dibasuhnya wajah kusutnya yang sedikit pucat beberapa kali, menyisakan sensasi segar bagi tubuhnya yang lemas.

Di saat yang sama, ia baru menyadari sesuatu. Di mana saudara kembarnya? Sejak Len meninggalkannya di ruang keluarga semalam, ia belum melihat pemuda itu lagi. Mungkinkah ia masih berada di kamarnya? Dengan pikiran itu, ia menuruti langkahnya menuju kamar Len dan terkejut ketika kamar itu tidak dikunci. Terlebih, ketika Rin memeriksa keadaan di dalamnya… kosong. Kamar itu kosong dan kasurnya tetap rapi, seperti tidak ditiduri siapapun sebelumnya.

Kini, ia diselimuti rasa cemas. Diputuskannya untuk mencari adiknya itu ke seluruh rumah, dan dalam sepuluh menit ia yakin kalau Len tidak ada di rumah. Ia merasa ada yang ganjil pagi itu, dan itu menariknya pada sebuah kesimpulan kalau Len tengah kabur dari rumah. Ia bukan pergi ke sekolah ataupun sekedar ke konbini, tapi ke suatu tempat yang Rin tidak tahu. Rin pun tidak tahu sudah berapa lama Len meninggalkan rumah, dan itu semakin membuatnya kacau.

Matahari terus merangkak seiring waktu berjalan hingga digantikan oleh bulan, ia masih belum dapat kabar dari Len. Kagamine Rin menarik sejumput poninya ke belakang dengan frustrasi. Matanya dialihkan ke benda mungil berwarna pastel yang tergeletak sembarang di dekatnya. Ponsel bermodel slide itu bergeming dari posisi awalnya sejak lima belas menit yang lalu, tidak memperlihatkan tanda ada pesan atau telefon masuk. Berkali-kali ia menelefon Len, tapi ponsel adiknya itu tidak aktif—mungkin jumlah panggilan keluarnya sudah tidak terhitung lagi. Tentu saja, mana mungkin orang akan mengaktifkan telefon genggamnya di saat ia sedang kabur dari rumah? Yaa, setidaknya seperti itulah situasi yang tergambar saat ini.

Dia ingin Len pulang. Dia takut Len melakukan hal bodoh dan nekat. Dia ingin melihat wajah pemuda itu. Dia ingin menyentuhnya, merasakan wajahnya di indra perabanya. Memasukkannya ke dalam memori hatinya, menyimpannya. Menyentuhnya lagi di lain tempat. Memeluknya…

Ia ingin minta maaf kepada Len. Ingin memeluknya—tidak ingin terlepas lagi. Ia harus mengatakan pada adiknya itu kalau ia pun… mencintai dirinya.


Kagamine Len

Ruangan kosong yang diterangi cahaya remang dari sebuah bohlam kecil yang menggantung di tengah ruangan itu menyambutku. Suara engsel pintu ketika aku membuka pintu besi tua di hadapanku langsung menggema di seluruh ruangan, disusul suara sepatu beralaskan karet milikku. Aku melangkah masuk, menuju jendela tak berkaca yang kayunya sudah terlihat lapuk dan ditutupi debu tebal, namun tetap aku duduki tanpa membersihkannya dahulu, tidak peduli celana panjang abu-abu yang kukenakan akan kotor.

Aku berada di sebuah rumah kosong yang terletak tidak terlalu jauh dari kawasan rumahku. Dulu, ketika aku dan Rin masih balita, kami pernah tinggal di daerah sini. Banyak rumah-rumah bergaya Eropa lama yang berdiri megah dan masih kokoh hingga sekarang. Banyak yang masih ditempati, namun banyak juga yang sudah ditinggali dan dibiarkan kosong seperti rumah ini. Sejak kami tinggal di sini, hanya rumah ini satu-satunya yang sudah kosong sejak dulu namun masih tetap terawat dekor dalamnya. Aku dan Rin senang sekali bermain di rumah ini. Kami juga menyebutnya sebagai istana dan sejak dulu tempat ini menjadi favorit kami. Semakin aku beranjak dewasa dan semakin sering membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran, aku selalu ke sini.

Seperti saat ini saja ketika aku memosisikan tanganku di atas lutut kananku yang tertekuk dan memandang tenang langit malam di luar sana. Ya, dengan tenang, karena seharian ini aku benar-benar mendinginkan pikiranku. Sejak subuh tadi aku keluar rumah diam-diam, menghabiskan waktuku untuk sekedar berjalan-jalan. Bukan aku tidak berani berhadapan dengan Rin, hanya saja aku tidak tahu kapan emosiku akan keluar lagi dan melakukan tindakan yang lebih bodoh daripada semalam. Aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa dan berkata apa kalau kami bertemu pagi tadi, mengingat topik yang semalam kami 'bicarakan'.

Nah, setelah ini apa? Apa yang harus aku lakukan di depannya? Bersikap bodoh dengan mengelak dari ucapanku kemarin sambil nyengir kuda—atau menghadapi semua ini? Kuakui aku lemah karena masih saja bimbang soal ini. Seharusnya aku menghadapinya karena tidak ada kata mundur lagi bagiku yang sudah membuat pengakuan.

Aku menghela nafas ketika memikirkan kembali konsekuensinya. Hubunganku dengan Rin tidak akan bisa kembali utuh, pastinya. Aah, ironis sekali. Saat kau menyadari perasaanmu adalah 'cinta', tapi ternyata takdir berkehendak lain dan kau tidak bisa berbuat apa-apa—apalagi dalam kasusku orang yang kucintai adalah saudara kembarku sendiri. Ironis.

Memangnya kenapa kalau mencintai saudara sendiri? Sebelah hatiku meraung.

Ya… kenapa tidak boleh? Toh, saudaraku itu perempuan. Daripada aku mencintai laki-laki? Itu lebih ironis dan mengerikan.

Tidak. Lebih mengerikan jatuh cinta kepada saudara sedarah. Tidak ada yang melebihi beratnya beban memendam perasaan semacam itu. Menyesakkan hingga ke rusuk tulangku. Mendinginkan sendi-sendiku, bahkan terkadang seperti mematikan sistem kerja otak. Setidaknya, saat aku memikirkan obsesi dan hasratku kepada Rin. Kadang aku berpikir... ini cinta atau nafsu belaka? Tetapi, aku tidak menemukan jawabannya. Mungkin keduanya.

Aku tersenyum miris. Rasanya benar-benar mengerikan saat kau tahu kau terobsesi ingin memiliku kakak kembarmu seutuhnya.

Karena kuputuskan untuk melanjutkan apa yang sudah kumulai, maka kupikir tidak ada gunanya aku menghabiskan waktuku untuk memandang malam di rumah kosong ini. Jadi aku turun dari kusen bingkai jendela rapuh dan berdebu yang jadi tempat dudukku tadi dan segera menepuk pelan bagian belakang celanaku. Sekarang sudah pukul—hampir pukul delapan malam, dan di waktu seperti ini keluargaku mungkin sedang berkumpul di ruang keluarga. Mungkin ada Rin juga di sana.

Aku menggaruk kepalaku dengan wajah bosan—dan agak mengantuk sebenarnya, lalu mulai melangkah meninggalkan bangunan tua yang masih berdiri dengan kokoh di tengah kegelapan malam itu. Di tengah jalan, aku berhenti sebentar, tersadar akan sesuatu. Aku merogoh kantong celanaku dan mengambil ponselku dari sana. Aku baru ingat seharian ini tidak mengaktifkannya, jadi mungkin orang rumah cemas pada keadaanku. Yah, mungkin…

Mungkinkah Rin juga cemas? Khawatir?

Dan… terjawab. Ada sekitar—err, empat puluh satu panggilan tak terjawab dan tiga puluh pesan tak terbaca ketika aku mematikan ponselku. Semuanya… dari Rin.

Apa ini? Permainan apa lagi yang ingin Tuhan lakukan padaku? Kenapa aku merasa seperti diberi harapan begini?

Aku segera menggelengkan kepala sekali, menepis pikiran-pikiran—bukan, harapan kecil yang berusaha tumbuh di sudut hatiku. Berusaha mematikan tunas-tunas harapan yang hanya akan mengantarku pada penyesalan. Aku memicingkan mata, berusaha berpikir apa yang terjadi dengan puluhan panggilan dan pesan tak terjawab itu. Terlebih, semuanya dari Rin. Mungkinkah ia sedang dalam bahaya? Jangan-jangan ia jatuh sakit dan aku meninggalkannya sendiri di rumah. Bagus sekali.

Segera aku melesat ke halte bus terdekat dan menaiki bus mana saja yang berhenti, karena bus manapun pasti akan melewati kompleks perumahan kami. Aku mencari kontak Rin di phonebook ponselku dan menekan tombol dial. Nada sambung langsung terdengar dalam hitungan detik, disusul suara panggilan diangkat dan suara cemas Rin menyambutku.

"LEN!" dia berteriak. Sungguh berteriak, tapi aku bisa menangkap jelas suaranya serak dan bergetar. Sial, apa lagi yang telah aku lakukan padanya? Seketika aku bahkan mengutuk diriku sendiri. Panggilannya di jalur seberang kembali terdengar.

"Len? Len!"

Aku menggaruk pelipisku sesaat dan menyandarkan punggungku ke sandaran kursi penumpang yang berbalut beludru. "Rin…"

"Len… ugh, demi Tuhan, DI MANA KAU SEKARANG! Kau baik-baik saja? Kau…"

"Aku baik-baik saja," sebuah kalimat menggantung yang kuucapkan pelan, hanya itu yang bisa kukeluarkan. Tiba-tiba saja, pikiranku tidak fokus ketika mendengar suara Rin. Aku… merasa terhenyak mendengar suaranya yang sirat akan keputus asaan, atau setidaknya itulah yang kutangkap. Aku terhenyak sekaligus merasa melayang karena senang—bolehkah? Rin mencemaskanku, bolehkah aku berpikir seperti itu? Rin terus berbicara (mengomel) di telefon, tidak begitu terdengar olehku. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku. Aah, sial… tunas harapan itu tumbuh semakin besar, mulai mengisi rongga dadaku yang sempat kosong tadi. Sial.

"Len…" suara parau itu menyadarkanku. Aku kembali fokus pada ponselku.

"Aa, ma…"

"Cepatlah pulang, Len… kau di mana cepatlah pulang…" ujarnya lemah dengan intonasi berantakan, benar-benar menyiratkan keputus asaan. "Cepatlah pulang, jangan tinggalkan aku sendiri lagi. Len…"

Rin menangis, aku tahu dengan jelas. Di telingaku dia terdengar menyebut-nyebut namaku dengan suara parau dan kadang tersendat-sendat. Berkali-kali dengan suara menyayat yang tidak pernah kudengar sama sekali. Aku menegakkan kepalaku, melihat ke luar jendela untuk memastikan berapa halte lagi yang akan kulewati untuk sampai ke rumah. Masih harus melewati dua halte lagi, tapi kini aku sudah meloncat dari bus ketika transportasi serba guna itu berhenti di sebuah halte. Aku berlari secepat mungkin, berbelok dari satu tikungan ke tikungan lainnya, berusaha mencapai jarak terdekat menuju rumahku.

"Aku sedang dalam perjalanan pulang. Tunggulah, aku akan segera sampai." ujarku sambil tetap berlari dan sedikit terengah. Sambungan telepon tidak kuputus, aku dan Rin tetap tersambung meski tidak ada satupun dari kami yang berbicara. Aku berlari semakin kencang, bahkan hampir menabrak seseorang yang sedang bersepeda ketika melewati perempatan.

Aku tidak peduli meski orang tua itu berteriak dan mengeluarkan segala sumpah serapahnya. Aku hanya ingin secepatnya menemui Rin.


Kagamine Rin

Aku terduduk lemas di kursi makan, menatap kosong pada layar ponselku yang menyala, menampilkan nama Len dan waktu bicara kami yang masih berjalan hingga detik ini. Beberapa menit yang lalu Len menelefonku. Aku hampir loncat—eh, aku bahkan memang loncat dari dudukku sebelumnya—karena begitu kaget sekaligus lega akhirnya dia mengaktifkan ponselnya. Dan, sungguh, dia benar-benar membuatku khawatir seharian ini sampai membuatku ingin bunuh diri!

Len berkata akan segera pulang. Ia akan sampai sebentar lagi, dan aku percaya itu. Aku bisa merasakannya semakin mendekat padaku. Semakin dekat…

Aah, jujur saja, hari ini cukup melelahkan untukku. Memiliki rasa khawatir berlebihan yang ditahan seorang diri sangat tidak baik untuk kesehatan, membuat pikiran cepat lelah dan badan terasa lemas. Beruntung aku tidak punya riwayat radang lambung. Tapi, mulai sekarang aku bertekad kalau aku tidak akan lelah lagi menunggu Len. Apapun yang terjadi ke depannya, aku tidak akan semudah itu lagi menyerah pada takdir. Aku tidak akan lari lagi.

Aku menelusupkan kepalaku di antara kedua lenganku yang terlipat di meja makan. Aku memejamkan mata, memohon dalam hati.

Cepatlah datang. Cepatlah pulang. Cepatlah berada di sisiku lagi.

Jangan pergi lagi.

Perlahan aku membuka mataku yang terpejam dan menajamkan telingaku, memastikan apa yang kudengar barusan. Aku bangkit dari dudukku. Onepiece kuning gading tak berlengan yang kukenakan sedikit kusut di bagian bawahnya karena aku terlalu lama duduk seharian ini. Mataku beralih ke jendela ruang keluarga yang mengarah ke jalan rumah kami.

Suara derap langkah yang cepat, seperti orang berlari. Mungkin memang orang yang berlari. Suara itu semakin dekat, dan tanpa sadar aku melangkah menuju pintu rumah. Derap langkah itu semakin jelas, dan aku semakin mempercepat langkahku, hingga kakiku berlari dengan sendirinya. Tanganku terulur menggapai kenop pintu, memutarnya, dan mendorong pintu itu pelan.

"Len…" kulihat Len terengah di gerbang rumah kami yang berpagarkan tanaman. Sebelah tangannya bersanggah pada tanaman itu, menahan tubuhnya agar tidak ambruk kecapekan. Rambut pirangnya yang lebih panjang dari milikku sedikit berantakan dengan beberapa helainya yang keluar dari ikat rambutnya. Safir birunya berkilauan terkena cahaya bulan ketika menatapku lamat-lamat. Aku terdiam, tidak bisa bereaksi seperti apapun. Kakiku seperti terpaku dengan bayanganku. Meski begitu, aku tidak bisa mengalihkan mataku dari dirinya yang begitu memesona saat ini. Dan… entah kenapa air mata ini muncul dan mengalir seenaknya dari pelupuk mataku. Entah kenapa aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak meneteskan air mata, meski aku tidak tahu apa yang membuatku merasa begitu ingin menangis.

Dan akhirnya kaki ini bergerak juga. Kaki ini melangkah, menuju dirinya yang juga menggerakkan tubuhnya, berjalan ke arahku. Mata kami tidak saling melepaskan diri. Aku sendiri sedikit bingung kenapa pandangan kami terasa begitu melekat.

Tanganku menggapai dirinya dalam langkah kaki yang semakin cepat, dan tidak menunggu waktu lama untuk diriku segera berada di dalam pelukannya. Kedua lengannya merengkuhku, memelukku dengan erat sampai rasanya paru-paru ini seperti terhimpit oleh tubuhku sendiri. Aku melingkarkan lenganku di lehernya, berusaha sebisa mungkin tidak ada lagi jarak yang menghalangi kami. Emosi yang melingkupi aku dan Len begitu terasa hingga memancing kembali air mataku untuk keluar. Aku menangis dalam pelukan Len, dan Len menenangkanku dengan mengecup lama kepalaku dan mengelus lembut punggungku. Tidak berhasil. Aku justru makin mengeluarkan air mata. Begitu banyak emosi yang berkecamuk di sekitarku. Hangat, sakit, bahagia, rindu, takut… semuanya memancing air mata ini keluar.

"Aku pulang." Bisiknya tepat di telingaku. Aku mengangguk pelan.

"Selamat datang…"


Bagi anak laki-laki itu, apa yang terjadi beberapa menit yang lalu adalah sebuah keajaiban. Ia tidak percaya dapat memeluk saudara kembarnya—orang yang paling dicintainya—seperti tadi, bahkan mengecup pucuk kepalanya dengan lembut. Ia tidak yakin Rin tidak melawan atau terkejut sama sekali. Ia bahkan melupakan fakta kalau Rin juga berlari ke arahnya tadi, melompat ke pelukannya. Dan kini, di sinilah ia berada, terduduk di sofa ruang keluarganya dengan Rin yang baru saja dari dapur dan membawakan secangkir teh panas ke hadapan Len. Di saat seperti ini, sudah pasti ia tidak akan bisa menikmati teh hijau buatan Rin seperti biasanya. Mungkin ia harus pintar-pintar mengambil sikap agar tidak mengacaukan segalanya seperti malam sebelumnya.

Rin mengambil tempat di sofa yang sama dan mengambil tempat yang tidak jauh dari Len. Wajahnya ditundukkan sehingga Len tidak bisa memastikan bagaimana perasaan gadis ini. Mungkin pertama-tama, ia harus menjelaskan darimana ia seharian ini. Namun, diurungkannya dan ia memikirkan kembali basa-basi macam apa yang tepat di saat seperti ini. Akhirnya, kesunyian menyergap mereka.

"Ayah dan Ibu ke mana, Rin? Sejak kemarin aku tidak melihat mereka." Akhirnya ketemu topik basa-basi yang kelihatan masuk akal untuk memulai pembicaraan inti—itupun kalau memang akan ada. Rin mendongakkan kepalanya untuk menatap Len, lalu mengalihkan matanya ke lantai.

"Ayah dan Ibu pergi ke rumah Bibi di Kyuushu untuk beberapa hari. Aku lupa mengatakannya padamu kemarin." Len bahkan hampir tersedak tehnya sendiri ketika mendengar penjelasan itu. Dia sama sekali tidak menduga orang tuanya berencana meninggalkan anak-anaknya berdua saja di rumah. Oke, mungkin orang tuanya berbuat seperti itu karena mereka percaya pada anak-anak mereka, tapi, kini Len tidak tahu apakah ia bisa mempertanggung jawabkan kepercayaan orang tua mereka sekarang atau tidak.

"Hm, pantas." Hanya itu. Kagamine Len belum menyiapkan bahan basa-basi lainnya. Untuk sementara, mungkin dibiarkannya kebisuan menguasai mereka sampai… sebuah jemari dingin menyentuh telapak tangannya, membuat laki-laki itu menoleh kepada kakak kembarnya. Sensasi itu dirasanya lagi; betapa mengerikannya perasaan ketika kau menginginkan kembaranmu sendiri ke dalam pelukanmu. Miris dan hina.

"Rin?" gadis itu tidak kunjung berbicara meski kini tangan ringkih nan dingin itu menggenggam sutuhnya telapak kiri orang yang dicintanya. Dia hanya terdiam dan mengikuti kata hatinya ketika ia membawa tangan Len ke arah bibirnya—menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Lalu dibawanya tangan itu menuju tempat di antara kedua matanya yang terpejam, sekali lagi, dengan segala emosi tergambar di wajahnya. Kini, gantian tangan si kembar laki-laki yang mendingin di wajah si gadis yang agak panas.

"Maaf, aku sudah membuatmu banyak menderita," Rin mengatakan itu tanpa banyak merubah posisinya tadi. Tidak ada gerakan dari tubuhnya kecuali bibir yang berucap dan kelopak mata yang berkedut, menggambarkan pada Len betapa menyesalnya gadis itu.

"Karena aku, kau jadi menderita sendirian. Karena aku terlalu naif, terlalu takut pada takdir kita yang terus-terusan menghantuiku, yang sama sekali tidak bisa kuhindari," Rin terus berceloteh sementara Len memandangnya, memperhatikannya. Mimpikah ia? Sudah pasti mimpi, karena semua ini tak mungkin nyata, pikirnya.

"Aku terus-terusan lari darimu—dari diriku sendiri,"

"Rin…" Len berusaha menggapai gadis itu dengan tangan kanannya yang bebas, merasa terombang-ambing dengan perkataan Rin.

"Maafkan aku." Gerakan tangannya terhenti seiring Rin mulai membuka matanya, memandang tepat di iris seindah safir milik Len yang sama persis dengan miliknya. Sebuah senyum terkembang dihias bulir air mata yang entah kenapa sekilas terlihat berkilauan dibawah sinar lampu kristal yang tergantung manis di atas mereka.

"Aku mencintaimu. Aku pun sangat mencintaimu, Len…"

Sekarang, tidak ada yang dapat menghentikan luapan emosi yang sudah ditahan selama lebih dari setengah hidupnya. Ia mendekat ke arah gadisnya yang masih belum melepaskan pandangannya. Tangan kanannya menyentuh tulang pipinya, mengusapnya perlahan. Dia menghapuskan jarak di antara mereka, sampai ujung hidung mereka bersentuhan dan saling dapat merasakan hangat nafas masing-masing. Len memastikan kebenaran ucapan wanita di depannya ini dalam indah biru matanya, terus mencari dan memastikan sampai Rin menyentuh wajah Len. Kini, mereka dapat menyentuh wajah satu sama lain dengan kedua tangan mereka yang bebas.

"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Kagamine Len." Tandasnya dalam isak tangis. Len menariknya dalam pelukan. Tak bisa ditahannya, air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. Ia merengkuh gadis itu sangat erat, lebih erat ketika ia memeluknya di depan rumah tadi. Setengah pikirannya masih tidak mempercayai semua ini. Rin mencintainya? Rasanya baru kemarin ia berkata kalau ia jatuh cinta pada guru mereka. Rasanya ini semua terlalu…

"… Sejak dulu," suara serak Rin menyadarkan Len. "Sudah sejak dulu aku mencintaimu. Tapi aku selalu takut dan menyerah pada garis darah di antara kita. Aku terlalu pengecut dan mulai menulikan diri pada perasaanku sendiri. Aku menebalkan dinding hatiku untuk menolak semua perasaan ini. Bertahun-tahun aku membuat 'dinding' itu sampai aku berpikir aku memang sudah melupakannya. Melupakan perasaan ini…"

"Tapi ternyata tidak bisa, ya? Bahkan ketika aku berkencan dengan Kaito, di sudut terdalam hatiku, kau tetap ada. Aku tidak bisa menyingkirkan dirimu barang secuilpun. Bukankah kita sama?" Rin sedikit terkekeh ketika mengingatkan Len dengan ucapan laki-laki itu kemarin saat ia meneriaki Rin di ruang keluarga ini. Ia hanya mampu mengangguk di balik pundak Rin yang masih dipeluknya.

Kita sama, karena kita kembar? Walaupun kini jelas sudah bahwa kita saling mencintai, ikatan darah ini terlalu keras untuk dihancurkan. Aku setengah gila memikirkan bagaimana caranya agar kita tidak lagi menjadi sepasang saudara kembar.

"Mungkin kita tidak perlu menghancurkan ikatan darah ini," gumam Rin seperti membaca pikiran Len. Suaranya terdengar seperti igauan di telinga pemuda itu. Ia menjauhkan wajahnya untuk menatap Rin dengan jelas, menanyakan maksud dari kata-katanya tersebut.

"Mungkin tidak perlu susah-susah menghapus ikatan persaudaraan di antara kita. Cukup menjalani apa adanya saja, sesulit apapun." Sebuah kalimat naif yang dilontarkan dengan kepolosan. Sebenarnya ditujukan untuk menenangkan diri sendiri, tapi siapa peduli?

"Toh, kalau bukan karena aku dan Len bersaudara, mungkin kita tidak akan bertemu. Mungkin aku tidak akan bisa dekat atau bahkan kenal dengan Len, iya kan?" ujar Rin lagi sambil mengelus pipi Len. Len termangu, namun akhirnya tersenyum setuju. Ia mengarahkan kepalanya hingga bersentuhan dengan kepala Rin. Bisa dirasanya Rin tersenyum, begitu juga dengan dirinya.

"Kita akan selalu bersama,"

"Apapun yang terjadi."

"Aku tidak mau berpisah denganmu."


I can't help but like "weird" things, so let's just go as far as we can go.

Please make me believe that this is not a sin. I want you to kiss me and repaint my body.


Ciuman lembut dan penuh perasaan itu sudah berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya. Tentu diselingi sesi pengambilan nafas di dalamnya. Dari sekedar ciuman biasa—saling menempelkan dan menekan bibir masing-masing—berlanjut hingga Len meminta izin pada kakaknya untuk membuka mulutnya, membiarkan lidah Len bereksplorasi di dalamnya. Membiarkan lidahnya bermain di tempat yang selama ini tidak pernah terjamah olehnya. Suara kecupan panas mereka kadang diselipi erangan kecil dari Len maupun Rin. Dan tanpa sadar, posisinya berubah jadi menguntungkan bagi Len.

Semuanya adalah spontanitas. Tubuh mereka mengikuti alur yang terjadi di depan mata. Membutakan diri seutuhnya dengan peringatan-peringatan di sekitar mereka. Bergerak semakin liar tanpa peduli akan ada yang meneriaki dosa mereka. Mereka sudah cukup kenyang mendengarnya selama ini. Kini, mereka hanya memohon untuk dibiarkan sejenak bersama, berdua, menjalin hangat nafas yang sama, bersentuhan di titik yang sama, mendengar lantunan harapan yang sama.

"Mmh…" Rin menggeliat kecil dalam pelukan Len. Hawa panas melingkupinya, padahal ia yakin pendingin ruangan sudah menyala dengan suhu yang cukup dinging di malam hari seperti ini. Tapi, Len mampu membuat ruangan ini jadi lebih panas dari yang seharusnya. Bibirnya terus terkunci oleh pemuda itu. Lidah mereka bermain-main, sementara Len antara sadar tidak sadar mulai menggerakkan tangannya di balik baju Rin. Dengan refleks, Rin menghentikan gerakan tangan Len yang membuat bagian tubuh sensitifnya terasa geli. Len memang menghentikan gerakan tangannya, tapi tidak lama dan kembali melanjutkannya tanpa mempedulikan erangan penolakan dari bibir Rin. Sejujurnya, ia cukup suka mendengar suara erangan Rin yang seperti itu. Sangat menggoda telinganya.

"Ah.. mmh… Len…" Len membuka matanya yang tertutup dan melonggarkan sedikit ciumannya, mengizinkan Rin untuk bicara. Rin terengah dan wajahnya sangat merah, membuat pikiran Len semakin tidak terkontrol.

"Ja-jangan di situ…"

Sebenarnya Len tidak begitu menangkap makna yang diucapkan Rin, karena baginya itu terdengar seperti keluhan sekaligus permohonan. Kagamine Len mengerutkan alis karena bingung dengan kesimpulannya sendiri. "Lalu, aku harus menyentuhmu di mana?"

Rin memukul pundak laki-laki yang berada di atas tubuhnya yang memegang kendali penuh atas ruang geraknya. "Jangan mengatakan hal yang membuat aku malu!"

"Maksudmu… 'Jangan membuat aku mengatakan hal yang membuatku malu!', begitu, kan?" Len tersenyum penuh kemenangan, menatap gadis di bawahnya yang kini wajahnya semakin memerah karena kesal dan malu. Len tidak mau membuang waktu lagi. Ia kembali mengunci bibir Rin dan melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda. Sebelah tangannya kembali menyusup ke balik baju Rin dan mengusap dadanya, sesekali menekan bagian tengah bagian itu yang sedikit menonjol dibalik bra yang dipakai Rin. Gadis itu mengerang seketika dan spontan menarik rambut Len yang berada di atasnya, membuat ciuman mereka semakin dalam saja. Rin benar-benar tidak bisa menahan sensasi baru yang berkali-kali diberikan Len! Ia terus mendesah dibalik ciuman mereka, menggeliat risih, sekaligus terbuai dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan Len.

Len melepaskan ciuman mereka hanya untuk berpindah ke bagian leher Rin yang sejak tadi menjadi incarannya. Bibirnya yang meninggalkan jejak saliva bening melewati dagu dan rahang Rin, mulai mengecup erotis leher jenjang itu. Digigitnya nadi leher gadis itu, membuat Rin menjerit kecil dan mendesah tertahan ketika Len menjilati tempat gigitannya tadi. Tanda kemerahan mulai tersebar di leher dan pundak Rin dalam waktu beberapa menit saja. Sementara bibirnya terus bekerja di atas, tangannya kini merayapi bagian perut, menuju pinggul Rin yang bergerak-gerak merasakan kenikmatan di atas sana.


Let's become one; it's okay not to able to turn back.

That's fine, for you're my one and only love.


"Aah!" teriakan itu berasal dari bibir mungil yang kini membengkak kemerahan, membuatnya semakin ranum hingga membuat pemuda yang berparas sama dengan gadis itu ingin melumatnya sekali lagi. Rin menggerakkan bagian pinggul dan selangkangnya seirama dengan gerakan jari-jari Len yang bermain di dalam kewanitaannya. Desahan tidak berhenti keluar dari mulutnya. Bajunya entah sejak kapan sudah berada di lantai, begitu juga dengan Len. Berbeda dengan Rin yang sudah polos seutuhnya, Len masih mempertahankan celana panjangnya pada tempatnya, meski sesungguhnya ia merasa celananya itu semakin sempit dan ingin segera dilepasnya. Tapi, ia terlalu keras kepala untuk memindahkan jarinya dalam diri Rin.

Peluh membasahi tubuh mereka. Udara di sekitar mereka sungguh sangat panas. Meski begitu, tidak satupun niatan untuk saling melepaskan diri. Mereka malah semakin intim, menghapus segala jarak dengan cara apapun. Nafsu semakin menguasai keduanya. Lidah yang terus bergulat satu sama lain, tangan yang tidak henti-hentinya menyentuh titik-titk sensitf…

Kagamine Len menyapukan bibirnya di tempat mana saja yang terjamah olehnya. Ia menuju klitoris gadis itu, tempat lidahnya bermain selanjutnya. Ditusuknya lubang itu dengan lidahnya, kadang dihisapnya dengan kuat, dan kadang digigitnya klitoris Rin. Desahan Rin semakin menggilai keadaan. Tempat itu sudah lama basah, Len tidak perlu menyiapkan apa-apa lagi. Ia hanya butuh Rin tenang di saatnya nanti. Tanpa sepengetahuan Rin, ia menurunkan zipper celananya dan merangkak menuju Rin. Ia memegang sebelah pipi gadis itu dengan sedikit terengah.

"Rin… setelah ini mungkin akan sakit. Apa kau siap?"

Kenaifan merasuki Rin lagi. Apakah Len akan melakukannya sekarang? Pikirnya. Ia tidak merespon, hanya menatap Len tepat di manik mata pemuda itu. Ia tahu Len tidak main-main dengan apa yang telah—dan akan—mereka lakukan. Dan ia percaya pada laki-laki yang sedang menunggu jawabannya ini.

Rin mengangguk pelan, melingkarkan kedua lengannya di sekitar leher Len, menarik pemuda itu untuk lebih mendekat. Sebuah senyum terkembang di wajahnya yang cantik dalam ciuman yang diberikan Len tak lama ketika pemuda itu mendapatkan jawabannya. Rin siap lahir batiniah. Ia percaya Len tidak akan menyakitinya, meski faktanya itu memang hal yang sangat menyakitkan. Ia tidak menyangka rasanya akan begini sakit, maka ia gigit bagian bawah bibirnya untuk meredam teriakan yang mungkin saja akan menimbulkan kecurigaan bagi tetangga sebelah rumahnya.

"Nnh… ah! Len, s-sakit…"

Kagamine Len sedikit panik ketika menyadari air mata mengalir di wajah Rin. Wajah gadisnya itu tampak begitu kesakitan, padahal ia sudah berusaha sepelan mungkin untuk mengurangi rasa sakitnya. Tapi, sepertinya itu bukan ide brilian. Maka, ia menghujamkan dirinya sepenuhnya ke dalam Rin hingga membuat gadis itu terbelak. Tanpa sadar, Rin mencengkram kuat bahu Len hingga kukunya menancap kuat di kulit pemuda itu. Rasa perih menjalar di bahunya, namun Len tidak peduli. Ia harus menenangkan Rin sekarang.

"Maaf, bersabarlah sedikit. Tidak akan terasa sakit lagi nanti, percayalah," dengan itu, ia mencium lembut dan dalam gadis yang tengah mengerang kesakitan itu. Air mata masih saja merembes dari pelupuk matanya yang terpejam rapat. Rasa sakit yang menjalari bagian bawah tubuhnya berangsur hilang, seiring gerakan pelan Len dalam diri Rin. Dan dalam waktu sekejap, Rin mendapatkan kenikmatan luar biasa yang tidak pernah dirasanya seumur hidup.


I know as soon as we touch, we can't turn back,

but that's fine, for you're my one and only love.


"Ne, kita akan bilang apa pada ayah dan ibu?"

Rin bergelung dalam pelukan Len. Ia merapatkan diri ke tubuh Len yang tidak memakai sehelai baju pun saat ini, hanya ditutupi selimut merah muda tipis milik Rin. Len mengerjapkan mata dua kali, mengembalikan kesadarannya sendiri yang mulai menghilang. Dengan menggunakan tangan kirinya yang bebas, ia menggaruk rambutnya yang berantakan saat ini.

"Hm… aku tidak tahu."

Rin sedikit mengeryitkan alis. "Kita akan bilang atau tidak?" gadis itu sedikit mengatur kepalanya agar bisa menatap Len yang kini sedang menatap kosong langit-langit kamar Rin. Len masih saja terdiam. Kini, keraguan—dan mungkin ketakutan—mulai menggantikan perasaan damai di hati keduanya.

"Mungkin nanti ayah dan ibu akan marah. Mungkin juga mereka akan mengusir kita."

"Siapa peduli," gumam Len sangat pelan, seperti bicara pada diri sendiri ketika mendengar kekhawatiran Rin.

"He?"

Kini, gantian Len yang mengatur posisi agar bisa bertatapan dengan kekasihnya. Ia menggeser sedikit tubuhnya dan memiringkannya. Wajah Rin yang manis kini tepat berada lima sentimeter di hadapannya. Ia memandang Rin dengan serius.

"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memikirkannya—dan aku tidak mau memikirkannya. Setidaknya untuk sekarang," ujarnya dengan sedikit hela nafas lelah yang tersendat-sendat. Itu memang bukan hal kecil yang bisa diabaikan seenaknya. Namun, sungguh, sebetulnya Rin pun merasa sama dengan Len yang tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Terbayang berbagai adegan drama sinetron dalam otaknya kalau nanti ayah dan ibunya tahu hubungan mereka kini bukan lagi sebatas kakak dan adik.

Hening menyergap keduanya. Hanya suara nafas masing-masing yang menjadi satu-satunya suara dalam ruangan bernuansa pastel itu—selain bunyi pergantian detik dari jam dinding yang tergantung tepat di samping meja belajar Rin.

"Kalau tidak bisa, Rin mau bagaimana?" Rin masih termangu, namun pertanyaan Len masuk dengan baik ke telinganya. Suara Len berat, tersirat makna tidak rela bercampur pasrah dalam suaranya. Cukup memikirkan kemungkinan terburuk yang dipikirkan Len saja mampu membuat isi perutnya bergolak. Namun entah kenapa, ia merasa yakin sekali pada jawaban yang akan diberikannya.

"Entahlah. Aku akan mengikuti kata hatiku jika saat itu tiba." Tidak ada respon dari Len, maka Rin menggerakkan tangannya menuju punggung hangat cowok itu. Dada bidang Len mengatakan bahwa gadis itu tengah tersenyum sambil terus mencari kehangatan dari tubuhnya.

"Aku pun tidak mau peduli. Yang jelas, sampai kapan pun—"

Rin menengadahkan kepalanya dan menunjukkan wajah terlembut dan termanis yang tidak pernah dilihat Len sebelumnya. "—aku tidak akan mau berpisah lagi dengan Len. Kita akan bersama selamanya, ya?"

Kagamine Len tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kecemasannya, kerisauannya, ketakutannya, semua menguap begitu saja dengan sepenggal ucapan sederhana tanpa jaminanan yang dilontarkan Rin. Ia mendekap balik tubuh mungil di hadapannya, membuat jarak di antara mereka jadi nol. Perasaannya ringan sekarang. Dan tiba-tiba, ia merasa ingin tertawa geli sekarang.

"Kenapa?" tanya Rin ketika pemuda itu benar-benar terkekeh kecil.

"Tidak. Aku hanya merasa seperti bermimpi." Jawabnya singkat. Ia mengendorkan pelukannya hingga Rin bisa menatapnya langsung.

"Haha, kalau begitu, seandainya ini semua hanya sekedar mimpi, ayo kita rajut bersama mimpi ini. Kita buat mimpi ini menjadi indah dan manis." Sebuah ajakan yang manis, hingga membuat Kagamine Len terenyuh. Ia mengaku tidak bisa mengalahkan kakaknya—gadis yang selama ini lebih kuat berjuang sendirian melawan perasaannya sendiri. Kecupan yang lembut dan dalam itu diberikannya pada Rin sebagai tanggapan atas kata-kata Rin. Dipeluknya lagi kakak kembarnya itu—yang kini juga merangkap sebagai kekasihnya—dan membiarkan kenyamanan di sekitar mereka membawa mereka pada alam mimpi. Mimpi di dalam mimpi.

Biarlah jika ini semua hanya mimpi belaka. Jika kau mau, kau bahkan bisa mewujudkan semua mimpi-mimpimu. Seperti mereka berdua yang mimpinya terwujud namun memilih untuk tetap menganggapnya sebagai impian belaka. Mereka yang melawan takdir dan memilih menikmati dosa-dosa yang tersuguh manis di hadapan mereka. Asal berdua. Ya, asal tidak kehilangan satu sama lain, maka mereka akan bisa bertahan dalam permainan yang Tuhan beri untuk mereka.

Karena sejak awal mereka diciptakan sebagai satu. Karena mereka dilahirkan bukan untuk dipisahkan. Karena tidak akan ada pengganti yang tepat jika salah satunya menghilang. Karena mereka diciptakan sebagai pasangan.


Kami akan membuka lembar pertama buku dongeng kami, menuliskan prolog, bagian pertama, kedua, dan seterusnya… hingga epilog, dengan cerita-cerita manis seperti kisah tuan puteri yang hidup bersama pangerannya di istana mewah. Kami akan menuliskan dongeng ini sendiri—bersama.

Lihat baik-baik mimpi kami.


Even We are a Twin

End


Author's last words.

Sebelumnya saya mau minta maaf karena berani masukin lirik Magnet ke dalam fic. Saya tahu itu sesuatu yang dilarang di FanFiction, tapi petikan lirik Magnet itu dalem banget dan cocok dengan chapter lima ini! I really really can't help that! I'm sorry, FFn! :runcry

Yak, dengan ini, Even We are a Twin divonis TAMAT dengan… err, oke, menggantung. Saya emang sengaja ga bikin kisah mereka berdua menjadi semakin drama-drama ala sinet. Begini aja udah cukup dramanya.

Dan… serius, untuk last chapter yang panjang ini, saya mohon maaf banget. Kesalahan saya sejak awal tidak bisa mengomposisikan dengan baik jumlah kata setiap chapter. Sangat sangat tidak seimbang, dan jujur itu membuat saya sedikit muak dengan diri saya sendiri yang bodoh ini.

Akhir kata, gada lagi yang bisa saya ucapin kecuali TERIMA KASIH SEBESAR-BESARNYA sudah mengikuti cerita ini sampai habis. Seribu cium dari Len untuk kalian semua. Salam FanFiction! *nyodorin Len. Kabur*


R E V I E W jangan lupa!