Namaku Ciel Phantomhive―bukan, Earl Phantomhive.
Mengikat kontrak dengan iblis di usia yang kesepuluh. Cih!
Yang lebih sialnya, aku punya berbagai pandangan mengenainya, kini.
Rasanya, sebutan kekeluargaan yang kuidamkan dahulu, kini melekat padanya.
Sebastian Michaelis―nama yang kuberikan padanya―memang sial!
―Tertanda: Earl Ciel Phantomhive―
Arti Sang Butler
Disclaimer: Kuroshitsuji from Yana Toboso/Square Enix
Warning: Typo, dibuat se-IC mungkin―namun tetap OOC dirasa ;_;, Canon setting, Shounen-aimungkin. Drabble singkat SebastianXCiel.
Don't Like Don't Read!
Arti Sang Butler: 2011: M. Gabriella
―Teman―
"Ciel, mulai sekarang, kau adalah temanku, hehe!" Soma berteriak kegirangan sembari memeluk Ciel. Pemuda yang dipeluk itu hampir mati sesak napas, kalau saja butler miliknya tak menghentikan hal tersebut.
"Huh, kau ini berisik sekali! Sudah, aku mau tidur! Sebastian, antar aku!" Ciel memerintah dengan angkuh. Ia berjalan cepat segera setelah bungkukan dari Sebastian ia terima.
.
.
.
Sesampainya di kamar dan setelah mengganti baju sang majikan, Sebastian menyelimuti Ciel. Bocah itu masih melamunkan pelukan Soma tadi. 'Teman, ya... baru kali ini aku mendengar kata itu untukku setelah membuat kontrak dengan iblis itu.'
Sebastian sedikit heran dengan raut menekan dari majikannya. Segera setelah ia menyelimuti majikannya, ia bertanya.
"Ada apa, young master? Butuh saya temani sebentar?" Sebastian tahu, apa yang dia ucapkan lumayan tabu di jaman itu. Tapi ia tak peduli, kali ini. Ia siap apapun bentakan yang akan keluar dari mulut majikannya, segera setelah apa yang ia ucapkan.
"Ya, Sebastian. Ini perintah, temani aku."
Ciel Phantomhive memerintahkan butlernya dengan jawaban yang tak terduga. Sebastian tersenyum dan menggangguk patuh.
"Yes, my Lord."
Well, Ciel kini sadar, ia tidak pernah berhenti mendengar kata 'teman' setelah membuat kontrak dengan sang iblis.
Eh, iblis itu sudah ia anggap teman 'kan?
―Guru―
"Yak, pelajaran bahasa perancis dengan Madam Rena cukup sampai di sini. Segera persiapkan diri anda untuk menerima tutor dari saya untuk bermain biola, young master!" ucap Sebastian dengan senyum menghiasi wajahnya. Ciel hanya melengos lelah.
Kedua penghuni Phantomhive Mansion itu menderapkan langkah menggema dengan cepat.
.
.
.
"Kurasa cukup untuk hari ini, young master! Aku akan mempersiapkan afternoon tea!" ujar Sebastian dengan senyum manis. Ia melepas kacamatanya dan meletakkan di sakunya. Tutor darinya selesai untuk sore ini.
Ciel memilih mendiamkan butlernya. Ia meraih sofa terdekat untuk duduk, setelah capai berdiri untuk posisi bermain biola.
"Huh, dia memang cepat mengerti, kalau aku sudah lelah. Afternoon tea masih ada setengah jam lagi. Dan kurasa, butler itu tak butuh waktu lama untuk menyiapkannya," gumam Ciel sambil menutup mata.
Dengan angkuh, Ciel membuka mata. Ia berucap dengan sepelan mungkin.
"Kurasa, dia memang guru yang tepat untukku. Yang lainnya, tak paham kondisiku―seenaknya saja. Well, aku sulit mengakuinya," Ciel mendengus di akhir.
Dan memang, Sebastian sudah Ciel anggap sebagai guru terbaiknya, bukan?
―Panutan―
Kening Sebastian yang sedang menggendong Ciel―setelah membakar rumah Baron Kelvin―berkerut. Bagaimana tidak? Menyaksikan mansion Phantomhive hancur sebagian oleh ulah pelayan-pelayan luar biasa itu cukup menyakitkan mata.
"Young master, anda bisa turun sekarang. Saya harus mengurus kekacauan ini," ucap Sebastian ogah-ogahan. Ia menurunkan Ciel dan membiarkan pemuda itu berjalan santai kembali ke ruangannya. Sebastian menyusul setelah membereskan beberapa hal.
.
.
.
"Bla... bla... bla..."
Kendati Ciel bergaya meninggalkan Sebastian―yang mengomeli Bard, Maylene, dan Finnian―ia tetap mengikuti arah omelan Sebastian.
Bagaimana saat sang butler memarahi dengan berwibawa. Ingin sekali Ciel menjadikan itu sebagai contoh sikapnya. Contoh sikap dari butler yang telah membuat tiga penghancur―dalam arti denotasi yang sebenarnya―menjadi patuh pada perintahnya untuk menjaga rumah―walau tak sempurna.
Eh, tunggu! Apa pikirnya tadi? Menjadikan iblis sebagai panutan?
"Cih, hal bodoh apa yang membuatku menjadikan makhluk itu sebagai panutan?"
Ciel berbalik ke kamarnya, sembari melengos menghilangkan pikirannya.
Namun jauh, jauh di dalam lubuk hatinya... ia telah menganggap butler hitam itu sebagai panutannya; The Queen's Watch Dog.
―Ayah―
Sosok bocah yang bertengger di jendela sedang menatap iri. Menatap iri pada direksi dua ayah-anak yang melewati mansionnya* dengan santai dan bahagia.
Ciel Phantomhive sudah kehilangan sang ayah, Vincent. Bocah itu kini melamun, mungkin karena hal tadi. Hingga―
.
.
.
Tok. Tok. Tok.
"Young master―YA AMPUN! Wajah anda pucat sekali! Ada apa?"
Tanpa sadar, Ciel tersenyum tipis akan perlakuan butlernya. Ia menemukan kembali rona wajahnya.
Ya. Ia tidak perlu punya ayah lagi. Sudah ada sang butler yang siap bertugas sebagai ayahnya. Bertugas mengasuhnya, layaknya anak sendiri.
―Kakak―
"Dah, Ciel! Aku pulang dengan kakakku dulu, ya!" ucap Lizzi pada Ciel sembari melambai ria. Gadis itu baru saja dijemput sang kakak, setelah beberapa lama 'merepotkan' Ciel.
"Haah...," bocah itu menghela napas. Dirinya seumur hidup tak pernah punya kakak. Ditambah dengan kematian ibunya; itu sangatlah tidak mungkin.
Kadang, ia ingin dimanja. Diajari dan dijemput sosok kakak. Sementara ia menerawang―
.
.
.
"Young master! Jadwal selanjutnya adalah pelajaran memainkan biola. Saya siap menjadi tutor anda!"
―Dan ia hampir lupa, ia punya 'seorang' kakak. Yang akan selalu melindunginya, apapun yang terjadi.
―Cinta―
Kepala keluarga Phantomhive yang satu ini sedang menerawang. Mengingat kejadian di rumah Baron Kelvin. Saat dirinya kehilangan kendali akan pikiran masa lalu.
Saat ia merasakan pelukan dari sang butler. Saat ia memanggil namanya pasrah. Seketika, wajahnya memerah.
.
.
.
"Ada apa, young master? Wajah anda memerah? Anda demam?" Ditambah dengan masuknya orang yang kini ia pikirkan...
"KELUAR DARI RUANGANKU SEKARANG, SEBASTIAN!"
Yah, setidaknya, ia masih bisa menyimpan rapat. Rahasia terdalam dari hatinya.
Ia mengakui, sang butler telah menjadi bagian dari hidupnya. Butler yang berarti baginya sebagai teman, guru, panutan, ayah, kakak...
Dan sekarang, malah menjadi cintanya?
~fin~
A/N: Haish, gaje sagat. Pendek pula. Drabble hancur, ampuni saya. Maaf juga, karena setting Canon lagi. Sedang keranjingan ._.
.
Akhir kata, REVIEW!
