Okay! Ada lima orderan sejauh ini~
Cerita pertama adalah orderan MiZukO-AbuRaMe dan Hanna Akiyama~
Wahaha, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui! XDD
Karena Hanna-ssi bilang terserah mau lagu apa asalkan yang sedih-sedih, dan Mizuko-ssi mengusulkan lagu Seal yang Kiss From a Rose {uwaaa.. lagu fave Ome! Lagu fave Ome! *digampar~*}, maka Ome akan membuat fic iniii~!
Ome buat cerita ini agak angsty, dan yang pasti sedih deh~ mohon bantuannya yaa~ *kluk~*
Warning:
Slight angst~
Len's POV~
[…] Len's flashback~
Enjoy yah all~ *wink wink~*
Kiss From a Rose (Seal)
Nyeri..
Rasanya sakit..
Aku.. tak tahan lagi.. Tidak! Tapi..
PRAAAAAAAANGGG..!
Aku melempar botol obat yang sedari tadi kugenggam hingga pecah dan isinya terburai di hadapanku. Pil-pil yang senantiasa menemani hari-hariku yang tidak normal.
Bodoh, rutukku.
Harusnya aku tak melakukan hal sebodoh itu.
Karena tanpa pil-pil itu, mungkin aku sudah lewat dan tak lagi bisa melihatnya.
Tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat di dadaku. Aku hanya bisa mencengkeram dadaku yang tersembunyi di dalam baju yang kukenakan.
Sambil masih terus memegang dada, aku mencari-cari di mana botol pil yang lain tersimpan. Terus merutuk dalam hati.
["Tapi Len, kau tak boleh tergantung pada obat saja! Kalau kau kebanyakan makan obat, kau bisa mati!"]
Persetan dengan kematian, saat aku menantikannya, bahkan kematian itu tak pernah datang menjemputku!
Mataku tertuju pada sebuah kotak yang diberi gembok yang ada di atas lemari. Aku ingat aku pernah secara 'tak sengaja' melihat Rin mengunci semua pil-pilku di sana.
Perlahan aku mengulurkan tanganku, mencoba meraih kotak tersebut, seharusnya aku bisa mendapatkannya, tapi..
BRUUUKKK..!
"Len.. Kau ada di.. ya Tuhan!"
Beberapa saat kemudian..
Kubuka mataku perlahan, amat perlahan. Sakit mulai menjalari seluruh tubuhku.
"Len.. kau tak apa-apa?"
"Rin.." aku hanya bisa merintih lemah seperti pesakitan.
"Huft, Len! Aku sudah bilang kan, jauhi kotak itu? Jadi seperti ini caramu melewati hari-hari selama diskors?" repetnya.
Ah, ya. Aku lupa memberitahu kalian kalau aku saat ini mendekam di rumahku karena diskors. Sebenarnya aku tinggal berdua di rumah ini bersama dengan kakakku, Lily, yang sangat jarang pulang ke rumah ini, jadi jangan tanyakan soal keluargaku.
"Aku sangat butuh obat itu, Rin.." lirihku lagi.
"Tidak! Sekali tidak tetap tidak! Aku akan terus merawatmu sampai kau sembuh nanti, dan itu takkan kulakukan dengan pil! Mengerti?" ia menatapku tajam.
Aku hanya bisa mengangguk lemah.
"Bagus.." ia menepuk rambutku, memberikan sedikit kehangatan di pipiku.
Aku menyadari ada sekelebatan warna merah di dalam keranjang yang entah sejak kapan ada di atas meja di samping tempat tidurku. Merah seperti..
"Mawar?"
Ia mengangguk.
"Kau tahu aromaterapi tidak, Len?" aku menggeleng.
"Wangi mawar itu bagus untuk menyembuhkan orang sakit. Itu yang namanya aromaterapi.."
Rrrrrrrrrrr….
"Eh, sebentar Len, handphoneku.." ia merogoh saku roknya dan menjawab telepon itu. Beberapa saat kemudian ia mematikannya dan menoleh padaku.
"Len, aku.. tak bisa lama-lama. Ibu menungguku di rumah," kulihat raut wajahnya yang menatapku kosong, meskipun ia tersenyum kecil.
Jangan!
"Eh? Ada apa, Len?"
Aku tersentak. Kedengaran ya?
"Ya sudah. Aku cuma bisa berdoa kau baik-baik saja, Len.."
Ia mengecup dahiku lembut. Rasanya sangat aneh, namun.. kurasa aku ingin lagi..
"Len..? Hyaaa.."
Aku menarik lembut tangannya, membuat wajahnya jatuh di dahiku lagi. Tangan itu tak kulepas selama beberapa saat, meskipun ia mencoba untuk meronta. Tapi aku tak bisa berlama-lama memegang tangan itu erat, karena jemariku bergetar hebat, membuat peganganku menjadi lemah.
"Apa yang tadi kau lakukan, Len? Aku kaget, tahu!" ia memalingkan wajahnya yang merona. Saat kulihat sapuan warna itu di pipinya, aku merasa sepertinya mataku melebar. Cahaya di wajahnya semakin berseri. Perasaan apa ini?
"Ma.. maaf.." hanya itu yang bisa kugumamkan.
"Aku.. pergi dulu, Len," ia beranjak pergi meninggalkanku. Aku ingin menahannya, tapi tak bisa. Badanku masih terasa lemah.
Tetapi wangi mawar itu seolah memberiku kekuatan.
Beberapa hari kemudian..
Sepertinya aku merasa keadaanku membaik. Meskipun nyeri di dada itu masih ada, namun tak sehebat dahulu. Aku berbaring di tempat tidurku, melayangkan pandang ke arah langit-langit kamar. Redup. Aku tak suka kamar yang terlalu banyak cahayanya. Bagiku itu menyakitkan mata.
Tok tok..
Ketukan di depan pintu rumah menyadarkanku. Aku melompat dari tempat tidur dan dengan setengah berlari aku pergi menuju pintu rumah dan membukanya
"Kak Li.."
Tidak, bukan Kak Lily yang ada di sana, tapi Rin.
"Len? Mengapa memanggil nama Kak Lily?" tanyanya polos.
"Eh.. uh.. tidak apa, Kak Lily belum pulang juga, jadi.."
"Aku temani Len, ya?" potongnya.
Mataku melebar, terkejut.
"Tapi nanti mamamu datang dan memakiku karena aku menyembunyikan anak gadis orang di rumahku," kataku. Aku tahu itu karena itu pernah terjadi padaku beberapa waktu yang lalu. Ibunya tak ingin anaknya bergaul dengan anak bermasalah sepertiku.
"Tenang sajalah, Len. Ngomong-ngomong, hari ini dingin sekali. Aku masuk, ya?" katanya. Ia melepas sepatunya dan menentengnya setelah aku mempersilakannya masuk.
"Bagaimana, Len? Sudah beberapa hari ini kau kutinggal dan berharap kau tidak minum obat itu lagi," ia duduk di sofa ruang tamu.
Ya, demi gadis itu, aku melawan keinginanku untuk meraih obat-obatan itu lagi. Mungkin itu yang membuatku merasa semakin membaik.
"Iya, aku tak menyentuhnya lagi," aku menundukkan wajah.
"Oh ya Len, aku bawa mawar lagi. Yang di kamarmu pasti sudah layu, kan? Cepat dibuang ya, itu pertanda sial kalau.."
"Tidak mau," potongku singkat.
"Eh?"
"Habis, itu dari Rin. Aku.. nggak tenang kalau tidak ada itu dalam kamarku," gumamku.
"Kan aku bawakan mawar baru. Yang lama buang saja, ya?" pintanya.
Aku mengangguk lemah.
Hening..
Rin meraih setangkai mawar, lalu mendekatkannya ke bibirku. Terasa lembut. Ia terkikik.
"Ngapain sih?" tanyaku.
"Aku cuma iseng kok.." ia mengecup mawar itu. Rona wajahnya menjadi sewarna dengan mawar itu.
"Rin.."
Kulihat air mata mengalir di pipinya. Apa ia menangis?
"Len.. maafkan aku.." ia mulai terisak, membuat hatiku semakin sakit. Aku mencengkeram dadaku, mencoba merenggut nyeri yang merayap di dalam tubuhku.
Tanganku yang lain meraih setangkai mawar yang lain, dan kuhapus air mata itu dengan sapuan mawar tersebut. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang aku tak mengerti artinya.
"Len.. maaf, mungkin setelah ini aku.."
Tok.. tok..
Pintu rumahku ada yang mengetuk. Aku menatap Rin, lalu beranjak membuka pintu.
Bukan Kak Lily.
"Apa ini rumah Len?" tanya pemuda di hadapanku ini. Aku mengangguk.
"Apakah di sini ada Nona Rin? Aku ingin menjemputnya.."
"Kaito! Sudah kubilang, kau jangan datang ke mari!" tiba-tiba Rin sudah muncul di belakangku. Aku mendadak bingung, apa hubungan kedua orang ini? Apakah itu..?
"Rin, acara pertunangan kita akan dimulai beberapa jam lagi, kita harus cepat pulang.."
Hatiku seperti tersambar petir. Pertunangan, katanya?
Aku menoleh ke arah Rin yang menundukkan wajahnya dan mencengkeram erat bagian bawah bajunya. Air mata menetes jatuh, membuatku menangis dalam hati.
"Tapi aku.."
Orang itu memegang tangan Rin dan membawanya mendekat ke arahnya.
"Terimakasih telah menjaga Rin dengan baik. Aku pikir kau tidak seperti apa yang dikatakan ibunya, maka aku berterimakasih padamu. Semoga harimu menyenangkan.."
Bayangan mereka lenyap ditelan pintu. Aku hanya bisa menatap ke depan dengan pandangan kosong.
Nyeri..
Rasanya sakit..
Aku.. tak tahan lagi..
Aku berlari menuju lemari dan menggapai kotak di atasnya. Dadaku terasa semakin sakit, dan hanya satu yang aku lakukan bila keadaannya sudah separah ini.
Aku membanting kotak itu, memukul-mukulnya dengan palu yang ada di samping lemari itu. Aku tersenyum hampa saat melihat botol-botol pilku yang masih utuh. Dengan cepat aku membuka salah satunya, lalu memasukkan semua isinya ke dalam mulutku setelah aku meminum seteguk air. Aku tak peduli kematian, tak peduli akan semuanya. Aku tak bisa memiliki Rin di dunia fana ini, maka aku akan menunggunya di alam sana.
Setelah meminum seteguk lagi air, aku merasa seperti ada yang menghantam dadaku dengan teramat kuat. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, aku tak bisa merasakan desah napas dan detak jantung. Inilah dia, saat akhirku telah tiba..
Diiringi harum bunga mawar yang merona.
Gimana? Gajekah? Aneh?
Hanna-ssi, Mizuko-ssi, itu tadi RinLen nya! Sedih, cinta yang nggak kesampaian.. D:
Ada yang mau disampaikan dari songfic pertama ini? Silakan! Buat deeys-ssi, orderannya ada di chapter selanjutnya ya! XD
