Yap! Cerita kedua, orderan deeys-ssi~
Seeep! Neh lagu keren sangat! Lagipula liriknya pun ngena di hati Ome! XDD
Dan ini, baru pertama kali Ome bikin BL fic, meskipun Ome fujoshi siihh~ *ciah ngaku diaa~ -digampar readers-*, jadi kalau rada aneh dan kurang mesra Ome minta maaf yaa~
Langsung ajah, orderan deeys~
Warning:
slight yaoi, everyone? :3
Enjoy yah all~
Tenda Biru (Desy Ratnasari)
"Hey, Len-chan.."
Pemuda berambut kuning itu hanya terdiam saat tangan itu mengguncang pelan bahunya. Ia hanya termenung tiada daya.
"Len-chan, kau.. ada masalah apa?" tanya pemuda yang tadi mengguncang bahunya.
"Kaito.." Len menghela napas berat, lalu menyandarkan kepalanya di atas bahu pemuda itu.
"Len-chan ada masalah apa sih? Cerita ke Kaito dong.." tangan Kaito mengusap lembut jemari Len.
"Tugas Kimia nya Sonika-sensei, aduuhh.. aku pusing Kaitoo..~" Len memeluk erat pinggang Kaito.
"Lah, siapa yang suruh Len-chan masuk IPA coba, harusnya Len-chan ikut Kaito masuk IPS dong. Biar kita bisa bareng gitu," tangan yang tadi digunakan Kaito untuk mengusap jemari Len pun pindah ke rambutnya, membelai lembut helaiannya.
"Tapi Kaito kan kakak kelas Len, kita juga nggak bisa bareng tahuu..~" Len memeletkan lidahnya setengah hati. Kaito hanya terkikik.
"Tenang aja yah Len, Kaito akan selalu ada buat Len kok.." Kaito memandang lembut adik kelasnya yang sangat disayanginya itu. Len balas menatap Kaito dengan tatapan penuh cinta.
"Uhem! Apa kalian tidak sadar sekarang jam berapa hah? Waktu istirahat sudah habis! Segera kembali ke kelas!" suara membahana Kiyoteru-sensei mengacaukan suasana syahdu yang dirajut dua insan itu. Dengan langkah tergopoh-gopoh dan wajah blushing hebat, mereka segera kabur ke kelas masing-masing. Kiyoteru-sensei mengekor di belakang Kaito, tanda ia akan mengajar di kelas pemuda itu.
"Selamat siang semuanya!" sapa Kiyoteru-sensei, membuat Kaito sedikit bergidik.
"Selamat siang, Sensei!" balas murid-murid yang lain, termasuk Kaito.
"Waktu itu kita ada PR kan? Halaman 205 bagian A kalau saya tidak salah.." Kiyoteru-sensei menaikkan kacamatanya, membuat para murid menelan ludah ketakutan.
"Kaito Shion! Saya ingin melihat PR yang kamu kerjakan!"
DEGG! Debaran jantung Kaito semakin berpacu. Dengan kadar percaya diri tipis ia menyerahkan buku PRnya pada Kiyoteru-sensei. Dengan dahi berkerut ia memperhatikan setiap tulisan di buku tersebut.
"Kaito! Saya mau kamu lihat lagi pekerjaanmu, apa sudah benar atau belum!" Kiyoteru-sensei mengembalikan buku itu pada Kaito yang mukanya sudah mulai cemberut. Sayur lah, udah sampe jam sepuluh malam pun kukerjakan PR nista ini.. batin Kaito sambil merutuk-rutuk dalam hatinya.
"Kamu tadi menggumamkan apa?"
JLEB! Sebatang pisau imajiner menusuk jantung Kaito. Sarap dah, kedengarankah yang tadi?
"Ah, ti.. tidak apa-apa kok Sensei.." Kaito mengusap-usap tengkuknya, bingung ingin berlaku seperti apa.
"Kamu mau saya panggil ke ruang guru setelah pulang sekolah?" tanya Kiyoteru-sensei, membuat Kaito makin bergidik.
"Uh.. eh.. kabur aja sayah Sensei, huehehehee.." Kaito cepat-cepat kabur dan kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Kiyoteru-sensei yang asyik berdecak karena kelakuan murid sablengnya itu.
Pulang sekolah..
"Len, habis ini aku mau pergi! Kamu nggak mau ikut, kan?" tanya Rin, saudaranya saat mereka berdua berjalan bersama menuju rumah.
"Nggak ah, palingan juga arisan lagi sama yang lain. Kayak nggak ada kerjaan laen aja~" Len memeletkan lidah.
"Yang ini dijamin seru loh! Tapi Len nggak mau ikut, ya sudahlah~" Rin membuka kunci pintu rumah mereka dan masuk ke dalam diikuti oleh Len.
"Ya udah, aku tidur aja. Pintunya kunci aja dari luar," Len ngeloyor masuk ke kamarnya. Rin hanya menggelengkan kepala pelan. Ni orang sarap ada-ada aja ya..
Rin pun segera berdandan, lalu saat mendengar bunyi bel pintu dipencet, ia berlari tergopoh-gopoh membuka pintu.
"Rin-chan! Wah, jadi juga pergi ke acara kawinan pembantunya si Kaito! Len mana? Kok nggak diajak?" Miku celingak-celingukan mencari si rambut kuning bergender laki-laki itu.
"Males ajak Len. Kita langsung pergi aja yuk entar keburu telat lagi.." Rin menggandeng tangan Miku.
"Acaranya di warung pecelnya Bang Emet kan?" tanya Miku, memastikan tempat acara tersebut akan digelar.
"Iya, depan rumah Kaito persis, tuh, kalau nggak salah. Yang tendanya biru bukan?" Rin balik bertanya.
"Udah ah, yang penting kita harus ketemu Kaito dulu, karena warung pecelnya ada di depan rumahnya!" Miku 'menyeret' Rin agar si rambut kuning bergender perempuan itu mengikuti langkahnya.
Sementara itu, di rumah, Len merasa bosan sekali. Biasanya, kalau sedang bosan begini, Len bakal pergi ke warnet langganannya di dekat sekolahnya. Maklumlah, main game di warnet lebih seru daripada di rumah. Segera Len melompat dari kasurnya dan cepat-cepat mengambil sepedanya dan mengayuhnya menuju warnet tersebut.
Warnet, come to Papa!
Di warung pecelnya Bang Emet..
"Selamat ya, Bibi udah ketemu jodoh!" Kaito menyalami Satinah, pembantunya yang tengah dirias cantik itu. Kebaya pengantin agak ketat membungkus tubuhnya yang lumayan molek. Ia hanya tersenyum.
"Makasih 'Den, udah ngucapin selamet buat Bibi. Oh ya 'Den, nggak usah nungguin Bibi di sini, Bibi masih lama siap dandannya loh," tukang rias paling canggih sekampung masih sibuk membenahi dandanan Bi Satinah. Kaito mengangguk pelan.
"Ya udah deh, Kaito keluar dulu ya, Bi?" Kaito meninggalkan Bi Satinah dan keluar menuju tempat acara, warung pecel Bang Emet yang beratapkan tenda biru yang teduh dan beralaskan tanah kering. Mata Kaito menangkap lambaian janur kuning yang bertuliskan huruf S dan H, inisial kedua mempelai.
"Aduh panas.." gumam Kaito sambil duduk di atas pelaminan pengantin yang masih belum menjadi singgasana sehari para mempelai. Datanglah sosok Kiyoteru-sensei yang memarkir Vespa nya.
"Loh? Kiyo-sensei dateng toh?" Kaito menunjuk ke arah Kiyoteru-sensei dengan muka inosen.
"Loh, kau datang juga, Kaito?" balas Kiyoteru-sensei sambil duduk di samping Kaito, di atas pelaminan.
"Sen.."
"Hei hei, aku bukan gurumu di sini tahu," Kiyoteru-sensei *di deathglare karena ngbantah perintah guru*, ah, maksudnya Kiyoteru mengacak-acak rambut Kaito dengan gemas.
"Aduuhh.. rambutku yang keren ini berantakan tauk. Nanti aku jadi jelek gimana?" Kaito merapikan rambutnya dengan heboh. Kiyoteru hanya tersenyum mesem-mesem.
"Tapi Kaito tetap paling keren kok,"
Ucapan Kiyoteru tadi membuat jantung Kaito berdebar semakin kencang. Tubuhnya bergetar, dan tiba-tiba..
GDUBRAAAAKKKK!
"Astaga, pelaminannya jatuh!"
"Oalaaahh..! 'Den Kaito ndak apa-apa?"
Pelaminan itu oleng dan jatuh, sehingga badan Kiyoteru menimpa badan Kaito.
"A.. a.. a.. Ki.. Kiyo-san.. eee.."
Sementara itu, saat kejadian nista itu berlangsung, Len yang tak sengaja lewat warung pecel Bang Emet itu pun menjadi syok.
WATDEHEL…?
Kaito dan Kiyoteru-sensei..
Timpa-timpaan berdua!
Dada Len terasa sakit, bibirnya bergetar.
"Ka.. Kaito-kun..?"
"Heh? Itu Len?" gumam Kaito, masih tertimpa Kiyoteru yang masih belum meloloskan pemuda itu. Dengan sekuat tenaga Kaito berontak dan berlari ke arah Len yang mulai terisak.
"Len, ada apa datang ke sini?" tanya Kaito yang sedikit heran kenapa Len datang ke pesta kawinan dengan kaos, celana pendek dan sandal jepit, meskipun lokasi acaranya ada di warung pecel bertenda biru.
"Udah kagak ngasih tahu, masih sukur ada yang mau baik hati ngasih tahu. Bukannya minta maaf sama Len, Kaito malah.. malah..!" Len memukul-mukul badan Kaito sebagai pelampiasan. Kaito hanya meringis kesakitan.
"Maaf ya Len, tapi waktu itu aku udah minta tolong Miku supaya dia kasih tahu Rin, supaya Rin bisa ngajak Len pergi.."
"Tapi kenapa nggak ngajak Len langsung sih?" potong Len yang naik darah karena pernyataan gaje pemuda yang amat disayanginya itu. Sebelum Kaito mengatakan sepatah kata pun, Len segera menjauh dan mengambil sepedanya.
"Kaito jahat! Malah asik-asik sama orang lain, timpa-timpaan di pelaminan! Aku nggak mau ketemu Kaito lagii..!" pekik Len sambil memacu kencang sepedanya, pulang.
Kaito hanya bisa menatap Len yang laju sepedanya semakin kencang. Muncullah sosok Kiyoteru di belakangnya.
"Tuh kan! Len jadi salah paham! Salah Sensei sih!" Kaito meninju bahu Kiyoteru.
"Dah dibilangin, di luar sekolah aku bukan gurumu! Dan yang tadi itu, aku nggak bisa berdiri karena kepalaku sakit, kepentok sama kepalamu!" dumel Kiyoteru sambil memijit-mijit bagian kepalanya yang sakit.
"Kiyo-san tega amat sih!"
"Malah kamu lebih tega lagi,"
"Mau tanding-tandingan siapa yang lebih tega?"
"Siapa takut?"
Sementara itu, Satinah Permatasari dan Hari Emetsyah, kedua mempelai hanya cengo menatap kejadian yang menimpa mereka kali ini. Udah pelaminan hancur, ditambah kehebohan yang ditimbulkan para chara Vocaloid yang mendadak sarap ini. Kacau deh pernikahan yang sederhana ini, di bawah tenda biru warung pecel.
Sabar yah, Bi Satinah, Bang Emet..
Selamat menempuh hidup baru.. *author sarap dibakar Kaito, Len dan Kiyoteru*
Gimana? Gimana? OOC sekali kan?
Hueee.. maafin Ome kalau agak-agak aneh gitu, nggak tahu jadinya kayak gini aja~ O.O
Tapi makasih loh, deeys-ssi udah ngorder. Kalau mau order lagi boleh, pairing sama nggak masalah asal lagu beda :3
*author diinjek sampe rata~*
Masih ada beberapa orderan lagi toh? Nanti akan Ome publish, ceritanya udah mau selesai siihh~ Mohon maklum yaahh~
Kalau masih ada yang mau order atau ada yang mau diutarakan, jangan sungkan untuk memberitahu ya! ^^~
