Orderan berikutnya! Kagamine Byaku, ini udah Ome buatkan! :3

KaitoRin yah? Pasangan yang imut! XDD

Uhuhu, another sad story niihh~ I luvv sad story~


Warning:

{…} Rin's flashback~

Enjoy yah all~


Mimpi (Anggun)

Zzrrrsssshhh…

Gadis itu menahan helaian rambutnya yang beterbangan ditiup semilir angin pantai. Suara ombak menabrakkan diri ke karang-karang tajam yang ia tapaki terdengar semakin jelas, tetapi ia tak bergeming.

Mata biru kehijauan itu menatap lurus ke arah laut lepas. Tatapan hampa. Kosong.

Ia menghela napas panjang. Tadinya ia ingin mengucapkan sebuah nama, namun getaran yang ia rasakan di bibirnya menahan perasaan itu.

Ia mengambil sebuah lempeng batu yang menyelip di karang, lalu dilemparkannya.

Tidak, tidak berhasil.

Aku tak bisa membuatnya melompat beberapa kali seperti yang ia lakukan.. batinnya gelisah.

{"Nih, Rin! Perhatikan! Yang ini mah gampang!"

Seorang pemuda melemparkan sebuah batu dengan gaya tersendiri, sehingga batu itu melompat beberapa kali sebelum tenggelam di laut lepas. Gadis itu tersenyum senang sambil memeluk lengan pemuda itu.

"Kaito hebat deh! Ajarin Rin dong~" pintanya. Pemuda yang dipanggil Kaito itu hanya terkikik geli melihat tingkah gadis yang sangat disayanginya itu.

"Ya udah ini Kaito ajarin, pertama.."

Dengan sabar pemuda yang dipanggil Kaito itu mengajari gadisnya bagaimana cara melemparkan batu dengan baik dan benar. Rin, gadis itu, masih belum bisa melakukannya dengan baik, tapi ia tetap kukuh pada pendiriannya.

"Pokoknya aku mau bisa seperti Kaito!" pekiknya.

"Iya, tapi kita harus pulang, Rin. Hari sudah malam. Gadis-gadis nggak boleh keliaran malam loh.." Kaito menepuk rambut gadis itu.

"Tapi..!"

Tatapan lembut Kaito membuatnya menahan rengekan yang akan dilancarkannya. Egonya pun melemah.

"Baiklah. Ayo kita pulang, Kaito-kun.."}

Pulang..

Mengapa sebegitu cepat ia pulang?

Gadis itu merasakan air mata yang membayang di pelupuk matanya terjatuh, menelusuri pipi ranumnya. Biasanya, saat Kaito melihatnya seperti ini, ia akan mengulurkan jemarinya dan mengusap air mata itu dengan perlahan. Namun..

Siapa yang akan mengusap air matanya kini?

Semua sudah berlalu..

{"Rin.."

Gadis itu terdiam. Ia sedang berusaha menahan emosinya agar tidak meluap dan menyusahkan pemuda yang sedang duduk di sampingnya dan menggenggam erat tangannya itu.

"Rin, dengar. Bukannya aku tidak setuju dengan pendapatmu, tapi aku juga memikirkan pendapat ibumu, Rin. Mungkin terlalu cepat bagi kita untuk menjalin hubungan yang serius seperti..."

"Kau jahat, Kaito!" pekiknya.

Kaito tersentak. Harusnya dia maklum, terkadang gadisnya itu memang bertindak semau dirinya dan tidak berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, sehingga Kaito yang usianya lebih tua dari gadis itu hanya bisa menasehatinya dengan lembut dan memberikannya pengertian agar ia mengubah sedikit sifat itu, namun..

Belum pernah ada kata seperti itu keluar dari mulutnya saat ia tak setuju dengan pendapat Kaito.

"Rin, mencintaiku bukan berarti kau harus menjadi pacarku. Bukannya aku tak mau menjalin hubungan lebih serius denganmu, karena aku pun mencintaimu. Tapi, kau masih muda, Rin. Jalanmu masih panjang," Kaito mengelus lembut punggung Rin, berusaha menenangkannya, tapi tangan itu langsung ditepis Rin.

"Tapi aku hanya mau kamu saja, Kaito! Aku hanya mau kamu!" Rin mulai menangis. Kaito hanya bisa menghela napas panjang.

"Rin, kumohon. Pergunakan akal sehatmu dan pikirkanlah ini demi masa depanmu. Masa depan kita.."

Kedua tangan Rin mendekap pemuda itu erat, tak ingin melepasnya.

"Aku sayang Kaito.."

Kaito hanya bisa memejamkan matanya sejenak, merasakan hangatnya dekapan itu sebelum ia menyambutnya.}

Ia sudah berusaha semampunya.

Menahan semua gejolak emosi itu demi orang yang amat dikasihinya.

Lalu, sekarang apa?

{"Kaito, kita pergi ke pantai yuk?"

"Halo? Maaf, Rin.. hari ini aku nggak bisa ikut.."

"Kenapa?" potongnya.

Dari seberang sana, Kaito hanya bisa menghela napas pelan.

"Hari ini ada rapat OSIS, buat acara pensi bulan depan. Sibuk banget nih.." suara Kaito terdengar serak.

"Kaito ah! Bentar aja dehh.. mau ya?" rengek Rin lagi.

"Maaf Rin, aku nggak bisa. Lain kali aja, ya?" Kaito berusaha berbicara dengan nada suara senormal mungkin.

"Kita kan udah seminggu nggak jalan! Atau jangan-jangan Kaito ada apa-apa nih?"

Tuhan! Kaito menepuk dahinya. Kenapa lagi dengan tuan putriku ini?

"Aku sayang Rin, jadi aku nggak akan macam-macam sama yang lain. Tapi.. ah iya! Sudah dulu ya Rin, aku dimarahi Meiko nih. Nanti sambung lagi ya.."

"Ah, Kai.."

Teleponnya terputus sebelum Rin sempat menyelesaikan kalimatnya.

Gejolak-gejolak negatif yang menguasai pikirannya membuatnya memutuskan untuk menyusul Kaito ke sekolah. Saat ia hendak memasuki ruang OSIS, langkahnya ditahan Miku, kakak kelasnya yang baru selesai ekskul dance.

"Rin-chan? Mau cari Kaito? Mereka masih rapat OSIS tuh, nggak bisa diganggu!" sahut Miku. Rin hanya bisa tertunduk lemas. Ia harus menunggu.

Setengah jam kemudian, Kaito dan anggota OSIS lainnya keluar dari ruangan. Pemuda itu terkejut saat melihat Rin yang sudah lama menungguinya.

"Rin? Kenapa pakai acara nunggu segala? Sudah bilang Mama belum?" tanya Kaito heran.

"Aku pengen tahu Kaito lagi apa, jadi aku datang ke sini!" seru Rin.

"Tapi Rin, kita semua harus konsentrasi karena pensi kali ini bakal lebih wah dari tahun lalu, jadi persiapannya.."

"Kaito orangnya gitu! Pake alasan sibuk-sibuk gitu! Rin kangen sama Kaito!"

Rin menatap wajah Kaito yang entah kenapa terlihat pucat.

"Rin, aku juga kangen Rin. Tapi kerjaan ini.."

"Kaito jahat!" pekik Rin sambil berlari meninggalkan Kaito. Pemuda itu lalu mencoba mengejarnya, meskipun lututnya entah mengapa terasa lemas dan pandangannya mengabur.

"R.. Rin! Tunggu! Rin!" Kaito memanggilnya dengan suara serak, tapi Rin tidak mengindahkannya, sampai akhirnya..

BRUKK..!

"Kaito!"

"Astaga, Kaito pingsan!"

"Cepetan bawa ke UKS!"

Rin menoleh ke belakang, menemukan Kaito yang ia sayangi digotong oleh teman-temannya anggota OSIS menuju UKS.

Di UKS..

"Sepertinya Kaito menderita kelelahan.."

Kiyoteru-sensei membetulkan letak kacamatanya, lalu menghela napas panjang.

"Kelelahan kenapa, Sensei?" tanya Rin cemas.

"Yah, bisa jadi dia terlalu banyak kegiatan. Apalagi ia menjadi ketua panitia untuk pentas seni tahun ini,"

Rin menelan ludah.

"Sepertinya Kaito terlalu memaksakan dirinya untuk total dalam kegiatan ini. Jadi, saya harap ada yang bisa mengontrol perilakunya itu, kalau ini terus dibiarkan, maka kondisinya akan semakin melemah.."

Rin menatap Kaito yang masih terbaring lemah di tempat tidur UKS. Kaito tidak berbohong. Beberapa hari ini ia sibuk sekali karena acara itu.

Tapi tetap saja Rin tidak terima kalau waktu Kaito hanya terpakai untuk itu saja.

"Rin, sebaiknya kamu segera pulang ke rumah. Soal ini akan Sensei beritahukan pada orangtuanya agar ia segera dijemput," ucap Kiyoteru-sensei. Mau tak mau Rin mengalah, ia tak mau Kaito yang ia sayangi jadi makin kesusahan.}

Rin merapatkan kardigannya. Angin pantai terasa menusuk di kulitnya. Tetapi rasa dingin itu tidak membuat air matanya mengering, malah semakin deras mengalir.

"Kaito.." lirihnya.

Tak ada jawaban.

Rin menghela napas panjang, lalu menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan.

"Rin?"

Suara yang sangat ia kenal.

"Rin? Uhuk, itu kau, kan?"

Rin menoleh ke belakang, ke arah sumber suara.

"K.. Kaito?"

"Huft, sudah kuduga kau ada di sini.." Kaito berjalan mendekati Rin.

"Kudengar sudah dua harian ini kau menghilang dari rumah, dan yang jelas bukan ke rumahku. Ternyata kau ada di sini," Kaito memperketat sedikit lilitan syal di lehernya.

"Kaito.. kau kan.. masih sakit.." gumam Rin sambil menangis.

"Iya, aku masih sakit. Dan aku ke sini mencarimu tanpa sepengetahuan.."

"Tapi kau kan masih sakit!" teriak Rin memecah kesunyian. Debur ombak menderu mengiringi isaknya.

"Rin, aku khawatir, kalau kau kenapa-napa, kau bisa.."

"Bodoh! Kau bodoh! Aku sudah coba menekan egoku agar kau tidak kesusahan, tapi malah kau yang.."

"Ego apanya, hah?" Kaito menggenggam pergelangan tangan kiri Rin erat.

"Hal seperti ini kau bilang menekan ego? Justru dengan kepergianmu tanpa pamit dari rumah menandakan kau masih belum menggunakan akal sehatmu, Rin! Sadarlah sedikit!"

"Kau sendiri yang tidak sadar akan kesehatanmu sendiri! Selama ini aku tak mengganggumu lagi karena aku ingin kau cepat sembuh, Kaito!"

"Tapi aku takut kau kenapa-napa Rin! Kau masih muda, dan kau perempuan! Bagaimana kalau kau.."

"KAITO!"

Pemuda itu tersentak.

"Maafkan aku Rin. Harusnya aku tidak terlalu memaksakanmu seperti ini. Aku pulang dulu deh.." Kaito melangkahkan kakinya yang terasa sedikit limbung menyeberangi jalan yang tak terlalu lebar, ia tak menyadari ada mobil yang melaju kencang yang tengah melintas di jalan tersebut sampai..

"KAITOOOOO…!"

Beberapa hari kemudian..

Air mata membasahi pelupuk matanya. Tak seharusnya dibiarkannya itu terjadi hingga akhirnya menjadi seperti ini.

"Sudah kubilang, jangan memaksakan egomu.. Rin.."

Kaito mengelus dahi Rin yang dibalut perban dengan lembut. Ya, saat itu bukan Kaito yang menjadi korban tabrak lari tersebut, tapi Rin yang dengan ceroboh menyelamatkan pemuda itu dan membiarkan dirinyalah yang terpental beberapa meter jauhnya dari lokasi kejadian dengan luka parah di sekujur tubuhnya.

Seorang dokter datang. Kaito menoleh ke arahnya.

"Apa kondisinya masih kritis, Dok? Apa dia sudah bisa pulang?" tanya Kaito cemas.

"Saya takut dia sementara ini masih harus dirawat, kondisinya masih dalam taraf kritis," kata sang dokter.

Kaito menghela napas berat. Kepalanya serasa berputar.

Ia tahu jelas, egonyalah yang mempertahankan mimpi-mimpi indahnya bersama gadis itu menjadi tetap bayangan belaka. Karena egolah maka ia tak bisa mewujudkan mimpinya.

Kaito mengecup pipi pucat itu. Air matanya terasa dingin, menyentuh wajah Rin. Tapi ia tak juga sadarkan diri.

Ia masih harus bermimpi lagi agar semuanya tak terjadi seperti ini.


Yooosshh~ gaje desuu~

Sedikit tak nyambungkah? O.O

Endingnya gantung ya? Itu sengaja, ehehe. Biar readers sendiri yang tentukan kelanjutannya nyahaa~ *digilaaas~*

Siip, ke orderan selanjutnya! :D