Orderan keenam! Haloh Chaniag0-ssi! XDD
Wohoho tentu saja lagu barat boleh dong! Bahkan kamu bisa order dari lagu dangdut! *ketahuan nih dangdutholic nya X3* asalkan itu sih lagu lama~ yaa.. 2004 ke bawah laah~
Siip, nih dia LukaPo nyaa~
Warning:
Ryoku adalah karakter di fic sebelah yang aku pinjam~ wehehehehehh~ *diteplak readers*
Enjoy yah all~
Pretty Boy (M2M)
"Huunngg.."
Luka membuka matanya yang terpejam sejak ia memutuskan untuk tidur dua jam lalu. Ia merasa tidurnya kali ini tak senyenyak kemarin. Dikerjap-kerjapkannya matanya, ia masih melihat hitam dan putih di dalam kamarnya. Penglihatannya masih belum baik benar dan butuh beberapa saat untuk membuatnya normal kembali.
Luka menguap, ia secara refleks menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan duduk di atasnya, memeluk lutut.
Sekarang, bagaimana keadaannya, ya?
Ups, kok tiba-tiba terpikir dia, sih.. Luka menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri.
Sudah ah, lanjut tidur aja deh..
Pagi harinya..
"Huaaaahhmm.."
Luka menggeliat dan perlahan membuka matanya. Ia merasa pipinya sedikit menghangat. Ia mencoba mengingat penyebabnya..
Oh!
Mimpi tadi malam.
Luka bermimpi lagi tentang orang itu. Di alam mimpi, mereka terlihat begitu akrab, terlalu akrab malah. Mereka berdua menjadi sepasang kekasih di sana.
Luka menghela napas, lalu mengetuk kepalanya pelan.
Luka, duh! Masa udah gede masih percaya mimpi bisa jadi kenyataan?
"…Semoga dia bisa melihat perasaan yang kupunya sejak dulu ini, Tuhan. Amin.." ia menggumamkan doa dalam hati. Ia tak tahu apakah doa itu akan bekerja ampuh pada harinya kali ini. Tapi, tak ada salahnya berharap, bukan?
Luka beranjak ke kamar mandi, setelah mandi, ia memakai baju seragamnya dan setelah selesai berdandan, ia keluar dari kamar untuk sarapan.
"Hari ini sarapannya sambel ikan pake terong, Dek! Nggak apa ya? Ini juga nyolong dari rumah Ryoku!" Kakaknya, Luki, terlihat sedang terburu-buru. Luka menaikkan sebelah alisnya.
"Kakak pergi dulu, banyak kerjaan di kantor! Luka berangkat sendiri ya! Kakak lembur hari ini jadi nggak usah tungguin Kakak ya! Berangkat dulu, Luk!" Luki melesat kabur dari rumah dan menstarter tunggangannya, lalu melaju beberapa saat kemudian.
Dasar Kakak sesat..
Luka menikmati sarapannya kali ini. Tunggu, tadi si Kakak sesat bilang apa? Sambel ikan dan.. terong?
Pipi Luka memerah seketika, warnanya bahkan lebih merah dari pada warna sambel itu, karena ia ingat bahwa terong adalah makanan favorit orang itu. Ia selalu membawa bekal bernuansa terong. Pernah dia bawa semur terong, terong goreng tepung, bakwan terong, tumis terong, terong panggang, dan mungkin kalau ada keripik terong dia bakal bawa juga ke sekolah untuk dimakan pas jam makan siang.
Luka tahu benar itu, meskipun ia berlagak tak ingin mengetahuinya.
Luka memandang jam dinding di hadapannya dengan tatapan malas, lalu..
"Waakkhh.. mau telaaatt..!"
Di kelas..
"Wetseh, Gakupo! Makin cantik aja neh!" Kaito menepuk bahu sobat karibnya itu. Yang ditepuk bahunya balas menepuk bahu sohibnya itu.
"Biasa aja kali.." sahutnya. Gakupo sudah pasrah dibilang cantik. Habis, rambut ungunya yang panjang serta garis wajah yang halus membuat orang salah mengira kalau dia adalah cewek. Bahkan waktu SMP dulu, kabarnya Gakupo pernah ditembak teman cowoknya yang tidak mengetahui kalau dia itu cowok. Duh, kesian..
"Betewe, hari ini tuh pelajaran Kimia. Udah siapin PR, belom?" tanya Kaito.
"Udah kok, udah. Napa? Pasti mau pinjam ya?" tanya Gakupo dengan nada sedikit jahil.
"Elaah.. biasa juga elo yang minta pinjam ke gue! Tapi baguslah, kamu dah bisa kerjain sendiri itu soal.." ujar Kaito bangga. Ia merasa 'anak didik'nya ini telah berhasil melaksanakan tugas mulia, yaitu mengerjakan PR nya sendiri tanpa nyontek sana-sini.
"Siip dah!" Gakupo mengacungkan ibu jarinya, ikutan bangga. Mereka lalu tertawa-tawa berdua.
Sementara Luka, hanya bisa melihat mereka dari bangkunya yang ada di sudut kanan kelas. Luka juga ingin bisa tertawa seperti itu saat bersama orang itu, tapi..
Ah, sudahlah! Luka menampar pipinya sendiri.
"Loh? Siapa tuh yang lagi ditampar? Meiko sama Akaito berantem lagi ya?" Kaito menoleh ke belakang. Luka terkejut, suara tamparannya kedengaran!
"Hei Bakaito sial! Kau mau kucincang kayak si monyong ini, ya?" Meiko yang berada di dekat Luka yang sedang mengangkat kerah seragam Akaito sampai si rambut merah itu terangkat memberikan Kaito deathglare nya yang legendaris. Kaito menelan ludah. Ia masih sayang nyawa.
Luka mendadak sweatdrop dan facepalm sendiri.
Saat pelajaran Kimia berlangsung, Luka merasa semangat belajarnya lenyap. Ia mulai mencoret-coret halaman notes nya. Luka punya bakat terpendam yaitu melukis, maka ia selalu mengembangkan bakatnya ini saat ia merasa bosan.
Ia terus melanjutkan coretannya sampai ia menyadari bahwa ia membuat semacam bentuk seperti grafiti bertuliskan nama orang itu.
Hah! Luka terkejut memandangi karyanya sendiri. Ia tak menyangka coretan nggak jelas itu bisa berkembang sedemikian rupa membentuk nama orang yang disukainya itu. Ia jadi bingung mau diapakan gambar ini.
Sudahlah, nanti dibingkai di rumah saja, jangan deh, bikin yang lebih bagus dulu versinya baru dibingkai.. batin Luka nelangsa.
"Luk! Luka! Luka-chan!" ia mendengar sayup-sayup suara orang yang dikenalnya. Ia lalu menoleh ke arah si pemanggil yang ada di bangku di baris sebelah kiri bangkunya, selang satu bangku dari bangku Luka.
Tempat duduk orang itu.
"Ada apa, hah?" hal yang tak Luka inginkan. Kemunculan sifat tsundere nya.
"Luka-chan ada permen tidak? Minta dong!" kata orang itu.
Luka menghela napas untuk menenangkan dirinya, lalu mengaduk tasnya dan menemukan sebungkus permen.
"Ambil aja semua.."
"Makasih ya Luka-chan!"
Senyum cerah yang membuat Luka tak melanjutkan kalimatnya itu membuatnya tersipu hebat. Apalagi saat melihat sebungkus permen itu berpindah tempat.
Setidaknya, ia tersenyum.. batinnya.
"Terserah deh.." Luka memalingkan wajahnya. Ia lalu kembali menekuni notesnya, menggambar sosok cewek, tapi tampangnya malah lebih mirip cowok itu. Ia merasa detak jantungnya berdegup kencang.
"Nee, Luka-chan! Gambar apaan sih?" Miku, teman sebangkunya, melirik ke arah gambar Luka itu. Luka yang terkejut pun langsung mengambil buku itu dan menjauhkannya dari pandangan temannya itu. Wajahnya terasa panas sekali.
"Luka-chaan..~ Lihat dong! Gambarnya keren deehh~" Miku menggapai-gapai notes tersebut, dan tentu saja Luka makin menjauhkan buku itu.
"Ini tuh konsumsi pribadi, tahu!"
"Pinjaaam~"
"Nggak boleh!"
"Luka jahaat~"
"Nggak bo.."
Buku itu terlempar saat Luka lengah, dan terjatuh di samping kaki Gakupo.
Hal yang tak pernah diinginkan Luka untuk terjadi.
Dengan kebingungan Gakupo mengambil notes tersebut, dan mengamat-amati sampulnya, mana tahu ada namanya jadi bisa dikembalikan. Luka yang takut isi notesnya ketahuan oleh cowok itu langsung menyambar buku itu dari tangannya.
"KEMARIKAN BUKUKU!" pekik Luka sambil mendekap bukunya erat-erat.
"Oh.. eee.. itu buku Luka-chan toh.. tadi jatuh.."
"Anak SD juga tahu kalau buku ini jatuh tadi!" potong Luka, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Gakupo hanya memandang Luka dengan tatapan heran.
"Sekali lagi kau pegang buku ini, kau takkan kuampuni!" lanjut Luka, mengakhiri repetannya kali ini. Dalam hati sebenarnya ia merasa ingin menangis, karena sifatnya yang tsundere itu malah membuat keadaan jadi serba salah.
"Maafin aku, Luka-chan.." ujar Gakupo, membuat Luka benar-benar merasa bersalah. Gadis itu hanya memalingkan wajahnya sambil terdiam, masih mendekap erat buku notesnya.
Miku hanya bisa memandang sahabatnya itu dengan tatapan kasihan. Mengapa dia selalu saja jutek pada setiap laki-laki, terutama yang satu ini?
Beberapa jam pelajaran kemudian, bel tanda pulang pun berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Luka-chan! Ayo kita pergi! Cepetaaan~ ntar happy hour cafenya keburu habis!" pekik Miku dari pintu kelas. Luka masih menyiapkan buku-bukunya yang lumayan banyak dengan asal-asalan.
"Iya dah siap nih!" Luka berlari kecil mengikuti langkah Miku.
Tanpa menyadari resleting salah satu kantong tasnya masih terbuka dan membuat notes rahasia Luka terjatuh.
"Ini kan notes..?"
Di rumah..
Luka sedang menekuni Ensiklopedia Sains yang dipinjamnya dua hari lalu dari Ryoku saat pintu rumahnya diketuk seseorang.
"Luka! Luka-chan!"
Luka tidak bergerak. Dia ingat pesan ibunya agar ia tidak membuka pintu rumah untuk orang asing.
"Luka-chan!"
Sebentar, rasanya Luka kenal suara ini..
"Luka!"
Luka pun menutup jendela kamarnya, takut kalau orang asing itu mengintip dari jendela kamarnya.
"Luka!"
Luka beranjak dari tempat tidurnya menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan keripik, lalu kembali ke kamarnya.
"Luka! Yah, dia nggak nyahut,"
Malamnya..
"Aduh, bukunya ke mana sih.."
Luka mengacak-acak tas sekolahnya, tempat ia menaruh notes itu saat pulang sekolah. Tapi notes itu sudah lenyap.
Luka memegang dagunya, berpikir.
Tunggu.
Kantong yang ini resletingnya terbuka.
Kantong tempat menyimpan notes itu.
Berarti,
Notesnya terjatuhkah?
Luka menyambar handphonenya dan menelepon Miku. Jantungnya berdetak sangat kencang.
"Miku, ada lihat notesku tidak?" tanyanya cemas.
"Eh, Luka-chan? Aku nggak lihat notesnya Luka tuh.." jawab Miku dengan nada inosen.
"Notesnya nggak ada! Pasti jatuh dari tas waktu pulang tadi!" Luka merasa wajahnya memanas, terutama matanya.
"Kalau gitu, Miku juga nggak bisa ngapa-ngapain, Luka-chan. Kita berdoa aja semoga ada orang baik hati yang ngembaliin buku itu besok. Sabar ya Luka-chan.."
Luka hanya bisa menangis tanpa suara.
"Luka-chan? Halo? Luka.. yaa.. putus!"
Paginya, di sekolah..
"Notesnya nggak ketemu, Luka-chan?"
Luka menggeleng pelan, berusaha agar ia tidak menangis lagi.
"Eh Luka-chan! Pagi-pagi udah cemberut, senyum dong!" goda Kaito yang mampir ke meja mereka.
"Heh Bakaito! Orang lagi kesusahan gini malah digodain! Mau aku aduin Meiko-chan nih, biar langsung dicincang?" seru Miku, tak terima sohibnya digoda seperti itu.
"Sori dah, aku mana tahu masalahnya? Sudah ah, aku mau pergi, godain cewek lain! Dah~"
Tiba-tiba Kaito terkapar tak berdaya setelah dilempar kotak pensil oleh Miku.
"Luka-chan, sabar ya.. Bukunya pasti balik kok, kalau bukunya nggak balik, kan masih bisa beli yang baru.."
"Masalahnya bukan itu, bodoh!"
Miku terkejut, tidak menyangka sohibnya itu bisa semarah itu padanya. Meskipun bukan Miku yang menyebabkan buku itu hilang, tapi ia merasa bersalah juga setelah tahu begini jadinya.
Miku menatap ke arah pintu kelas, di mana Gakupo melihat mereka dari baliknya. Tangan Gakupo memegang sesuatu yang seperti..
"Notes Luka-chan?"
Luka menatap ke arah Miku yang langsung menutup mulutnya. Gumamannya tadi kedengaran jelas!
"Kau tahu di mana notesku itu?" tanya Luka.
"Lu.. Luka, aku kan lagi mikirin di mana notes Luka.."
Saat pandangan Luka menatap ke arah Gakupo yang masih menclok di balik pintu kelas, lengkap dengan notesnya di genggaman tangannya, Luka beranjak dari kursinya dan langsung mengejar cowok itu.
"Luka-chan, tunggu! Luka-chan!" Miku berusaha menghentikan Luka, tapi tak bisa. Miku hanya bisa menghela napas, takut kalau ada kejadian buruk terjadi.
"Sudah aku bilang kan? Sekali kau sentuh notes itu, kau takkan kuampuni, tahu!" pekik Luka.
"..Maaf.."
Luka tersentak. Nada suaranya barusan terdengar lirih. Ia jadi merasa makin bersalah.
"Waktu itu aku datang ke rumah Luka, tapi nggak ada orang, jadi.."
"Kau tahu dari mana alamatku?"
"Dari notes ini.." Gakupo mengulurkan notes itu pada Luka.
"Waktu itu notes ini jatuh, aku mau panggil Luka, tapi aku takut nanti Luka marah lagi. Lagian, Luka langsung pergi, sih,"
Di satu sisi, Luka ingin tertawa karena ia merasa cowok ini terlalu lembut hatinya seperti anak perempuan. Tapi di sisi lain Luka menyesal karena mengucapkan kata-kata itu padanya.
"Jadi yang kemarin itu..?" Gakupo mengangguk.
"Kayaknya aku ganggu Luka, ya? Aku pergi dulu deh. Jaga notesnya baik-baik ya.." ia memberikan notes itu pada Luka, yang langsung mendekapnya perlahan sambil menangis.
"Gakupo, tunggu!"
Gakupo menghentikan langkahnya saat ia merasakan sesuatu menyentuh tangannya. Jemari Luka yang bergetar hebat.
"Luka-chan?"
"Maaf, selama ini aku selalu jutek sama kamu, itu karena aku takut kamu tahu kalau aku suka sama kamu.." Luka mulai terisak. Kedua tangannya, baik yang memegang tangan Gakupo maupun yang masih mendekap notes itu masih bergetar karena tangisan. Cowok itu menepuk rambut Luka lembut.
"Iya, aku sudah tahu kok, hehehe.." cengirnya. Luka terkejut.
"Jadi.. kau sudah baca SEMUANYA?" pekik Luka.
"Yah, begitulah. Tadinya aku cuma mau cari alamat yang punya buku, nggak tahunya aku keterusan, hehe. Lagipula, aku mau tanya sesuatu,"
Mata Luka melebar.
"Apaan?"
Gakupo menutup mulutnya dengan tangannya, menahan tawa.
"Itu.. gambar yang di notesmu, itu gambarku ya? Kenapa di situ wajahku cantik sekali melebihi kamu?" ia mulai tertawa keras, membuat wajah cewek itu makin memerah.
"AAAAAAAAAAAAAAAKKKKHHH..! Dasar bodoh! Makanya notesku jangan dibaca, dong!"
Siip~
Kasihan Luka, setelah cerita ini selesai, suaranya langsung serak karena kebanyakan teriak. Gakupo sampai harus mengontak Gakuko untuk dikirimkan obat tradisional penyembuh sakit tenggorokan~ *PLAKK*
Widiiihh.. jadi pengen lihat notesnya Luka-chan~ XDD
yaak, cerita lainnya akan Ome publish secepatnya, maaf sudah membuat menunggu lamaa.. D:
kalau mau order, sok atuh silakan! mau komen? bolelebo alias boleh banget~!
