Hyuuppss...
Dah lama ya nggak jumpa! *headdesk*
Howaaaa… maaf yah all! Maafkan Omee~! Maaf maaf maaf maaf ma… *dibekep dan digoreng readers*
Nhaaa… yang ini lagunya diusulkan oleh MiZukO-AbuRaMe, sedangkan pairingan nyah oleh Tainaka Ritsu-69~
Hyoosshh... KuoMiku! And another angsty story rite here~ Mizuko-ssi makasih yaa, lagu-lagu Anda keren-keren dan menambah semangat ke-angsty-an dalam diri Ome! Dan Ritsu-ssi makasih atas matanya yang telitii...~
Warning:
Beberapa adegan yang ambigu dan aneh~
Mikuo's POV
Miku umurnya 18 *sesuai lirik*, dan Mikuo tentu saja lebih tua, yah, umurnya 20 tahun? :3
Enjoy yah all~
She Will Be Loved (Maroon 5)
"Dari mana saja kau?"
Aku berkacak pinggang saat melihat adikku di depan pintu rumah jam setengah dua belas malam.
"A... aku habis dari rumah teman, Mikuo-nii..." jawabnya terbata-bata. Aku menaikkan sebelah alisku.
"Habis dari rumah teman, ya? Kalau begitu, coba lihat jam di sana," aku mengarahkan pandanganku ke jam dinding di ruang tamu. Miku, adikku, ikut menoleh ke arah yang sama.
"Sudah jam berapa sekarang?" tanyaku.
"S...setengah dua belas..." lirihnya.
"Ini sudah kedua kalinya kau pulang sangat telat, Miku-chan,"
Aku merasa sangat sakit saat mengucapkan kata-kata itu padanya. Apa aku kelewatan?
"Maafkan aku, Mikuo-nii..."
Kulihat air mata membayang di pelupuk matanya. Aku jadi makin tak tega.
"Kau pulang sama siapa?" tanyaku.
"K... Kaito-kun... aku pulang sama Kaito-kun, Mikuo-nii…" jawabnya pelan.
Jiah, kesebut juga itu nama.
Kepalaku serasa mendidih mendengar nama itu. Kaito-kun. Kaito-kun oh Kaito-kun, 'sahabat terlalu akrab'nya adik semata wayangku itu.
"Kau masih muda, Miku-chan. Masih 18. Anak SMA. Kalau kau keseringan pulang malam kau bakal dicap jelek," nasihatku. Ia mengangguk lemah.
"Sudahlah, cuci muka, gosok gigi, lalu pergi tidur," aku mendorong lembut bahu adikku ke dalam rumah. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan setelah selesai melakukan apa yang kuperintahkan ia langsung masuk ke dalam kamar tidurnya. Aku maklum, dia pasti letih sekali karena pulang malam.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Satu jam telah berlalu, dini hari semakin larut, tapi aku tak juga tertidur. Mana subuh gini tak ada siaran bola, lagi.
Tch, decakku.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk menemui adikku yang sedang tertidur pulas. Lancang sekali kan, meskipun aku adalah kakaknya tapi tetap saja akan mengganggu kalau masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin. Tapi ya sudahlah. Apanya?
Perlahan kubuka pintu kamarnya. Derit kecil sedikit mengagetkanku, untung saja dia masih tidur pulas. Kudekati tubuhnya yang terbaring dengan wajah tidur yang lucu tapi terlihat damai itu. Kumainkan telunjukku menyusuri pipinya yang halus dan lembut, dan tanpa sadar aku nyaris menyentuh bibirnya yang terkatup tak begitu rapat.
Bodoh, rutukku. Dia adikmu, Mikuo! Adikmu! Pekikku dalam hati.
Sudah 18 tahun lamanya aku hidup bersama adikku itu, namun perasaan ingin memiliki lebih ini baru kusadari sejak kehadiran orang itu. Kau tahu siapa, kan?
Kaito-kun milik adikku itu.
Tess... tess...
Hujan mulai turun membasahi bumi. Gerimis yang lembut perlahan mengganas. Kulihat Miku menggeliat di dalam selimutnya.
"Mmmmhhh... hujan..." gumamnya. Mungkin ia sedang mengigau.
Kuharap ia mengigau.
CTAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRR…!
"HUAAAAAAAAAAA…!" pekiknya tiba-tiba. Seketika itu aku merasa hangat. Kedua tangannya (mungkin) secara refleks memeluk lenganku.
"Takut... hiks..." igaunya lagi.
"Miku, Miku-chan…" panggilku lembut sambil mengusap rambutnya.
"Mikuo-nii...?" lirihnya. Aku mengangguk pelan.
"Jangan pergi dulu, aku takut petir..." kurasakan kedua tangannya makin erat memeluk lenganku. Kutundukkan sedikit wajahku dan menyentuhkan bibirku ke atas bibirnya dengan perlahan.
"Tenang ya Miku, aku takkan meninggalkanmu kok..." bisikku.
"Mikuo-nii, temani aku tidur..." pintanya. Mata itu masih tetap terpejam, hanya bibirnya yang bergerak-gerak lemah dengan suara sedikit serak.
Aku menaiki tempat tidurnya dan berbaring di sampingnya. Untungnya ranjang itu cukup menahan berat tubuh kami berdua tanpa perlu khawatir akan jebol.
Kembali ia menggeliat di dalam selimutnya, kali ini dengan tempo yang amat pelan.
"Selamat tidur, Miku-chan..." Kembali aku daratkan sebuah kecupan, kali ini di dahinya. Kulihat ia tersenyum tipis. Samar-samar. Aku ikut tersenyum melihatnya.
Namun senyumku memudar saat aku mendengar ia kembali memanggil nama itu dalam igauannya.
"Kaito-kun..."
Senyumnya perlahan memudar, air mata melengkung tipis dari ujung matanya. Aku menghela napas pelan, lalu mengusap air mata itu dengan lembut. Aku berbalik sehingga punggungku yang berada di hadapannya, lalu memaksa kedua mata untuk mematuhi perintah otak. Aku harus segera tidur.
Pagi harinya…
"Mikuo-nii, bangun! Sarapannya sudah siap~!"
Sebuah pekikan yang familiar menyergap indera dengarku. Kukucek perlahan mataku. Hhh... Miku. Terkadang pekikan high-pitchnya membuatku sakit kepala. Tapi toh tak terlalu mengganggu bagiku.
"Sarapan apa sih…" kataku malas sambil mendekatinya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Aku bikin nasi kare! Cobain yah!" Miku menyodorkan sepiring nasi kare ke hadapanku. Aromanya sih sepertinya enak. Kucoba menyuapkan sesendok ke dalam mulutku.
"Hwah!" Lidahku kejang tiba-tiba.
"Ada apa, Mikuo-nii?" tanyanya polos.
DEG!
Matilah aku.
Readers, bagaimana cara yang manis dan sopan untuk mengatakan pada seorang gadis bahwa nasi kare yang dia buat KEASINAN?
Nggak ada yang jawab? Huft, baiklah.
Aku hanya terdiam sambil memikirkan jawabannya. Miku menaikkan sebelah alisnya dengan wajah khawatir.
"Mikuo-nii? Kau nggak apa-apa kan?" tanyanya sedikit cemas.
"O… oh! Nggak apa kok! Karenya enak! Tadi lidahku terkejut karena rasanya yang ajaib itu," aku mengusap tengkukku tanda gugup. Mampus kau Mikuo~ batinku pada diri sendiri.
"Miku, usahamu sudah hebat kok, tapi lain kali garamnya jangan kebanyakan…" Aku mengelus rambutnya perlahan. Untung ketemu jawabannya dari si Author. Nanti akan kukasih kare asin ini sebagai tanda terima kasih padanya.
Miku tersenyum lebar. Matanya bersinar, duh!
"Makasih, Mikuo-nii! Aku akan belajar masak lebih giat lagi!" pekiknya penuh semangat. Aku menghembuskan napas lega dalam hatiku.
"Lalala~ belajar masak~ nanti kalau sudah pintar, aku bisa masakin Kaito-kun~ aihh~" lantunnya. Aku tersentak seketika.
Nama itu lagi!
"Mikuo-nii kenapa? Eh, udah mau telat! Miku berangkat dulu ya!" Ia berlalu setelah pamit padaku.
Aku memegangi kepalaku yang sakit mendadak.
Pulang sekolah…
"Sebel!"
Miku langsung nyelonong masuk ke dalam rumah dan membanting tasnya di sofa ruang tamu. Dilepasnya sepatunya dengan malas.
"Ada apa, Miku-chan?" tanyaku lembut, menyembunyikan rasa cemas dalam suaraku.
"Masa kata Gumi dia lihat Kaito dua-duaan sama cewek lain? Kesel tahu nggak sih! Mana dia bilang itu desas-desus kelas sebelah, lagi!" repetnya. Aku hanya berdecak.
"Yah, kalau cuma desas-desus nggak usah dipikirkan begitu lah, Miku-chan…"
"Tapi aku kan kesel dengernya!" potongnya sewot. Aku keburu sweatdrop.
"Emang Kaitonya bilang apa?" tanyaku lagi.
"Dia bilang itu bohong~" jawabnya.
"Ya sudah. Bahkan dia bilang itu berita bohong. Jadi biarkan sajalah, oke?" aku menepuk pelan bahunya, mencoba memberinya semangat.
Dia mengangguk pelan sambil memanyunkan bibirnya, khas gadis muda. Aku terkikik dalam hati.
Tapi tetap saja aku kesal setengah mati. Kukepalkan tanganku erat diam-diam.
Tch, Kaito! Awas saja nanti kalau kau sakiti dia!
Beberapa hari kemudian…
Oke, aku tahu Miku itu aneh. Tapi yang ini lebih mengerikan.
Ia tak mau lagi menyentuh makanan, bahkan yang kubeli dari restoran sekalipun. Padahal ia sangat menyukai daun bawang, tapi tak pernah lagi disapanya bahan makanan favoritnya itu.
Sinar matanya yang cerah ceria meredup tiba-tiba, seperti matahari kekurangan energi nuklir di dalamnya. Oke, berlebihan.
Kucoba untuk mencari tahu penyebabnya. Kudekati dirinya pelan-pelan. Tubuh yang kurus memucat itu, lengkap dengan mata yang terlihat menakutkan. Tak seperti Miku yang kukenal dulu.
"M…Miku-chan…"
Kuhentikan gerakan tanganku tepat beberapa millimeter di atas bahunya saat aku mendengar suara isakan tertahan, yang lambat laun berubah menjadi melengking menyeramkan. Ia kemudian meracaukan beberapa kalimat yang aku tidak mengerti, karena beradu dengan suara isakannya.
"…Cantik…"
Aku tersentak. Dia bilang apa?
"…Aku… kurang cantik ya?"
Hatiku terasa miris saat mendengarnya mengucapkan kata-kata seperti itu. terlebih saat ia menyentuh bagian di atas perutnya.
"Aku ini… kurang apa?" lirihnya lagi.
"Miku-chan, kau ngomong apa sih…"
"Mikuo-nii, apa aku ini cantik?" tanyanya, memotong kalimatku.
"Errr…"
"Apa aku ini berbakat?" tanyanya lagi.
"Miku-chan…"
"Aku ini sempurna tidak?" ia melempar cermin di dekat tubuhnya ke dinding di hadapannya sehingga pecah berantakan.
"Miku-chan, aku…"
"Aku nggak mau dengar yang lain! Aku cuma mau dengar kalau aku ini cantik, jadi Kaito-kun bisa melihatku lagi!" jeritnya menahan isakan. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang memerah.
"Memangnya ada apa, Miku-chan…"
"AKU TAK TERIMA KALAU ADA GADIS LAIN YANG JAUH LEBIH SEMPURNA DARIKU MENDEKATI KAITO! AKU TAK MAU DIA MEREBUT KAITO-KU!" Ia menjerit-jerit histeris, membuat hatiku terasa sakit.
Tch, makhluk seperti apa sih kau, Kaito, yang membuat adikku menjadi seperti ini?
Miku bangkit berdiri dari duduknya menuju ke tempat pecahan cermin itu berserakan, lalu mulai menggoreskan salah satu pecahan cermin itu ke tangannya.
"Hentikan, Miku! Kau sudah gila!" teriakku sambil menjauhkan tangannya dari tangan lainnya yang memegang pecahan cermin itu. Namun ia malah berlari entah ke mana dan aku kehilangan jejaknya.
Aku mencoba mencarinya di semua ruangan di rumahku, tak ketemu juga. Ia juga tidak ada di halaman belakang. Kucoba mencari di halaman depan rumahku. Saat aku melihat sekelebat bayangan di dalam mobilku…
Kuketuk kaca mobil. Tak ada balasan. Menyerah, aku kembali ke dalam rumah untuk mengambil kunci sehingga aku dapat membukanya, melihat gadis itu duduk meringkuk di bagian belakang, kepalanya menyender ke jendela.
"Miku, sekarang masalahmu itu apa?" tanyaku. Kujaga intonasi dan volume suaraku.
"Aku mau Kaito, Kak…" isaknya.
"Tapi bukan begini caranya, Miku-chan…" ujarku pelan dan tenang, mencoba menyadarkannya.
"Aku mau dia melihatku seperti ini agar dia menyadari kesalahannya…"
"Justru kau yang salah, Miku!"
Ia terdiam dan mematung kaku. Aku membawanya jatuh dalam dekapanku, erat.
"Miku-chan, dari dulu sampai sekarang, tetap kau yang paling cantik. Tetap kau yang paling sempurna di mataku…"
Kusentuhkan bibirku menyusuri bekas aliran air matanya, merasakan dinginnya kulit pucat itu.
"M…Mikuo…-nii?" Suaranya bergetar lemah.
Aku menghela napas saat menyadari kebodohanku. Sekarang pasti perasaannya makin kalut, bukan?
"Su… sudahlah, kau cepat kembali ke rumah dan membereskan tubuhmu. Aku tak mau kecantikanmu itu pudar karena hal yang tak penting seperti itu," Aku menarik tangannya lembut, membawanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Aku merawatnya sampai ia kuanggap pulih. Kubereskan segala bentuk kekacauan yang masih tersisa, kutinggalkan Miku terlelap dalam tidurnya.
Aku tahu, ia sangat lelah sekarang.
Dan sebagai kakak, dan orang yang mencintainya, tugasku tentu saja adalah mendampinginya dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun.
Aku tersenyum kecil saat melihat senyum malaikat Miku samar-samar. Senyum yang ingin kujaga utuh dari apapun juga.
Dan hanya suara hujanlah yang terdengar saat itu, seperti meninabobokan sang putri yang terlelap dalam tangis diamnya.
Ow mak ~ O.O
Alurnya kecepatan? Oh well ~
Maaf yaa ~
Off to the next order!
