Siip, ini orderan TaNia VampGoth!
Hiikks... sedih ini lagu! Dan kali ini pake pairingan KaiMei~ dan Ome ambil sedikit ide dari pengalaman pribadi temanku =w=
Ish! Pengen kali kubekep mulutnya si cowoknya temanku itu! Dasar si nista gaje! Huh! Ama mantan ceweknya dia juga! Apaan itu! Ish ish ish! *malah mencak-mencak gaje di FFn, untung orangnya nggak ada di sini XDD –direbus readers-*
Gila! Mana setelah itu gag jadi putus pula! Cowok angin-anginan gaje! Huh!
Warning:
Meiko's POV
{…} Meiko's flashback
Enjoy yah all~
Maybe Tomorrow (Westlife)
"Apa? Kaito minta putus?"
Aku menganggukkan kepalaku pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Lily.
"Loh kapan putusnya, Meiko?" tanya Miku dengan nada suara hampir sama.
"Kemarin malam. Dia yang putusin," sahutku pelan. Mataku memperhatikan suasana di depan kelas, saat ini sedang pelajaran Matematika. Pasti kalian tahu siapa yang mengajar, kan. Jadinya kan nggak lucu kalau aku dan mereka ikutan dipanggil dan dapat detensi. Udah gurunya galak (meskipun ganteng), ngomongnya tegas, lagi.
"Kok bisa gitu?" tanya Gumi yang duduk di sampingku.
"Nggak tahu. Katanya Kaito dengar dari Luka kalau aku dekat sama Gakupo," aku menundukkan kepala.
"Lah terus?" tanya Gumi tak sabaran.
"Bego! Gakupo itu kan dulu mantannya Luka sebelum pacaran ama Kaito! Dah lupa ya?" serobot Lily.
Ya, aku ingat. Cewek yang namanya Luka itu.
Dulu sebelum jadian sama Kaito, mantanku sekarang, dia berpacaran dengan Gakupo namun gagal karena ketidakcocokan prinsip. Ya elah, emangnya Fisika?
Lalu Luka berpacaran dengan Kaito, namun kandas juga. Sampai akhirnya Kaito datang dalam kehidupanku dan menjadi pacarku saat itu.
Satu setengah bulan yang lalu.
"Udah terbukti kan sekarang?" ujar Lily berapi-api.
"Apaan?" tanya Gumi.
"Kalau Luka itu TMT! Teman makan teman! Pagar ayu makan penganten!" seru Lily tanpa memperdulikan bahwa orang yang dibicarakannya duduk tak jauh darinya.
Dia menatapku dengan tatapan bermusuhan.
"Udahlah Lily. Aku nggak mau mikir soal itu lagi. Capek," sahutku lemah.
Mereka bertiga: Lily, Miku dan Gumi menatapku. Miku lalu menepuk bahuku pelan.
"Yang sabar ya, Meiko?" ucapnya simpatik. Aku menyimpulkan sedikit senyum.
"Yodah! Aku mau diajarin Matematika ya! Aku masih belum ngerti turunan, nih!" Miku mulai heboh menyodorkan buku paket Matematikanya padaku.
"Elaah! Minta ajarin Gumi sana!" aku kembali berkutat dengan catatanku yang belum selesai karena dari tadi aku diminta mengajari Miku dan Lily yang kurang paham Matematika. Terkadang Gumi ikut membantuku mengajari mereka, jadi masih bisa mencuri kesempatan menulis catatan dari papan tulis.
Tak berapa lama, bel pun berbunyi. Tanda 'istri jahat', kata guru Matematika kami, Kiyoteru-sensei. Entah apa maksudnya, kami bahkan tak tahu apa dia sudah punya istri atau belum.
"Meiko, hari ini bawa bekal apa? Bareng yuk?" ajak Gumi.
Aku menggelengkan kepala pelan. Gumi langsung manyun.
"Yaaa… istirahat gini kan harus makan, Meiko! Kalau nanti maagnya kambuh gimana?" tanya Gumi khawatir.
"Tenang aja, aku bawa uang jajan kok…"
"UANG JAJAN LIMA RIBU MANA BISA KENYANG DI KANTIN, HAH?" pekik Gumi hingga sedikit merusak keyboard milik Author sarap yang ikut merasakan pengalaman gaje ini. Wong dia yang punya ide cerita kok.
"Iya juga sih, setidaknya bisa ganjal perut," jawabku asal. Aku mengikuti Gumi keluar dari kelas, lalu lari ke kantin untuk membeli 'pengganjal perut' tersebut. Tak sengaja aku berpapasan dengan Luka dan Kaito. Kelihatannya mereka tengah asyik berbicara. Aku memutuskan untuk tidak mengganggu mereka, apalagi setelah mengingat kata-kata tadi.
Apa benar Luka yang menyebarkan gosip itu?
{"Iya! Tadi aku dengar kalau Luka itu ngomongin tentang kamu jalan ama Gakupo!"
"Ah masa sih? Aku kan nggak terlalu akrab sama dia sekarang, dulu sih iya,"
"Tapi itu yang dibilang Luka! Dia bilang sama Kaito kalau kamu tuh jadian ama Gakupo!"
"Kok gitu sih?"
"Ya aku mana tahu lah,"
"…"
"Padahal ironis juga ya, Gakupo itu kan mantannya Luka, kok dia tega-teganya gitu sih ama mantannya? Sadis juga tuh cewek,"
"Udahlah, capek ngomongin orang nggak jelas gitu,"
"Astaganaga Meikoo! Kamu nggak nyadar kalau Luka masih dendam sama kamu gara-gara Kaitonya diambil?"}
Aku menelan ludah. Aku nggak tahu harus bersikap apa.
"Eh, Meiko?" sapa Luka dengan senyum tipis, sementara Kaito malah tersenyum masam. Akting apa lagi ini?
Aku terpaksa mengumbar senyum palsu, lalu buru-buru membeli makanan dan pergi dari kantin sayur itu. Aku muak berada di sana terus.
Aku berjalan terus dan menemukan Gumi sedang duduk di bangku taman sekolah. Kulihat ia hanya mematung sambil menggigit-gigit wortelnya. Dia kelihatan gelisah.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku.
"Justru aku kali yang nanya ama Meiko! Meiko nggak apa-apa kan?" tanya Gumi sambil menepuk area bangku taman sekolah yang tak ada penghuninya, isyarat agar aku duduk di sampingnya.
Aku tersenyum kecil, lalu duduk di sampingnya sampai jam istirahat selesai.
{"Meiko, kok kamu bisa-bisanya terima si Kaito itu?"
"Emangnya kenapa?"
"Ampuun! Kalian itu PDKT cepet banget, nggak sampe seminggu! Lagi pula, kamu nggak tahu Kaito, ya?"
"Lah terus?"
"Diih! Kaito itu kan sering akrab sama cewek! Lagian dia belum sampe tiga bulan ini putus sama Luka! Dan kamu tahu siapa Luka itu, kan?"
"Ya ya aku tahu dia yandere akut, terus?"
"Ish, Meiko! Hati-hati aja deh lo, hubungan yang kayak gini tuh nggak akan tahan lama, loh! Si Luka itu orangnya bisa berbahaya!"
"Ya terserah, kan pacarnya sekarang itu aku,"
"MEIKO!"}
Rasanya memang… agak konyol ya?
Sejak saat itu, dalam hidupku hanya ada Kaito. Selalu aku yang datang padanya. Selalu dia yang ada di sampingku. Banyak teman mengeluh karena aku tak lagi seperti dulu, Meiko yang riang dan senang berteman dengan siapapun. Bahkan aku dan Gumi yang teman sebangku saja jadi jarang berbicara akrab. Dan ini makin diperparah dengan kehadiran Luka yang membuatku bingung, dia itu teman atau lawanku?
Cih, semua gara-gara Kaito.
Harusnya aku sudah tahu semuanya, ini nggak akan berjalan lama. Kalau sudah gini ceritanya, sudah nggak tertolong lagi.
Bahkan teman pun bisa menjadi lawan saat keadaan mengizinkannya.
Bel pun berbunyi lagi, tanda 'istri jahat' sudah selesai.
"Yuk, Meiko. Malah nglamun dia," Gumi beranjak bangkit dan pergi menuju kelas. Aku mengikuti langkahnya sampai ke kelas, bertemu kembali dengan Kaito yang sedang duduk sendirian. Aku lewati saja bangkunya, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
Bahkan tersenyum pun tidak.
Aku bingung. Banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Bukan hanya ingin meluruskan berita, tapi aku juga ingin mengatakan kalau…
Aku benar-benar…
"Meiko kenapa?" tanya Miku. Aku menggeleng pelan.
"Masih marahan sama Kaitokah?" tanyanya lagi. Aku mengangguk kecil.
"Sabar ya Meiko, coba ngomong baik-baik sama Kaito deh. Mungkin dia mau ngerti…"
"AKU CAPEK HARUS SELALU DATANG PADANYA! AKU CAPEK HARUS AKU YANG MINTA MAAF DULUAN! AKU CAPEK!" seruku. Aku lalu menghela napas panjang, berusaha menahan emosi. Miku hanya menatapku lemah sampai Kiyoteru-sensei datang kembali dan memulai kelas Matematika berikutnya.
Beberapa hari kemudian…
Aku memutuskan untuk datang sendiri berbicara padanya. Meskipun aku kesal akan sikapnya yang seperti itu setiap kali bertengkar, namun aku tetap bertahan. Kucoba mengerti egonya, mungkin ia pun perlu waktu sendiri.
"Kaito…"
Ia menoleh ke arahku. Akhirnya…
"Ada apa?" tanyanya datar.
"Aku mau minta maaf…" ucapku. Aku menghela napas panjang.
"Untuk?" tanyanya gaje.
"Tentang gosip itu, dulu aku memang akrab sama Gakupo, tapi sekarang nggak lagi. Kita tetap teman, tapi…"
"Jadi kamu nyalahin Luka?" potong Kaito sambil menatapku lurus.
"Aku nggak nyalahin Luka, tapi aku cuma mau meluruskan semuanya. Aku nggak mau lagi kehilangan kamu, karena orang yang sekarang kusayangi itu…"
Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku karena isakan yang membuncah, tak bisa kutahan lagi.
"Karena aku sayang… sayang…"
Tiba-tiba kurasakan kedua lengannya memelukku erat. Air mataku benar-benar tumpah saat itu juga.
"Maaf, aku selalu jadi pengecut bagimu. Aku tak pernah mau datang meminta maaf karena aku takut kau masih marah. Aku… tak mau melihat gadis yang kusayangi merasa sakit karena aku…" ucapnya. Kubalas pelukan itu.
"Besok… aku janji…" ucapnya.
"Janji apa?" tanyaku heran.
"Aku janji akan menjadi orang yang selalu kau sayang dan menyayangimu. Dan aku…"
"Kau sudah bilang janji itu satu setengah bulan yang lalu, tahu…" Aku masih menangis, meskipun tak seheboh permulaannya.
"Oh iya, lupa," ujarnya singkat. Kulepas pelukannya lalu kujitak kepalanya.
"Kau nggak pernah berubah ya," kataku sambil menikmati ekspresi kesakitannya.
"Sa… sakit, Meiko! Lain kali tenaganya dikurangin dong! Kebiasaan deh dari dulu!" Ia meringis. Aku hanya terkikik dalam hati.
Dan ketika kedua mata kami bertemu, aku terkikik sungguhan.
Aku berpikir, mungkin besok semuanya akan berjalan tak sesuai keinginan. Tapi aku dan dia sudah berjanji, kan?
Mungkin besok, siapa yang tahu?
Huehahihuhoo~
Gaje kaaan?
Minta maaaaff~~ *berlutut, ditendang*
Yang laiiin.. tunggu aja iaaahh woooii ~
Udah siap sih tapi nanti dulu iah? OwO *ditebas readers*
Gag lama kok publishnya hehehe serius dehh, kan udah siaap ~
