Hunyaaa... another yaoi, another angst! XDD

KiyoKaito agaiin~ pairing ini sungguh memikat, dan karena aku sependapat dengan deeys–ssi jadi aku munculin lagi pairing ini setelah sukses membuat Len-kyun patah hati! *digiles*

Warning:

Um... not-that-hard rape yaoi, but still... ehh... O/O

Very angsty, uh, harusnya ini rated T++~

KiyoKaito, dan sedikiiit sekali KaitoLen~

A little bit Himitsu Keisatsu reference :D

[…] Kiyoteru's flashback

Uwah warningnya banyak :3 *ditendang~*

Enjoy yah all~!


In The Shadow (The Rasmus)

Ia masih terjaga.

Kiyoteru masih menatap monitor laptopnya, mencari jawaban atau secercah harapan atas masalah yang datang dan mengajaknya bermain.

Himitsu Keisatsu. Secret Police. Polisi Rahasia. Atau apalah itu. Yang jelas dua kata itu adalah kode mereka. Mereka yang telah merenggut sesuatu darinya.

Sebuah e-mail tanpa nama pengirim jelas yang disertakan kembali muncul. Kiyoteru membukanya dengan rasa penasaran tinggi. Kali ini mereka mengirimkan sebuah foto.

"Kaito..."

Kiyoteru menggumamkan nama seseorang yang menjadi titik daya tarik foto tersebut. Pemuda yang sedang terbaring tak berdaya dengan tangan dan kaki diikat di tepi ranjang itu. Bekas luka, baik itu luka baru maupun luka lama terlukis sempurna di sekujur tubuh bagian atasnya yang tak tertutupi sesuatu apapun. Celana panjang denim yang membalut tubuh bagian bawahnya penuh sobekan, benang-benangnya terurai.

Handphone Kiyoteru tiba-tiba berdering.

"Kau sudah lihat?" Suara yang terdengar dingin menembus koklea lelaki itu.

"Aku sudah lihat," jawabnya.

"Oh, aku mengerti," balas suara itu.

"Kalian pengecut. Beraninya kalian menyiksa anggota kalian sendiri. Bodoh." Bibir Kiyoteru bergetar saat menyebutkan kalimat tersebut. Matanya masih terpaku pada foto itu.

"Kau tahu kan, kami menggunakan segala cara untuk membuatmu mengakui perbuatan busukmu itu. Yah, anggap sajalah ini semacam pembalasan~"

Kiyoteru menggemeretakkan giginya.

"Kalian tak tahu alasanku membunuhnya..." ujarnya.

"Kami tak peduli. Yang pasti, kami tahu bahwa kau yang menyebabkan Kagamine Len ditemukan dalam keadaan bersimbah darah di apartemennya, dan sudah jelas kau meninggalkan pesan!" seru suara itu.

Kiyoteru memundurkan memorinya perlahan menuju saat itu, beberapa jam setelah saat tergelap dalam hidupnya berakhir...

["Kiyo-san! Jadi... kau yang telah...?"

"Maafkan aku, Kaito. Tapi aku..."

"Tapi dia temanku, Kiyo! Dia rekan kerjaku dan sahabatku! Mengapa kau membunuhnya?" seru pemuda itu berang di telepon.

Kiyoteru menyeringai sedih.

"Karena aku cemburu padanya," sahutnya dingin kemudian. Ia masih terus berjalan, mencari-cari kamar nomor 1702, kamar hotel tempat Kaito menginap.

"Kiyo, dia itu rekan kerjaku. Sungguh, aku tidak berbuat apa-apa pada..."

Tiba-tiba Kaito merasa badannya tak bisa bergerak sementara. Desah napas yang ia rasakan di tengkuknya membuatnya menggigil.

"Ki... Kiyo-san..." lirihnya saat ia menatap mata lelaki yang berada di belakangnya itu.

"Cepat sekali kau sampai ke dalam kamarku..." gumamnya lagi.

Kiyoteru mendorong tubuh Kaito ke atas ranjang di dekat mereka, tak memberikan kesempatan baginya untuk meronta minta dilepaskan.

"Kau melakukan ini padanya, bukan?" ujarnya dingin. Tubuh Kaito bergetar karena tangisan yang perlahan mengalir.

Bukan ini Kiyoteru yang biasa ia kenal, bukan yang ini...

Secara berurutan adegan itu tersusun sempurna, saat ia melucuti pakaiannya, saat bibir dingin itu menyentuhnya, dan saat puncaknya, ini tak terasa seperti Kiyoteru Hiyama yang ia tahu.

"Kiyo-san..."

"Aku tahu kau akan memanggilku, sama seperti bocah itu memanggil namamu, bukan?"

"Kiyo-san, hentikan..." air mata Kaito tak berhenti menderas. Namun sepertinya Kiyoteru tak menyadari, atau memang tak ingin menyadari hal itu. Ia terus 'menyiksa' Kaito dengan segenap hatinya, hati yang merasa dikhianati...

"Dia juga mengatakan itu padamu, dan kau tak membiarkannya, bukan?"

Kaito terisak, sambil terus menerus menggumam tanpa suara agar kejadian ini cepat berakhir. Ia menyesal karena telah melakukan itu dengan Len tanpa diketahui Kiyoteru, dan ia sudah cukup mendapat balasannya. Tubuhnya tak bisa lagi mengikuti ritme yang terlalu bertubi-tubi.

"Kumohon, hentikan... aku menyesal..." lirihnya di telinga lelaki itu sambil terus terisak.

Kiyoteru menjauhkan dirinya dari pemuda itu, melepas bibir dingin itu dari torsonya. Setelah ia memakai bajunya kembali dan merapikan sedikit penampilannya, ia meninggalkan pemuda yang terlihat sudah hancur lebur itu.

"Selamat malam, Kaito..."]

"Apa perlu aku kirimkan scan pesan yang kau tinggalkan untuk Kaito waktu mayat Len kami temukan?" sahut suara itu, membuyarkan lamunannya.

"Tidak perlu," jawab Kiyoteru singkat.

"Yah, aku berharap semoga setelah ini kau segera datang dan mengakui kesalahanmu itu. Kalau tidak, mungkin hukumannya akan jadi lebih berat dari pada sekarang ini..."

Klek. Telepon terputus.

Sementara itu...

"Bagaimana, Meiko-san?"

Wanita itu menjauhkan handphonenya dari telinganya.

"Hah, laki-laki itu hanya bersikap biasa saja," wanita yang dipanggil Meiko itu berdecak.

"Sayang sekali ya, Kaito..." Wanita itu mendekati ranjang tempat pemuda itu terbaring. Masih terikat erat di atasnya.

"Mengapa harus aku...?" lirihnya dengan suara serak.

"Pertama, kau telah menodai Len, dan kedua, kau adalah tumbal yang baik agar laki-laki itu keluar dan menyerahkan dirinya. Jadi, sambil menyelam minum air, kan?" sahut Meiko sambil menyentuh tali yang mengikat tangan kirinya.

"Bukan begini caranya untuk membuat orang menyerahkan diri..." Entah dari mana keberanian itu muncul dan membuatnya mengucapkan kata-kata itu.

"Jadi, kau membangkang, hah? Kau melawan, hei pengkhianat?" Meiko mencekik pemuda itu, gadis berambut biru dan kuning pun langsung berlari dan melerai Meiko.

"Meiko nee-chan! Jangan terbawa emosi!" seru si rambut kuning, Rin.

"Kaito benar, Meiko-san! Kita ini Himitsu Keisatsu yang tidak takut pada apapun juga! Tindakan ini akan membuat kita terlihat seperti pengecut!" sambung si rambut biru yang mengenakan masker dengan tanda silang hitam besar tercetak di atasnya, yaitu Miku.

"Apa kalian tidak sadar bahwa penyebab Len terbunuh adalah Kaito, hah?" bentak Meiko.

"Maka itu, mereka berdua harus mendapat balasannya, tak peduli dia kawan atau pun lawan!" lanjutnya lagi, membuat Rin dan Miku hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala.

Diam-diam, tangan Kaito yang terikat erat itu terkepal erat, giginya bergemeretakan tanda tak senang.

Cih!

Di tempat Kiyoteru

Kiyoteru memegangi dahinya, kepalanya yang menggelegak dan mendidih oleh rasa benci teramat sangat. Entah benci pada siapa sekarang.

Ah ya, pada Kaito.

Tidak, ia tidak membenci Kaito. Ia membenci anak itu, yang telah merebut perhatian Kaito darinya.

["Hei Kiyo, kenalkan ini temanku, Len,"

Bocah berambut kuning itu tersenyum a la shota sambil menjabat tangan Kiyoteru yang terulur. Kaito memperkenalkan bocah itu sebagai rekan kerjanya pada Kiyoteru.

"Namaku Len, salam kenal!" ucapnya sopan. Kiyoteru mengangguk.

"Wah, Anda kelihatannya orang baik, ya! Tunggu, minusmu, minusmu tinggi ya?" tanya Len penuh rasa ingin tahu yang terdengar kekanakan. Kaito terkikik pelan.

"Begitulah, aku sering menatap layar komputer untuk…"

"Main game kan? Suka game apa?" sambar Len.

"Apa saja boleh," jawab Kiyoteru singkat.

Tiba-tiba handphone laki-laki itu berbunyi. Dengan setengah hati Kiyoteru menjawabnya. Setelah beberapa saat telepon terputus dan ia memasukkan kembali handphonennya ke dalam saku celanannya.

"Kaito, sepertinya aku tak bisa lama-lama. Kau baik-baiklah di sini ya?" bisiknya di telinga Kaito.

"Ah tunggu sebentar.." Kaito menarik Kiyoteru menuju salah satu sudut kamar hotelnya, lalu di sana, suara pagutan bibir menyatu dengan erangan pelan dari keduanya. Ciuman perpisahan.

"Aku pergi dulu," pamit Kiyoteru.

"Hati-hati…" jawab Kaito sambil terengah-engah, berusaha bernapas dengan baik dan benar.

Setelah memastikan Kiyoteru benar-benar lenyap dari kamarnya, ia menghampiri Len yang ternyata sedang melepas kancing bajunya.

"Maaf, tadi lama. Sampai di mana tadi?" tanya Kaito. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.

"Kau kelamaan sih! Jadi kubuka sendiri saja," Len mendumel dalam hati, Kaito terkikik.

"Maaf membuatmu menunggu lama…"

Segera saja adegan ranjang itu dimulai dengan kronologi yang biasanya, tanpa diketahui Kiyoteru yang kini menghentikan langkahnya di tengah koridor kamar hotel yang remang.

"Oh iya, sepertinya barangku ada yang tinggal di kamar Kaito," gumamnya sambil berbalik menuju kamar pemuda itu. Saat ia membuka pintu, terlihatlah hal yang tak pernah ia sangka sebelumnya.

Kaito meniduri orang yang diketahui adalah rekan kerjanya.

"K… Kiyo-san…?"

"Ah, maaf, aku hanya mau tanya apa kalian melihat sapu tanganku?" tanya Kiyoteru, berusaha untuk bertampang biasa-biasa saja, meski dalam hati remuk redam.

Kaito memakai kembali bajunya lalu melompat dari ranjang dan mengambil sapu tangan Kiyoteru di meja rias.

"Ma.. Maaf Kiyo-san.." Kaito menundukkan kepala. Len pun segera mengenakan kembali baju-bajunya dan buru-buru pergi.

"Ka… Kaito… aku pergi dulu…" ujarnya terbata sambil berlalu.

Meninggalkan dua pria itu dalam suasana tak enak.

"Maaf.."

Hanya itu yang memecah keheningan yang menusuk hati itu.]

Kedua mata elangnya yang bersembunyi di belakang lensa kaca bening itu mulai menyusuri seisi kamar yang ditempatinya. Gerak mata itu terhenti saat bayangan belati di atas meja di samping tempat tidurnya tercetak menembus retina matanya.

Belati yang ia tancapkan di jantung sang shota yang telah merebut tubuh kekasihnya.

'Karena kau telah merebut jantung hatiku…'

Keesokan harinya, jenazah Len telah turun ke liang lahat dengan tenang. Acara pemakaman dibuat seprivat mungkin, hanya pihak keluarga saja yang datang termasuk Rin, yang adalah saudara kandungnya. Sementara anggota mereka yang lain tidak diizinkan turut serta.

Kaito masih ada di atas tempat tidur, masih terikat erat. Luka yang menganga di sekujur tubuhnya masih meneteskan darah, baik yang telah mengering maupun darah segar berwarna merah berkilat berbau khas logam. Miku yang merawat pemuda itu sendiri.

"Miku…" bisik Kaito lirih tanpa daya.

"Sudahlah, kau diam saja dan tenang, aku bersihkan lukamu," gerakan tangan gadis itu lincah membasuh satu luka, lalu berpindah ke luka lainnya. Di balik profesinya yang gelap sebagai 'polisi kekejaman', gadis itu memiliki bakat menyembuhkan orang yang besar.

"Miku, apa dia akan datang…?" tanya Kaito lemah.

Miku memandang Kaito heran, ia menghentikan laju tangannya.

"Whoa, jangan tanya aku. Tanya sendiri padanya," Miku lalu melanjutkan kembali kegiatannya.

"Jika ia mau bertanggung jawab, tentu ia akan datang, bukan? Tenang sajalah…"

Kiyoteru masih bermain dengan teka-teki, di mana keberadaan pemuda itu kini. Ia merasa aneh, mengapa ia sebagai sang penjahat malah dibodoh-bodohi oleh pembela kebenaran yang tak kalah kejam. Tapi ia tak punya pilihan lain. Ia harus menemukan Kaito.

Orang yang membuatnya kecewa, namun masih dinantikannya.

Teleponnya kembali berdering. Kiyoteru mendesis pelan.

"Halo?"

"Ah, kau rupanya. Nomormu tak ganti-ganti ya…"

Dalam hati Kiyoteru ingin sekali menebas perempuan yang meneleponnya itu. Satu, karena ia melukai Kaito. Dua, karena ia begitu bodoh, Kiyoteru kan bukan tipe remaja yang senang mengoleksi banyak nomor handphone sampai membuat pusing?

"Apa maumu?" tanyanya dingin.

"Hei, rileks. Aku hanya ingin memberitahukanmu sesuatu," sahut suara itu, Meiko.

"Katakan,"

Di seberang sana, Meiko melukiskan segaris lengkung jahat di bibirnya. Seringai menakutkan.

"Aku ingin berbaik hati padamu, karena hari ini Len telah dimakamkan…"

Kiyoteru mengernyitkan dahi.

"…Maka aku akan memberitahu satu petunjuk lagi di mana kami berada, sehingga kau bisa mengambil Kaito itu untukmu," ujarnya.

Beberapa saat kemudian, Kiyoteru menerima e-mail yang masih berisikan foto-foto dengan Kaito sebagai objek utamanya, hanya saja kali ini sudut pandangnya lebih luas. Ia dapat dengan leluasa melihat sekeliling ruangan itu.

"Tak terlalu jauh, bukan? Pasti kau tahu, lah…"

Di sebuah kaca terdapat tulisan yang sangat familiar baginya, pesan bagi ia yang telah merebut Kaito miliknya…

'Aku harus mencabik tubuhmu,

Karena kau telah mencabik tubuhnya.

Aku harus membuatmu mengerang kesakitan,

Karena aku tak ingin kau hanya memperdengarkannya padanya.

Aku harus mengambil jantungmu,

Karena kau telah merebutnya, jantung hatiku…'

Kemudian muncul sebuah video yang menjadi pesan di e-mailnya. Terlihatlah pemuda yang merintih kesakitan di atas ranjang itu, masih terikat kuat. Tersiksa.

"Kiyo-san…"

Kiyoteru menelan ludah dengan susah payah.

"Datanglah ke mari, cepat…"

Kiyoteru langsung meloncat dan berlari keluar, pergi menuju tempat yang diyakininya sebagai tempat di mana Kaito disekap.

Di mana?

"Tolong…"

Kiyoteru memacu tunggangannya, ia tak ingin waktunya terbuang percuma.

"Maafkan aku…"

Ia muak dengan semua ini, dia lelah.

"Kumohon…"

Ia telah menunggu sangat lama, ia ingin segera mengungkap misteri yang terus membayanginya.

"Ya, tunggu aku di sana, Kaito. Tunggu aku…"


Panjang, gaje tiada ujung…

Ahahahahaa! Angst + yaoi + blood = *dipanah readers*

Sengaja Ome gantung! Sengajaaaa banget! Wong lagunya juga nggantung kayak jemuran Emak di rumah Ome! :D *digilas readers*

Deeys-ssi! Cepat gampar Ome! Sumpaaah.. ini otak gag bisa diajak rated M lohh! Chlome-tan sibuk tidur mulu sih jadi gag bisa bantuin banyak ~ XDDD

Siip, yang selanjutnya, lah! X3