Order berikutnya, Yukito Knox-ssi!
Ome ngerjain fic ini sambil dengerin yang versi Il Divo sih~ habis Ome adanya ya itu~ *diteplak*
Seeepp~ kita saksikan saja kisah lelenovela antara si cantik dan si ganteng berikut ini... *ditebas Gakkun dan dilempar Kaikun*
Warning:
Slight yaoi, Gakkun's POV to Kaito~
Enjoy yah all~
Unbreak My Heart (Toni Braxton)
Setetes…
"Kaito…"
Dua tetes…
"Jangan pergi…"
Tiga tetes…
"Jangan tinggalkan aku…"
Butuh berapa tetes air mata lagi, Kaito?
"Maafkan aku, Gakupo…"
Sudah bertetes-tetes air mata yang mengalir di pipiku. Pengorbanan harga diriku sebagai laki-laki, dan sebagai orang yang amat sangat mencintaimu.
"Bodoh.." geramku pelan, entah untuk dirimu atau bahkan untukku.
"Aku benar-benar minta maaf, Gakupo, aku harus pergi…"
Kupeluk tubuhmu erat-erat, tak memberimu kesempatan untuk meronta dan menjauh. Kurasakan kau perlahan berjinjit, mengimbangi tinggi tubuhmu denganku.
"Tak bisakah kau tetap di sini untukku?" lirihku putus asa.
Kehangatan yang lembut mengecup pipiku yang masih basah oleh air mata. Kujauhkan wajahku darimu.
"Kau marah, Cantik?" tanyamu.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Kehangatan membakar wajahku.
"Kau marah padaku ya?" tanyamu lagi. Aku tak bisa menjawabnya.
"Maaf, aku harusnya tidak memanggilmu seperti itu…"
Aku ingat, dulu saat kita masih bersama, dan kau memanggilku seperti itu, pasti akan berakhir dengan teriakan dan tebasan katana kesayanganku yang membuatmu tersungkur tak berdaya. Tapi, kini tak lagi.
Kubawa wajahmu mendekati wajahku, memberimu rasa dingin dari pipiku yang basah. Kau hanya terdiam.
"Para penumpang yang terhormat, pesawat Voca Airlines dengan nomor penerbangan VA-531 tujuan Amerika akan segera berangkat pada pukul 13.10, diharapkan agar para penumpang bersiap-siap…"
"Kenapa kau tak bawa saja aku ikut?" tanyaku. Oke, aku tahu itu pertanyaan bodoh.
"Gacchan, tiketnya cuma buat satu orang. Lagipula siapa suruh kamu nggak ikut bareng aku ambil tes beasiswa, siapa tahu kamu…"
"Gacchan? Kau pikir aku turunan Gachapoid?" protesku. Aku teringat bocah mungil berambut hijau maniak dinosaurus itu. Tentu saja aku tak mau dibandingkan dengannya.
"Ma.. Maaf, Gakupo…"
Wajahmu tertunduk. Aku tak bisa melihat dengan jelas wajah indahmu.
Keheningan menguasai kita selama beberapa saat, sampai kudengar lagi suara yang makin lama makin kubenci itu.
"Panggilan kedua kepada penumpang pesawat Voca Airlines tujuan Amerika dengan nomor penerbangan VA-531, dipersilahkan naik menuju pesawat. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih,"
"Tuh, pesawatnya udah boarding~" ucapmu sambil memanyunkan bibir.
"Kok jadi kau yang monyong gitu?" tanyaku heran.
"Oh iya, maaf… Aku lupa skenarionya," bisikmu pelan, membuatku ingin menjitakmu dengan katanaku.
Aku merasa makin OOC seiring dengan berjalannya detik jam. Sudah lewat kira-kira lima menit dari panggilan kedua.
"Gacchan, Cantikku…"
Kehangatan bertemu dengan rasa dingin saat wajah kita semakin mendekat, menghilangkan jarak di antara kita. Mungkin terlalu berlebihan, apalagi ini tempat umum.
"Aku… pergi dulu, ya?"
"Panggilan terakhir kepada penumpang pesawat Voca Airlines tujuan Amerika dengan nomor penerbangan VA-531, dipersilahkan naik menuju pesawat. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih,"
Aku hanya bisa terdiam saat kau melepas pelukanmu, menenteng ranselmu dan menggeret kopermu, menyaksikanmu semakin menjauh hilang ditelan Gate-1 di mana kau akan menyongsong pesawatmu, pergi ke antah berantah dan tak tahu kapan akan kembali.
Bahkan aku terlalu takut untuk mengucapkan selamat tinggal, meskipun kau sudah mengucapkannya berkali-kali.
Kutinggalkan bandara dengan hati yang kacau, seperti balon hijau yang meletus tiba-tiba.
Ingatkah kau akan hal itu?
Kuperhatikan hujan yang mulai turun dari balik jendela taksi yang kunaiki. Biasanya saat hujan, kita pasti pergi bersama untuk menghangatkan diri. Meskipun tak sepayung berdua, karena akan terlihat aneh nantinya di hadapan khalayak ramai.
Ingatkah kau akan hal itu?
Aku menghela napas panjang. Aku tak yakin apa keesokan harinya semua bisa berjalan seperti biasa.
Ah, mungkin bukan waktu yang harus kusalahkan. Mungkin hatiku yang tak bisa menerimanya.
Ya, hatiku.
GLEP!
Huiiikkss… I'm not that good at yaoi things eh? Mana ini terlalu singkat, lagi ~ habis lagunya berputar-putar di situ sih ~ *banyak alesan, digampar*
Tapi Ome ini fujoshi loh! Dengan bangga Ome menyatakan bahwa Ome fujoshi! XD *digampar*
Siip, ada dua lagi sih yang masih Ome kerjain, sabar aja ye! :DDD *digampar sepuasnya ama readers*
