Hana datang dengan chapter dua. XD
Tolong jangan hajar saya karena telat apdet (meskipun memang seharusnya dihajar). Maafkan saya T.T
Urusan setiap orang tak bisa ditebak, kan? #alasan #dihajarbeneran.
(Meskipun saya tak tahu juga) kok, jadi ada hints shounen-ai ya? Yasud, lanjut sajalah.
Happy reading!
(o-o-o)
"Sealand Anak Siapa?"
Hetalia Axis Powers : Hidekaz Himaruya
This fic : Hana Mizuno
(o-o-o)
.
Babak pertama?
"Babak pertama apa?" tanya England bingung.
"Tentu saja kalian akan bertanding untuk menjadi orang tua Sealand, maksudku, membuktikan bahwa kalian pantas menjadi orang tua-nya, kan?" Spain nyengir lebar.
"L'lu?" Sweden bertanya.
"Ulangi penjelasannya." Austria angkat bicara.
"Baik, setiap 'peserta' di sini akan melewati beberapa 'babak' untuk mendapatkan poin– "
"Sudah kukatakan ini bodoh sekali," potong Romano.
"Jangan begitu, dong, Romano~" kembali Spain mengeluarkan suara yang terdengar seperti orang bodoh di telinga Romano.
Romano mendengus, "terserahlah!"
"Oke, kulanjutkan. Poin terbanyak menentukan siapa pemenang dari persidangan ini. Tentu saja kalian harus melewati beberapa tahap. Seperti menjawab, berdebat, dan lain sebagainya. Ya, karena hakimnya Spain, ya terserah Spain~"
Sealand bersumpah semua yang ada di sini hendak ber-gubrak-ria.
"Aneh! Tapi, ikuti sajalah," keluh America.
"Oke, langsung saja kita mulai. Babak pertama! 'Seputar Sealand'!"
.
(o-o-o)
.
"S-Seputar Sealand?" sejak kapan Finland jadi gagap begini?
"Ada-ada saja, sih?" protes America.
"Mungkin ini lebih tepat disebut babak pemanasan. Karena yang harus kalian lakukan adalah… menjawab sederet pertanyaan yang telah dibuat. Di dua lembar kertas ini, masing-masing tertulis sepuluh pertanyaan yang harus diselesaikan bersama. Tentu saja pertanyaan tentang Sealand. Waktu hanya dua puluh menit, usahakan benar semua untuk mendapat poin terbanyak! Jadi seperti kuis, kan?" jelas Spain.
"Bagaimana bisa mulutnya tidak berbusa setelah bicara sepanjang itu?" tanya Austria.
"Untuk menyingkat waktu. Kita mulai saja~" Spain mengambil kertas pertanyaan. "Oh, sebelumnya, biar Sealand melihat pertanyaannya dulu. Silakan."
Dengan jantung berdebar-debar, Sealand mengambil selembar kertas. Matanya mulai bergerak-gerak membaca pertanyaan pertama.
Satu detik…
Dua detik…
Satu menit…
"Huapua inii?" Sealand menjerit histeris, melupakan segala kesopanannya.
"Ada masalah, Sealand?" tanya Spain masih tersenyum lebar.
"M-maaf, hakim!" Sealand buru-buru. "T-tapi jawabannya aib saya semua?"
"Bukannya bagus?" tanya Spain, terlihat bodoh.
'Bagus apanya?' Sealand menelan ludah.
"Jika mereka bisa menjawab ini, berarti memang merekalah orang tua-mu. Karena mereka tahu semua tentang Sealand. Ya, kan?" Spain kembali berkata tanpa nada bersalah.
"Kalau aku jadi Sealand, aku akan kabur," ucap Romano sangat pelan.
"Ada apa, sih? Kapan kita bisa mulai?" tanya England.
"Baiklah! Tolong dibagikan, Austria."
Austria membagikan kertas pertanyaan kepada dua pasangan di dua sisi. Setelah menerima, mereka langsung membaca.
.
(o-o-o)
Pertanyaan:
+ Pukul berapa Sealand bangun setiap hari?
+ Sealand lemah di pelajaran apa?
+ Makanan apa yang tidak disukai Sealand?
+ Berapa kali Sealand dipanggil Kepala Sekolah-nya karena mengintip di toilet wanita?
+ Lagu favorit Sealand, apa saja?
+ Apakah Sealand mendengkur atau ngorok saat tidur?
+ Antara anjing satpam Ragunan dan Sealand, siapa yang menang?
+ Bagaimana cara Sealand mencuri buah tetangga?
+ Apakah Sealand mengganti pakaian? Atau ia tidak pernah mandi?
+ Apa ada kebiasaan buruk Sealand yang tidak bisa diubah?
(o-o-o)
.
Hening sejenak.
"Kok, susah amat, sih?" sembur England.
"Pertanyaannya pribadi…" Finland mau pingsan.
"T'n'ng, kita s'l's'ikan b'rsama," ujar Berwald.
"Bah, hero akan menjawab semua dengan benar!" seru America penuh semangat
"Bloody hell, awas saja kalau kita kalah gara-gara kau!" England menjitak America.
"Mulai sajalah, membosankan," tukas Romano.
"Dengan ini, babak pertama dimulai!" Spain mengetuk palunya ke meja, kedua pasangan mengerjakan soal. "Ingat, ya. Hanya dua puluh menit!"
"Aku saja yang menulis, Su-san," ujar Finland sopan sambil meraih pena di ujung meja.
Begitulah. Kedua pasangan mengerjakan 'kuis' dengan serius, namun sesekali mengeluh. Waktu terus berjalan, keduanya mencapai pertanyaan terakhir.
"Ayo, dua menit lagi!" Spain bersemangat. Bisa diibaratkan saat ini ia adalah pemandu sorak yang berlari di tengah lapangan sambil membawa pompom. Fans berteriak, Romano tidak. Dasar tsundere.
Kembali ke pertandingan.
"Ayo cepat menulisnya, old man! Iya, sebentar lagi!" pihak timur, yaitu America dan England, bersikukuh melengkapi jawaban terakhir.
"S'dah, b'g'tu saja," sepertinya pihak barat sudah menyelesaikan seluruh pertanyaan.
"lima, empat, tiga, dua, satu… selesai! Letakkan pena, kita lakukan penilaian!" kembali meja disiksa Spain dengan palunya.
Spain melirik. "Kita, mulai dari… pihak timur dahulu! Silakan ditunjukkan pertanyaan dan jawabannya~"
"Hmm… baiklah. Ini jawaban kami, dan… awas saja kau, bloody hell git!" England kembali berteriak dengan suara toa.
Apa ada yang tahu perangkat semacam proyektor yang dapat menampilkan data di layar dengan bantuan lampu dan cermin? Ya, alat itu yang digunakan saat ini. England maju dan meletakkan kertas jawabannya di atas kaca, lalu Austria menyalakan tombolnya sehingga lampu menyala dan menampilkan jawaban di layar belakang tempat duduk Spain.
.
(o-o-o)
.
+ Pukul berapa Sealand bangun setiap hari?
= Berhubung dia anak bandel yang hobi main game online hingga dini hari, dapat dipastikan ia bangun sekitar pukul dua belas siang.
+ Sealand lemah di pelajaran apa?
= Bocah ini agak tolol kan? Daripada susah-susah ditulis, ia lemah di semua pelajaran!
+ Makanan apa yang tidak disukai Sealand?
= Scone buatan England! :P
+ Berapa kali Sealand dipanggil Kepala Sekolah-nya karena mengintip di toilet wanita?
= Seminggu sekali!
+ Lagu favorit Sealand, apa saja?
= Keong Racun, Baby-nya Justin Bieber, dan seluruh album kompilasi Rhoma Irama.
+ Apakah Sealand mendengkur atau ngorok saat tidur?
= Tak hanya itu, ia juga membuat sumur di bantalnya.
+ Antara anjing satpam Ragunan dan Sealand, siapa yang menang?
= Tentu saja anjingnya! Bocah macam ia tak bisa melakukan apapun selain lari, kan?
+ Bagaimana cara Sealand mencuri buah tetangga?
= Ia hanya perlu memanjat pagar dan berteriak "Kebakaran! Kebakaran!". Setelah orang pergi ke luar, ia memanjat layaknya monyet. 8D
+ Apakah Sealand mengganti pakaian? Atau ia tidak pernah mandi?
= Mungkin saking miskinnya ia tak pernah mandi.
+ Apa ada kebiasaan buruk Sealand yang tidak bisa diubah?
= Banyak! Selalu mengejek "Jerk Arthur!" dalam rapat, menipu uang kembalian, ceroboh (salah satu contohnya ia membocorkan tabung gas 3 kg, menyebabkan efek seperti yang terjadi di rumah warga), teledor, penakut, dan bodoh.
Eh, itu sifat ya? =.=
.
(o-o-o)
.
Sekali lagi, seluruh ruangan hening.
Keheningan dipecahkan dengan suara tawa cekikikan.
"Jawaban apa itu?" Romano menukas pelan, meskipun dalam hati ia melakukan ROFL. Austria hanya tersenyum menundukkan kepala.
"Empf…! Pfft…! Hihihi…!" terdengar suara orang menahan tawa (atau menahan BAB?) dari kursi penonton.
Pihak timur bagaimana? Mereka bersembunyi di balik box. England membaca Surat Yasiin, America komat-kamit memainkan biji tasbih.
Pihak barat? Mereka hanya membandingkan dengan jawaban mereka, yang kemungkinan juga salah.
Spain? Ia sudah tertawa, bukan, ia 'ngakak guling-guling' di lantai.
Sealand? Ia sudah mati bunuh diri barusan.
Tidak. Ia bersembunyi di kolong meja, menangis dalam hati meratapi nasibnya. 'Kok calon ortu gue kejam banget, sih? America no baka, Jerk Arthur!'
Untuk menghindari kemungkinan Spain mati ketawa dilantai, Romano turun dan menyeretnya kembali.
"Sudah tertawanya, bodoh!" omel Romano seperti biasa.
"Huahahahah!" Spain masih memukulkan tangannya ke lantai, kakinya diseret Romano.
.
Mungkin semuanya berlebihan, karena jawabannya TIDAK lucu sama sekali.
.
"B-baiklah…" Spain masih mengatur nafas. "Menarik sekali, jawabannya spontan (dan mengundang konflik). Apalagi kalian membuat emoticon? Bagus, bagus! Tapi poin belum dapat ditentukan, silakan pihak barat menunjukkan jawabannya~"
Berwald meletakkan kertasnya di proyektor 'tradisional' itu, lalu kembali ke tempatnya. Roman menyalakan tombol, untuk menampilkan jawaban pihak barat.
.
(o-o-o)
.
+ Pukul berapa Sealand bangun setiap hari?
= Tergantung. Ia tidak akan bangun jika tidak disiram air cucian.
+ Sealand lemah di pelajaran apa?
= Matematika, IPA, Elektronika (ia gaptek), dan sejenisnya.
+ Makanan apa yang tidak disukai Sealand?
= Berat kami katakan, Salmiakki. T.T
+ Berapa kali Sealand dipanggil Kepala Sekolah-nya karena mengintip di toilet wanita?
= Pertanyaannya salah! Ia tak mungkin mengintip di toilet wanita! Karena ia mengintip toilet laki-laki!
+ Lagu favorit Sealand, apa saja?
= Madu Tiga oleh Ahmad Dhani, Bangun Tidur oleh Alm. Mbah Surip, yel-yel Persija, Es Lilin.
+ Apakah Sealand mendengkur atau ngorok saat tidur?
= Jika seseorang mendengkur, berarti ia tidak bermimpi. Berhubung Sealand sering mimpi basah, ia tidak mendengkur
+ Antara anjing satpam Ragunan dan Sealand, siapa yang menang?
= Sealand, kelakuannya mirip Hanatamago. -,-
+ Bagaimana cara Sealand mencuri buah tetangga?
= Tinggal bilang, "maaf, pak. Saya mau nyolong," lalu ambil buahnya.
+ Apakah Sealand mengganti pakaian? Atau ia tidak pernah mandi?
= Ia mandi di sungai, sambil mencuci pakaian. Kemudian selama satu jam ia menunggu pakaiannya kering.
+ Apa ada kebiasaan buruk Sealand yang tidak bisa diubah?
= Pembohong, suka mengejek, masih ngompol.
.
(o-o-o)
.
Suara jangkrik terdengar.
Suasana kembali seperti saat pihak timur selesai menunjukkan jawaban. Spain berguling-guling, penonton bergantian ke kamar mandi, Romano dan Austria diam, Sealand meratapi nasib dan menjerit dalam hati, pihak timur membandingkan jawaban, pihak barat mandi kembang tujuh rupa.
Eh, salah! Mereka berdzikir dengan khusuk, berharap jawaban mereka ada benarnya.
"Gyahahaha!" Spain masih bertindak seolah jawabannya sangat lucu. Padahal TIDAK.
"Cukup, hakim sinting!" Romano bersusah-payah menyeret Spain.
"Bagaimana nasibku selanjutnya?" keluh Sealand, lagi-lagi di kolong meja.
Beberapa saat kemudian, ruang sidang sudah kembali ke keadaan semula. Sang hakim-pun sudah dipulihkan kewarasannya.
"Hahaha, ya! Itu dia jawaban kedua pasangan! Mungkin ini sudah saatnya penghitungan poin," Spain sengaja menyingkat waktu. Mungkin antara ingin cepat selesai atau ingin segera menuju babak berikutnya supaya bisa mengerjai lagi.
Spain menoleh ke arah Sealand yang sudah terduduk sambil terus menyebut nama Tuhan. Tidak, Sealand sedang menenangkan diri untuk yang selanjutnya. "Bagaimana, Sealand? Apa kau sudah siap mengumumkan jawabannya?"
"S-Siap, pak hakim," jawab Sealand dengan nada terpaksa.
"Mohon dibantu ya~" seiring dengan perintah Spain yang serupa dengan pesulap lawak di teve, Austria turun sambil membawa mike dan kertas pertanyaan untuk Sealand.
"Jadi…" Sealand memulai. "Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi adalah,"
-#-#-#-
"Pukul berapa Sealand bangun setiap hari?" Sealand membaca. "Ya, sebenarnya saya susah bangun. Tapi, nggak sampai jam dua belas juga kali! Mungkin segala jawaban yang berkaitan dengan 'dibangunkan' itu tepat, jadi yang benar pihak barat."
"Syukurlah!" Finland berseru senang dengan wajah bahagia, sangat imut di mata sang 'suami'. Oke, melenceng dari topik.
"Satu poin untuk barat!" seru Spain. Romano mencatat dengan malas.
"Sealand lemah di pelajaran apa?" lanjut Sealand. "Mohon maaf, saya tidak tolol-tolol-amat, ya? Benar pihak barat, karena saya benci hitungan. Tapi soal uang saya tak mau rugi, maaf tidak nyambung."
"Satu poin lagi untuk barat." Romano mencatat.
-#-#-#-
"Makanan apa yang tidak disukai Sealand?"
"Dua yang sangat tidak saya suka, scone England dan Salmiakki! Jadinya, seri." Sealand menjawab.
"Tidak usah ditulis, Romano~" ujar Spain, penuh 'kasih sayang'.
-#-#-#-
"Berapa kali Sealand dipanggil Kepala Sekolah-nya karena mengintip di toilet wanita?"
"Akh! Ini aib! Saya tidak pernah mengintip! Ngomong-ngomong, saat hendak mengisi ember untuk mengepel tempo hari, saya tak sengaja mengintip Latvia…"
"Satu poin untuk–"
"…yang sedang mengambil air juga! Jadi, seri lagi!" bantah Sealand.
"K'pikir akan t'rj'di yang 'neh-'neh," gumam Sweden.
-#-#-#-
"Lagu favorit Sealand, apa saja?"
Sealand menghela nafas. "Siapa itu Justin Bieber? Apa pula itu Persija? Tapi saya mengaku pernah melatunkan 'darah muda…' sambil mencuci piring. Kasihanilah pihak timur, pak hakim."
"Oke. Satu poin untuk pihak timur!" seru Spain.
"Akhirnya!" America berteriak senang.
"Baru satu, hell git!" tukas England.
-#-#-#-
"Apakah Sealand mendengkur atau ngorok saat tidur?"
"S-saya tidak mimpi basah setiap hari! Yang ada saya terbangun basah kuyup karena banjir sungai sebelah! Memang aib, tapi saya memang mendengkur," Sealand menunduk malu.
"Satu poin lagi untuk kita!" America berjoget. England sweatdrop.
-#-#-#-
"Antara anjing satpam Ragunan dan Sealand, siapa yang menang?"
"Tentu saja saya! Huahahahah! Hiehehehe! Heuheuheu!"
.
Hening sejenak.
Krik… Krik…
Toiletnya di mana ya?
.
"S-satu poin untuk barat! Siapa yang bicara tadi?" tanya Spain.
"Eh, lupakan sajalah," Sealand sadar sudah sangat IC tadi, karena sejak tadi ia menjaga sikap.
-#-#-#-
"Bagaimana cara Sealand mencuri buah tetangga?"
"Saya tak pernah mencuri! Salah semua!" Sealand membela diri.
"Kau pernah mencuri jawaban orang lain," gumam Finland pelan. "Menyontek, maksudnya."
-#-#-#-
"Apakah Sealand mengganti pakaian? Atau ia tidak pernah mandi?"
"Jawaban pihak barat seratus persen tepat," jawab Sealand lemas.
"H'bat j'ga t'b'kanku," ujar Sweden.
"Bloody hell, kita ketinggalan jauh," England memberi death glare pada America.
America hanya bisa diam menundukkan kepala.
-#-#-#-
"Apa ada kebiasaan buruk Sealand yang tidak bisa diubah?"
"Tidak perlu disebut, pihak timur lebih banyak menjawab tepat." Sealand menjawab singkat.
"Satu poin untuk timur, babak pertama selesai!" Spain mengetukkan palu dengan semangat.
.
(o-o-o)
.
Jumlah poin sementara.
Pihak timur: 3 poin.
Pihak barat: 4 poin.
"Wah, hebat! Kalian hanya berselisih satu poin!" puji Spain.
Sealand melongo melihat 'kehebatan' calon orang tua-nya. Tiga soal batal, persaingan semakin ketat.
"Selanjutnya apa lagi, pak hakim?" tanya Finland.
Spain melirik arlojinya, "ya, saya putuskan untuk menyempatkan satu babak lagi sebelum istirahat. Tidak sulit, kok~"
Justru kalimat itulah yang membuat para Nation berpikir babak ini akan lebih sulit.
"Cih. Apa lagi yang akan dilakukan si bodoh ini?" gerutu Romano.
"Ini dia babak kedua, 'Apa Buktinya?'!"
.
(o-o-o)
.
"Jangan bikin hero pusing, babak apa lagi itu?" America sewot.
"Perlombaan yang sedikit menggunakan akal. Babak kali ini berunsur debat. Jadi, daya akan beradu mulut secara ringan untuk membuktikan bahwa kalian pantas menjadi orang tua Sealand, atau memang betul orang tua-nya?" jelas Spain.
"Hei, git! Aku dan Finland tidak mungkin melahirkan anak!" England setengah mengamuk.
"Saya juga tidak percaya dua 'ibu' di sini hamil sembilan bulan. Tapi setidaknya buktikanlah kalian orang tua Sealand," lanjut Spain. "Giliran diputar. Kita mulai dari kelompok barat dulu, ya?"
Supaya tidak mendengar perdebatan tim lawan, Romano dan Austria memberi earphone untuk pihak timur. Dengan lagu kebangsaan dari Negara masing-masing yang diputar dengan volume penuh, mereka akan tuli sementara. Duduknya juga berbalik ke belakang, menghadap jendela.
Sealand? Ia dibawa ke luar sebentar, untuk menenangkan pikiran sekaligus buang air kecil yang ditahannya sejak tadi.
"Ehem, pasutri Sweden-Finland~" cengir Spain lebar. "Maksudku, pasangan Sweden dan Finland. Simak baik-baik ucapanku, ya~"
Spain mengubah arah duduknya ke barat, agar lebih mudah menatap Sweden dan Finland. "Baiklah, apa yang membuat kalian berpikir bahwa Sealand adalah anak kalian?"
Kedua Nation berpikir sejenak.
"K'rena ia memang p'nt's m'njadi 'nak kami," Sweden mengawali.
"Lalu, ia mempunya keterikatan dengan kami, Scandinavia. Seperti sebuah keluarga. Ia menyukai kami, kami menyayanginya. Ia butuh orang tua dan kami bersedia." Finland menyudahi.
"Hanya itu?" tanya Spain. "Alibi yang bagus, lalu apakah Sealand benar-benar cocok menjadi anak kalian, bukan anak Denmark atau siapa?"
"Jika sebagai properti, ia merupakan bagian dari Su-san," ujar Finland. "Ia juga dekat dengan kami. Meskipun saat ini ia sulit mengetahui kami sebagai calon orang tua-nya."
"Jika benar begitu, apa kalian pernah 'menciptakannya'?" tanya Spain lagi.
"T'dak. England y'ng m'mbuatnya," Sweden menjawab pendek.
"Lalu, kenapa tidak untuk England?" Spain bersemangat.
"Karena England lebih pantas jadi kakaknya daripada 'ibu'-nya." jawab Finland agak ragu.
"Fin-s'n ibu yang b'ik…" Sweden menatap 'istri'-nya. Finland terpaksa memalingkan muka, entah malu atau ketakutan.
"Aku tidak yakin ia bahagia bersama kalian~" Spain berakting, bagian dari babak ini.
"K-kenapa?" tanya Finland dengan nada rendah.
"Kalian terlihat seperti pasutri mau cerai~"
"K-karena kami tidak pernah menikah!" Finland kaget, mengambil topi putihnya untuk menutupi wajahnya.
"B'kannya tidak, t'pi s'b'ntar l'gi," sambung Sweden dingin.
"Tidaaakk!" jerit Finland.
'Berhasil! Yes! Yes!' teriak Spain dalam hati.
"Kalau orang tua-nya begini, tidak kompak. Bagaimana Sealand bisa bahagia?" Spain mendramatisir suasana.
"Tanpa m'njadi pasutri kami s'd'h b'sa kompak," ujar Sweden. Tangan kanannya menangkap Finland yang hendak merosot ke bawah box.
"M-mau menikah atau tidak, itu urusan nanti!" Finland hanya memperlihatkan matanya, sementara wajahnya masih tertutup topi. Karena blushing mungkin?
"Suit…! Suit…! Prikitiw!" terdengar suara-suara heboh dari para fujoshi-fudanshi nyasar di bangku penonton.
"Maaf, jadi keluar topik. Hahahaha!" Spain tertawa, padahal dia yang memancing pertanyaan seperti itu.
Finland ingin keluar dari situ sekarang juga.
"Baiklah, selama Sealand senang. Apa yang akan kalian lakukan jika Sealand menjadi benar-benar menjadi anak (adopsi) kalian?" lanjut Spain.
"Kami akan berusaha menjadi orang tua yang baik, membentuk keluarga bahagia, dan lebih akur," mungkin maksud Finland adalah ia akan berusaha untuk tidak takut pada pria di sebelahnya.
"T'pi, jika S'aland m'minta kita m'nikah…"
"Su-san!"
"Oke. J'ngan d'bahas," Sweden menyerah. "P'koknya kami akan b'r'saha m'mbuatnya gembira."
"Baiklah, pihak barat selesai! Poin akan dibahas nanti! Terima kasih!"
Saat itu juga, Finland izin ke toilet.
.
(o-o-o)
.
Finland kembali dan langsung diberi earphone. Ia duduk di sebelah Sweden menghadap ke jendela. Sealand belum kembali. Memang tidak boleh, tetapi anggota PBB yang shotacon dan bukan lolicon khawatir Sealand tenggelam di kloset duduk.
Kembali ke sidang.
Kini giliran pihak timur. America dan England sempat tuli sungguhan karena kesalahan pemutar musik yang mengganti lagu kebangsaan menjadi lagu 'C-I-N-T-A' yang di-aransemen ulang menjadi dangdut. England menepuk-nepuk telinganya. Sementara America berandai-andai kalau tadi ia sempat mendengar lagu 'Azza' oleh Rhoma jr. alias Ridho Rhoma.
Kembali ke sidang!
.
"Oke, pihak timur. Apa yang membuat kalian ada di sini?" Spain memulai.
"Tentu saja karena diculik oleh pasukan dari sini," England sweatdrop.
"Tidak ada keinginan merebut Sealand dan menjadi orang tua-nya?" tanya Spain lagi.
"Ada! Ada!" America menyahut semangat.
"Apa kalian sudah berusaha?"
"Sudah, meskipun… anak itu sangat menyebalkan!" England menendang sisi box.
"Jadi kalian mau Sealand jadi anak kalian atau tidak, sih?" Spain pura-pura bingung.
"Tentu saja mau, hakim! Hei, kau! Jangan ngomong sembarangan!" America ingin menjitak England.
'Pasangan ini ribut sekali…' batin Spain.
"Cukup, cukup. Kita mulai lagi. Bagaimana kita semua di sini bisa percaya kalau Sealand itu anak kalian?" Spain nyaris melupakan penonton.
"Lihat saja, aku dan anak itu mirip–"
"Alis-nya, rambutnya, omongan kasarnya…" America memotong.
"You, git!"
"Jangan bertengkar!" Spain betul-betul pusing.
"Oke, apa lagi?" England jengkel.
"Sebutkan rencana-rencana kalian jika memenangkan hak asuh Sealand," ujar Spain.
"Err… kembali ke rumahku bersama Sealand–"
"Lalu aku bagaimana?" protes America mendengar ucapan England.
"Bagaimanapun juga aku penciptanya! Jadi aku yang berhak membawanya! Lalu, saya akan memasukkan Sealand ke Sekolah Luar Biasa, eh, Sekolah Dasar maksud saya. Setelah itu–"
"Aku bagaimana old man?"
"Berhenti memotong ucapanku!" sembur England.
"Kau egois! Sealand anak kita!" America salah ngomong.
"Aku tak sudi jadi istrimu!"
"Siapa yang sudi menikahimu? Nggak pantas!"
"Kau menantang?"
"Siapa takut?"
Seperti tebakan kita tadi, huru-hara terjadi di tempat itu.
"Cukup! Cukup! Pihak timur selesaaaii!" Spain mengetukkan palunya dengan maksud menghentikan America dan England yang tampar-tamparan di lantai ruang sidang.
Dan sepertinya, itulah akhir dari babak kedua.
.
(o-TBC-o)
Yup! Terlalu panjang! *dihajar massa*
Rencananya mau tamat di chapter depan, baru rencananya lho…
Apakah ada hints SuFin? Atau USUK? XDDD #asal
Yak, silakan diripyu. Saya tunggu~
