Merdeka! UN sudah bubar! Tes SMA sudah bubar! 8Dd

Saya kembali. Rasanya saya tidak bisa hidup tenang (?) jika fanfic lumutan ini dibiarkan begitu saja.

Peringatan sebelumnya:

1. Rating T tidak main-main. Maksud saya, bahasa 'gaul' England-Romano tidak ada yang disensor. Dan keberadaan tokoh-tokoh baru dengan tingkat ke-hentai-an lumayan tidak mendukung saya untuk membuat fic ini jadi suci hadas-najis. Tenang, hanya sekadar kata-kata tanpa praktek (?) kok.

2. Saya mulai tidak yakin dengan genre humor yang saya pasang. Entah kenapa jiwa humor saya (yang dari awal memang segaring wafer T*ngo) menurun drastis. Tapi saya tidak bisa libur update terus. Oke, lihat sajalah jadinya bagaimana OuO

Enjoy!

(o-o-o)

"Sealand Anak Siapa?"

Hetalia Axis Powers : Hidekaz Himaruya

This fic : Hana Mizuno

(o-o-o)

.

Masa istirahat sudah selesai. Namun dapat dipastikan keadaan belum membaik.

Keadaan Sealand betul-betul sulit digambarkan. Bocah itu terlihat semakin pucat saja –entah karena pikirannya bahwa ia harus tinggal bersama salah satu pasangan suami-istri abnormal atau tatapan para om-om PBB yang terlihat semakin 'ganas'.

Tuhan, jika semua ini berakhir dengan baik… Saya berjanji akan menjadi anak yang penurut, sopan, rajin, baik hati, suka menabung, kalau perlu seluruh isi Dasadarma Pramuka, deh. Saya tidak akan menjahili anak orang lagi dan… iya, waktu itu memang saya yang mengintip Latvia di kamar mandi. Tetapi tidak lebih dari itu, kok! Tolonglah Ya Tuhan…

Kira-kira begitulah isi do'a anak malang itu.

Keadaan penghuni ruang sidang lain juga tidak jauh berbeda. America-England sudah jelas babak belur. Aura intimidasi Sweden nampak lebih seram dari biasanya, dan berdampak buruk bagi sang istri yang tengah mengandung, eh, duduk di sampingnya.

Para penonton tampak tegang. Raut wajah mereka menunjukkan rasa penasaran. Sesekali terlihat ada yang bertaruh siapa yang akan menang nanti, bahkan… merencanakan penculikan bocah imut di sebelah sana kalau tidak ada yang menjadi orang tuanya kelak.

Bukannya menciptakan atmosfer yang tenang dan damai, si hakim alias Spain malah sibuk merayu Romano-nya tercinta. Menyelesaikan perkara ini membuatku ingin segera punya anak, katanya. Dan Romano yang tsundere tingkat amit-amit langsung melancarkan aksi bela diri.

Austria? Ia sedang menulis pesan untuk istrinya. Dalam paragraf singkat itu ia menyuruh Hungary untuk segera minum pil KB atau apalah itu (sudah jelas ini tidak ada hubungannya sama sekali). Sebab perkara ini malah membuatnya tidak mau menimang anak dulu.

.

(o-o-o)

.

"Hahaha! Maaf semuanya. Sepertinya waktu istirahat sudah selesai. Jadi, mari kita selesaikan sidang ini. Karena dengan begitu Sealand bisa cepat mendapatkan orang tuanya dan saya bisa cepat bikin anak dengan Roma- ADUH!"

"Apa-apaan kau? Sampai ada tomat tumbuh di gurun pasir aku tidak sudi melahirkan anakmu!" Romano mengamuk.

Di belahan dunia lain, seorang pemuda berkulit gelap yang tengah berjualan pot antik mendadak bersin keras.

"Romano~ Aku 'kan cuma bercanda," ujar Spain sambil mengusap kepalanya.

"Bercandamu keterlaluan, bodoh!" sembur Romano. "Ini sidang dan kau malah membicarakan soal masa depan kit– eh, masa depanmu!"

"Tapi Roma, kita juga harus punya keturunan 'kan?"

"Sebodo amat soal itu. Awas kalau kau berani macam-macam nanti!"

"Ehem!" Austria berdehem keras untuk mengembalikan situasi.

"Tsk. Si aneh itu terlihat sangat bersemangat," dengus England.

"Tidak sepertimu, Iggy." America menyahut. "Kau bahkan tidak peduli soal anak –ehem, kita."

Spain cepat-cepat menguasai ruangan.

"Okay! Sekali lagi maafkan saya –jangan cemberut Roma, kau terlihat semakin imut saja. Sebelumnya, mari kita lihat dulu perolehan skor sementara."

.

Jumlah poin sementara.

Pihak timur: 5 poin.

Pihak barat: 8 poin.

.

"Itu dia!" Spain mengetukkan palu dengan penuh semangat.

"Apa-apaan itu?" kali ini England mengamuk. "Kenapa kami hanya mendapat tambahan 2 poin, you git?"

"Ada dua alasan," Austria membuka catatannya. "Pertama, tidak menjawab semua pertanyaan dengan baik…"

"Kedua, mengacaukan ruangan." Romano meneruskan. "Ini ruang sidang, bukan arena gulat."

England tidak terima. "Tetapi itu tidak adil! Memangnya pasangan suami mengerikan dan istri shalehah itu melakukannya dengan baik?"

"… maksudnya kami ya?" Finland sweatdrop. Sweden hanya memandang tanpa ekspresi.

"Kami memahami keinginanmu. Tetapi untuk sementara beginilah penilaian kami. Tenang saja, masih ada babak-babak berikutnya~" cengir Spain.

"Dan inilah babak ketiga, 'Bala Bantuan'!"

.

(o-o-o)

.

"Langsung saja peraturannya. Seperti yang tadi kalian alami, PBB bisa membawa siapapun kemari dengan cepat. Soal cara? Itu urusan kami. Jadi dalam babak ini, akan ada orang yang disebut dengan 'saksi'."

"Saya akan meminta kedua pihak untuk memanggil saksi –siapapun juga untuk membantu kalian. Saksi ini diharapkan bisa membuat kita semua percaya bahwa Sealand adalah anak kalian. Tetapi ingat! Saksi tidak boleh dibantu, tetapi harus mengutarakan pendapatnya sendiri. Ada pertanyaan?"

Finland mengangkat tangannya.

"Berapa orang yang harus membantu kami?"

"Satu saja cukup. Ia pasti seorang Nation 'kan? Akan lebih baik jika ia tahu soal Sealand," jawab Spain. "Baiklah. Pihak barat dan timur, saya persilakan untuk menulis nama saksi dan di mana kami bisa menemukannya."

Kini kedua belah pihak sibuk berdiskusi.

"Su-san, kita harus memanggil siapa?" tanya Finland takut-takut.

"Ak' t'hu," jawab Sweden sembari mengisi kertas mereka.

"K-kau yakin?" tanya Finland lagi, dibalas anggukan Sweden.

"P'rcay'l'h pada'ku."

Sementara itu, bakal-bakal keributan terlihat pada pihak timur.

"Tidak! Sekali lagi kukatakan, bloody git. TIDAK!"

"Kalau begitu siapa, dong?" America bingung. "Tidak ada pilihan lain, harus dia!"

"Bukannya membantu, dia malah mengacaukan!" protes England. "Menurutmu apa yang akan ia lakukan nanti? Kalau sampai ia membawa itu…"

"Tidak akan," jawab America mantap. "Ini mendadak, ia tidak akan membawanya."

England hanya pasrah ketika America menulis di kertas.

.

(o-o-o)

.

Kedua pihak telah selesai dengan kertas mereka. Setelah dikumpulkan oleh Romano, Spain memerintahkan 'para penculik' untuk berangkat.

"Bagaimana Lithuania? Estonia? Kalian sudah mengerti?"

"Sepertinya akan sulit. Tetapi kami akan mencobanya," Lithuania menyanggupi.

"Kami coba… tiga puluh menit. Kalau tidak ada gangguan," angguk Estonia.

"Kalian mengenal orang ini sebelumnya?" tanya Spain.

"Jujur saja, tidak. Kami akan berusaha meyakinkan bahwa temannya ada di sini. Jika tidak berhasil, baru bawa secara paksa."

"Sip! Aku percaya kalian! Seychelles, di mana rekanmu?" ujar Spain setelah kedua Baltic meninggakan ruangan.

"A-anu, Egypt bilang ia akan langsung ke lokasi. Ia terkena flu mendadak. Bersin-bersin saat berjualan tadi."

"… err, maafkan Romano soal tomat di gurun pasir, eh maksudnya, maaf kalau aku terlalu memaksa kalian." ujar Spain cepat-cepat.

"Tidak apa, kok. Lagipula…" Seychelles melirik kertasnya dengan antusias. "Orang ini akan sangat mudah dibawa."

"Bagus sekali. Selamat jalan!"

.

(o-o-o)

.

Sudah seperempat jam berlalu. Perkiraan Spain, kecepatan para penculik sampai ke tempat saksi hanya memerlukan waktu sepuluh menit (entah nomor togel atau apapun yang mereka gunakan, hanya Tuhan yang tahu). Jadi sekarang adalah saat paling berat, yakni menculik para saksi.

Mari kita lihat Sealand. Sesaat anak ini memang terlihat stress, tetapi diam-diam ia mengagumi jalannya sidang ini.

"Permisi, apa Sealand-kun mau makan?"

Ia menoleh, dan… jelas Sealand tidak bisa melupakan orang ini. Anggota PBB yang menyambutnya saat ia datang ke sini tadi pagi. Sealand menelan ludah ngeri, dan menjawab sebisanya.

"T-tidak usah. Terimakasih, Pak."

"Kau yakin?" tiba-tiba saja Anggota PBB itu mengeluarkan jurus puppy eyes –entahlah ia belajar dari mana, atau memang itu kemampuan wajib yang harus dimiliki om-om shotacon macam dia.

"T-tidak usah, Pak! Beneran, kok! Saya masih kenyang!" jawab Sealand.

Dan si PBB kembali ke belakang dengan kadar ke-OOC-an menurun.

Bocah itu menghembuskan nafas lega. Dilihatnya pasangan Sweden-Finland membicarakan sesuatu –bukan, bukan rencana pernikahan. America-England juga terlihat sibuk, jadi ia turun dari box dan menghampiri Spain.

"Maaf pak," ujar bocah itu. "Anda punya rencana apalagi? Perasaan saya kok, tidak enak ya?"

Spain menyengir lebar sembari memainkan palunya, "tenang Sealand. Aku hanya berusaha mencari mana yang paling benar…"

Baru saja Sealand membuka mulut untuk bicara, tiba-tiba terdengar hantaman keras di pintu.

"Kami kembali!" gadis dengan rambut diikat dua melangkah masuk. "Lihat siapa yang aku dan Egypt bawa."

Dan dibalik Seychelles seisi ruangan dapat melihat sesosok Nation yang terikat dan diperlakukan seperti unta oleh Egypt.

"Selamat datang, France!" sambut Spain gembira.

"HELL NO! Tidaaaakk!" England menjerit histeris. Rupanya France yang dihawatirkannya selama ini.

"Iggy! Sudah kubilang tenang saja!" America menimpali.

"France?" penonton berpandangan. Romano dan Austria memandang sang tamu dengan bingung.

"Ya ampun, siapa lagi ini…" batin Sealand.

"Halo, Spain. Kau harus menjelaskan semuanya. Kau yang menyuruh orang-orang ini mengikat abang?" ujar France yang masih terikat.

"Err… Egypt, sepertinya kau terlalu kejam," Spain sweatdrop. Egypt tidak peduli. Ia malah menyeret 'unta barunya' ke tengah ruangan.

"Kami bilang ada gadis cantik di sini dan ia percaya begitu saja," jelas Seychelles dengan bangga. "Maafkan aku, ya France~"

"Ya, cantik. Hanya kalau kau suruh temanmu ini bersikap lebih baik pada abang- ADUH!"

"Yang sopan…" ujar Egypt dingin setelah memukul France dengan batang kayu andalannya.

"Hueeeh! Maafkan abang! Nanti akan kubeli daganganmu, deh! Tapi kamu manis juga ya…"

Dan si mesum sukses babak belur oleh Egypt.

.

(o-o-o)

.

Sekarang tinggal menunggu kedatangan Lithuania dan Estonia. Austria –dengan terpaksa mengurus luka-luka France. Dari tempatnya, dapat terlihat pihak barat yang menanti dengan cemas.

"Semoga semuanya baik-baik saja," do'a Finland. Sweden hanya menatap kosong.

"Itu mereka!" seru Spain ketika mendengar ketukan keras di pintu.

Seisi ruangan kembali shock sepertinya…

"Aah! Kenapa semuanya ikut?" pekik Finland.

"M-maafkan kami," ujar Estonia. "Tapi mereka ini kelewat kompak atau bagaimana…"

"Halo Finlaand~ Kenapa hanya Iceland yang diundang? Kalau Iceland pergi, Norway harus ikut. Kalau Norway ikut, aku juga pergi!"

Pihak barat mau pingsan saja.

"Mau apa om-om berisik itu di sini? Tapi yang rambut silver itu rasanya kukenal," batin Sealand lagi.

"Hei, peraturannya kan hanya satu orang!" dengus Romano.

"Kau lihat sendiri Romano, mereka lucu sekali~" tawa Spain melihat tiga Nation Eropa Utara yang membentuk barisan 'kereta api'.

"Ayo jalan!" Denmark seenaknya mendorong kedua orang di depannya. Namun ia langsung berhenti ketika Norway menatapnya tajam.

"Jangan merusuh di sini, anko uzai. Atau kupastikan kau tidak selamat sampai di rumah," ancamnya. Denmark menelan ludah ngeri. Iceland menghembuskan nafas pasrah. Sepertinya ia memang tidak bisa lepas dari orang-orang ini.

.

(o-o-o)

.

"Kalian tahu? Aku sangat puas! Kujamin, babak ini akan seru. Hahaha!" ketukan palu Spain menggema ke seluruh ruangan.

"Aku mau diapakan, sih? Mana gadis cantiknya?" tanya France.

"Hei. Aku mau pulang, cepatlah sedikit." Iceland mengeluh sebal.

Spain menjelaskan sedikit tentang persidangan. France dan Iceland dengan cepat mengerti. Mereka bersedia membantu.

"Kenapa hanya mereka? Kok kami tidak diajak?" protes Denmark.

"Tidak ada yang mau mengajak orang berisik sepertimu," sahut Norway dingin.

"Dalam babak kali ini, semua pihak diperbolehkan menonton. Tetapi saksi harus bergantian masuk. Bagaimana kalau kita mulai dengan pihak timur dulu?" ujar Spain. Ialu meminta Romano dan Austria untuk membawa Iceland, Norway, dan Denmark keluar.

Spain memandang France yang duduk di hadapannya. "Oke, kawan. Kita lakukan ini dengan bersahabat. Apa kau mengenal teman-temanmu dengan baik, France?"

"Tentu, mereka teman-teman abang yang paling menyenangkan~" jawab France mendayu-dayu seperti biasanya.

"Kalau anak itu," ujarnya sambil menunjuk Sealand. "Kau kenal?"

"Tentu! Itu England junior, kan?" jawabnya mantap. Sealand menepuk dahinya.

"Kau sudah mendengar penjelasanku tadi. Jadi, apa yang bisa kau lakukan untuk teman-temanmu itu?" tanya Spain lagi.

France malah berdiri di depan kursinya. "Biarkan aku bercerita sedikit. Sejak dahulu, America dan England sudah menjadi one-true-pairing bagi kami…"

"Bohong, bohong, bohong," gerutu England.

"Meskipun aku menyukai England, aku tetap merelakannya. Suatu saat aku berharap dapat kencan dengannya lagi. Menyenangkan saat ia masih single…"

"Maaf France, tetapi aku tidak memintamu untuk curhat…"

"Ya, aku tahu. Tetapi, will he remember me the way I remember him? Rasanya aku kangen iklan gula di teve, tetapi apa daya abang tidak diabetes. Dulu kami bercanda bersama, mengamen bersama, menangis bersama, kena musibah bersama…"

"France, hentikan."

"Tetapi kami tidak mandi bersama. Abang masih sayang England, kok. Karena abang sayang England, makanya abang mau membela England. Tapi apa kau masih saat kita jajan es di Taman Lawang…"

"UDAHAN WOY!" England mengamuk. "Itu aib semua yang kau sebar, bloody hell!"

"Sabar sedikit! Setelah itu abang beliin kamu boneka panda, tapi kamu nggak suka. Katamu, abang France lebih lucu dari boneka. Tapi belakangan, abang tahu kau berbohong…"

"Sudah! Sudah!" Spain mengetukkan palu sembari menahan tawa. America malah ROFL. Anggota PBB menyetel musik dangdut. Sealand menganga lebar.

"Dan sekarang," France kembali serius. "Aku akan meyakinkan kalian semua bahwa Sealand adalah hasil perbuatan, maksudku, anak dari America dan England!"

"Ini saatnya, Iggy." America menutup mata.

"Semoga bukan itu, semoga bukan itu, semoga bukan itu!" England panik.

"Aku sangat yakin, mereka pasti punya anak. Aku punya buktinya. Karena aku membawa… INI!"

"Tidaaaakk!" jerit pihak timur.

"Eksklusif dari istri anda!" seru France sambil menunjuk Austria. "Doujinshi America-England, 17 tahun ke atas, dan lulus sensor alias tidak disensor SAMA SEKALI!"

"Apa?" seru fujodanshi nyasar yang masih ada di situ.

"What the hell? Katamu dia tidak akan membawa itu, Amerika no bakaaa!"

"Mana kutahu dia membawa itu ke mana-mana old man?"

"Lihat! Mereka berusaha menutupinya! Berarti doujinshi ini asli!" seru France.

"Tidak, tidak. Jangan percaya dia!" balas England.

Seperti yang kalian lihat, giliran pihak timur ditutup dengan France membagi-bagikan doujinshi secara gratis kepada para penonton. Pihak timur banjir air mata sembari meyakinkan semuanya bahwa semua itu adalah fitnah. Dan siapapun tahu fitnah itu lebih kejam daripada fitness.

Spain menganga tak percaya, tetapi diam-diam ia mengambil satu. Sealand pingsan dengan lebaynya. Austria menundukkan kepala, malu atas hobi istrinya mengumpulkan benda-benda seperti itu.

.

(o-o-o)

.

"Romano~ Kumohon jangan lakukan itu. Jarang-jarang dapat gratis, lho." Spain memohon.

"Enak saja. Barang tidak sopan seperti ini harus disingkirkan!" Romano bersiap-siap membakar souvenir dari France. Spain menangis bombay.

"Apa bisa kita lanjutkan?" tanya Austria.

"Oh, tentu. Ayo kita selesaikan dengan cepat. Amankan France dengen segera. Tetapi aku suka pembuktiannya. Terasa begitu nyata."

"Sudah kami bilang itu bohong!" America memprotes. "Masa' kau malah percaya padanya, sih?"

"Su-san, aku takut Hungary-san juga membuat satu seri untuk kita," Finland menelan ludah.

"T'dak akan," jawab Sweden tenang.

Di sisi lain, Sealand komat-kamit dengan biji tasbih. Hal yang dikhawatirkan Sealand adalah, jika apa yang dikatakan France benar, berarti ia adalah anak hasil transgenik. Dan tidak ada seorangun yang mau disamakan dengan tomat tanpa biji.

"Giliran pihak barat. Ayo masuk, kalian bertiga!" panggil Spain.

"Sepertinya kita dicurangi di sini…" England pundung.

Sekarang Spain berhadapan dengan Iceland, Norway, dan Denmark. Ia memutuskan untuk menanyai saksi utama terlebih dahulu.

"Oke. Iceland, kau mengenal Sweden dan istrinya dengan baik?"

"Tentu. Tetapi mereka bukan suami-istri, kurasa. Itu hanya fitness para tetangga saja," jawab Iceland.

"Fitnah, kali?" Denmark menimpali.

"Kau mengenal Sealand?" Spain melanjutkan.

"Siapa yang bakal melupakan bocah sontoloyo yang tahu-tahu mengaku sebagai seniorku?"

Sealand malu setengah mati.

"Kau hanya akan menjadi milik oniichan seorang…" ujar Norway.

"Jangan bahas itu sekarang, oni–, Norway!" tegur Iceland.

Spain sweatdrop. "Err… bagus. Kau sudah paham mengapa kau dipanggil ke sini?"

"Ya."

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"

"Ya."

"Kau bisa membantu mereka?"

"Tidak."

Gubrak!

Sama saja bohong.

"Tunggu dulu! Aku bisa membantu~" ujar Denmark.

"Tetapi tidak ada yang bertanya padamu~" balas Spain. "Maaf, maaf. Kita kembali serius. Ceritakan sesuatu, Iceland. Apa saja."

Iceland terdiam sebentar. "Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Sungguh. Tapi kalau kau mau aku bercerita, kemarin Norway memaksaku untuk memanggilnya oniichan lagi…"

"Itu tidak ada hubungannya, Ice. Ada cerita lain?" Spain sweatdrop.

"Ada. Seminggu yang lalu si bodoh ini–"

"Apa kau bilang?" sembur Denmark.

"Diam dulu. Si bodoh, maksudku Denmark, mengajak aku dan Norway mengendap-endap ke kamar Sweden. Ia berpikir dapat membongkar aib –atau apapun di sana. Awalnya kami enggan, tetapi akhirnya ikut. Saat membuka laci meja, kami menemukan sesuatu," lanjut Iceland.

"Apa itu?" Spain tertarik.

Nation berambut silver itu menghela nafas. "Rencana Pembelian Sealand sebagai Aset Negara"

Hening sejenak.

"HUAPAA?" pekik Sealand ala sinetron.

"Sepertinya Sweden berencana mengadopsi bocah itu sejak dulu," timpal Norway.

"Tertulis dua tahun yang lalu," Denmark nyengir. "Berarti Sealand adalah anaknya sekarang!"

Spain mengetukkan palunya. "Ini dia! Bukti! Catat semuanya, Austria! Bagaimana pendapatmu, Sealand? Eh, mengapa wajahmu pucat begitu?"

Sang bocah merosot dari bangkunya.

"Dijual? A-aku dijual? Kenapa?" ratap Sealand.

"Dengarkan dulu, bocah. Aku belum selesai bicara," sela Iceland.

"T-tidak mungkin. Pasti bohong. Aku kan, Negara seperti kalian… hiks… hiks…"

"Sealand, tenang dulu–"

"LO KIRA GUE CEWEK APAAN?"

Gubrak!

Anda tidak salah baca. Baru saja Sealand berkata demikian.

"Please, deh! Gue ini Negara, tahu? Kenapa om-om sinting yang nggak bisa ngomong itu seenak jidat ngeklaim gue sebagai bagian dari dia? Dan kenapa nggak ada yang ngerti perasaan guee? Jahat kalian! LO, GUE, END!"

Akhir sidang kembali tidak beres. Sang bocah beralis tebal yang ngaku-ngaku Negara itu mulai menangis Bombay sambil mengesot di lantai ruang sidang. Om-om PBB segera beraksi. Mereka menenangkan Sealand dengan kata-kata manis, permen, dan rayuan gombal macam 'jangan nangis, Sea-kun~ Nanti bintang-bintang di matamu tak bersinar lagi lho…"

Bukannya diam, Sealand malah semakin rewel. Siapa juga yang mempan dirayu seperti itu? Yang ada juga muntah!

Sweden sama sekali tidak menunjukkan rasa panik, apalagi rasa bersalah. Sementara itu sang istri –Finland, ingin sekali menghajar suaminya sampai pingsan, kalau perlu tidak usah bangun lagi. Apa daya, ia tidak berani.

Bagaimana dengan para saksi? Dasar tidak tahu diri. Setelah menyakiti hati anak orang, mereka mau kabur begitu saja.

"M-maaf ya! Aku harus memberi makan kucing di rumah!" ujar Denmark.

"Memangnya kau punya kucing?" tanya Norway.

"Ssst! Itu alasan supaya kita bisa pergi dari sini!" bisik Denmark.

"Ah, puffin juga belum kuberi makan." Iceland mengekor dan ketiganya raib dari ruangan itu.

Tok! Tok! Tok!

"Sudah cukup! Bawa Sealand keluar dan tenangkan dia dengan lebih waras!" perintah Spain.

Akhirnya sinetron dadakan ini berakhir.

.

(o-TBC-o)

.

Bah! Saya gagal menjadikan fanfic jelek ini tamat di chapter tiga! Jangankan pembaca, saya juga bosen sama cerita freak ini OAO"

Dan ending macam apa itu? Nista sangat. Tapi saya harap masih ada yang mau review. Alasan saya balik ke fandom ini adalah karena ada review plus fave. Pokoknya saya senang sekali jika hal itu terjadi lagi XD

Until next chapter, see ya!