Title: I'm Sorry [Chapter II]

genre: Romance

Author/Penulis: Nurayu Putri Isnainni/Hanaki Minazuki

Cuplikan percakapan gaje (?)

"Hei!"

"Sa...su...ke..!"

"Sakura... Naruto..!"

(Cuplikan macam apa itu *nunjuk tulisan di atas)

Happy Reading~ Don't Like, Don't Read!

.

Ah betapa indahnya hari ini bagi Naruto, dan Sakura tentunya. Dapat bertemu sahabat lama, sekaligus cinta mereka bagaimana tidak senang?

Sasuke duduk pada sebuah bangku di samping Naruto. Awalnya seluruh murid cewek saling melempar puppy eyes kepada Kakashi hanya karena mereka sangat menginginkan duduk bersebelahan dengan Sasuke. Tapi Kakashi yang mengerti keadaan Sasuke dia meminta Kiba pindah ke samping Sakura, dan membiarkan Sasuke duduk sebangku dengan Naruto.

.o.O.o.

Sore ini udara semakin dingin. Sasuke tampak berdiri memandang langit, juga pepohonan asri di depan matanya. Di belakangnya tampak Sakura sedang berdiri dengan kepala tertunduk. Mereka masih menggenakan seragam Konoha High, karena Sasuke sudah kembali ke Konoha. Maka sesuai perjanjian, mereka akan bertunangan.

Sasuke mengajak Sakura pergi ke bukit Konoha, dari sana mereka dapat melihat pemadangan yang sungguh menakjubkan, kalau saja tidak ada kabut yang cukup tebal membuat pemandangan itu sedikit tertutupi.

"Ada apa Sasuke-kun?" tanya Sakura. Ia mulai memberanikan dirinya untuk bertanya, toh Sasuke bukan singa yang akan melahapnya.

"Tentang tunangan kita, kau ingin di laksanakannya kapan?" Sasuke balik bertanya. Sakura yang mendengar ucapan Sasuke hanya dapat Salting di sertai blushing.

"A...Ano... Sasuke-kun... A..aku belum ta..tahu..." jawab Sakura gugup.

"Hn." gumam Sasuke tidak jelas.

"Konoha... Desa daun tersembunyi... Tapi aku berhasil menemukan satu wanita cantik yang akan menjadi istriku kelak." ucap Sasuke. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati Sakura yang masih membulatkan matanya karena terkejut.

Sasuke berjalan menuju tempat Sakura berdiri dan memeluknya. "Meskipun cinta tak bersatu, pasti ada cinta baru yang bersemi, maka janganlah menyerah dan kejarlah cinta itu... Dan lahirkanlah cinta yang baru diiringi doa dengan harapan menjadi lebih baik..." bisik Sasuke tepat di telinga Sakura.

"Arigatou..." ucap Sakura, bahunya sudah bergetar. Yeah selama ini hanya Sasuke lah yang tahu, kalau Sakura mencintai seorang cowok dari Suna, yaitu Sabaku Gaara. Tapi untuk menutupi hal itu Sakura berpura-pura menggilai Sasuke.

"Ku rasa cinta baru mulai tumbuh, sejak seminggu setelah kejadian itu..." gumam Sakura. Ia tersenyum penuh arti. Namun sayang senyumnya itu tidak dapat Sasuke lihat.

Sasuke yang mendengar ucapan Sakura, mempererat pelukannya, mencoba menenangkan Sakura.

"Dan kau tahu, berkat kau, aku dapat lepas dari cinta terlarang yang hampir saja hinggap di hatiku..." bisik Sasuke.

"Hm.." gumam Sakura. Sasuke melepas pelukannya, dan menggenggam tangan Sakura, mengajaknya pulang. Sambil bergandengan tangan mereka saling mengobrol walau obrolan di dominasi oleh Sakura dan Sasuke hanya menjawab 'Hn' seperti biasa, kecuali kalau Sakura meledeknya baru ia akan memulai untuk ikut membalas meledek.

.o.O.o.

"Hei Naruto kudengar Sasuke sudah kembali ya? Kenapa tidak kau ajak dia makan ramen!" ujar paman Teuchi.

"Ok paman! Tapi tadi saat aku ingin mengajak Sasuke kemari dia sudah menghilang, hah... Dasar!" gerutu Naruto, sebal.

Naruto kini sedang makan ramen di kedai ichiraku, kedai favouritenya. Ramen special buatan paman Teuchi adalah yang paling sedap di dunia, itulah yang sering Naruto katakan.

"Tambah satu lagi paman Teuchi!" pesan Naruto.

"Ramen special ukuran jumbo extra pedas segera datang~!" seru Ayame.

"Hai!" sahut Naruto.

Selama menunggu ramen, Naruto sibuk melamun. Lama ia berfikir sampai akhirnya setelah ramen yang terakhir ini habis. Ia memutuskan, untuk mencari Sasuke. Yeah hitung-hitung itu adalah pendekatan (?) haha... Aneh memang =='v

"Ramen special jumbo extra pedas sudah siap~, silahkan dinikmati, Naruto!" seru Ayame.

"Ho... Arigatou Gozaimasu Ayame-nee!" seru Naruto dengan penuh semangat. Dengan cepat Naruto melahap Ramen extra jumbo itu.

"Ah... Ramennya enak sekali~" ucap Naruto beberapa menit setelah memakan ramennya hingga tuntas. Ramen adalah makanan favouritenya, tentu saja Naruto tidak akan ketinggalan dalam hal apapun hanya demi ramen.

Setelah menaruh beberapa yen, Naruto berjalan menuju taman.

Di jalan menuju taman, Naruto mulai bersenandung-senandung kecil, "...kewashii shura no michi no naka hito no, chizu wo hirogete doko e yuku? Gokusau shoku no karasu ga sore wo, ubaitotte yaburisutetta. Saa ko_" senandung yang ia nyanyikan pun berhenti tiba-tiba. Naruto tampak menegang di jalan menuju taman. Di sana, di jalan yang berlawanan arah, ia melihat Sasuke dan Sakura bergandengan tangan.

Tanpa sadar tangan kanan Naruto terangkat memegang dadanya, rasanya di dalam sana sakit. Perasaan sedih mulai menyerang batinnya, membuatnya ingin menangis, dan Naruto pun memutuskan untuk segera bersembunyi di balik pohon yang berada tak jauh darinya, sambil sesekali menangis sedih.

"Oh... Kami-sama... Mengapa cinta terlarang ini harus hinggap di hatiku..." batin Naruto sedih. Ia meringkuk di bawah pohon, airmatanya pun mengalir dengan deras, seakan mengetahui pemiliknya sedang bersedih.

"Kau tahu Sasuke-kun, setelah kita bertunangan nanti, kata Bibi Mikoto, aku harus tinggal dirumahmu. Oh aku sudah tidak sabar~ aku ingin sekali menjahilimu bersama Itachi-nii!" seru Sakura dengan semangat.

"Hn... Eh, kau bilang apa tadi? Menjahiliku? Mustahil pinky!" ledek Sasuke. Sakura yang mendengar ledekan Sasuke hanya menggembungkan pipinya sebal.

Melihat Sakura yang menggembungkan pipinya, Sasuke tidak tanggung-tanggung mencubit pipi kiri Sakura dengan gemas. "Ish cubit-cubit awas kau Sasukecapantat ayam!" teriak Sakura sebal, ia berlari mengejar Sasuke sambil sesekali mengelus pipinya sendiri yang memerah habis di cubit Sasuke. "Chiken Butt!" teriak Sakura, dan mereka pun pergi sambil bermain kejar-kejaran.

Sementara itu, dari balik pohon Naruto sudah mendengar semuanya. Semua percakapan antara Sakura dengan Sasuke, dan itu membuat perasaannya menjadi semakin sakit.

"Hah..." Naruto menghela nafas berat, lalu berdiri, kali ini ia memutuskan untuk pulang saja. Mungkin meminum susu cokelat panas akan menenangkannya.

.o.O.o.

'BRUK' Naruto menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada kasur, setelah ia sampai di kamar apartemennya. Ia bertahan pada posisi seperti itu sambil menangis, mencoba mengurangi rasa sakit di hatinya.

Semua orang pasti tidak menyangka, seorang Naruto Uzumaki dapat menangis karena seorang lelaki. Seorang Naruto yang ceria, dan bersahabat kepada siapapun, membuat semua orang akan mengatakan 'mustahil' kalau Naruto menangis karena hal bodoh yang di sebut cinta.

Cinta... Kata-kata yang spele, namun memiliki banyak hikmah yang mendorong kita untuk menerima, dan memepelajarinya demi kebahagiaan yang sesungguhnya dari perjuangan dan keikhlasan. Cinta membawa kesedihan, yang mendorong kita, yang membuat kita untuk belajar arti dari kata "mengikhlaskan" juga dari kata "memperjuangkan". Cinta itu rumit, bahkan lebih rumit dari soal fisika, tapi cinta juga berbeda dari fisika, karena cinta akan membimbing kita dalam pengalaman yang tiada bandingnya. Cinta juga abadi, tidak dapat di hilangkan, walau bagaimanapun orang itu mencoba untuk menghilangkannya. Sama seperti nasib cinta pertama Naruto. Meski begitu, cinta dapat di ubah, dan Naruto akan berusaha mengubah perasaan cintanya kepada Sasuke, menjadi cinta seorang adik.

Selama 6 tahun, ia merasakan ada perkembangan di hatinya, yang tidak ia sangka adalah cinta pertamanya. Cinta yang Naruto hadapi kini adalah cinta yang sangat rumit, dan dalam segi apapun, mustahil untuk di persatukan. Naruto pun menyadari hal itu. Hingga ia memutuskan, mulai besok ia tidak akan mendekati Sasuke dan Sakura, demi perasaannya.

Naruto membalikkan tubuhnya menjadi telentang, menatap langit-langit apartemennya. Lega...

Perasaan lega mulai hinggap di hatinya, setelah ia menuntaskan acara menangisnya.

"Owh gawat, kalau tidak sesegera mungkin cuci muka, bisa-bisa mataku bengkak besok," gumam Naruto. Ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Naruto terdiam menatap cermin, "Huh kau jelek bila habis menangis Naruto!" ledeknya sendiri, lalu mulai membasuh wajahnya dengan air, agar terlihat lebih segar. Mumpung masih berada di kamar mandi ia memutuskan untuk sekalian bergosok gigi, sebelum tidur.

'Bruk' lagi-lagi Naruto menghempaskan tubuhnya kembali. "Untung saja tidak ada PR," gumam Naruto. Ia mulai memejamkan matanya, untuk terlelap sampai sang mentari dan kokokan ayam jantan (?) membangunkannya. Dengen mata terpejam ia berdoa, berharap mimpi indah.

.o.O.o.

Ruang kelas tampak masih sepi, tapi Naruto sudah datang dan duduk rapih di bangkunya, menjatuhkan kepalanya pada meja dengan lipatan kedua tangan sebagai bantalnya.

"Naruto?" panggil Sakura, tapi Naruto berpura-pura tidak mendengarkannya. Langkah kaki yang ringan dan cepat mendekat padanya, yang Naruto yakin adalah suara langkah kaki Sakura, dan di belakangnya terasa langkah kaki yang berat, dan santai, yang Naruto yakini adalah langkah kaki Sasuke. Tiba-tiba perasaan sakit mendera hatinya kembali.

"Kau tidak boleh menangis, malukan sama Sasuke!" batin Naruto menyemangati untuk berusaha agar tidak meneteskan barang setetes airmatapun.

"Hah... Naruto bakka, pagi-pagi begini sudah tidur lagi!" dengus Sakura. Ia mendudukkan dirinya pada bangku di belakang Naruto. Sedangkan Sasuke sudah mendudukan diri tepat di samping kanan Naruto.

"Hn, sepulang sekolah nanti, aku dan Sakura ingin berbicara denganmu." ucap Sasuke tanpa menoleh sedikitpun. Naruto mau tak mau harus mengangkat kepalanya, karena ia penasaran akan ucapan Sasuke.

"Untuk apa?" tanya Naruto, nada bicaranya sungguh berbeda dari yang biasanya.

"Aku sudah lama tidak berkumpul bertiga," gumam Sasuke.

"Cih hanya itu," batin Naruto.

~TBC~