Disclaimer: Masashi Kishimoto

Title/Judul: I'm Sorry

Genre: Romance

Rated: T

Author/Penulis: Hanaki Minazuki a.k.a Nurayu Putri Isnainni

Chapter III

Kali ini tanpa cuplikan cerita minna-san (all: cuplikan kemarin aja aneh banget, apalagi yang ini, udah g usah!) hehe...

Don't Like, Don't Read, And Happy Reading~

WARNING: YANG BOLEH BACA HANYA YANG SUKA ADA TULISANNYA DI ATAS DONT LIKE YA DONT READ MENGERTI? *teriak pake toa minjem dari masjid*

.

.
Bel panjang, tanda sekolah telah usai kini sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.

Naruto, Sakura dan Sasuke kini sudah berada di belakang gedung sekolah yang sepi. Mereka saling diam, dan memasang ekspresi yang tidak biasanya mereka tunjukkan.

"Apa yang ingin kalian bicarakan denganku?" tanya Naruto, suaranya terdengar datar di telinga Sakura dan Sasuke.

Sesaat Sakura dan Sasuke saling berpandangan. Sakura mengalihkan pandangannya ke arah Naruto yang kini membelakangi mereka, menatap langit sore.

"A..aku tidak tahu akan memulainya darimana...?" ucap Sakura sedikit canggung. Ia ingin mencoba mencairkan suasana yang tampak membeku di antara mereka bertiga. Namun tampaknya percuma, tidak ada perubahan, malah semakin canggung.

"Tujuan... Apa tujuan kalian mengajakku berbicara?" tanya Naruto, nada suaranya masih sama, tapi pandangannya kini beralih pada sepatu hitam yang kini ia pakai.

"Hn, aku dan Sakura akan bertunangan seminggu lagi, apakah kau mau datang?" pada akhirnya Sasukelah yang angkat suara, karena dirasakannya, Sakura tidak akan kuat untuk mengatasi Naruto yang memang keras kepala. (apa hubungannya? O.o )

"Hm... Bertunangan ya?" ucap Naruto, nadanya seperti nada menyindir. Hal itu membuat Sakura kembali menatap punggung Naruto. "Ternyata memang mustahil ya?" ucap Naruto lirih, kali ini di iringi airmata yang menggenang, siap meluncur mengikuti lekuk wajah Naruto.

Naruto berusaha keras untuk membuat tangisnya tidak terisak. Setidaknya ia tidak ingin membuat kedua sahabatnya khawatir.

"Penantianku selama 6 tahun..." Naruto berucap kembali. Sakura dan Sasuke kini hanya dapat mendengarkan dengan seksama apa yang selama ini menjadi beban Naruto sebenarnya, yeah meski mereka pun sudah mengetahuinya.

"Aku bodoh... Dalam pelajaran, aku tidak mengerti sama sekali, tapi... Kenapa aku harus dihadapi oleh yang lebih sulit dari soal-soal yang di berikan Kakashi-sensei dan yang lainnya..." Naruto menaruh tangan kanannya pada dadanya yang terasa penat dan sakit.

"Apakah kalian mengerti perasaanku?" tanya Naruto, tapi Sakura dan Sasuke tidak menjawabnya, membiarkan Naruto mengatakan apapun semaunya. "Aku hidup sebatangkara, Sasuke memberiku kehidupan, dan semangat! Dan... Dan... Kenapa hal ini harus aku yang merasakannya!" teriak Naruto di akhir perkataannya, ia membalikkan badannya menatap Sakura dan Sasuke dengan airmata yang berlinang.

"Aku... Aku capek! Capek harus merasakan derita akan perasaanku ini! Akan cinta terlarang yang seakan-akan ingin mendorongku untuk melakukan bunuh diri! ARKKKHHH...!" Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi.

Sakura menengok menatap Sasuke. Sasuke yang merasa Sakura melihat kearahnya menoleh. Dalam tatapan Emerald itu, Sasuke tahu, Sakura meminta Sasuke untuk menghibur Naruto.

"Seperti perkatamu kemarin Sasuke-kun..." batin Sakura. Ia mengingat saat Sasuke memeluknya dan menghiburnya, membisikkan kalimat penyemangat.

Sakura menyadari satu hal di dalam dirinya, tepatnya dihatinya... Ia merasakan ada cinta baru yang muncul di hatinya. Ya, cintanya untuk seorang Sasuke. Tapi untuk kedua kalinya, Sakura memutuskan untuk melepaskannya. "Seperti Sakura yang melepas kelopaknya dengan ikhlas dan tetap tegar, akupun ingin menjadi Sakura yang seperti itu. Membagi cinta untuk orang lain..." batin Sakura, ia memejamkan matanya. Angin berhembus sepoi-sepoi lembut menerpa mereka, Sakura membuka matanya, diiringi dengan senyum tulusnya, walau matanya menunjukkan kesedihan. "Aku siap melepas kelopakku." batin Sakura mantap.

Sasuke berjalan mendekati Naruto. "Bukannya kami tidak mengerti..." ucap Sasuke.

Naruto diam saja, airmata tidak dapat berhenti mengalir dari kelopak matanya. Ia terus meneteskan, tetes, demi tetes airmata.

"Aku sudah tahu... Kau mencintai Sakura-chan kan?" tanya Naruto. Sasuke diam saja, ia melanjutkan jalannya dengan perlahan menuju Naruto.

"I'm sorry..." gumam Sasuke, menggetarkan gendang telinga Naruto. Sasuke kini sudah memeluk Naruto dengan erat. Naruto pun tampak kaget akan perlakuan Sasuke, tapi ia membiarkannya, menjadikan hal ini sebagai kesempatan untuknya. Kesempatan terakhir untuk di peluk cinta pertamanya, karena sejak semalam, ia sudah memutuskannya... Keputusan yang akan menyakitkan.

Perasaan berat, sedih, tertekan... kini hinggap di hati Naruto.

Cinta tidak dapat dihapuskan, tapi dapat diubah. Bila mengingat cinta Naruto kepada Sasuke adalah cinta pertama. Rasanya akan sangat sulit mengubahnya.

Naruto dan Sasuke bagai langit dan bumi, mereka berbeda. Tapi itu bukan alasan untuk tidak ada tanda untuk tumbuhnya cinta. Sasuke mengakui, dulu saat dirinya bersama Naruto, timbul perasaan nyaman, dulu Sasuke sempat merasa suka pada Naruto. Tapi sebelum perasaan itu berlanjut menjadi cinta, Sasuke sudah harus pindah ke Suna, di sana ia di perkenalkan dengan Sakura. Selama setahun Sasuke selalu bersama Sakura, Sasuke seakan-akan melupakan Naruto. Bukankah rasa yang di berikan Sasuke untuk Naruto hanya sekedar suka? Rasa suka dan cinta, Sasuke merasakannya. Merasakan ada perbedaan rasa saat di dekat Sakura, dan di dekat Naruto.

Di dekat Naruto ia merasa nyaman, dan menyenangkan. Sedangkan di dekat Sakura, Sasuke merasa sering malu bila ditatap, dan sering perasaan ingin melindungi muncul di hatinya, saat melihat Sakura yang berdiri tegar, namun rapuh melihat Gaara, bertunangan dengan Matsuri.

angin tampak tidak bersahabat untuk saat ini. Hembusannya yang semula sepoi-sepoi kini semakin kencang dan menusuk.

Sakura yang berdiri menyaksikan Sasuke yang memeluk Naruto merasakan perasaan sakit di hatinya. Sakura memutuskan untuk pergi dari situ ke tempat yang lebih nyaman untuk menyendiri, meninggalkan Sasuke dan Naruto.

Baru beberapa langkah Sakura kembali berhenti, ia meronggoh tasnya, mencari kertas dan pulpen. Sakura menuliskan beberapa kalimat untuk Sasuke dan Naruto. Lalu menaruhnya pada tanah tempatnya berdiri, tak lupa ia menindihi sang kertas dengan batu agar tidak terbang kemana-mana.

Sakura kembali melanjutkan jalannya...

"Aku.. Aku mencintaimu Sasuke... Aku tahu... Aku tahu ini mustahil! Aku tahu..."

"Aku jugaa tahu... Kita tidak mungkin bersatu..."

"Aku pria dan kau juga pria... Hanya khayalan konyol yang kudambakan dapat bersamamu!"

Naruto mendorong tubuh Sasuke perlahan, seakan meminta untuk di lepaskan. (yaiyalah!)

Sasuke melepas pelukannya dan kembali menatap Naruto. Jarak mereka tidak sampai setengah meter. "Dilema..." gumam Sasuke lirih.

"Eh?" Naruto mendongakkan kepalanya menatap wajah Sasuke yang sedang di tundukkan.

"Tapi aku mohon padamu Naruto... Aku... Aku baru beberapa bulan ini merasakan cinta... Menyadari cintaku kepada Sakura..." ucap Sasuke, ia menangkap kedua tangan Naruto. "Aku... Aku sekarang mencintai Sakura ... Sakura cinta pertamaku... Aku hanya suka padamu Naruto! Tapi aku sadar, cintaku untuk Sakura!" ucap Sasuke, hingga memejamkan matanya, karena terasa airmata mulai menghalangi pandangannya.

Naruto ikut menggenggam tangan Sasuke erat. "MAKANYA AKU SEKARANG SUDAH MEMUTUSKAN UNTUK MELEPASMU BERSAMA SAKURA-CHAN!" teriak Naruto dengan lantang. "DAN ITU JUGA MEMBUTUHKAN PENGORBANAN DARI PERASAANKU SENDIRI SASUKE! CINTAKU... CINTAKU HANYA MENYUSAHKAN!" teriak Naruto kembali.

"APA? APA YANG AKAN DI KATAKAN KELUARGAMU HAH?" tanya Naruto masih dengan suara lantangnya. "APA YANG AKAN KELUARGAMU KATAKAN KALAU KAU MEMILIH AKU?" sambungnya. "Makanya aku memilih untuk melepasmu Sasuke..." ucap Naruto lirih...

Secara refleks, mereka menoleh kearah tempat Sakura tadi berdiri. Namun nihil, yang mereka lihat hanyalah secarik kertas putih yang tertindihi batu.

Naruto dan Sasuke menghapus airmata mereka, berjalan mendekati secarik kertas itu. Dan membacanya...

"To: Sasuke dan Naruto

Aku turut bahagia, aku sudah memutuskannya. Memutuskan untuk menjadi Sakura. Aku akan melepas kelopakku untuk seorang sahabat baikku selama di konoha, yaitu Uzumaki Naruto.

::Haruno Sakura::"

Setelah membaca secarik kertas itu, Sasuke diam mematung.

"Kejarlah... Carilah dia... Bukankah cinta itu adalah tantangan juga ujian... Cinta kita sudah di uji. Aku sudah memilih jalan yang terbaik. Dan sekarang giliranmu untuk meraihnya... Kejar, jangan menyerah, yakinkan padanya kalau kau membutuhkannya..." ucap Naruto. Batin Sasuke terenyuh mendengar penuturan Naruto. Ia mengangguk mantap pada Naruto.

'Cup' (author sweatdrop)

Sasuke mencium sekilas bibir Naruto, lalu berlari meninggalkan Naruto, untuk mencari Sakura.

Naruto tampak masih terkejut, pipinya merona. Tangannya terarah untuk menyentuh bibirnya.

"Kejarlah... Carilah dia... Bukankah cinta itu adalah tantangan juga ujian... Cinta kita sudah di uji. Aku sudah memilih jalan yang terbaik. Dan sekarang giliranmu untuk meraihnya... Kejar, jangan menyerah, yakinkan padanya kalau kau membutuhkannya..."

Kata-kata yang baru saja di lontarkannya berputar di otaknya. Tangan yang semulanya menyentuh bibirnya kini mengepal, pandangan mata terkejutnya mendadak rapuh. Ia sudah memberikan keputusan yang tepat, menututnya.

Bukankah masih ada cinta kedua, seperti yang di rasakan Sakura? Dan Naruto mungkin akan mencobanya, melepas belenggu hatinya, yang ia segel untuk Sasuke.

Naruto memutuskan untuk membukanya, membukanya untuk wanita yang mencintainya, yang tentunya, ia tidak akan menyerahkan hatinya direbut kembali oleh sosok pria. Karena ia sadar, itu adalah hal yang memustahilkan untuk di persatukan.

.o.O.o.

Sakura duduk meringkuk di balik semak-semak, dengan memejamkan matanya.

"Hei!" suara bariton lembut tertangkap gendang telinga Sakura.

Sakura mencoba mendongakkan kepalanya dan melihat sesosok pria yang sewaktu di suna digosibkan menyukainya...

Pria itu adalah...

~TBC~