Pro-Miss
Presented by Kie2Kei
.
Warning
Rate T, AU, Miss Typo, OOC*Maybe*, Abal, etc.
.
Disclaimer
I don't own Code Geass, Code Geass was owned by Sunrise Studio and for character design by CLAMP.
.
Chap 2 updated. Saya merubah gaya opening-nya, apa yang ini lebih baik?
Don't like, so don't read + Enjoy!
Don't forget to RnR!
o~o~o
~Reviews n' Replys~
Anonymous: Kayanya ga ada deh, tapi anda masih mau baca fic saya, ya? Sankyuu.
Recchii-Re-chan: Rei, chap 1 itu bisa disebut prolog, makanya jangan heran kalo pendek. Titip salam buat fic 'Rain'-?- ya?
Ms. xx: Gak hiatus kok, cuma estivasi-lho?-. Kesannya gitu ya? Tapi bukan kok.
JennyVDL: Sankyuu, Jenny-san. Semoga anda juga suka chap yang ini.
Untuk reviwers diatas,
Shiyu ucapkan Arigatou Gozaimasu~ karena telah me-review fic ini.
o~o~o
Bab 1
Introduce
2
Foolish and Contract
.
"Benar-benar konyol! Kenapa aku harus percaya pada kata-katanya?"
.
"Apa yang kau lakukan disini?"
.
"Apa yang kau inginkan?"
.
"Ya, Lelouch Lamperouge."
.
"Lebih baik kau menjalin kontrak denganku."
.
o~o~o
Di sebuah kamar bergaya kebarat-baratan. Terlihat gadis berambut gelombang berwarna coklat muda, sedang memandangi seorang pria berambut raven yang terbaring lemas di tempat tidurnya, dengan tatapan khawatir. Dia menatap pria itu lekat-lekat, seakan takut terjadi sesuatu padanya. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok.. Tok...
"Nunally-sama, saya datang membawakan sarapan pagi untuk anda dan Lelouch-sama." Terdengar suara seorang wanita dari balik pintu.
"Ah.. Sayoko-san, silahkan masuk." Kemudian gadis itu mempersilahkan wanita yang bernama Sayoko tersebut masuk.
"Nunally-sama, ini sarapan pagi untuk anda berdua."
Lalu gadis bernama Nunally tersebut menjawab, "Terima kasih Sayoko-san."
"Ya, Nunally-sama," jawab Sayoko sambil menaruh nampan berisi makanan di meja kecil, di sebelah tempat tidur Lelouch.
"Um.. Nunally-sama, apakah Lelouch-sama belum bangun?" tanya Sayoko hati-hati.
"Belum," jawab Nunally sambil mengelengkan kepalanya. "Dari kemarin sore, kakak belum bangun tapi sesekali mengigau. Dan kata dokter yang memeriksa kakak, kakak cuma kelelahan. Dan ia akan sembuh dengan beristirahat," jelas Nunally.
"Syukurlah kalau begitu," kata Sayoko lega.
o~o~o
"Nunally-sama, sekarang sudah saatnya untuk pergi ke sekolah," ujar Sayoko yang sedang melirik jam digital di kamar Lelouch.
"Aku akan bersiap setelah kakak bangun," elak Nunally yang masih khawatir dengan keadaan kakaknya, padahal kakaknya hanya perlu tidur dengan tenang, itu saja. Tapi mungkin Nunally terlalu 'over protektif'
Apakah anda tahu arti 'over protektif'? Artinya, seseorang yang terlalu melindungi orang yang disayanginya dan, bla..bla..bla.. Oh.. sudahlah, lupakan saja penjelasan bodoh tadi. Yang jelas, itu sikap bawaan Nunally sejak... mungkin sejak lahir? Oh dear..
"Nunally-sama, lebih baik anda pergi sekolah dahulu, Lelouch-sama pasti mengerti jika ia bangun nanti." Ajak Sayoko kembali.
"Sayoko-san.. aku benar-benar mengkhawatirkan kakak... Apakah Sayoko-san tidak mengerti perasaanku ini?"
Oh.. dear.. Nunally melakukannya lagi, anda tahu apakah itu? Sikap bawaan Nunally lainnya, pintar merajuk. Dan alhasil, membuat mental Sayoko turun, akibat tak enak hati jika ia membuat Nunally-sama-'nya' menangis. Bayangkan, mana tega membuat seseorang yang se-manis dan se-imut seperti Nunally menangis? Yeah.. dan Nunally mendapatkan skor di pertandingan adu pendapat-konyol- ini. Memang pada dasarnya sifat Sayoko tidak mudah menyerah, jadi ia tetap saja ngotot untuk mengajak Nunally pergi sekolah. Jadi, serangan Nunally tidak terlalu berefek besar bagi Sayoko, kecuali pada Lelouch, lain lagi ceritanya.
Sementara saat Sayoko dan Nunally masih saling berdebat, tentang pendapat mereka di ambang pintu kamar Lelouch. Tiba-tiba kelopak mata Lelouch mulai membuka perlahan dan meringis pelan, "Ukh.., kepalaku," ringisnya sambil memegang keningnya dan ia mulai bangun.
Dan dengan refleks, Sayoko dan Nunally memalingkan muka ke arah Lelouch. Mereka pun melupakan perdebatan konyolnya, dan terkaget secara bersamaan, "Kakak.."
"Lelouch-sama.."
o~o~o
Dengan sigap, Sayoko langsung mendorong kursi roda Nunally ke arah tempat tidur Lelouch. "Nunally? Sayoko-san?" tanya Lelouch heran. Lalu Lelouch menatap sekelilingnya dengan seksama. Dan ia baru sadar bahwa ia berada di rumahnya, tepatnya di kamarnya sendiri. Lelouch pun mengingat-ngingat kejadian kemarin sore.
Dan bingo! Ia ingat kembali kejadian kemarin sore di kuil. Mengingat IQ yang dimiliki Lelouch 'sangatlah' tinggi, tentu saja dengan mudah ia dapat mengingatnya kembali. Kemudian alis yang dimiliki Lelouch saling bertaut, 'Kenapa aku bisa berada di sini? Padahal aku-kan pingsan di kuil. Lagi pula-' pikiran Lelouch buyar ketika mendengar suara lebut adiknya.
"Kakak.. syukurlah kakak sudah bangun," ujar Nunally lega.
"Lelouch-sama, syukurlah anda sudah bangun. Dan ini sarapan pagi untuk anda," ucap Sayoko sambil menyodorkan nampan berisi beberapa roti panggang, dan secangkir teh Earl-Grey yang masih hangat.
"Terima kasih Sayoko-san, tapi kenapa aku bi-" sebelum menyelesaikan kalimatnya, Nunally telah memotongnya lagi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, "Kakak, apakah kakak baik-baik saja? Tidak ada yang sakitkan? Oh.. tunggu-tunggu, biar aku ambilkan obat sakit kepala jika kepala kakak masih sakit..," dengan begini, Nunally mode 'over protektif' aktif kembali.
Sebelum Nunally bertanya lagi, Lelouch pun menjawab, "Sudahlah Nunally, kakak hanya kelelahan saja kok. Istirahat seharian pun cukup," jawab Lelouch sambil menyunggingkan senyum simpulnya.
"Ta-tapi.. aku benar-benar mengkhawatirkan kakak, jadi tidak apa-apakan, kalau aku menemani kakak seharian?" ya, mode 'merajuk' dilancarkan.
"Nunally-sama, sesuai janji anda, seharusnya jika Lelouch-sama bangun. Anda akan pergi sekolah bukan?" sergah Sayoko yang melaksanakan aksi perlawanannya, seperti saat adu pendapat tadi.
"Nunally, lebih baik kau pergi sekolah. Kakak tidak akan apa-apa, walau sendirian di rumah," jelas Lelouch meyakinkan, dan tidak tau kenapa, serangan tadi tidak berefek kepada Lelouch.
"Baiklah kalau begitu, aku akan bersiap pergi sekolah," kata Nunally pasrah.
Pada akhirnya Nunally mengalah. Kemenangan mutlak pun diraih oleh Sayoko yang berhasil membujuk Nunally pergi sekolah, tentunya dengan bantuan dari Lelouch juga.
o~o~o
Lelouch terbaring kembali di tempat tidurnya. Mata amethyst-nya menatap kosong langit-langit kamarnya. Banyak pikiran yang yang berkecamuk di kepalanya. "Datanglah ke tempat ini jam 10.00. pagi, besok."
Kata-kata itu yang masih ter-ngiang di telinga Lelouch, saat pandangannya kabur dan kehilangan keseimbangan, kemudian ia pun melirik jam digital di meja belajarnya. 'Jam 12.01., mungkin aku tidak akan menemuinya. Lagi pula, pasti ia sudah pergi.' pikirnya datar. Tapi, yang menambah satu ke-anehan lagi yaitu, perkataan Nunally saat akan pergi sekolah.
Flash Back Start
"A-ano.. kakak, aku berangkat sekolah dulu," pamit Nunally pada kakaknya tersayang, siapa lagi kalau bukan Lelouch?
"Hati-hati di jalan, Nunally, Sayoko-san."
"Iya, kakak juga hati-hati di rumah. Istirahatlah yang cukup. O.. iya, kakak, jika kakak pulang sekolah lagi, kakak jangan tiba-tiba pingsan di depan pintu rumah. Itu membuat aku dan Sayoko-san kaget karena kami khawatir, lagi pula melihat keadaan kakak yang basah kuyup dan pingsan di depan pintu rumah, membuatku syok. Dan.., aku pergi ya Kak, ayo Sayoko-san," jelas Nunally panjang lebar dan berpamitan kepada Lelouch untuk yang kedua kalinya. Lalu Sayoko mulai mendorong kursi roda Nunally perlahan, dan pergi meninggalkan kamar Lelouch.
Flash Back End
Itulah yang membuat pikiran Lelouch bertambah keruh. Alis Lelouch kembali bertaut untuk kesekian kalinya. Padahal ia pingsan di kuil, dan mengapa bisa ia tiba-tiba berada di depan pintu rumahnya? Ia pikir, Nunally dan Sayoko-lah yang membawanya pulang, tapi... mereka saja tidak tahu kalau Lelouch itu pingsan di kuil. Lalu mata amethyst-nya membelalak, 'Apakah gadis itu yang membawaku pulang?' pikir Lelouch. Selama berpuluh-puluh menit, ia tetap memikirkan hal itu. Lalu tiba-tiba ponselnya berdering memecah keheningan rumah. Dan Lelouch segera menyambar ponselnya yang tergeletak di meja belajar, dan menekan tombol jawab. "Halo?"
"Halo? Lulu?" terdengar suara dari ujung sana.
"Oh.. Shirley, ada apa?"
"Kudengar dari Nunally, kau tidak masuk hari ini karena kelelahan. Ja-jadi aku ma-mau..." Tiba-tiba Shirley berbicara terbata-bata.
"Kau mau menegokku?" sambar Lelouch dan sepertinya, di ujung sana Shirley ber-blushing-ria.
"Ti-tidak hanya aku kok! Ri-rival juga akan menengokmu, ya.. ya.. menengokmu. Ka-kami akan datang bersama Nunally. Hehe," tukas Shirley gelagapan disertai tawa hambar, dan ia mencoba menenangkan diri supaya tidak gugup.
"Oh.. begitu," jawab Lelouch dingin.
"I-iya.. ya sudah ya! Sampai jumpa," pamit Shirley yang segera memutus hubungan telepon, dan wajahnya masih panas karena tadi ber-blushing-ria.
Dan ia pun mengutuk diri sendiri karena, tidak biasanya ia berbicara tergagap atau terbata-bata di depan Lelouch. Padahal, ia harusnya tidak gelagapan begitu. Niat Shirley menengok Lelouch yang sedang sakit itu sangat baik bukan?
"Shirley tenangkan dirimu," gumam Shirley pelan pada dirinya sendiri.
o~o~o
Dari tadi Lelouch, hanya mengotak-atik laptop-nya. Setengah jam kemudian ia bosan, dan mulai beralih ke ponsel miliknya karena, barusan ponsel-nya bergetar. Lelouch melihat e-mail yang masuk tadi.
"Oh.. dari teman sekelas," gumamnya.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar kembali. Lalu ia membuka e-mail itu. "Hm... dari Ketua," gumamnya kembali dan mulai membaca isi e-mail-nya.
'Lelouch, aku turut sedih karena kau tidak bisa masuk hari ini. Tapi karena kau tidak masuk, paper work OSIS itu menumpuk, dan membuatku susah. Karena aku terpaksa mengerjakannya sementara aku sedang banyak urusan. Biasanya aku dibantu olehmu untuk mengerjakannya, iya-kan? Jadi, semoga besok kau bisa masuk sekolah untuk membantuku mengerjakan paper work ya? Ja~ ne~'
Lelouch kemudian menggerutu pelan, "Aku tidak masuk sekolah karena kau menyuruhku mengerjakan paper work yang bodoh itu," gerutunya kesal sambil menghapus e-mail tersebut. Lalu ponselnya bergetar kembali.
"Rival?" ucap Lelouch saat melihat nama pengirim e-mail tersebut. Lalu ia pun membaca e-mail-nya.
10 detik..., 20 detik..., dan 30 detik berlalu. Kemudian ia langsung berdecak kesal, "Tch, apa maksudnya Rival mengirim e-mail ini? Dan aku tidak semesum itu!" gerutunya lebih kesal lagi. Tapi Lelouch mencoba menenangkan diri. Dan ia mengingat kembali perkataan gadis di kuil waktu itu.
Akhirnya ia membaringkan diri kembali di tempat tidurnya, dan berharap cara itu dapat menenangkannya. Tapi cara itu tak berhasil juga. Ia pun melirik jam digital di meja belajarnya.
'14.30, sekitar satu jam lagi Nunally pasti akan pulang,' pikirnya. Lelouch pun kembali bangun dan duduk di sisi tempat tidurnya sambil termenung.
"Jika kau ingin tahu lebih dalam,"
"Datanglah ke tempat ini jam 10.00. pagi, besok." kata-kata itu melintas lagi dipikirannya. Hatinya terasa tidak enak taatkala mengingat kata-kata itu. Karena membuatnya menjadi bimbang.
Bimbang? Kenapa Lelouch mesti bimbang? Padahal tadi pagi ia yakin untuk tidak pergi, tapi kenapa sekarang ia menjadi bimbang dengan keputusannya? Mungkinkah ia penasaran dengan asal-usul gadis tersebut? Sebenarnya, ia memang penasaran dan ingin coba datang, tapi kalimat ini yang selalu terlintas di benaknya, "Benar-benar konyol! Kenapa aku harus percaya pada kata-katanya?" kalimat yang membuatnya terjebak dalam dilema. Dan sekarang, apa yang akan Lelouch lakukan? Pergi walau terlambat atau tidak sama sekali?
o~o~o
Gadis berambut coklat ke oranye-oranye-an itu, sedang mondar-mandir di koridor sekolah. Memang sih, kalau mondar-mandir di koridor tak ada larangannya, tapi itu sangat menganggu para siswa yang melewati koridor tersebut. Lihat saja, belum lama tadi, ia baru menabrak beberapa orang-coret, maksudnya banyak orang yang melintasi koridor tersebut. Termasuk ia menabrak pria bertubuh kekar tadi, untunglah pria itu tidak galak, jadi ia menerima permintaan maaf gadis tersebut.
Dan sontak ia berhenti mondar-mandir ketika mendengar lengkingan suara seseorang yang memanggil namanya, "Shirley~" pria berambut biru tua yang memanggilnya. 'Rival' nama itu yang terlintas di benaknya ketika sosok pria berambut biru itu berjalan mendekatinya. "Hei Shirley! Maaf ya lama menunggu," ucap Rival sambil nyengir.
"Kita jadi-kan menjenguk Lelouch?" lanjut Rival.
"Tak apa kok, o.. iya, lagi pula Nunally sendiri belum pulang. Jadi kita harus menunggunya," jelas Shirley.
"Oh.. ya sudah, hei...hei... Kau-kan yang mengusulkan rencana ini?" kata Rival menggoda Shirley, dengan membelokan arah pembicaraan. Seketika, semburat merah bermunculan di wajah Shirley.
"A-apa maksudmu? I-ini-kan usul ketua," tukas Shirley cepat, sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Wah.. kau bohong Shirley, ketua bilang ini usulmu sendiri. Jangan-jangan, kau tidak berniat menengoknya ya? Dan jangan-jangan kau hanya ingin tahu alamat rumah Lelouch, agar kau bisa datang kapan saja kesana-kan?" goda Rival lagi yang sukses membuat wajah Shirley makin memerah seperti tersiram air panas-?-.
Semburat merah yang nampak di wajah Shirley dapat menjadi bukti bahwa dia sendiri yang mengusulkan hal tersebut dan mungkin saja dugaan Rival benar, tentang alasan Shirley menengok Lelouch. Rival pun tertawa renyah karena melihat tingkah Shirley.
"Ri-Rival..., baka!" sahut Shirley kencang. Tapi Rival tetap terkikik menertawakan Shirley.
Beberapa saat kemudian, Nunally datang bersama Sayoko. "Nunally, ternyata kau datang juga," sahut Rival sambil memberikan 'cengiran' khas dirinya.
"Kak Rival dan Kak Shirley, apa kalian akan pergi menjenguk kakak?" tanya Nunally.
"Ah~ I-iya Nunally," kata Shirley lebih tenang, tidak seperti saat berbicara dengan Rival tadi.
"A-ano, apakah Kak Shirley sedang demam?" tanya Nunally yang menyelidiki wajah Shirley yang 'agak' merah.
Shirley menatap Rival dan begitu pula sebaliknya. Rival pun buka mulut duluan, "Dia begitu karena renca—hmph-hmph," tiba-tiba Shirley menutup mulut Rival dengan kedua tangannya.
"Nunally, aku tidak apa-apa kok, lagi pula yang lebih pantas kau khawatirkan adalah kakakmu," jelas Shirley yang tangannya tetap menutup mulut Rival.
"Um.. Nunally-sama, lebih baik kita segera pulang bersama Rival-san dan Shirley-san," ujar Sayoko.
"Iya, Ayo, Kak Rival dan Kak Shirley," ajak Nunally. Akhirnya Shirley melepaskan kedua tangannya yang membekam mulut Rival. Dan Rival tampak ter-engah-engah dan agak kesal karena perbuatan Shirley. Mereka pun mengikuti Nunally dan Sayoko.
Setelah melewati tangga batu dan kuil. Akhirnya Mereka sampai di kediaman Lamperouge. 'Ah~ jadi ini tempat Lulu tinggal.' batin Shirley.
"Ayo silahkan masuk, Shirley-san dan Rival-san," ajak Sayoko.
"Iya," jawab mereka berdua serempak.
Lalu Nunally mempersilahkan mereka duduk di sofa ruang tamu dan setelahnya, diminta mengikutinya ke kamar Lelouch. Tapi sebelum mereka ke kamar Lelouch, mereka berbincang-bincang sebentar di ruang tamu, sementara Sayoko sedang melihat keadaan Lelouch sesuai perintah Nunally. Saat Nunally, Rival dan Shirley sedang berbincang-bincang, Sayoko datang keruang tamu dengan tergesa-gesa.
"Nu-Nunally-sama," kata Sayoko dengan nafas terengah-engah.
"Ada apa Sayoko-san?" tanya Nunally heran. Rival dan Shirley pun ikut heran.
"Be-begini Nunally-sama, ketika saya ke kamar Lelouch-sama, kamar itu kosong. Dan Lelouch-sama meninggalkan ponselnya di atas meja," jelas Sayoko panjang lebar, masih dengan nafas terengah-engah.
"Apa? Kakak tidak ada di kamar?" kata Nunally kaget sambil mengernyitkan kedua alis miliknya. Mata Shirley pun membelalak tidak percaya.
"I-iya, ta-tapi Nunally-sama, Lelouch-sama meninggalkan ini," kata Sayoko sambil menyodorkan secarik kertas. Nunally pun mengambil kertas yang disodorkan oleh Sayoko, dan mulai membacanya.
Isinya, 'Nunally.., kakak hanya pergi keluar sebentar. Jangan khawatir, keadaanku sudah baik-baik saja. Percayalah padaku.' begitulah isinya. Nunally pun menghela nafas, tapi ia tak khawatir lagi, karena ia percaya pada Lelouch. Shirley pun menatap rok sekolah miliknya. Poni-poninya menutupi kedua mata indahnya. Dan ia rok tersebut dengan kedua jemari lentiknya, sebagai pelampiasan rasa kekecewaannya.
Itulah pilihan yang dipilih Lelouch, pergi menemui gadis itu walau terlambat.
o~o~o
Lelouch sampai di kuil sebelum Nunally pulang dan tentunya, ia sampai dengan nafas terengah-engah. Karena ia datang ke kuil dengan berlari. Ia berjalan mengelilingi sekitar kuil, tapi ia tak menemukan gadis itu. Apakah keputusan yang ia ambil ini, salah? Akhirnya Lelouch pasrah karena tak menemukan gadis itu di sekitar kuil. Jadi ia berjalan gontai ke dalam kuil, untuk berdo'a agar dapat pencerahan dalam menghadapi masalahnya. Baru saja ia masuk kuil dan niat berdo'a, niat itu buyar seketika, ketika mendapat apa yang dicarinya, 'Gadis itu!' pikirnya. Gadis itu kini memakai kimono yang berbeda. Kimono berwarna putih bercorak bunga sakura, dengan obi berwarna kuning cerah, secerah warna matanya. Tapi kini rambut hijau neon-nya yang panjang di-urai. Lelouch kira gadis itu sudah pergi. Tapi, ia tetap menunggu di sini, di kuil ini. Apakah ini suatu keajaiban kami-sama?
Tanpa basa-basi Lelouch segera menayai gadis itu, "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya tiba-tiba. Pertama, gadis itu tak menggubris pertanyaan Lelouch. Lalu Lelouch kembali menanyainya, "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya lagi.
"Apa kau tidak bisa melihat? Aku sedang berdo'a, dan aku bosan mendengar pertanyaanmu yang sama seperti kemarin," jawabnya datar sambil memalingkan muka ke arah Lelouch. Lelouch mulai merasa kalau gadis ini agak menjengkelkan.
"Siapa namu?" tanya Lelouch pada gadis itu dan mencoba menenangkan diri.
"Wah.. wah... aku sudah memberitahu namaku kemarin. Jangan-jangan, saraf pendengaranmu kurang berfungsi," ejek gadis itu lagi.
"Apa?" Lelouch mulai murka.
"Baiklah-baiklah, namaku C.C.," jawab gadis bernama C.C. tersebut.
"Nama yang cukup 'langka' untuk seorang gadis," Lelouch membalas ejekan gadis yang bernama C.C. tadi.
"Terserah kau mau bilang apa. Sekarang, apa yang kau inginkan?" ucap C.C. datar.
"Yang jelas aku sudah datang dan aku memenuhi permintaanmu karena aku ingin tahu apa maksud dari kata-katamu kemarin," jelas Lelouch panjang lebar.
"Tak adakah permintaan maaf yang mau kau ucapkan setelah membuatku menunggu begitu lama?" sindir C.C. dingin.
"Aku tidak berniat membuatmu menunggu. Maaf," sesal Lelouch, yang ia sendiri ucapkan tanpa sadar. C.C. merasa Lelouch benar-benar tidak berniat membuatnya menunggu.
Lagi pula ia sudah meminta maaf pada C.C. Dan C.C. pun membuka pembicaraan. "Namamu Lelouch-kan?" tanya C.C.
"Ya, namaku Lelouch Lamperouge," jawab Lelouch mantap.
"Jika kau mau tahu maksud perkataanku."
"Lebih baik kau menjalin kontrak denganku," lanjut C.C. kemudian.
"Apa itu kontrak?" tanya Lelouch heran.
"Sebuah ikatan berdarah, antara penyihir dan manusia, untuk mengabulkan permintaan mereka masing-masing. Dengan syarat, manusia hanya meminta tiga permintaan dan sebagai imbalan, penyihir berhak meminta sebuah permintaan, apapun itu. Cukup adil bukan?" jelas C.C. panjang lebar sambil tersenyum kecut. Mata amethyst Lelouch membelalak kaget.
"O.. iya, jika kau telah menjalin kontrak, kau tak bisa membatalkannya kecuali kau... meninggal," lanjut C.C.
Deg!
Seketika tubuh Lelouch bergetar kaget. Penjelasannya C.C. yang susah dimengerti atau otak Lelouch yang telah rusak karena tidak bisa mencerna penjelasan C.C. tentang kontrak tadi?
Lelouch yang berkutat dengan pikirannya sendiri tidak sadar bahwa sebelah bahunya dipegang oleh C.C., sontak Lelouch kaget dan menatap C.C.
Ia pun merasakan kembali suhu tangan C.C. yang dingin menjalar di sekitar bahunya. 'Tunggu.. suhu tubuh ini bukan suhu tubuh manusia, jangan-jangan ia adalah...,' Lelouch berhenti berfikir dan lalu bertanya pada C.C.
"K-kau.. adalah penyihir?"
"Sudah jelas," jawab C.C. tegas. "Jadi apa pilihanmu? Tapi jika Kau menolak, aku... akan menghapus ingatanmu, tentang kejadian kemarin, dan sekarang," jelas C.C. yang mulai meyakinkan Lelouch untuk menjawab.
Apa yang akan Lelouch jawab? Siapakah C.C. itu?
.
.
.
TBC?
.
.
.
o~o~o
.
.
'Hey, Lelouch! Kudengar hari ini kau tidak masuk sekolah. Jadi kupikir pasti kau bosan di rumah,' Lelouch tersenyum kecil ketika membaca e-mail dari Rival, dan Rival tahu bahwa Lelouch sedang bosan, apakah Rival memiliki chemistry dengan Lelouch? Hell. '..pasti kau juga sudah bosan membuka laptop dan blog-mu-kan? Jadi, kusarankan kau untuk membuka situs-situs yang tak akan membosankan seperti situs yang terdapat hentai-nya, hehe.., itu tak akan membuatmu bosan iya-kan? Ya sudah, sampai jumpa di sekolah, aku tunggu lho... pendapatmu tentang situs-situs itu. Ja.. ne..'
Betul? Suck Hell jika Lelouch mempunyai chemistry dengannya, kemudian ia langsung berdecak kesal, "Tch, apa maksudnya Rival mengirim e-mail ini? Dan aku tidak semesum itu!" gerutunya lebih kesal lagi. Apakah tak adakah e-mail yang benar-benar mengkhawatirkan dirinya? Poor Lelouch.
.
.
o~o~o
A/n: Shiyu udah update chap dua, apakah sudah lebih panjang?
Semoga Readers masih bersedia baca chap depan karena... chap depan ga tau mau di update kapan, tapi masih mau bacakan?
Shiyu telat update karena.. yah.. ada alasannya, bisa baca di fic one-shot yang Shiyu buat untuk tahun baru. Untuk tahun baru Shiyu bikin one-shot code geass lagi, RnR ya? -Numpang promo-
Thanks to all~
Thank you for support me,
-Cecania Kuroshiyu-
