Chap 4 Update.


Terlihat sesosok pria sedang berlari tunggang-langgang melewati trotoar jalan raya. Ia tidak mempedulikan baju seragamnya yang agak kusut dan celananya yang cukup kotor. Itu semua dikarenakan tubuhnya tertarik gaya gravitasi bumi yang harus membuatnya bersentuhan berkali-kali dengan tanah. Iris amethyst-nya menyiratkan rasa lelah. Nafasnya memburu dan peluh mulai nampak di sekitar pelipisnya. Ia kelelahan setelah berlari dari kuil yang jaraknya tidak jauh dengan rumahnya menuju sekolah di mana ia biasa menimba ilmu.

Ia menekuk kedua lengannya dan menganyukan keduanya bergantian, supaya ia dapat mempercepat larinya. Pemuda itu pun mengusap peluh di pelipisnya dengan punggung tangannya. Di sela-sela nafasnya yang tersengal-sengal, ia masih sempat menggerutu entah pada siapa. Muncullah sepenggal kalimat yang keluar dari mulutnya, "Tch, gara-gara kau, aku jadi terlambat. Dasar baka neko!" decaknya kesal sambil mendengus sebal.


Pro-Miss

Presented by Kie2Kei

.

Warning

Rate T, AU, Miss Typo, OOC*Maybe*, Abal, etc.

.

Disclaimer

I don't own Code Geass, Code Geass was owned by Sunrise Studio and for character design by CLAMP.

.

P.S.

Sesi Review Replies pindah ke bagian akhir sebelum A/n.

Dan, apakah Kei udah update lebih cepat? Oh joy!

Don't like, so don't read + Enjoy!

Don't forget to RnR!

o~o~o

Bab 2

Havoc

4

Morning Disaster

Benda, mahkluk hidup, atau takdir?

Manakah yang membawa kesialan?

.

Mana yang kau percayai?

.

You're bringing bad luck

.

.

.

o~o~o

Grekk!

Seseorang membuka pintu geser kelas. Suara gesekan pintu dengan lantai membelah suara riuh murid-murid yang sedang berdiskusi tentang pelajaran sejarah.

Semua diam. Hening.

Pandangan mata seisi kelas tertuju pada pintu. Kebanyakkan siswa menanti tak sabar, dan mengira-ngira siapa yang akan masuk ke kelas.

Terlihat seorang gadis yang mempunyai rambut panjang sepinggang berwarna sunset-orange, duduk pada barisan meja ke dua dari pintu kelas, deret meja ke tiga dari depan. Iris emerald-nya menatap gusar ke arah pintu kelas. Ekspresinya campur aduk, heran, cemas, sebal, dan jengkel.

Gadis yang diketahui bernama Shirley ini mengira-ngira bahwa orang yang akan memasuki kelas ini adalah orang itu. Orang itu yang membuat api amarah Shirley bergejolak, karena membiarkannya menunggu cukup lama, kemarin. Orang itu juga memiliki rambut raven dan bola mata beriris amethyst. Pasti yang datang adalah orang itu; Lelouch Lamperouge, karena hanya dia yang belum datang. 'Pasti dia,' batin Shirley.

o~o~o

Pintu yang sudah dibuka, kini diabaikan. Pandangan seisi kelas terfokus pada sosok yang melangkah memasuki ruangan kelas. Seiring dengan langkahnya, sepatu kulit hitam yang baru disemir miliknya membuat decitan halus yang mengisi suara hening di kelas.

Seisi kelas membelalakkan kedua bola matanya termasuk Shirley. Minus guru sejarah yang menatap sinis pada orang itu, ketika melihat wajahnya yang terdapat luka goresan kecil dan penampilannya yang berantakan.

"Kenapa kau berpenampilan seperti itu?" tegur guru sejarah itu sambil memperhatikan penampilan orang itu dari bawah sampai atas. Dimulai dari sepatu kulitnya yang disemir mengkilap, celana longgar semata kaki yang kotor, dan jas lab yang kusut dan sebuah kaca mata berlensa bundar tanpa frame, bersemayam di wajahnya. Tunggu. Tunggu dulu. Itu bukan ciri-ciri penampilan dari pemuda beriris amethyst yang biasa disapa Lelouch. Melainkan...

"Lloyd-san?" tanya guru sejarah itu lagi, supaya meyakinkan orang yang ditanyanya segera menjawab.

"Err.. Begini, ada sedikit kecelakaan kecil. Aku terjatuh saat naik tangga, dan wajahku tergores tepian anak tangga. Haha," tuturnya sembari tertawa hambar dan menepuk celananya perlahan untuk mengusir partikel debu yang menempel.

"Kau ceroboh sekali Lloyd-san."

"Haha. Memang begitulah aku."

Sekilas, guru itu menatap Lloyd dengan pandangan yang menyiratkan pertanyaan Kau bodoh ya?

"Lantas, apa yang membuat kau menyela jam pelajaranku?" tanya sang guru sejarah rektoris.

"Ah, iya." Lloyd menepuk dahinya pelan dengan telapak tangan kanannya. "Ada pesan dari murid didikmu, Lelouch Lamperouge. Ia bilang bahwa, ia tak bisa mengikuti kegiatan belajar pada jam pelajaranmu kali ini," jelasnya.

"sebab ia merasa tak enak badan saat baru sampai sekolah. Ia lalu mendatangiku di ruang kesehatan. Sebagai guru kesehatan aku pun menyampaikan pesannya padamu," lanjut Lloyd sambil membeberkan alasan Lelouch minta izin dan alasan kedatangannya ke kelas ini.

"Hanya itu?" tanya sang guru sejarah tidak yakin sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Ya, hanya itu saja." Lloyd pun bersiap meninggalkan kelas setelah pamit pada guru itu, dan juga para murid dengan senyuman khasnya yang sering bertengger di wajahnya.

Saat Lloyd sampai di mulut pintu kelas guru sejarah itu tiba-tiba memanggilnya, "Lloyd-san."

"Hm? Ada apa?" Lloyd pun berbalik ke arah suara yang memanggilnya, dan senyuman khasnya masih terpampang di wajahnya.

"Kira-kira, kapan Lelouch Lamperouge sampai di sekolah?" tanya guru itu penasaran.

"Hm..." Senyuman Lloyd perlahan lenyap dan tergantikan dengan wajahnya yang berusaha mengingat-ngingat kejadian tadi pagi. "Ia datang ke ruang kesehatan kurang lebih satu jam setelah bel masuk berbunyi."

"Oh, kalau begitu silahkan kembali keruanganmu dan terima kasihatas informasinya."

"Do itashimashite ne." Lloyd mengangkat sebelah tangannya tanda ia akan meninggalkan kelas itu.

Setelah Lloyd benar-benar meninggalkan kelas, guru sejarah itu pun melanjutkan acara belajar mengajarnya. Sebenarnya saat itu terlihat walau sebentar, salah satu sudut bibir guru tersebut naik dan membuat sebuah lekukan horor; seringai.

o~o~o

Angin musim semi bertiup lembut. Membelai setiap helai rambut berwarna light-green kepunyaan seorang gadis secara perlahan. Kelopak-kelopak bunga sakura yang berguguran dari pohon di hadapannya, turut mengalun menyamakan simfoninya.

Begitu juga dengan kimono-nya yang berwarna brown-coffee bercorak bunga-bunga abstrak dengan obi berwarna merah hati, berayun mengikuti irama angin. C.C., itulah nama gadis tersebut. Singkat seperti angin musim semi.

Ia berada di sini, di tempat ini. Di bawah pohon sakura yang kokoh dan didampingi pelayan setianya, yang telah mengabdikan diri padanya cukup lama. Ia pun menutup kedua kelopak matanya. Dan berusaha menikmati hembusan angin musim semi yang menerpa wajahnya secara halus.

C.C. pun membuka kedua kelopak matanya, yang membuat iris golden-yellow-nya muncul kembali.

Tanpa diduga, kedua bola matanya tertambat pada sebuah benda berwarna biru, berbentuk persegi panjang yang seukuran dengan kartu nama, terbaring di jalan setapak halaman belakang kuil. C.C. pun memungut benda itu dan membaca beberapa kata yang dicetak secara alphabetical yang tertera di benda tersebut. Tertulis Credit Card.

Entah kenapa C.C. menyunggingkan seringai tipis, saat selesai mengamati benda asing yang ia temukan. Lalu ia melirik pelayannya dan berkata,

"Arthur, belikan aku Pizza Pepperoni Double Cheese."

Arthur sang youkai kucing hanya bisa mengerjapkan kedua kelopak matanya saat mendengar perintah majikannya. Perintah C.C.-sama itu sangat absolut baginya. Paling tidak, itulah yang ia pegang.

"Tentu, C.C.-sama," jawab Arthur patuh.

"Kalau begitu, kau berubah dulu menjadi manusia. Mereka akan kaget bila melihatmu berbicara dalam wujud youkai kucing," C.C. menyarankan.

"Baiklah, C.C.-sama." Seketika cahaya menyilaukan menyelubungi seluruh tubuh youkai kucing tersebut. Dan voil la, munculah sosok manusia Arthur yaitu, Suzaku Kururugi.

C.C. pun melemparkan benda biru tersebut pada Suzaku sambil berbicara, "Ah iya. Pakailah ini untuk membayar pizza-pizza itu."

Benda itu-atau yang biasa disebut kartu kredit-, dengan sukses berhasil ditangkap Suzaku.

Suzaku pun mengangguk kecil. "Kalau begitu.. C.C.-sama, saya pergi dulu," pamit Suzaku sambil tersenyum hangat.

"Hati-hati Suzaku," balas C.C. yang juga membalas senyuman Suzaku dengan senyuman simpul.

Setelah Suzaku pergi untuk membeli pizza, C.C. pun duduk santai di bawah sebuah pohon sakura di halaman belakang kuil tak terurus, yang sering Lelouch lewati. Ia menyadarkan punggungnya di batang kokoh pohon sakura. Kedua kakinya ditekuk yang kemudian ia dekap dengan kedua lengan jenjangnya.

Pandangan matanya kosong, tak sarat akan sinar kehidupan. Sepertinya pikirannya sedang melayang jauh. Jauh melewati batas waktu. Jauh dari masa sekarang di mana ia berada.

o~o~o

Lima belas menit kemudian C.C. pun mengubah posisi duduknya. Ia melemaskan kedua kakinya kedepan yang semula ia tekuk. Ditatapnya langit biru dengan awan berarak mengikuti arah angin. Pandangannya menerawang. Tapi kali ini terlihat jelas di sudut matanya, ada secercah sinar kebahagiaan.

Ia pun mengangkat lengan kanannya dan mencoba menggapai matahari. Walau silau akan cahaya matahari, ia terus mencoba. Tapi tetap saja tak sampai. Terlalu jauh. Jaraknya dengan matahari terlalu jauh.

Yang sampai hanyalah hangatnya sinar matahari yang menyinari telapak tangan kanannya yang dingin. Hanya itu yang tercapai. Hanya itu yang tergapai. Tapi, sudut bibirnya terangkat dan membuat seulas senyuman hangat.

Selama beberapa menit, C.C. meremas udara hangat yang matahari pancarkan. C.C. kemudian menurunkan lengan kanannya dan memposisikan telapak tangannya menghadap wajahnya yang mulus bak lantai porselen.

Telapak tangan kirinya mulai menyentuh telapak tangan kanannya yang terkena kehangatan sinar mentari dan menggengamnya. Hangat.

Kehangatan menjalar dimulai dari ujung jari lentiknya, hingga ke telapak tangan kirinya. Dan telapak tangan kirinya pun mulai melepaskan genggamannya. Anehnya, setelah itu, senyuman yang nampak di wajahnya kian merekah.

Tiba-tiba, beberapa untaian kata mengalun dari bibir manisnya, "Seberapa hangatnya sinar matahari pun," C.C. memberi jeda antara kalimat yang akan diucapkannya. Ia pun mengusapkan jari-jemari lentik tangan kanannya di pipi mulusnya yang bersuhu dingin dan kehangatan sinar matahari mulai menyeruak di sekitar pipinya. "..tak mampu menyaingi kehangatanmu," lanjut C.C. dengan senyuman manisnya yang masih terpampang di wajahnya.

o~o~o

Terlihat sesosok gadis terpekur di depan pintu sebuah ruangan. Iris emerald-nya melirik tulisan di dinding ruangan yang terbaca 'Ruang Kesehatan'. Ia pun menghembuskan nafas panjang dan mulai menggenggam celah pintu geser yang tersemat di ruangan tersebut dengan tangan kanannya.

Di tangan kirinya terdapat sebuah buku yang mau tidak mau, mengharuskannya datang ke ruangan ini. Buku yang biasa disebut buku catatan piket.

Ya, pada saat yang tepat, wali kelasnya memberinya tugas untuk membereskan gedung olah raga. Karena, hari ini gilirannya menjadi petugas piket dan partner-nya kali ini adalah seseorang yang berada di dalam ruangan ini.

Partner-nya itu laki-laki bernama Lelouch Lamperouge, yang katanya ia sedang berada di dalam ruangan ini karena kurang sehat. Tadinya, ia akan menyampaikan pada wali kelasnya bahwa Lelouch masih sakit. Karena dari jam pelajaran pertama sampai terakhir, Lelouch tidak masuk kelas.

Tapi niat itu ia urungkan karena ada sesuatu hal yang ingin dia tanyakan pada Lelouch. Gadis itu pun menggeser pintu geser ruang kesehatan dengan hati-hati.

Grekk!

Pintu ruangan kesehatan pun mulai terbuka, memperlihatkan potret gadis SMU dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Gadis itu pun melangkahkan kakinya secara perlahan ke dalam ruangan. "Ano, Lloyd-sensei, saya Shirley Fenette. Apakah Lelouch Lamperouge ada di dalam?"

Hening. Tak terdengar jawaban. Bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam.

Mata emerald-nya menyapu sekeliling ruangan. Yang tampak hanyalah meja kerja guru dengan kursi beroda lima yang tidak diduduki siapa-siapa. Terlihat dua buah single-bed yang bersebelahan dan hanya dipisah oleh sebuah nakas kecil di antaranya.

Dan di salah satu single-bed tersebut, terdapat sosok pria berambut raven sedang tertidur damai. Pria itulah yang jadi tujuannya. Shirley melangkah mendekat menuju single-bed di mana pria tersebut berada. Langkahnya dibuat sangat pelan, supaya tidak menimbulkan bunyi bising yang akan membangunkan pemuda itu.

Setelah berada di samping tempat tidurnya, Shirley hanya diam membisu. Iris emerald-nya memandangi wajah Lelouch yang sedang tertidur dengan seksama.

Shirley menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, agar kesadarannya kembali. Karena sesuatu tiba-tiba terbesit di pikiranya kembali. Ya. Sesuatu hal yang ia harus lakukan.

Tapi beberapa detik kemudian, ia pandangi lagi wajah elok milik pria tersebut. Jarang-jarang ia melihat pemandangan Lelouch yang tertidur.

Saat itu juga, jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya. Yang menyebabkan aliran darahnya mengalir mengikuti pergerakkan jantung. Semburat merah muda mulai nampak samar di pipinya. Dan itu membuat sekitar wajahnya mendadak terasa hangat.

Semua itu diakibatkan oleh wajah Lelouch yang tampan. Ah, tak masuk akal. Bukan. Sebenarnya semua itu terjadi saat Shirley merasakan kupu-kupu menggelitik sekitar perutnya, jika bersama Lelouch.

Satu detik, dua detik..., dua menit tiga puluh detik, dia benar-benar terhipnotis oleh wajahnya sampai-sampai, tak bisa mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia tersedot ke dalam angan-angan kecilnya. Di mana Lelouch dapat tersenyum tulus, hanya untuk dirinya.

..Dirinya seorang..

Plakk!

Shirley menampar dirinya sendiri dengan telapak tangan kanannya supaya ia segera sadar dari lamunannya. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di dadanya supaya jantungnya lebih tenang. Shirley pun menarik nafas dan menghembuskannya secara beraturan. Dan ia pun berkomat-kamit tidak jelas agar, semburat merah muda menghilang dari wajahnya dan wajahnya berhenti memanas.

'Ayolah Shirley, ingat tujuan pertamamu! Kau ke sini bukan untuk melakukan hal ini 'kan?' batinnya.

Habis, walaupun sekarang Shirley sedang marah pada Lelouch. Ia tetap tidak tega membangunkan Lelouch yang masih kurang sehat dan sedang mengarungi alam mimpinya.

Karena di dalam hati kecilnya, ia sangat peduli pada Lelouch. Mungkin bukan peduli, tapi... perasaan yang lebih.

o~o~o

Shirley masih berkutat dengan pikirannya hingga ia tidak menyadari bahwa sepasang iris amethyst sedang memandanginya. Saat Shirley melirik ke arah kelopak mata pemuda itu kembali. Mata emerald-nya membulat sempurna. Mengetahui Lelouch sudah bangun.

"Lu-Lulu." Shirley terlonjak kaget. "Sejak ka-kapan kau bangun?"

"Sejak kau memasuki ruang kesehatan." Dan ternyata, kurang dari lima belas menit ini, dia hanya pura-pura tidur.

"Eh?" Shirley mulai panik dan ia merasakan kalau seluruh bagian wajahnya mulai memanas. 'Ya ampun, ya ampun, YA AMPUN! Apakah dia melihatku sedang-akh!' rutuk Shirley dalam hati. Apa lagi ia sudah bangun dari tadi. Ia benar-benar malu jika Lelouch tahu apa yang sedang ia lakukan sejak tadi. Mau ditaruh di mana mukanya?

"Ka-kau melihat semuanya?" Shirley membuka err... aibnya sendiri.

"Hah? Melihat apa maksudmu?" Lelouch menatap Shirley heran sambil beranjak dari tempat istirahatnya dan duduk di sisi single-bed tersebut. "Dengar, bagaimana aku bisa melihatmu, kalau kedua kelopak mataku tertutup?"

"Ah..," gumam Shirley pelan. Ia meletakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya di pelipisnya sambil memijitnya perlahan, supaya urat saraf otaknya berelaksasi.

Shirley baru sadar bahwa, seseorang tak bisa melihat jika matanya tertutup. Pasti anak kecil pun tahu akan hal-hal dasar seperti itu. Lalu Shirley? Mungkin otaknya berhenti bekerja saat ia sedang panik. Heck.

"Lalu, kenapa kau pura-pura tidur?" tanya Shirley mengalihkan topik pembicaraan dan rona wajahnya kembali seperti semula.

"Itu ya. Tadinya aku belum siap untuk meminta maaf padamu karena aku telah membuatmu marah kemarin. Dan berakhir dengan kau pulang duluan sebelum aku sempat meminta maaf padamu. Aku akan mejelaskannya nanti. Tapi sekarang..." Lelouch menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. "Shirley, karena itu tolong maafkan aku."

Shirley yang berada di depannya hanya diam mematung. Shirley tak mengira Lelouch yang itu, yang ITU! Yang cerdas, tampan, dan dapat diandalkan, meminta maaf padanya. Shirley kira, masalah itu dianggap angin lalu oleh Lelouch. Nah lho.

'Ayo Shirley, respon! Respon!' batin Shirley.

"Lulu, kau memang sangat bersalah." Saat mendengar perkataan itu, kedua alis Lelouch naik dan ekspresi wajahnya berubah bingung. Apakah ini yang disebut air tuba dibalas air tuba?

"Tapi karena kau mau minta maaf, jadi akan kumaafkan deh." Wajah Lelouch pun menunjukkan ekspresi lega.

"Hanya saja ada syaratnya supaya kau 'ku maafkan sepenuhnya," tantang Shirley.

"Puuh. Kau seperti anak kecil saja Shirley," ledek Lelouch diselingi tawa khasnya.

"Eh? Apanya yang mirip anak kecil? Yang jelas kau mau ku maafkan tidak?" cibir Shirley kesal.

"Oke, oke." Lelouch pun menganggukkan kepalannya dan mulai berhenti tertawa. "Jadi aku harus bagaimana?"

"Jadi kita dapat giliran piket hari ini, dan harus membereskan gedung olah raga," jelas Shirley yang mulai tenang sambil memperlihatkan catatan piket yang dibawanya tadi.

Lelouch menaikkan sebelah alisnya. Lalu Shirley pun melanjutkan, "dan katanya, kita akan dapat nilai tambah di pelajaran olah raga, lho. Yang selalu membuatmu mencari macam-macam alasan agar kau tidak ikut pelajaran itu. Dan juga aku akan memaafkanmu kok. Kalau kamu mau melakukannya."

"Oke." Lelouch pun mengambil buku catatan piket miliknya yang sedaritadi Shirley pegang. Seulas senyum simpul terekspos di wajah eloknya.

"Ayo, pergi ke gedung olah raga," ajak Shirley sambil menyerahkan buku tersebut dan tersenyum ceria.

o~o~o

Mereka pun memasuki gedung olah raga. Suasana hening menyelinap. Shirley pun menyalakan lampu gedung olah raga, karena di dalam gedung pencahayaanya kurang dan hanya disinari oleh cahaya mentari sore.

Dengan menekan tombol saklar yang terdapat di sebelah pintu masuk, neon-neon di dalam gedung pun menyala.

Cahaya dari beberapa lampu neon berpendar menghiasi ruangan. Terlihat, bola basket yang tercecer karena tidak disimpan kembali oleh murid-murid yang telah menggunakannya. Mungkin mereka mulai membereskan gedung olah raga dari bagian bola basket yang tercecer.

Lelouch mulai memasukkan satu demi satu bola basket yang tercecer ke keranjang besar yang menyimpan sekumpulan bola basket.

Duk! Duk! Duk!

Terdengar suara bola basket yang bertubrukan dengan lantai licin di gedung olah raga. Suaranya monoton, tetapi dapat membelah keheningan di gedung itu. Lelouch yang menangkap suara itu, langsung melirik partner-nya yang sedang asyik men-dribble bola basket.

"Shirley, kau niat membereskannya tidak?" sindir Lelouch.

"Ehehe. Maaf aku ke asyikkan," jawab Shirley sambil menembakkan bola basket ke arah ring basket. "Yeah! Three point shoot." Ia pun menekuk sikut lengan kanannya dan mengepalkan tangannya, sehingga kepalan tangannya sejajar dengan bahunya tanda ia berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket.

Lelouch pun bergumam tidak jelas tentang apa enaknya bermain bola basket yang merupakan bagian dari pelajaran olah raga.

Setelah itu, Shirley membantu Lelouch memasukkan sisanya ke keranjang besar, di mana sekumpulan bola-bola basket berada.

Saat bola yang terakhir akan dimasukkan, Shirley berpikir sejenak. Sekilas, ia tersenyum kecut.

"Oi, Shirley! Kenapa kau tidak memasukkan bolanya ke keranjang?"

"Eh, begini." Shirley pun mulai memantulkan bola basket ke lantai secara perlahan. Yang suara monotonnya menjadi latar perbincangan antara Shirley dan Lelouch. "Aku boleh tanya sesuatu padamu Lulu?"

Tadinya, Lelouch mau menegur Shirley kembali karena belum membereskan pekerjaannya. Tapi kini, ia tak merampungkan niatnya tadi karena mencoba mengerti situasi dan kondisi. Pemuda berambut raven itu pun berpikir sejenak.

"Aku janji akan membantumu mencari berbagai alasan saat pelajaran olah raga nanti, Lelouch."

"Cuma dua pertanyaan kok. Boleh ya?" pinta Shirley.

"Aa." Lelouch menganggukkan kepalannya pelan.

"Um.. yang pertama. Kenapa penampilanmu berantakan Lulu?"

"Itu..."

"Apakah kau tidak sengaja tersandung batu lalu terjatuh dan menyebabkan luka gores tipis di wajahmu itu?" potong Shirley cepat. Ia begitu yakin dengan perkatakannya, mengingat penampilan Lloyd-sensei juga mirip seperti itu. Shirley pikir, pasti alasannya juga hampir serupa.

"Ah, ya. Kurang lebih begitu." Lelouch tak membeberkan alasan sebenarnya karena ia yakin bahwa Shirley tak akan mempercayai alasannya yang sesungguhnya.

Ya. Mana mungkin ada orang yang diserang kucing yang bisa bicara? Mungkin nanti Lelouch dianggap kehilangan akal sehatnya oleh Shirley jika membeberkan hal itu.

"Satu pertanyaan lagi." Shirley pun menarik nafas dan menghembuskannya kembali. "Saat aku pulang duluan dari rumahmu, dan meninggalkan Rival begitu saja di sana. Aku berjalan melewati kuil yang sudah tak terurus,"

Lelouch mulai menelan ludah saat mendengar kalimat yang Shirley lontarkan.

"tak sengaja, aku melihatmu bersama seorang gadis,"

"..gadis berambut hijau terang," lanjut Shirley.

Mata amethyst-nya membulat sempurna. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali. Keringat dingin mulai menyergapi tengkuknya. Tapi sayangnya, mulutnya terkunci.

"Aku mengintip kalian dari balik semak-semak. Kulihat, kalian begitu... Err... Akrab, bahkan sampai kalian berdua peganggan tangan begitu. Maaf tak sopan tapi... apakah kalian... sedang menjalin hubungan?" Mata emerald-nya beradu dengan amethyst kepunyaan pemuda tersebut. Kilat-kilat cahaya keingintahuan terpancar dari emerald milik Shirley.

Lelouch pun menghembuskan nafas panjang. Pria itu mengalihkan pandangannya ke lantai gedung olah raga yang licin dan mengkilap. Ia mencoba menghindari tatapan iris emerald Shirley yang seakan mengorek jawaban yang berada di pikirannya.

Sebetulnya jawaban yang Shirley inginkan, sudah berada di ujung lidahnya.

Lalu bibir tipis Lelouch pun mulai terbuka demi mengucap kata. "Dia itu adalah..."

.

.

!TBC!

.

.

o~o~o

Reviews n' Replys

Ve: Ah iya? Anda suka dengan yang chapternya panjang? Saya juga lho~

Dauntless? Fic yang 60 chapter+review-nya mencapai 2000 lebih? Sayangnya saya belum sempet baca. Saya lagi suka sama karya-karyanya author koa-chan yang simpel dan manis...

Iya sih, mungkin lucu kalo Lelouch jadi kucing. -ngakak-

(None Name): Terima kasih sudah bersedia mampir di fic abal ini. Iya memang, Suzakun jadi kaya gitu, tapi ga masalah 'kan? Alhasil bikin Suzakun malah makin imut. Mampir & RnR lagi ya?

ReiyKa: Tenang aja Rein-chan, saya ga akan gigit kok walau telat review. Hehe.

Di chappy 3 emang saya bikin supaya alurnya agak cepet, tapi ada juga yang saya sengaja blur-in point-nya biar penasaran.

Ahaha, kudeta ya. Lelouch bukan Zero kok. Bukan spoiler kok Rein-chan suer, ga apa-apa. Sekalian balesan review ini buat nge-jelasin bahwa Lelouch itu bukan Zero.

Rein-chan, Shiyu udah benerin yg chappy 2. Gomen karena telat.

Okee.. shiyu bilang-bilang deh kalo hiatsu eh, maksudnya hiatus!

Ms. XX: Saya senang anda menunggu fic saya yang abal ini. Karena anda reviwer anonymous pertama yang stay tune di fic ini.

Slight SuzaC.C. ya? Saya sih, sekarang cuma membuat Suzakun menjadi pribadi yang over protective, tapi ga tau kedepannya. Haha, saya suka bikin orang penasaran.

Arigatou udah mampir lagi ke fic ini, kalo bisa sih sekalian review lagi. #wink-wink

o~o~o

A/n: Sedikit uneg-uneg dari Kei

::Wah.. ada pemberitahuan. Fic ini dibagi dalam beberapa bab dengan beberapa chapter di tiap bab. Yang bab pertama itu, dari chapter 1-3 dengan judul introduce. Nanti saya revisi chapter 1-3-nya. Saya ga konsisten ya? Haha.

::Di sini saya jelaskan tentang, mengapa Suzaku dipanggil Arthur. Jika Suzaku jadi kucing C.C. manggil dia 'Arthur'. Tapi kalo jadi manusia, tetep dipanggil Suzaku. Takutnya readers bingung, dengan keganjilan ini. Makanya saya jelasin.

::Ah, iyaa. Adegan yang saya paparkan kurang dapet feel-nya ya? Saya orangnya ga romantis sih. Lalu kenapa saya nulis fic ber-genre romance? -tepar-

Apa-apaan cut ending itu? Payah. Dan chapter ini sepertinya lebih panjang dari sebelumnya, orz.

Terakhir,

Kei ucapkanArigatou Gozaimasu

Mind to...

R

E

V

I

E

W

Please?

See yaa next time,

=K2Kei=