Chapter 2 : Sacrifice
HAPPY SASUNARU DAY!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
"Gunslinger Girl"
Present by : Maira 'milly' Kanzaki a.k.a Mai
Inspired : "Gunslinger Girl" by Yu Aida
Rating : T
Pairing : SasuNaru/SasuFemNaru? (Jika mengikuti fict ini terus, Anda akan tau) slight others.
Genre : Romance, Angst
WARNING : OOC, AU , STRAIGHT or YAOI? (Jika mengikuti fict ini terus, Anda akan tau), tidak memakai bahasa baku, maybe Typo.
Tidak suka? Jangan Baca!
Chara :
Naruto, Kiba, Gaara, Tenten, Shikamaru : 17 tahun.
Sasori : 18 tahun.
Sasuke : 20 tahun.
Minato & Fugaku : 50 tahun.
Itachi : 24 tahun
Kisame, Hidan, Kakuzu : 26 tahun.
Kurenai : 30 tahun.
Summary : "Aku ingin diakui, bukan sebagai murid, bukan sebagai anak buah, tapi sebagai anak yang 'seharusnya', sensei."
ENJOY!
Chapter 2 : Sacrifice
Hari Minggu malam Senin, tepat ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam waktu setempat, adalah waktu yang tepat bagi orang-orang untuk pergi ke alam mimpi. Mengingat aktivitas mereka akan kembali besok pagi. Kerja ataupun sekolah. Dan tentunya mereka takkan mau untuk terlambat di hari Senin.
Namun ternyata masih ada segelintir orang yang masih berkutat dengan pekerjaannya sampai detik ini. Contohnya seorang pemuda berambut hitam di kuncir yang sedang duduk di balkon kamarnya di lantai tiga. Dia duduk di kursi dengan sebuah meja di hadapannya. Di atas meja itu terdapat sebuah laptop yang sedari tadi sibuk di kutak-katik olehnya. Wajahnya begitu serius. Sesekali dahinya mengkerut, menyebabkan kacamatanya sedikit melorot.
"Hei, IQ mu itu tinggi. Jangan mengkerutkan dahimu seolah kau orang yang bodoh."
Sebuah suara mengagetkannya. Pemuda itu mendongak, dan mendapati lima orang lain di depannya.
"Ck, kalau kau kesini hanya untuk mengejekku, lebih baik pergi, Kiba!"
"Hei hei, aku 'kan hanya bercanda, Shika!"
"Mendokusei."
Kiba hanya menjentikkan bahu dan duduk di lantai balkon, di susul oleh empat orang lainnya, yang tak lain adalah Naruto, Gaara, Sasori dan Tenten. Mereka berlima sedang berada di balkon lantai tiga, tepatnya di rumah keluarga Uchiha, yang sekarang resmi menjadi majikan mereka. Ya, mereka adalah bodyguard untuk sang Tuan Muda Uchiha.
"Sebenarnya kau sedang apa?" tanya Naruto.
"Kerja." Jawab Shikamaru tanpa mengalihkan pandangannya pada monitor.
"Hacking?" tanya Sasori.
"Begitulah."
"Apa lagi yang kau rencanakan?" tanya Tenten.
"Hanya ingin mengetahui seluk-beluk perusahaan Hebi." Jawabnya santai.
Kelimanya membelalakkan mata.
"Seserius itukah kau, sampai menghack perusahaan itu dan mencuri data-datanya?" seru Kiba, nada suaranya terdengar panik. "Lalu darimana kau mendapatkan website Hebi Corp.?" lanjutnya.
"Kita harus profesional dalam bekerja. Klien kita kali ini 'kan meminta kita menjaga sang Tuan Muda dari ancaman kekerasan anak buah Hebi Corp. Tidak ada salahnya 'kan, kalau aku berusaha mengumpulkan informasi tentang perusahaan itu? Lagipula, apakah kau tidak pernah mendengar istilah 'Search Engine'? Tempat dimana kau bisa mendapatkan alamat website dengan mudah?" jelas Shikamaru. Shikamaru merasa out of character saat ini, mengingat dirinya sangat malas dalam menjelaskan sesuatu.
"Terserah kau 'lah.." dengus Kiba.
"Lalu, apa yang kau dapatkan?" tanya Gaara.
Shikamaru menghela nafas. "Mengejutkan," lanjutnya. Tangannya kembali menari di atas keyboard untuk beberapa waktu, kemudian dia melanjutkan. "Hebi Corp. Perusahaan yang bergerak di bidang otomotif. Bidang yang sama dengan Uchiha Corp, yang menyebabkan dua perusahaan itu bersaing. Namun, ternyata itu semua hanya kedok."
Naruto mengangkat sebelah alisnya, "Apa maksudmu?"
"Hebi Corp sebenarnya mempunyai bisnis Pasar Gelap. Mereka menjual barang-barang selundupan dari berbagai negara. Barang-barang selundupan utama mereka adalah narkotika dan tembakau. Barusan aku mengambil data transaksi terlarang mereka. Canggih juga si Orochimaru, pemilik Hebi Corp. Hampir dua jam baru aku bisa menyelundup. Itu pun hanya sebentar, takut ketahuan." Jelas Shikamaru.
"Waow, menarik." Seru Kiba dengan mata berbinar-binar.
"Padahal baru misi pertama, tapi kasus kita berhubungan dengan perdagangan internasional." Sahut Tenten.
"Apa kau mengetahui, siapa orang-orang yang Orochimaru sewa untuk mencelakakan Sasuke-sama?" tanya Sasori.
"Ya, dan jujur ini akan mempersulit kita semua." Jawab Shikamaru.
"Memangnya siapa?"
Shikamaru menghela nafas lagi. Terasa beban kali ini sangat berat di tanggung dirinya dan teman-temannya. "Orochimaru menyewa sepuluh penjahat buronan terkenal, yang terkabung dalam grup 'Akatsuki'. "
Sesaat, Naruto merasa nafasnya sesak.
GunsLinger GirL
Naruto menghempaskan badannya di kasur king size miliknya. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Untuk ukuran seorang bodyguard, kamar ini termasuk mewah.
Kamar Naruto bernuansa biru muda dengan aksen putih, letaknya di lantai dua. Ia tidur sendiri. Persis di samping kamarnya ada kamar Sasuke, mengingat dirinya adalah 'butler pribadi' Sasuke, maka Fugaku Uchiha menempatkan kamar Naruto di samping kamar Sasuke.
Diliriknya jam digital oranye di atas mejanya, pukul 23:12.
Ia memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Namun kata-kata Shikamaru tadi berhasil membuatnya gelisah.
'Orochimaru menyewa sepuluh penjahat buronan terkenal, yang terkabung dalam grup 'Akatsuki'.
"Akatsuki..." geramnya. "Kenapa kalian tidak pernah berhenti menyusahkanku?" tangannya mengepal meremas sprei. Menunjukkan bahwa dirinya sedih, kesal, marah dan semuanya berkecamuk di hatinya.
Naruto bangkit dari kasurnya menuju koper berukuran sedang miliknya, yang berisi barang bawaan. Diambilnya dua pigura foto yang selalu ia bawa kemana-mana, dan meletakkan dua pigura itu di meja kecil di samping tidurnya.
Naruto memandang salah satu pigura itu. Foto dirinya dan kelima sahabatnya. Mereka berenam tampak begitu kumel dan kotor. Di tengah terdapat dirinya yang tersenyum lebar. Baju latihannya yang berupa kaos oblong berwarna putih polos 'dihiasi' lumpur kotor. Tak hanya di bajunya, muka dan celana training birunya pun tak luput dari lumpur.
Di sisi kanan-kirinya terdapat duo 'Aka' (merah), alias Sasori dan Gaara. Sasori tampak tersenyum lebar sedangkan Gaara hanya tersenyum tipis, namun kentara kalau ia pun sangat bahagia.
Di samping kiri Gaara ada Kiba dan Tenten. Mereka berdua nyengir lebar, Tenten menunjukkan dua jarinya, lambang peace. Sedangkan Kiba menggedong anjing kecil miliknya yang bernama Akamaru.
Sedangkan di samping kanan Sasori ada Shikamaru, yang bahkan di foto itu sempat-sempatnya ia menguap.
Kelima teman Naruto itu tak jauh beda dengan dirinya. Memakai pakaian yang sama dan bertampang sama, kumel dan kotor.
Waktu itu, mereka baru saja latihan militer dengan cara merangkak a la prajurit di tanah yang berlumpur.
Foto itu diambil sekitar tujuh tahun yang lalu. Yang memotret mereka adalah Iruka-sensei, guru IPA mereka di home schooling sekaligus guru aikido di latihan bela diri. Iruka-sensei adalah sensei terfavorit di Namikaze's Millitary.
Tanpa sadar, seulas senyum lebar menghiasi wajah manis Naruto.
Senyuman yang hilang sejak 5 tahun yang lalu.
Senyuman yang Naruto klaim, telah 'mati' 5 tahun yang lalu.
Ya, dulu ia adalah seorang yang berisik, bawel, hiperaktif dan sangat ceria.
Sebelum 'kejadian' itu...
Sebelum 'dia' mengambilnya secara paksa.
Matanya kini beralih ke pigura yang satu lagi, foto keluarganya.
Sepasang suami-istri yang tersenyum bahagia. Sang suami berwajah tampan dan terlihat sangat berwibawa. Rambutnya berwarna kuning dan bermata biru, Namikaze Minato.
Sang istri berwajah lembut penuh keibuan. Berambut merah dan matanya berwarna oranye kemerehan. Senyumnya sangat manis, dialah Uzumaki Kushina.
Suami-istri tersebut merangkul tiga anak kecil di yang berdiri di depan mereka. Sebelah kiri ada Namikaze Kyuubi, anak sulung. Rambutnya jabrik berantakkan berwarna oranye-kemerahan. Matanya berwarna merah darah. Tangannya ia masukkan ke kantong celana bahannya, tampangnya agak cemberut. Tapi tak mengurangi di kesan tampannya.
Sebelah kanan ada Namikaze Deidara, anak tengah. Rambutnya sebahu dan di kuncir ekor kuda. Poninya yang panjang sampai mata di sibakkan ke kanan. Matanya berwarna aquamarine dan ia tersenyum di foto itu.
Terakhir di tengah, dirinya sendiri. Diapit dua kakak laki-laki yang menyayanginya. Naruto sendiri heran, kenapa di foto itu dia bisa tersenyum lebar. Padahal saat ini –bisa dibilang- Naruto jarang sekali tersenyum. Bahkan dia lupa apa rasanya tersenyum.
Miris.
Yeah, semenjak 'kejadian itu'.
"Kyuu-nii.." bisiknya pada foto Kyuubi. "Kapan ini semua akan berakhir? Kapan kondisi 'fisikku' seperti dulu? Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu," lalu matanya beralih pada foto Deidara.
"Dei-nii.." bisiknya lagi. "Aku tidak menyangka kalau suatu hari nanti aku akan membunuhmu.."
Setelah mengucapkan itu, Narutp menyimpan kedua pigura foto tersebut ke dalam laci meja.
Naruto memejamkan matanya. Kristal bening mengalir dari matanya. Ia tetap menangis hingga fajar terbit.
"Jujur, aku tidak mau seperti ini..."
.
.
"Ohayou Sasuke-sama." Sambut para maid dan bodyguard barunya.
"Hn." Jawabnya.
"Sebaiknya Anda lebih cepat, Sasuke-sama. Kelas Anda akan di mulai satu jam lagi." Usul Gaara, yang kini berdiri tak jauh dari meja makan, tempat Sasuke duduk.
"Hn."
'Apa dia tak punya kata-kata lain?' batin Kiba.
"Ngomong-ngomong, kalian semua jurusan apa?" tanya Sasuke pada enam orang bodyguard barunya.
"Sastra." (Tenten)
"Matematika." (Gaara)
"Arsitektur." (Kiba)
"Psikologi." (Sasori)
"Ekonomi." (Shikamaru)
"Seni." (Naruto)
"Hm, ternyata kalian sengaja mengambil jurusan yang jam-nya sama denganku, eh?" tanya Sasuke sinis.
"Begitulah, Sasuke-sama. Agar kami bisa menjaga Anda." Jawab Naruto.
"Ck, tanpa kalian pun Aku baik-baik saja," Sasuke menyambar roti panggang di mejanya lalu berjalan keluar, "Cepat ke mobil, aku tidak mau terlambat!" perintahnya.
Keenam bodyguardnya –yang sekarang memakai pakaian biasa- mengekori sang majikan yang tak lain adalah Sasuke.
'Semoga kami kuat menghadapi majikan seperti dia,' batin Kiba.
Mereka masuk kedalam mobil Fortuner dengan posisi Naruto sebagai supir dengan Sasuke di sampingnya. Sasori, Gaara dan Kiba di jok kedua, sedangkan Tenten dan Shikamaru di jok belakang.
MairaKanzaki
Toyota Fortuner hitam baru saja memasuki kawasan Konoha International University (KIU). Setelah terparkir dengan rapi, keluarlah enam pemuda dan seorang gadis dari mobil tersebut. Naruto, sang 'supir' membukakan pintu Sasuke agar sang majikan turun.
"Silahkan, Sasuke-sama." Kata Naruto.
"Hn." Jawab Sasuke. Ia merasa tidak perlu beramah-tamah pada 'bawahan'nya.
Naruto menyusul langkah Sasuke yang cepat. Di belakang mereka, Kiba, Gaara, Shikamaru, Sasori dan Tenten berusaha 'menjaga jarak' dari Naruto dan Sasuke. Karena tugas mereka hanya 'membantu' dan 'mengawasi' dari jauh.
"Lihat! Sasuke-kun sudah datang!"
"Aduuh, makin hari dia makin tampan saja~."
"Kyaaa, Sasuke-sama! Lihat sini doong."
Sasuke hanya mendengus dan tetap berjalan tanpa menghiraukan 'panggilan' dari para wanita. Naruto yang berjalan di sampingnya merasa heran. 'Sebegitu populernya 'kah Sasuke-sama?' batinnya. Namun Naruto tidak mau ambil pusing, ia tetap memasang wajah datar.
"Hei, lihat! Siapa pemuda yang di samping Sasuke-san?"
"Mana? Oh iya, ya. Temannya mungkin?"
"Itu bodyguard baru Sasuke-sama?"
"Manis sekali pemuda pirang itu."
"Sasuke-kun! Perkenalkan pemuda itu dong!"
Naruto hanya tersenyum miris dalam hati mendengar kata 'pemuda manis'.
"Hn, kau populer juga rupanya." ujar Sasuke
"Saya biasa saja, Sasuke-sama." Jawab Naruto.
Sasuke membalasnya dengan dengusan pelan. Tiba-tiba ia menghentikkan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap sang bodyguard.
"Ada apa, Sasuke-sama?" tanya Naruto.
Sasuke menghela nafas, "Dengar! Bila ada yang bertanya siapa dirimu, kau hanya menjawab kalau kau bodyguardku. Jangan berbicara macam-macam! Dan jangan sok akrab dengan teman-temanku. Mengerti?"
"Mengerti, Sasuke-sama. Saya permisi dulu, mau ke kelas." Jawab Naruto seraya membungkukkan sedikit badannya.
"Hn."
Mereka pun berpisah. Sasuke menuju kelas manajemen, Naruto ke kelas seni.
Gunslinger Girl
Hiruk pikuk kantin kampus sangat mengganggu sang Tuan Muda.
Suka? Jelas tidak!
Ia benci keramaian.
Namun perutnya yang lapar seakan tidak berpihak dengannya. Dengan 'terpaksa', Sasuke dan kedua temannya, -Suigetsu dan Neji- menuju kantin. Dan inilah, yang tidak di sukai sang Tuan Muda.
"Kyaaa, Sasuke-san!"
"Sasuke-kun, duduk disini bersamaku."
"Sasuke! Tampannyaa~."
Dan Sasuke hanya mendengus.
"Janganlah semuram itu, Sasuke. Masa kau tidak tertarik dengan mereka?" goda Suigetsu, yang mempunyai gigi menyerupai hiu.
"Hn, mereka menjijikkan." Jawab Sasuke.
"Kau gay ya, Sasuke?" celetuk Neji sambil cekikan.
"Jaga bicaramu!"
"Khe..khe..khe, sudahlah, Hyuuga." Sela Suigetsu. Namun tetap saja di dalam hatinya dia masih tertawa.
Sasuke mengacuhkan kedua temannya dan sorakkan para gadis. Matanya meneliti setiap orang di kantin ini.
Mana Naruto?
Nihil, bocah pirang itu tidak ada di kantin.
"Hoi, kenapa bengong? Ayo kita cari tempat, Uchiha!" seruan Sui menyadarkan dirinya.
"Hn, kalian duluan saja, aku mau ke toilet dulu." Jawab Sasuke seraya meninggalkan kedua temannya dengan tatapan aneh.
'Ada apa dengannya?' batin mereka.
.
.
Dengan susah payah menghindari 'sorakkan maut' para gadis, akhirnya Sasuke berhasil menuju toilet pria yang tidak jauh dari kantin.
Sasuke sendiri bingung, kenapa dia mau ke toilet. Padahal dia sedang tidak ingin buang air. Akhirnya ia memilih mencuci tangannya di salah satu wastafel. Setelah selesai, ia bermaksud kembali ke kantin. Ketika ia baru saja akan melangkah, dia mendengar sebuah percakapan di luar toilet.
"Kau gila?"
Suara perempuan yang di kenalnya, Kurenai-sensei. Dosen yang mengajar di jurusan hukum. Berusaha mengacukan suara tersebut, dia segera memegang gagang pintu toilet, bermaksud untuk keluar, namun..
"Kurasa kau benar. Aku memang gila."
Percakapan di luar lagi, namun suara ini sangat di kenalnya. Sasuke membeku.
"Kau tidak boleh melakukannya, Naruto! Ini tidak sesuai dengan 'kondisi'mu!" sang lawan bicara mulai membentak.
"Aku tau, Kurenai-sensei. Tapi hanya ini caranya agar aku 'di akui'. "
'Apa maksud Naruto?' batin Sasuke menguping. Walau jelas-jelas itu menjatuhkan namanya sebagai 'Uchiha'. Persetan dengan semua itu. Entah kenapa, dirinya ingin mengetahui –sedikit- tentang bodyguardnya yang baru itu.
"Kenapa kau tidak menyerah saja, Naruto? 'Dia' tidak pernah menyayangimu! 'Dia' membencimu! 'Dia' ingin kau mati! Kenapa..."
"Kurenai-sensei," potong Naruto. Suara dan wajahnya –yang jelas tidak bisa di lihat Sasuke- menjadi serius. "Aku tahu.." suaranya bergetar.
"..."
"Aku tahu. Tapi hanya ini caranya aku dapat 'menebus hutangku' padanya dan pada Kyuu-nii. Kyuu-nii sudah mengorbankan semuanya padaku." Lanjutnya sambil tersenyum getir.
"Kenapa, Naruto?"
"..."
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
"..."
"Kyuu-nii tidak mungkin menagih 'hutang' padamu. Dia tulus menyelamatkanmu."
"..."
"Kenapa?"
"..."
"Jawab aku, Namikaze!"
"..."
"Nar-"
"Agar aku di akui oleh Master, sensei."
"..." Kini giliran Kurenai yang terdiam.
"Aku ingin diakui..."
"..."
"Bukan sebagai murid."
"..."
"Bukan sebagai anak buah."
"..."
"Tapi sebagai anak yang 'seharusnya', sensei."
Kurenai terdiam seribu bahasa. Kejeniusan dan kemampuan berbicaranya seakan hilang di depan bocah pirang ini. Bisa di lihat, bahu Naruto –sedikit- bergetar.
"Ah, maaf Sensei, saya jadi bicara yang tidak-tidak. Saya permisi dulu, sensei. Jam istirahat akan segera berakhir." Naruto membungkuk hormat dan meninggalkan Kurenai yang terpaku di tempatnya.
Miris.
Miris melihat seseorang yang begitu kuat fisik, namun batinnya hancur. Kurenai sendiri tidak yakin bila ia kuat kalau dia di 'posisi' Naruto saat ini.
'Kami-sama, kuatkan hati anak itu.' Ya, setidaknya hanya ini yang bisa di lakukannya untuk menolong Naruto.
Kurenai menghapus airmatanya yang entah sejak kapan mengalir. Dan pergi meninggalkan tempat itu.
Meninggalkan seseorang di toilet pria yang kini sedang membelalakkan matanya.
Gunslinger Girl
"Sasuke-sama, mari kita pulang."
Sasuke, yang sedari tadi melamun, kini agak tersentak mendengar seseorang memanggil namanya.
Sang bodyguard, Namikaze Naruto.
"Memangnya sudah bel?"
"Sudah lima belas menit yang lalu, Sasuke-sama."
Sasuke merasa bodoh sekali hari ini. Bel kampusnya –yang sangat nyaring itu- yang berbunyi sejak lima belas menit yang lalu itu, tak di dengarnya, bahkan sampai bodyguardnya datang. Karena ia asyik melamun.
Melamunkan pembicaraan dua orang di depan toilet tadi.
'Sejak kapan aku memikirkan pembicaraan orang lain?
Aku sudah gila rupanya!'
"Tadi aku melihatmu bercakap-cakap dengan Kurenai-sensei. Kau sudah mengenal beliau?" tanya Sasuke, dan setelah itu ia menyadari betapa bodohnya pertanyaan itu.
"Ya, Kurenai-sensei adalah mantan guru Bahasa Inggris-ku di home schooling dulu," jelas Naruto.
"Hn." Jawab Sasuke, tidak berniat bertanya lagi, ia menggendong tas ransel birunya dan pergi keluar kelas, di ikuti sang bodyguard.
.
.
"Sai?"
"Iya, Anda mengenal Sai-san?"
"Hn, dia sepupuku."
"Pantas saja Anda berdua mirip sekali. Dan..Astaga! Aku tidak tau kalau Sai-sama sepupu Anda, lancang sekali saya memanggil dengan embel-embel '-san'."
"Kau berlebihan, Naruto."
"Maaf, Sasuke-sama. Saya lancang."
"Hn, terserah."
Uchiha Sasuke, kini sedang berjalan menuju parkiran mobil bersama sang bodyguard, Namikaze Naruto. Parkiran itu sepi, jumlah mobilnya bisa di hitung dengan jari. Itu wajar, mengingat mereka kesini satu jam setelah bel pulang.
Tadi, sang bodyguard bertanya tentang sepupunya, Sai. Yang ternyata adalah senpainya Naruto. Sai dan Naruto memang masuk jurusan yang sama, seni.
Sejak dulu, Uchiha bungsu ini memang tidak begitu akrab dengan sepupunya, Uchiha Sai. Sai itu aneh, selalu tersenyum. Dan Sasuke muak dengan senyuman Sai –yang menurutnya palsu itu-. Anehnya sang Ayah, Fugaku, sangat menyukai Sai, dan mereka sangat akrab.
Dan kini, sepertinya bodyguard barunya juga tertarik dengan 'Si Senyum Palsu' ini.
Sasuke tidak tau perasaan apa ini. Yang jelas, dia tidak ingin Naruto menyukai Sai.
Belum selesai Uchiha bungsu ini berfikir, tiba-tiba suara Naruto mengagetkannya.
"SASUKE-SAMA, MERUNDUK!"
"Ap-"
DOR! DOR! DOR!
MairaKanzaki
Naruto's POV
Bodoh! Kenapa aku tidak menyadari kalau Sai-sama itu adalah sepupu Sasuke-sama? Jelas-jelas mereka mirip! Kulit putih, mata hitam dan berambut gelap. Argh, lancang sekali aku tadi memanggil Sai-sama dengan embel '-san'.
Aku sudah minta maaf pada Sasuke-sama atas kelancanganku. Tapi sepertinya dia tidak peduli dengan kesalahanku –yang ku anggap sangat fatal-. Mungkin hanya perasaanku saja atau Sasuke-sama tidak menyukai Sai-sama?
Entahlah, aku tidak mau ikut campur.
Semilir angin sejuk bertiup. Ahh, segarnya angin musim panas menjelang musim gugur. Daun-daun nanti akan menguning dan jatuh lengkap dengan angin sejuk setiap hari. Aku heran, mengapa banyak orang berfikir musim gugur itu menyebalkan?
Sekali lagi, aku tidak mau ikut campur.
DEG
A-apa ini?
Kenapa...?
Firasatku buruk?
Rasa ini persis seperti lima tahun yang lalu.
Kami-sama, ku mohon. Aku tidak mau kejadian lima tahun yang lalu terulang lagi.
Aku menghirup nafas dalam-dalam, berusaha tenang dan menepis pikiran negatif.
Harum aroma Sasuke-sama –yang berjalan di depanku- terhirup oleh indra penciumanku.
Aroma mint? Kalau tidak salah.
Bau aroma Sasuke-sama berbaur dengan aroma kebun mawar –yang berada di dekat parkiran-, polusi, bau khas –menjelang- musim gugur serta bau seperti...
MESIU?
Firasatku benar!
"SASUKE-SAMA, MERUNDUK!" sebelum Sasuke-sama menangkap perintahku, aku sudah terlebih dahulu menerjang tubuhnya. Dan semuanya berlalu dengan cepat.
DOR! DOR! DOR!
Gunslinger Girl
"Ap-"
Sasuke merasa tubuhnya di terjang dan ia berguling beberapa kali di aspal jalanan. Setelah kesadarannya pulih, ia menyadari posisinya yang sedang tengkurap di atas aspal dengan seseorang yang menindihnya. Orang itu Naruto.
"Apa yang kau laku-"
DOR! DOR! DOR!
"Brengsek!" umpat Naruto.
Dilihatnya, Naruto mengobrak-abrik tas selempangnya dan mengeluarkan FN FNP-45(1) miliknya.
Ckrek. DOR! DOR! DOR!
Dan membalas tembakan tadi.
Ujung pistolnya mengarah ke kolong sebuah mobil Jazz silver. Dengan sedikit perhitungan jarak, Naruto menarik pelatuknya.
DOR!
"ARRGHH!"
"Gotcha!" seru Naruto.
Sasuke hanya terpaku di tempatnya. Tidak! Ia tidak pernah takut. Namun ia kagum dengan aksi sang bodyguard yang lebih muda tiga tahun darinya.
"Keluar kalian! Atau aku yang paksa!" teriak Naruto. Pandangannya mengarah ke kolong mobil Jazz yang tadi di tembaknya.
"Boleh juga kau, bocah!"
Terdengar suara tersebut, di ikuti dengan munculnya tiga orang dari balik mobil Jazz tadi. Salah satunya kaki kirinya berdarah, bekas luka tembak Naruto.
"Sasuke-sama, berlindung di belakang mobil Anda sekarang! Ini terlalu beresiko." Ujar Naruto –sedikit- memerintah.
Sebuah kesalahan jika memerintah Uchiha. Merekalah yang harusnya 'memerintah, bukan 'di perintah'.
Namun sepertinya Sasuke sedang tidak terpengaruh dengan 'motto' diatas. Kakinya melangkah –tepatnya sedikit berlari- kearah Toyota Fortuner hitam miliknya dan bersembunyi di belakang mobil itu.
Tiga orang tadi menghampiri Naruto. Yang satu berwajah seram. Kulitnya kebiruan dan giginya runcing layaknya hiu.
Yang satu lagi bertubuh kekar, mukanya di tutupi cadar berwatna abu-abu.
Yang terakhir bertubuh sedang, berambut putih keabuan klimis, kaki kirinya berdarah. Rupanya orang itu yang di tembak Naruto.
"Hei, lihatlah Hidan! Yang menembakmu ternyata hanya bocah kecil!" ujar pria yang seperti hiu, dengan nada meremehkan.
"Cih, beraninya kau bocah!" kata pemuda berambut putih, yang di ketahui bernama Hidan.
"Heh, tunggu apa lagi, Kisame, Hidan! Habisi saja anak kecil ini. Lalu kita angkut pemuda Uchiha itu, lalu menyuruh kedua orang itu menebus dengan bayaran yang banyak!" perintah pria yang bercadar.
"Kau ini tidak sabar ya, kalau mengenai uang, Kakuzu." Jawab Kisame sarkatis.
"Berani mendekati Sasuke-sama, kubunuh kalian!" seru Naruto mengacungkan dua FN-FNP-45 miliknya, masing-masing di tangan kanan dan kiri.
"Hahahahaa! Kau pikir kami takut, hah? Rasakan ini!" Kisame menerjang Naruto dengan katana yang mengacung di tangannya. Namun Naruto sangat sigap. Ia berguling ke kanan menghindari serangan. Dan HUP! Ia duduk dan melancarkan tembakan.
DOR! DOR!
Namun lawan-lawannya tak kalah sigap. Mereka bersalto kebelakang menghindari serangan Naruto. Kecuali pria yang bernama Hidan, ia hanya merunduk.
"Bodoh sekali kau, hanya merunduk dan menyerahkan dirimu padaku, eh?" tanya Naruto mengejek.
"Kau yang bodoh, bocah!" seru Hidan. "Kau fokus pada lawan, namun tidak mengingat hal yang lebih penting?" Lanjutnya sambil menyeringai.
Mendadak ekpresi wajah Naruto memucat, ia melupakan hal yang paling penting.
"SASUKE-SAMA!"
Gunslinger Girl
"Bagaimana, Tenten?"
"Tidak ada."
"Sasori, Gaara?"
"Nihil."
"Kiba?"
"Mereka tidak ada dimanapun."
"Haduh, merepotkan sekali!" keluh Shikamaru sambil memijit pelipisnya.
Mereka berenam telah mencari Sasuke dan Naruto ke seluruh penjuru kampus. Tapi hasilnya sia-sia.
"Mungkin mereka pulang duluan?" ujar Tenten.
"Entahlah." Jawab Kiba.
"Sudah menghubunginya lewat earphone?" tanya Gaara.
"Sudah, tapi jawaban Naruto tidak jelas." Jawab Kiba.
Sasori menaikkan sebelah alis dan Shikamaru mengerutkan dahinya. Keduanya beradu pandang, sepertinya pemikiran mereka sama.
"Biar kuhubungi sekali lagi." Tawar Shikamaru. Kemudian ia memasang earphone wireless miliknya yang berwarna hitam (yang seperti agen rahasia itu loh.).
"Shikamaru disini. Naruto? Kau dimana? Ganti."
Tak ada jawaban.
"Shikamaru disini, Naruto? Ganti!"
"Kresek kresek."
"Salurannya terganggu," ujar Shikamaru kepada empat temannya.
"Coba lagi, Shika!" perintah Sasori. Perasaannya tidak enak.
"Baiklah," Shikamaru mencobanya lagi, "Nara disini, Namikaze? Ganti!"
"Kresek..kresek."
"Terganggu lagi. Naruto? Ini Shikamaru! Kau mendengarku? Ganti!"
"Kresek..kresek."
"Benar-benar tidak bisa. Lebih baik kita pul-."
"Kresek.. SASUKE-SAMA! DOR DOR DOR! Kresek..kresek."
Shikamaru mematung seketika, "Brengsek! Mereka dalam bahaya. Ayo cepat!" perintahnya. Kemudian mereka berlari secepat mungkin. Berusaha mencegah yang tidak-tidak.
.
.
DOR! DOR!
"SASUKE-SAMA!"
Naruto berlari kearah tuannya. Dan terlihatlah Sasuke sedang menghindar dari serangan katana Kisame dan pukulan Kakuzu.
DUAGH!
Naruto menendang Kisame dan Kakuzu sebisa mungkin. Namun malang, walaupun tendangannya mengenai Kakuzu, namun tidak mengenai Kisame.
SRAAAT!
Katana milik Kisame merobek kulit kakinya.
"AARRGGHH!" jerit Naruto.
"NARUTO!" teriak Sasuke. Tubuhnya tertindih Naruto. Ia berontak, hendak menghajar dua orang itu. Namun tak di biarkan oleh Naruto.
"Lepaskan aku, Naruto! Ini perintah!" seru Sasuke. Ia memberontak dalam tindihan Naruto.
"Mohon maaf Sasuke-sama. Kali ini saya tidak bisa mematuhi perintah Anda. Anda bisa terluka." Ujar Naruto lembut sambil tersenyum.
Sejenak, Sasuke terkesiap oleh senyuman Naruto. Senyuman yang di paksakan karena menahan sakit di kakinya. Namun entah kenapa, senyuman itu tetap terlihat—manis? Sepertinya pula Sasuke merasa aman di pelukkan Naruto yang melindunginya. Entah kenapa, terasa—empuk?
"Heh! Berlagak pahlawan kau, pirang? Rasakan ini!" Kakuzu menarik kaos belakang Naruto dengan paksa.
BUAGH!
Dan menonjok perut Naruto.
"ARGH-UHUK! UHUK!" Naruto batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Lemah!" hardik Kisame. "Orang lemah lebih baik MATI!" Kisame menghunus katana-nya kearah Naruto.
TRAANG!
Namun katana lain menghalangnya.
"Jangan pernah meremehkan kami, Pria-Hiu!" seru orang yang melindungi Naruto.
"Sa-Sasori?" bisik Naruto. Pandangannya mengabur dan..BRAK! Dia pingsan.
"NARUTO!" Teriak Shikamaru, "Brengsek!"
DOR! DOR!
TRAANG!
BUGH! DUAGH!
Pertarungan tak terelakkan lagi. Sasori melawan Kisame, Tenten melawan Hidan dan Gaara adu tembak dengan Kakuzu.
"Kiba! Bantu aku mengangkat Naruto dan Sasuke-sama ke mobil!" perintah Shikamaru.
"Baik!"
.
.
"Heh, perempuan lemah sepertimu menantangku, eh?" ejek Hidan.
"Tarik kembali kata-katamu!" seru Tenten dan mengeluarkan serangan aikido-nya. Mereka saling memukul dan menendang. Sampai akhirnya Tenten berhasil membanting Hidan ke aspal setelah melukai wajah Hidan.
.
.
"Tak kusangka kita bisa bertemu disini, Akasuna!" ujar Kisame.
"Sejujurnya aku tidak pernah berharap bertemu denganmu lagi, Hoshigaki!" balas Sasori.
"Kejam sekali kau, pada temanmu ini."
"Dalam mimpimu!"
Adu katana tak terelakkan oleh mereka. Masing-masing saling menghunus, menyerang dan bertahan. Gemercik api terlihat ketika ujung katana mereka bertemu. Sampai akhirnya katana Sasori berhasil mengenai paha Kisame.
.
.
"Hei hei, gerangan apa yang membuat seorang Sabaku berada disini? Melindungi tuannya, eh?" kata Kakuzu meremehkan.
"Diam atau mati." sahut Gaara.
"Kau pikir aku takut, hah?"
"DOR!" Gaara menarik pelatuk Barreta-nya.
"Terburu-buru sekali. Baiklah kalau itu maumu." Kakuzu menyeringai dan meluncurkan peluru melalui Barreta coklatnya.
Dan adu Barreta pun tak terelakkan. Pada dasarnya, Barreta sangat akurat dalam membidik, dan tak lama kemudian mereka berdua telah terluka. Gaara hanya terkena sedikit 'gesekkan' peluru pada lengannya, sedangkan Kakuzu telah tumbang ketika peluru Gaara bersarang di kakinya.
Chapter 2 : Sacrifice
COMPLETE.
Fict Fact :
FN FNP-45 adalah pistol semi-automatic buatan USA.
Balasan Review :
Meg chan : Ini udah update kok^^ , untuk merayakan SasuNaru day. Thanks for Review ^^
Kimmy no Michiku : ohoho, salam kenal juga Meii-senpai ^^. Nama kta hampir sama lho, senpai Meii, aku Mai *gak nanya*, ini udah update kok, thanks for review ^^
Devil Brain : salam kenal juga Lia ^^ panggil aku Mai *gak nanya*. Soal Naruto masih di rahasiakan, hehe *dirajam*. Anikinya Naruto udah tau siapa kan? Ini udah kilat kok, petir malah. Thanks for review ^^
Nine Tailed Fox : wuaahh, terimakasihh Nine-senpai atas pujiannya^^. Ini udah lanjut kok, Thanks for review ^^
Namikaze Kokyuu : Naruto-kun sejak dulu emang sangat kerenn XD. Ini udah ASAP kok, thanks for review ^^
Heartbeat Satellite : tebakkan senpai hampir bener. Hmm, soal Naruto masih rahasia, ikutin terus ceritanya ya senpai ^^ thanks for review ^^
choco : jangan malas dong choco-senpai *plak*. Ikutin aja jalan ceritanya, soalnya ini masih rahasia^^. Thanks for review ^^
ocha : tertarik? Senpai pake tali tambang? *muka polos* *di giles*. Hm, simpan dulu rasa penasaranmu –halah- coz masih rahasia ^^, ikutin terus yaa, thanks for review ^^
nanao yumi : salam kenal juga nanao-senpai ^^. Anikinya naruto udah ketauan kan? Hehe. Ini udah update kok, thanks for review ^^
gekikara hn : wuahh maaf senpai, itu masih dirahsiakan^^, tapi tebakkanmu hampir mendekati kebenaran -halah- kok^^, ini udah update kok, thanks for review^^
NanaMithrEe : salam kenal juga Nana-senpai^^. yak, tebakan senpai hampir benar^^, thanks for review^^
reaizu zeroblackwolf : hallo reaizu-senpai^^. Soal yaoi, ehm, sebenarnya masih rahasia, maaf deh klo mengecewakan, Mai masih newbie^^, ini udah update kok senpai, thanks for review^^
Yukira Mirabelle : *ikutan berbinar*, dia memang kuatt *ikutan berbunga*. Tebakkan Yukira-senpai hampir benar^^, tapi soal yaoi ato engga, masih dirahasiakan^^, ini udah update kok, thanks for review^^ (panggil aku Mai aja^^)
Superol : wuah wuah, senpai keturunan mama loren yah? Bisa ngeramal? *plak* . hampir bener tapinya, uhuhu pokoknya ikutin trus ceritanya yaa^^, thanks for review^^
Uchiha cucHan clyne : hallo Cu-senpai^^, jatuh hati sm fict ini? Jatuh hati ama aku gak? *DI GILES* , ohoho tenang saja senpai, selama aku yg bikin, Naru gak bakal kecentilan^^, tebakan senpai hampir benar, tp untuk jelasnya, msh Mai rahasiakan^^, ikutin trus yaa Cu-senpai^^. Fav? Makasih banyak senpai *peluk* XD, ni udah update kok, thanks for review^^
Note's :
Mai terharu ternyata banyak sekali yg ngereview, Mai ucapkan MAKASIH BANYAK, berkat kalian, Mai jadi semangat buat update XD
Aku juga mau ngucapin MAKASIH YG SEBESAR-BESARNYA buat Zurue Pink-senpai yg udah ngajarin aku buat ngupload fict, arigato pink-senpai^^
Readers pada bingung ya, sama 'wujud asli' Naruto? Yg pada bingung ato penasaran, tahan dulu ya, soalnya itu msh rahasia XD. Ikutin terus ceritanya ya *ngarep*
Chap ini rada gore ya? Gomennasai klo yg tidak suka hal gore, namanya juga cerita tntang bodyguard, klo rada gore, mohon maklum^^
Mai baru sadar, klo chap 1 banyak TYPO-nya! Tidaaaaakkk! Mai emang bermasalah sama tanda baca, tapi Mai akn berusaha lebih baik lagi^^
HAPPY SASUNARU DAY SEMUANYAA *teriak pake toa* *nabuh bedug*. 10.07.11. Mari doakan semoga SasuNaru, SasufemNaru, NaruSasu ato NarufemSasu LANGGENG DUNIA AKHIRAT. S.N/N.S is THE BEST PAIRING XD *tebar bunga*.
Akhir kata,
REVIEW, please?
Regards,
Mai
Jakarta,
10.07.11
